Malas beraktivitas di Senin pagi?
Saran saya, "Lakukan saja apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal dan halal.
Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.
Apa lagi? Mengganti belah rambut. Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor.
Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.
Satu lagi, jangan lupa berdoa.
Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah penting. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Selamat mencoba!
Saran saya, "Lakukan saja apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal dan halal.
Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.
Apa lagi? Mengganti belah rambut. Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor.
Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.
Satu lagi, jangan lupa berdoa.
Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah penting. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Selamat mencoba!
Sejauh ini, Spiderman sudah diperankan oleh tiga aktor dan tentu saja masing-masing punya kelebihan tersendiri juga fans tersendiri. Ini soal selera, hehehe.
Lantas, apa pendapat saya? Frankly speaking #TobeyMaguire is the best Spiderman. Yes, the best. I hope the next Spiderman movie will be better.
Boleh dibilang, Tobey Maguire berhasil memerankan Spiderman dan benar-benar menyentuh hati. Ia pun perform tanpa embel-embel Iron Man, Captain America, dan Avengers. Angka penjualan juga berbicara. Booming!
Tom Holland, pemeran Peter Parker alias Spiderman kali ini, memang terkesan lebih muda dan lebih kocak. Saya sih yakin penonton yang lain menangkap kesan yang sama seperti saya.
Sayangnya, di sini Peter Parker seolah-olah bergantung pada teknologi dan di bawah bayang-bayang Tony Stark alias Iron Man. Satu lagi, sepertinya yang ingin digadang-gadang oleh sutradara cuma nama Avengers belaka.
Ya, demikianlah karya Marvel terbaru.
Yang rada aneh, musuhnya Spiderman kali ini diperankan oleh Michael Keaton. Padahal Michael Keaton dua kali dipercaya oleh DC untuk memerankan Batman, yaitu pada 1989 dan 1992.
Jadi, sulit bagi saya membayangkan pemeran Batman jadi penjahat. Sulit. Hehehe. Walaupun sebenarnya Michael Keaton sudah pernah melakukan itu pada Robocop dan Need for Speed.
Begitulah, tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat lebih bertahan lama daripada skill. Misalnya skill-nya hebat, tapi belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lantas, apa pendapat saya? Frankly speaking #TobeyMaguire is the best Spiderman. Yes, the best. I hope the next Spiderman movie will be better.
Boleh dibilang, Tobey Maguire berhasil memerankan Spiderman dan benar-benar menyentuh hati. Ia pun perform tanpa embel-embel Iron Man, Captain America, dan Avengers. Angka penjualan juga berbicara. Booming!
Tom Holland, pemeran Peter Parker alias Spiderman kali ini, memang terkesan lebih muda dan lebih kocak. Saya sih yakin penonton yang lain menangkap kesan yang sama seperti saya.
Sayangnya, di sini Peter Parker seolah-olah bergantung pada teknologi dan di bawah bayang-bayang Tony Stark alias Iron Man. Satu lagi, sepertinya yang ingin digadang-gadang oleh sutradara cuma nama Avengers belaka.
Ya, demikianlah karya Marvel terbaru.
Yang rada aneh, musuhnya Spiderman kali ini diperankan oleh Michael Keaton. Padahal Michael Keaton dua kali dipercaya oleh DC untuk memerankan Batman, yaitu pada 1989 dan 1992.
Jadi, sulit bagi saya membayangkan pemeran Batman jadi penjahat. Sulit. Hehehe. Walaupun sebenarnya Michael Keaton sudah pernah melakukan itu pada Robocop dan Need for Speed.
Begitulah, tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat lebih bertahan lama daripada skill. Misalnya skill-nya hebat, tapi belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kaya itu bukan soal akumulasi harta, melainkan distribusi harta. Hendaknya begitu.
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini bukan saja mencolok, tapi mengerikan!
Hati-hati, ketimpangan ekonomi akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membesar karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
"Dalam kekuatan yang besar, tersimpan tanggung-jawab yang besar," ini pesan moral dari film Spiderman (generasi awal). Ya, tanggung-jawab yang besar. Terutama kalau kita menjadi orang kaya.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Tak perlu menuding si A atau si B. Mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Setelah itu, kita ingatkan dan ajak yang lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa (silakan ajak keluarga bergabung ke channel Telegram @ipphoright).
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini bukan saja mencolok, tapi mengerikan!
Hati-hati, ketimpangan ekonomi akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membesar karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
"Dalam kekuatan yang besar, tersimpan tanggung-jawab yang besar," ini pesan moral dari film Spiderman (generasi awal). Ya, tanggung-jawab yang besar. Terutama kalau kita menjadi orang kaya.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Tak perlu menuding si A atau si B. Mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Setelah itu, kita ingatkan dan ajak yang lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa (silakan ajak keluarga bergabung ke channel Telegram @ipphoright).
Anda kenal Reza Rahadian? Bertepatan beberapa hari yang lalu saya sempat bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan dia di sebuah forum. Selain film Rudy, Habibie, dan My Stupid Boss, saya juga menyukai penampilan dia di film HOS Tjokroaminoto.
Saya teringat adegan debat antara Semaun dan Agus Salim tentang tanah (properti) dan pendidikan (ilmu). Yang satu bersikeras, tanahlah yang lebih penting. Satunya bersikukuh, pendidikanlah yang paling penting. Kedua-duanya berdebat sengit.
Yah, kedua-duanya adalah tokoh berpengaruh yang sempat bergandeng tangan dengan HOS Tjokroaminoto dalam perjuangan. Lantas, siapakah yang benar? Semaun atau Agus Salim? Tanah atau pendidikan?
Di mana-mana saya selalu menganjurkan, invest dulu pada ilmunya. Belajar. Yang namanya bisnis, bisa untung, bisa rugi. Nah, kita dapat mengurangi resiko kerugian dengan memahami ilmunya terlebih dahulu. Sekali lagi, belajar.
Dengan ilmu, yah tetap saja, nggak jaminan untung. Akan tetapi ini lumayan membantu dan mengurangi resiko kerugian. Belajar, inilah yang saya lakukan dulu dan ini pula yang saya anjurkan sekarang.
Ketika melihat sebagian UKM, kadang saya merasa prihatin. Beneran. Banyak di antara mereka yang gagal menjual dan gagal bersaing hanya gara-gara tidak mengerti internet. Padahal internet adalah now market dan next market.
UKM ini, karena terus-menerus sulit menjual dan sulit bersaing, akhirnya berujung pada kerugian. Sebagian, tutup. Nah akan lain ceritanya kalau mereka mau menyisihkan waktu untuk belajar terlebih dahulu.
Kita perlu bersyukur, sekarang sudah tersedia berbagai macam training terkait internet marketing. Kalau 5 tahun yang lalu, mana ada? Kalaupun ada, yah langka! Lagi-lagi saya menyarankan Anda untuk mempelajari ilmunya terlebih dahulu.
Namanya belajar, nggak harus dengan saya. Anda boleh belajar dari siapapun, asalkan Anda yakin integritas dan kapasitas orangnya. Alhamdulillah, untuk magang 'Internet Marketing' bareng saya di akhir Juli sudah FULL. Insya Allah akan diadakan lagi di akhir Agustus (sepulang saya seminar di Korea).
Hei, zaman sudah berubah. Cara memasarkan produk dan cara mendapatkan uang juga berubah. Adalah konyol kalau kita tidak mempersiapkan diri. Bukan teknologi yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya teringat adegan debat antara Semaun dan Agus Salim tentang tanah (properti) dan pendidikan (ilmu). Yang satu bersikeras, tanahlah yang lebih penting. Satunya bersikukuh, pendidikanlah yang paling penting. Kedua-duanya berdebat sengit.
Yah, kedua-duanya adalah tokoh berpengaruh yang sempat bergandeng tangan dengan HOS Tjokroaminoto dalam perjuangan. Lantas, siapakah yang benar? Semaun atau Agus Salim? Tanah atau pendidikan?
Di mana-mana saya selalu menganjurkan, invest dulu pada ilmunya. Belajar. Yang namanya bisnis, bisa untung, bisa rugi. Nah, kita dapat mengurangi resiko kerugian dengan memahami ilmunya terlebih dahulu. Sekali lagi, belajar.
Dengan ilmu, yah tetap saja, nggak jaminan untung. Akan tetapi ini lumayan membantu dan mengurangi resiko kerugian. Belajar, inilah yang saya lakukan dulu dan ini pula yang saya anjurkan sekarang.
Ketika melihat sebagian UKM, kadang saya merasa prihatin. Beneran. Banyak di antara mereka yang gagal menjual dan gagal bersaing hanya gara-gara tidak mengerti internet. Padahal internet adalah now market dan next market.
UKM ini, karena terus-menerus sulit menjual dan sulit bersaing, akhirnya berujung pada kerugian. Sebagian, tutup. Nah akan lain ceritanya kalau mereka mau menyisihkan waktu untuk belajar terlebih dahulu.
Kita perlu bersyukur, sekarang sudah tersedia berbagai macam training terkait internet marketing. Kalau 5 tahun yang lalu, mana ada? Kalaupun ada, yah langka! Lagi-lagi saya menyarankan Anda untuk mempelajari ilmunya terlebih dahulu.
Namanya belajar, nggak harus dengan saya. Anda boleh belajar dari siapapun, asalkan Anda yakin integritas dan kapasitas orangnya. Alhamdulillah, untuk magang 'Internet Marketing' bareng saya di akhir Juli sudah FULL. Insya Allah akan diadakan lagi di akhir Agustus (sepulang saya seminar di Korea).
Hei, zaman sudah berubah. Cara memasarkan produk dan cara mendapatkan uang juga berubah. Adalah konyol kalau kita tidak mempersiapkan diri. Bukan teknologi yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Weekend, saatnya menambah ilmu dan menambah relasi. Jangan habiskan buat berleha-leha saja.
Gimana cara meningkatkan omset?
Banyak caranya. Salah satunya, menambah varian produk. Sehingga bisa terjadi cross-sell dan upsell. Misal, Anda jualan daster. Tak ada salahnya juga menjual baju anak.
Cara lain? Amati 3 pesaing terkuat, lalu berikan pelayanan berbeda ketimbang mereka. Misal, pesaing tutup toko jam 5 sore. Anda, tutuplah jam 6 sore.
Terus? Ajak ngobrol pelanggan yang loyal. Biasanya jumlah mereka cuma 10-20% tapi bisa menghasilkan omset 80-90%. Masukan dari mereka sangatlah penting.
Terus? Beri hadiah pada pelanggan lama yang berhasil mengajak pelanggan baru. Hadiah tidak harus berbentuk uang. Bisa jadi souvenir atau voucher. Sehingga tetap hemat.
Dan masih banyak lagi. Silakan praktek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Banyak caranya. Salah satunya, menambah varian produk. Sehingga bisa terjadi cross-sell dan upsell. Misal, Anda jualan daster. Tak ada salahnya juga menjual baju anak.
Cara lain? Amati 3 pesaing terkuat, lalu berikan pelayanan berbeda ketimbang mereka. Misal, pesaing tutup toko jam 5 sore. Anda, tutuplah jam 6 sore.
Terus? Ajak ngobrol pelanggan yang loyal. Biasanya jumlah mereka cuma 10-20% tapi bisa menghasilkan omset 80-90%. Masukan dari mereka sangatlah penting.
Terus? Beri hadiah pada pelanggan lama yang berhasil mengajak pelanggan baru. Hadiah tidak harus berbentuk uang. Bisa jadi souvenir atau voucher. Sehingga tetap hemat.
Dan masih banyak lagi. Silakan praktek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Siapa yang mencari uang di keluarga Anda? Ayah, ibu, atau dua-duanya?
Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza.
Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung weekend, mumpung Harganas, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita.
Bisnis, penting. Karier, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza.
Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung weekend, mumpung Harganas, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita.
Bisnis, penting. Karier, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Selain Telegram, saya rutin berbagi ilmu di WA. Dan sepertinya Anda perlu segera bergabung ke grup WA saya.
Telegram secara bertahap telah diblokir oleh pemerintah. Ya, diblokir. Awal-awal situsnya dulu. Kemudian menyusul yang lainnya.
Setidaknya, itulah yang diberitakan. Maka, silakan save nomor WA saya.
Untuk teman-teman di Jakarta-Jabar-Banten-Sumatera-Kalimantan >> 0812-8777-7388...
Untuk Jateng-Jatim-Bali-NTB-NTT-Sulawesi-Papua-LN >> 0812-8777-8336...
Setelah add, kirim pesan berisi nama dan kota domisili. Nanti akan kami masukkan ke dalam grup. Mesti sabar ya. Ada ribuan yang add.
Kenapa sih nomornya dibedakan? Agar bisa tertampung semuanya.
Memang di grup WA ini, peserta tidak bisa berdialog dan tanya-jawab. Dengan kata lain, hanya satu arah dari saya (Ippho Santosa) dan admin.
Dengan demikian, peserta akan fokus belajarnya alias mendapat ilmu-ilmu terbaru dari saya. Dan biasanya ini merupakan bocoran dari buku saya yang berikutnya.
Happy learning!
Telegram secara bertahap telah diblokir oleh pemerintah. Ya, diblokir. Awal-awal situsnya dulu. Kemudian menyusul yang lainnya.
Setidaknya, itulah yang diberitakan. Maka, silakan save nomor WA saya.
Untuk teman-teman di Jakarta-Jabar-Banten-Sumatera-Kalimantan >> 0812-8777-7388...
Untuk Jateng-Jatim-Bali-NTB-NTT-Sulawesi-Papua-LN >> 0812-8777-8336...
Setelah add, kirim pesan berisi nama dan kota domisili. Nanti akan kami masukkan ke dalam grup. Mesti sabar ya. Ada ribuan yang add.
Kenapa sih nomornya dibedakan? Agar bisa tertampung semuanya.
Memang di grup WA ini, peserta tidak bisa berdialog dan tanya-jawab. Dengan kata lain, hanya satu arah dari saya (Ippho Santosa) dan admin.
Dengan demikian, peserta akan fokus belajarnya alias mendapat ilmu-ilmu terbaru dari saya. Dan biasanya ini merupakan bocoran dari buku saya yang berikutnya.
Happy learning!
"Bisnis apa sih yang bagus?" celetuk mereka.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.
Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali wawasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.
Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali wawasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
3 hari, langsung berdampak...
"Alhamdulillah, baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk halaman 3 Google. Ditambah lagi, blog pribadi saya masuk halaman 1 Google, padahal baru dibuat 6 hari. Ini berkat magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."
"Awalnya saya bukanlah orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."
"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang. Ya, tak sampai seminggu."
Ini adalah pengalaman dan testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang dan training #InternetMarketing di kantor saya (BSD, dekat Jakarta). Saat ini mungkin Anda mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya.
Mau ikut magang dan training 'Internet Marketing' di kantor saya? Bisa. Kapan? Akhir Agustus, selama 8 hari. Tepatnya, jam 08.00-18.00. Biaya normal Rp 8 juta. Promo hanya Rp 3,9 juta (berlaku sampai sore ini saja).
Hampir semua orang tahu, ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis. Karena Anda sudah memutuskan untuk ikut, transfer saja segera ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Yang serius, silakan transfer lalu SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan telp).
Hindari menunda-nunda! Saatnya menjemput perubahan!
"Alhamdulillah, baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk halaman 3 Google. Ditambah lagi, blog pribadi saya masuk halaman 1 Google, padahal baru dibuat 6 hari. Ini berkat magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."
"Awalnya saya bukanlah orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."
"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang. Ya, tak sampai seminggu."
Ini adalah pengalaman dan testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang dan training #InternetMarketing di kantor saya (BSD, dekat Jakarta). Saat ini mungkin Anda mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya.
Mau ikut magang dan training 'Internet Marketing' di kantor saya? Bisa. Kapan? Akhir Agustus, selama 8 hari. Tepatnya, jam 08.00-18.00. Biaya normal Rp 8 juta. Promo hanya Rp 3,9 juta (berlaku sampai sore ini saja).
Hampir semua orang tahu, ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis. Karena Anda sudah memutuskan untuk ikut, transfer saja segera ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Yang serius, silakan transfer lalu SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan telp).
Hindari menunda-nunda! Saatnya menjemput perubahan!
Omset sangat ditentukan oleh crowd (keramaian). Mesti ada produk-produk yang mengundang crowd. Mesti ada event berkala yang mengundang crowd. Mesti ada promosi khusus yang mengundang crowd.
Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke omset.
Terus? Perbaiki tampilan. Berikan kesan pertama yang memikat, baik itu website, toko, front office, dan sebagainya. Apa-apa yang terlihat, terdengar, dan terhirup, pastikan bagus.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Terus? Pilih kata-kata yang menjual. Baik itu kata-kata di terpampang di toko Anda maupun di situs Anda. Berikan penawaran yang hanya bisa diberikan oleh bisnis Anda. Misal, berupa diskon dan bonus. Atau sebaliknya, barang impor dan barang unik.
Jangan sampai, crowd sudah datang, tapi mereka hanya dipertemukan dengan kesan pertama yang hambar dan penawaran yang biasa-biasa saja. Saat mereka pulang, kabar negatif pun segera menyebar.
Terus? Hadirkan customer service yang ramah dan ringan tangan. Jangan rusak mood orang yang berkunjung dengan layanan yang tidak ramah, tidak cekatan, dan penampilan tim yang buruk.
Sekali lagi, kalau ini benar-benar dilakukan, maka akan berdampak langsung ke omset. Silakan praktek. Sungguh-sungguh praktek. Semoga ngefek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke omset.
Terus? Perbaiki tampilan. Berikan kesan pertama yang memikat, baik itu website, toko, front office, dan sebagainya. Apa-apa yang terlihat, terdengar, dan terhirup, pastikan bagus.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Terus? Pilih kata-kata yang menjual. Baik itu kata-kata di terpampang di toko Anda maupun di situs Anda. Berikan penawaran yang hanya bisa diberikan oleh bisnis Anda. Misal, berupa diskon dan bonus. Atau sebaliknya, barang impor dan barang unik.
Jangan sampai, crowd sudah datang, tapi mereka hanya dipertemukan dengan kesan pertama yang hambar dan penawaran yang biasa-biasa saja. Saat mereka pulang, kabar negatif pun segera menyebar.
Terus? Hadirkan customer service yang ramah dan ringan tangan. Jangan rusak mood orang yang berkunjung dengan layanan yang tidak ramah, tidak cekatan, dan penampilan tim yang buruk.
Sekali lagi, kalau ini benar-benar dilakukan, maka akan berdampak langsung ke omset. Silakan praktek. Sungguh-sungguh praktek. Semoga ngefek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Baiknya bisnis sendiri atau bermitra?" ada yang bertanya begitu ketika saya coaching.
Terus apa jawaban saya?
Tergantung.
Bermitra itu ada keunggulan tersendiri. Kan saling melengkapi satu sama lain. Betul apa betul? Kuenya (rezekinya) mungkin dibagi-bagi, tapi kuenya sendiri membesar. Begitulah logika rezeki di balik bermitra.
Tapi, kita harus mengakui ada tipe orang yang sangat keras, sangat dominan, sekaligus perfeksionis. Nah, orang seperti ini baiknya bisnis sendiri saja. Tak perlu bermitra. Cukup cari karyawan saja.
Kalau dipaksakan bermitra, belum tentu mitranya betah. Kan repot.
Kembali ke teman-teman yang memutuskan untuk bermitra. Seandainya rugi atau gagal, bolehkah kita menyalahkan mitra? Dalam coaching itu, saya pun memberikan peringatan keras pada mereka. Be responsible.
Harusnya kita membatin, "Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang dapat untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.
Nyalah-nyalahin orang lain adalah sikap pecundang. Ya, pecundang. Maaf, memang begitulah adanya. Seorang mitra yang mangkir sekalipun, tetap saja ada kesalahan pada pihak kita. Itu artinya kita tidak selektif di awal. Atau MOU tidak jelas di awal. Sekali lagi, be responsible.
Sekiranya kita mau responsible dan mau introspeksi, maka kita akan naik level. Di mana kemudian kita akan berbenah dan berubah. Kalau begini, siapa yang diuntungkan? Kita tho? Akan beda ceritanya kalau kita nyalah-nyalahin.
Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah di balik coaching saya selama ini. Seru. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Terus apa jawaban saya?
Tergantung.
Bermitra itu ada keunggulan tersendiri. Kan saling melengkapi satu sama lain. Betul apa betul? Kuenya (rezekinya) mungkin dibagi-bagi, tapi kuenya sendiri membesar. Begitulah logika rezeki di balik bermitra.
Tapi, kita harus mengakui ada tipe orang yang sangat keras, sangat dominan, sekaligus perfeksionis. Nah, orang seperti ini baiknya bisnis sendiri saja. Tak perlu bermitra. Cukup cari karyawan saja.
Kalau dipaksakan bermitra, belum tentu mitranya betah. Kan repot.
Kembali ke teman-teman yang memutuskan untuk bermitra. Seandainya rugi atau gagal, bolehkah kita menyalahkan mitra? Dalam coaching itu, saya pun memberikan peringatan keras pada mereka. Be responsible.
Harusnya kita membatin, "Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang dapat untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.
Nyalah-nyalahin orang lain adalah sikap pecundang. Ya, pecundang. Maaf, memang begitulah adanya. Seorang mitra yang mangkir sekalipun, tetap saja ada kesalahan pada pihak kita. Itu artinya kita tidak selektif di awal. Atau MOU tidak jelas di awal. Sekali lagi, be responsible.
Sekiranya kita mau responsible dan mau introspeksi, maka kita akan naik level. Di mana kemudian kita akan berbenah dan berubah. Kalau begini, siapa yang diuntungkan? Kita tho? Akan beda ceritanya kalau kita nyalah-nyalahin.
Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah di balik coaching saya selama ini. Seru. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Meningkatkan omset salah satu caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang men-closing. Baik ketika bertemu langsung ataupun melalui telepon dan SMS/WA.
Ini sering saya sampaikan kepada peserta coaching. Intinya, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya cuma, “Ya!” Mau contoh? Simak baik-baik percakapan berikut.
“Mas, suplemen kemarin, mau diambil sendiri atau kami kirim?
"Mau dikirim pake TIKI atau JNE?”
“Mau dikirim hari ini atau besok?”
“Pembayarannya, mau ditransfer ke BCA atau BNI Syariah?”
Jangan pernah bertanya begini ke prospek, “Mas, jadi beli apa enggak?” Karena kemungkinan besar jawabannya, "Enggak."
Terus, berasumsilah bahwa mereka pasti beli. Ini bagian dari mengarahkan, baiksangka, doa, dan sugesti.
Penjualan adalah komunikasi. Perlu diingat, komunikasi adalah sekumpulan pertanyaan dan jawaban. Mengajukan pertanyaan yang keliru, jangan heran kalau jawaban dan hasil akhirnya juga keliru. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ini sering saya sampaikan kepada peserta coaching. Intinya, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya cuma, “Ya!” Mau contoh? Simak baik-baik percakapan berikut.
“Mas, suplemen kemarin, mau diambil sendiri atau kami kirim?
"Mau dikirim pake TIKI atau JNE?”
“Mau dikirim hari ini atau besok?”
“Pembayarannya, mau ditransfer ke BCA atau BNI Syariah?”
Jangan pernah bertanya begini ke prospek, “Mas, jadi beli apa enggak?” Karena kemungkinan besar jawabannya, "Enggak."
Terus, berasumsilah bahwa mereka pasti beli. Ini bagian dari mengarahkan, baiksangka, doa, dan sugesti.
Penjualan adalah komunikasi. Perlu diingat, komunikasi adalah sekumpulan pertanyaan dan jawaban. Mengajukan pertanyaan yang keliru, jangan heran kalau jawaban dan hasil akhirnya juga keliru. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau mencapai sesuatu? Mau menuju sesuatu?
Begini.
Kalau Anda ingin ke Pulau Komodo, pergilah bersama orang yang sudah bolak-balik ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Kalau Anda ingin ke Pulau Sirandah, pergilah bersama orang yang sering pergi ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Dengan begitu, adakah kemungkinan tersesat alias gagal? Ada, tapi kemungkinan itu kecil sekali.
Kalau kita coba-coba sendiri atau cari-cari sendiri, yah kelamaan. Bagaimanapun, mengikuti sang ahli yang teruji dan terbukti lebih dianjurkan.
Demikian pula dalam bisnis. Baiknya kita belajar dengan mereka yang relatif ahli dan pengalaman. Jangan trial and error sendiri.
Berani action itu perlu. Sangat perlu. Tapi nggak cukup. Setelah action, setelah melangkah, setelah memulai, hendaknya iringi dengan ilmu.
Ini pesan berharga bagi entrepreneur dan calon entrepreneur. Maksudnya gimana? Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA BISNIS. Dengan berilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif.
Ilmu kita terbatas. Pengalaman kita juga terbatas. Jangan terlalu diandalkan. Right? Carilah ilmu. Carilah guru. Zaman sekarang, namanya macam-macam. Mungkin coach, mungkin mentor.
Sekali lagi, ilmu adalah keniscayaan, terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.
Learn, then you will earn. Belajarlah, kemudian kita akan menghasilkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Begini.
Kalau Anda ingin ke Pulau Komodo, pergilah bersama orang yang sudah bolak-balik ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Kalau Anda ingin ke Pulau Sirandah, pergilah bersama orang yang sering pergi ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Dengan begitu, adakah kemungkinan tersesat alias gagal? Ada, tapi kemungkinan itu kecil sekali.
Kalau kita coba-coba sendiri atau cari-cari sendiri, yah kelamaan. Bagaimanapun, mengikuti sang ahli yang teruji dan terbukti lebih dianjurkan.
Demikian pula dalam bisnis. Baiknya kita belajar dengan mereka yang relatif ahli dan pengalaman. Jangan trial and error sendiri.
Berani action itu perlu. Sangat perlu. Tapi nggak cukup. Setelah action, setelah melangkah, setelah memulai, hendaknya iringi dengan ilmu.
Ini pesan berharga bagi entrepreneur dan calon entrepreneur. Maksudnya gimana? Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA BISNIS. Dengan berilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif.
Ilmu kita terbatas. Pengalaman kita juga terbatas. Jangan terlalu diandalkan. Right? Carilah ilmu. Carilah guru. Zaman sekarang, namanya macam-macam. Mungkin coach, mungkin mentor.
Sekali lagi, ilmu adalah keniscayaan, terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.
Learn, then you will earn. Belajarlah, kemudian kita akan menghasilkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kadang kita perlu mentor untuk memulai usaha dan mengembangkan usaha.
Istilahnya, naik level yang lebih tinggi.
Kepada internet marketer, ketika coaching, saya sering berbagi tips praktis. Terutama dalam mengelola website.
- Pastikan ada reward bagi pengunjung, sehingga pengunjung mau meninggalkan alamat emailnya dan mau men-share situs kita di socmed mereka.
- Fokuslah pada needs dan wants pengunjung. Jangan sampai memasang fitur-fitur yang tidak relevan. Salah satu penyebab kegagalan Yahoo adalah tidak fokus.
- Pastikan situs kita tampil cantik baik di desktop maupun di smartphone. Jangan salah satunya saja. User friendly itu harus, tapi tampil cantik juga harus.
- Perlakukan situs sebagai office. Socmed ibaratnya cuma stand pameran saja. Setelah traffic datang ke socmed kita, segeralah arahkan ke situs kita. Karena situs lebih bertahan lama ketimbang socmed.
Selama ini, saya memberikan coaching dengan tatap muka. Sayangnya, sebagian besar orang tidak bisa ikut karena kendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusinya buat semua.
Nah besok pagi (Jumat, 21 Juli), insya Allah saya akan menawarkan Business Coaching jarak jauh, dengan biaya yang lebih terjangkau. Yang minat, siap-siap saja. Detailnya akan diumumkan di grup WA ini.
Happy learning! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Istilahnya, naik level yang lebih tinggi.
Kepada internet marketer, ketika coaching, saya sering berbagi tips praktis. Terutama dalam mengelola website.
- Pastikan ada reward bagi pengunjung, sehingga pengunjung mau meninggalkan alamat emailnya dan mau men-share situs kita di socmed mereka.
- Fokuslah pada needs dan wants pengunjung. Jangan sampai memasang fitur-fitur yang tidak relevan. Salah satu penyebab kegagalan Yahoo adalah tidak fokus.
- Pastikan situs kita tampil cantik baik di desktop maupun di smartphone. Jangan salah satunya saja. User friendly itu harus, tapi tampil cantik juga harus.
- Perlakukan situs sebagai office. Socmed ibaratnya cuma stand pameran saja. Setelah traffic datang ke socmed kita, segeralah arahkan ke situs kita. Karena situs lebih bertahan lama ketimbang socmed.
Selama ini, saya memberikan coaching dengan tatap muka. Sayangnya, sebagian besar orang tidak bisa ikut karena kendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusinya buat semua.
Nah besok pagi (Jumat, 21 Juli), insya Allah saya akan menawarkan Business Coaching jarak jauh, dengan biaya yang lebih terjangkau. Yang minat, siap-siap saja. Detailnya akan diumumkan di grup WA ini.
Happy learning! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seperti yang teman-teman tahu, saya (Ippho Santosa) sering memberikan Business Coaching pada entrepreneur dan calon entreprenuer, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain diikuti entrepreneur, ada juga profesional (karier), investor, calon investor, dan penulis non-fiksi.
Lazimnya mereka datang ke kantor saya. Di samping itu, kadang saya bikin coaching-nya di hotel atau restoran. Awal-awal, biaya yang mereka keluarkan bisa puluhan juta rupiah. Ya, saya yang men-charge segitu. Tapi terus-terang, saya merasa kurang nyaman dengan biaya setinggi itu. Walaupun sebenarnya sah-sah saja. Toh trainer-trainer lain melakukannya.
Sejauh ini, seorang trainer yang buku dan seminarnya laku keras bisa memasarkan jasa coaching-nya seharga ratusan juta rupiah, setidaknya puluhan juta rupiah. Bukan satu-dua trainer yang begini.
Akhirnya biaya coaching itu saya tekan sedemikian rupa, hanya sekian juta rupiah. Dengan tatap muka. Dengan bertemu langsung. Sayangnya, sebagian besar orang tetap saja tidak bisa ikut karena terkendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusi yang tepat buat semua.
Kemudian, teman-teman mendesak saya untuk memberikan Business Coaching via grup WA. Setelah saya pikir-pikir, boleh juga. Memang tidak sama persis dengan pertemuan langsung, tapi dari segi result dan impact insya Allah bisa dipertanggung-jawabkan. Maksudnya, tetap ngefek.
Soal biaya, gimana? Tenang, saya tekan sebisanya, hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan ada diskon khusus untuk mereka yang mendaftar hari Jumat dan hari Sabtu (besok dan lusa). Mereka yang serius tentu tidak melewatkan diskon khusus ini.
Di grup WA ini, peserta boleh mengajukan 3 pertanyaan (konsultasi) terkait bisnis atau pengembangan diri. Saya bersama tim akan menjawabnya dalam bentuk text dan voice secara bertahap selama 3 hari. Setelah selesai, saya masih berbagi insight di grup WA tersebut secara berkala selama 3 bulan.
Dengan kata lain, proses coaching dan transfer ilmu dari saya berlangsung selama 3 bulan. Terus, adakah garansinya? Jujur saja, soal sukses atau tidak, saya tidak berani menggaransi.
Tapi izinkan saya memberikan statement ini, "Sekiranya apa-apa yang saya ajarkan sudah Anda praktekkan selama 6 bulan dengan SUNGGUH-SUNGGUH namun Anda merasa tidak ada perubahan sama sekali, maka Anda berhak untuk meminta refund."
Insya Allah akan kami refund 100%. Ya, kami refund 100%. Kami tidak berani menyebut ini sebagai garansi. Namun dari statement ini, Anda bisa menilai bahwa kami sangat serius dalam membimbing dan mengantarkan Anda menuju kesuksesan. Bukan asal coaching.
Jika Anda berminat dengan Business Coaching bersama saya, silakan tunggu kabar detailnya Jumat pagi. Happy action!
Lazimnya mereka datang ke kantor saya. Di samping itu, kadang saya bikin coaching-nya di hotel atau restoran. Awal-awal, biaya yang mereka keluarkan bisa puluhan juta rupiah. Ya, saya yang men-charge segitu. Tapi terus-terang, saya merasa kurang nyaman dengan biaya setinggi itu. Walaupun sebenarnya sah-sah saja. Toh trainer-trainer lain melakukannya.
Sejauh ini, seorang trainer yang buku dan seminarnya laku keras bisa memasarkan jasa coaching-nya seharga ratusan juta rupiah, setidaknya puluhan juta rupiah. Bukan satu-dua trainer yang begini.
Akhirnya biaya coaching itu saya tekan sedemikian rupa, hanya sekian juta rupiah. Dengan tatap muka. Dengan bertemu langsung. Sayangnya, sebagian besar orang tetap saja tidak bisa ikut karena terkendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusi yang tepat buat semua.
Kemudian, teman-teman mendesak saya untuk memberikan Business Coaching via grup WA. Setelah saya pikir-pikir, boleh juga. Memang tidak sama persis dengan pertemuan langsung, tapi dari segi result dan impact insya Allah bisa dipertanggung-jawabkan. Maksudnya, tetap ngefek.
Soal biaya, gimana? Tenang, saya tekan sebisanya, hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan ada diskon khusus untuk mereka yang mendaftar hari Jumat dan hari Sabtu (besok dan lusa). Mereka yang serius tentu tidak melewatkan diskon khusus ini.
Di grup WA ini, peserta boleh mengajukan 3 pertanyaan (konsultasi) terkait bisnis atau pengembangan diri. Saya bersama tim akan menjawabnya dalam bentuk text dan voice secara bertahap selama 3 hari. Setelah selesai, saya masih berbagi insight di grup WA tersebut secara berkala selama 3 bulan.
Dengan kata lain, proses coaching dan transfer ilmu dari saya berlangsung selama 3 bulan. Terus, adakah garansinya? Jujur saja, soal sukses atau tidak, saya tidak berani menggaransi.
Tapi izinkan saya memberikan statement ini, "Sekiranya apa-apa yang saya ajarkan sudah Anda praktekkan selama 6 bulan dengan SUNGGUH-SUNGGUH namun Anda merasa tidak ada perubahan sama sekali, maka Anda berhak untuk meminta refund."
Insya Allah akan kami refund 100%. Ya, kami refund 100%. Kami tidak berani menyebut ini sebagai garansi. Namun dari statement ini, Anda bisa menilai bahwa kami sangat serius dalam membimbing dan mengantarkan Anda menuju kesuksesan. Bukan asal coaching.
Jika Anda berminat dengan Business Coaching bersama saya, silakan tunggu kabar detailnya Jumat pagi. Happy action!
Pelatih Terbaik di Dunia, Siapakah Dia?
Publik sering menyebut-nyebut nama Tony Robbins.
Banyak tokoh berpengaruh di dunia yang belajar dari coach Tony Robbins. Siapa saja yang belajar? Beragam. Misalnya Bill Clinton, Nelson Mandela, Lady Diana, Andre Aggasi (petenis), Serena Williams (petenis), Donna Karan (DKNY), Usher (Nice & Slow), Hugh Jackman (Wolverine), Tung Desem Waringin, dan saya.
Begitulah. Di negara-negara maju, orang-orang hebat sekalipun punya pelatih. Coach. Mentor. Ini lazim terjadi.
Karena pelatih ini bisa melihat potensi seseorang dan bantu mengasah potensi tersebut. Selain itu, pelatih pun tahu bagaimana cara mencapai sesuatu di bidang tertentu. Kenapa ia lebih tahu? Karena ilmu dan pengalamannya.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti 'Business Coaching via WA Group' bersama saya dan tim, silakan WA ke 0813-8333-5503. Nanti akan disampaikan biaya dan cara-caranya.
Sebenarnya, tidak harus coaching dengan saya. Boleh dengan coach mana saja, asalkan teman-teman yakin kredibilitas dan kapasitasnya. Ingat, memiliki pembimbing yang tepat bisa mempercepat dan memperbesar hasil. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Publik sering menyebut-nyebut nama Tony Robbins.
Banyak tokoh berpengaruh di dunia yang belajar dari coach Tony Robbins. Siapa saja yang belajar? Beragam. Misalnya Bill Clinton, Nelson Mandela, Lady Diana, Andre Aggasi (petenis), Serena Williams (petenis), Donna Karan (DKNY), Usher (Nice & Slow), Hugh Jackman (Wolverine), Tung Desem Waringin, dan saya.
Begitulah. Di negara-negara maju, orang-orang hebat sekalipun punya pelatih. Coach. Mentor. Ini lazim terjadi.
Karena pelatih ini bisa melihat potensi seseorang dan bantu mengasah potensi tersebut. Selain itu, pelatih pun tahu bagaimana cara mencapai sesuatu di bidang tertentu. Kenapa ia lebih tahu? Karena ilmu dan pengalamannya.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti 'Business Coaching via WA Group' bersama saya dan tim, silakan WA ke 0813-8333-5503. Nanti akan disampaikan biaya dan cara-caranya.
Sebenarnya, tidak harus coaching dengan saya. Boleh dengan coach mana saja, asalkan teman-teman yakin kredibilitas dan kapasitasnya. Ingat, memiliki pembimbing yang tepat bisa mempercepat dan memperbesar hasil. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pengen keliling Indonesia?
Dulu sewaktu kecil dan pas-pasan, saya pengeeen banget keliling #Indonesia. Kalau saya lihat pemandangan-pemandangan di kartu pos, sepertinya indah-indah. Saya pun pengen melihatnya secara langsung.
Menatap pemandangan yang indah, siapa sih nggak pengen? Lalu, ketika saya jadi dosen di Batam sempat kebayang, kayaknya enak juga ya bisa keliling Indonesia sebagai dosen terbang. Berbagi ilmu plus jalan-jalan.
Sekarang bukan sekadar membayangkan, tapi alhamdulillah saya sudah berseminar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Kalimantan Utara, NTB, NTT, Gorontalo, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dll. Yang belum cuma Provinsi Maluku (Ini beda dengan Provinsi Maluku Utara).
Teman-teman menyebut saya Travelling Motivator.
Saya turut mendoakan, mudah-mudahan kita semua juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah di Indonesia, dengan caranya sendiri. Aamiin. Mungkin karena kunjungan dinas, kunjungan keluarga, studi banding, atau cara-cara lainnya. Yakin saja, nanti jalannya akan muncul dengan sendirinya.
Di seminar, kadang saya mengingatkan peserta untuk memuliakan ilmu. Dan Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu, di antaranya dengan membaca. Semangat membaca itu pun tersirat dalam ayat pertama dan kata pertama yang diturunkan Illahi yaitu Surat Al-Alaq yang berbunyi, ”Bacalah!"
Sayangnya, menurut Unesco, pada 2011 indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya ada 1 orang dari 1.000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius. Kondisi ini memojokkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia.
Angka produksi buku di Indonesia pun terhitung sangat rendah. Setiap tahun, cuma sekitar 7.000-8.000 judul buku yang dirilis, jauh lebih rendah ketimbang Malaysia yang merilis hingga 10.000 judul buku setiap tahunnya! Padahal penduduk kita 10 kali lipat lebih banyak daripada Malaysia!
Ironisnya lagi, jika merujuk data BPS pada tahun 2012 menunjukkan 91,68% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi. Kalau membaca? Ternyata cuma sekitar 17,66% yang menyukai membaca surat kabar, buku, atau majalah.
Pada akhirnya, mari ingatkan keluarga kita untuk lebih giat mencari ilmu, salah satunya dengan membaca buku. Teramat banyak hal hebat yang kita peroleh dengan membaca buku. Dan ini tak tergantikan hanya dengan membaca socmed. Beda. Jelas-jelas berbeda.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dulu sewaktu kecil dan pas-pasan, saya pengeeen banget keliling #Indonesia. Kalau saya lihat pemandangan-pemandangan di kartu pos, sepertinya indah-indah. Saya pun pengen melihatnya secara langsung.
Menatap pemandangan yang indah, siapa sih nggak pengen? Lalu, ketika saya jadi dosen di Batam sempat kebayang, kayaknya enak juga ya bisa keliling Indonesia sebagai dosen terbang. Berbagi ilmu plus jalan-jalan.
Sekarang bukan sekadar membayangkan, tapi alhamdulillah saya sudah berseminar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Kalimantan Utara, NTB, NTT, Gorontalo, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dll. Yang belum cuma Provinsi Maluku (Ini beda dengan Provinsi Maluku Utara).
Teman-teman menyebut saya Travelling Motivator.
Saya turut mendoakan, mudah-mudahan kita semua juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah di Indonesia, dengan caranya sendiri. Aamiin. Mungkin karena kunjungan dinas, kunjungan keluarga, studi banding, atau cara-cara lainnya. Yakin saja, nanti jalannya akan muncul dengan sendirinya.
Di seminar, kadang saya mengingatkan peserta untuk memuliakan ilmu. Dan Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu, di antaranya dengan membaca. Semangat membaca itu pun tersirat dalam ayat pertama dan kata pertama yang diturunkan Illahi yaitu Surat Al-Alaq yang berbunyi, ”Bacalah!"
Sayangnya, menurut Unesco, pada 2011 indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya ada 1 orang dari 1.000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius. Kondisi ini memojokkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia.
Angka produksi buku di Indonesia pun terhitung sangat rendah. Setiap tahun, cuma sekitar 7.000-8.000 judul buku yang dirilis, jauh lebih rendah ketimbang Malaysia yang merilis hingga 10.000 judul buku setiap tahunnya! Padahal penduduk kita 10 kali lipat lebih banyak daripada Malaysia!
Ironisnya lagi, jika merujuk data BPS pada tahun 2012 menunjukkan 91,68% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi. Kalau membaca? Ternyata cuma sekitar 17,66% yang menyukai membaca surat kabar, buku, atau majalah.
Pada akhirnya, mari ingatkan keluarga kita untuk lebih giat mencari ilmu, salah satunya dengan membaca buku. Teramat banyak hal hebat yang kita peroleh dengan membaca buku. Dan ini tak tergantikan hanya dengan membaca socmed. Beda. Jelas-jelas berbeda.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lupakan passion-mu!
"Lho kok Mas Ippho ngomong gitu? Bukannya selama ini ngomong 'follow your passion'? Kenapa nih?"
Idealnya sih begitu, follow your passion.
Tapi, bagaimana kalau ternyata passion-mu tak seimbang dengan kemampuanmu? Anda suka menyanyi, misalnya. Tapi menurut orang-orang, suara Anda dan skill menyanyi Anda biasa-biasa saja. Bahkan terdengar buruk. Apa iya terus-menerus dipaksakan? Sampai kapan?
Belum lagi kalau rupanya passion-mu tidak match dengan keadaan dan keinginan pasar. Anda suka melukis, misalnya. Atau suka siaran. Perusahaan mana yang mau merekrut? Terbatas tho? Cermati deh skill-skill yang benar-benar dibutuhkan perusahaan. Mau jadi entrepreneur dengan melukis? Dengan siaran? Hm, sepertinya Anda harus berpikir ulang.
Jangan pula kita asyik bergonta-ganti pekerjaan atau bergonta-ganti produk, hanya karena Anda merasa bidang saat ini tidak terlalu sesuai dengan passion. Ingat, waktu terus berlalu. Umur bertambah, tanggungan bertambah. Keluarga gimana? Hm, ada baiknya Anda mencoba pekerjaan yang tidak sesuai passion dan berusaha pelan-pelan mencintainya.
Terus, kegiatan yang Anda anggap sesuai dengan passion (menyanyi, melukis, siaran dll), Anda jadikan sebagai pekerjaan sampingan atau kesibukan sampingan. Yah anggap saja wadah refreshing. Seru juga. Ketika weekend, Anda menyanyi. Ketika cuti, Anda melukis. Tetap happy tho?
Kejadian lain nih. Misal saat ini Anda menggeluti bidang peternakan dan Anda merasa ini bidang bukan passion Anda. Terus, terlintas di pikiran, Anda mau meninggalkan bidang ini. Hm, mungkin Anda berpikir begitu kalau hasilnya masih receh. Coba bayangkan kalau ternyata hasilnya Rp250juta sebulan. Apa iya mau ditinggalkan begitu saja hanya karena 'nggak passion'?
Tulisan ini sengaja saya buat untuk Anda-Anda yang tengah 'bertanya-tanya soal passion'. Mungkin tidak ideal, tapi semoga mensolusikan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Copas tulisan ini buat teman-teman kita ya.
"Lho kok Mas Ippho ngomong gitu? Bukannya selama ini ngomong 'follow your passion'? Kenapa nih?"
Idealnya sih begitu, follow your passion.
Tapi, bagaimana kalau ternyata passion-mu tak seimbang dengan kemampuanmu? Anda suka menyanyi, misalnya. Tapi menurut orang-orang, suara Anda dan skill menyanyi Anda biasa-biasa saja. Bahkan terdengar buruk. Apa iya terus-menerus dipaksakan? Sampai kapan?
Belum lagi kalau rupanya passion-mu tidak match dengan keadaan dan keinginan pasar. Anda suka melukis, misalnya. Atau suka siaran. Perusahaan mana yang mau merekrut? Terbatas tho? Cermati deh skill-skill yang benar-benar dibutuhkan perusahaan. Mau jadi entrepreneur dengan melukis? Dengan siaran? Hm, sepertinya Anda harus berpikir ulang.
Jangan pula kita asyik bergonta-ganti pekerjaan atau bergonta-ganti produk, hanya karena Anda merasa bidang saat ini tidak terlalu sesuai dengan passion. Ingat, waktu terus berlalu. Umur bertambah, tanggungan bertambah. Keluarga gimana? Hm, ada baiknya Anda mencoba pekerjaan yang tidak sesuai passion dan berusaha pelan-pelan mencintainya.
Terus, kegiatan yang Anda anggap sesuai dengan passion (menyanyi, melukis, siaran dll), Anda jadikan sebagai pekerjaan sampingan atau kesibukan sampingan. Yah anggap saja wadah refreshing. Seru juga. Ketika weekend, Anda menyanyi. Ketika cuti, Anda melukis. Tetap happy tho?
Kejadian lain nih. Misal saat ini Anda menggeluti bidang peternakan dan Anda merasa ini bidang bukan passion Anda. Terus, terlintas di pikiran, Anda mau meninggalkan bidang ini. Hm, mungkin Anda berpikir begitu kalau hasilnya masih receh. Coba bayangkan kalau ternyata hasilnya Rp250juta sebulan. Apa iya mau ditinggalkan begitu saja hanya karena 'nggak passion'?
Tulisan ini sengaja saya buat untuk Anda-Anda yang tengah 'bertanya-tanya soal passion'. Mungkin tidak ideal, tapi semoga mensolusikan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Copas tulisan ini buat teman-teman kita ya.