Wido Supraha
4.02K subscribers
1.08K photos
159 videos
375 files
1.57K links
Bersama Meniti Jalan Menuju Jannah
Download Telegram
Wido Supraha
Photo
Sinopsis kajian

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) saat ini berkembang sangat pesat, dan memberi kemudahan bagi urusan-urusan manusia di bidang industri, transportasi, komunikasi, dan sebagainya.

Kita seringkali mengira semua itu adalah perkara yang bebas-nilai, sehingga dapat dipergunakan begitu saja asalkan kita memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Tetapi jika kita mengamati sejarah perkembangannya, IPTEK yang merupakan bagian kecil dari sains ternyata tak sesederhana itu.

Seorang ahli kimia asal Belgia, George Sarton (1884-1956), dengan sangat teliti mengamati sejarah perkembangan sains dari masa ke masa, dari satu peradaban ke peradaban lainnya. Dari sana, ia menemukan bahwa perkembangan sains amat kuat dipengaruhi sekaligus mempengaruhi kebudayaan manusia, terutama pandangan hidupnya.

Dengan kesadaran yang tinggi bahwa alam semesta ini adalah ayat-ayat Allah, ilmuwan muslim di masa lalu menghasilkan sains yang berbeda dari sains sekular di masa kini, yang menghasilkan industrialisasi besar-besaran sampai senjata perang mematikan. Mengenali makna sains dalam Islam, serta mempelajari perkembangannya sampai dalam wujud sains sekarang, akan mengantarkan kita pada kesadaran bahwa sains harus senantiasa berada dalam bimbingan kebijaksanaan.

Bagaimana uraiannya lebih lanjut?
Yuk ke INSISTS sabtu ini 3 feb 2018, jam 10.00-12.00
Kalibata Utara II/84 Jakarta
Audio
Wawancara Radio Dakta atas Politisasi Agama
Wido Supraha - Sains dan Sejarah Perkembangannya.pdf
292.2 KB
Wido Supraha - Sains dan Sejarah Perkembangannya
#KajianRiyadhushshalihin | Bab 20 | Imam Nawawi menghadirkan ayat-ayat Allah yang memerintahkan seorang mukmin untuk tidak pasif, melainkan aktif bergerak menyerukan kebaikan, bukan kesesatan.
Photo from Wido Supraha
📆 Sabtu, 17 Jumadil Awwal 1439H / 03 Februari 2018

📚 *AQIDAH & SIROH*

📝 Pemateri: *Ustadz DR. Wido Supraha*

📋 *Petistiwa Gerhana Bulan & Matahari adalah Pelajaran Aqidah ; Pondasi Utama Kita dalam BerIslam*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنًسْتَعِيْنُهُ وَنًسْتَغْفِرُهْ وَنًعُوذً ِبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛


_Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,_
Matahari dan bulan adalah di antara tanda-tanda kekuasaan Allah . Keduanya bergerak dan berputar dalam orbit yang ditetapkan sehingga melahirkan ragam fenomena alam untuk diambil pelajaran dan hikmahnya oleh umat manusia.

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ ضِيَآءٗ وَٱلۡقَمَرَ نُورٗا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُواْ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلۡحِسَابَۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.


Allahu Akbar, Allah SWT menghadirkan kembali fenomena gerhana bulan. Peristiwa itu terjadi saat pergerakan bulan berada di bawah bayang bumi karena cahaya matahari terhalang bumi. Gerhana bulan total terjadi saat posisi bumi berada antara bulan dan matahari dalam posisi garis lurus. Namun begitu, peristiwa gerhana bulan 31 Januari 2018 ini begitu spesial bagi kalangan saintis, karena termasuk fenomena langka, karena posisi bulan akan berada pada posisi terdekatnya dengan bumi, sehingga ukuran bulan akan terlihat jauh lebih besar. Fenomena ini dikenal dengan sebutan supermoon, meskipun tidak akan benar-benar gelap karena piringan bulan tidak tepat melewati jalur pusat umbra bumi. Kemungkinan besar bulan akan berwarna merah kegelapan, karena posisi bulan yang berdekatan dengan pusat kerucut bayang umbra bumi. Menurut Muhammad Irfan, Astronom Observatorium Boscha, peristiwa bulan ditutup bayang umbra bumi sekitar 1 jam 16 menit saja.


_Ma’asyiral mukminin rahimakumullah_,
Seluruh fenomena yang datang karena pergerakan matahari dan bulan ditegaskan tidak terkait sama sekali dengan fenomena kematian seseorang bahkan yang paling mulia sekalipun di atas bumi. Demikianlah keilmiahan ajaran Islam yang membedakan mana konten keimanan yang menjadi bagian dari pelajaran aqidah, dan mana konten yang mendorong tumbuh kembang sains.

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Al-Bukhari No. 1044)

Pelajaran utama dari peristiwa alam Gerhana seperti tadi malam sejatinya adalah pelajaran Tauhid, pelajaran yang menjadi dasar pondasi keislaman kita yang paling mendasar. Bukankah aqidah yang lurus (salimul a
qidah) adalah konten utama dalam fase perbaikan diri (ishlah an-nafsi), kekohannya sangat menentukan tahapan amal yang harus dilalui berikutnya oleh setiap Muslim dalam kehidupan. Kemulian hidup dan mati kita sangat ditentukan pada kualitas tauhid kita.

_Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,_
Terkait peristiwa gerhana, memori kita segera menyusun ulang sejarah bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ, ketika wafat puteranya yang bernama Ibrahim pada usia 16 atau 17 bulan dalam masa disusui di perbukitan Madinah, dititipkan pada pasangan keluarga Abu Saif al-Qain dan Ummu Saif Khaulah binti Mundzir al-Anshariyah r.a., seorang pandai besi, Seluruh anak beliau ﷺ wafat saat Nabi masih hidup, kecuali Fatimah r.a. Kehilangan 6 (enam) orang anak tentunya terasa jauh lebih berat daripada 1 (satu) orang anak. Telah kita ketahui bahwa 5 (lima) orang anak lahir sebelum kenabian, yakni Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah, sementara Abdullah lahir setelah kenabian. Kisah wafatnya kedua putera beliau tatkala masih kecil, Abdullah dan Qasim, ternyata harus terulang kembali saat beliau dikaruniai seorang anak dari Mariyah al-Qibthiyah, Ibrahim, yang mengalami sakit keras hingga meninggal dunia.


حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ كِلاَهُمَا عَنْ سُلَيْمَانَ وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ اِمْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِي سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيْرِهِ قَدِ امْتَلَأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّبِيِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ
فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid dan Syaiban bin Farrukh, keduanya dari Sulaiman dan lafazh ini milik Syaiban; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah; Telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik  dia berkata:
Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Pada suatu malam anakku lahir, yaitu seorang bayi laki-laki, lalu kuberi nama dengan nama bapakku, Ibrahim. Kemudian anak itu beliau berikan kepada Ummu Saif, isteri seorang pandai besi, yang bernama Abu Saif. Rasulullah ﷺ mendatanginya dan aku ikut menyertai beliau. Ketika kami sampai di rumah Abu Saif, aku dapatkan dia sedang meniup Kirnya (alat pemadam besi) sehingga rumah itu penuh dengan asap. Maka aku segera berjalan di depan Rasulullah ﷺ lalu kuberi tahu Abu Saif; Hai, Abu Saif! Berhentilah! Rasulullah ﷺ telah datang! Maka dia pun berhenti. Kemudian Nabiﷺ menanyakan bayinya, lalu diserahkan ke pangkuan beliau. Nabiﷺ mengucapkan kata-kata sayang apa saja yang Allah kehendaki. Kata Anas: Kulihat bayi itu begitu tenang di pangkuan beliau saat ajal datang kepadanya. Maka Rasulullah ﷺ menangis mengucurkan air mata. Kata beliau: Air mata boleh mengalir, hati boleh sedih, tetapi kita tidak boleh berkata-kata kecuali yang diridlai Rabb kita. Demi Allah, wahai Ibrahim, kami sungguh sedih karenamu! (Shahih Muslim 2315-62)

Kematian Ibrahim dalam kondisi belum selesai masa menyusuinya, sehingga disebutkan bahwa kedua orang tua susuannya akan menyempurnakan susuannya kelak di Surga.

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَ
ong untuk memenuhi tahapan amal mulai dari _menyempurnakan perbaikan diri, membangun keluarga Islami, membimbing masyarakat agar senang dengan kehidupan Islam, membebaskan negeri dari segala bentuk penjajahan, mendorong seluruh kebijakan negara agar memenuhi kebutuhan kaum muslimin, mendorong persatuan di antara negara-negara Muslim, hingga kita lahirkan peradaban Islami yang memimpin dunia ini, dimana seluruh umat manusia merasa terpenuhi seluruh hak-hak mendasarnya dalam kehidupan, dan pada saat itulah, Islam hidup dengan segala kelengkapannya sebagai rahmat bagi sekalian alam._
Mari kita wujudkan bersama.

_(Khutbah Shalat Gerhana Bulan, 31 Jan 2018)_

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh: manis.id

📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis

💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637

Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis
نْ عَمْرِو بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَخَّنُ وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ قَالَ عَمْرٌو فَلَمَّا تُوُفِّيَ إِبْرَاهِيمُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ اِبْنِي وَإِنَّهُ مَاتَ فِي الثَّدْيِ وَإِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمِّلاَنِ رَضَاعَهُ فِي الْجَنَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Abdullah bin Numair lafazh ini milik Zuhair keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu ‘Ulayyah dari Ayyub dari Amru bin Sa’id dari Anas bin Malik ra dia berkata:
Tidak pernah kulihat orang yang lebih penyayang terhadap keluarganya melebihi Rasulullah ﷺ . Anas ra berkata: Ibrahim (anak beliau) disusukan pada suatu keluarga di sebuah kampung di perbukitan Madinah. Pada suatu hari beliau pergi menengoknya, dan kami ikut bersama beliau. Beliau masuk ke rumah yang kala itu penuh dengan asap, karena orang tua pengasuh Ibrahim adalah seorang tukang pandai besi. Kemudian Nabi ﷺ menggendong Ibrahim seraya menciumnya, setelah itu beliau pun pulang. Kata ‘Amru; “Tatkala Ibrahim wafat, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Ibrahim adalah anakku. Dia meninggal dalam usia menyusu. Kedua orang tua pengasuhnya akan menyempurnakan susuannya nanti di surga.” (Shahih Muslim 2316-63)

Disebutkan ketika Ibrahim wafat, dalam kisah berikut ini:

حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ حَسَّانَ: حَدَّثَنَا قُرَيۡشٌ، هُوَ ابۡنُ حَيَّانَ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: دَخَلۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى أَبِي سَيۡفٍ الۡقَيۡنِ، وَكَانَ ظِئۡرًا لِإِبۡرَاهِيمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِبۡرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ، ثُمَّ دَخَلۡنَا عَلَيۡهِ بَعۡدَ ذٰلِكَ، وَإِبۡرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفۡسِهِ، فَجَعَلَتۡ عَيۡنَا رَسُولِ اللهِ ﷺ تَذۡرِفَانِ، فَقَالَ لَهُ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: وَأَنۡتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: (يَا ابۡنَ عَوۡفٍ، إِنَّهَا رَحۡمَةٌ). ثُمَّ أَتۡبَعَهَا بِأُخۡرَى، فَقَالَ ﷺ: (إِنَّ الۡعَيۡنَ تَدۡمَعُ، وَالۡقَلۡبُ يَحۡزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرۡضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبۡرَاهِيمُ لَمَحۡزُونُونَ). رَوَاهُ مُوسَى، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ الۡمُغِيرَةِ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
Al-Hasan bin 'Abdul 'Aziz telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Hassan menceritakan kepada kami: Quraisy bin Hayyan menceritakan kepada kami, dari Tsabit, dari Anas bin Malik ra, beliau berkata:
Kami masuk bersama Rasulullah ﷺ ke rumah Abu Saif Al-Qain, beliau adalah suami ibu susu Ibrahim ra. Rasulullah ﷺ mengambil Ibrahim, lalu menciumnya. Kemudian kami masuk lagi beberapa saat kemudian, pada saat Ibrahim mendekati ajalnya. Mulailah kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. 'Abdurrahman bin 'Auf ra berkata kepada beliau: Engkau juga (menangis), wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Wahai Ibnu 'Auf, sesungguhnya (tangisan) ini adalah rahmat (kasih sayang).” Lalu beliau kembali menangis. Beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya mata ini menangis, hati ini berduka, namun kita tidak mengatakan kecuali perkataan yang Rabb kita ridhai. Dan sesungguhnya kami benar-benar berduka berpisah denganmu, wahai Ibrahim.”
Musa meriwayatkannya, dari Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Tsabit, dari Anas ra, dari Nabi ﷺ

Bersamaan saat wafatnya Ibrahim ra, ternyata terjadi pula gerhana matahari di Madinah. Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah, beliau berkata,
كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ، فَقَالَ النَّاسُ كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ »
Di masa Rasūlullah ﷺ pernah terjadi gerhana matahari ketik
a hari kematian Ibrahim. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa munculnya gerhana ini karena kematian Ibrahim. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalat dan berdo’alah.’” (HR. Al-Bukhari no. 1043)

Redaksi hadits yang berbunyi ‘Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdo’alah’ dimaknai oleh sebagian ulama sebagai wajibnya melaksanakan shalat Gerhana, sebagaimana Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syaukani. Shalat gerhana dapat disebut dengan khusūf (الخسوف) dan juga kusūf (الكسوف), meskipun kemudian yang lebih banyak digunakan adalah khusūf untuk gerhana bulan dan kusūf untuk gerhana matahari. Allah SWT berfirman dalam Surat Fushshilat ayat 37:
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.

Nabi Muhammad ﷺ juga berpesan,
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَهُوَ شَيْبَانُ النَّحْوِيُّ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ خَبَرِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ قَالَ
لَمَّا انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ بِ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَرَكَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ فِي سَجْدَةٍ ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ فِي سَجْدَةٍ ثُمَّ جُلِّيَ عَنْ الشَّمْسِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَكَعْتُ رُكُوعًا قَطُّ وَلَا سَجَدْتُ سُجُودًا قَطُّ كَانَ أَطْوَلَ مِنْهُ
Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ , maka diserukanlah (kepada kaum muslimin) dgn seruan, Ash-Shalātu Jāmi’ah (Marilah kita menunaikan shalat jama'ah). Maka Rasulullah ruku' dua raka'at dalam satu kali sujud, kemudian beliau berdiri lalu ruku' lagi dua raka'at dalam satu kali sujud. Setelah itu matahari sudah kembali normal, maka Aisyah pun berkata, Saya sama sekali tak pernah melakukan ruku' & tak pula sujud yg lebih panjang darinya. (HR. Muslim No.1515)

Shalat Gerhana Bulan dihukumi hasanah dalam madzhab Hanafiyah, mandubah dalam madzhab Al-Malikiyah, Sunnah Muakkadah dalam madzhab Asy-Syafi’iyah dan Hanabilah. Shalat ini dikerjakan dengan dua rakaat dan menambah ruku’ di setiap rakaatnya, membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang panjang, dan memperlama ruku’ dan sujudnya, sebagaimana riwayat dari Ibn ‘Abbas berikut:
كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ فَصَلَّى الرَّسُول وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل
Dari Ibnu Abbas ra berkata, "Terjadi gerhana matahari dan Rasulullah ﷺ melakukan shalat gerhana. Beliau berdiri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku' sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku' lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku' yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sidikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku' panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

_Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,_
*Kokohnya aqidah* mendorong untuk *membaguskan ibadah*. Bagusnya Ibadah *mendorong kemuliaan akhlak*. Mulianya akhlak mendorong lahirnya amal. Puncaknya amal adalah *jihad fi sabilillah*, namun ketika puncak amal itu belum terbuka untuk kita, maka kita tetap didor
https://www.academia.edu/35834323/Sains_dan_Sejarah_Perkembangannya

*Sains dan Sejarah Perkembangannya*

_Assalāmu 'alaikum warahmatullāh,_

Bapak dan Ibu,

Saya baru saja mengupload tulisan terbaru saya di bidang Sains. Bagi yang berminat dapat mendownload-nya dan mengutip tulisan Anda dengan mereferensikan kepada link tulisan saya.

Demikian,

Wassalam,
Wido Supraha
supraha.com
JIDAT HITAM

Jangan khawatir dengan jidat hitam, selama dampak dari amal positif;
Jangan khawatir sujud lama karena itu salah satu tempat terbaik dalam berdo'a,
Jangan pastikan jidat hitam pasti rajin sujud, karena boleh jadi pendekar pemecah batu bata;
Jangan bangga dengan tidak berjidat hitam karena bekas sujud akan terlihat di Jannah.

Tetaplah perbagus sujud kita, karena bukan jidat hitam tujuan kita.

@supraha
t.me/supraha
#IslamIsBeautiful | Alhamdulillāh pagi ini Allah masih beri kesempatan umur 1 hari lagi • Mari bersyukur dengan menunggu waktu shalat berjama'ah di Masjid • Sembari menunggu kita bekerja, berdakwah, menuntut ilmu, menahan lisan dan jempol dari kesia-siaan, membaca buku, menghadiri majelis ta'lim, membantu manusia, memperjuangkan hidupnya agama dalam nilai-nilai kehidupan dai seluruh level, dan jangan lupa, agar makan makanan yang baik, halal dan secukupnya agar tulang sulbi tetap tegak dan kuat duduk dalam majelis dzikr | Salam Ta'zhim, t.me/supraha
#IslamIsBeautiful
Hikmatusysyuyukh fi hamasyatisysyabab
Judul tulisan ini dahulu ditulis oleh Ustadz Umar Tilmisani di Mesir.

Sejak Zaman Nabi Saw dan sahabat, generasi salaf membiasakan tidak memisahkan diri dengan para pemuda. Hikmah orang tua dibutuhkan orang muda, agar orang muda dapat berjalan dengan tahapan yang terencana, mengingat gelora pemuda yang sering meletup. Jiwa dan keberanian orang muda dibutuhkan orang tua, agar orang tua tidak pernah merasa tua, namun selalu berjiwa muda.

Orang tua yang memiliki anak biologis, mari kita biasakan mengusap punggungnya di waktu Subuh, menyampaikan adab dalam kehidupan, berawal dari Shalat Subuh Berjama'ah di Masjid bersama ayahanda tercinta.

Orang tua yang memiliki anak-anak muda di sekitar, mari kita biasakan menjadi teman mereka dalam dialog suka dan duka, memahami bahasa dan cita-cita mereka, lebih indah jika dibahas sambil ngopi di masjid.

Menanamkan adab tidak mudah, tapi bersama kita bisa.
Pengalaman orang tua sangat dibutuhkan agar terus mengalir penuh cinta.

Kesuksesan kita bagaimanapun bukanlah sekedar tercapainya cita-cita duniawiyah, tapi bagaimana kita dapat berkumpul dalam cita-cita ukhrawiyah dan merealisasikannya bersama-sama.

Berawal dari Masjid pusat Peradaban, kita semai gerakan-gerakan pemuda dalam seluruh bidang kreativitasnya yang berbeda-beda.

@supraha
t.me/supraha
#IslamIsBeautiful
📚 *MENGHAFAL SURAT AL-BAQARAH ADALAH SYARAT AWAL KEPEMIMPINAN*
Oleh: Dr. Wido Supraha
https://instagram.com/supraha

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:

 تعلموا القرآن واقرؤوه، فإن مثل القرآن لمن تعلمه فقرأ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَمَثَلَ مَنْ تَعَلَّمَهُ، فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ، كَمَثَلِ جِرَابٍ أوكِي عَلَى مِسْكٍ

_Pelajarilah dan bacalah Al-Qur'an. karena sesungguhnya perumpamaan Al-Qur'an bagi orang yang mempelajarinya, membacanya dan mengamalkannya, seperti sebuah wadah yang penuh minyak kesturi, yakni bau wanginya menyebar ke setiap tempat. Dan perumpamaan orang yang mempelajarinya, lalu dia tidur, sedangkan Al-Qur'an telah dihafalnya, seperti sebuah wadah yang tertutup, di dalamnya terdapat minyak kesturi._ [Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah]

*'Ibrah:*
1⃣ Nasihat di atas hadir karena pernyataan seorang sahabat yang tidak terpilih menjadi salah seorang pemimpin delegasi karena tidak mau menghafal dan mempelajari Surat Al-Baqarah karena khawatir tidak bisa mengamalkannya;

2⃣ Surat Al-Baqarah yang mengandung 287 ayat, 6221 kata, 25.500 huruf mengandung keutamaan besar bagi para sahabatnya, yakni mereka yang menghafalkan, mempelajari, dan mengamalkannya;

3⃣ Harumnya para penjaga Qur'an menunjukkan kemuliaan yang besar dari aktivitas menghafalnya;

4⃣ Menghafal Al-Baqarah adalah langkah awal sebelum menghafal 7 (tujuh) surat yang panjang, agar kelak dicatat sebagai orang 'alim;

Diriwayatkan oleh Abu Sa'id, dari Sulaiman ibnu Bilal, dari Habib ibnu Hindun, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ pernah bersabda:

مَنْ أَخَذَ السَّبْعَ الْأُوَلَ مِنَ الْقُرْآنِ فَهُوَ حَبْرٌ

_Barang siapa yang mengambil (hafal) tujuh surat yang pertama dari Al-Qur'an, maka dia adalah orang yang alim._

🍂 Menghafalkan surat Al-Baqarah adalah syarat awal kepemimpinan.

Join Channel Kajian: t.me/supraha
https://www.youtube.com/user/supraha

Ikhwatil iman ahibbah,
Jika ada keluangan jangan lupa SUBSCRIBE ya, ana baru create ulang tadi malam.

Jazakumullahu khaer.
@supraha