Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
The account of the user that owns this channel has been inactive for the last 5 months. If it remains inactive in the next 18 days, that account will self-destruct and this channel will no longer have an owner.
Banyak yang mengucapkan terimakasih kpd beliau krn ceramahnya ringan, humoris, dan merangkul. Yuk kita doakan beliau...

Apa pendapat teman-teman beliau? 5 komen terbaik insya Allah akan mendapat 5 buku dari saya. Hadiah. Ditunggu ya komennya...

https://www.instagram.com/p/COZim8wpNl-/?igshid=gmhdtigggxwi
Semangat!
Mohon maaf lahir batin teman-teman. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.
Uhud, Uang & Ujian
Siapa yang lebih tua, UAS atau Mas Ippho? Di mana UAS tahu Mas Ippho pertama kali? Gimana pengalaman UAS masuk ke pedalaman, ada harimau dan babi hutan?

Apa yang dilakukan UAS ketika sakit pinggang dan urine keruh? Kenapa UAS sering ceramah di GOR dan hotel? Kenapa UAS mengusulkan masjid berbentuk botol? Bolehkah 20 orang kurban satu sapi?

Apa doa UAS untuk para pengusaha? Dibahas juga 4 tips untuk pengusaha muslim, yaitu hijrah, jamaah, istiqomah, dan husnul khatimah. Simak exclusive video UAS ini (tanpa iklan, tanpa monetize).

https://m.youtube.com/watch?v=4tRhBGDRqqg
BP bukan MLM
The account of the user that owns this channel has been inactive for the last 5 months. If it remains inactive in the next 20 days, that account will self-destruct and this channel will no longer have an owner.
Sudah lihat reels @ipphoright di IG? Kocak, tapi tetap bermanfaat. Lihat deh...
ISTRI REWEL

Kebayang punya istri rewel? Bawel? Suka ngomel-ngomel?

Atau suka ngebantah.

Misal, suami mau merantau, tapi istri pengen tinggal sekota sama ibunya.

Suami mau buka usaha, tapi istri pengen suaminya makan gaji aja.

Suami mau sedekah ekstrim, tapi istri pengen sedekah biasa-biasa aja.

Kalau sampai begini, yah repot. Ujung-ujungnya bisa kurang harmonis satu sama lain. Bahkan bisa bertengkar. Terus, gimana solusinya?

Saran, walaupun suami sebagai imam BERHAK memutuskan, tapi baiknya suami berdialog dulu sama istrinya. Bukan cuma itu, suami juga mempersiapkan dan memahamkan istrinya, sehingga istrinya mau menerima sebuah gagasan.

Maaf, kalau suami gagal mempersiapkan dan memahamkan istrinya, jangan heran istri jadi rewel bahkan sering menentang gagasan suaminya. Di sini entah siapa yang benar, tapi situasi seperti ini jelas-jelas nggak baik.

Jadi, ketika istri rewel, belum tentu itu 100% kesalahan istri. Bukan mustahil itu karena kegagalan suami mempersiapkan dan memahamkan istrinya. Ingat, selain penafkah, suami juga berperan sebagai pendidik bagi istrinya.

“Tapi Mas Ippho, istri saya suka shopping.” Itu sih wajar. Kalau diarahkan dengan benar, apa-apa yang dia beli insya Allah untuk keluarga dan rumahtangga. Bagus tho?

“Tapi Mas, istri saya suka ngomong.” Itu pun masih wajar. Kalau diarahkan dengan benar, apa-apa yang dia omongkan insya Allah untuk mendidik anaknya dan mengurusi rumahtangganya.

"Tapi Mas, istri saya pinter nyari duit." Maksudnya? Duit udah disembunyiin, eh dicari sama dia. Dan ketemu. Hehehe.

Btw, tulisan ini menurut saya. Mungkin nggak 100% benar, tapi insya Allah layak direnungkan...

🙂🙂🙂
JUALAN KOK MALU?

Jualan = cari nafkah 😀

Buat siapa?
Diri kita dan keluarga.
IBADAH THO?

Lebihnya? Buat sedekah.
Gak lebih pun, kita tetap sedekah.
Ibadah tho?

Belum lagi dengan jualan kita membuka lapangan kerja, menggerakkan roda-roda ekonomi, dan mengikuti sunnah Nabi. Ibadah tho?

Ya, semuanya ibadah insya Allah. Berkah? Banget! 😄

So, jangan malu kalau jualan! 😄
REZEKI SUDAH DIJAMIN? YAKIN?

Ketika melihat 5 toko berderet dan jual barang yang sama, kita dengan bijak berkata, "Rezeki sudah dijamin, nggak perlu kuatir."

Melihat 2 minimarket hadap-hadapan, jual barang yang mirip-mirip, kita dengan bijak berkata, "Rezeki sudah ditakar, nggak bakal ketukar."

Kita yakin betul, setiap penjual itu ada rezekinya. Masing-masing ada cuan-nya.

Tapi, pas diajak buka usaha, kok sebagian kita malah takut? Lupa dengan kata-kata bijak yang pernah kita ucapkan. Padahal kita diajak jadi pemain, bukan sekedar penonton.

Begitu banyak kisah sukses yang kita dengar tentang bisnis A atau bisnis B. Yang omsetnya meledak. Yang sedekahnya membludak. Kita pun terinspirasi. Ya cuma itu, terinspirasi.

Harusnya? Yah berbuat. Terjun juga. Jadi pemain. Bukan sekedar penonton. Sekali lagi, mari berbuat. Ingat. Rezeki sudah dijamin, nggak perlu kuatir. Siaaaap?

Harus siap! 😎😎😎
PRODUKSI vs PEMASARAN

Blak-blakan aja, saya salut sama ibu-ibu yang mengelola bisnis dari rumah. Di antara mereka ada yang membuat lauk-pauk, bumbu dapur, atau cemilan. Lalu menjualnya. Ini mengagumkan. Soalnya, nafkah itu sebenarnya BUKAN tanggung-jawab dia, tapi tetap saja dia lakukan demi membantu suami.

Silakan, silakan. Insya Allah itu kegiatan yang sangat positif, ketimbang berbulan-bulan di rumah hanya dipakai untuk menonton drama Korea dan film India, hehehe. Tapi, izinkan saya memberitahu alternatif lain yang insya Allah lebih ringan dan lebih menghasilkan. Boleh?

Misal, kita punya waktu produktif 7 jam sehari. Pilihan PERTAMA, 4 jam dihabiskan untuk membuat atau memproduksi sesuatu, lalu 3 jam berikutnya dihabiskan untuk memasarkan. Pilihan KEDUA, 7 jam FULL dihabiskan untuk memasarkan saja. Mana yang lebih ringan dan lebih menghasilkan?

Kemungkinan besar adalah pilihan yang kedua. Terus, yang bikin produknya siapa? Kita bisa di-supply oleh vendor luar yang memang punya keahlian, pengalaman, dan kapasitas produksinya sudah berskala besar (otomatis, biayanya rendah tuh). Tugas kita memasarkan saja. Ini akan lebih ringan (baca: nggak sibuk) dan lebih menghasilkan.

Saya tahu, sebagian kita akan merasa puas kalau berhasil membuat produk sendiri, lalu merancang merek sendiri. Seru rasanya. Yah boleh-boleh saja. Pilihan tho? Tapi, coba pikirkan yang barusan saya sampaikan. Memproduksi sendiri, itu akan sangat melelahkan, makan waktu, dan makan biaya. Jujur ya, itu ribet.

Yang kita butuhkan saat ini adalah BUSINESS, bukan BUSY-NESS (kesibukan). Kalau setuju, bantu share ya.

Saran saya, bagi teman-teman yang ingin cashflow cepat, nggak terlalu capek, nggak terlalu sibuk, lebih baik fokus saja di pemasaran. Ya, di pemasaran. Jangan salah, showroom Toyota, dealer Yamaha, dan toko iPhone juga fokus di pemasaran. Mereka nggak memproduksi dan merakit sama sekali. Tetap keren kok.

Sekarang, apa pilihan teman-teman?
HEMAT BUKAN SEGALANYA

Secara umum, berhemat itu baik. Tapi ingat, berhemat itu ada batasnya. Karena itulah saya menyarankan alternatif lain, yang lebih mensolusikan.

HEMAT seperlu apa? Sebatas apa? Kalau sudah mentok, gimana?

Sewaktu kerja dulu, saya selalu bawa lauk dari rumah, disiapkan oleh ibu saya. Pas sudah punya kendaraan, ketika jam istirahat, saya pulang dan makan di rumah. Lebih hemat, lebih sehat, lebih nikmat.

Ketika ekonomi membaik sekalipun, saya tetap jarang makan di luar. Biasanya di rumah aja. Hemat. Nikmat. Sesekali ada juga saya makan di luar, misal di restoran, kalau lagi menemani tamu atau keluarga. Pendemi gini? Yah jelas, di rumah aja.

Kemudian saya menyadari, hemat itu ada batasnya. Contoh, sekali makan, habis Rp 20 ribu. Paling banter kita bisa berhemat 15% sampai 30%. Nggak nyaman rasanya kalau di-press lagi budget-nya. Begitu juga untuk urusan bensin, kuota, sabun, dll.

Maka, solusi yang saya tawarkan adalah tingkatkan pendapatan. Ya, pen-da-pa-tan. Dan menariknya, ini nggak ada batasnya. Bisa 100%, 200% bahkan lebih. Asyik tho? Terutama bagi mereka yang terbiasa dengan dunia bisnis dan penjualan. Yang setuju, bantu share tulisan ini ya.

Ingat, banyak pendapatan itu lebih nikmat daripada banyak pendapat, hehe...

😁😁😁
Masih Ragu Berbisnis?

Nabi Muhammad dan Khadijah itu couple-preneur sejati. Ada baiknya kita juga mengikuti. Carilah bisnis yang bisa dimulai dan dikembangkan dari rumah.

Apa nggak kepengen?
- berbisnis dari rumah
- bareng pasangan
- modal minimal
- hasil maksimal
- sarat mentoring
- produk terbukti laku
- nggak laku, modal dikembalikan

Sayangnya, masih banyak orang yang ragu untuk berbisnis. "Takut rugi, Mas Ippho. Takut jatuh miskin." Halah, situ udah miskin, mau jatuh ke mana lagi? Hehe.

🤗

Please, jangan ngomong nggak punya modal.

Pedagang keliling pakai gerobak aja berani ngeluarin modal hampir Rp 1 juta.

Pedagang kaki lima pakai tenda aja berani ngeluarin modal hampir Rp 10 juta.

Bukan nggak punya modal. Mungkin kita nggak punya kesungguhan.

Duit mepet? Saldo minim? Coba cari peluang usaha yang modal awalnya cuma Rp 600 ribu atau Rp 700 ribu. Kalau nabung Rp 20 ribu sehari, insya Allah modal yang diperlukan akan terkumpul dalam sebulan. Kurang-lebih.

Saya pikir ini solusi bagi mereka yang modalnya cekak.

Merasa nggak ahli? Merasa nggak mampu? Coba cari peluang usaha yang ada mentoring-nya, di mana semua mitra dibimbing sampai menghasilkan.

Karena tulisan ini sangat penting, bantu share ya. Semoga membuka hati dan pikiran mereka yang masih ragu untuk berbisnis.

Percayalah, teramat banyak produk di luar sana yang benar-benar dicari, benar-benar dibutuhkan, setiap 4 minggu konsumen beli ulang, dan marginnya sangat lumayan. Kenapa kita nggak jadi distributornya aja? Minim risiko dan bebas ribet karena nggak perlu ngurusin produksi.

Mungkin kita nggak tertarik dengan dunia usaha. Tapi ingat, kenaikan harga properti, biaya umrah, dan biaya pendidikan sulit diimbangi dengan kenaikan gaji. Kalau dengan bisnis, insya Allah sangat bisa. Mumpung masih muda, kenapa kita nggak mulai usaha aja? Siap?