Kampus yang kita dirikan sama-sama, Kampus Umar Usman, hari ini mewisuda mahasiswa-mahasiswanya. Angkatan ke-4.
Saya senang sekali. Kebanyakan mereka mungkin belum kaya-raya. Tapi alhamdulillah, mereka sudah mandiri. Selain itu, amal dan akhlak mereka juga terjaga.
Itulah yang kami didik di kampus. Bisnis, yah bisnis. Tapi amal dan akhlak harus tetap terjaga. Mohon doa dari teman-teman, semoga mereka semua istiqomah dalam kebaikan dan keberlimpahan. Aamiin.
Saya senang sekali. Kebanyakan mereka mungkin belum kaya-raya. Tapi alhamdulillah, mereka sudah mandiri. Selain itu, amal dan akhlak mereka juga terjaga.
Itulah yang kami didik di kampus. Bisnis, yah bisnis. Tapi amal dan akhlak harus tetap terjaga. Mohon doa dari teman-teman, semoga mereka semua istiqomah dalam kebaikan dan keberlimpahan. Aamiin.
Pernah mendorong gerobak? Insya Allah semua orang bisa, asalkan punya niat dan tenaga. Langsung action!
Kalau membawa helikopter? Nggak semua orang bisa. Niat dan tenaga saja tidaklah memadai.
Begitulah. Sekiranya ingin menangani sesuatu yang besar atau berpotensi besar, harus ada ilmunya. Action saja, nggak cukup.
Dalam bisnis, ringkasnya begini:
- Memulai, perlu keberanian.
- Membesarkan, perlu ilmu.
Perlu penjelasan?
- Ilmu membawa helikopter, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu mendorong gerobak. Betul?
- Ilmu mengoperasi manusia, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu memotong sayur. Betul?
- Ilmu mengelola Hypermart, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu mengelola warung. Betul?
Demikianlah dalam bisnis. Perlu ilmu supaya benar-benar besar dan kuat.
Guru saya pernah wanti-wanti, "Memulai usaha? Pake nekad saja, yah bisa. Membesarkan usaha? Nggak bisa. Perlu ilmu."
Lalu ada alumni seminar yang bertanya ke saya, "Banyak orang yang bermodalkan nekad dalam memulai usaha. Bolehkah?
Saya jawab, "Yah, sah-sah saja. Yang penting, legal dan halal. Tapi mohon maaf, kalau bermodalkan nekad saja, usahanya tidak bakal besar. Untuk besar, lagi-lagi kita perlu ilmu."
Maka, sempatkan belajar. Cari ilmu. Baca buku. Ikut guru. Jangan pernah jemu.
Dalam #bisnis, bagaimana cara paling tepat dalam belajar dan berguru? Temukan mentornya. Terus, ada tiga pilihan. Pertama, jadilah muridnya. Kedua, jadilah stafnya. Atau ketiga, jadilah partnernya.
Kurang-lebih itu yang saya sarankan. Pak Tung Desem Waringin juga menyarankan hal serupa.
Yang setuju, bantu share dan copas tulisan ini.
Kalau membawa helikopter? Nggak semua orang bisa. Niat dan tenaga saja tidaklah memadai.
Begitulah. Sekiranya ingin menangani sesuatu yang besar atau berpotensi besar, harus ada ilmunya. Action saja, nggak cukup.
Dalam bisnis, ringkasnya begini:
- Memulai, perlu keberanian.
- Membesarkan, perlu ilmu.
Perlu penjelasan?
- Ilmu membawa helikopter, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu mendorong gerobak. Betul?
- Ilmu mengoperasi manusia, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu memotong sayur. Betul?
- Ilmu mengelola Hypermart, jelas-jelas jauh lebih mendalam dan lebih kompleks ketimbang ilmu mengelola warung. Betul?
Demikianlah dalam bisnis. Perlu ilmu supaya benar-benar besar dan kuat.
Guru saya pernah wanti-wanti, "Memulai usaha? Pake nekad saja, yah bisa. Membesarkan usaha? Nggak bisa. Perlu ilmu."
Lalu ada alumni seminar yang bertanya ke saya, "Banyak orang yang bermodalkan nekad dalam memulai usaha. Bolehkah?
Saya jawab, "Yah, sah-sah saja. Yang penting, legal dan halal. Tapi mohon maaf, kalau bermodalkan nekad saja, usahanya tidak bakal besar. Untuk besar, lagi-lagi kita perlu ilmu."
Maka, sempatkan belajar. Cari ilmu. Baca buku. Ikut guru. Jangan pernah jemu.
Dalam #bisnis, bagaimana cara paling tepat dalam belajar dan berguru? Temukan mentornya. Terus, ada tiga pilihan. Pertama, jadilah muridnya. Kedua, jadilah stafnya. Atau ketiga, jadilah partnernya.
Kurang-lebih itu yang saya sarankan. Pak Tung Desem Waringin juga menyarankan hal serupa.
Yang setuju, bantu share dan copas tulisan ini.
Punya mentor saja, masih mungkin gagal.
Apalagi nggak punya mentor.
Apalagi nggak punya mentor.
Berilmu membuat kita lebih pede dalam menjalankan bisnis.
Keberanian, ini kunci untuk memulai.
Ilmu, ini kunci untuk membesarkan.
“Risiko datang dari ketidaktahuan.” Quote ini diambil dari Warren Buffet ketika ia berbicara di Forbes. Kita sama-sama tahu, ia adalah salah satu orang terkaya di dunia.
Kadang saya mengutip quote ini baik di seminar publik maupun seminar in-house. Yah, karena apa yang dibilang Warren Buffet di atas memang benar. Ya, benar.
Saya pribadi jenis orang yang berani terhadap risiko. Hajar saja. Tapi kalau melibatkan banyak pihak, agak beda ceritanya. Saya cenderung untuk ekstra hati-hati. Maksudnya?
Begini. Setiap bisnis yang melibatkan banyak pihak (mitra), saya berusaha untuk memahami detailnya terlebih dahulu. Ya, saya pelajari sisi ini dan itu. Baik dari segi produk maupun dari segi pemasaran.
Sudah nggak zaman membesarkan bisnis bermodal kenekadan. Kalaupun mau nekad, itu baiknya di awal-awal. Saat memulai. Bukan saat menjalankan dan membesarkan.
Sampai sekarang, saya masih menyisihkan waktu 2X seminggu sebagai murid. Belajar. Berguru, menuntut ilmu. Yang saya pahami, untuk menang di dunia, di akhirat, atau kedua-duanya, perlu ilmu. Saya yakin Anda setuju.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Note: Selasa saya akan membagikan e-book gratis di channel Telegram @ipphoright. Ya, gratis. Dan hanya di Telegram. Isinya tentang meraih Rp 3 M dalam waktu sehari atau kurang. Ini kisah nyata. Silakan ajak teman-teman kita bergabung ke Telegram)
Keberanian, ini kunci untuk memulai.
Ilmu, ini kunci untuk membesarkan.
“Risiko datang dari ketidaktahuan.” Quote ini diambil dari Warren Buffet ketika ia berbicara di Forbes. Kita sama-sama tahu, ia adalah salah satu orang terkaya di dunia.
Kadang saya mengutip quote ini baik di seminar publik maupun seminar in-house. Yah, karena apa yang dibilang Warren Buffet di atas memang benar. Ya, benar.
Saya pribadi jenis orang yang berani terhadap risiko. Hajar saja. Tapi kalau melibatkan banyak pihak, agak beda ceritanya. Saya cenderung untuk ekstra hati-hati. Maksudnya?
Begini. Setiap bisnis yang melibatkan banyak pihak (mitra), saya berusaha untuk memahami detailnya terlebih dahulu. Ya, saya pelajari sisi ini dan itu. Baik dari segi produk maupun dari segi pemasaran.
Sudah nggak zaman membesarkan bisnis bermodal kenekadan. Kalaupun mau nekad, itu baiknya di awal-awal. Saat memulai. Bukan saat menjalankan dan membesarkan.
Sampai sekarang, saya masih menyisihkan waktu 2X seminggu sebagai murid. Belajar. Berguru, menuntut ilmu. Yang saya pahami, untuk menang di dunia, di akhirat, atau kedua-duanya, perlu ilmu. Saya yakin Anda setuju.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Note: Selasa saya akan membagikan e-book gratis di channel Telegram @ipphoright. Ya, gratis. Dan hanya di Telegram. Isinya tentang meraih Rp 3 M dalam waktu sehari atau kurang. Ini kisah nyata. Silakan ajak teman-teman kita bergabung ke Telegram)
Ilmu itu cahaya.
Fakir itu gelap.
Mereka yang sungguh-sungguh menuntut ilmu dijamin tidak fakir.
Fakir itu gelap.
Mereka yang sungguh-sungguh menuntut ilmu dijamin tidak fakir.
Bukan persaingan yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri.
Belajarlah. Cari guru. Cari ilmu. Baca buku. Mudah-mudah membaik nasibmu.
Belajarlah. Cari guru. Cari ilmu. Baca buku. Mudah-mudah membaik nasibmu.
Kali ini kita akan menekankan tentang pemilihan sikap Victim dan Victor. Apa itu?
Begini. Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya, dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.
Namun sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.
"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang memperoleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap sang pemenang.
Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!
Sekali lagi, bertanggung-jawablah atas keputusan yang telah kita ambil. Investasi, bisa rugi. Bisnis, bisa rugi. Kalau memang terjadi, berhentilah menyalah-nyalahkan orang lain. Dewasalah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Note: Sore atau malam, kami akan membagikan e-book gratis di channel ini. Tentang meraih Rp 3 miliar dalam waktu satu hari atau kurang. Kisah nyata nih, dialami oleh teman saya. Dan saya yakin Anda juga bisa. Semoga member di channel ini per sore nanti sudah mencapai 54.000 orang)
Begini. Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya, dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.
Namun sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.
"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang memperoleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap sang pemenang.
Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!
Sekali lagi, bertanggung-jawablah atas keputusan yang telah kita ambil. Investasi, bisa rugi. Bisnis, bisa rugi. Kalau memang terjadi, berhentilah menyalah-nyalahkan orang lain. Dewasalah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Note: Sore atau malam, kami akan membagikan e-book gratis di channel ini. Tentang meraih Rp 3 miliar dalam waktu satu hari atau kurang. Kisah nyata nih, dialami oleh teman saya. Dan saya yakin Anda juga bisa. Semoga member di channel ini per sore nanti sudah mencapai 54.000 orang)
Barusan saya membagikan e-book gratis di channel Telegram @ipphoright ini. Ya, gratis. Dan hanya di Telegram. Isinya tentang meraih Rp 3 M dalam waktu sehari atau kurang. Ini kisah nyata. Silakan download dan baca segera. Karena setelah 3 hari, e-book ini akan saya remove dari Telegram. Happy learning!
Tahu diri itu penting.
Kalau kita merasa diri kita bodoh, maka belajarlah lebih giat. Tahu diri.
Kalau kita merasa diri kita miskin, maka berusahalah lebih giat.
Jangan menyamakan kadar usaha kita dengan orang lain. Sebaliknya, kita mesti lebih.
Ini namanya tahu diri. Manifestasi-kan tahu diri itu dengan ekstra belajar dan ekstra berusaha.
Siap?
Kalau kita merasa diri kita bodoh, maka belajarlah lebih giat. Tahu diri.
Kalau kita merasa diri kita miskin, maka berusahalah lebih giat.
Jangan menyamakan kadar usaha kita dengan orang lain. Sebaliknya, kita mesti lebih.
Ini namanya tahu diri. Manifestasi-kan tahu diri itu dengan ekstra belajar dan ekstra berusaha.
Siap?
Sukses dan gagal itu satu paket. Daripada menyebutnya kegagalan, lebih baik menyebutnya tantangan dan pembelajaran. Sebutan ini lebih memberdayakan. Right?
Sudah menjadi sunatullah, dari waktu ke waktu yang namanya tantangan dan tekanan, tidak pernah menjadi lebih mudah. Entah kita sebagai entrepreneur maupun sebagai profesional.
Nah, daripada berharap tantangan dan tekanan menjadi lebih mudah, mending berusahalah menjadi lebih tangguh dan lebih sabar. Itu lebih masuk akal. Semoga Allah senantiasa memberi kita ketangguhan dan kesabaran. Aamiin...
Nabi-nabi saja pernah gagal. Coba buka sejarah, tidak sedikit nabi yang terusir dari kota asalnya. Dirinya dan dakwahnya tidak diterima. Nabi-nabi saja gagalnya sampai seperti itu, apalagi kita.
Putus asa, bolehkah? Jangan. Nabi Ibrahim menyebut putus asa sebagai sebuah kesesatan. Kalimat dari Nabi Ibrahim ini tertulis di Kitab Suci. Bukan saya yang ngarang-ngarang. Intinya, gagal sih boleh. Putus asa, yah jangan.
Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan dan tekanan adalah 'ruang belajar'. Siapa sih yang mau gagal? Nggak ada. Tapi kalau sudah terjadi dan tak bisa dihindari, yah lebih baik mempersiapkan diri. Belajar. Alih-alih berkeluh-kesah, ayo belajar dan bangkit!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
( Note: Kemarin saya sudah membagikan e-book "Meraih Rp 3 Miliar Dalam 3 Menit" di channel Telegram saya @ipphoright. Gratis. Silakan download sebelum saya remove. )
Sudah menjadi sunatullah, dari waktu ke waktu yang namanya tantangan dan tekanan, tidak pernah menjadi lebih mudah. Entah kita sebagai entrepreneur maupun sebagai profesional.
Nah, daripada berharap tantangan dan tekanan menjadi lebih mudah, mending berusahalah menjadi lebih tangguh dan lebih sabar. Itu lebih masuk akal. Semoga Allah senantiasa memberi kita ketangguhan dan kesabaran. Aamiin...
Nabi-nabi saja pernah gagal. Coba buka sejarah, tidak sedikit nabi yang terusir dari kota asalnya. Dirinya dan dakwahnya tidak diterima. Nabi-nabi saja gagalnya sampai seperti itu, apalagi kita.
Putus asa, bolehkah? Jangan. Nabi Ibrahim menyebut putus asa sebagai sebuah kesesatan. Kalimat dari Nabi Ibrahim ini tertulis di Kitab Suci. Bukan saya yang ngarang-ngarang. Intinya, gagal sih boleh. Putus asa, yah jangan.
Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan dan tekanan adalah 'ruang belajar'. Siapa sih yang mau gagal? Nggak ada. Tapi kalau sudah terjadi dan tak bisa dihindari, yah lebih baik mempersiapkan diri. Belajar. Alih-alih berkeluh-kesah, ayo belajar dan bangkit!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
( Note: Kemarin saya sudah membagikan e-book "Meraih Rp 3 Miliar Dalam 3 Menit" di channel Telegram saya @ipphoright. Gratis. Silakan download sebelum saya remove. )
Mau meningkatkan penghasilan? Mau mencetak Rp 100 juta pertama? Mau menjual dengan internet marketing? Mau magang di kantor saya?
.
Ya, saya akan membuka kelas magang dan training 'Internet Marketing' di kantor saya, selama 7 hari. Dan ini angkatan ke 11. Dari segi materi, semakin matang dan teruji.
.
Alhamdulillah, angkatan-angkatan sebelumnya, langsung FULL begitu diumumkan.
Di kelas ini insya Allah saya terjun langsung, membimbing peserta, bersama tim. Lebih intens. Lebih detail. Dibatasi hanya 20-an peserta. 100% beda dengan training biasa.
.
Apa saja materinya?
- Meriset produk-produk yang laris
- SEO (agar masuk halaman 1 Google)
- Facebook Ads
- Facebook Marketing
- Instagram Marketing
.
Mengapa Internet Marketing?
- Bisa Dipelajari Siapapun
- Tertarget & Tersegmen
- Sangat Terukur & Berdampak
- Sangat Murah & Mudah
- Bertahan Lama
.
Berapa lama belajarnya?
- total 7 hari berbentuk magang dan training
.
Kapan?
- akhir Oktober 2017
- jam 8.00 - 18.00 WIB
.
Di mana?
Di kantor saya, BSD
(dekat Jakarta)
.
Siapa saja yang perlu ikut?
- Pengusaha yang ingin membesarkan usahanya secara online.
- Pengusaha online yang ingin bisnis dan web-nya teroptimasi.
- Karyawan yang ingin belajar memulai bisnis secara online.
- Ibu rumah tangga yang menginginkan income sampingan.
- Mahasiswa, lulusan SMU, atau SMK.
.
Minat? WA 0812-8777-7100 atau 0815-4333-3600.
Syarat-syaratnya?
- Usia 15 - 40 tahun
- Punya laptop sendiri
- Bawa modem sendiri
- Bisa bikin email dan akun FB
.
Berapa biayanya?
Hanya Rp 8 juta. Dan diskon 50% lebih alias cuma Rp 3,9 juta untuk mereka yang mendaftar hari ini sampai 30 Sept (harga promo). Biaya tersebut sudah termasuk makan siang.
.
Adakah bonusnya?
Ada. Bagi teman-teman yang lunas sampai Senin (25 Sept), akan mendapat coaching khusus (secara berkelompok) bersama saya, Ippho Santosa. Aslinya, biaya untuk coaching ini jutaan rupiah juga. Sekarang bisa Anda dapatkan FREE!
.
Soal biaya insya Allah worth it. Bandingkan saja dengan training sejenis yang biayanya 2X sampai 3x lebih tinggi.
.
Biaya ini terasa semakin kecil, sekiranya dihitung dampak finansialnya kelak terhadap bisnis Anda dan nasib Anda. Lagi pula, mentornya sebagai praktisi dan pengajar sudah sangat teruji.
.
Pesertanya insya Allah dijamin 100% bisa menghasilkan uang secara online, walaupun sebelumnya tidak punya pengalaman.
.
Minat? Serius?
- Transfer ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa
- Atau ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Yang serius, silakan transfer (amankan seat Anda).
- Setelah transfer, WA 0812-8777-7100 dan 0815-4333-3600 (WA, bukan telp)
.
Mari sisihkan waktu dan uang untuk belajar. Itu akan mengundang percepatan. Coba-coba sendiri jadinya malah lebih lamaaa dan lebih mahaaal.
.
Lihatlah pengusaha dan motivator zaman sekarang. Muda-muda, sudah sukses. Kok bisa? Karena mereka menyisihkan waktu dan uang untuk belajar. Sekarang giliran kita!
.
Seminggu magang dan training, insya Allah menjadi hari-hari yang menentukan atas nasib Anda juga masa depan Anda. Rp 100 juta pertama, insya Allah bukan hal muluk-muluk. Buktikan saja!
.
Ya, saya akan membuka kelas magang dan training 'Internet Marketing' di kantor saya, selama 7 hari. Dan ini angkatan ke 11. Dari segi materi, semakin matang dan teruji.
.
Alhamdulillah, angkatan-angkatan sebelumnya, langsung FULL begitu diumumkan.
Di kelas ini insya Allah saya terjun langsung, membimbing peserta, bersama tim. Lebih intens. Lebih detail. Dibatasi hanya 20-an peserta. 100% beda dengan training biasa.
.
Apa saja materinya?
- Meriset produk-produk yang laris
- SEO (agar masuk halaman 1 Google)
- Facebook Ads
- Facebook Marketing
- Instagram Marketing
.
Mengapa Internet Marketing?
- Bisa Dipelajari Siapapun
- Tertarget & Tersegmen
- Sangat Terukur & Berdampak
- Sangat Murah & Mudah
- Bertahan Lama
.
Berapa lama belajarnya?
- total 7 hari berbentuk magang dan training
.
Kapan?
- akhir Oktober 2017
- jam 8.00 - 18.00 WIB
.
Di mana?
Di kantor saya, BSD
(dekat Jakarta)
.
Siapa saja yang perlu ikut?
- Pengusaha yang ingin membesarkan usahanya secara online.
- Pengusaha online yang ingin bisnis dan web-nya teroptimasi.
- Karyawan yang ingin belajar memulai bisnis secara online.
- Ibu rumah tangga yang menginginkan income sampingan.
- Mahasiswa, lulusan SMU, atau SMK.
.
Minat? WA 0812-8777-7100 atau 0815-4333-3600.
Syarat-syaratnya?
- Usia 15 - 40 tahun
- Punya laptop sendiri
- Bawa modem sendiri
- Bisa bikin email dan akun FB
.
Berapa biayanya?
Hanya Rp 8 juta. Dan diskon 50% lebih alias cuma Rp 3,9 juta untuk mereka yang mendaftar hari ini sampai 30 Sept (harga promo). Biaya tersebut sudah termasuk makan siang.
.
Adakah bonusnya?
Ada. Bagi teman-teman yang lunas sampai Senin (25 Sept), akan mendapat coaching khusus (secara berkelompok) bersama saya, Ippho Santosa. Aslinya, biaya untuk coaching ini jutaan rupiah juga. Sekarang bisa Anda dapatkan FREE!
.
Soal biaya insya Allah worth it. Bandingkan saja dengan training sejenis yang biayanya 2X sampai 3x lebih tinggi.
.
Biaya ini terasa semakin kecil, sekiranya dihitung dampak finansialnya kelak terhadap bisnis Anda dan nasib Anda. Lagi pula, mentornya sebagai praktisi dan pengajar sudah sangat teruji.
.
Pesertanya insya Allah dijamin 100% bisa menghasilkan uang secara online, walaupun sebelumnya tidak punya pengalaman.
.
Minat? Serius?
- Transfer ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa
- Atau ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Yang serius, silakan transfer (amankan seat Anda).
- Setelah transfer, WA 0812-8777-7100 dan 0815-4333-3600 (WA, bukan telp)
.
Mari sisihkan waktu dan uang untuk belajar. Itu akan mengundang percepatan. Coba-coba sendiri jadinya malah lebih lamaaa dan lebih mahaaal.
.
Lihatlah pengusaha dan motivator zaman sekarang. Muda-muda, sudah sukses. Kok bisa? Karena mereka menyisihkan waktu dan uang untuk belajar. Sekarang giliran kita!
.
Seminggu magang dan training, insya Allah menjadi hari-hari yang menentukan atas nasib Anda juga masa depan Anda. Rp 100 juta pertama, insya Allah bukan hal muluk-muluk. Buktikan saja!
Selasa, saya sudah membagikan e-book "Meraih Rp 3 Miliar Dalam 3 Menit" di channel Telegram ini. Gratis. Silakan download sebelum saya remove. E-book tersebut tersedia sampai Jumat. Happy learning!
Anda punya bisnis? Bergerak di bidang apa?
Memulai bisnis saat ini jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya. Tidak harus memulai bisnis dari angka nol, di mana kita harus mengurusi produksi, perizinan, desain, merek, harga dll.
Kita cukup memulai bisnis dari 'angka 5' atau 'angka 6'. Maksudnya? Kita cukup menjualkan saja. Serahkan produksi, perizinan, desain, merek dll kepada pihak lain yang lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Kita-kita yang berusia 20-30 tahun, tidak terlalu dianjurkan untuk mengurusi produksi. Kenapa? Karena, untuk menghadirkan produksi yang efisien (baca: murah) diperlukan modal yang banyak, waktu yang banyak, juga output produksi yang banyak.
Jujur saja, orang-orang muda biasanya nggak bakal sanggup untuk itu. Yang lebih saya anjurkan adalah menjualkan. Di mana kita bersentuhan langsung dengan pasar (baca: konsumen).
Nah, kalau begini, kita semua juga bisa. Istilahnya macam-macam, mulai dari reseller, agen, distributor, mitra franchise, mitra license, sampai internet marketer. Saya yakin Anda juga bisa.
Modalnya nggak harus besar-besaran tho? Sementara, potensi margin per produk yang bakal dipetik malah lebih besar. Akan beda ceritanya kalau Anda mengurusi produksi. Sebagai produsen, begitu Anda menaikkan harga jual 5% saja, klien bisa kabur.
Ingat, tak perlu tabu jadi reseller. Bukankah Nabi Muhammad seorang reseller? Beliau tidak produksi sendiri. Alih-alih produksi sendiri, beliau memilih untuk menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.
Reseller itu menebar manfaat dan memberi nilai tambah. Bukankah itu mulia? Sangat mulia, insya Allah. Jangan tabu, jangan ragu, jangan malu. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Apapun bisnis Anda, semoga berkah berlimpah.
Note: E-book tentang meraih Rp 3 miliar dalam waktu 3 menit, masih tersedia di channel Telegram ini. Gratis. Download sekarang karena Sabtu akan saya remove. Silakan scroll ke atas.
Memulai bisnis saat ini jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya. Tidak harus memulai bisnis dari angka nol, di mana kita harus mengurusi produksi, perizinan, desain, merek, harga dll.
Kita cukup memulai bisnis dari 'angka 5' atau 'angka 6'. Maksudnya? Kita cukup menjualkan saja. Serahkan produksi, perizinan, desain, merek dll kepada pihak lain yang lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Kita-kita yang berusia 20-30 tahun, tidak terlalu dianjurkan untuk mengurusi produksi. Kenapa? Karena, untuk menghadirkan produksi yang efisien (baca: murah) diperlukan modal yang banyak, waktu yang banyak, juga output produksi yang banyak.
Jujur saja, orang-orang muda biasanya nggak bakal sanggup untuk itu. Yang lebih saya anjurkan adalah menjualkan. Di mana kita bersentuhan langsung dengan pasar (baca: konsumen).
Nah, kalau begini, kita semua juga bisa. Istilahnya macam-macam, mulai dari reseller, agen, distributor, mitra franchise, mitra license, sampai internet marketer. Saya yakin Anda juga bisa.
Modalnya nggak harus besar-besaran tho? Sementara, potensi margin per produk yang bakal dipetik malah lebih besar. Akan beda ceritanya kalau Anda mengurusi produksi. Sebagai produsen, begitu Anda menaikkan harga jual 5% saja, klien bisa kabur.
Ingat, tak perlu tabu jadi reseller. Bukankah Nabi Muhammad seorang reseller? Beliau tidak produksi sendiri. Alih-alih produksi sendiri, beliau memilih untuk menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.
Reseller itu menebar manfaat dan memberi nilai tambah. Bukankah itu mulia? Sangat mulia, insya Allah. Jangan tabu, jangan ragu, jangan malu. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Apapun bisnis Anda, semoga berkah berlimpah.
Note: E-book tentang meraih Rp 3 miliar dalam waktu 3 menit, masih tersedia di channel Telegram ini. Gratis. Download sekarang karena Sabtu akan saya remove. Silakan scroll ke atas.
Capek, hidup gitu-gitu aja?
Kalau nasib gitu-gitu aja, biasanya karena 3 hal:
Ilmunya gitu-gitu aja
Action-nya gitu-gitu aja
Sedekahnya gitu-gitu aja
Kalau nasib gitu-gitu aja, biasanya karena 3 hal:
Ilmunya gitu-gitu aja
Action-nya gitu-gitu aja
Sedekahnya gitu-gitu aja
Sekiranya serius pengen mengubah nasib, nah ubah 3 hal itu...
Ilmu itu dijemput, BUKAN ditunggu... Tidak ada perintah untuk menunggu ilmu. Yang ada, perintah untuk menjemput ilmu dan mencari ilmu...
Jarang orang ngeh... Uang yang dihabiskan untuk sedekah, berbalas. Uang yang dihabiskan untuk menuntut ilmu, LEBIH berbalas...
Kok gitu? Mencari ilmu itu wajib. Sedekah, secara umum, sunnah...
Pada akhirnya, jangan pelit dalam menuntut ilmu...
Jarang orang ngeh... Uang yang dihabiskan untuk sedekah, berbalas. Uang yang dihabiskan untuk menuntut ilmu, LEBIH berbalas...
Kok gitu? Mencari ilmu itu wajib. Sedekah, secara umum, sunnah...
Pada akhirnya, jangan pelit dalam menuntut ilmu...
Sejak Selasa, saya sudah membagikan e-book "Meraih Rp 3 Miliar Dalam 3 Menit" di channel Telegram ini. Gratis. Scroll ke atas. Dan silakan download sekarang. Malam ini atau besok pagi akan saya remove.
Happy learning!
Happy learning!
Dunia telah berubah.
Laporan dari Price Waterhouse Coopers (PwC) mengungkapkan bahwa sebagian besar harta dari keluarga terkaya di dunia selama 20 tahun terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.
Lebih dari setengah atau sebesar 56 persen orang dengan kekayaan lebih dari US$ 1 miliar pada tahun 1995 tidak lagi memiliki kekayaan yang sama pada 2014. Demikian pula pada 2017. Ya, menurun.
Dilansir dari Bloomberg, dari 289 milarder pada 1995, hanya 126 dari mereka yang berhasil mempertahankan tahtanya di grup miliarder. Perhatikan ini baik-baik. Yang kaya-raya saja bisa jatuh, apalagi kita yang belum kaya-kaya banget.
Betul sekali. Dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.
Selain internet, apa lagi? Cara pandang masyarakat terhadap uang. Orang zaman sekarang sudah tidak percaya lagi pada kekuatan menabung. Alih-alih menabung, mereka lebih percaya pada kekuatan berinvestasi.
Terus? Entrepreneur barrier. Hambatan (barrier) untuk menjadi pengusaha semakin hari semakin kecil. Tanpa harus produksi sendiri, tetap saja orang-orang bisa berbisnis. Modal besar? Tidak harus. Toko fisik? Tidak harus. Demikianlah, hambatannya semakin hari semakin kecil.
Dampaknya mulai terasa. Ramayana dan Matahari mulai menutup sebagian gerainya. Koran tua seperti Sinar Harapan sudah tutup usia. Nah, sekiranya kita tidak peka terhadap perubahan, bukan mustahil kalau akhirnya kita ditelan zaman. Hati-hati.
Seorang entrepreneur sejati harus peka terhadap perubahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Laporan dari Price Waterhouse Coopers (PwC) mengungkapkan bahwa sebagian besar harta dari keluarga terkaya di dunia selama 20 tahun terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.
Lebih dari setengah atau sebesar 56 persen orang dengan kekayaan lebih dari US$ 1 miliar pada tahun 1995 tidak lagi memiliki kekayaan yang sama pada 2014. Demikian pula pada 2017. Ya, menurun.
Dilansir dari Bloomberg, dari 289 milarder pada 1995, hanya 126 dari mereka yang berhasil mempertahankan tahtanya di grup miliarder. Perhatikan ini baik-baik. Yang kaya-raya saja bisa jatuh, apalagi kita yang belum kaya-kaya banget.
Betul sekali. Dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.
Selain internet, apa lagi? Cara pandang masyarakat terhadap uang. Orang zaman sekarang sudah tidak percaya lagi pada kekuatan menabung. Alih-alih menabung, mereka lebih percaya pada kekuatan berinvestasi.
Terus? Entrepreneur barrier. Hambatan (barrier) untuk menjadi pengusaha semakin hari semakin kecil. Tanpa harus produksi sendiri, tetap saja orang-orang bisa berbisnis. Modal besar? Tidak harus. Toko fisik? Tidak harus. Demikianlah, hambatannya semakin hari semakin kecil.
Dampaknya mulai terasa. Ramayana dan Matahari mulai menutup sebagian gerainya. Koran tua seperti Sinar Harapan sudah tutup usia. Nah, sekiranya kita tidak peka terhadap perubahan, bukan mustahil kalau akhirnya kita ditelan zaman. Hati-hati.
Seorang entrepreneur sejati harus peka terhadap perubahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hidup di dunia tidaklah lama, jangan habiskan waktu untuk coba-coba. Baiknya amati dan cermati pengalaman orang-orang sukses, banyak-banyaklah bertanya pada ahlinya, juga gabung dengan komunitasnya.
Kemarin saya memberikan training kepada mitra-mitra British Propolis di Karawang. Terus, saya bersama istri pergi ke resepsi anaknya Pak Zul (Ketua MPR). Alhamdulillah di sana bertemu dengan berbagai tokoh, mulai dari Chairul Tanjung sampai Prabowo Subianto.
Sekiranya leluasa dari segi waktu, saya ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan berbagai tokoh di sana. Belajar. Termasuk dengan Harsya Joesoef, pemilik Fedex Indonesia. Sering saya sampaikan, bukan sekadar belajar, tapi cobalah berguru. Dalam bidang apa saja.
Urusan ibadah kepada Allah, baiknya kita punya guru untuk bertanya. Agar ibadah kita sempurna dan diterima. Lagi pula, berkumpul dengan ahli-ahli ibadah, insya Allah membuat keimanan kita serta ibadah kita terjaga.
Urusan bisnis dan kerja, baiknya kita juga punya guru untuk bertanya. Dengan begini, mudah-mudahan kita bisa belajar dari pengalaman suksesnya. Ujung-ujungnya kita efesien waktu, efisien biaya, dan mengurangi risiko gagal.
Gimana dengan ngumpul-ngumpul dengan komunitas? Sesama dokter, ngumpul. Sesama pengusaha, ngumpul. Sesama blogger, ngumpul. Bagus itu. Ya agar dapat saling mengingatkan, berbagi updates, dan semangat tetap terjaga.
Urusan pendidikan dan keluarga, baiknya kita juga punya guru untuk bertanya. Jangan salah, keluarga itu amat berharga. Sepertinya kita perlu banyak-banyak bertanya. Terus, ikuti komunitasnya, agar mendidik anak tidak salah dan tetap terarah.
Miliki mentor. Miliki komunitas. Jika belum ada, jangan heran kalau hidup kita terasa stuck. Hati-hati. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kemarin saya memberikan training kepada mitra-mitra British Propolis di Karawang. Terus, saya bersama istri pergi ke resepsi anaknya Pak Zul (Ketua MPR). Alhamdulillah di sana bertemu dengan berbagai tokoh, mulai dari Chairul Tanjung sampai Prabowo Subianto.
Sekiranya leluasa dari segi waktu, saya ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan berbagai tokoh di sana. Belajar. Termasuk dengan Harsya Joesoef, pemilik Fedex Indonesia. Sering saya sampaikan, bukan sekadar belajar, tapi cobalah berguru. Dalam bidang apa saja.
Urusan ibadah kepada Allah, baiknya kita punya guru untuk bertanya. Agar ibadah kita sempurna dan diterima. Lagi pula, berkumpul dengan ahli-ahli ibadah, insya Allah membuat keimanan kita serta ibadah kita terjaga.
Urusan bisnis dan kerja, baiknya kita juga punya guru untuk bertanya. Dengan begini, mudah-mudahan kita bisa belajar dari pengalaman suksesnya. Ujung-ujungnya kita efesien waktu, efisien biaya, dan mengurangi risiko gagal.
Gimana dengan ngumpul-ngumpul dengan komunitas? Sesama dokter, ngumpul. Sesama pengusaha, ngumpul. Sesama blogger, ngumpul. Bagus itu. Ya agar dapat saling mengingatkan, berbagi updates, dan semangat tetap terjaga.
Urusan pendidikan dan keluarga, baiknya kita juga punya guru untuk bertanya. Jangan salah, keluarga itu amat berharga. Sepertinya kita perlu banyak-banyak bertanya. Terus, ikuti komunitasnya, agar mendidik anak tidak salah dan tetap terarah.
Miliki mentor. Miliki komunitas. Jika belum ada, jangan heran kalau hidup kita terasa stuck. Hati-hati. Sekian dari saya, Ippho Santosa.