CARA PRAKTIS MENGHITUNG DAGING KURBAN
Dari seekor sapi
Berat misal : 350 kg
Maka berat Karkasnya = 50% dari Berat hidupnya = 175 kg
Berat daging= 70% dari berat karkas =122,5 kg atau
35% dari Berat Hidup = 122,5 kg
Jadi kl perkantong berat daging yg akan diberikan masing2 1 kg... maka jadi 122,5 kantong.... kl 0,5 kg per kantong maka diperoleh 245 kantong...
Berat Jeroan 10% dari berat karkas = 17,5 kg atau 5% dari Berat Hidup.
Berat kaki sebanyak 4 kaki rata2 dagingnya 4,5 kg
Berat kepala 4% dari Berat Hidup= 14.5 kg per ekor
Berat ekor = 0,7% dari Berat Hidup = 2,45 kg
Ini penting untuk Panitia Qurban utk membagikan dan menyesuaikan jumlah ternak dengan jumlah mustahik. Perhitungan ini hanya memudahkan Panitia Qurban terlepas dari daging yg tercecer maupun yg masih melekat pada tulang.
Semoga bermanfaat....
Nasional Qurban Center
(Disarikan dari Buku Pedoman Ber-Qurban yg Aman & Benar)
Halalan Thoyiban dan Ihsan
Dari seekor sapi
Berat misal : 350 kg
Maka berat Karkasnya = 50% dari Berat hidupnya = 175 kg
Berat daging= 70% dari berat karkas =122,5 kg atau
35% dari Berat Hidup = 122,5 kg
Jadi kl perkantong berat daging yg akan diberikan masing2 1 kg... maka jadi 122,5 kantong.... kl 0,5 kg per kantong maka diperoleh 245 kantong...
Berat Jeroan 10% dari berat karkas = 17,5 kg atau 5% dari Berat Hidup.
Berat kaki sebanyak 4 kaki rata2 dagingnya 4,5 kg
Berat kepala 4% dari Berat Hidup= 14.5 kg per ekor
Berat ekor = 0,7% dari Berat Hidup = 2,45 kg
Ini penting untuk Panitia Qurban utk membagikan dan menyesuaikan jumlah ternak dengan jumlah mustahik. Perhitungan ini hanya memudahkan Panitia Qurban terlepas dari daging yg tercecer maupun yg masih melekat pada tulang.
Semoga bermanfaat....
Nasional Qurban Center
(Disarikan dari Buku Pedoman Ber-Qurban yg Aman & Benar)
Halalan Thoyiban dan Ihsan
Wido Supraha
Photo
Sejarah dan Fiqh Qurban
bersama: Dr. Wido Supraha, M.Si.
Zoom Link:
https://us04web.zoom.us/j/76910459120?pwd=RjZJenkvNzIwQWRZYjRzTGU1ZlVadz09
Meeting ID: 769 1045 9120
Passcode: kjUMy8
bersama: Dr. Wido Supraha, M.Si.
Zoom Link:
https://us04web.zoom.us/j/76910459120?pwd=RjZJenkvNzIwQWRZYjRzTGU1ZlVadz09
Meeting ID: 769 1045 9120
Passcode: kjUMy8
Zoom Video
Join our Cloud HD Video Meeting
Zoom is the leader in modern enterprise video communications, with an easy, reliable cloud platform for video and audio conferencing, chat, and webinars across mobile, desktop, and room systems. Zoom Rooms is the original software-based conference room solution…
Rasulullah SAW bersabda:
أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ
“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“.
(HR. Muslim no.2567)
أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ
“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“.
(HR. Muslim no.2567)
Kunjungan Prof Al-Attas pada Mei 1979 ke Indonesia.pdf
5.2 MB
Emailing Kunjungan Prof Al-Attas pada Mei 1979 ke Indonesia.pdf
MENGEJAR WAFAT DALAM FITRAH DI MALAM HARI
Sahabat, marilah kita membaca do'a berikut ini sebelum kita tidur di malam hari setelah sebelumnya berwudhu, maka jika malam itu kita diwafatkan Allah SWT, maka semoga kita diwafatkan dalam kondisi fitrah, dan jika diwafatkan di pagi harinya, maka semoga kita mendapatkan pahala-Nya. Hal ini sebagaimana pesan Rasulullah SAW dari al-Barra' bin 'Azib r.a. dalam riwayat Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ؛ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ
“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah:
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.
Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.”
Dalam riwayat Al-Bukhari no. 6934 terdapat tambahan:
وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا
... dan jika engkau meninggal pagi harinya, engkau peroleh pahala.
Semoga Allah SWT wafatkan kita semua dalam husnul khatimah.
@supraha
🌀 Telegram: t.me/supraha
Sahabat, marilah kita membaca do'a berikut ini sebelum kita tidur di malam hari setelah sebelumnya berwudhu, maka jika malam itu kita diwafatkan Allah SWT, maka semoga kita diwafatkan dalam kondisi fitrah, dan jika diwafatkan di pagi harinya, maka semoga kita mendapatkan pahala-Nya. Hal ini sebagaimana pesan Rasulullah SAW dari al-Barra' bin 'Azib r.a. dalam riwayat Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ؛ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ
“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah:
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.
Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.”
Dalam riwayat Al-Bukhari no. 6934 terdapat tambahan:
وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا
... dan jika engkau meninggal pagi harinya, engkau peroleh pahala.
Semoga Allah SWT wafatkan kita semua dalam husnul khatimah.
@supraha
🌀 Telegram: t.me/supraha
Telegram
Wido Supraha
Bersama Meniti Jalan Menuju Jannah
*Berbahagialah Sebab Telah Berusaha Semaksimal Mungkin*
Oleh: Dr. Wido Supraha (Founder SekolahAdab.Com)
Sahabat,
Jika kita sakit, berikhtiarlah untuk sembuh. Jika kita ditimpa pandemi, berikhtiarlah untuk menjaga diri agar tidak terkena pandemi. Jika kita terjatuh, berikhtiarlah untuk bangkit kembali. Jika kita terzhalimi, berikhtiarlah untuk mendapatkan keadilan. Jika kita jatuh miskin, berikhtiarlah untuk menjadi orang-orang yang kaya. Jika kita memiliki jiwa yang penuh hasad dan dendam, berikhtiarlah untuk mensucikannya. Sungguh, semua ikhtiar di atas adalah wujud mencari manfaat yang disyari'atkan untuk diri kita. Nabi Muhammad ﷺ sejak dahulu telah berpesan sebagaimana riwayat HR. Ahmad no. 9026, Muslim no. 6945:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
_“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qoddarallah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”_
Dengan demikian, Mukmin yang kuat adalah Mukmin yang tidak mudah menyerah dan lemah menghadapi masalah dan diuji dengan sesuatu yang 'terkesan' berat. Ikhtiar adalah wujud rasa syukur Mukmin masih diberikan kehidupan di muka bumi ini. Jangan sampai Mukmin yang hidup menjadi seperti Mukmin yang mati, karena hakikat kehidupan adalah berusaha dan pada akhirnya kelak ia berbahagia karena ia telah berusaha semampu yang bisa ia kerjakan semasa hidupnya. Sungguh, kelak akan menyesal dan bersedih, seorang Mukmin yang malas, meninggalkan ikhtiar, dan menjauhi usaha.
🌐 widosupraha.com
🌀 @supraha
Oleh: Dr. Wido Supraha (Founder SekolahAdab.Com)
Sahabat,
Jika kita sakit, berikhtiarlah untuk sembuh. Jika kita ditimpa pandemi, berikhtiarlah untuk menjaga diri agar tidak terkena pandemi. Jika kita terjatuh, berikhtiarlah untuk bangkit kembali. Jika kita terzhalimi, berikhtiarlah untuk mendapatkan keadilan. Jika kita jatuh miskin, berikhtiarlah untuk menjadi orang-orang yang kaya. Jika kita memiliki jiwa yang penuh hasad dan dendam, berikhtiarlah untuk mensucikannya. Sungguh, semua ikhtiar di atas adalah wujud mencari manfaat yang disyari'atkan untuk diri kita. Nabi Muhammad ﷺ sejak dahulu telah berpesan sebagaimana riwayat HR. Ahmad no. 9026, Muslim no. 6945:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
_“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qoddarallah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”_
Dengan demikian, Mukmin yang kuat adalah Mukmin yang tidak mudah menyerah dan lemah menghadapi masalah dan diuji dengan sesuatu yang 'terkesan' berat. Ikhtiar adalah wujud rasa syukur Mukmin masih diberikan kehidupan di muka bumi ini. Jangan sampai Mukmin yang hidup menjadi seperti Mukmin yang mati, karena hakikat kehidupan adalah berusaha dan pada akhirnya kelak ia berbahagia karena ia telah berusaha semampu yang bisa ia kerjakan semasa hidupnya. Sungguh, kelak akan menyesal dan bersedih, seorang Mukmin yang malas, meninggalkan ikhtiar, dan menjauhi usaha.
🌐 widosupraha.com
🌀 @supraha
MARI SELALU BERSEGERA BERTAUBAT
Oleh: Dr. Wido Supraha (SekolahAdab.Com)
Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Tahrim [66] ayat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (sebenar-benar taubat).
Rasulullah ﷺ pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Majah no. 4241:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertobat.”
Pertaubatan manusia hendaknya juga diiringi dengan menunaikan Shalat Sunnah Taubat. Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwiyatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. sebagaimana riwayat at-Tirmidzi no. 406, Abu Daud no. 1521, dan Ibnu Majah no. 1395:
« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ».
Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.
ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ
Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihâyatuz Zain menjelaskan terkait Shalat Taubat ini:
وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة
Termasuk shalat sunah adalah shalat Taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat Shalat Sunnah Taubat.
Melafazhkan niat dibolehkan dengan membaca:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ
Ushallî sunnatat taubah (saya berniat shalat Sunnah Taubat).
Shalat Taubat ini hendaknya disegerakan, jangan ditunda-tunda bagi yang betul-betul ingin bertaubat dengan sempurna. Berkata Ibn Taimiyah dalam _Majmu' Fatawa_ 23/215 terbitan Dar al-Wafa:
وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
Demikian pula shalat taubat. Jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan shalat taubat sebanyak dua raka’at. Lalu ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakr Ash Shiddiq.
@supraha
🌀 Telegram: t.me/supraha
🔰 Google Classroom: https://classroom.google.com/c/MjYzMzMxMzU1NzA3?cjc=fhzn2zl
🌐 widosupraha.com
Oleh: Dr. Wido Supraha (SekolahAdab.Com)
Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Tahrim [66] ayat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (sebenar-benar taubat).
Rasulullah ﷺ pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Majah no. 4241:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertobat.”
Pertaubatan manusia hendaknya juga diiringi dengan menunaikan Shalat Sunnah Taubat. Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwiyatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. sebagaimana riwayat at-Tirmidzi no. 406, Abu Daud no. 1521, dan Ibnu Majah no. 1395:
« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ».
Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.
ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ
Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihâyatuz Zain menjelaskan terkait Shalat Taubat ini:
وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة
Termasuk shalat sunah adalah shalat Taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat Shalat Sunnah Taubat.
Melafazhkan niat dibolehkan dengan membaca:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ
Ushallî sunnatat taubah (saya berniat shalat Sunnah Taubat).
Shalat Taubat ini hendaknya disegerakan, jangan ditunda-tunda bagi yang betul-betul ingin bertaubat dengan sempurna. Berkata Ibn Taimiyah dalam _Majmu' Fatawa_ 23/215 terbitan Dar al-Wafa:
وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
Demikian pula shalat taubat. Jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan shalat taubat sebanyak dua raka’at. Lalu ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakr Ash Shiddiq.
@supraha
🌀 Telegram: t.me/supraha
🔰 Google Classroom: https://classroom.google.com/c/MjYzMzMxMzU1NzA3?cjc=fhzn2zl
🌐 widosupraha.com
Panduan MUI tentang ibadah di Masjid saat PPKM Darurat.
https://twitter.com/MUIPusat/status/1411928115656368129
https://twitter.com/MUIPusat/status/1411928115656368129
Twitter
Majelis Ulama Indonesia
Panduan MUI tentang ibadah di Masjid saat PPKM Darurat. (bagian 1) #PPKMDarurat #Masjid #COVID19 youtu.be/RxY8mUzrAUo
Panduan MUI tentang ibadah di Masjid saat PPKM Darurat.
https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fmuipusat%2Fposts%2F829516641103367
https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fmuipusat%2Fposts%2F829516641103367
Fenomena Pinjaman Online (Pinjol) dalam Telaah Fikih
https://mui.or.id/opini/30474/fenomena-pinjaman-online-pinjol-dalam-telaah-fikih/
https://mui.or.id/opini/30474/fenomena-pinjaman-online-pinjol-dalam-telaah-fikih/
MUI: Sholat Idul Adha tak Dilarang Hanya Dialihkan
https://mui.or.id/berita/30477/mui-sholat-idul-adha-tak-dilarang-hanya-dialihkan/
https://mui.or.id/berita/30477/mui-sholat-idul-adha-tak-dilarang-hanya-dialihkan/