Salafy Palembang 🇮🇩
5.86K subscribers
5.45K photos
445 videos
309 files
14.5K links
Menebar Hikmah dengan bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Meniti Jalan Salaful Ummah.
Download Telegram
💎💊 FAEDAH MEDIS TERKAIT ORANG YANG TERKENA PENYAKIT

فـائـدة طـبـيـة لـمـن اصيـب بـالـمـرض

*قـال الشيـخ بن عثيمين رحمه الله*

ثم إنه إذا صبر (على المرض) وتناسىٰ الأمر حصل له برؤ منه لأن الوَهم النفسي له تأثير في بقاء المرض ، وزيادة المرض ،
فإذا رفض الإنسان هذا المرض وصار لا يفكِّر فيه ، فإنه - بإذن الله - سوف يُشفىٰ.

📚 اللقاءات الشهرية (٥٢٣/٢)

As Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :

💎 Sesungguhnya seorang yang sakit jika bersabar atas rasa sakit yang dia derita dan berusaha melupakannya, maka akan sembuh dari penyakit tersebut.

🍃 Karena sugesti jiwa memiliki pengaruh pada tetapnya penyakit dan bertambahnya.

🌹 Maka apabila seorang mengacuhkan penyakit ini dan tidak memikirkannya, maka dengan izin Allah akan sembuh".

📚 Al liqo' syahriyah (2/523)

Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Zuhair Syarif hafizhahullah

🌍 Sumber : WhatsApp Salafy Bengkulu

💽 http://t.me/SalafyPalembang
www.salafypalembang.com
Dipublikasikan || http://t.me/qowwamussunnah
💥🔥 KEDUNGUAN YANG PALING PARAH

✍🏻 Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimy rahimahullah berkata:

ومن شكّٙكٙتٔه الشُبهات فيما قد عٙلِمٙه يقينا يعد عند العقلاء أحمق!

"Siapa yang dibuat ragu oleh berbagai syubhat (kerancuan) pada perkara-perkara yang telah dia ketahui kebenarannya dengan yakin, maka orang seperti ini menurut orang-orang yang berakal adalah seorang yang dungu."

📚 Haqiqatut Ta'wil, hlm. 69

🌍 Sumber || https://twitter.com/fzmhm12121/status/824561828978102272

WhatsApp Salafy Indonesia
http://telegram.me/ForumSalafy
💽 http://t.me/SalafyPalembang
www.salafypalembang.com
🌻🌸 Mencintai Penasehat

"Dahulu, generasi Salaf mencintai orang yang mengingatkan mereka dari aib-aib mereka.

💦 Adapun mayoritas kita sekarang ini, orang yang paling dibenci adalah seseorang yang menunjukkan kita kepada aib-aib kita.

🥀 Sikap seperti ini bukti iman yang lemah karena sesungguhnya akhlak yang jelek itu seperti kalajengking.

👉🏻 Seandainya seseorang memperingatkan bahwa ada kalajengking di balik baju kita, tentu saja kita bersyukur kepadanya dan sibuk untuk membunuh kalajengking itu(bukan malah berkata dan bersikap jelek kepadanya).

☝🏻Dan perkara yang sudah jelas bahwa akhlak jelek lebih berbahaya daripada kalajengking.”

📖 Mukhtashar Minhaajil Qaasidin, Al-Maqdisiy, hal. 378.*

💽 http://t.me/SalafyPalembang
www.salafypalembang.com
✒️ https://t.me/joinchat/AAAAAETpggfZv9PbbPzFPA
🌪🔥 Takut Binasa?! Pelajari Ilmu Setiap Waktu!

🎙Asy-Syaikh Abdul ’Aziz As-Salman –rahimahullah- berkata:

“Kebutaan itu lebih baik daripada kebodohan.

Karena, yang dikhawatirkan dari kebutaan adalah jatuh ke dalam lubang.

Adapun yang ditakutkan dari kebodohan adalah terjerumus dalam kebinasaan.”

📖 Iyqaazhu Ulil Himamil ‘Aliyyah, As-Salman, hal. 18.

💽 http://t.me/SalafyPalembang
www.salafypalembang.com
✒️ https://t.me/joinchat/AAAAAETpggfZv9PbbPzFPA
🛣🛡 INILAH MANHAJ YANG DITAKUTI OLEH PENGEKOR HAWA NAFSU DAN YANG LEMAH ILMUNYA


💬 Al Allamah Ahmad An Najmi -rahimahullah- berkata :

✍🏻 "Manhaj rudud", (membantah penyimpangan dan kesalahan) adalah manhaj yang telah diakui di sisi para salaf, tidak ada yang merasa takut terhadap manhaj ini kecuali para pengekor hawa nafsu atau orang-orang yang lemah ilmunya."

📘📕 Roddul Jawab halaman 7
____

‏قال ‎#العلامة_أحمد_النجمي رحمه الله :
ٰ
« منهج الرُّدُودِ مَنهَجٌ مُعتبَرٌ عند السلف ،لا يخشَىٰ منه إلا صاحب هَوًىٰ ،أو ضَعيفٌ في العلم » .
ٰ
[رد الجواب صـ٧]

🌏 Sumber : https://twitter.com/alnajmi/status/959019282024845313?s=19



💽 http://t.me/SalafyPalembang
www.salafypalembang.com
🌎 WhatsApp Salafy Cirebon
https://t.me/salafy_cirebon
MEMBANTAH
KEBATILAN ADALAH
INTISARI ISLAM


#membantah
#intisari

Join Us
@salafypalembang
🌸INFO KHUSUS KAJIAN UMMAHAT & AKHWAT
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

بـــــسم اللّــــە الرّحمن الرّحيــــم

📚 H A D I R I L A H
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
kajian Rutin Islam Ilmiyah Ahlus Sunnah Salafiyyin kota palembang dan sekitarnya..

🕰 BESOK...!
SABTU PAGI

Mulai jam10.00-
11.00 WIB


Tema
pembahasan

~~~~~~~~~~~~~~~~~
"🌺 NASEHAT PENTING
UNTUK WANITA"

~~~~~~~~~~~~~~~~~

InsyaAllah, bersama:
🎙AL-USTADZ MUHAMMAD
DAWAM Hafizhahullah


🏠 Tempat :
RUMAH BELAJAR MUSLIMAH
Kenten City, Komp. Kenten indah blok F13,
https://goo.gl/maps/UAJsVPktvxJ2

📌 Peserta :
UMUM, KHUSUS UMMAHAT/AKHAWAT, GRATIS

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

لتعلم كل امرأة أنها لن تصل إلى الصلاح إﻻ بالعلم، وما أعنيه بالعلم هو العلم الشرعي.

"Hendaklah semua wanita mengetahui bahwa dia tidak akan bisa mencapai keshalihan (tidak mungkin menjadi wanita shalihah) kecuali dengan ilmu, dan yang saya maksud dengan ilmu adalah ilmu syar'i."
(Dauratul Mar'ah, hal. 7.)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

📜 Rasulullah ﷺ bersabda :

َمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju jannah.”
(HR.Muslim,2699)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🔇Himbauan untuk menyampaikan informasi ini kepada saudara saudara kita yang belum mengetahui

📜 Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه

"Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala semisal dengan orang yang melakukannya."
(Shahih, HR.Muslim dalam Shahihnya)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Info kajian :
081271627766
📮Telegram kita:
t.me/salafypalembang
🌏 Website kita :
www.salafypalembang.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

📂Penyelenggara :
Yayasan Mutiara Ilmu
Syar'i Palembang


Baarakallahu fiikum
🔥 MEMBUNGKAM ORANG YANG MENGINGKARI SIKAP KERAS DALAM MEMBANTAH KESALAHAN
(Bagian 1)


🎙Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah

🅾 Penanya: Fadhilatus Syaikh, ada pertanyaan berkaitan dengan medan dakwah. Kelembutan, kelapangan dada, dan keramahan termasuk Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, apakah menggunakan kelembutan dalam dakwah hukumnya wajib ataukah mustahab?

Asy-Syaikh al-Albany: Wajib.

🅾 Penanya:
Pertanyaan ini memiliki maksud dan tujuan.

Asy-Syaikh al-Albany: Tentu, di belakang bukit pasti ada sesuatunya.

🅾 Penanya:
Salafiyyun dengan berbagai latar belakangnya, yang terkenal dari mereka –dan bisa jadi hal ini benar– adalah sikap keras dalam menyebarkan dakwah dan sedikit kelembutannya. Maka apakah Anda menilai bahwa hal ini benar –dan ini adalah yang saya nilai– dan apa komentar Anda terhadapnya?

Asy-Syaikh al-Albany: Sebelumnya pada ucapanmu ada yang perlu dikoreksi, yaitu ucapanmu: “Dan bisa jadi hal ini benar.”

🅾 Penanya: Saya telah mengatakan: “Apakah Anda menilai bahwa hal ini benar?”

Asy-Syaikh al-Albany: Sebelumnya engkau mengatakan: “Dan bisa jadi hal ini benar.” Apakah maksudnya: sikap keras yang dituduhkan kepada mereka??

🅾 Penanya: Maaf.

Asy-Syaikh al-Albany: Engkau mengatakan demikian?

🅾 Penanya:
Ya, dan saya memohon maaf.

Asy-Syaikh al-Albany: Jadi di sini ada yang perlu dikoreksi, kita memalingkan pandangan saudara-saudara kita ketika mereka berbicara semacam ini. Kita katakan: ini adalah ucapan para politikus, walaupun mungkin saja mereka tidak memaksudkan demikian, hanya saja:

إِنَّ الْكَلاَمَ لَفِيْ الْفُؤَادِ وَإِنَّما … جُعِلَ اللَّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ دَلِيْلاَ

Sesungguhnya ucapan itu hakekatnya yang di dalam hati

Dan sesungguhnya lisan hanya sebagai pembuktiannya

(Maksud beliau ini hanyalah secara bahasa saja, bukan menurut istilah nahwu –pent)

Ketika seseorang mengatakan tentang sebuah perkara dengan ungkapan: “Bisa jadi demikian.” Maka bisa disanggah: “Bisa jadi tidak demikian.”

Jadi dalam pertanyaanmu ini ada dua hal, dan setelah itu kita akan menyusulkan jawabannya: Apakah engkau yakin tentang orang yang dikatakan bahwa Salafiyyun tidak memiliki kelembutan dan ciri mereka hanya sikap keras atau itu merupakan manhaj mereka?

Engkau membuka pintu pertanyaan ini kepadaku karena engkau mengatakan:
“Dan bisa jadi hal ini benar.”

🅾 Penanya:
Syaikh, saya katakan: saya minta maaf dari ucapan saya: “Dan bisa jadi hal ini benar.”

Asy-Syaikh al-Albany: Demikiankah?!

🅾 Penanya: Ya.

Asy-Syaikh al-Albany: Kalau begitu kita ingin mendengar ucapan yang benar, seperti apa?

🅾 Penanya:
Apakah saya perlu mengulanginya?

Asy-Syaikh Albany: Jangan engkau ulangi yang tadi karena salah, kalau tidak maka engkau meminta maaf dari apa? Ulangilah dengan pertanyaan yang benar tanpa ungkapan “bisa jadi”, apakah perkataanku jelas?

🅾 Penanya: Ya.

Asy-Syaikh al-Albany: Silahkan!

🅾 Penanya: Pertanyaannya dari awal.

Asy-Syaikh al-Albany: Tidak masalah, engkau bisa memilih.

🅾 Penanya:
Kami katakan –dan Anda telah menjawab dan ini telah terjadi– bahwa kelembutan, kelapangan dada dan keramahan dalam dakwah hukumnya wajib, dan pertanyaan saya adalah tentang dakwah, bukan tentang perkara-perkara pribadi atau kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang Anda katakan bahwa menggunakan kelembutan dalam dakwah dan terhadap manusia yang didakwahi adalah wajib, Salafiyyun yang terkenal dari mereka adalah sikap keras dalam menyebarkan dakwah dan sedikit kelembutannya –dan ini adalah yang saya nilai– ini pendapat saya, maka bagaimana pendapat Anda?

Asy-Syaikh al-Albany: Apakah engkau termasuk mereka?

🅾 Penanya:
Saya berharap demikian.

Asy-Syaikh al-Albany: Apakah engkau termasuk mereka, apakah engkau seorang salafy?

🅾 Penanya: Ya.

Asy-Syaikh al-Albany: __Ji
Jika demikian apakah engkau termasuk Salafiyyun yang keras itu?

🅾 Penanya:
Saya tidak mentazkiyah diri sendiri, yang saya maksudkan adalah ciri mereka yang menonjol.

Asy-Syaikh Al-Albany: Masalah sekarang bukan masalah tazkiyah, tetapi masalahnya adalah menjelaskan realita. Dan kita katakan: sekarang engkau mengajukan pertanyaan ini dalam rangka saling menasehati, maka ketika saya bertanya kepadamu: apakah engkau termasuk orang-orang yang keras tersebut? Maka di sini tidak boleh dijawab dengan “saya tidak mentazkiyah diri sendiri” karena engkau hanya sebatas ingin menjelaskan realita yang terjadi. Maksudnya jika engkau bertanya kepadaku dengan pertanyaan semacam ini, maka akan saya jawab: saya merasa tidak bersikap keras, dan bukan berarti saya mentazkiyah diri sendiri, tetapi saya hanya mengabarkan kenyataan yang ada pada diri saya. Jadi pikirkanlah pertanyaannya!

🅾 Penanya: Ya Syaikh, jawaban saya seperti jawaban Anda.

Asy-Syaikh al-Albany: Kalau demikian, maka kita tidak boleh memutlakkan bahwa Salafiyyun adalah orang-orang yang keras. Yang benar adalah dengan kita katakan: sebagian mereka bersikap keras. Jadi kita katakan bahwa sebagian Salafiyyun memiliki cara yang keras. Tetapi apakah menurutmu sifat ini hanya khusus ada pada Salafiyyun?__

🅾 Penanya: Tidak.

Asy-Syaikh al-Albany: Kalau begitu, apa faedah dan apa maksud dari pertanyaan semacam ini? Kemudian apakah kelembutan yang kita katakan bahwa hal itu wajib, apakah itu artinya wajib terus selamanya?

🅾 Penanya:
Tidak, ada beberapa bentuk sikap keras pada kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Asy-Syaikh al-Albany: Jika demikian maka:

1⃣ Tidak boleh bagimu dan bagi orang lain untuk mensifati sekelompok manusia dengan sifat yang engkau pukul ratakan kepada mereka semua.

2⃣ Tidak boleh bagimu untuk memutlakkan sifat ini terhadap salah seorang dari kaum Muslimin, sama saja apakah dia seorang Salafy atau seorang khalafy sesuai dengan istilah yang kita pahami, kecuali pada sebagian tertentu, selama kita sepakat bahwa kelembutan tidak disyariatkan selalu selamanya dalam setiap keadaan. JADI KITA MENJUMPAI RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam MENGGUNAKAN SIKAP KERAS YANG SEANDAINYA DILAKUKAN OLEH SEORANG SALAFY DI MASA INI MUNGKIN MANUSIA AKAN MENGINGKARINYA DENGAN KERAS. Sebagai contoh barangkali engkau tahu kisah Abus Sanabil bin Ba’kak?

🅾 Penanya: Tidak.

Asy-Syaikh al-Albany: Ada seorang wanita (Subai’ah bintu al-Harits al-Aslamiyah –pent) yang ditinggal mati oleh suaminya (Sa’ad bin Khaulah –pent) dalam keadaan hamil, lalu dia melahirkan. Yang dia ketahui dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa wanita hamil yang ditinggal mati oleh suaminya iddahnya akan berakhir dengan melahirkan. Diceritakan di dalam hadits yaitu di Shahih al-Bukhary (no. 3993, 4909 dan 5318, diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1484 –pent), bahwa setelah melahirkan dia berhias dan memakai celak karena mau dilamar. Maka Abus Sanabil mengetahui hal itu –dahulu dia pernah melamarnya namun ditolak– lalu dia berkata kepadanya: “Engkau tidak halal untuk menikah hingga habis iddah karena kematian, yaitu selama 4 bulan 10 hari.” Wanita tersebut dikenal perhatian terhadap agamanya, maka dia segera datang kepada Rasulullah lalu menceritakan apa yang dikatakan oleh Abus Sanabil kepadanya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَذَبَ أَبُوْ السَّنَابِلِ.

“Abus Sanabil telah berdusta.”

(Lafazh ini shahih, namun tidak ada dalam Shahih al-Bukhary dan Muslim, lihat takhrijnya dalam Silsilah ash-Shahihah no. 3274 –pent)

Seperti ini sikap yang keras atau lembut?

🅾 Penanya: Keras.

Asy-Syaikh al-Albany: Sikap keras dari siapa? Dari orang sangat lembut yang Allah sifati dengan firman-Nya:

وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ.

“Seandainya engkau kaku dan kasar hatimu, niscaya mereka akan menjauh darimu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

**Jadi prinsip lembut itu bukan kaedah yang berlaku pada sem
ua keadaan, sebagaimana yang baru saja kita sebutkan. Hanya saja yang sepantasnya bagi seorang muslim hendaknya dia menempatkan kelembutan pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya yang sesuai pula.**

INSYAALLAH BERSAMBUNG
🔥 MEMBUNGKAM ORANG YANG MENGINGKARI SIKAP KERAS DALAM MEMBANTAH KESALAHAN
(Bagian 2)

🎙Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah

Asy-Syaikh al-Albany: Contoh lain adalah yang terdapat di dalam Musnad Al-Imam Ahmad: ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah maka ada seorang shahabat yang berdiri dan berkata kepada beliau: “Sesuai kehendak Allah dan kehendak Anda wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda:

أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ.

“Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah??! Tapi (yang benar adalah) ‘terserah kehendak Allah saja.’ ”

(Silsilah Ash-Shahihah no. 139 –pent)

Seperti ini keras atau lembut?

🅾 Penanya: Itu adalah cara yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh al-Albany: Jawaban seperti ini saya namakan jawaban menghindar, karena engkau tidak menjawab pertanyaanku seperti sebelumnya ketika kukatakan kepadamu bahwa Abus Sanabil dikatakan telah berdusta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kutanya dirimu apakah ini sikap yang keras atau lembut?

🅾 Penanya: Ini sikap yang keras.

Asy-Syaikh al-Albany: Yang kedua ini?

🅾 Penanya: Beliau hanya menjelaskan kepadanya dan mengatakan: “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?!”

Asy-Syaikh al-Albany: Ini menghindar namanya –baarakallahu fiik– saya tidak bertanya padamu: “Beliau menjelaskan atau tidak menjelaskan?” Tetapi saya tanya dirimu: “Itu sikap keras atau lembut?” Kenapa sekarang caramu menjawab menjadi berbeda?! Sebelumnya engkau tidak mengatakan: “Beliau menjelaskan.” Padahal ketika beliau bersabda: “Abus Sanabil telah dusta.” Itu beliau menjelaskan, tetapi apakah penjelasan beliau tersebut dengan cara yang lembut dan halus –sebagaimana kita telah sepakat bahwa hal itu adalah prinsip– ataukah padanya terdapat sikap keras?! Engkau mengatakannya dengan tegas: “Padanya terdapat sikap keras.” Maka kenapa engkau tidak menjawab pertanyaan kedua dengan jawaban seperti ini?!

🅾 Penanya: Pada pertanyaan kedua beliau tidak mengatakan: “Dia telah dusta.” Tetapi hanya mengatakan: “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?!”

Asy-Syaikh al-Albany: Allahu Akbar, ini lebih keras di dalam menunjukkan pengingkaran –barakallahu fiik–

Ada hadits lain: Ada seseorang berkhutbah dengan mengatakan: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka dia telah menempuh jalan yang lurus, dan barangsiapa yang mendurhakai keduanya maka dia telah tersesat.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

بِئْسَ الْخَطِيْبُ أَنْتَ.

“Sejelek-jelek khatib adalah engkau.”

(HR. Muslim no. 870 –pent)

Semacam ini keras atau lembut?

🅾 Penanya: Keras.

Asy-Syaikh al-Albany: Intinya –baarakallahu fiik– di sana ada cara lembut ada cara keras. Maka sekarang setelah kita sepakat bahwa di sana tidak ada kaedah yang baku dan terus menerus, maksudnya lembut terus atau keras terus, maka terkadang dengan lembut dan terkadang dengan keras.

Sekarang ketika Salafiyun dituduh secara keseluruhan bahwa mereka adalah orang-orang yang keras, tidakkah engkau perhatikan bahwa Salafiyyun dibandingkan kelompok dan golongan lain mereka lebih banyak memiliki perhatian terhadap hukum-hukum syariat dan mendakwahkannya kepada manusia dibandingkan yang lainnya?!

🅾 Penanya:
Hal itu tidak diragukan lagi.

INSYAALLAH BERSAMBUNG
🔥 MEMBUNGKAM ORANG YANG MENGINGKARI SIKAP KERAS DALAM MEMBANTAH KESALAHAN
_(Bagian 3)_

🎙Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah

Asy-Syaikh al-Albany: Baarakallahu fiik, JIKA DEMIKIAN DISEBABKAN KARENA PERHATIAN INI YANG LEBIH BESAR DIBANDINGKAN PERHATIAN PIHAK LAIN DARI SISI INI, MAKA PIHAK LAIN MENGANGGAP AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR –WALAUPUN DISERTAI KELEMBUTAN– SEBAGAI SIKAP YANG KERAS, bahkan sebagian mereka ada yang mengatakan: “Ini bukan lagi zamannya.” Bahkan sebagian mereka ada yang melampaui batas dengan mengatakan: “Membahas tauhid di masa ini hanya akan memecah belah barisan umat Islam.”

Jika demikian –baarakallahu fiik– yang saya ingin sampai kepadanya bersamamu adalah: permasalahan ini sifatnya relatif. Ada orang yang tidak memiliki semangat berdakwah –apa lagi untuk masuk ke dalam masalah-masalah furu’ yang mereka namakan sebagai kulit atau perkara sekunder– menganggap membahasnya walaupun disertai cara yang baik, dia anggap sebagai sikap keras yang tidak pada tempatnya.

TIDAK SEPANTASNYA BAGIMU DALAM KEADAAN ENGKAU ADALAH SEORANG SALAFY –SEPERTI KAMI– UNTUK MENYEBARKAN ISU DI TENGAH-TENGAH MANUSIA –WALAUPUN DI ANTARA MANUSIA YANG HANYA SEGELINTIR INI SEKARANG– DENGAN MENGATAKAN BAHWA SALAFIYYUN ADALAH ORANG-ORANG YANG KERAS. KARENA KITA SEPAKAT BAHWA SEBAGIAN MEREKA MEMANG ADA YANG KERAS, DAN SIFAT INI TIDAK ADA YANG SELAMAT DARINYA WALAUPUN SEBAGIAN SHAHABAT. JADI PADA SEBAGIAN MEREKA PUN ADA YANG KERAS SIFATNYA. MUNGKIN ENGKAU TAHU KISAH BADUI YANG BUANG AIR KECIL DI MASJID SEHINGGA ADA SHAHABAT YANG INGIN MEMUKULNYA. SIKAP SEPERTI ITU LEMBUT ATAU KERAS?

🅾 Penanya: Keras.

Asy-Syaikh al-Albany: Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Biarkanlah dia!”

Jika demikian, mungkin tidak ada yang selamat dari sikap keras kecuali segelintir manusia. Hanya saja yang benar bahwa hukum asal dalam dakwah adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik.__ **Dan termasuk sikap hikmah adalah meletakkan sikap lembut pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya.**

Adapun dengan kita mensifati kelompok Islam yang terbaik (Salafiyyun) yang memiliki keutamaan atas semua kelompok berupa semangat mereka untuk mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah serta jalan yang ditempuh oleh Salafus Shalih dengan sifat keras secara mutlak seperti ini, maka saya menilainya ini bukan termasuk sikap yang adil sama sekali, BAHKAN INI TERMASUK SIKAP MELAMPAUI BATAS.

Adapun dengan mengatakan: “Di antara mereka ada yang keras.” Maka siapa yang bisa mengingkari?! Kalau sebagian shahabat saja ada yang bersikap keras bukan pada tempatnya, maka tentu lebih wajar pada orang-orang yang datang belakangan seperti diantara kita ada orang yang keras.

Kemudian sekarang kita berbicara tentang seseorang tertentu yang anggaplah dia ini sifatnya lembut dan halus, apakah dia bisa selamat dari menggunakan sikap keras yang tidak pada tempatnya?!

🅾 Penanya: Tidak bisa selamanya.

Asy-Syaikh al-Albany:
Kalau begitu –baarakallahu fiik– selesai sudah permasalahannya. Jika perkaranya demikian, tidak ada yang wajib kita lakukan selain kita saling menasehati. Jadi jika kita melihat seseorang menasehati dan mengingatkan orang lain dengan cara yang keras yang tidak pada tempatnya, kita ingatkan dia. Bisa jadi dia memiliki pandangan tersendiri. Kalau dia menerima nasehat maka semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Tetapi kalau dia memiliki alasan tersendiri maka kita dengar dan selesai perkaranya.

INSYAALLAH BERSAMBUNG
🔥 MEMBUNGKAM ORANG YANG MENGINGKARI SIKAP KERAS DALAM MEMBANTAH KESALAHAN
(Bagian 4)


🎙Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah

🅾 Penanya: Banyak dari Salafiyyun yang menggunakan cara yang keras dan tidak menggunakan kelembutan, jadi mereka menggunakan cara yang keras tidak pada tempatnya dan tidak menggunakan kelembutan pada tempatnya, dan mereka seperti ini tidak sedikit.

Saya katakan: Semua kelompok pun melakukan hal seperti ini, dan saya tidak membandingkan Salafiyyun dengan kelompok-kelompok yang lain selain mereka, karena saya tidak peduli dengan urusan kelompok-kelompok yang lain. Tetapi yang saya perhatikan adalah urusan Salafiyyun.

Banyak Salafiyyun yang menghalangi manusia dari manhaj salaf disebabkan cara mereka yang salah dalam mendakwahi manusia.

Yang saya inginkan dari pertanyaan ini adalah agar Anda memberi nasehat kepada orang-orang yang tertimpa sikap keras dan dada yang sempit.

Asy-Syaikh al-Albany: Baarakallahu fiik, apa dibutuhkan kepada orang seperti saya untuk menyampaikan nasehat? (ini menunjukkan tawadhu’ beliau rahimahullah –pent).

Salafiyyun dan selain Salafiyyun mengetahui ayat yang baru saja kita sebutkan yaitu:

ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ.

“Ajaklah manusia ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik pula.”
(QS. An-Nahl: 125)

Salafiyyun juga dibandingkan selain mereka membaca lebih banyak hadits Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan bahwa ketika ada orang Yahudi mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memelesetkannya dengan mengucapkan “assaamu ‘alaikum” (yang artinya semoga kematian menimpamu –pent)

Sayyidah Aisyah mendengar salam yang dipelesetkan ini dan bangkitlah kemarahannya di belakang hijab lalu menjawab: Semoga kematian, laknat dan kemurkaan Allah menimpamu wahai saudara kera dan babi.

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tidak lebih dengan: “Wa ‘alaika (atas kamu juga –pent).”

Ketika Yahudi tersebut telah keluar maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Aisyah dengan mengatakan:

يَا عَائِشَةُ! مَا كَانَ الرِّفْقُ فِيْ شِيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَمَا كَانَ الْعُنُفُ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.

“Wahai Aisyah, tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap kasar ada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek.”

Aisyah menjawab: “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mendengar apa yang dia katakan?”

Beliau menjawab: “Tidakkah engkau mendengar apa yang kukatakan?!”

(Lihat: Shahih al-Bukhary no. 6030 dan Shahih Muslim no. 2164 serta Musnad Ahmad no. 13531, lafazh “wahai saudara kera dan babi” ada pada Musnad Ibnu Rahuya no. 1685 –pent)

Jika Sayyidah Aisyah saja yang terdidik sejak kecil di baitun nubuwwah war risalah (dididik oleh seorang nabi dan rasul –pent) merasa tidak ada pilihan lain kecuali menggunakan cara yang keras pada tempat kelembutan, maka apa yang akan engkau katakan pada selainnya? Salafiyyun mereka tidak dididik di rumah Nabi.

Bahkan sekarang saya katakan sebuah kalimat yang mungkin pernah menyapa pendengaranmu di suatu hari di salah satu rekaman kaset yang saya sendiri yang mengatakannya: “Sesungguhnya masalah yang menimpa dunia Islam di masa ini adalah karena tidak seperti apa yang dikatakan sebagai kesadaran Islami, yaitu bahwasanya kesadaran ini tidak diiringi dengan pendidikan Islami, maksudnya sedikit sekali Islami yang sebenarnya di masa ini."

Oleh karena itulah saya yakin bahwa pengaruh kesadaran ilmiah ini membutuhkan waktu yang lama hingga nampak pengaruh-pengaruh pendidikannya di generasi yang tumbuh sesuai batas-batas kesadaran Islami.

Jadi padanya masih terdapat celah dan kekurangan, hanya saja mereka hidup di bawah naungan rahmat Allah Azza wa Jalla. Sebagian mereka ada yang dekat dan sebagian yang lainnya ada yang jauh (dari pendidikan Islam –pent).
Oleh karena itulah maka dari sisi pemikiran dan pengamalan engkau tidak akan menjumpai orang yang tidak sependapat dan menyelisihimu dalam hal bahwa cara asal dalam dakwah adalah dengan kelembutan dan nasehat yang baik. Tetapi yang penting adalah penerapannya.

Dan penerapan ini membutuhkan pembimbing dan pendidik yang mendidik puluhan para penuntut ilmu. Dan mereka inilah yang akan lulus dari bimbingan pendidiknya untuk menjadi para pendidik yang akan mendidik orang lain. Demikianlah cara tersebarnya pendidikan Islam yaitu sedikit demi sedikit melalui didikan para pembimbing yang membimbing murid-muridnya. Dan tentunya tidak diragukan lagi bahwa perkaranya adalah seperti yang Allah firmankan:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ.

“Dan sifat-sifat yang mulia itu tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mendapatkan karunia yang besar.”
(QS. Fushshilat: 35)

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk umat yang adil tanpa sikap berlebihan dan tanpa meremehkan.

INSYAALLAH BERSAMBUNG
WAHAI SAUDARIKU
BERHIJABLAH
KARENA ITU
PERINTAH RABB
KITA


#saudariku
#perintah
#rabb

Join Us
@salafypalembang
🔥 MEMBUNGKAM ORANG YANG MENGINGKARI SIKAP KERAS DALAM MEMBANTAH KESALAHAN
(Bagian 5)

🎙Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah


🅾Penanya: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai Syaikh. Terkadang seorang Sunni menjumpai ahli bid’ah yang memusuhinya bersikap sombong, dan perkaranya sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Musa agar bersikap lembut kepada Fir’aun. Namun akhirnya Musa berkata kepadanya:

وَإِنِّيْ لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُوْراً.

Dan sungguh saya menyangka engkau akan binasa wahai Fir’aun. (QS. Al-Isra’: 102)

Ada seorang doktor di kuliah mengejek kami ketika kami mengatakan kepada mereka: “Rasulullah bersabda…” Mereka mengejek dengan menyebutkan contoh shalat yang dilakukan oleh Salafiyyun dan beberapa hal yang lainnya. Maka ada seseorang yang langsung tidak bisa menahan emosi dan bersikap keras terhadap mereka. Dan saya kagum dengan permisalan yang pernah saya dengar dari Anda wahai Syaikh, yaitu:

قَالَ الْحَائِطُ لِلْوَتدِ: لِمَ تَشُقُّنِيْ؟! قَالَ: سَلْ مَنْ يَدُقُّنِيْ؟!

“Dinding berkata kepada pasak: “Kenapa engkau melobangi diriku?! Pasak menjawab: “Tanyalah siapa yang menancapkan diriku?!”

Demikian juga suatu kali kami pernah diskusi dengan salah seorang pengikut Hizbut Tahrir yang mana sebagaimana telah Anda ketahui bahwa tujuan mereka adalah meraih kekuasaan, adapun kita alhamdulillah tujuan utama kita adalah tauhid. Ketika kami memulai pembahasan ilmiah tentang masalah mendasar –sebagaimana yang kami pelajari dari Anda– lalu sampai ke masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah, salah seorang dari mereka yang merupakan tokoh mereka mengatakan: “Kami sepanjang malam menunggu jari dan kaki-Nya.” Maksudnya dia mengolok-olok sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Maka apa yang kami katakan kepadanya?

Asy-Syaikh al-Albany: Bagaimana pun keadaannya, kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan sikap hikmah kepada kita, yaitu dengan kita meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

🅾 Penanya: Umar ketika ada orang yang berkata kepada beliau: “Mintakanlah ampunan untuk saudara Anda.” Namun beliau justru menjawab: Semoga Allah tidak mengampuninya.

Asy-Syaikh al-Albany: Saya memiliki banyak sekali contoh, dan al-Akh Abu Abdillah mengingatkan kita dengan riwayat dari Umar yang menceritakan bahwa ada orang yang berkata kepada beliau: “Mintakanlah ampunan untuk saudara Anda.” Namun beliau justru menjawab: “Semoga Allah tidak mengampuninya.” Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Tidak diragukan lagi bahwa seandainya engkau melihatku mengatakan kalimat ini, pasti engkau akan mengatakan: “Asy-Syaikh adalah orang yang keras.”

TETAPI DI SINI DALAM HATI ORANG YANG MENGINGKARI KEMUNGKARAN TERDAPAT RASA MARAH KARENA ALLAH DI DALAM MEMBELA SYARIAT, SEHINGGA MENDORONGNYA UNTUK MENYATAKAN UNGKAPAN YANG KERAS, SEBALIKNYA ORANG YANG MENYAKSIKAN TERSEBUT PADA DIRINYA TIDAK ADA KEMARAHAN YANG BERKOBAR DI HATI ORANG INI, SEHINGGA MUNCUL PERKATAAN TERSEBUT.

Di Suriah ada orang-orang yang mengatakan: “Ini adalah sikap keras wahai Rasulullah.” Ini dialek Suriah yang salah, mereka mengajak bicara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seakan-akan ada sikap keras yang dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka memaksudkan orang tertentu.”

Subhanallah, masalah ini perlu diperhatikan dari semua sisinya agar seseorang adil dalam menghukumi.

Kemudian juga yang sekarang nampak bagi saya adalah bahwa termasuk sebab menyebarnya tuduhan ini –jika benar itu ada tuduhan– tentang Salafiyyun, engkau tahu bahwa siapa yang banyak bicara maka akan banyak salahnya.

Jadi orang-orang yang berbicara dalam masalah-masalah syariat adalah Salafiyyun. Oleh karena itulah mereka pasti terjatuh pada kesalahan karena banyaknya yang mereka bicarakan sehingga kesalahan mereka nampak jelas.

Dan termasuk kesalahan ini adalah sikap keras menurut penilaian pihak lain yang mereka tidak terlalu dalam membicarakan masalah ini.