JUJUTSUKAI—RENT ; OPEN!!!
1.59K subscribers
841 photos
58 videos
6 files
1.88K links
Status: OPEN
Working Hours: 09.00 – 22.00 WIB (02.00 max, genkai jikan 限界時間)
★ Order Desk: @JujutsuRentBot
★ Mutual Agency: @JujutsuKaiBot
★ Talent Profile: @TheJujutsu
★ Complaints : @Babukatsubot
★ Blacklist: @BLKatsu
Download Telegram
📝 Your username (t.me) + Name Talent
I will enchant it into a romantic story


👤 t.me/eupshoric + mosé

👤 T.ME/DOMINANTCE Jorrico..

👤 @Phauinon dan nox

👤 t.me/vnimas + jax ryder

👥 4 people have voted so far.
📖 Anonymous Board

🚫 This poll is closed...
Cie cie ketauan naksir🤭
JUJUTSUKAI—RENT ; OPEN!!! via @MasterPoll2Bot
📝 Your username (t.me) + Name Talent I will enchant it into a romantic story 👤 t.me/eupshoric + mosé 👤 T.ME/DOMINANTCE Jorrico.. 👤 @Phauinon dan nox 👤 t.me/vnimas + jax ryder 👥 4 people have voted so far. 📖 Anonymous Board 🚫 This poll is closed...
The story of http://t.me/vnimas and Jax

Pertemuan pertama Jax dengan Viviana terjadi pada sebuah malam hujan di kota. Jalanan berkilau oleh pantulan lampu jalan yang keemasan, udara dingin menusuk, dan langkah-langkah orang terburu-buru mencari tempat berteduh. Jax, yang biasanya tidak terlalu peduli pada kebetulan, masuk ke sebuah kafe kecil untuk menghindari derasnya hujan. Ia tidak pernah menyangka, takdir sudah menunggunya di meja sudut ruangan itu.

Viviana duduk sendirian, jemarinya melingkari cangkir kopi hangat, matanya menatap derasnya hujan di balik jendela. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat tentang dirinya: sebuah keanggunan yang lembut, namun dibalut kesedihan yang tak terlihat. Jax terdiam, menyadari ia menatap terlalu lama seolah gadis itu memiliki daya tarik yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Percakapan mereka dimulai dari hal sederhana: sebuah minuman yang tak sengaja tumpah dan permintaan maaf yang canggung. Namun dari situlah kata-kata mengalir begitu saja, tanpa jeda, tanpa rasa asing. Tawa Viviana lembut dan menenangkan tertinggal lama di benak Jax, bahkan setelah mereka berhenti berbicara. Sejak malam itu, ia kembali ke kafe bukan untuk kopi, melainkan untuk kemungkinan melihatnya lagi. Dan ketika mereka kembali bertemu di tempat lain di toko buku yang sering Viviana kunjungi, di taman tempat ia berjalan sore, Jax mulai percaya bahwa kebetulan hanyalah cara semesta mempertemukan dua jiwa yang ditakdirkan bertemu.

Namun cinta tidak pernah datang tanpa ujian. Viviana menyimpan rahasia: luka masa lalu yang membuatnya ragu membuka hati. Ada hari-hari ketika ia membiarkan Jax masuk, matanya penuh kepercayaan, hanya untuk mundur keesokan harinya dan membangun jarak yang sulit ditembus. Jax, yang terbiasa hidup dengan kendali penuh, kini justru merasa tak berdaya. Ia terjebak antara kesabaran untuk menunggu dan ketakutan kehilangan sebelum sempat benar-benar memiliki.

Sampai pada suatu malam yang hening, di bawah langit bertabur bintang, Viviana akhirnya berbicara. Suaranya bergetar saat ia mengungkapkan rasa takutnya, patah hati yang pernah ia alami, serta luka-luka yang ia kira membuatnya tidak pantas dicintai. Namun alih-alih menjauh, Jax justru menggenggam tangannya erat.

“Kamu tidak perlu sempurna,” katanya lirih. “Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri. Dan itu sudah cukup bagiku.”

Sejak saat itu, kisah mereka tidak lagi tentang pertemuan kebetulan atau tatapan singkat yang penuh arti. Itu berubah menjadi perjalanan berantakan, tidak selalu mudah, tetapi nyata. Jax belajar bahwa cinta bukan tentang janji manis atau gestur besar, melainkan tentang keberanian untuk tetap tinggal ketika lebih mudah untuk pergi. Dan Viviana belajar bahwa kepercayaan tidak lahir dalam semalam, melainkan tumbuh dari kesetiaan seseorang yang tidak pergi meski badai datang.

Dan pada akhirnya, di bawah langit yang luas dan tak berujung, Jax dan Viviana menemukan sesuatu yang tak pernah mereka cari, tetapi begitu mereka butuhkan: bukan cinta yang sempurna, melainkan cinta yang bertahan.
❤3🔥1🥰1👏1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
The story of http://t.me/Phauinon and Nox

Langit sore berwarna oranye keemasan, sementara debur ombak terus berkejaran di bibir pantai. Dika berdiri menatap laut, membiarkan angin asin menyibakkan rambutnya. Ia datang ke pantai itu untuk mencari ketenangan, tapi takdir justru menghadirkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria duduk di atas pasir dengan gitar di pangkuannya. Jemarinya bergerak pelan, memetik nada sederhana yang berpadu dengan suara ombak. Namanya Nox. Suaranya rendah, penuh ketenangan, membuat setiap kata yang ia nyanyikan terasa menyentuh lebih dalam daripada sekadar lagu biasa. Dika terpaku, tak sadar kalau ia sudah terlalu lama memperhatikan.

Pertemuan pertama mereka terjadi karena kebetulan: sebuah buku catatan yang terjatuh dari tas Nox, lalu dipungut oleh Dika. Dari sana, obrolan singkat mengalir, berawal dari musik lalu melebar ke banyak hal. Anehnya, tidak ada rasa canggung. Nox dengan sikapnya yang kalem, dan Dika dengan ketertarikannya yang polos, seolah sudah lama saling mengenal.

Hari-hari setelahnya, pantai itu menjadi tempat mereka kembali. Mereka berbicara sambil duduk di pasir, kadang diam berlama-lama hanya mendengarkan ombak. Dika merasa tenang di dekat Nox, seakan dunia yang rumit di luar sana berhenti menuntutnya. Nox, yang selama ini menyembunyikan dirinya di balik kesunyian, mulai belajar bahwa ada seseorang yang mau benar-benar mendengar tanpa menghakimi.

Namun rasa yang tumbuh tak pernah lepas dari keraguan. Dika takut mengungkapkan perasaan, takut jika apa yang ia rasakan hanya sepihak. Nox pun menyimpan luka lama yang membuatnya sulit percaya pada hubungan. Ada jarak tipis yang kadang memisahkan mereka, meski hati keduanya jelas semakin mendekat.

Sampai akhirnya, di sebuah senja yang tenang, Dika memberanikan diri. Suaranya nyaris tenggelam oleh debur ombak. “Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentang kita. Tapi setiap kali aku di sini, bersamamu, aku merasa... pulang.”

Nox terdiam lama, menatap cakrawala yang perlahan berubah gelap. Lalu ia menoleh, menatap Dika dengan sorot mata yang dalam. “Kalau begitu,” katanya pelan, sambil menyentuh bahu Dika, “jangan pergi terlalu jauh. Karena aku pun ingin pulang, di sampingmu.”

Senja itu menjadi awal baru bagi mereka. Bukan hanya tentang laut atau langit yang indah, melainkan tentang dua hati yang akhirnya berani mengakui apa yang selama ini mereka pendam. Cinta mereka sederhana, namun nyata: seperti ombak yang selalu kembali ke pantai, meski berulang kali menjauh ke laut lepas.
❤3🔥2🥰1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
The story of T.ME/DOMINANTCE and Jorrico

Ada yang tak pernah Jorrico bayangkan dalam hidupnya: bertemu dengan dirinya sendiri dalam wujud yang berbeda. Bukan sekadar bayangan, bukan hanya mimpi. Sosok itu nyata, berdiri di hadapannya, dengan tatapan yang begitu dalam hingga membuat waktu terasa berhenti.

Sejak pertemuan itu, segalanya berubah. Jorrico menemukan sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi lebih hangat, lebih penuh cinta, dan begitu tulus dalam setiap kata maupun tatapan. Bersama “dirinya yang lain”, Jorrico belajar mengenal arti kebersamaan yang berbeda. Mereka berbicara tanpa henti, saling mengisi kekosongan, dan tanpa sadar hati mereka saling terikat lebih erat dari apa pun.

Ada keindahan dalam setiap detik yang mereka lewati. Senyum yang sama, tawa yang serupa, namun terasa baru dan menenangkan. Jorrico seolah jatuh cinta pada dirinya sendiri, bukan karena ego, tetapi karena akhirnya ia menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya, sepenuhnya.
❤2
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
The story of http://t.me/eupshoric and Mosé

Venneth berjalan perlahan di jalan setapak taman, menikmati aroma bunga dan gemerisik daun yang diterpa angin sore. Di bangku dekat danau, Mosé duduk, menatap air yang memantulkan cahaya senja. Pertemuan mereka kali ini terasa berbeda; tidak ada percikan cinta instan, hanya rasa penasaran yang lembut dan hangat.

“Mau duduk?” tanya Mosé sambil menepuk bangku di sampingnya. Venneth tersenyum dan mengangguk, lalu duduk dengan hati sedikit berdebar. Percakapan mereka dimulai ringan, tentang buku yang Mosé baca, warna langit senja, dan hal-hal kecil yang biasanya luput dari perhatian. Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan, hanya rasa nyaman yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Waktu berlalu begitu cepat. Mosé menunjuk bunga liar di pinggir jalan dan tersenyum, “Aku pikir ini cocok buatmu.” Venneth menoleh dan melihat Mosé menyerahkan bunga kecil itu padanya. Hati Venneth hangat, bukan karena kata-kata, tetapi karena perhatian yang tulus, sederhana, dan begitu nyata.

Sore itu mereka tidak berpisah dengan ciuman, melainkan dengan momen hangat: tangan mereka saling bersentuhan sebentar saat menutup buku, sebuah genggaman ringan yang cukup membuat Venneth tersenyum dan merasa seolah dunia di sekitar mereka menghilang. Senja berangsur gelap, namun ada kehangatan yang tetap tinggal di antara mereka, menandai awal sebuah ikatan yang akan berkembang perlahan, penuh rasa.
🔥2❤1🎉1😍1
It's all finished, we'll play again later, okay Katsuu?
❤3
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Selamat pagi, Katsu. Happy Sundaaay!
Cie katsu, hari pertama di September.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Morning Katsuu
Sore sayang, udah makan belum nih?
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Katsu, dikarenakan bot sedang error, maka jika kalian ingin booking talent atau send format di @Jujutsukairent, kita move ke @cToji dulu yaa, nanti Papi bantu
❤2