Kenapa saya baru bikin channel Telegram sekarang? Simple, karena udah bisa di otomasi dengan Bot :))
saya suka otomatisasi segala sesuatu, selain meringankan pekerjaan, saya suka melihat bagaimana sesuatu bekerja dan berinteraksi satu sama lain
Mungkin nanti teknik2 otomatisasi bisnis yang saya lakukan juga akan saya share disini.
Dengan otomatisasi, kita bisa menghasilkan pekerjaan yang presisi, sekaligus menghemat biaya. Jadi cocok untuk Anda yang baru mulai
materi ini ga saya prioritaskan, karena tujuan group ini akan banyakan bahas bisnis dan produktivitas secara fundamental, tapi kalau banyak yang mau, akan saya share besok.
kalau mau boleh di share donk kaka Channel ini » https://telegram.me/kajianbisnisonline
Telegram
Kajian Bisnis Online
KIRIM.EMAIL
kalau banyak yang share, besok akan saya bikin beberapa strategi otomatisasi bisnis, minim biaya
Goal VS System
Bismillah...
Saat akhir tahun begini, Anda akan sering sekali melihat bisnis-bisnis membuat goal bisnis mereka masing-masing di tahun depan.
Mungkin Anda juga salah satunya yang saat ini sedang membuat goal.
Bisa jadi itu meningkatkan penjualan.
Atau mungkin melebarkan sayap bisnis Anda dengan membuka cabang.
Atau mungkin Anda baru mau memulai?
Apapun goal Anda, selama itu halal, saya doakan tercapai, aamiin...
Saya juga punya goal, yang mungkin tidak akan pernah saya katakan ke Anda, dan saran saya, Anda juga jangan mengatakan goal Anda kepada siapa-siapa.
Kenapa?
Ini bahasan lain waktu.
Namun kali ini saya ingin membahas bahwa, sebenarnya: **tidak apa-apa tidak punya goal**.
Ya, saya ulangi lagi, tidak apa-apa tidak punya goal.
Beberapa orang paling sukses dalam bisnis dan karirnya yang saya kenal, tidak punya goal sama sekali.
>"Ya ngalir aja mas..."
Kata mereka.
Awalnya saya shock mendengarnya.
Tidak punya goal tapi bisnisnya kok bisa sebesar ini?
Alm. Bob Sadino adalah salah satu tipe pengusaha yang "mengalir" tanpa goal seperti ini.
Namun, dari yang saya pelajari, tidak punya goal juga bukan berarti berjalan tanpa arah.
Jadi jika Anda juga masih belum memiliki goal yang jelas? Mungkin Anda bisa belajar dari pengusaha-pengusaha ini.
Apa yang mereka lakukan?
Bagaimana tanpa goal yang jelas pengusaha-pengusaha besar ini bisa memimpin timnya dan menghasilkan karya yang besar?
Memperkenalkan: system
Dalam sebuah wawancara, Scott Adams, salah seorang komikus paling laris di Amerika pernah berkata seperti ini:
>"Losers have goals. Winners have systems."
Scott menyarankan kita untuk memilih projek, atau kebiasaan, yang walaupum hasilnya dianggap "Gagal" oleh mata orang lain di dunia luar, tetap memberikan kita skill atau hubungan yang akan membuat kita menjadi lebih baik.
Hubungan disini maksudnya hubungan dengan orang lain, atau hubungan spiritual.
Jadi, bukannya menanyakan:
"Apa goal yang ingin Anda capai di 2017?"
Scott malah menanyakan:
"Apa skill atau hubungan yang ingin Anda miliki dan bisa ingin Anda latih secara rutin?"
Bismillah...
Saat akhir tahun begini, Anda akan sering sekali melihat bisnis-bisnis membuat goal bisnis mereka masing-masing di tahun depan.
Mungkin Anda juga salah satunya yang saat ini sedang membuat goal.
Bisa jadi itu meningkatkan penjualan.
Atau mungkin melebarkan sayap bisnis Anda dengan membuka cabang.
Atau mungkin Anda baru mau memulai?
Apapun goal Anda, selama itu halal, saya doakan tercapai, aamiin...
Saya juga punya goal, yang mungkin tidak akan pernah saya katakan ke Anda, dan saran saya, Anda juga jangan mengatakan goal Anda kepada siapa-siapa.
Kenapa?
Ini bahasan lain waktu.
Namun kali ini saya ingin membahas bahwa, sebenarnya: **tidak apa-apa tidak punya goal**.
Ya, saya ulangi lagi, tidak apa-apa tidak punya goal.
Beberapa orang paling sukses dalam bisnis dan karirnya yang saya kenal, tidak punya goal sama sekali.
>"Ya ngalir aja mas..."
Kata mereka.
Awalnya saya shock mendengarnya.
Tidak punya goal tapi bisnisnya kok bisa sebesar ini?
Alm. Bob Sadino adalah salah satu tipe pengusaha yang "mengalir" tanpa goal seperti ini.
Namun, dari yang saya pelajari, tidak punya goal juga bukan berarti berjalan tanpa arah.
Jadi jika Anda juga masih belum memiliki goal yang jelas? Mungkin Anda bisa belajar dari pengusaha-pengusaha ini.
Apa yang mereka lakukan?
Bagaimana tanpa goal yang jelas pengusaha-pengusaha besar ini bisa memimpin timnya dan menghasilkan karya yang besar?
Memperkenalkan: system
Dalam sebuah wawancara, Scott Adams, salah seorang komikus paling laris di Amerika pernah berkata seperti ini:
>"Losers have goals. Winners have systems."
Scott menyarankan kita untuk memilih projek, atau kebiasaan, yang walaupum hasilnya dianggap "Gagal" oleh mata orang lain di dunia luar, tetap memberikan kita skill atau hubungan yang akan membuat kita menjadi lebih baik.
Hubungan disini maksudnya hubungan dengan orang lain, atau hubungan spiritual.
Jadi, bukannya menanyakan:
"Apa goal yang ingin Anda capai di 2017?"
Scott malah menanyakan:
"Apa skill atau hubungan yang ingin Anda miliki dan bisa ingin Anda latih secara rutin?"
Walaupun opini Scott sedikit ekstrim, tapi saat ini, tidak bisa dipungkiri, kita melihat bukti nyata di lapangan, orang-orang yang sukses tanpa Goal yang jelas-jelas amat.
Contohnya: Raditya Dika.
Saat menulis di blog Kambingjantan(dot)com (link sudah mati), Ia tidak ada sama sekalli rencana untuk menjadikan bisnis atau menghasilkan uang dari blog nya.
Hal ini terlihat dari desain blog nya yang saat itu tidak ada iklan atau monetasi apapun.
Ia hanya ingin mendokumentasikan kehidupan konyolnya selama menjadi mahasiswa di suatu kampus di Australia sambil latihan menulis.
Saya dulu adalah penggemar berat blog KambingJantan karena menurut saya saat itu beneran lucu, dan transparan.
Dan lagi, saat itu, tidak ada blog seperti itu.
Saat blog itu dibukukan dan terbit di Gramedia, Kambing Jantan langsung jadi buku best seller dan memulai trend buku cerita komedi remaja berlatar belakang kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, Kambing Jantan juga menjadi pintu untuk Raditya Dika untuk berkarir di dunia hiburan seperti sekarang, merilis beberapa buku best seller lain, menjadi pembicara di banyak event, bintang iklan, menghidupkan standup comedy di Indonesia, dan akhirnya sekarang menjadi sutradara.
Apakah saat menulis blog goalnya Radit saat itu ingin masuk ke industri hiburan seperti saat ini?
Mungkin tidak.
Radit ingin melatih SKILL menulisnya dengan ngeblog setiap hari.
Dan saya melihat pola yang sama berulang.
Saat menghidupkan standup comedy, ia tidak ada goal untuk membuat standup comedy meledak.
Ia hanya ingin LATIHAN menjadi komik (sebutan untuk standup comedian) dan mencari cara untuk tampil secara rutin, untuk latihan.
Begitu juga saat jadi sutradara, Radit memulainya dengan vlogging atau video blogging melalui channel YouTube nya.
Apakah ada niat jadi sutradara? Kali ini mungkin. Tapi lagi, Radit mengasah skill nya dengan vlogging, SAMBIL, menghasilkan uang dari sana.
Inilah yang dimaksud Scott Adams dengan system, bukan goal.
Jadi bukannya fokus ke apa yang ingin kita capai, kita fokus ke skill atau kebiasaan apa yang ingin kita tumbuhkan.
Nantinya skill dan kebiasaan ini akan membawa kita mendapatkan apa yang belum kita miliki, membuka peluang-peluang baru, membuat kita lebih peka melihat kesempatan, dan membuat kita lebih siap saat kesempatan itu datang.
Ingat, keberuntungan = kesempatan bertemu kesiapan.
Contoh lain:
Dedy Corbuzier dengan teknik OCD-nya (Obsessive Corbuzier Diet)
Goalnya bukan ingin menulis buku diet paling kontroversial di Indonesia dan menjadi best seller, tapi goalnya adalah bagaimana caranya agar Ia mendapatkan berat badan ideal, secara rutin, lalu mendokumentasikan semuanya.
Polanya sama:
Skill atau hubungan apa yang mau didapat? Dan projek atau kebiasaan apa yang mau kita jalankan secara RUTIN setiap hari untuk mendapatkannya.
Dengan begini, walaupun hasil akhirnya tidak jelas, walaupun kita 'GAGAL', kita tetap mendapatkan skill itu, jadi tidak ada ruginya.
Raditya Dika akan menjadi penulis dan pencerita yang jago, walaupun buku dan film nya gagal (ternyata berhasil.)
Dedy Corbuzier akan tetap menguasai skill puasa dan olah raga ala OCD nya walaupun bukunya ga ada yang baca.
Nothing to loose, alias, ga ada ruginya...
Contohnya: Raditya Dika.
Saat menulis di blog Kambingjantan(dot)com (link sudah mati), Ia tidak ada sama sekalli rencana untuk menjadikan bisnis atau menghasilkan uang dari blog nya.
Hal ini terlihat dari desain blog nya yang saat itu tidak ada iklan atau monetasi apapun.
Ia hanya ingin mendokumentasikan kehidupan konyolnya selama menjadi mahasiswa di suatu kampus di Australia sambil latihan menulis.
Saya dulu adalah penggemar berat blog KambingJantan karena menurut saya saat itu beneran lucu, dan transparan.
Dan lagi, saat itu, tidak ada blog seperti itu.
Saat blog itu dibukukan dan terbit di Gramedia, Kambing Jantan langsung jadi buku best seller dan memulai trend buku cerita komedi remaja berlatar belakang kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, Kambing Jantan juga menjadi pintu untuk Raditya Dika untuk berkarir di dunia hiburan seperti sekarang, merilis beberapa buku best seller lain, menjadi pembicara di banyak event, bintang iklan, menghidupkan standup comedy di Indonesia, dan akhirnya sekarang menjadi sutradara.
Apakah saat menulis blog goalnya Radit saat itu ingin masuk ke industri hiburan seperti saat ini?
Mungkin tidak.
Radit ingin melatih SKILL menulisnya dengan ngeblog setiap hari.
Dan saya melihat pola yang sama berulang.
Saat menghidupkan standup comedy, ia tidak ada goal untuk membuat standup comedy meledak.
Ia hanya ingin LATIHAN menjadi komik (sebutan untuk standup comedian) dan mencari cara untuk tampil secara rutin, untuk latihan.
Begitu juga saat jadi sutradara, Radit memulainya dengan vlogging atau video blogging melalui channel YouTube nya.
Apakah ada niat jadi sutradara? Kali ini mungkin. Tapi lagi, Radit mengasah skill nya dengan vlogging, SAMBIL, menghasilkan uang dari sana.
Inilah yang dimaksud Scott Adams dengan system, bukan goal.
Jadi bukannya fokus ke apa yang ingin kita capai, kita fokus ke skill atau kebiasaan apa yang ingin kita tumbuhkan.
Nantinya skill dan kebiasaan ini akan membawa kita mendapatkan apa yang belum kita miliki, membuka peluang-peluang baru, membuat kita lebih peka melihat kesempatan, dan membuat kita lebih siap saat kesempatan itu datang.
Ingat, keberuntungan = kesempatan bertemu kesiapan.
Contoh lain:
Dedy Corbuzier dengan teknik OCD-nya (Obsessive Corbuzier Diet)
Goalnya bukan ingin menulis buku diet paling kontroversial di Indonesia dan menjadi best seller, tapi goalnya adalah bagaimana caranya agar Ia mendapatkan berat badan ideal, secara rutin, lalu mendokumentasikan semuanya.
Polanya sama:
Skill atau hubungan apa yang mau didapat? Dan projek atau kebiasaan apa yang mau kita jalankan secara RUTIN setiap hari untuk mendapatkannya.
Dengan begini, walaupun hasil akhirnya tidak jelas, walaupun kita 'GAGAL', kita tetap mendapatkan skill itu, jadi tidak ada ruginya.
Raditya Dika akan menjadi penulis dan pencerita yang jago, walaupun buku dan film nya gagal (ternyata berhasil.)
Dedy Corbuzier akan tetap menguasai skill puasa dan olah raga ala OCD nya walaupun bukunya ga ada yang baca.
Nothing to loose, alias, ga ada ruginya...
Hal yang sama terjadi ke saya.
Saat membuat Radio Kajian Bisnis Online (http://radiokbo.com) saya tidak memiliki goal apapun.
Podcast tidak populer di Indonesia, siapa sih yang akan mendengarkan Radio KBO? Tidak ada. Itu pikiran saya saat memulai.
Tidak ada goal, tidak ada rencana.
Saya hanya ingin melatih skill berbicara dan berkomunikasi saya saat itu.
Saya sadar, saya bicaranya terlalu cepat, dan penjelasan saya kadang menggunakan kata-kata yang orang lain susah mengerti.
Untuk mengubah kebiasaan ini, saya merekam saya sendiri berbicara, dan kemudian menguploadnya menjadi podcast.
Saya pikir saat itu, saya sambil mau mempelajari algoritma itunes dan Google terhadap audio.
Dan juga saya punya sedikit skill merekam dan mengedit audio.
Mantan anak band :p
Semua untuk saya sendiri, pribadi, untuk latihan, tidak ada goal untuk jualan, dll.
Saya hanya ingin merekam 10 episode saja, alias 10 hari, habis itu ya sudah, kita lihat bagaimana.
Hasilnya?
Saat ini Radio KBO sudah mencapai 138 episode.
Sudah di download lebih dari 160ribu kali (sedikit terlalu banyak untuk orang Indonesia yang katanya tidak mendengarkan Podcast.)
Sudah beberapa kali nongol di Top 10 Apple iTunes, bersaing dengan media luar seperti BBC dan Jack Welch.
Sudah menghasilkan lebih dari 10ribu alamat email subscribers.
Sudah membuka jalur saya belajar langsung ke guru-guru IM dan malah sampai diundang ke media mainstream yaitu Merrry Riana Show di Sonora FM.
Dan tentu saja, yang paling berharga untuk saya: sudah melahirkan KIRIM.EMAIL, bisnis utama saya saat ini.
"Efek samping" nya adalah, saya merasa skill saya bertambah, antara lain:
- Menurut saya, sekarang saat berbicara saya semakin pede.
- Saya tau mengontrol cara saya berbicara.
- Saya lebih tau memilih kata-kata.
- Saya mengetahui algoritma iTunes.
- Saya tau aplikasi audio editor terbaik, dan bagaimana mengoperasikannya dengan cepat dan efektif.
- Dan saat ini saya sudah memiliki jalur distribusi mobile melalui apps.
Dan banyak lagi.
Kelebihan lainnya adalah: hampir semua skill diatas itu "transferable" alias bisa saya transfer ke orang lain.
Karenanya saat ini, untuk podcast sudah bukan saya lagi yang pegang. Saya hanya rekaman saja.
Skill lain-lainnya sudah saya transfer ke tim.
Semua dimulai tanpa goal yang jelas. Tapi akhirnya cukup bikin puas dan lemas :))
Mau goal apa? Wong podcast aja saya saat itu ga tau apakah ada yang mau dengerin atau engga :))
Hanya sesuatu yang ingin saya bangun untuk diri saya sendiri dan komitmen dalam menjalankannya, itu saja.
Jadi, 2017 pun sama, walaupun kali ini saya punya goal yang besar (untuk KIRIM.EMAIL), saya punya system yang lebih besar untuk skill dan habit yang ingin saya bangun dalam setahun kedepan.
Jadi, tidak apa-apa "mengalir" saja, selama Anda tau, sepanjang aliran itu Anda bisa membawa pulang skill apa untuk diri Anda sendiri kedepan.
Sama seperti channel Telegram ini, saya tidak tahu ini nanti akan seperti apa, yang jelas saya sudah tau system apa yang mau saya jalankan secara rutin disini.
Namun, beda dengan podcast dan lain-lain, di Telegram ini kita jalanin systemnya bareng :D
Saat membuat Radio Kajian Bisnis Online (http://radiokbo.com) saya tidak memiliki goal apapun.
Podcast tidak populer di Indonesia, siapa sih yang akan mendengarkan Radio KBO? Tidak ada. Itu pikiran saya saat memulai.
Tidak ada goal, tidak ada rencana.
Saya hanya ingin melatih skill berbicara dan berkomunikasi saya saat itu.
Saya sadar, saya bicaranya terlalu cepat, dan penjelasan saya kadang menggunakan kata-kata yang orang lain susah mengerti.
Untuk mengubah kebiasaan ini, saya merekam saya sendiri berbicara, dan kemudian menguploadnya menjadi podcast.
Saya pikir saat itu, saya sambil mau mempelajari algoritma itunes dan Google terhadap audio.
Dan juga saya punya sedikit skill merekam dan mengedit audio.
Mantan anak band :p
Semua untuk saya sendiri, pribadi, untuk latihan, tidak ada goal untuk jualan, dll.
Saya hanya ingin merekam 10 episode saja, alias 10 hari, habis itu ya sudah, kita lihat bagaimana.
Hasilnya?
Saat ini Radio KBO sudah mencapai 138 episode.
Sudah di download lebih dari 160ribu kali (sedikit terlalu banyak untuk orang Indonesia yang katanya tidak mendengarkan Podcast.)
Sudah beberapa kali nongol di Top 10 Apple iTunes, bersaing dengan media luar seperti BBC dan Jack Welch.
Sudah menghasilkan lebih dari 10ribu alamat email subscribers.
Sudah membuka jalur saya belajar langsung ke guru-guru IM dan malah sampai diundang ke media mainstream yaitu Merrry Riana Show di Sonora FM.
Dan tentu saja, yang paling berharga untuk saya: sudah melahirkan KIRIM.EMAIL, bisnis utama saya saat ini.
"Efek samping" nya adalah, saya merasa skill saya bertambah, antara lain:
- Menurut saya, sekarang saat berbicara saya semakin pede.
- Saya tau mengontrol cara saya berbicara.
- Saya lebih tau memilih kata-kata.
- Saya mengetahui algoritma iTunes.
- Saya tau aplikasi audio editor terbaik, dan bagaimana mengoperasikannya dengan cepat dan efektif.
- Dan saat ini saya sudah memiliki jalur distribusi mobile melalui apps.
Dan banyak lagi.
Kelebihan lainnya adalah: hampir semua skill diatas itu "transferable" alias bisa saya transfer ke orang lain.
Karenanya saat ini, untuk podcast sudah bukan saya lagi yang pegang. Saya hanya rekaman saja.
Skill lain-lainnya sudah saya transfer ke tim.
Semua dimulai tanpa goal yang jelas. Tapi akhirnya cukup bikin puas dan lemas :))
Mau goal apa? Wong podcast aja saya saat itu ga tau apakah ada yang mau dengerin atau engga :))
Hanya sesuatu yang ingin saya bangun untuk diri saya sendiri dan komitmen dalam menjalankannya, itu saja.
Jadi, 2017 pun sama, walaupun kali ini saya punya goal yang besar (untuk KIRIM.EMAIL), saya punya system yang lebih besar untuk skill dan habit yang ingin saya bangun dalam setahun kedepan.
Jadi, tidak apa-apa "mengalir" saja, selama Anda tau, sepanjang aliran itu Anda bisa membawa pulang skill apa untuk diri Anda sendiri kedepan.
Sama seperti channel Telegram ini, saya tidak tahu ini nanti akan seperti apa, yang jelas saya sudah tau system apa yang mau saya jalankan secara rutin disini.
Namun, beda dengan podcast dan lain-lain, di Telegram ini kita jalanin systemnya bareng :D
Jadi, bagiamana membuat system Anda sendiri? Ikuti langkah-langkah ini:
1. Apa skill yang ingin Anda kuasai?
2. Apa projek yang bisa Anda kerjakan setiap hari secara rutin?
3. Alternatif no. 2 > apa kebiasaan yang bisa Anda jalankan setiap hari untuk menguasai skill di point 1?
4. Apa medianya? Tulisan (blog)? Video, audio, atau yang lain?
5. Dimana Anda akan melakukannya? Facebook? YouTube? Atau yang lain? Buku mungkin?
6. Mulai saja. Sesuaikan sambil jalan.
Selamat latihan.
1. Apa skill yang ingin Anda kuasai?
2. Apa projek yang bisa Anda kerjakan setiap hari secara rutin?
3. Alternatif no. 2 > apa kebiasaan yang bisa Anda jalankan setiap hari untuk menguasai skill di point 1?
4. Apa medianya? Tulisan (blog)? Video, audio, atau yang lain?
5. Dimana Anda akan melakukannya? Facebook? YouTube? Atau yang lain? Buku mungkin?
6. Mulai saja. Sesuaikan sambil jalan.
Selamat latihan.