Pengen umrah? Atau mengumrahkan? Begini. Jika member di sini sudah mencapai 17.000, saya berjanji akan berbagi tips praktis untuk berumrah dan mengumrahkan. Nggak jadi soal berapapun saldo yang ada di rekening kita saat ini. Jadi, mari ajak teman-teman kita bergabung di channel ini. Tepatnya, channel ipphoright. Memperkenalkan seseorang dengan ilmu berumrah, insya Allah ini terhitung sebagai 'mengumrahkan'. Apalagi kita sama-sama tahu bahwa umrah itu mengundang rezeki dan solusi. Minat?
Mau jadi magnet rezeki? Simak >> http://m.bintang.com/success/read/2511453/jadi-magnet-rezeki-ini-11-kutipan-motivasi-dari-ippho-santosa
Benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
- Sejarah merekam, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
- Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Sebagian orang menyebut ini hadis. Terlepas itu pepatah atau hadis, mungkinkah Khalifah Usman RA mengutus rombongan ke Cina karena terinspirasi kalimat ini?
- Salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia.
- Menurut pakar studi Islam dari Universitas Hawaii, Prof James Frankel, diduga ada lebih dari 100 juta Muslim di Cina saat ini, yang sebagian besar merupakan etnis Hui. Sekedar informasi, Prof James Frankel dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
- Semasa Dinasti Abbasiyah, beberapa komunitas Islam menetap di Cina. Seiring perjalanan waktu, orang-orang Islam di Cina disebut sebagai orang Hui Hui, yaitu pengikut Nabi Muhammad. Ini menurut Isaac Mason.
Manusia sering membenci ketika tidak mengetahui atau kurang mengetahui. Semoga dengan adanya fakta dan data di atas membuat kita lebih adil dalam menyikapi sesuatu. Insya Allah keterkaitan antara dunia Cina dan dunia Islam akan saya sampaikan dalam beberapa bagian tulisan.
- Sejarah merekam, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
- Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Sebagian orang menyebut ini hadis. Terlepas itu pepatah atau hadis, mungkinkah Khalifah Usman RA mengutus rombongan ke Cina karena terinspirasi kalimat ini?
- Salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia.
- Menurut pakar studi Islam dari Universitas Hawaii, Prof James Frankel, diduga ada lebih dari 100 juta Muslim di Cina saat ini, yang sebagian besar merupakan etnis Hui. Sekedar informasi, Prof James Frankel dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
- Semasa Dinasti Abbasiyah, beberapa komunitas Islam menetap di Cina. Seiring perjalanan waktu, orang-orang Islam di Cina disebut sebagai orang Hui Hui, yaitu pengikut Nabi Muhammad. Ini menurut Isaac Mason.
Manusia sering membenci ketika tidak mengetahui atau kurang mengetahui. Semoga dengan adanya fakta dan data di atas membuat kita lebih adil dalam menyikapi sesuatu. Insya Allah keterkaitan antara dunia Cina dan dunia Islam akan saya sampaikan dalam beberapa bagian tulisan.
Matre, bolehkah?
Menurut riset yang dari perusahaan biro jodoh asal Singapura, Lunch Actually, ternyata wanita Indonesia cenderung lebih matre. Dalam artian, menilai pria dari sisi materi. Masih menurut riset tersebut, kebanyakan wanita di Indonesia lebih memilih pria yang memiliki karier dan penghasilan yang mapan. Tidak main-main, ini berdasarkan penelitian terhadap 1.659 responden.
Lantas, apa pendapat saya?
- Mapan, nikah.
- Belum mapan, tetap nikah.
- Justru setelah menikah, biasanya rezeki membaik. Lebih mudah menuju mapan.
- Dan perihal ini sudah terbukti di mana-mana.
Terlepas dari itu, benarkah menikah itu mengundang rezeki? Benarkah punya anak itu sekedar beban dan tanggung-jawab? Penjelasannya ada di sebuah ARTIKEL SERU yang sudah disimak 58.000 kali dengan 60 komen. Baca deh » http://bit.ly/JODOHKU
Menurut riset yang dari perusahaan biro jodoh asal Singapura, Lunch Actually, ternyata wanita Indonesia cenderung lebih matre. Dalam artian, menilai pria dari sisi materi. Masih menurut riset tersebut, kebanyakan wanita di Indonesia lebih memilih pria yang memiliki karier dan penghasilan yang mapan. Tidak main-main, ini berdasarkan penelitian terhadap 1.659 responden.
Lantas, apa pendapat saya?
- Mapan, nikah.
- Belum mapan, tetap nikah.
- Justru setelah menikah, biasanya rezeki membaik. Lebih mudah menuju mapan.
- Dan perihal ini sudah terbukti di mana-mana.
Terlepas dari itu, benarkah menikah itu mengundang rezeki? Benarkah punya anak itu sekedar beban dan tanggung-jawab? Penjelasannya ada di sebuah ARTIKEL SERU yang sudah disimak 58.000 kali dengan 60 komen. Baca deh » http://bit.ly/JODOHKU
Uang memiliki daya tarik yang sangat mengena. Walhasil, orang-orang pun mudah terpana dan terpesona.
Padahal...
Rezeki bukan sekedar uang.
Sekali lagi, bukan.
Yang namanya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, itu pun rezeki. Bahkan melebihi uang alias tak ternilai. Right? Tanpa kita sadari, justru dengan hadirnya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat ini, kita dimudahkan mencari dan dicari uang.
Ketika diberi uang dan banyak, kita menyebutnya rezeki. Lalu kita pun bersyukur. Sampai-sampai kita terharu. Lha, saat diberi kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, sudahkah kita bersyukur? Benar-benar bersyukur? Jleb!
Syukuri keberadaan guru dan sahabat kita. Salah satu caranya, dengan mendoakan mereka secara diam-diam. Saya ulang, secara diam-diam. Dengan cara ini, malaikat pun 'tak dapat menahan dirinya' untuk mendoakan kita. Insya Allah, itu nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Padahal...
Rezeki bukan sekedar uang.
Sekali lagi, bukan.
Yang namanya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, itu pun rezeki. Bahkan melebihi uang alias tak ternilai. Right? Tanpa kita sadari, justru dengan hadirnya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat ini, kita dimudahkan mencari dan dicari uang.
Ketika diberi uang dan banyak, kita menyebutnya rezeki. Lalu kita pun bersyukur. Sampai-sampai kita terharu. Lha, saat diberi kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, sudahkah kita bersyukur? Benar-benar bersyukur? Jleb!
Syukuri keberadaan guru dan sahabat kita. Salah satu caranya, dengan mendoakan mereka secara diam-diam. Saya ulang, secara diam-diam. Dengan cara ini, malaikat pun 'tak dapat menahan dirinya' untuk mendoakan kita. Insya Allah, itu nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Idealnya di berbagai saluran komunikasi, kita bisa tanya-jawab... SAAT INI ada puluhan ribu member di WA & Telegram. Belum memungkinkan bagi kami untuk menjawab 1 per 1. Apalagi konsultasi. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan kami... Insya Allah materi yang kami sampaikan tetap bermanfaat dan membawa solusi...
Anda stress?
Tim Anda stress?
Apapun posisi dan profesi kita, tak bisa lepas dari bahaya stress.
Salah satu petinggi Polri, Anton Charliyan, mengakui bahwa banyak anggotanya yang stress.
"Di satu penelitian, polisi lalu lintas dan anggota reserse, hasilnya mencengangkan, 80 persen mereka mengalami stress karena beban tugas," kata Anton.
Menurutnya, tekanan pekerjaan yang cukup berat, ditambah urusan pribadi menjadi faktor dominan yang menyebabkan anggotanya stress.
Sekali lagi, ini sebenarnya terjadi di semua bidang. Bukan di kepolisian saja.
Fakta lain, orang miskin yang stress lebih cepat meninggal ketimbang orang kaya yang stress. "Efek kemiskinan ditambah stress ibarat bom," kata Antonio Ivan Lazzarino, peneliti dari University College London, Inggris.
Profesor Glyn Lewis, pakar epidemiologi psikiatri di Universitas Bristol di Inggris, tidak terkejut dengan temuan tersebut. Terus, gimana solusinya?
Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas tersebut.
Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap masalah kita. Juga lebih jujur.
Terakhir, bawa setiap masalah dalam doa dan ibadah. Kita semua tahu, hanya DIA yang menggenggam segala solusi. Hanya DIA pula yang bisa menentramkan setiap hati.
Dengan begitu, mudah-mudahan kita, tim kita, dan keluarga kita terbebas dari stress. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tim Anda stress?
Apapun posisi dan profesi kita, tak bisa lepas dari bahaya stress.
Salah satu petinggi Polri, Anton Charliyan, mengakui bahwa banyak anggotanya yang stress.
"Di satu penelitian, polisi lalu lintas dan anggota reserse, hasilnya mencengangkan, 80 persen mereka mengalami stress karena beban tugas," kata Anton.
Menurutnya, tekanan pekerjaan yang cukup berat, ditambah urusan pribadi menjadi faktor dominan yang menyebabkan anggotanya stress.
Sekali lagi, ini sebenarnya terjadi di semua bidang. Bukan di kepolisian saja.
Fakta lain, orang miskin yang stress lebih cepat meninggal ketimbang orang kaya yang stress. "Efek kemiskinan ditambah stress ibarat bom," kata Antonio Ivan Lazzarino, peneliti dari University College London, Inggris.
Profesor Glyn Lewis, pakar epidemiologi psikiatri di Universitas Bristol di Inggris, tidak terkejut dengan temuan tersebut. Terus, gimana solusinya?
Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas tersebut.
Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap masalah kita. Juga lebih jujur.
Terakhir, bawa setiap masalah dalam doa dan ibadah. Kita semua tahu, hanya DIA yang menggenggam segala solusi. Hanya DIA pula yang bisa menentramkan setiap hati.
Dengan begitu, mudah-mudahan kita, tim kita, dan keluarga kita terbebas dari stress. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Takdir membelokkan saya kuliah di Malaysia.
Dulu sebelum tamat kuliah, saya ditawari kerja di 2 tempat di Malaysia. Saya sempat bekerja di Malaysia, tapi kemudian saya memilih balik alias pulang ke Indonesia. Pulang dan bekerja di Indonesia, ini keputusan yang rada berat bagi saya. Karena di sana, gaji saya 2 kali bahkan 3 kali lipat lebih tinggi. Bingung kan? Jangan ditanya.
Tapi saya tetap dengan keputusan saya. Di Indonesia sajalah. Memang, mengabdi untuk Indonesia, bisa dilakukan di mana saja, termasuk dari luar negeri. Sudah banyak buktinya. Teman-teman Diaspora contohnya. Tapi saya memilih untuk tinggal dan bekerja di Indonesia. I love Indonesia. Juga ada visi dan misi yang lain. Apa itu?
Begini. Hati saya sering gusar kalau mendengar orang Indonesia yang tidak pede dengan Indonesia atau meremehkan Indonesia. Ini terlalu, menurut saya. Salah satu wujud bukti cinta saya untuk Indonesia adalah berdirinya SD dan TK Khalifah yang alhamdulillah sekarang sudah 70-an cabang se-Indonesia. Ribuan anak telah atau sedang belajar di SD dan TK Khalifah sejak 2007.
Suatu malam saya bertemu dengan ratusan orangtua murid. Alhamdulillah, senang sekali hati saya. Di mata mereka tersirat kebanggaan. Di SD dan TK Khalifah, anak-anak dilatih agar mempunyai entrepreneur mindset. Bercita-cita jadi pengusaha. Kalau kelak mereka semua jadi pengusaha dan soleh, insya Allah akan maju dan melaju negeri ini. Menuju Indonesia Berdaya. Kalau perlu, orang asing yang kerja untuk kita, hehehe.
Btw, apa makna khalifah? Bagi saya, pemimpin. Boleh juga dimaknai pemakmur. Entrepreneur itu kan pemimpin? Betul apa betul? Inilah yang jadi spirit utama bagi SD dan TK Khalifah, setelah tauhid. Kemudian bersama alumni seminar dan Dompet Dhuafa, saya mendirikan Kampus Umar Usman. Yang ini 100% sosial.
Akhirnya terimakasih atas kepercayaan Bapak-Ibu yang telah menitipkan anaknya di SD dan TK Khalifah. Termasuk di Kampus Umar Usman. Ini amanah. Sekali lagi, terimakasih. Mohon doa tulusnya agar ke depannya kami bisa lebih baik lagi. Aamiin.
Dulu sebelum tamat kuliah, saya ditawari kerja di 2 tempat di Malaysia. Saya sempat bekerja di Malaysia, tapi kemudian saya memilih balik alias pulang ke Indonesia. Pulang dan bekerja di Indonesia, ini keputusan yang rada berat bagi saya. Karena di sana, gaji saya 2 kali bahkan 3 kali lipat lebih tinggi. Bingung kan? Jangan ditanya.
Tapi saya tetap dengan keputusan saya. Di Indonesia sajalah. Memang, mengabdi untuk Indonesia, bisa dilakukan di mana saja, termasuk dari luar negeri. Sudah banyak buktinya. Teman-teman Diaspora contohnya. Tapi saya memilih untuk tinggal dan bekerja di Indonesia. I love Indonesia. Juga ada visi dan misi yang lain. Apa itu?
Begini. Hati saya sering gusar kalau mendengar orang Indonesia yang tidak pede dengan Indonesia atau meremehkan Indonesia. Ini terlalu, menurut saya. Salah satu wujud bukti cinta saya untuk Indonesia adalah berdirinya SD dan TK Khalifah yang alhamdulillah sekarang sudah 70-an cabang se-Indonesia. Ribuan anak telah atau sedang belajar di SD dan TK Khalifah sejak 2007.
Suatu malam saya bertemu dengan ratusan orangtua murid. Alhamdulillah, senang sekali hati saya. Di mata mereka tersirat kebanggaan. Di SD dan TK Khalifah, anak-anak dilatih agar mempunyai entrepreneur mindset. Bercita-cita jadi pengusaha. Kalau kelak mereka semua jadi pengusaha dan soleh, insya Allah akan maju dan melaju negeri ini. Menuju Indonesia Berdaya. Kalau perlu, orang asing yang kerja untuk kita, hehehe.
Btw, apa makna khalifah? Bagi saya, pemimpin. Boleh juga dimaknai pemakmur. Entrepreneur itu kan pemimpin? Betul apa betul? Inilah yang jadi spirit utama bagi SD dan TK Khalifah, setelah tauhid. Kemudian bersama alumni seminar dan Dompet Dhuafa, saya mendirikan Kampus Umar Usman. Yang ini 100% sosial.
Akhirnya terimakasih atas kepercayaan Bapak-Ibu yang telah menitipkan anaknya di SD dan TK Khalifah. Termasuk di Kampus Umar Usman. Ini amanah. Sekali lagi, terimakasih. Mohon doa tulusnya agar ke depannya kami bisa lebih baik lagi. Aamiin.
Dibakarnya rumah ibadah di Tanjung Balai sedikit-banyak membuat situasi setempat memanas. Kita semua mengutuk kejadian ini. Namun, tentu saja, setiap kejadian tidak berdiri terpisah. Ada kaitannya. Ada pemicunya.
Terlepas dari itu, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
Ini adalah tulisan lanjutan saya terkait Cina dan Islam.
Mari kita lihat ‘pesaing’ Columbus dan Magellan. Siapakah dia?
- Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara berasal dari Arab, Gujarat (India), dan Cina (Tiongkok).
- Penyebar agama Islam yang terkenal dari Cina adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Menurut Matt Rosenberg, ekspedisi laut Cheng Ho dihelat puluhan tahun lebih awal ketimbang tiga pelaut kebanggaan Barat, yaitu Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Tercatat, dia tujuh kali melawat Nusantara. Jelas sudah, Cheng Ho bukan penjelajah ecek-ecek.
- Lahir di Provinsi Yunan, Cheng Ho dibesarkan dalam keluarga Muslim dan ayahnya sudah berhaji. Jelas sudah, Cheng Ho bukan muslim ecek-ecek.
- Ketika ke Samudera Pasai, Cheng Ho sempat memberi lonceng besar Cakra Donya kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di museum di Banda Aceh. Alhamdulillah, saya pribadi pernah berkunjung ke Samudera Pasai, lokasi kerajaan Islam pertama di Indonesia.
- Ketika ke Cirebon, Cheng Ho sempat memberi piring bertulis Ayat Kursi kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di antara kita pasti banyak yang pernah berkunjung ke sana.
Sekarang, kita tengok PITI dan VOC.
- Menurut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dulu VOC tidak menyukai keberadaan Muslim Tionghoa di Nusantara. Dalam perjalanannya, PITI sempat berubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
- Politik pecah-belah ala Belanda berusaha memisahkan non-pribumi dengan pribumi, di mana ini terlihat dalam Regeringsreglement, adanya tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).
- Pertumbuhan Muslim Tionghoa di Indonesia semakin pesat, khususnya di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Lagi-lagi, ini menurut PITI.
- Di Jakarta, beberapa masjid diyakini dirintis oleh tokoh-tokoh Cina yang tinggal di Betawi ratusan tahun yang silam. Salah satunya Masjid Kebun Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, yang dilindungi pemerintah sebagai cagar budaya.
Jadi, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan? Think.
Satu hal yang pasti, kalaupun berbeda keyakinan, bukan berarti kita harus curigaan dan saling bermusuhan.
Terlepas dari itu, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
Ini adalah tulisan lanjutan saya terkait Cina dan Islam.
Mari kita lihat ‘pesaing’ Columbus dan Magellan. Siapakah dia?
- Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara berasal dari Arab, Gujarat (India), dan Cina (Tiongkok).
- Penyebar agama Islam yang terkenal dari Cina adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Menurut Matt Rosenberg, ekspedisi laut Cheng Ho dihelat puluhan tahun lebih awal ketimbang tiga pelaut kebanggaan Barat, yaitu Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Tercatat, dia tujuh kali melawat Nusantara. Jelas sudah, Cheng Ho bukan penjelajah ecek-ecek.
- Lahir di Provinsi Yunan, Cheng Ho dibesarkan dalam keluarga Muslim dan ayahnya sudah berhaji. Jelas sudah, Cheng Ho bukan muslim ecek-ecek.
- Ketika ke Samudera Pasai, Cheng Ho sempat memberi lonceng besar Cakra Donya kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di museum di Banda Aceh. Alhamdulillah, saya pribadi pernah berkunjung ke Samudera Pasai, lokasi kerajaan Islam pertama di Indonesia.
- Ketika ke Cirebon, Cheng Ho sempat memberi piring bertulis Ayat Kursi kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di antara kita pasti banyak yang pernah berkunjung ke sana.
Sekarang, kita tengok PITI dan VOC.
- Menurut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dulu VOC tidak menyukai keberadaan Muslim Tionghoa di Nusantara. Dalam perjalanannya, PITI sempat berubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
- Politik pecah-belah ala Belanda berusaha memisahkan non-pribumi dengan pribumi, di mana ini terlihat dalam Regeringsreglement, adanya tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).
- Pertumbuhan Muslim Tionghoa di Indonesia semakin pesat, khususnya di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Lagi-lagi, ini menurut PITI.
- Di Jakarta, beberapa masjid diyakini dirintis oleh tokoh-tokoh Cina yang tinggal di Betawi ratusan tahun yang silam. Salah satunya Masjid Kebun Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, yang dilindungi pemerintah sebagai cagar budaya.
Jadi, benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan? Think.
Satu hal yang pasti, kalaupun berbeda keyakinan, bukan berarti kita harus curigaan dan saling bermusuhan.
Belum nikah?
Bingung soal jodoh?
Bingung soal resepsi?
Maaf, adat-adat di Indonesia kurang-lebih sama saja. Menuntut ini-itu dalam prosesi pernikahan. Walhasil, betapa banyak orang menunda pernikahan bahkan batal nikah cuma karena mikirin adat, gengsi, dan resepsi. Padahal nggak harus. Kan nikah itu soal "SAH" bukan soal "WAH".
Maka, tak ada salahnya kalau calon istri diajak nikah secara sederhana. Ini tes awal, apa dia siap hidup susah atau tidak. Juga tes awal, apa dia mau taat suami atau tidak. Untuk jelasnya, baca buku saya, Enteng Jodoh Enteng Rezeki (royalty for charity).
Coba deh pakai pendekatan ini. “Mapan? Nikah. Belum mapan? Tetap nikah.” Yang penting, pria bertanggungjawab dalam penafkahan. Anehnya, sebagian orang bersikeras hanya mau menikah setelah pasangannya mapan. Hm, hati-hati, justru nanti diuji dari situ, dari kemapanan.
Anda-Anda yang belum mapan, tenang saja. Bukankah menikah itu membuka pintu-pintu rezeki? Allah yang menyuruh kita menikah, tentu Allah bertanggung-jawab atas kita dan rezeki kita. Sudahlah, halau segala rasa risau dan galau.
Yang belum menikah, saya turut mendoakan. Semoga segera menikah dan bahagia dengan pernikahannya. Aamiin.
Bingung soal jodoh?
Bingung soal resepsi?
Maaf, adat-adat di Indonesia kurang-lebih sama saja. Menuntut ini-itu dalam prosesi pernikahan. Walhasil, betapa banyak orang menunda pernikahan bahkan batal nikah cuma karena mikirin adat, gengsi, dan resepsi. Padahal nggak harus. Kan nikah itu soal "SAH" bukan soal "WAH".
Maka, tak ada salahnya kalau calon istri diajak nikah secara sederhana. Ini tes awal, apa dia siap hidup susah atau tidak. Juga tes awal, apa dia mau taat suami atau tidak. Untuk jelasnya, baca buku saya, Enteng Jodoh Enteng Rezeki (royalty for charity).
Coba deh pakai pendekatan ini. “Mapan? Nikah. Belum mapan? Tetap nikah.” Yang penting, pria bertanggungjawab dalam penafkahan. Anehnya, sebagian orang bersikeras hanya mau menikah setelah pasangannya mapan. Hm, hati-hati, justru nanti diuji dari situ, dari kemapanan.
Anda-Anda yang belum mapan, tenang saja. Bukankah menikah itu membuka pintu-pintu rezeki? Allah yang menyuruh kita menikah, tentu Allah bertanggung-jawab atas kita dan rezeki kita. Sudahlah, halau segala rasa risau dan galau.
Yang belum menikah, saya turut mendoakan. Semoga segera menikah dan bahagia dengan pernikahannya. Aamiin.
Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak? Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Terorganisir. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dan pemerintah dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Pesan Nabi Muhammad, "Meminta-minta tidaklah halal, kecuali bagi tiga golongan: si fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit utang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat." Jadi, adalah terlarang kalau kita dengan sengaja bersedekah kepada orang-orang di luar tiga golongan ini.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan dan Syawal, income mereka bisa melesat sekian kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya. Simak juga video saya tentang sedekah, mental miskin, dan mental kaya >> https://m.youtube.com/watch?v=kIoFTmlmWqc
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dan pemerintah dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Pesan Nabi Muhammad, "Meminta-minta tidaklah halal, kecuali bagi tiga golongan: si fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit utang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat." Jadi, adalah terlarang kalau kita dengan sengaja bersedekah kepada orang-orang di luar tiga golongan ini.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan dan Syawal, income mereka bisa melesat sekian kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya. Simak juga video saya tentang sedekah, mental miskin, dan mental kaya >> https://m.youtube.com/watch?v=kIoFTmlmWqc
Kalau kita lagi miskin dan susah, terus orang-orang kaya yang kita kenal nggak mau membantu kita, apa yang harus kita lakukan? Simak solusinya » http://bit.ly/KetikaSusah
Kemarin saya berada di Pekanbaru. Minggu ini di Malang, insya Allah. Berseminar.
Inilah yang saya sarankan kepada peserta seminar, "Belajar, belajar, belajar!" Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Kalau belajar, kita akan berdiri dengan lainnya dengan sejajar. Namun tak semua orang mau belajar. Di antara mereka malah mengajukan alasan-alasan yang tak wajar.
Kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri para pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindarinya. Sekali lagi, menghindarinya. Apa perlu saya ulangi untuk ketiga kalinya?
Ironisnya, inilah alasan-alasan mereka.
- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."
- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini belum tentu."
- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."
- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."
- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."
- Dikasih gratis, murah, atau refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"
- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"
#TepokJidat, hehehe.
Celetukan mereka "Ah, motivator itu ngomong doang. Kalau ngomong doang, aku juga bisa." Oya? Yakin bisa? Sekiranya bisa, berapa orang yang mau mendengarkanmu? Berapa orang yang berubah setelah mendengarkanmu? Perlu dicatat, banyak motivator yang juga bisa action, nggak ngomong doang.
Btw, jangan meremehkan kemampuan ngomong. Bukankah seorang Muhammad, Isa, atau Buddha bisa mempengaruhi miliaran manusia karena kemampuan bicaranya? Bukankah pahlawan sekaliber Bung Karno dan Bung Tomo tak terlepas dari kemampuan bicaranya? Orasi. Belum lagi kalau kita membahas profesi guru, dosen, dan ustadz.
Bagi saya, simple saja. Lazimnya, saya hanya mengajar orang yang siap diajar. Ini sih wajar. Apalagi Robert Kiyosaki pernah berujar, "Jangan mengajari babi bernyanyi." Anda capek, babinya lebih capek. Hehehe.
Saya nggak terlalu tertarik menghabiskan waktu saya hanya untuk meyakinkan mereka yang suka beralasan. Saya capek, merekanya lebih capek. Akan jauh lebih efisien dan efektif jika kita mencurahkan perhatian pada orang-orang yang siap diajar. Ini namanya prioritas.
Saya berharap, Anda memilki mental pemenang. Mau belajar. Nggak beralasan, nggak bermalasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. www.ippho.com
Inilah yang saya sarankan kepada peserta seminar, "Belajar, belajar, belajar!" Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Kalau belajar, kita akan berdiri dengan lainnya dengan sejajar. Namun tak semua orang mau belajar. Di antara mereka malah mengajukan alasan-alasan yang tak wajar.
Kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri para pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindarinya. Sekali lagi, menghindarinya. Apa perlu saya ulangi untuk ketiga kalinya?
Ironisnya, inilah alasan-alasan mereka.
- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."
- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini belum tentu."
- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."
- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."
- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."
- Dikasih gratis, murah, atau refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"
- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"
#TepokJidat, hehehe.
Celetukan mereka "Ah, motivator itu ngomong doang. Kalau ngomong doang, aku juga bisa." Oya? Yakin bisa? Sekiranya bisa, berapa orang yang mau mendengarkanmu? Berapa orang yang berubah setelah mendengarkanmu? Perlu dicatat, banyak motivator yang juga bisa action, nggak ngomong doang.
Btw, jangan meremehkan kemampuan ngomong. Bukankah seorang Muhammad, Isa, atau Buddha bisa mempengaruhi miliaran manusia karena kemampuan bicaranya? Bukankah pahlawan sekaliber Bung Karno dan Bung Tomo tak terlepas dari kemampuan bicaranya? Orasi. Belum lagi kalau kita membahas profesi guru, dosen, dan ustadz.
Bagi saya, simple saja. Lazimnya, saya hanya mengajar orang yang siap diajar. Ini sih wajar. Apalagi Robert Kiyosaki pernah berujar, "Jangan mengajari babi bernyanyi." Anda capek, babinya lebih capek. Hehehe.
Saya nggak terlalu tertarik menghabiskan waktu saya hanya untuk meyakinkan mereka yang suka beralasan. Saya capek, merekanya lebih capek. Akan jauh lebih efisien dan efektif jika kita mencurahkan perhatian pada orang-orang yang siap diajar. Ini namanya prioritas.
Saya berharap, Anda memilki mental pemenang. Mau belajar. Nggak beralasan, nggak bermalasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. www.ippho.com