Salafy Palembang 🇮🇩
5.91K subscribers
5.34K photos
445 videos
309 files
14.4K links
Menebar Hikmah dengan bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Meniti Jalan Salaful Ummah.
Website: www.salafypalembang.com
Download Telegram
✋🏻🔓📢 GAMBARAN DAHSYATNYA HARI KIAMAT

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

“Kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.”

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita sebagian mereka akan melihat yang lainnya?”

Rasulullah berkata, “Keadaan ketika itu lebih dahsyat. Mereka tidak lagi memikirkan hal itu.”

📚 (HR. al-Bukhari no. 6572 dan Muslim no. 2859)

@ForumSalafy

-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com

✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✋🏻💥⚠️ ORANG BERIMAN PASTI DIUJI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 1—3)

Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?”

قَالَ: اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau imannya kokoh, berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.” (HR. Shahih at-Tirmidzi no 2398)

@ForumSalafy

-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com

✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
📚 MENGHADIAHKAN PAHALA MEMBACA AL-QUR’AN


Pertanyaan:
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an, lalu saya menghadiahkan (niatkan) kepada ayah dan ibu saya? Perlu diketahui, keduanya tidak bisa baca-tulis.
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada orang yang bisa baca-tulis? Saya memang bermaksud menghadiahkannya kepadanya.
Demikian pula, bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada lebih dari satu orang?

✔️ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab,

❗️Tidak terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia, hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak pula dari para sahabatnya yang mulia; sesuatu yang menunjukkan disyariatkannya menghadiahkan (pahala) bacaan Al-Qur’an al-Karim kepada kedua orang tua atau orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaatnya, faedahnya, serta agar bisa dipahami maknanya lalu diamalkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Shad: 29)

إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُ

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (al-Isra: 9)

قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَآءٌۚ

Katakanlah, ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.’” (Fushshilat: 44)

💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya (amalan membaca) Al-Qur’an itu akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (Sahih, HR. Muslim no. 804)

📝 Dengan demikian, tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diamalkan, dipahami, diniatkan untuk ibadah ketika membacanya, serta agar seseorang memperbanyak membacanya; bukan untuk menghadiahkan (pahala)nya kepada orang-orang yang telah wafat atau selainnya.

❗️Aku tidak mengetahui ada dasar yang bisa dijadikan argumen, dalam hal menghadiahkan (pahala) bacaan Al-Qur’an kepada kedua orang tua atau selain mereka.

💡Sungguh, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (Sahih, HR. Muslim)


🌏 https://asysyariah.com/menghadiahkan-pahala-membaca-al-quran/

📲 Join t.me/salafypalembang

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
☝️🏼💯 📚 SEDEKAH JARIYAH, ILMU YANG BERMANFAAT, ANAK YANG SALEH; TERMASUK HASIL USAHA HAMBA


Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (an-Najm: 39)

📝 Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

"Maksudnya, sebagaimana dosa orang lain tidak akan dibebankan kepadanya, ia pun hanya akan mendapatkan ganjaran dari apa yang telah dia usahakan sendiri.

✔️ Dari ayat ini, Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan orang-orang yang mengikuti pendapat beliau, mengambil kesimpulan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an seseorang yang dihadiahkannya, tidak akan sampai kepada mayit. Sebab, ia bukan amalan dan usaha si mayit.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menganjurkan, mengajak, atau membimbing umatnya untuk melakukan hal itu, baik dengan nash (teks) yang jelas maupun isyarat. Tidak ada pula satu pernyataan pun yang dinukilkan dari para sahabat. Seandainya hal itu memang baik, tentu mereka telah lebih dahulu mengamalkannya. Padahal, dalam perkara ibadah, kita harus berpatokan pada nas (ayat dan hadits); tidak boleh diberlakukan berbagai analogi dan pendapat akal padanya.

✔️ Sedekah dan doa, hal ini telah disepakati bahwa (pahala) keduanya bisa sampai kepada si mayit; dan telah disebutkan pula (bolehnya) oleh Pembuat syariat.

💡Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلَّا مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Jika seorang anak Adam telah meninggal, terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

💡 Tiga perkara ini, pada hakikatnya adalah bagian dari usaha, jerih payah, dan amalannya; sebagaimana yang terdapat dalam hadits,

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِن كَسْبِهِ

“Hal terbaik yang diperoleh seseorang adalah apa yang ia peroleh dari hasil usahanya sendiri. Dan sungguh, anaknya itu termasuk dari usahanya.”

▪️Sedekah jariyah, seperti wakaf dan yang sejenisnya, juga termasuk bagian dari amalannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ وَءَاثَٰرَهُم

“Sungguh, Kami-lah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami-lah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).” (Yasin: 12)

▪️ Ilmu yang ia sebarkan di tengah manusia sehingga mereka bisa mengambil manfaatnya sepeninggalnya, itu juga termasuk dari usahanya.

💡Dalam sebuah hadits dalam kitab Sahih, disebutkan,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa menunjukkan jalan hidayah (kepada seseorang), dia akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (Tafsir Ibnu Katsir, surah an-Najm: 39)


🖥 Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/menghadiahkan-pahala-membaca-al-quran/

📲 Join t.me/salafypalembang

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
📚 AMALAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL


📝 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan,

Amalan yang disyariatkan adalah mendoakan mayit dan menyedekahkan hartanya atas nama mereka (mayit), dengan cara berbuat baik kepada para fakir miskin. Dengan itu, seorang hamba bisa mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus memohon kepada-Nya agar pahalanya dijadikan untuk ayah dan ibunya, atau untuk selain keduanya, baik orang tersebut sudah mati maupun masih hidup.

💡Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إذا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang anak Adam telah meninggal, terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

💡Telah sahih (sebuah hadits), bahwa ada seseorang yang berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ ْتُوْصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia belum sempat berwasiat. Aku mengira jika dia sempat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?”

Beliau menjawab, “Ya.” (Muttafaqun alaih)

✔️ Demikian pula dengan menghajikan mayit, mengumrahkannya, atau membayarkan utangnya. Semua itu akan bermanfaat bagi si mayit, sesuai dengan keterangan yang disebutkan dalam dalil-dalil syariat.


🖥 Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/bisakah-kirim-pahala/

📲 Join t.me/salafypalembang

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🌎✈️🕋 DUNIA SARANA MERAIH AKHIRAT

🔊 Utsman bin 'Affan radhiyallahu'anhu menyatakan,

"إنَّما أعْطَاكم اللهُ الدُّنْيَا لتطْلُبُوا بِها الآخِرَة
ولَمْ يُعْطِيْكمُوها لتَرْكنُوا إلَيْهَا".

"Allah menganugerahkan dunia kepada kalian hanyalah agar kalian bisa meraih akhirat dengannya. Sungguh, Dia memberi dunia kepada kalian bukan agar kalian bersandar penuh kepadanya."

📚 Al-Bidayah wa An-Nihayah 7/142

#dunia #sarana #meraih #akhirat
@KajianIslamTemanggung

≈≈≈

📚💯 ILMU SEBAB TERANGKATNYA DERAJAT HAMBA

💬 Asy-Syaikh al-Fauzan hafidzahullah menyatakan,

[العلم] سبب للرفعة في الدنيا والآخرة، سبب للصلاح والفلاح في الدنيا والآخرة، بخلاف الجهل، فإن الجهل ضلال وهلاك وتيه ".

"Ilmu agama adalah sebab terangkatnya derajat di dunia dan akhirat, sebab mendapatkan kebaikan serta keberuntungan di dunia dan akhirat.

Lain halnya dengan kebodohan, sungguh kebodohan adalah kesesatan dan kebinasaan."

✍️ Syarah Mandzumatul ahsaaii 13

#petuah #ilmu #derajat
@KajianIslamTemanggung

-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com

✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✋🏼 ⛔️ 📚 TIDAK PUTUS ASA


Kondisi sulit yang berlarut-larut bisa menyeret kepada sikap pesimis atau berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Saat keadaan seorang sampai pada taraf ini, dia telah terhinggapi sifat kekufuran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَاْيۡ‍َٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)

📝 Kekafiran yang ada pada mereka menyebabkan mereka menganggap jauh rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga rahmat-Nya pun menjauh. Oleh karena itu, kita dilarang meniru mereka.

📝 Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki sikap berharap sesuai dengan kadar keimanannya.

Seorang yang mengetahui luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala tentu tak akan terhinggapi sikap pesimis. Dia justru yakin bahwa setiap ada kesulitan pasti akan datang kemudahan setelahnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُسۡرًا

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (ath-Thalaq: 7)


🖥 Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/kemudahan-setelah-kesulitan/

📲 Join t.me/salafypalembang

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
📌 💦 📚 RAHASIA DI BALIK DATANGNYA KEMUDAHAN SETELAH KESULITAN YANG DAHSYAT


1⃣ Kesulitan yang telah sampai puncaknya menjadikan seseorang tidak lagi bergantung kepada makhluk. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dia bergantung.

Apabila seseorang hanya bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, permohonannya akan dikabulkan dan kesulitannya akan dihilangkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

2⃣ Apabila dahsyatnya petaka telah meliputi seorang hamba, dia harus berupaya keras untuk memerangi godaan setan yang membisikkan sikap putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Balasan atas upaya keras untuk menepis godaan setan ini adalah dirinya dilepaskan dari malapetaka. Bentuk godaan setan tersebut di antaranya adalah agar seseorang meninggalkan berdoa apabila tak kunjung dikabulkan.

💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Dikabulkan (doa) salah seorang kalian selagi tidak tergesa-gesa, (dengan) ia mengatakan, ‘Aku telah berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan’.” (HR. al-Bukhari dalam “Kitab ad-Da’awat”, dan Muslim dalam “adz-Dzikru wad Du’a”)

3⃣ Apabila seorang mukmin melihat kesulitannya tidak kunjung selesai dan hampir berputus asa—setelah sering memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala—hal ini akan membuahkan sikap introspeksi diri.

Dia akan menyadari bahwa doanya belum dijawab karena hatinya masih kotor. Perasaan seperti ini mendorongnya untuk bersimpuh hati secara total di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala serta mengakui bahwa permohonannya belum pantas dikabulkan. Dengan demikian, dia akan cepat dilepaskan dari malapetaka. (lihat kitab Nurul Iqtibas karya Ibnu Rajab rahimahullah bersama al-Jami’ al-Muntakhab, hlm. 212—213)


🖥 Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/kemudahan-setelah-kesulitan/

📲 Join t.me/salafypalembang

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
بسم الله الرحمن الرحيم

📣 ⬆️ 📡 SEKILAS INFO ..

📶 🏠 TA'LIM ONLINE HARI SABTU #diRumahAja KOTA PALEMBANG

1⃣ TA'LIM MUSLIMAH
🕙 Insyaallah akan dimulai Pukul 10.00 WIB

2⃣ TA'LIM HADITS HADITS FIKIH PILIHAN
🕡 Insyaallah akan dimulai Ba'da Maghrib Waktu Palembang WIB

⚠️ JANGAN TERLEWATKAN..!

📡 LIVE Streaming
📻 Hanya di Channel RADIO AL-IBANAH
💯 Radionyo Wong Kito
🏠 #diRumahAja

This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✍🏻📢📋 KISAH ASHABUL UKHDUD YANG DISEBUTKAN DALAM SURAH AL-BURUJ

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, pada “Kitab az-Zuhd war Raqa`iq”, “Bab Qishshah Ashhabil Ukhdud” (no. 3005), dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Pada zaman dahulu, sebelum masa kalian ada seorang raja, dia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah semakin tua, dia berkata kepada raja tersebut, "Saya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir." Raja itu pun mencari seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir.

Adapun pemuda itu, di jalanan yang dilaluinya (menuju tukang sihir) itu ada seorang rahib (ahli ibadah). Dia duduk di majelis rahib tersebut, mendengarkan wejangannya. Ternyata uraian tersebut menakjubkannya. Akhirnya, jika dia mendatangi tukang sihir itu, dia melewati majelis si rahib dan duduk di sana.

Kemudian, setelah dia menemui tukang sihir itu, dia dipukul oleh tukang sihir tersebut. Pemuda itu pun mengadukan keadaannya kepada si rahib. Kata si rahib, ‘Kalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan kepadanya, ‘Aku ditahan oleh keluargaku.’ Jika engkau takut kepada keluargamu, katakan kepada mereka, ‘Aku ditahan oleh tukang sihir itu’.’

Ketika dia dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu berkata, “Hari ini saya akan tahu, tukang sihir itu yang lebih utama atau si rahib.”

Dia pun memungut sebuah batu dan berkata, "Ya Allah, kalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir itu, bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu." Pemuda itu melemparkan batunya hingga membunuhnya. Akhirnya manusia pun dapat melanjutkan perjalanannya.

Kemudian pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan keadaannya. Si rahib berkata kepadanya, "Wahai Ananda, hari ini engkau lebih utama daripadaku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap yang aku lihat saat ini. Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cobaan. Apabila engkau ditimpa satu cobaan, janganlah engkau menunjuk diriku."

Pemuda itu akhirnya mampu mengobati orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, sopak (belang), dan mengobati orang banyak dari berbagai penyakit. Berita ini sampai ke telinga teman duduk Sang Raja yang buta matanya. Dia pun menemui pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata, "Semua hadiah yang ada di sini adalah untuk engkau, saya kumpulkan, kalau engkau dapat menyembuhkan saya (dari kebutaan ini)."

Anak muda itu menjawab, "Sebetulnya saya tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Akan tetapi, yang menyembuhkan itu adalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah, saya doakan kepada Allah, tentu Dia sembuhkan engkau.’

Teman Sang Raja itu pun beriman kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya. Kemudian dia menemui Sang Raja dan duduk bersamanya seperti biasa.

Raja itu berkata kepadanya, "Siapa yang sudah mengembalikan matamu?"

Dia menjawab, "Rabb-ku."

Raja itu menukas, “Apa kamu punya tuhan selain aku?”

Orang itu berkata, "Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah."

Raja itu pun menangkapnya dan tidak berhenti menyiksanya sampai dia menunjukkan si pemuda. Akhirnya si pemuda ditangkap dan dibawa ke hadapan raja tersebut. Sang raja berkata, "Wahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu."

Pemuda itu berkata, "Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Akan tetapi, yang menyembuhkan itu adalah Allah."

Raja itu menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai dia menunjukkan si rahib. Akhirnya si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada Sang Raja dan dipaksa, "Keluarlah dari agamamu."
Si rahib menolak. Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib. Mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Akan tetapi, dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.

Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja. Dia pun dipaksa, "Keluarlah kamu dari keyakinanmu."

Pemuda itu menolak. Akhirnya raja itu memanggil para prajuritnya, "Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas."

Mereka pun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemuda pun berdoa, "Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki."

Seketika gunung itu bergetar. Mereka pun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui Sang Raja.
Raja itu berkata, "Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?"

Kata si pemuda, "Allah menyelamatkanku dari mereka."

Kemudian Raja menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata, “Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang). Kalau tidak mau, lemparkan dia ke laut.”

Mereka pun membawanya. Si pemuda berdoa lagi, “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”

Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Si pemuda pun berjalan dengan tenang menemui Sang Raja.

Raja itu berkata, "Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?"

Kata si pemuda, "Allah menyelamatkanku dari mereka."

Lalu si pemuda melanjutkan, "Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan."

Sang Raja bertanya, "Apa itu?"

Kata si pemuda, "Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat. Lalu kau salib aku di sebatang pohon. Ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur. Lalu ucapkanlah Bismillah Rabbil ghulam (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya, niscaya engkau akan dapat membunuhku."

Raja itu pun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda. Kemudian dia mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata, "Bismillahi Rabbil ghulam, kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan dia pun tewas.

Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata, "Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda."

Raja pun didatangi pengikutnya. Lantas diceritakan kepadanya, "Apakah Anda sudah melihat? Apa yang Anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah)."

Lalu Raja memerintahkan agar digali parit-parit besar dan dinyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata, "Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau ceburkan ke dalamnya)."

Mereka pun melakukannya. Sampai akhirnya diseretlah seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu mundur (melihat api yang bernyala-nyala), khawatir terjatuh ke dalamnya (karena sayang kepada bayinya). Akan tetapi, bayi itu berkata kepada ibunya, "Wahai Ibunda, bersabarlah. Sesungguhnya engkau di atas al-haq."

@ForumSalafy

-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com

✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✍🏻📜 STATUS ANAK HASIL ZINA

🔊 Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan,

إذا زنا بها فالولد ليس له ولكن لها، ينسب إليها ويقال ابن فلانة ولد فلانة، وينسب إلى عبدالله أو عبدالرحمن لأن الناس كلهم عبيد الله ولا يسمى إلى هذا الزاني أبداً ونكاحه باطل إذا تزوجها وهي حامل يكون نكاحه باطل.

"Apabila ada seorang lelaki berzina dengan wanita, maka anak (yang terlahir) bukan miliknya namun menjadi milik wanita tersebut. Dalam arti anak itu dinisbatkan kepada wanita itu sehingga dia disebut anak laki-lakinya fulanah atau anaknya fulanah.

Dinisbatkan pula kepada Abdullah (hamba Allah) atau Abdurrahman (hamba ar-Rahman). Karena seluruh manusia adalah hamba Allah.
Tidak boleh namanya dinisbatkan kepada pezina laki-laki tadi untuk selama-lamanya. Adapun pernikahannya batil, jika dia menikahi wanita itu dalam keadaan hamil, maka pernikahannya batil."

🖥️ Situs Resmi Syaikh bin Baz rahimahullah.

#status #anak #hasil #zina

@KajianIslamTemanggung

-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com

✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM