✋🏻❌⚠️💥 SYIRIK MERUPAKAN SUMBER KERUSAKAN
Allah azza wa jalla berfirman,
لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit dan bumi) telah rusak binasa. Mahasuci Allah yang memiliki Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya: 22)
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
“Sesungguhnya tegaknya langit dan bumi serta seluruh makhluk, bertumpu pada penghambaan kepada Allah Yang Mahatunggal. Kalau mereka menyembah selain Allah, akan timbul kerusakan pada diri mereka.”
📚 (Thariqul Hijratain hlm. 70)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Allah azza wa jalla berfirman,
لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit dan bumi) telah rusak binasa. Mahasuci Allah yang memiliki Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya: 22)
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
“Sesungguhnya tegaknya langit dan bumi serta seluruh makhluk, bertumpu pada penghambaan kepada Allah Yang Mahatunggal. Kalau mereka menyembah selain Allah, akan timbul kerusakan pada diri mereka.”
📚 (Thariqul Hijratain hlm. 70)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✋🏻⚠️❌💥 ANCAMAN BAGI YANG BERBUAT MAKSIAT TERANG-TERANGAN
✍🏻 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Seluruh umatku akan dimaafkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang berbuat (maksiat) secara terang-terangan.
Di antara bentuk menampakkan maksiat adalah ketika seseorang melakukan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupinya. Namun, pagi harinya ia malah berkata, ‘Wahai Fulan! Semalam aku telah melakukan ini dan itu.’
Sungguh, pada malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia justru membeberkan sendiri apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tutupi.”
📚 (HR. al-Bukhari, no. 6069, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✍🏻 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Seluruh umatku akan dimaafkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang berbuat (maksiat) secara terang-terangan.
Di antara bentuk menampakkan maksiat adalah ketika seseorang melakukan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupinya. Namun, pagi harinya ia malah berkata, ‘Wahai Fulan! Semalam aku telah melakukan ini dan itu.’
Sungguh, pada malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia justru membeberkan sendiri apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tutupi.”
📚 (HR. al-Bukhari, no. 6069, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✋🏻✅🔓📢 GAMBARAN DAHSYATNYA HARI KIAMAT
Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.”
Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita sebagian mereka akan melihat yang lainnya?”
Rasulullah berkata, “Keadaan ketika itu lebih dahsyat. Mereka tidak lagi memikirkan hal itu.”
📚 (HR. al-Bukhari no. 6572 dan Muslim no. 2859)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.”
Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita sebagian mereka akan melihat yang lainnya?”
Rasulullah berkata, “Keadaan ketika itu lebih dahsyat. Mereka tidak lagi memikirkan hal itu.”
📚 (HR. al-Bukhari no. 6572 dan Muslim no. 2859)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✋🏻✅💥⚠️ ORANG BERIMAN PASTI DIUJI
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 1—3)
Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?”
قَالَ: اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau imannya kokoh, berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.” (HR. Shahih at-Tirmidzi no 2398)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 1—3)
Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?”
قَالَ: اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau imannya kokoh, berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.” (HR. Shahih at-Tirmidzi no 2398)
@ForumSalafy
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
❓📚 MENGHADIAHKAN PAHALA MEMBACA AL-QUR’AN
❓Pertanyaan:
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an, lalu saya menghadiahkan (niatkan) kepada ayah dan ibu saya? Perlu diketahui, keduanya tidak bisa baca-tulis.
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada orang yang bisa baca-tulis? Saya memang bermaksud menghadiahkannya kepadanya.
Demikian pula, bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada lebih dari satu orang?
✔️ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab,
❗️Tidak terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia, hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak pula dari para sahabatnya yang mulia; sesuatu yang menunjukkan disyariatkannya menghadiahkan (pahala) bacaan Al-Qur’an al-Karim kepada kedua orang tua atau orang lain.
✅ Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaatnya, faedahnya, serta agar bisa dipahami maknanya lalu diamalkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Shad: 29)
إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُ
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (al-Isra: 9)
قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَآءٌۚ
“Katakanlah, ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.’” (Fushshilat: 44)
💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya (amalan membaca) Al-Qur’an itu akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (Sahih, HR. Muslim no. 804)
📝 Dengan demikian, tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diamalkan, dipahami, diniatkan untuk ibadah ketika membacanya, serta agar seseorang memperbanyak membacanya; bukan untuk menghadiahkan (pahala)nya kepada orang-orang yang telah wafat atau selainnya.
❗️Aku tidak mengetahui ada dasar yang bisa dijadikan argumen, dalam hal menghadiahkan (pahala) bacaan Al-Qur’an kepada kedua orang tua atau selain mereka.
💡Sungguh, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (Sahih, HR. Muslim)
🌏 https://asysyariah.com/menghadiahkan-pahala-membaca-al-quran/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
❓Pertanyaan:
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an, lalu saya menghadiahkan (niatkan) kepada ayah dan ibu saya? Perlu diketahui, keduanya tidak bisa baca-tulis.
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada orang yang bisa baca-tulis? Saya memang bermaksud menghadiahkannya kepadanya.
Demikian pula, bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada lebih dari satu orang?
✔️ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab,
❗️Tidak terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia, hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak pula dari para sahabatnya yang mulia; sesuatu yang menunjukkan disyariatkannya menghadiahkan (pahala) bacaan Al-Qur’an al-Karim kepada kedua orang tua atau orang lain.
✅ Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaatnya, faedahnya, serta agar bisa dipahami maknanya lalu diamalkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Shad: 29)
إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُ
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (al-Isra: 9)
قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَآءٌۚ
“Katakanlah, ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.’” (Fushshilat: 44)
💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya (amalan membaca) Al-Qur’an itu akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (Sahih, HR. Muslim no. 804)
📝 Dengan demikian, tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diamalkan, dipahami, diniatkan untuk ibadah ketika membacanya, serta agar seseorang memperbanyak membacanya; bukan untuk menghadiahkan (pahala)nya kepada orang-orang yang telah wafat atau selainnya.
❗️Aku tidak mengetahui ada dasar yang bisa dijadikan argumen, dalam hal menghadiahkan (pahala) bacaan Al-Qur’an kepada kedua orang tua atau selain mereka.
💡Sungguh, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (Sahih, HR. Muslim)
🌏 https://asysyariah.com/menghadiahkan-pahala-membaca-al-quran/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
AsySyariah.com
Menghadiahkan Pahala Membaca Al-Qur’an
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an, lalu saya menghadiahkan (niatkan) kepada ayah dan ibu saya? Perlu diketahui, keduanya tidak bisa baca-tulis.
☝️🏼💯 📚 SEDEKAH JARIYAH, ILMU YANG BERMANFAAT, ANAK YANG SALEH; TERMASUK HASIL USAHA HAMBA
✅ Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (an-Najm: 39)
📝 Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
"Maksudnya, sebagaimana dosa orang lain tidak akan dibebankan kepadanya, ia pun hanya akan mendapatkan ganjaran dari apa yang telah dia usahakan sendiri.
✔️ Dari ayat ini, Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan orang-orang yang mengikuti pendapat beliau, mengambil kesimpulan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an seseorang yang dihadiahkannya, tidak akan sampai kepada mayit. Sebab, ia bukan amalan dan usaha si mayit.
❗Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menganjurkan, mengajak, atau membimbing umatnya untuk melakukan hal itu, baik dengan nash (teks) yang jelas maupun isyarat. Tidak ada pula satu pernyataan pun yang dinukilkan dari para sahabat. Seandainya hal itu memang baik, tentu mereka telah lebih dahulu mengamalkannya. Padahal, dalam perkara ibadah, kita harus berpatokan pada nas (ayat dan hadits); tidak boleh diberlakukan berbagai analogi dan pendapat akal padanya.
✔️ Sedekah dan doa, hal ini telah disepakati bahwa (pahala) keduanya bisa sampai kepada si mayit; dan telah disebutkan pula (bolehnya) oleh Pembuat syariat.
💡Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلَّا مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
“Jika seorang anak Adam telah meninggal, terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
💡 Tiga perkara ini, pada hakikatnya adalah bagian dari usaha, jerih payah, dan amalannya; sebagaimana yang terdapat dalam hadits,
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِن كَسْبِهِ
“Hal terbaik yang diperoleh seseorang adalah apa yang ia peroleh dari hasil usahanya sendiri. Dan sungguh, anaknya itu termasuk dari usahanya.”
▪️Sedekah jariyah, seperti wakaf dan yang sejenisnya, juga termasuk bagian dari amalannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ وَءَاثَٰرَهُم
“Sungguh, Kami-lah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami-lah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).” (Yasin: 12)
▪️ Ilmu yang ia sebarkan di tengah manusia sehingga mereka bisa mengambil manfaatnya sepeninggalnya, itu juga termasuk dari usahanya.
💡Dalam sebuah hadits dalam kitab Sahih, disebutkan,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa menunjukkan jalan hidayah (kepada seseorang), dia akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (Tafsir Ibnu Katsir, surah an-Najm: 39)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/menghadiahkan-pahala-membaca-al-quran/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✅ Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (an-Najm: 39)
📝 Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
"Maksudnya, sebagaimana dosa orang lain tidak akan dibebankan kepadanya, ia pun hanya akan mendapatkan ganjaran dari apa yang telah dia usahakan sendiri.
✔️ Dari ayat ini, Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan orang-orang yang mengikuti pendapat beliau, mengambil kesimpulan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an seseorang yang dihadiahkannya, tidak akan sampai kepada mayit. Sebab, ia bukan amalan dan usaha si mayit.
❗Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menganjurkan, mengajak, atau membimbing umatnya untuk melakukan hal itu, baik dengan nash (teks) yang jelas maupun isyarat. Tidak ada pula satu pernyataan pun yang dinukilkan dari para sahabat. Seandainya hal itu memang baik, tentu mereka telah lebih dahulu mengamalkannya. Padahal, dalam perkara ibadah, kita harus berpatokan pada nas (ayat dan hadits); tidak boleh diberlakukan berbagai analogi dan pendapat akal padanya.
✔️ Sedekah dan doa, hal ini telah disepakati bahwa (pahala) keduanya bisa sampai kepada si mayit; dan telah disebutkan pula (bolehnya) oleh Pembuat syariat.
💡Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلَّا مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
“Jika seorang anak Adam telah meninggal, terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
💡 Tiga perkara ini, pada hakikatnya adalah bagian dari usaha, jerih payah, dan amalannya; sebagaimana yang terdapat dalam hadits,
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِن كَسْبِهِ
“Hal terbaik yang diperoleh seseorang adalah apa yang ia peroleh dari hasil usahanya sendiri. Dan sungguh, anaknya itu termasuk dari usahanya.”
▪️Sedekah jariyah, seperti wakaf dan yang sejenisnya, juga termasuk bagian dari amalannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ وَءَاثَٰرَهُم
“Sungguh, Kami-lah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami-lah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).” (Yasin: 12)
▪️ Ilmu yang ia sebarkan di tengah manusia sehingga mereka bisa mengambil manfaatnya sepeninggalnya, itu juga termasuk dari usahanya.
💡Dalam sebuah hadits dalam kitab Sahih, disebutkan,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa menunjukkan jalan hidayah (kepada seseorang), dia akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (Tafsir Ibnu Katsir, surah an-Najm: 39)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/menghadiahkan-pahala-membaca-al-quran/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
AsySyariah.com
Menghadiahkan Pahala Membaca Al-Qur’an
Bolehkah saya mengkhatamkan Al-Qur’an, lalu saya menghadiahkan (niatkan) kepada ayah dan ibu saya? Perlu diketahui, keduanya tidak bisa baca-tulis.
✅ 📚 AMALAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL
📝 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan,
Amalan yang disyariatkan adalah mendoakan mayit dan menyedekahkan hartanya atas nama mereka (mayit), dengan cara berbuat baik kepada para fakir miskin. Dengan itu, seorang hamba bisa mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus memohon kepada-Nya agar pahalanya dijadikan untuk ayah dan ibunya, atau untuk selain keduanya, baik orang tersebut sudah mati maupun masih hidup.
💡Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
إذا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang anak Adam telah meninggal, terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
💡Telah sahih (sebuah hadits), bahwa ada seseorang yang berkata,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ ْتُوْصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia belum sempat berwasiat. Aku mengira jika dia sempat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?”
Beliau menjawab, “Ya.” (Muttafaqun alaih)
✔️ Demikian pula dengan menghajikan mayit, mengumrahkannya, atau membayarkan utangnya. Semua itu akan bermanfaat bagi si mayit, sesuai dengan keterangan yang disebutkan dalam dalil-dalil syariat.
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/bisakah-kirim-pahala/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
📝 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan,
Amalan yang disyariatkan adalah mendoakan mayit dan menyedekahkan hartanya atas nama mereka (mayit), dengan cara berbuat baik kepada para fakir miskin. Dengan itu, seorang hamba bisa mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus memohon kepada-Nya agar pahalanya dijadikan untuk ayah dan ibunya, atau untuk selain keduanya, baik orang tersebut sudah mati maupun masih hidup.
💡Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
إذا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang anak Adam telah meninggal, terputuslah amalannya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
💡Telah sahih (sebuah hadits), bahwa ada seseorang yang berkata,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ ْتُوْصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia belum sempat berwasiat. Aku mengira jika dia sempat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?”
Beliau menjawab, “Ya.” (Muttafaqun alaih)
✔️ Demikian pula dengan menghajikan mayit, mengumrahkannya, atau membayarkan utangnya. Semua itu akan bermanfaat bagi si mayit, sesuai dengan keterangan yang disebutkan dalam dalil-dalil syariat.
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/bisakah-kirim-pahala/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
AsySyariah.com
Bisakah Kirim Pahala?
“Apa hukum membaca al-Fatihah yang pahalanya ditujukan kepada mayit, menyembelih hewan untuknya, demikian pula hukum memberikan uang untuk keluarga mayit?”
🌎✈️🕋 DUNIA SARANA MERAIH AKHIRAT
🔊 Utsman bin 'Affan radhiyallahu'anhu menyatakan,
"إنَّما أعْطَاكم اللهُ الدُّنْيَا لتطْلُبُوا بِها الآخِرَة
ولَمْ يُعْطِيْكمُوها لتَرْكنُوا إلَيْهَا".
"Allah menganugerahkan dunia kepada kalian hanyalah agar kalian bisa meraih akhirat dengannya. Sungguh, Dia memberi dunia kepada kalian bukan agar kalian bersandar penuh kepadanya."
📚 Al-Bidayah wa An-Nihayah 7/142
#dunia #sarana #meraih #akhirat
@KajianIslamTemanggung
≈≈≈
✅📚💯 ILMU SEBAB TERANGKATNYA DERAJAT HAMBA
💬 Asy-Syaikh al-Fauzan hafidzahullah menyatakan,
[العلم] سبب للرفعة في الدنيا والآخرة، سبب للصلاح والفلاح في الدنيا والآخرة، بخلاف الجهل، فإن الجهل ضلال وهلاك وتيه ".
"Ilmu agama adalah sebab terangkatnya derajat di dunia dan akhirat, sebab mendapatkan kebaikan serta keberuntungan di dunia dan akhirat.
Lain halnya dengan kebodohan, sungguh kebodohan adalah kesesatan dan kebinasaan."
✍️ Syarah Mandzumatul ahsaaii 13
#petuah #ilmu #derajat
@KajianIslamTemanggung
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🔊 Utsman bin 'Affan radhiyallahu'anhu menyatakan,
"إنَّما أعْطَاكم اللهُ الدُّنْيَا لتطْلُبُوا بِها الآخِرَة
ولَمْ يُعْطِيْكمُوها لتَرْكنُوا إلَيْهَا".
"Allah menganugerahkan dunia kepada kalian hanyalah agar kalian bisa meraih akhirat dengannya. Sungguh, Dia memberi dunia kepada kalian bukan agar kalian bersandar penuh kepadanya."
📚 Al-Bidayah wa An-Nihayah 7/142
#dunia #sarana #meraih #akhirat
@KajianIslamTemanggung
≈≈≈
✅📚💯 ILMU SEBAB TERANGKATNYA DERAJAT HAMBA
💬 Asy-Syaikh al-Fauzan hafidzahullah menyatakan,
[العلم] سبب للرفعة في الدنيا والآخرة، سبب للصلاح والفلاح في الدنيا والآخرة، بخلاف الجهل، فإن الجهل ضلال وهلاك وتيه ".
"Ilmu agama adalah sebab terangkatnya derajat di dunia dan akhirat, sebab mendapatkan kebaikan serta keberuntungan di dunia dan akhirat.
Lain halnya dengan kebodohan, sungguh kebodohan adalah kesesatan dan kebinasaan."
✍️ Syarah Mandzumatul ahsaaii 13
#petuah #ilmu #derajat
@KajianIslamTemanggung
-----------------------------------
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
📲 Join t.me/salafypalembang
🌏 www.salafypalembang.com
✳️ Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✋🏼 ⛔️ 📚 TIDAK PUTUS ASA
Kondisi sulit yang berlarut-larut bisa menyeret kepada sikap pesimis atau berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Saat keadaan seorang sampai pada taraf ini, dia telah terhinggapi sifat kekufuran.
✅ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَا تَاْيَۡٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيَۡٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)
📝 Kekafiran yang ada pada mereka menyebabkan mereka menganggap jauh rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga rahmat-Nya pun menjauh. Oleh karena itu, kita dilarang meniru mereka.
📝 Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki sikap berharap sesuai dengan kadar keimanannya.
✅ Seorang yang mengetahui luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala tentu tak akan terhinggapi sikap pesimis. Dia justru yakin bahwa setiap ada kesulitan pasti akan datang kemudahan setelahnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُسۡرًا
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (ath-Thalaq: 7)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/kemudahan-setelah-kesulitan/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Kondisi sulit yang berlarut-larut bisa menyeret kepada sikap pesimis atau berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Saat keadaan seorang sampai pada taraf ini, dia telah terhinggapi sifat kekufuran.
✅ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَا تَاْيَۡٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيَۡٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)
📝 Kekafiran yang ada pada mereka menyebabkan mereka menganggap jauh rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga rahmat-Nya pun menjauh. Oleh karena itu, kita dilarang meniru mereka.
📝 Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki sikap berharap sesuai dengan kadar keimanannya.
✅ Seorang yang mengetahui luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala tentu tak akan terhinggapi sikap pesimis. Dia justru yakin bahwa setiap ada kesulitan pasti akan datang kemudahan setelahnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُسۡرًا
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (ath-Thalaq: 7)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/kemudahan-setelah-kesulitan/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
📌 💦 📚 RAHASIA DI BALIK DATANGNYA KEMUDAHAN SETELAH KESULITAN YANG DAHSYAT
1⃣ Kesulitan yang telah sampai puncaknya menjadikan seseorang tidak lagi bergantung kepada makhluk. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dia bergantung.
✅ Apabila seseorang hanya bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, permohonannya akan dikabulkan dan kesulitannya akan dihilangkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)
2⃣ Apabila dahsyatnya petaka telah meliputi seorang hamba, dia harus berupaya keras untuk memerangi godaan setan yang membisikkan sikap putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.
✅ Balasan atas upaya keras untuk menepis godaan setan ini adalah dirinya dilepaskan dari malapetaka. Bentuk godaan setan tersebut di antaranya adalah agar seseorang meninggalkan berdoa apabila tak kunjung dikabulkan.
💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Dikabulkan (doa) salah seorang kalian selagi tidak tergesa-gesa, (dengan) ia mengatakan, ‘Aku telah berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan’.” (HR. al-Bukhari dalam “Kitab ad-Da’awat”, dan Muslim dalam “adz-Dzikru wad Du’a”)
3⃣ Apabila seorang mukmin melihat kesulitannya tidak kunjung selesai dan hampir berputus asa—setelah sering memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala—hal ini akan membuahkan sikap introspeksi diri.
✅ Dia akan menyadari bahwa doanya belum dijawab karena hatinya masih kotor. Perasaan seperti ini mendorongnya untuk bersimpuh hati secara total di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala serta mengakui bahwa permohonannya belum pantas dikabulkan. Dengan demikian, dia akan cepat dilepaskan dari malapetaka. (lihat kitab Nurul Iqtibas karya Ibnu Rajab rahimahullah bersama al-Jami’ al-Muntakhab, hlm. 212—213)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/kemudahan-setelah-kesulitan/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
1⃣ Kesulitan yang telah sampai puncaknya menjadikan seseorang tidak lagi bergantung kepada makhluk. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dia bergantung.
✅ Apabila seseorang hanya bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, permohonannya akan dikabulkan dan kesulitannya akan dihilangkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)
2⃣ Apabila dahsyatnya petaka telah meliputi seorang hamba, dia harus berupaya keras untuk memerangi godaan setan yang membisikkan sikap putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.
✅ Balasan atas upaya keras untuk menepis godaan setan ini adalah dirinya dilepaskan dari malapetaka. Bentuk godaan setan tersebut di antaranya adalah agar seseorang meninggalkan berdoa apabila tak kunjung dikabulkan.
💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Dikabulkan (doa) salah seorang kalian selagi tidak tergesa-gesa, (dengan) ia mengatakan, ‘Aku telah berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan’.” (HR. al-Bukhari dalam “Kitab ad-Da’awat”, dan Muslim dalam “adz-Dzikru wad Du’a”)
3⃣ Apabila seorang mukmin melihat kesulitannya tidak kunjung selesai dan hampir berputus asa—setelah sering memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala—hal ini akan membuahkan sikap introspeksi diri.
✅ Dia akan menyadari bahwa doanya belum dijawab karena hatinya masih kotor. Perasaan seperti ini mendorongnya untuk bersimpuh hati secara total di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala serta mengakui bahwa permohonannya belum pantas dikabulkan. Dengan demikian, dia akan cepat dilepaskan dari malapetaka. (lihat kitab Nurul Iqtibas karya Ibnu Rajab rahimahullah bersama al-Jami’ al-Muntakhab, hlm. 212—213)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/kemudahan-setelah-kesulitan/
📲 Join t.me/salafypalembang
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
بسم الله الرحمن الرحيم
📣 ⬆️ 📡 SEKILAS INFO ..
📶 🏠 TA'LIM ONLINE HARI SABTU #diRumahAja KOTA PALEMBANG
1⃣ TA'LIM MUSLIMAH
🕙 Insyaallah akan dimulai Pukul 10.00 WIB
2⃣ TA'LIM HADITS HADITS FIKIH PILIHAN
🕡 Insyaallah akan dimulai Ba'da Maghrib Waktu Palembang WIB
⚠️ JANGAN TERLEWATKAN..!
📡 LIVE Streaming
📻 Hanya di Channel RADIO AL-IBANAH
💯 Radionyo Wong Kito
🏠 #diRumahAja
▫▫▫▫▫▫
📣 ⬆️ 📡 SEKILAS INFO ..
📶 🏠 TA'LIM ONLINE HARI SABTU #diRumahAja KOTA PALEMBANG
1⃣ TA'LIM MUSLIMAH
🕙 Insyaallah akan dimulai Pukul 10.00 WIB
2⃣ TA'LIM HADITS HADITS FIKIH PILIHAN
🕡 Insyaallah akan dimulai Ba'da Maghrib Waktu Palembang WIB
⚠️ JANGAN TERLEWATKAN..!
📡 LIVE Streaming
📻 Hanya di Channel RADIO AL-IBANAH
💯 Radionyo Wong Kito
🏠 #diRumahAja
▫▫▫▫▫▫