Ippho Santosa - ipphoright
26K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Jangan anti dengan masalah.

Hadirnya masalah membuat kita introspeksi, berbenah, dan berubah. Hasilnya? Kita jadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih tawakal.

Pada akhirnya, kita 'naik kelas'!
Ia menaruh minat dalam mengembangkan sesuatu sejak masih kecil. Ia pernah mengutak-utik alarm listrik supaya adiknya tidak masuk ke kamarnya. Garasi orangtua juga ia sulap jadi laboratorium untuk eksperimen ilmiah. Kemudian di usia muda, ia pernah menjadi Vice President untuk sebuah perusahaan keuangan. Selang beberapa tahun, ia memutuskan untuk resign. Orangtua dan atasannya awal-awal tidak setuju. Tapi rupa-rupanya hasratnya untuk bebas dan menjadi pengusaha tidak terbendung lagi. Lalu ia mendirikan toko online dan sekarang menjadi toko online terbesar di dunia. Dia sendiri menjadi orang terkaya di dunia per Kamis kemarin, melampaui Bill Gates. #JeffBezos nama orangnya. Amazon nama bisnisnya. Bayangkan kalau dia tidak berani mengambil keputusan untuk resign. Sepertinya Amazon tidak akan hadir... Ya, beranilah mengambil keputusan. Beranilah memulai bisnis...
Sekiranya Anda ingin menjadi entrepreneur, bekerjalah di perusahaan kecil. Ini BUKAN kata saya, tapi kata Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok.

Kenapa di perusahaan kecil? Yah, karena Anda bisa belajar tentang dream, spirit, dan passion langsung dari si founder. Ini nggak bakal Anda rasakan kalau Anda bekerja di perusahaan besar.

Sebagai pemula di perusahaan besar, lazimnya Anda tidak mengantongi akses untuk sering-sering berinterakasi dengan si founder. Right? Right.

Jadi, menurut Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Ini kalimat yang sangat tajam dan menghujam, menurut saya. Maksudnya? Sulit dibantah!

Ada isyarat untuk belajar di sini. Di mana secara tidak langsung si boss diharapkan akan mengajari kita. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh menjadi bekal saat kita jadi pengusaha kelak.

Sekian dari saya, Ippho Santosa (Hampir setiap hari Anda mendapat motivasi dan inspirasi dari channel Telegram ini. Kenapa nggak mengajak teman-teman Anda untuk bergabung? Biar belajar bareng dan sukses bareng).
Kamis kemarin dia sempat menjadi ORANG TERKAYA DI DUNIA, melampaui Bill Gates. Jualan apa sih? Dia cuma jualan buku dll. Tapi di-internet-kan. Namanya Amazon, hasilnya amazing!
Sebenarnya pemindahan ibukota bukan hal anyar di dunia. Beberapa negara malah sudah melakukannya jauh-jauh hari dan boleh dibilang berhasil dengan lebih bergeraknya roda ekonomi.

Berikut ini adalah sejumlah negara yang sudah berhasil memindahkan ibukota negaranya:

- Brasil, dari Rio de Jeneiro ke Brasilia. Jerman, dari Bonn ke Berlin. Kazakhstan, dari Almaty ke Astana.

- Ada lagi? Ada, misalnya Pakistan, India, Myanmar, Rusia, Australia, dan Inggris.

- Contoh lain? Belize, Tanzania, Nigeria, dan Pantai Gading.

Sampai detik ini wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta belum pudar-pudar. Kajian demi kajian terus dihelat dengan penuh kehati-hatian.

Kembali ke Pakistan, contoh yang berhasil. Islamabad saat ini sudah masuk kategori global city dan memiliki indeks pengembangan manusia tertinggi di Pakistan.

Islamabad juga menjadi kota paling mahal di Pakistan dengan penduduk sebagian besar adalah warga middle dan upper.

Islamabad juga kota teraman di Pakistan dengan sistem pengawasan yang mengandalkan 1.900 kamera CCTV di berbagai penjuru.

Bagaimana dengan pemindahan ibukota di Indonesia? Jadikah? Seriuskah? Berhasilkah? Kita masih menunggu. Di negara-negara maju, sering terjadi pemisahan antara pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Di Indonesia? Semua masih menumpuk jadi satu di ibukota negara, Jakarta.

Saya termasuk jenis orang yang welcome dengan perubahan yang positif. Insya Allah Indonesia bisa dan hasilnya baik. Tentu, dengan dukungan semua kalangan termasuk Anda dan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ada waktunya bekerja, ada waktunya bersantai. Niscaya prestasi akan kita raih... Selalu bekerja hanya membuat kita dan keluarga kita tertekan
GAGAL mempersiapkan berarti mempersiapkan KEGAGALAN... Pepatah Tiongkok mengatakan, jangan sekadar bisa mengundang, tapi hendaknya juga bisa menyambut... Untuk sesuatu yang besar, persiapkan diri kita
Ada MASALAH di kantor? Sampai konflik? Itu wajar. Mungkin interaksi orang-orang di dalamnya begitu intens.

Terus, apa tips dari saya? Pertama, ketika terjadi konflik, tempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Ini namanya empati. Catat, em-pa-ti.

Mungkin sulit menempatkan diri kita dalam posisi mereka. Tapi, bukannya mustahil. Perlu diingat, empati dan kompromi seringkali lebih efektif ketimbang konfrontasi.

Kedua? Pertimbangkan kemungkinan terburuk bagi kedua belah pihak. Mengetahui hal ini, kita akan berhati-hati dalam memutuskan dan berusaha menghindari konfrontasi.

Terus? Cari pendapat pihak ketiga yang ahli dan netral. Jika Anda menemui jalan buntu dengan 'pihak lawan' dan belum punya solusi konkrit walaupun sudah berusaha sebaik-baiknya, maka carilah pihak ketiga untuk bantu mendamaikan.

Terus? Fokus pada persamaan dan kompromilah sesekali. Selagi tidak berbenturan dengan hal-hal prinsip, tak ada salahnya kalau kita mau berkompromi. Sekali lagi, hindari konfrontasi.

Kalau doa? Tentu saja ini harus. Sebagai orang beriman, kita sama-sama tahu bahwa doa adalah bagian tak terpisahkan dari ikhtiar. Maka, sertakan ini sejak awal ketika memulai dialog.

Dengan begini, mudah-mudahan konflik tersebut bisa reda dan redam. Silakan dicoba. Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Mohon doa dari teman-teman ya.
Mohon doa. #BundaFirda (paling kiri, kerudung merah) adalah guru TK Khalifah angkatan pertama. Penyayang sama anak-anak bahkan dipilih 90% anak-anak sebagai guru favorit. Dia juga saksi atas perjuangan saya merintis TK Khalifah di Batam. Boleh dibilang, dia anak emas bagi saya, istri saya, dan manajemen. Ketika tim perdana resign satu per satu, dia tetap bertahan. Sampailah tadi pagi Allah memanggilnya. Dia berpulang (karena sakit). Semoga Allah menerima amal-amalnya dan mengampuni dosa-dosanya. Aamiin. Sekali lagi, mohon doanya.
Percaya diri itu perlu. Kalau kita saja ragu-ragu, bagaimana orang lain bisa yakin? Percaya diri beda dengan sombong. Percaya diri, boleh. Sombong, tak boleh.
Saran saya, "Mulailah berbisnis semuda mungkin."
- Mumpung lagi mood.
- Mumpung lagi semangat-semangatnya.
- Mumpung lagi berani-beraninya.
- Mumpung ada stamina.
- Mumpung ada waktu.
- Mumpung ada peluang.
- Mumpung masih sedikit tanggungan.
- Mumpung Anda membaca tulisan ini.

Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, rada beda dengan senior-seniornya. Si muda lebih menyala-nyala. Kebanyakan yah begitu.

Di sini kita nggak bisa menggadang-gadang kisah langka alias kisah pengecualian seperti Kolonel Sanders dengan KFC-nya.

Dan satu lagi. Orang-orang muda demen sama teknologi juga perubahan. Saya sih yakin, Indonesia bahkan dunia bisa mencicipi perubahan yang lebih cepat sekiranya orang-orang mudanya diberi kesempatan.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Setiap orang punya kelemahan. Maka, jangan terpaku pada kelemahan. Lebih baik renungkan sejenak & temukan kelebihan. Terus? Asah. Latih. Tingkatkan. Niscaya kita akan merasa berdaya dan lebih tenang.
Gagal atau berhasil itu biasa. Tak perlu disikapi berlebihan... Steve Jobs sempat mendirikan Apple. Tapi kemudian ia dipecat. Akhirnya ia masuk kembali dan membuat Apple panen besar!
Istri, jangan meminta.
Suami, mestinya memberi.

Istri, jangan boros.
Suami, mestinya mencukupi.

Imbang tho?

Jangan memanjakan istri semata-mata dengan harta. Itu betul. Tapi, sudah tugas suami untuk membuat istri lebih nyaman. Dengan apa? Yah dengan semuanya. Perhatian, sentuhan, waktu, ilmu, harta, dll. Jangan salah satunya saja.

Misal, Anda mengajak istri berlibur. Di situ terlibat berbagai komponen. Mulai dari perhatian, sentuhan, waktu, sampai harta. Dan sekiranya istri ingin berlibur di Raja Ampat terus Anda mampu, yah apa salahnya? Boleh, insya Allah.

Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.

Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.

Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apapun agama Anda, tulisan ini perlu Anda baca.

Islam merupakan agama tercepat pertumbuhannya dalam lima tahun di Australia, dengan peningkatan 39,9 persen. Fakta tersebut terungkap dalam laporan International Centre for Muslim and non-Muslim Understanding.

Itu yang terjadi di Australia. Bagaimana dengan di Indonesia? Kali ini saya tidak ingin bicara soal jumlah penganutnya. Saya lebih tertarik bicara soal tingkat kesalehannya. Penelitian Riaz Hassan dari Flinders University, Australia mengungkapkan bahwa muslim Indonesia mempunyai kesalehan ritual tinggi.

Sewaktu saya diundang Pak Chairul Tanjung di rumahnya, ia menyampaikan bahwa mahasiswi berjilbab jumlahnya meningkat pesat selama 5 tahun terakhir. Ini menurut pengalaman dan pengamatannya saat sharing ilmu di Universitas Indonesia untuk sekian tahun terakhir.

Apa implikasinya?

Sebagai entrepreneur dan marketer, kita harus peka dengan fenomena ini. Mengabaikan faktor agama bisa membuat customer terusik dan meninggalkan bisnis kita. Setuju atau tidak, Aksi 411 dan Aksi 212 menunjukkan bahwa agama beserta nilai-nilainya adalah hal yang teramat penting bagi umat Muslim di Indonesia.

Kajian demi kajian, sekarang bukan saja di masjid dan musholla. Tapi juga hadir di perkantoran dan rumah-rumah. Sambil ngobrol, saya dan istri saya pernah memberi masukan kepada pemilik salon Irwan Team agar menyiapkan space kecil dan tertutup untuk customer Muslimah. Input itu kemudian ia terapkan di sejumlah cabang.

Sekali lagi, mengabaikan faktor agama bisa membuat customer terusik dan meninggalkan bisnis kita. Sudah saatnya kita lebih peka. Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.