Ippho Santosa - ipphoright
22.8K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kemarin saya diundang lunch oleh seorang dirut dan tim di sebuah bank syariah. Kali itu, kami membahas berbagai masalah dan tantangan di wisata halal di Tanah Air. Ya, munculnya masalah dan tantangan sebenarnya sesuatu yang wajar.

Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya, dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.

Di sisi lain, sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.

"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang beroleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.

Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Baiknya bisnis sendiri atau bermitra?" ada yang bertanya begitu ketika saya coaching.

Terus apa jawaban saya?

Tergantung.

Bermitra itu ada keunggulan tersendiri. Kan saling melengkapi satu sama lain. Betul apa betul? Kuenya (rezekinya) mungkin dibagi-bagi, tapi kuenya sendiri membesar. Begitulah logika rezeki di balik bermitra.

Tapi, kita harus mengakui ada tipe orang yang sangat keras, sangat dominan, sekaligus perfeksionis. Nah, orang seperti ini baiknya bisnis sendiri saja. Tak perlu bermitra. Cukup cari karyawan saja.

Kalau dipaksakan bermitra, belum tentu mitranya betah. Kan repot.

Kembali ke teman-teman yang memutuskan untuk bermitra. Seandainya rugi atau gagal, bolehkah kita menyalahkan mitra? Dalam coaching itu, saya pun memberikan peringatan keras pada mereka. Be responsible.

Harusnya kita membatin, "Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang dapat untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.

Nyalah-nyalahin orang lain adalah sikap pecundang. Ya, pecundang. Maaf, memang begitulah adanya. Seorang mitra yang mangkir sekalipun, tetap saja ada kesalahan pada pihak kita. Itu artinya kita tidak selektif di awal. Atau MOU tidak jelas di awal. Sekali lagi, be responsible.

Sekiranya kita mau responsible dan mau introspeksi, maka kita akan naik level. Di mana kemudian kita akan berbenah dan berubah. Kalau begini, siapa yang diuntungkan? Kita tho? Akan beda ceritanya kalau kita nyalah-nyalahin.

Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah di balik coaching saya selama ini. Seru. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.