✋🏻🌸🌷⚠ DUA HAL PENTING DALAM MENUNTUT ILMU
--✍🏻 Imam asy-Sya'bi rahimahullah mengatakan,**
إنما كان يطلب هذا العلم من اجتمعت فيه حصلتان: العقل، والنسك.
"Dahulu, orang yang menuntut ilmu (agama) adalah orang yang memiliki dua perangai: (senantiasa menggunakan) akal yang lurus dan semangat dalam beribadah.
فإن كان عاقلا ولم يك ناسكا، قال: هذا أمر لا يناله إلا النسك، فلم يطلبه، وإن كان ناسكا ولم يكن عاقلا، قال هذا أمر لا يناله إلا العقلاء، فلم يطلبه
Jika orang itu memiliki akal namun tidak semangat dalam beribadah, ia akan mengatakan, 'Urusan ini tidak akan diraih, kecuali oleh orang yang gemar beribadah' sehingga ia pun tidak mempelajarinya. Sebaliknya, apabila orang tersebut semangat beribadah namun kurang akalnya, ia akan mengatakan, 'Urusan ini tidak bisa diraih kecuali oleh orang yang memiliki akal' sehingga ia pun tidak menuntut ilmu."
✍🏻 Asy-Sya'bi juga mengatakan,
فلقد رهبت أن يكون يطلبه اليوم من ليس فيه واحدة منهما، لا عقل ولا نسك
"Sungguh aku mengkhawatirkan para penuntut ilmu di masa ini apabila ia tidak memiliki satu pun perangai di atas: tidak memiliki akal yang lurus, demikian pula tidak memiliki semangat ibadah."
📚 Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala hlm. 33
Sumber:
WhatsApp Salafy Indonesia
@forumsalafy
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
--✍🏻 Imam asy-Sya'bi rahimahullah mengatakan,**
إنما كان يطلب هذا العلم من اجتمعت فيه حصلتان: العقل، والنسك.
"Dahulu, orang yang menuntut ilmu (agama) adalah orang yang memiliki dua perangai: (senantiasa menggunakan) akal yang lurus dan semangat dalam beribadah.
فإن كان عاقلا ولم يك ناسكا، قال: هذا أمر لا يناله إلا النسك، فلم يطلبه، وإن كان ناسكا ولم يكن عاقلا، قال هذا أمر لا يناله إلا العقلاء، فلم يطلبه
Jika orang itu memiliki akal namun tidak semangat dalam beribadah, ia akan mengatakan, 'Urusan ini tidak akan diraih, kecuali oleh orang yang gemar beribadah' sehingga ia pun tidak mempelajarinya. Sebaliknya, apabila orang tersebut semangat beribadah namun kurang akalnya, ia akan mengatakan, 'Urusan ini tidak bisa diraih kecuali oleh orang yang memiliki akal' sehingga ia pun tidak menuntut ilmu."
✍🏻 Asy-Sya'bi juga mengatakan,
فلقد رهبت أن يكون يطلبه اليوم من ليس فيه واحدة منهما، لا عقل ولا نسك
"Sungguh aku mengkhawatirkan para penuntut ilmu di masa ini apabila ia tidak memiliki satu pun perangai di atas: tidak memiliki akal yang lurus, demikian pula tidak memiliki semangat ibadah."
📚 Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala hlm. 33
Sumber:
WhatsApp Salafy Indonesia
@forumsalafy
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️
🔥 TUJUAN DAKWAH SALAFY BUKAN UNTUK MENDIRIKAN KHILAFAH ATAU MERAIH KEKUASAAN
🎙Asy-Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah
🛑 Pertanyaan:
Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan bahwa tujuan dakwah adalah mendirikan khilafah dan meraih kekuasaan?
✅ Jawaban:
Tujuan dari dakwah adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan menetapkan tauhid. Semua rasul pertama kali yang didakwakan adalah dengan mengatakan kepada kaumnya:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ.
"Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya." (Al-A'raf: 59)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pertama kali yang beliau lakukan adalah mendakwahkan tauhid. Beliau tinggal di Mekkah selama 13 tahun mendakwahkan tauhid. Dan ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau mengatakan:
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْماً مِنْ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاّ اللهُ...
"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah perkara yang pertama kali engkau dakwahkan adalah syahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah..."
Seperti inilah metode dakwah yang digariskan oleh para nabi kepada kita, dan metode dakwah bukanlah dengan kita mengajak untuk meraih kekuasaan. Tetapi kita mengajak kepada agama dan tauhid. Inilah yang kita dakwahkan pertama kali. Dan kita juga mendakwahkan persatuan, mendengar dan mentaati pemerintah. Inilah dakwah kepada agama Allah yang benar dan inilah yang sesuai dengan hukum Islam.
Sumber:
@jujurlahselamanya/1659
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
🔥 TUJUAN DAKWAH SALAFY BUKAN UNTUK MENDIRIKAN KHILAFAH ATAU MERAIH KEKUASAAN
🎙Asy-Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah
🛑 Pertanyaan:
Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan bahwa tujuan dakwah adalah mendirikan khilafah dan meraih kekuasaan?
✅ Jawaban:
Tujuan dari dakwah adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan menetapkan tauhid. Semua rasul pertama kali yang didakwakan adalah dengan mengatakan kepada kaumnya:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ.
"Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya." (Al-A'raf: 59)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pertama kali yang beliau lakukan adalah mendakwahkan tauhid. Beliau tinggal di Mekkah selama 13 tahun mendakwahkan tauhid. Dan ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau mengatakan:
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْماً مِنْ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاّ اللهُ...
"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah perkara yang pertama kali engkau dakwahkan adalah syahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah..."
Seperti inilah metode dakwah yang digariskan oleh para nabi kepada kita, dan metode dakwah bukanlah dengan kita mengajak untuk meraih kekuasaan. Tetapi kita mengajak kepada agama dan tauhid. Inilah yang kita dakwahkan pertama kali. Dan kita juga mendakwahkan persatuan, mendengar dan mentaati pemerintah. Inilah dakwah kepada agama Allah yang benar dan inilah yang sesuai dengan hukum Islam.
Sumber:
@jujurlahselamanya/1659
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
بسم الله الرحمن الرحيم
🔊Rekaman Kajian Ilmiyah Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi Bogor
🎙Bersama:
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafizhahullah
Waktu:
Senin (Ba'da Shalat Shubuh) 12 Rabi'ul Akhir 1441H/09 Desember2019M
📕Materi:
Tanda Kebaikan Bagi
Seorang Hamba
Sumber:
@salafycileungsi
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️
🔊Rekaman Kajian Ilmiyah Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi Bogor
🎙Bersama:
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafizhahullah
Waktu:
Senin (Ba'da Shalat Shubuh) 12 Rabi'ul Akhir 1441H/09 Desember2019M
📕Materi:
Tanda Kebaikan Bagi
Seorang Hamba
Sumber:
@salafycileungsi
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️
🔥 ALLAH MEMERINTAHKAN AGAR KITA BERSIKAP ADIL
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ.
"Dan jika kalian berkata maka bersikaplah yang adil walaupun terhadap kerabat."
(Al-An'am: 152)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini:
"Hal ini seperti firman Allah Ta'ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ.
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang menegakkan keadilan dan menjadi saksi-saksi karena Allah walaupun merugikan diri kalian sendiri." (Al-Maidah: 8)
Demikian juga ayat yang serupa dalam surat an-Nisa' ayat ke-135.
Allah memerintahkan untuk bersikap adil dalam perbuatan dan ucapan, baik kepada orang dekat maupun orang jauh. Dan Allah memerintahkan untuk bersikap adil untuk siapapun, pada setiap waktu, dan pada semua keadaan."
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas:
"Jika kalian mengucapkan sebuah ucapan yang dengannya kalian mengadili manusia, memutuskan perkara diantara mereka, dan mengkritik ucapan-ucapan dan keadaan-keadaan, maka bersikaplah yang adil dalam ucapan kalian, yaitu dengan memperhatikan kejujuran, baik terhadap orang-orang yang kalian cintai mau terhadap orang-orang yang kalian benci, bersikap inshaf (tidak berat sebelah dan sportif), dan tidak menyembunyikan hal-hal yang harus dijelaskan, karena cenderung merugikan orang yang engkau benci dengan mencela dirinya atau ucapannya termasuk kezhaliman yang diharamkan. Bahkan jika seorang ulama membantah ucapan-ucapan ahli bid'ah, wajib atasnya untuk memberikan hak kepada setiap orang yang memiliki hak, menjelaskan yang benar dan yang batil dalam ucapan-ucapan tersebut, dan tidak mengabaikan jauh atau dekatnya ucapan-ucapan tersebut terhadap kebenaran. Dan para ulama ahli fikih menyebutkan bahwa seorang hakim wajib untuk bersikap adil diantara pihak-pihak yang bersengketa, baik dalam perhatiannya maupun dalam ucapannya."
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ.
"Dan jika kalian berkata maka bersikaplah yang adil walaupun terhadap kerabat."
(Al-An'am: 152)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini:
"Hal ini seperti firman Allah Ta'ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ.
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang menegakkan keadilan dan menjadi saksi-saksi karena Allah walaupun merugikan diri kalian sendiri." (Al-Maidah: 8)
Demikian juga ayat yang serupa dalam surat an-Nisa' ayat ke-135.
Allah memerintahkan untuk bersikap adil dalam perbuatan dan ucapan, baik kepada orang dekat maupun orang jauh. Dan Allah memerintahkan untuk bersikap adil untuk siapapun, pada setiap waktu, dan pada semua keadaan."
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas:
"Jika kalian mengucapkan sebuah ucapan yang dengannya kalian mengadili manusia, memutuskan perkara diantara mereka, dan mengkritik ucapan-ucapan dan keadaan-keadaan, maka bersikaplah yang adil dalam ucapan kalian, yaitu dengan memperhatikan kejujuran, baik terhadap orang-orang yang kalian cintai mau terhadap orang-orang yang kalian benci, bersikap inshaf (tidak berat sebelah dan sportif), dan tidak menyembunyikan hal-hal yang harus dijelaskan, karena cenderung merugikan orang yang engkau benci dengan mencela dirinya atau ucapannya termasuk kezhaliman yang diharamkan. Bahkan jika seorang ulama membantah ucapan-ucapan ahli bid'ah, wajib atasnya untuk memberikan hak kepada setiap orang yang memiliki hak, menjelaskan yang benar dan yang batil dalam ucapan-ucapan tersebut, dan tidak mengabaikan jauh atau dekatnya ucapan-ucapan tersebut terhadap kebenaran. Dan para ulama ahli fikih menyebutkan bahwa seorang hakim wajib untuk bersikap adil diantara pihak-pihak yang bersengketa, baik dalam perhatiannya maupun dalam ucapannya."
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan dan menjadi saksi-saksi karena Allah, dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menyeret kalian kepada sikap yang tidak adil. Bersikaplah yang adil karena hal itu lebih dekat kepada ketakwaan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa saja yang kalian perbuat." (Al-Maidah: 8)
Ketika menjelaskan ayat ini, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata:
"Maksudnya dengan semangatnya gerakan-gerakan kalian baik yang lahir maupun yang batin untuk menegakkan keadilan, dan yang mendorong upaya tersebut adalah semata-mata karena Allah, bukan karena salah satu dari kepentingan-kepentingan duniawi, dan kalian memang menginginkan keadilan, tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan dalam ucapan dan perbuatan kalian. Dan lakukanlah hal itu baik terhadap orang dekat maupun terhadap orang yang jauh, kepada kawan maupun kepada lawan."
Beliau rahimahullah juga berkata di tempat yang sama:
"Sebagaimana kalian bersaksi yang menguntungkan orang yang kalian cintai, bersaksilah walaupun merugikan dirinya. Dan sebagaimana kalian bersaksi yang menguntungkan musuh kalian, bersaksilah walaupun menguntungkan dirinya. Sekalipun dia orang kafir atau ahli bid'ah (apalagi seorang muslim, apalagi salafy –pent), wajib untuk bersikap adil terhadapnya, dan menerima kebenaran yang dia bawa karena itu merupakan kebenaran, bukan karena dia yang mengucapkannya, dan kebenaran tidak boleh ditolak semata-mata karena dia yang mengucapkannya, karena hal semacam ini termasuk kezhaliman terhadap kebenaran."
Dan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terdapat teladan terbaik dalam segala kebaikan, termasuk dalam bersikap adil kepada siapapun. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.
"Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah dahulu jika yang mencuri di kalangan mereka adalah seorang yang terpandang maka mereka tidak menghukumnya, namun jika yang mencuri di kalangan mereka adalah seorang yang lemah maka mereka menegakkan hukuman hadd terhadapnya. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya."
(Al-Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menegakkan keadilan karena Allah, walaupun merugikan diri kita sendiri, karena keridhaan Allah lebih baik dari dunia seisinya, bahkan lebih baik dari kenikmatan surga.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan dan menjadi saksi-saksi karena Allah, dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menyeret kalian kepada sikap yang tidak adil. Bersikaplah yang adil karena hal itu lebih dekat kepada ketakwaan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa saja yang kalian perbuat." (Al-Maidah: 8)
Ketika menjelaskan ayat ini, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata:
"Maksudnya dengan semangatnya gerakan-gerakan kalian baik yang lahir maupun yang batin untuk menegakkan keadilan, dan yang mendorong upaya tersebut adalah semata-mata karena Allah, bukan karena salah satu dari kepentingan-kepentingan duniawi, dan kalian memang menginginkan keadilan, tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan dalam ucapan dan perbuatan kalian. Dan lakukanlah hal itu baik terhadap orang dekat maupun terhadap orang yang jauh, kepada kawan maupun kepada lawan."
Beliau rahimahullah juga berkata di tempat yang sama:
"Sebagaimana kalian bersaksi yang menguntungkan orang yang kalian cintai, bersaksilah walaupun merugikan dirinya. Dan sebagaimana kalian bersaksi yang menguntungkan musuh kalian, bersaksilah walaupun menguntungkan dirinya. Sekalipun dia orang kafir atau ahli bid'ah (apalagi seorang muslim, apalagi salafy –pent), wajib untuk bersikap adil terhadapnya, dan menerima kebenaran yang dia bawa karena itu merupakan kebenaran, bukan karena dia yang mengucapkannya, dan kebenaran tidak boleh ditolak semata-mata karena dia yang mengucapkannya, karena hal semacam ini termasuk kezhaliman terhadap kebenaran."
Dan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terdapat teladan terbaik dalam segala kebaikan, termasuk dalam bersikap adil kepada siapapun. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.
"Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah dahulu jika yang mencuri di kalangan mereka adalah seorang yang terpandang maka mereka tidak menghukumnya, namun jika yang mencuri di kalangan mereka adalah seorang yang lemah maka mereka menegakkan hukuman hadd terhadapnya. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya."
(Al-Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menegakkan keadilan karena Allah, walaupun merugikan diri kita sendiri, karena keridhaan Allah lebih baik dari dunia seisinya, bahkan lebih baik dari kenikmatan surga.
قال تعالى:
(وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى) [المائدة: 8].
قال شيخ الإسلام ابن تيميّة رحمه الله:
"وهذه الآية نزلت بسبب بغضهم للكفار، وهو بغض مأمور به، فإذا كان البغض الذي أمر الله به قد نُهي صاحبه أن يظلم من أبغضه، فكيف في بغض مسلم بتأويل أو شبهة أو بهوى نفس؟! فهو أحق أن لا يُظلَمَ، بل يعدل عليه"
منهاج السنة (126/ 5)
نتعاون على السنة
السنة سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها هلك
https://t.me/Nataouan
(وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى) [المائدة: 8].
قال شيخ الإسلام ابن تيميّة رحمه الله:
"وهذه الآية نزلت بسبب بغضهم للكفار، وهو بغض مأمور به، فإذا كان البغض الذي أمر الله به قد نُهي صاحبه أن يظلم من أبغضه، فكيف في بغض مسلم بتأويل أو شبهة أو بهوى نفس؟! فهو أحق أن لا يُظلَمَ، بل يعدل عليه"
منهاج السنة (126/ 5)
نتعاون على السنة
السنة سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها هلك
https://t.me/Nataouan
🔥 WAJIB BERSIKAP ADIL TERHADAP SEORANG MUSLIM YANG TERJATUH PADA KESALAHAN
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ.
"Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menyeret kalian kepada sikap yang tidak adil. Bersikaplah yang adil karena hal itu lebih dekat kepada ketakwaan." (Al-Maidah: 8)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan ayat ini:
"Ayat ini turun disebabkan kebencian terhadap orang-orang kafir, dan ini memang kebencian yang diperintahkan. Jika kebencian yang diperintahkan oleh Allah orang yang melakukannya dilarang untuk menzhalimi orang yang dia benci, maka bagaimana dengan kebencian terhadap seorang muslim yang (terjatuh kepada kesalahan) disebabkan oleh ta'wil (penafsiran yang keliru), atau syubhat, atau hawa nafsu?! Tentu dia lebih berhak untuk tidak dizhalimi, bahkan harus bersikap adil terhadapnya."
📖 Minhajus Sunnah, 5/126
Sumber:
@jujurlahselamanya/1665
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ.
"Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menyeret kalian kepada sikap yang tidak adil. Bersikaplah yang adil karena hal itu lebih dekat kepada ketakwaan." (Al-Maidah: 8)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan ayat ini:
"Ayat ini turun disebabkan kebencian terhadap orang-orang kafir, dan ini memang kebencian yang diperintahkan. Jika kebencian yang diperintahkan oleh Allah orang yang melakukannya dilarang untuk menzhalimi orang yang dia benci, maka bagaimana dengan kebencian terhadap seorang muslim yang (terjatuh kepada kesalahan) disebabkan oleh ta'wil (penafsiran yang keliru), atau syubhat, atau hawa nafsu?! Tentu dia lebih berhak untuk tidak dizhalimi, bahkan harus bersikap adil terhadapnya."
📖 Minhajus Sunnah, 5/126
Sumber:
@jujurlahselamanya/1665
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
"CINTA KARENA
ALLAH"
Bersama:
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed Hafizhahullah
Sumber:
@salafiyyunid
t.me/salafypalembang
ALLAH"
Bersama:
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed Hafizhahullah
Sumber:
@salafiyyunid
t.me/salafypalembang
📢🖐🏻✅ JANGAN TINGGALKAN KEBENARAN MESKIPUN MENDAPATKAN GANGGUAN
🔊Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
"Sekian banyak manusia apabila disakiti karena mengikuti kebenaran, maka dia pun meninggalkan kebenaran tersebut."
📚 Jamiul Masaail jilid 8 halaman 232.
قال شیخ الإسلام ابن تیمیة رحمه الله:
کثیر من النّاس إذا أوذي علی الحقِّ ترکه٠
جامع المسائل ٢٣٢/٨
Sumber:
@KajianIslamTemanggung
📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ] Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
🔊Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
"Sekian banyak manusia apabila disakiti karena mengikuti kebenaran, maka dia pun meninggalkan kebenaran tersebut."
📚 Jamiul Masaail jilid 8 halaman 232.
قال شیخ الإسلام ابن تیمیة رحمه الله:
کثیر من النّاس إذا أوذي علی الحقِّ ترکه٠
جامع المسائل ٢٣٢/٨
Sumber:
@KajianIslamTemanggung
📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ] Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
✋🏻🌹💐🌷 KUNCI KESUKSESAN
✍🏻 Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,
ما أدرك عندنا من أدرك بكثرة الصلاة والصيام، وإنما أدرك عندنا بسخاء الأنفس، وسلامة الصدور، والنصح للأمة
"Kami menilai, belumlah dikatakan berhasil, orang yang banyak melakukan shalat dan puasa. Akan tetapi, menurut kami, kesuksesan hanyalah tercapai dengan jiwa yang dermawan, hati yang selamat, dan ketulusan terhadap umat."
📚 Jami'ul 'Ulum wal Hikam hlm. 152
Sumber:
WhatsApp Salafy Indonesia
@forumsalafy
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
✍🏻 Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,
ما أدرك عندنا من أدرك بكثرة الصلاة والصيام، وإنما أدرك عندنا بسخاء الأنفس، وسلامة الصدور، والنصح للأمة
"Kami menilai, belumlah dikatakan berhasil, orang yang banyak melakukan shalat dan puasa. Akan tetapi, menurut kami, kesuksesan hanyalah tercapai dengan jiwa yang dermawan, hati yang selamat, dan ketulusan terhadap umat."
📚 Jami'ul 'Ulum wal Hikam hlm. 152
Sumber:
WhatsApp Salafy Indonesia
@forumsalafy
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
✋🏻📢💐🌹 KEUTAMAAN SAHABAT YANG BAIK
✍🏻 Abu Darda` radhiallahu 'anhu berkata,
الصاحب الصالح خير من الوحدة، والوحدة خير من صاحب السوء، ومملى الخير خير من الساكت، والساكت خير من مملى الشر
Memiliki teman yang baik lebih baik daripada menyendiri. Sementara itu, menyendiri lebih baik daripada teman yang buruk.
Orang yang menyerukan kebaikan lebih baik daripada yang diam. Sementara itu, orang yang diam lebih baik daripada orang yang menyerukan kejelekan.
📚 Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala hlm. 111
Sumber:
WhatsApp Salafy Indonesia
@forumsalafy
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com
✍🏻 Abu Darda` radhiallahu 'anhu berkata,
الصاحب الصالح خير من الوحدة، والوحدة خير من صاحب السوء، ومملى الخير خير من الساكت، والساكت خير من مملى الشر
Memiliki teman yang baik lebih baik daripada menyendiri. Sementara itu, menyendiri lebih baik daripada teman yang buruk.
Orang yang menyerukan kebaikan lebih baik daripada yang diam. Sementara itu, orang yang diam lebih baik daripada orang yang menyerukan kejelekan.
📚 Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala hlm. 111
Sumber:
WhatsApp Salafy Indonesia
@forumsalafy
🔰 WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
📡 www.salafypalembang.com