Tahukah kamu?
Prasasti Kedukan Bukit merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang menggambarkan kemajuan pelayaran di Indonesia pada masa Hindu-Buddha. Prasasti ini mengisahkan tentang keberhasilan perjalanan para penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang.
Prasasti ini ditemukan oleh C.J. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi.
Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan menggunakam Bahasa Melayu Kuno serta Bahasa Tamil, yang dibuat pada 1 Mei 683 (1340 tahun lalu).
FYI: Prasasti ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu sudah ada di Nusantara (Indonesia) sejak tahun 683. Dan merupakan prasasti tertua yang menggunakan bahasa Melayu. (#CMIIW)
Prasasti Kedukan Bukit merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang menggambarkan kemajuan pelayaran di Indonesia pada masa Hindu-Buddha. Prasasti ini mengisahkan tentang keberhasilan perjalanan para penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang.
Prasasti ini ditemukan oleh C.J. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi.
Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan menggunakam Bahasa Melayu Kuno serta Bahasa Tamil, yang dibuat pada 1 Mei 683 (1340 tahun lalu).
FYI: Prasasti ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu sudah ada di Nusantara (Indonesia) sejak tahun 683. Dan merupakan prasasti tertua yang menggunakan bahasa Melayu. (#CMIIW)