Sevel alias 7/11 akhirnya hengkang dari Indonesia, setelah sekian tahun merugi. Kilah mereka, karena tidak boleh menjual miras lagi. Kalau menurut saya, mereka membiarkan dirinya ditiru dan kurang berinovasi.
Tiru-meniru, sebenarnya ini sudah sangat lazim dalam dunia bisnis.
Btw, China pernah menegaskan dirinya sebagai negara 'King of Counterfeiters' atau 'Rajanya Peniru' dan sulit dituntut secara hukum, terutama di China sendiri. Sayangnya, peniruan mereka sudah mengarah pada penjiplakan bahkan pemalsuan. Ini tidak sehat.
Dari seluruh barang dan merek yang dipalsukan dunia sepanjang 2008-2010, China memproduksi 70% tiruan tersebut. Nggak percaya? Googling saja. Bahkan, tanpa Googling sekalipun, kita bisa melihat secara kasat mata, ini benar-benar terjadi.
Apakah peniruan-peniruan itu membuat merek-merek besar padam dan tenggelam? Boro-boro padam, merek-merek besar malah semakin bersinar. Menurut mereka, lebih baik fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi. Adalah pekerjaan sia-sia kalau berharap China 'bertobat' terkait peniruan.
Begini. Jangan gagal paham. Saya tidak membenarkan tindakan pemalsuan dan demikian pula bunyi hukum di berbagai negara. Namun saya setuju dengan reaksi merek-merek besar itu. Alih-alih bermental pecundang, mereka fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi.
Sekarang kita lihat PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pola pikir customer-oriented menjadi strategi inovasi mereka. Pola pikir ini telah ditanamkan dan diwujudkan dalam pelayanan yang memanusiakan manusia sejak 7 tahun yang lalu. Sudah jadi rahasia umum kalau layanan perkeretaapian dulu sangat memprihatinkan.
“KAI bertekad mentransformasi semua kesan buruk itu dengan memberikan layanan yang membuat nyaman penumpangnya. Kebijakan one man one seat, Toilet Ramah Lingkungan, sistem boarding, kereta ekonomi AC, Commuter Female Wagon, dan layanan crew yang ramah dan andal telah memberikan pelayanan angkutan penumpang yang manusiawi,” ungkap Kuncoro Wibowo, Managing Director of Commerce and IT.
KAI memilih untuk berbenah.
Maaf, rada beda dengan kita-kita yang UKM, yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Sering pula menyalahkan peraturan pemerintah. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tiru-meniru, sebenarnya ini sudah sangat lazim dalam dunia bisnis.
Btw, China pernah menegaskan dirinya sebagai negara 'King of Counterfeiters' atau 'Rajanya Peniru' dan sulit dituntut secara hukum, terutama di China sendiri. Sayangnya, peniruan mereka sudah mengarah pada penjiplakan bahkan pemalsuan. Ini tidak sehat.
Dari seluruh barang dan merek yang dipalsukan dunia sepanjang 2008-2010, China memproduksi 70% tiruan tersebut. Nggak percaya? Googling saja. Bahkan, tanpa Googling sekalipun, kita bisa melihat secara kasat mata, ini benar-benar terjadi.
Apakah peniruan-peniruan itu membuat merek-merek besar padam dan tenggelam? Boro-boro padam, merek-merek besar malah semakin bersinar. Menurut mereka, lebih baik fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi. Adalah pekerjaan sia-sia kalau berharap China 'bertobat' terkait peniruan.
Begini. Jangan gagal paham. Saya tidak membenarkan tindakan pemalsuan dan demikian pula bunyi hukum di berbagai negara. Namun saya setuju dengan reaksi merek-merek besar itu. Alih-alih bermental pecundang, mereka fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi.
Sekarang kita lihat PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pola pikir customer-oriented menjadi strategi inovasi mereka. Pola pikir ini telah ditanamkan dan diwujudkan dalam pelayanan yang memanusiakan manusia sejak 7 tahun yang lalu. Sudah jadi rahasia umum kalau layanan perkeretaapian dulu sangat memprihatinkan.
“KAI bertekad mentransformasi semua kesan buruk itu dengan memberikan layanan yang membuat nyaman penumpangnya. Kebijakan one man one seat, Toilet Ramah Lingkungan, sistem boarding, kereta ekonomi AC, Commuter Female Wagon, dan layanan crew yang ramah dan andal telah memberikan pelayanan angkutan penumpang yang manusiawi,” ungkap Kuncoro Wibowo, Managing Director of Commerce and IT.
KAI memilih untuk berbenah.
Maaf, rada beda dengan kita-kita yang UKM, yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Sering pula menyalahkan peraturan pemerintah. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seminggu terakhir, saya berada di Jerman. Seminar di Braunschweig, Frankfurt, dan Dortmund. Alhamdulillah, jumlah peserta di Jerman melampaui target. Berlanjut, jalan-jalan ke Belanda dan Belgia. Alhamdulillah.
Tahukah Anda?
- Luasnya Jerman kira-kira dua setengah kali Pulau Jawa. Dan itu sudah gabungan dua negara, Jerman Barat dan Jerman Timur.
- Luasnya Belanda lebih kecil daripada luasnya Jawa Timur. Bahkan sebagian besar daratannya berada di bawah permukaan air laut.
Kecil ya? Iya.
Tapi, dulu mereka berhasil menjajah berbagai negara secara langsung. Sekarang? Menjajah berbagai negara secara tidak langsung (melalui ekonomi dan budaya). Bahasa mereka digandrungi. Produk-produk mereka juga digandrungi.
Apa sih kuncinya?
Banyak. Salah satunya, mereka sangat cinta (love) dan bangga (pride) dengan bangsanya.
Misal, kita tinggal di sebuah kampung. Karena kita tinggal di kampung itu, akhirnya kita bisa berkeluarga, beribadah, dan bekerja. Bahkan bebas dari ancaman kampung yang lain. Adalah wajar kalau kemudian kita mencintai dan membela kampung itu.
Bukan kebetulan, kampung itu punya umbul-umbul tersendiri. Punya yell-yell tersendiri. Sedikit-banyak, ini semua merekatkan dan menyatukan warga kampung tersebut. Bolehkah? Boleh, insya Allah.
Kalau kampung saja boleh, tentu bangsa lebih boleh lagi. Nah, itulah Indonesia. Lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaannya. Sangat boleh, insya Allah (Saya sempat terheran-heran sama mereka yang anti sama bendera dan 'Indonesia Raya').
Mungkin, belum ideal pengurus-pengurus dan orang-orang di negeri ini. Jauh dari ideal. Tapi, jangan sampai itu membuat kita anti dan tidak mencintai negeri ini. Apalagi mencaci-maki. Adalah keliru bila itu sampai terjadi. NKRI, hendaknya selalu melekat di hati.
Sulit seseorang itu bisa maju jika ia tidak memiliki love dan pride terhadap asal-usulnya, terhadap bangsanya. Lha, harusnya? Ada love. Ada pride. Tanpa perlu merendahkan bangsa yang lain. Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, dan HOS Tjokro adalah sosok-sosok yang terbukti memiliki love dan pride atas negeri ini.
Saya, Ippho Santosa, mengajak Anda semua untuk memiliki love dan pride atas negeri ini. Semoga Anda setuju dengan tulisan ini, sepenuh hati.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright ini. Silakan ajak keluarga dan teman-teman kita untuk bergabung)
Tahukah Anda?
- Luasnya Jerman kira-kira dua setengah kali Pulau Jawa. Dan itu sudah gabungan dua negara, Jerman Barat dan Jerman Timur.
- Luasnya Belanda lebih kecil daripada luasnya Jawa Timur. Bahkan sebagian besar daratannya berada di bawah permukaan air laut.
Kecil ya? Iya.
Tapi, dulu mereka berhasil menjajah berbagai negara secara langsung. Sekarang? Menjajah berbagai negara secara tidak langsung (melalui ekonomi dan budaya). Bahasa mereka digandrungi. Produk-produk mereka juga digandrungi.
Apa sih kuncinya?
Banyak. Salah satunya, mereka sangat cinta (love) dan bangga (pride) dengan bangsanya.
Misal, kita tinggal di sebuah kampung. Karena kita tinggal di kampung itu, akhirnya kita bisa berkeluarga, beribadah, dan bekerja. Bahkan bebas dari ancaman kampung yang lain. Adalah wajar kalau kemudian kita mencintai dan membela kampung itu.
Bukan kebetulan, kampung itu punya umbul-umbul tersendiri. Punya yell-yell tersendiri. Sedikit-banyak, ini semua merekatkan dan menyatukan warga kampung tersebut. Bolehkah? Boleh, insya Allah.
Kalau kampung saja boleh, tentu bangsa lebih boleh lagi. Nah, itulah Indonesia. Lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaannya. Sangat boleh, insya Allah (Saya sempat terheran-heran sama mereka yang anti sama bendera dan 'Indonesia Raya').
Mungkin, belum ideal pengurus-pengurus dan orang-orang di negeri ini. Jauh dari ideal. Tapi, jangan sampai itu membuat kita anti dan tidak mencintai negeri ini. Apalagi mencaci-maki. Adalah keliru bila itu sampai terjadi. NKRI, hendaknya selalu melekat di hati.
Sulit seseorang itu bisa maju jika ia tidak memiliki love dan pride terhadap asal-usulnya, terhadap bangsanya. Lha, harusnya? Ada love. Ada pride. Tanpa perlu merendahkan bangsa yang lain. Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, dan HOS Tjokro adalah sosok-sosok yang terbukti memiliki love dan pride atas negeri ini.
Saya, Ippho Santosa, mengajak Anda semua untuk memiliki love dan pride atas negeri ini. Semoga Anda setuju dengan tulisan ini, sepenuh hati.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright ini. Silakan ajak keluarga dan teman-teman kita untuk bergabung)
Saya sudah beberapa kali diundang berseminar di Eropa. Tapi ada saja halangannya. Seringkali batal karena alasan 'bentrok jadwal'. Nah, baru kesampaian berseminar di sana pada akhir April yang lalu. Ya, demikianlah takdirnya.
Maka adil dan tenanglah dalam menyikapi takdir. Segala sesuatu ada waktunya. Saya ulang, segala sesuatu ada waktunya.
Inilah pesan saya:
- Takdirmu selalu ontime.
- Datangnya tak pernah lebih cepat.
- Datangnya tak pernah lebih lambat.
Obama pensiun jadi presiden di usia 50-an.
Trump mulai jadi presiden di usia 70-an.
Jokowi jadi presiden di usia 50-an.
JK 'hanya' jadi wakil presiden di usia 70-an.
Nggak ada yang salah tho?
Steve Jobs menjadi salah satu ikon dalam bisnis dan inovasi. Tapi umurnya cuma 50-an.
Pablo Escobar, kok bisa jadi salah satu orang terkaya di dunia menurut Forbes, padahal dia seorang pengedar narkoba. Ya, tapi umurnya cuma 40-an.
Masing-masing ada waktunya.
Begini. Berbanding Jakarta, Papua lebih awal dari segi waktu. Sekitar 2 jam lebih awal. Tapi bukan berarti Papua lebih maju. Di sisi lain, Amerika dan Eropa lebih lambat dari segi waktu tapi terbukti bisa lebih maju dari Indonesia.
Itu sekedar analogi saja. Sekali lagi, masing-masing punya takdirnya sendiri, punya waktunya sendiri. Karena tulisan ini sangat penting, baiknya di-share kepada teman-teman Anda.
Yakinlah:
- Mereka yang lebih sukses, bukan berarti mereka 'lebih awal' darimu.
- Mereka yang belum sukses, bukan berarti mereka 'lebih telat' darimu.
Silakan belajar dari orang muda yang sukses. Belajar itu harus tho? Namun setelah kita mempelajari dan mengikuti, kita mesti paham sepaham-pahamnya bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri dan punya waktunya sendiri.
Memaksakan diri kita seperti takdir orang lain adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan sangat meresahkan. Bahkan bisa menjurus pada kufur nikmat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Mari ajak teman-teman kita bergabung ke Telegram. Beritahu mereka bahwa Telegram lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Maka adil dan tenanglah dalam menyikapi takdir. Segala sesuatu ada waktunya. Saya ulang, segala sesuatu ada waktunya.
Inilah pesan saya:
- Takdirmu selalu ontime.
- Datangnya tak pernah lebih cepat.
- Datangnya tak pernah lebih lambat.
Obama pensiun jadi presiden di usia 50-an.
Trump mulai jadi presiden di usia 70-an.
Jokowi jadi presiden di usia 50-an.
JK 'hanya' jadi wakil presiden di usia 70-an.
Nggak ada yang salah tho?
Steve Jobs menjadi salah satu ikon dalam bisnis dan inovasi. Tapi umurnya cuma 50-an.
Pablo Escobar, kok bisa jadi salah satu orang terkaya di dunia menurut Forbes, padahal dia seorang pengedar narkoba. Ya, tapi umurnya cuma 40-an.
Masing-masing ada waktunya.
Begini. Berbanding Jakarta, Papua lebih awal dari segi waktu. Sekitar 2 jam lebih awal. Tapi bukan berarti Papua lebih maju. Di sisi lain, Amerika dan Eropa lebih lambat dari segi waktu tapi terbukti bisa lebih maju dari Indonesia.
Itu sekedar analogi saja. Sekali lagi, masing-masing punya takdirnya sendiri, punya waktunya sendiri. Karena tulisan ini sangat penting, baiknya di-share kepada teman-teman Anda.
Yakinlah:
- Mereka yang lebih sukses, bukan berarti mereka 'lebih awal' darimu.
- Mereka yang belum sukses, bukan berarti mereka 'lebih telat' darimu.
Silakan belajar dari orang muda yang sukses. Belajar itu harus tho? Namun setelah kita mempelajari dan mengikuti, kita mesti paham sepaham-pahamnya bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri dan punya waktunya sendiri.
Memaksakan diri kita seperti takdir orang lain adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan sangat meresahkan. Bahkan bisa menjurus pada kufur nikmat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Mari ajak teman-teman kita bergabung ke Telegram. Beritahu mereka bahwa Telegram lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Berbakti itu harus.
Berbakti itu wajib.
Kadang, mesti dipaksakan.
Jangan nunggu cukup.
Jangan nunggu luang.
Bolehkah berbakti dengan berutang?
Idealnya sih jangan ngutang. Tapi kalau terpaksa, dalam rangka berbakti pada orangtua, silakan saja ngutang. Sekali lagi, silakan saja ngutang. Yang penting, Anda punya kemampuan untuk membayar (dan bebas riba, tentunya).
Yakinlah, berbakti nggak mungkin rugi.
Mumpung diri kita masih ada rezeki. Mumpung diri kita masih ada umur. Mumpung orangtua kita masih ada umur. Betapa banyak anak yang akhirnya nyesel, karena nggak sempat berbakti. Dan, sekiranya orangtua tidak meminta, tetaplah kita memberi.
Umur #OrangtuaKita mungkin nggak lama lagi. Jangan lagi kita kasih beban. Sisa-sisa umurnya, isilah dengan kebahagiaan dan kedamaian. Hei, kapan lagi mau berbakti? Apalagi kita sama-sama tahu, berbakti mengundang rezeki, durhaka mengundang petaka.
Ratusan rakaat sholatmu, jutaan rupiah sedekahmu, belasan kali umrahmu, itu semua bisa terkikis habis nilainya jika dirimu durhaka kepada orangtuamu atau mengabaikan orangtuamu.
Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berbakti itu wajib.
Kadang, mesti dipaksakan.
Jangan nunggu cukup.
Jangan nunggu luang.
Bolehkah berbakti dengan berutang?
Idealnya sih jangan ngutang. Tapi kalau terpaksa, dalam rangka berbakti pada orangtua, silakan saja ngutang. Sekali lagi, silakan saja ngutang. Yang penting, Anda punya kemampuan untuk membayar (dan bebas riba, tentunya).
Yakinlah, berbakti nggak mungkin rugi.
Mumpung diri kita masih ada rezeki. Mumpung diri kita masih ada umur. Mumpung orangtua kita masih ada umur. Betapa banyak anak yang akhirnya nyesel, karena nggak sempat berbakti. Dan, sekiranya orangtua tidak meminta, tetaplah kita memberi.
Umur #OrangtuaKita mungkin nggak lama lagi. Jangan lagi kita kasih beban. Sisa-sisa umurnya, isilah dengan kebahagiaan dan kedamaian. Hei, kapan lagi mau berbakti? Apalagi kita sama-sama tahu, berbakti mengundang rezeki, durhaka mengundang petaka.
Ratusan rakaat sholatmu, jutaan rupiah sedekahmu, belasan kali umrahmu, itu semua bisa terkikis habis nilainya jika dirimu durhaka kepada orangtuamu atau mengabaikan orangtuamu.
Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sewaktu kecil, saya sangat dekat sama nenek saya. Anak nenek, kata orang. Ini semacam istilah anak mami.
Pembalap F1, Rio Haryanto, juga kadang-kadang disebut anak mami. Disebut begitu lantaran dekat sama ibunya.
Cristiano Ronaldo pun terkenal dekat dengan ibunya. Ia sempat memberikan kejutan kepada ibunya. Nggak main-main, ketika ibunya berulang tahun pada 31 Desember 2015, Ronaldo menghadiahkan sebuah mobil Porsche Boxster berwarna putih!
Disebut anak mami, emang napa? Satu temuan dari Grant Study, Harvard University, justru menunjukkan ‘anak mami’ memiliki potensi sukses lebih besar ketimbang mereka yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ibunya. Nah lho!
Studi tersebut memaparkan 'anak mami' secara konsisten dan persisten mengalami peningkatan karier dan income. Sedangkan pria yang selalu bersitegang dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan bahkan sering mandek!
Pria yang harmonis dan berbakti sama ibunya diketahui beroleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Selain itu, risiko terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah. Keren ya, berbakti itu ternyata menyukseskan juga menyehatkan!
Btw, benarkah penelitian ini? Grant Study adalah penelitian terkait hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula tahun 1938 dan masih berjalan hingga sekarang. Studi ini digelar 2 tahun sekali, dengan meneliti kehidupan 200-an mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih kuliah, lulus, dan bekerja.
Menurut YourTango.com pula, pria yang berlabel 'anak mami' rupa-rupanya cenderung lebih setia, lebih empati, lebih bertanggung-jawab, dan lebih menghormati wanita. Jadi, nggak usah risih disebut 'anak mami'. Hehehe. Asal nggak cengeng saja.
Sekian dari saya, Ippho Santosa (Setiap tulisan saya boleh di-share, mudah-mudahan membawa perubahan)
Pembalap F1, Rio Haryanto, juga kadang-kadang disebut anak mami. Disebut begitu lantaran dekat sama ibunya.
Cristiano Ronaldo pun terkenal dekat dengan ibunya. Ia sempat memberikan kejutan kepada ibunya. Nggak main-main, ketika ibunya berulang tahun pada 31 Desember 2015, Ronaldo menghadiahkan sebuah mobil Porsche Boxster berwarna putih!
Disebut anak mami, emang napa? Satu temuan dari Grant Study, Harvard University, justru menunjukkan ‘anak mami’ memiliki potensi sukses lebih besar ketimbang mereka yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ibunya. Nah lho!
Studi tersebut memaparkan 'anak mami' secara konsisten dan persisten mengalami peningkatan karier dan income. Sedangkan pria yang selalu bersitegang dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan bahkan sering mandek!
Pria yang harmonis dan berbakti sama ibunya diketahui beroleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Selain itu, risiko terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah. Keren ya, berbakti itu ternyata menyukseskan juga menyehatkan!
Btw, benarkah penelitian ini? Grant Study adalah penelitian terkait hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula tahun 1938 dan masih berjalan hingga sekarang. Studi ini digelar 2 tahun sekali, dengan meneliti kehidupan 200-an mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih kuliah, lulus, dan bekerja.
Menurut YourTango.com pula, pria yang berlabel 'anak mami' rupa-rupanya cenderung lebih setia, lebih empati, lebih bertanggung-jawab, dan lebih menghormati wanita. Jadi, nggak usah risih disebut 'anak mami'. Hehehe. Asal nggak cengeng saja.
Sekian dari saya, Ippho Santosa (Setiap tulisan saya boleh di-share, mudah-mudahan membawa perubahan)
Untuk social media, Anda lebih aktif di mana? Facebook, Twitter, atau Instagram? Sebagai konsumen atau produsen? Btw, tulisan berikut sangatlah penting. Sisihkan waktu Anda 1 menit untuk menyimaknya. Tenang-tenang.
Inilah potret pengguna Instagram (IG) di Indonesia, menurut Paul Webster:
Pengguna Instagram (IG) di Indonesia 59% adalah anak muda, berusia 18-24 tahun yang relatif terdidik dan relatif mapan. Secara umum, mereka tidak pernah pusing soal pulsa dan kuota.
Malah, mereka berani spending di online shop. Boleh dibilang, mereka produktif sekaligus konsumtif. Hm, pasar yang sangat menarik kan?
Mereka pun proaktif dalam mencari informasi, tidak pasif menunggu. Bahkan mereka mampu mempengaruhi netizen dalam hal mengabarkan, berbelanja, berpakaian, dan berwisata.
88% pengguna menggunakan filter dan 97% menggunakan fitur search untuk mencari informasi yang lebih spesifik. Artinya, mereka tahu betul apa yang mereka butuhkan.
Cukupkah sampai di situ? Tidak. Ternyata 49% pengguna membeli produk dari penjual/merek yang mereka ikuti (follow). Ya, mereka membeli!
Fakta-fakta ini amat menggiurkan bagi entrepreneur dan marketer. Itu artinya, Anda harus segera membuat akun Instagram, mengajak netizen mem-follow akun Anda, dan sekitar 50% akan membeli dari Anda.
Dengan pasar semenarik ini, sudahkah Anda menggarap para Instagrammers ini secara optimal? Atau cuma sekedar punya akun IG tapi tidak teroptimasi dengan efektif?
Sekali lagi, ini adalah pasar yang sangat menarik (baca: sangat menghasilkan). Teramat sayang kalau diabaikan, terutama jika Anda seorang marketer atau entrepreneur.
Pertanyaan berikutnya, maukah Anda:
- Akun Instagram-nya nangkring di HALAMAN 1 GOOGLE? Bahkan mengalahkan web? Mendominasi di YouTube dan Google?
- Akun Instagram-nya muncul di TOP 7 hasil pencarian di Instagram?
- Postingan IG Anda menjadi TOP 10 di setiap pencarian berdasarkan hashtag?
- Melacak dan membuat hashtag yang populer juga berpengaruh?
- Merancang Semi Auto-Pilot Instagram: Penjadwalan Postingan, Auto-Follow, Auto-Like, Auto-Comment, hingga menambah follower sesuai target pasar Anda?
Inilah materi training 'Instagram & YouTube Marketing' bersama saya (Ippho Santosa) dan tim. Tepatnya, 13 dan 14 Mei (jam 08.00 - 17.00) di Kampus Umar Usman, Jakarta. SMS 0812-8777-7100.
Satu lagi, pengiklan di Instagram melonjak sampai 1 jutaan. Ya, meningkat dua kali lipat sejak September 2016 lalu. Ini sebuah angka yang benar-benar wow!
Sudah saatnya kita jadi pemain alias menghasilkan uang dari Instagram dan YouTube. Jangan sekedar jadi penonton! Siap?
Inilah potret pengguna Instagram (IG) di Indonesia, menurut Paul Webster:
Pengguna Instagram (IG) di Indonesia 59% adalah anak muda, berusia 18-24 tahun yang relatif terdidik dan relatif mapan. Secara umum, mereka tidak pernah pusing soal pulsa dan kuota.
Malah, mereka berani spending di online shop. Boleh dibilang, mereka produktif sekaligus konsumtif. Hm, pasar yang sangat menarik kan?
Mereka pun proaktif dalam mencari informasi, tidak pasif menunggu. Bahkan mereka mampu mempengaruhi netizen dalam hal mengabarkan, berbelanja, berpakaian, dan berwisata.
88% pengguna menggunakan filter dan 97% menggunakan fitur search untuk mencari informasi yang lebih spesifik. Artinya, mereka tahu betul apa yang mereka butuhkan.
Cukupkah sampai di situ? Tidak. Ternyata 49% pengguna membeli produk dari penjual/merek yang mereka ikuti (follow). Ya, mereka membeli!
Fakta-fakta ini amat menggiurkan bagi entrepreneur dan marketer. Itu artinya, Anda harus segera membuat akun Instagram, mengajak netizen mem-follow akun Anda, dan sekitar 50% akan membeli dari Anda.
Dengan pasar semenarik ini, sudahkah Anda menggarap para Instagrammers ini secara optimal? Atau cuma sekedar punya akun IG tapi tidak teroptimasi dengan efektif?
Sekali lagi, ini adalah pasar yang sangat menarik (baca: sangat menghasilkan). Teramat sayang kalau diabaikan, terutama jika Anda seorang marketer atau entrepreneur.
Pertanyaan berikutnya, maukah Anda:
- Akun Instagram-nya nangkring di HALAMAN 1 GOOGLE? Bahkan mengalahkan web? Mendominasi di YouTube dan Google?
- Akun Instagram-nya muncul di TOP 7 hasil pencarian di Instagram?
- Postingan IG Anda menjadi TOP 10 di setiap pencarian berdasarkan hashtag?
- Melacak dan membuat hashtag yang populer juga berpengaruh?
- Merancang Semi Auto-Pilot Instagram: Penjadwalan Postingan, Auto-Follow, Auto-Like, Auto-Comment, hingga menambah follower sesuai target pasar Anda?
Inilah materi training 'Instagram & YouTube Marketing' bersama saya (Ippho Santosa) dan tim. Tepatnya, 13 dan 14 Mei (jam 08.00 - 17.00) di Kampus Umar Usman, Jakarta. SMS 0812-8777-7100.
Satu lagi, pengiklan di Instagram melonjak sampai 1 jutaan. Ya, meningkat dua kali lipat sejak September 2016 lalu. Ini sebuah angka yang benar-benar wow!
Sudah saatnya kita jadi pemain alias menghasilkan uang dari Instagram dan YouTube. Jangan sekedar jadi penonton! Siap?
Saya adalah jenis orang yang percaya pada tempaan sekolah dan perguruan tinggi. Tapi, kita harus mengakui, perguruan tinggi bukanlah segala-galanya.
Tak sedikit orang-orang terkaya di dunia yang merupakan drop out dari perguruan tinggi.
Mau contoh?
Matt Mullenweg, pendiri WordPress.
Arash Ferdowsi, pendiri DropBox.
David Karp, pendiri Tumblr.
Mark Zuckerberg, pendiri Facebook.
Bill Gates, pendiri Microsoft.
Stacey Ferreira, orang kepercayaan Richard Branson.
Richard Branson, pendiri Virgin Group.
Di kalangan seniman, kita juga mengenal Ed Sheeran (Shape of You) dan Samuel L Jackson (Avengers). Mereka drop out.
Di kalangan ilmuwan, kita juga mengenal Buckminster Fuller, Isaac Newton, dan Albert Einstein. Mereka drop out.
Ya, kita harus mengakui, perguruan tinggi bukanlah segala-galanya dalam meraih kesuksesan. Intinya, mau belajar tho?
Tak perlu diperdebatkan lagi, mau belajar, berani, gigih, visioner, dan pandai membawa diri adalah faktor-faktor penentu kesuksesan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tak sedikit orang-orang terkaya di dunia yang merupakan drop out dari perguruan tinggi.
Mau contoh?
Matt Mullenweg, pendiri WordPress.
Arash Ferdowsi, pendiri DropBox.
David Karp, pendiri Tumblr.
Mark Zuckerberg, pendiri Facebook.
Bill Gates, pendiri Microsoft.
Stacey Ferreira, orang kepercayaan Richard Branson.
Richard Branson, pendiri Virgin Group.
Di kalangan seniman, kita juga mengenal Ed Sheeran (Shape of You) dan Samuel L Jackson (Avengers). Mereka drop out.
Di kalangan ilmuwan, kita juga mengenal Buckminster Fuller, Isaac Newton, dan Albert Einstein. Mereka drop out.
Ya, kita harus mengakui, perguruan tinggi bukanlah segala-galanya dalam meraih kesuksesan. Intinya, mau belajar tho?
Tak perlu diperdebatkan lagi, mau belajar, berani, gigih, visioner, dan pandai membawa diri adalah faktor-faktor penentu kesuksesan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda bangun pagi jam berapa?
Berdasarkan pengamatan selama lima tahun terhadap 170-an orang kaya di dunia, Thomas Corley menyebutkan kebiasaan-kebiasaan mereka dan salah satunya adalah bangun lebih pagi. Menurut studi ini, orang-orang kaya bangun tiga jam lebih awal sebelum memulai rutinitas.
Bangun lebih pagi menjadi strategi yang sangat efektif dalam menghadapi ritual-ritual yang tak terelakkan, seperti jalanan yang macet, mengantar anak ke sekolah, dan rapat kerja yang menyita waktu.
“Ritual-ritual harian yang tidak bisa terelakkan ini bisa menciptakan sebuah pemahaman di otak bawah sadar bahwa 24 jam itu tidak cukup dan Anda tidak memiliki kontrol pada kehidupan sendiri,” papar Thomas Corley.
Bangun jam 5 pagi, ungkap Thomas Corley, menyediakan waktu bagi Anda untuk menyelesaikan beberapa hal terlebih dahulu, sehingga mengembalikan rasa percaya diri Anda dan kendali hidup ke tangan Anda.
Inilah sejumlah tokoh yang terbiasa bangun awal:
CEO Pepsi, Indra Nooyi
CEO Apple, Tim Cook
Founder Virgin, Richard Branson
Retail Expert, Michelle Gass
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Setelah 21 hari praktek, Anda akan terbiasa dan merasakan bedanya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak teman-teman kita beralih ke Telegram. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Berdasarkan pengamatan selama lima tahun terhadap 170-an orang kaya di dunia, Thomas Corley menyebutkan kebiasaan-kebiasaan mereka dan salah satunya adalah bangun lebih pagi. Menurut studi ini, orang-orang kaya bangun tiga jam lebih awal sebelum memulai rutinitas.
Bangun lebih pagi menjadi strategi yang sangat efektif dalam menghadapi ritual-ritual yang tak terelakkan, seperti jalanan yang macet, mengantar anak ke sekolah, dan rapat kerja yang menyita waktu.
“Ritual-ritual harian yang tidak bisa terelakkan ini bisa menciptakan sebuah pemahaman di otak bawah sadar bahwa 24 jam itu tidak cukup dan Anda tidak memiliki kontrol pada kehidupan sendiri,” papar Thomas Corley.
Bangun jam 5 pagi, ungkap Thomas Corley, menyediakan waktu bagi Anda untuk menyelesaikan beberapa hal terlebih dahulu, sehingga mengembalikan rasa percaya diri Anda dan kendali hidup ke tangan Anda.
Inilah sejumlah tokoh yang terbiasa bangun awal:
CEO Pepsi, Indra Nooyi
CEO Apple, Tim Cook
Founder Virgin, Richard Branson
Retail Expert, Michelle Gass
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Setelah 21 hari praktek, Anda akan terbiasa dan merasakan bedanya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak teman-teman kita beralih ke Telegram. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Tulisan ini saya hide di FB. Tapi saya munculkan di IG. Hanya segelintir netizen yang bisa membacanya. Bersyukurlah kalau Anda bisa membacanya.
Dulu, seorang kawan mengajukan pertanyaan ini kepada saya:
- Benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
- Benarkah tidak ada titik temu antara keduanya?
Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak tulisan ini. Dengan segala hormat, mohon disimak sampai selesai ya.
Sekitar 10 tahun yang lalu, seorang motivator senior pernah mengingatkan saya, “Akan hadir (lagi) dua kekuatan besar di muka bumi ini, yaitu Cina dan Islam.” Selang beberapa tahun, kita melihat bangsa Cina (Tiongkok) melesat secara ekonomi. Penganut Islam pun meningkat secara jumlah, terutama di Eropa juga Amerika. Yang sebenarnya terdapat pertautan antara Cina dengan Islam. Dan ini bukan barang baru. Saya pun sudah menulis soal ini di buku 7 Keajaiban Rezeki (ditulis tahun 2008, dirilis tahun 2010).
Pesan Khalifah ke-3
- Sejarah merekam, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
- Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Sebagian orang menyebut ini hadis. Terlepas itu pepatah atau hadis, mungkinkah Khalifah Usman RA mengutus rombongan ke Cina karena terinspirasi kalimat ini?
- Salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia.
- Menurut pakar studi Islam dari Universitas Hawaii, Prof James Frankel, diduga ada lebih dari 100 juta Muslim di Cina saat ini, yang sebagian besar merupakan etnis Hui. Sekedar informasi, Prof James Frankel dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
- Semasa Dinasti Abbasiyah, beberapa komunitas Islam menetap di Cina. Seiring perjalanan waktu, orang-orang Islam di Cina disebut sebagai orang Hui Hui, yaitu pengikut Nabi Muhammad. Ini menurut Isaac Mason. Btw, masih ingat soal Jalur Sutra yang mempertemukan Cina dan Timur Tengah?
Antara Cheng Ho & Columbus
- Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara berasal dari Arab, Gujarat, dan Cina (Tiongkok).
- Penyebar agama Islam yang terkenal dari Cina adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Menurut Matt Rosenberg, ekspedisi laut Cheng Ho dihelat puluhan tahun lebih awal ketimbang tiga pelaut kebanggaan Barat, yaitu Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Tercatat, Cheng Ho tujuh kali melawat Nusantara. Jelas sudah, Cheng Ho bukan penjelajah ecek-ecek.
- Lahir di Provinsi Yunan, Cheng Ho dibesarkan dalam keluarga Muslim dan ayahnya sudah berhaji. Jelas sudah, Cheng Ho bukan muslim ecek-ecek. Bukan pula muslim KTP. Wong, saat itu belum ada KTP, hehehe.
- Ketika ke Samudera Pasai, Cheng Ho sempat memberi lonceng besar Cakra Donya kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di museum di Banda Aceh. Alhamdulillah, saya pribadi pernah berkunjung ke Samudera Pasai, lokasi kerajaan Islam pertama di Indonesia.
- Ketika ke Cirebon, Cheng Ho sempat memberi piring bertulis Ayat Kursi kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di antara kita pasti banyak yang pernah berkunjung ke sana.
Pesan Presiden Ke-3
- Di Museum Mojokerto (pusat Majapahit zaman dulu) diceritakan, penduduk Jawa zaman dulu berkulit sawo matang dan kebanyakan beragama Hindu juga Buddha. Adalah pedagang-pedagang dari Cina yang memperkenalkan Islam kepada mereka. Berkunjung ke museum ini, alhamdulillah sedikit-banyak saya dipahamkan soal penyebaran agama Islam di Tanah Jawa.
- Pantaslah BJ Habibie, presiden ke-3 Indonesia, menyimpulkan, anugerah terbesar bangsa Cina untuk Indonesia adalah agama Islam. Sebagian orang kadang meremehkan pendapat BJ Habibie yang kemudian dikutip oleh Republika ini. Padahal beliau sudah mendirikan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dari situ kemudian berdirilah Bank Muamalat, Asuransi Takaful, dan Domp
Dulu, seorang kawan mengajukan pertanyaan ini kepada saya:
- Benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
- Benarkah tidak ada titik temu antara keduanya?
Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak tulisan ini. Dengan segala hormat, mohon disimak sampai selesai ya.
Sekitar 10 tahun yang lalu, seorang motivator senior pernah mengingatkan saya, “Akan hadir (lagi) dua kekuatan besar di muka bumi ini, yaitu Cina dan Islam.” Selang beberapa tahun, kita melihat bangsa Cina (Tiongkok) melesat secara ekonomi. Penganut Islam pun meningkat secara jumlah, terutama di Eropa juga Amerika. Yang sebenarnya terdapat pertautan antara Cina dengan Islam. Dan ini bukan barang baru. Saya pun sudah menulis soal ini di buku 7 Keajaiban Rezeki (ditulis tahun 2008, dirilis tahun 2010).
Pesan Khalifah ke-3
- Sejarah merekam, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
- Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Sebagian orang menyebut ini hadis. Terlepas itu pepatah atau hadis, mungkinkah Khalifah Usman RA mengutus rombongan ke Cina karena terinspirasi kalimat ini?
- Salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia.
- Menurut pakar studi Islam dari Universitas Hawaii, Prof James Frankel, diduga ada lebih dari 100 juta Muslim di Cina saat ini, yang sebagian besar merupakan etnis Hui. Sekedar informasi, Prof James Frankel dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
- Semasa Dinasti Abbasiyah, beberapa komunitas Islam menetap di Cina. Seiring perjalanan waktu, orang-orang Islam di Cina disebut sebagai orang Hui Hui, yaitu pengikut Nabi Muhammad. Ini menurut Isaac Mason. Btw, masih ingat soal Jalur Sutra yang mempertemukan Cina dan Timur Tengah?
Antara Cheng Ho & Columbus
- Berbagai bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara berasal dari Arab, Gujarat, dan Cina (Tiongkok).
- Penyebar agama Islam yang terkenal dari Cina adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Menurut Matt Rosenberg, ekspedisi laut Cheng Ho dihelat puluhan tahun lebih awal ketimbang tiga pelaut kebanggaan Barat, yaitu Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Tercatat, Cheng Ho tujuh kali melawat Nusantara. Jelas sudah, Cheng Ho bukan penjelajah ecek-ecek.
- Lahir di Provinsi Yunan, Cheng Ho dibesarkan dalam keluarga Muslim dan ayahnya sudah berhaji. Jelas sudah, Cheng Ho bukan muslim ecek-ecek. Bukan pula muslim KTP. Wong, saat itu belum ada KTP, hehehe.
- Ketika ke Samudera Pasai, Cheng Ho sempat memberi lonceng besar Cakra Donya kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di museum di Banda Aceh. Alhamdulillah, saya pribadi pernah berkunjung ke Samudera Pasai, lokasi kerajaan Islam pertama di Indonesia.
- Ketika ke Cirebon, Cheng Ho sempat memberi piring bertulis Ayat Kursi kepada sultan setempat, yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di antara kita pasti banyak yang pernah berkunjung ke sana.
Pesan Presiden Ke-3
- Di Museum Mojokerto (pusat Majapahit zaman dulu) diceritakan, penduduk Jawa zaman dulu berkulit sawo matang dan kebanyakan beragama Hindu juga Buddha. Adalah pedagang-pedagang dari Cina yang memperkenalkan Islam kepada mereka. Berkunjung ke museum ini, alhamdulillah sedikit-banyak saya dipahamkan soal penyebaran agama Islam di Tanah Jawa.
- Pantaslah BJ Habibie, presiden ke-3 Indonesia, menyimpulkan, anugerah terbesar bangsa Cina untuk Indonesia adalah agama Islam. Sebagian orang kadang meremehkan pendapat BJ Habibie yang kemudian dikutip oleh Republika ini. Padahal beliau sudah mendirikan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dari situ kemudian berdirilah Bank Muamalat, Asuransi Takaful, dan Domp
et Dhuafa. Anda-Anda yang protes sudah mendirikan apa? Hehehe.
- Anda muslim? Bukan mustahil itu karena interaksi orang-orang Cina terdahulu dengan nenek moyang Anda.
- Pernah pakai baju muslim? Baju koko dan topi koko yang jelas-jelas asli Cina sekarang dianggap baju Muslim khas Indonesia.
Kadang #sejarah perlu kita telusuri. Dengan begini, niscaya akan terpetik hikmah di sana-sini. Pada akhirnya membuat kita bisa memahami dan mudah berempati. Tidak saling mencurigai.
- Anda muslim? Bukan mustahil itu karena interaksi orang-orang Cina terdahulu dengan nenek moyang Anda.
- Pernah pakai baju muslim? Baju koko dan topi koko yang jelas-jelas asli Cina sekarang dianggap baju Muslim khas Indonesia.
Kadang #sejarah perlu kita telusuri. Dengan begini, niscaya akan terpetik hikmah di sana-sini. Pada akhirnya membuat kita bisa memahami dan mudah berempati. Tidak saling mencurigai.
Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ibunya, "Mama, ML itu apa sih?"
Ibunya kaget. Dia pun bingung mau menjelaskan apa, "Mmm..."
"Kok Mama diam aja?" desak si anak.
"Nak, kamu dengar dari mana kata ML itu?"
"Yah Mama, tinggal jelasin doang. Kalau nggak, aku kan makin penasaran."
Akhirnya, ibunya menjelaskan makna ML itu. Tentunya dengan hati-hati. Bukan apa-apa, kuatir anaknya salah paham. Tak kurang dari 30 menit ia menjelaskan.
Sebagai penutup, ibunya menegaskan, "Intinya Nak, kalau kamu belum nikah, kamu nggak boleh ML. Paham?"
"Paham, Ma."
"Nah, Mama sudah jelasin. Sekarang giliran kamu yang jelasin. Kami tahu kata ML itu dari mana?"
"Itu lho Ma, di botol air mineral. Ada tulisan 300ML dan 600ML. Kalau yang gede, 1500 ML."
Ibunya langsung melotot!
Hahaha!
Btw, kenapa seseorang belum menikah? Mungkin jawabannya, karena dia belum menikah. Udah, itu aja. Titik.
Hehehe.
Penjelasan ini sepertinya dapat menghibur mereka yang belum menikah. Hehehe.
Ada pula orang yang setelah bertemu jodohnya dan menikah, lalu melarang jodohnya ini pergi ke mana-mana. Hanya boleh di rumah saja. Ketika ditanya apa sebabnya, ia menjawab, "Kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana!" Hehehe, ngawur.
Institusi kemanusiaan, itulah salah satu peran pernikahan. Boleh dibilang, pernikahan adalah institusi yang tertua dan termulia. Menariknya, menikah itu menyehatkan. Sangat menyehatkan.
Studi oleh National Longitudinal Mortality menemukan, mereka yang menikah ternyata lebih panjang umur daripada mereka yang tidak menikah.
Penelitian di Sahlgrenska Academy menemukan, pria yang hidup sendiri (jomblo) cenderung rentan terkena stroke dan berisiko meninggal lebih cepat.
Saya melihat, mereka yang menikah biasanya lebih matang dan lebih sabar. Apalagi saat dikaruniai anak. Cobalah lihat orang-orang di sekitar Anda. Mungkin Anda akan menemukan kecenderungan yang sama.
Maka, menikahlah. Sekiranya belum, berarti ini kesempatan untuk memantaskan diri juga menjaga diri. Hati-hati. Karena lazimnya, kita akan mendapati apa-apa yang kita pantasi.
Menikah bukan sekedar ML.
Menikah itu ibadah.
Menikah itu membaikkan rezeki.
Menikah itu menyehatkan jasmani.
Menikah itu menyehatkan rohani.
Menikah itu menentramkan hati.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Sampaikan tulisan ini kepada kerabat-kerabat kita yang belum menikah.
Ibunya kaget. Dia pun bingung mau menjelaskan apa, "Mmm..."
"Kok Mama diam aja?" desak si anak.
"Nak, kamu dengar dari mana kata ML itu?"
"Yah Mama, tinggal jelasin doang. Kalau nggak, aku kan makin penasaran."
Akhirnya, ibunya menjelaskan makna ML itu. Tentunya dengan hati-hati. Bukan apa-apa, kuatir anaknya salah paham. Tak kurang dari 30 menit ia menjelaskan.
Sebagai penutup, ibunya menegaskan, "Intinya Nak, kalau kamu belum nikah, kamu nggak boleh ML. Paham?"
"Paham, Ma."
"Nah, Mama sudah jelasin. Sekarang giliran kamu yang jelasin. Kami tahu kata ML itu dari mana?"
"Itu lho Ma, di botol air mineral. Ada tulisan 300ML dan 600ML. Kalau yang gede, 1500 ML."
Ibunya langsung melotot!
Hahaha!
Btw, kenapa seseorang belum menikah? Mungkin jawabannya, karena dia belum menikah. Udah, itu aja. Titik.
Hehehe.
Penjelasan ini sepertinya dapat menghibur mereka yang belum menikah. Hehehe.
Ada pula orang yang setelah bertemu jodohnya dan menikah, lalu melarang jodohnya ini pergi ke mana-mana. Hanya boleh di rumah saja. Ketika ditanya apa sebabnya, ia menjawab, "Kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana!" Hehehe, ngawur.
Institusi kemanusiaan, itulah salah satu peran pernikahan. Boleh dibilang, pernikahan adalah institusi yang tertua dan termulia. Menariknya, menikah itu menyehatkan. Sangat menyehatkan.
Studi oleh National Longitudinal Mortality menemukan, mereka yang menikah ternyata lebih panjang umur daripada mereka yang tidak menikah.
Penelitian di Sahlgrenska Academy menemukan, pria yang hidup sendiri (jomblo) cenderung rentan terkena stroke dan berisiko meninggal lebih cepat.
Saya melihat, mereka yang menikah biasanya lebih matang dan lebih sabar. Apalagi saat dikaruniai anak. Cobalah lihat orang-orang di sekitar Anda. Mungkin Anda akan menemukan kecenderungan yang sama.
Maka, menikahlah. Sekiranya belum, berarti ini kesempatan untuk memantaskan diri juga menjaga diri. Hati-hati. Karena lazimnya, kita akan mendapati apa-apa yang kita pantasi.
Menikah bukan sekedar ML.
Menikah itu ibadah.
Menikah itu membaikkan rezeki.
Menikah itu menyehatkan jasmani.
Menikah itu menyehatkan rohani.
Menikah itu menentramkan hati.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Sampaikan tulisan ini kepada kerabat-kerabat kita yang belum menikah.
'Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina'
Sebagian ulama menyebut ini pepatah Arab.
Sebagian menganggap ini hadis lemah.
Sebagian lagi menganggap ini hadis palsu.
Yang jelas, kata 'walau' di sini menunjukkan benar-benar jauh dan benar-benar berbeda.
Seperti:
- walau ke Kutub Utara,
- walau ke Timbuktu,
- walau ke Eropa.
'Kukejar engkau walau ke Kutub Utara'
Kalimat di atas tidak menunjukkan seruan untuk pergi ke Kutub Utara. Sama sekali tidak. Melainkan, "Kukejar engkau walau jauh sekalipun." Saya yakin Anda bisa menangkap poinnya.
Tercatat oleh sejarah, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
Dengan demikian, kita pun boleh berseru, "Sampaikan satu ayat, walau ke negeri Cina." Maksudnya, walau jauh dan berbeda.
Begini. Walau jauh dan berbeda, dunia Islam dan dunia Cina bukanlah dua peradaban yang resisten satu sama lain. Sebaliknya, bahkan saling mengisi satu sama lain. Soal ini sebagian sudah saya tulis di buku #7KeajaibanRezeki. Masih ingat?
Jalur Sutra, satu bukti betapa mesranya hubungan dagang antara dunia Islam dan dunia Cina waktu itu. Boleh dibilang, kemesraan itu masih berlangsung sampai sekarang. Nggak percaya?
Anda harus percaya. Kalau Anda ke Mekkah-Madinah, maka Anda akan menemukan barang-barang 'Made in China' di mana-mana. Mulai kopiah sampai sajadah. Belum lagi besarnya investasi Arab Saudi di Cina baru-baru ini. Percaya sekarang?
Dan salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia. Ringkasnya, kertas hadir pertama kali di dunia Cina dan pabrik kertas hadir pertama kali di dunia Islam. Saling melengkapi tho?
Ya, manusia cenderung membenci apa-apa dan siapa-siapa yang tidak ia ketahui. Karena itulah perintah-Nya, "Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal." Saling mengetahui. Sehingga terkikislah kebencian satu sama lain.
Setelah saling mengenal, bukan mustahil kemudian saling belajar, bermitra niaga, berumahtangga, aliansi militer, dll.
Sebenarnya, begitu banyak hikmah dan kebijaksanaan yang saya paparkan di tulisan yang singkat ini. Saya berharap, Anda bisa memetiknya satu per satu. Bacalah tenang-tenang. Kalau perlu, bacalah berulang. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sebagian ulama menyebut ini pepatah Arab.
Sebagian menganggap ini hadis lemah.
Sebagian lagi menganggap ini hadis palsu.
Yang jelas, kata 'walau' di sini menunjukkan benar-benar jauh dan benar-benar berbeda.
Seperti:
- walau ke Kutub Utara,
- walau ke Timbuktu,
- walau ke Eropa.
'Kukejar engkau walau ke Kutub Utara'
Kalimat di atas tidak menunjukkan seruan untuk pergi ke Kutub Utara. Sama sekali tidak. Melainkan, "Kukejar engkau walau jauh sekalipun." Saya yakin Anda bisa menangkap poinnya.
Tercatat oleh sejarah, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
Dengan demikian, kita pun boleh berseru, "Sampaikan satu ayat, walau ke negeri Cina." Maksudnya, walau jauh dan berbeda.
Begini. Walau jauh dan berbeda, dunia Islam dan dunia Cina bukanlah dua peradaban yang resisten satu sama lain. Sebaliknya, bahkan saling mengisi satu sama lain. Soal ini sebagian sudah saya tulis di buku #7KeajaibanRezeki. Masih ingat?
Jalur Sutra, satu bukti betapa mesranya hubungan dagang antara dunia Islam dan dunia Cina waktu itu. Boleh dibilang, kemesraan itu masih berlangsung sampai sekarang. Nggak percaya?
Anda harus percaya. Kalau Anda ke Mekkah-Madinah, maka Anda akan menemukan barang-barang 'Made in China' di mana-mana. Mulai kopiah sampai sajadah. Belum lagi besarnya investasi Arab Saudi di Cina baru-baru ini. Percaya sekarang?
Dan salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia. Ringkasnya, kertas hadir pertama kali di dunia Cina dan pabrik kertas hadir pertama kali di dunia Islam. Saling melengkapi tho?
Ya, manusia cenderung membenci apa-apa dan siapa-siapa yang tidak ia ketahui. Karena itulah perintah-Nya, "Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal." Saling mengetahui. Sehingga terkikislah kebencian satu sama lain.
Setelah saling mengenal, bukan mustahil kemudian saling belajar, bermitra niaga, berumahtangga, aliansi militer, dll.
Sebenarnya, begitu banyak hikmah dan kebijaksanaan yang saya paparkan di tulisan yang singkat ini. Saya berharap, Anda bisa memetiknya satu per satu. Bacalah tenang-tenang. Kalau perlu, bacalah berulang. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Weekend kemarin saya lumayan padat.
Sabtu pagi di Sabuga, sharing untuk ribuan peserta. Sabtu siang di Serela, untuk ratusan peserta.
Ahad pagi di Istiqlal, kembali sharing untuk ribuan peserta, bareng Syekh Ali Jaber dan Imam Masjidil Haram. Ahad siang di Gedung Kompas-Gramedia untuk ratusan peserta.
Lelah? Iya.
Tapi, sangat menyenangkan.
Apalagi setelah melihat ribuan wajah yang merasa terinspirasi dan termotivasi. Sungguh, ini tak ternilai!
Saya pun mengingatkan mereka tentang rezeki yang halal.
“Sesiapa yang mengusahakan barang yang halal untuk keluarganya, ibaratnya ia seorang pejuang di jalan Allah. Dan sesiapa yang mencari dunia yang halal dengan menjaga diri dari sesuatu yang tak berguna, maka ia menduduki derajat seorang syuhada,” pesan Nabi Muhammad suatu ketika.
“Sesiapa yang menyantap makanan yang halal selama empat puluh hari, niscaya Allah akan menyinari hatinya dan akan memancarkan hikmah dari hatinya ke lisannya," pesan Nabi Muhammad di kesempatan berbeda.
Ternyata, sesuatu yang halal itu membawa berbagai manfaat. Bukan saja diganjar surga, melainkan juga diberi ilmu, kecerdasan, dan kebijaksanaan.
Saad bin Abi Waqqash, sahabat kesayangan Nabi Muhammad dan kesayangan Usman bin Affan, pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat berharga, "Bagaimana caranya agar doaku lebih dikabulkan?"
Lantas, apa jawaban Nabi? "Jaga makananmu."
Ya, rezeki yang halal adalah suatu keharusan, tak bisa ditawar-tawar. Ini harus kita perjuangkan. Apapun posisi kita, apapun profesi kita. Entah karyawan maupun pengusaha. Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak teman-teman kita beralih ke Telegram terus bergabung di channel ini. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Sabtu pagi di Sabuga, sharing untuk ribuan peserta. Sabtu siang di Serela, untuk ratusan peserta.
Ahad pagi di Istiqlal, kembali sharing untuk ribuan peserta, bareng Syekh Ali Jaber dan Imam Masjidil Haram. Ahad siang di Gedung Kompas-Gramedia untuk ratusan peserta.
Lelah? Iya.
Tapi, sangat menyenangkan.
Apalagi setelah melihat ribuan wajah yang merasa terinspirasi dan termotivasi. Sungguh, ini tak ternilai!
Saya pun mengingatkan mereka tentang rezeki yang halal.
“Sesiapa yang mengusahakan barang yang halal untuk keluarganya, ibaratnya ia seorang pejuang di jalan Allah. Dan sesiapa yang mencari dunia yang halal dengan menjaga diri dari sesuatu yang tak berguna, maka ia menduduki derajat seorang syuhada,” pesan Nabi Muhammad suatu ketika.
“Sesiapa yang menyantap makanan yang halal selama empat puluh hari, niscaya Allah akan menyinari hatinya dan akan memancarkan hikmah dari hatinya ke lisannya," pesan Nabi Muhammad di kesempatan berbeda.
Ternyata, sesuatu yang halal itu membawa berbagai manfaat. Bukan saja diganjar surga, melainkan juga diberi ilmu, kecerdasan, dan kebijaksanaan.
Saad bin Abi Waqqash, sahabat kesayangan Nabi Muhammad dan kesayangan Usman bin Affan, pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat berharga, "Bagaimana caranya agar doaku lebih dikabulkan?"
Lantas, apa jawaban Nabi? "Jaga makananmu."
Ya, rezeki yang halal adalah suatu keharusan, tak bisa ditawar-tawar. Ini harus kita perjuangkan. Apapun posisi kita, apapun profesi kita. Entah karyawan maupun pengusaha. Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak teman-teman kita beralih ke Telegram terus bergabung di channel ini. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Kena Virus WannaCry?
Bukankah sebagian kita kena Virus WannaCry setiap akhir bulan? Ya, ketika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Rasanya seperti WannaCry, pengen nangis. Hehehe.
Begini. Untuk sehat finansial setiap bulannya, kita harus memberangus "Latte Factor". Apa itu?
Contoh dari Latte Factor adalah pengeluaran untuk baju baru, kosmetik terkini, majalah mode, cemilan harian, nonton mingguan, biaya parkir, biaya transaksi bank, dan sejenisnya. Remeh, tapi selalu menghabiskan uang kita.
Ini harus diatasi. Caranya?
Pertama, tanamkan gaya hidup hemat di mana prioritas diarahkan pada kebutuhan, jauh di atas keinginan. Hal ini bisa dilakoni dengan mengajukan pertanyaan sederhana, "Kalau nggak jadi beli, emangnya rugi apa?”
Kedua, tidak merasa perlu untuk ikut-ikutan gaya hidup orang-orang di sekitar kita, apalagi kalau itu tidak sesuai dengan kemampuan kita. Berani dan percaya dirilah jadi diri sendiri, tanpa harus meremehkan pilihan dan selera orang lain.
Ketiga, menanamkan budaya investasi. Pengeluaran yang ditekan sedemikian rupa membuat kita memiliki uang lebih untuk diinvestasikan secara rutin. Baiknya setiap bulan. Investasi ini tentunya akan berguna untuk segala kebutuhan di masa-masa mendatang.
Keempat, merintis bisnis sendiri. Baiknya cari produk yang bermutu dan marginnya di atas 50%. Syukur-syukur kalau mentornya juga tersedia. Ini semua akan mengurangi resiko kerugian dan kegagalan.
Gimana? Siap praktek?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak-ajak keluarga kita beralih ke Telegram. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Bukankah sebagian kita kena Virus WannaCry setiap akhir bulan? Ya, ketika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Rasanya seperti WannaCry, pengen nangis. Hehehe.
Begini. Untuk sehat finansial setiap bulannya, kita harus memberangus "Latte Factor". Apa itu?
Contoh dari Latte Factor adalah pengeluaran untuk baju baru, kosmetik terkini, majalah mode, cemilan harian, nonton mingguan, biaya parkir, biaya transaksi bank, dan sejenisnya. Remeh, tapi selalu menghabiskan uang kita.
Ini harus diatasi. Caranya?
Pertama, tanamkan gaya hidup hemat di mana prioritas diarahkan pada kebutuhan, jauh di atas keinginan. Hal ini bisa dilakoni dengan mengajukan pertanyaan sederhana, "Kalau nggak jadi beli, emangnya rugi apa?”
Kedua, tidak merasa perlu untuk ikut-ikutan gaya hidup orang-orang di sekitar kita, apalagi kalau itu tidak sesuai dengan kemampuan kita. Berani dan percaya dirilah jadi diri sendiri, tanpa harus meremehkan pilihan dan selera orang lain.
Ketiga, menanamkan budaya investasi. Pengeluaran yang ditekan sedemikian rupa membuat kita memiliki uang lebih untuk diinvestasikan secara rutin. Baiknya setiap bulan. Investasi ini tentunya akan berguna untuk segala kebutuhan di masa-masa mendatang.
Keempat, merintis bisnis sendiri. Baiknya cari produk yang bermutu dan marginnya di atas 50%. Syukur-syukur kalau mentornya juga tersedia. Ini semua akan mengurangi resiko kerugian dan kegagalan.
Gimana? Siap praktek?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak-ajak keluarga kita beralih ke Telegram. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)