Ippho Santosa - ipphoright
26K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Pernah bertemu dengan tokoh yang hebat?

Tampil di forum tertentu atau bertemu dengan tokoh tertentu, itu bukan ujug-ujug. Bukan kebetulan. Ada prosesnya. Membangun nama baik, membangun prestasi, membangun networking dll, boleh dibilang itulah prosesnya.

Bagi saya, networking itu seperti menanam. Ya, menanam. Kadang proses dan hasilnya nggak instant. Yang sering terjadi, proses dan hasilnya sangat lama. Tapi, walaupun makan waktu, walaupun sangat lama, ini layak untuk dikerjakan.

Bagaimana dengan waktu, cukupkah? Pasti cukup. Selalu cukup. Asal kita mau mengalokasikan dan mengatur waktu. Misalnya, pertemuan saya dan Bu Lilis dengan keluarga Toyoda (keturunan dari pendiri Toyota) di Toyota City, Jepang. Jelas, ini bukan ujug-ujug. Sama sekali bukan.

Wasilahnya dari keaktifan Bu Lilis di TIA (Toyota International Association), sebuah lembaga nirlaba yang membantu meng-internasionalisasi Toyota City. Terus, kami ada niat untuk studi banding soal TK dan SD ke Jepang. Setelah mantap dengan niat itu, kami pun berkomunikasi intens dengan beberapa decision maker di Jepang. Ya, ada prosesnya.

Begitu pula pertemuan saya dengan Richard Branson, Syekh Yusuf Qardhawi, Prof BJ Habibie. Bukan kebetulan. Ada prosesnya. Kapan-kapan saya bahas ya soal prosesnya.

Bahasa gampangnya, itu semua perlu waktu, perlu proses. Dan sayangnya, nggak semua orang mau mengalokasikan waktu dan menjalani proses. Padahal ini mutlak. Saya menyebut ini sebagai 'investasi hubungan'.

Berdasarkan pengalaman saya, orang-orang hebat tidak mudah untuk ditemui. Karena itulah kita perlu extra effort dan extra time untuk mengaksesnya.

Lantas, apa saran praktis dari saya? Pertama, alokasikan waktu kita untuk bertemu dengan orang-orang baru. Kedua, aktilah di komunitas dan asosiasi yang positif. Ketiga, jagalah hubungan dengan tetap berkomunikasi.

Keempat, proaktif saat ada kemungkinan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh yang hebat. Kelima, pantaskan diri kita sehingga layak bertemu dengan si hebat itu. Memantaskan diri, memang ini tidak mudah. Tapi bukannya mustahil. Bisa insya Allah.

Bagaimana, Anda siap?
Masalah selalu ada. Ya, selalu ada. Mana mungkin nggak ada? Yang penting adalah sikap kita dan cara kita terhadap masalah. Baik dalam kerja maupun dalam bisnis.

Sering kali masalah bertambah hanya karena sikap kita dan cara kita yang salah. Misal, kita menganggap itu karena kesalahan orang lain. Jujur, dulu saya pun pernah begitu.

Terkait masalah, saya sangat menyarankan teman-teman untuk MEMBACA KE DALAM. Maksudnya, introspeksi. Bukan menyalah-nyalahkan pihak lain. Bukan menyalah-nyalahkan keadaan.

Nggak mungkin masalah terjadi begitu saja. Jangan-jangan kita penyebabnya. Sedikit-banyak, pasti ada sebab dari kita. Right? Sekali lagi, introspeksi.

Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan masalah. Jadi, buat apa resah dan gelisah? Kendati tidak mudah, sikapi saja dengan benar, niscaya semua akan berakhir indah. Insya Allah.

Dan inilah yang biasa terjadi:
- Si jahat membuat masalah.
- Si picik memperbesar masalah.
- Si awam membicarakan masalah.
- Si hebat menuntaskan masalah.
- Si bijak mensyukuri adanya masalah.
- Si jeli melihat peluang dari masalah.
- Si soleh naik derajat karena masalah.

Anda termasuk yang mana?

Satu lagi. Jadikan MASALAH sebagai “masa-masa untuk lebih mengenal Allah”.

Pengalaman saya, masalah akan membuat kita semakin cerdas, kreatif, dewasa, tangguh, dan tawakal. Itulah hikmah-hikmahnya. Lebih lanjut, bukan mustahil Allah menjadikan masalah sebagai alat untuk menggugurkan dosa kita atau menaikkan derajat kita.

Be tough!
Awalnya saya sempat bertanya-tanya. Kenapa orang beriman dianalogikan seperti lebah?

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah, selalu makan yang baik-baik dan mengeluarkan yang baik-baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak,” HR Ahmad.

“Persamaannya adalah lebah itu cerdas, rendah hati, merasa cukup, sarat manfaat, taat pemimpin, jarang menyakiti, menjauhi kotoran, makanannya halal dan tayyib, tak mau makan dari hasil kerja orang lain, bekerja di siang hari, dan berhenti kerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air, dan api,” Al-Munawi.

Setelah dipelajari lebih lanjut, barulah saya tahu ternyata lebah memiliki banyak kelebihan berbanding hewan-hewan yang lain. Terus, apa saja kelebihan lebah itu? Ini dia:
- Membantu penyerbukan
- Sarangnya steril
- Sangat well-organized
- Mengutamakan teamwork
- Menguburkan rekannya yang mati
- Mampu berhitung
- Ditakuti gajah
- Bentuk tubuhnya tidak aerodinamis tapi bisa terbang dengan sangat cepat
- Mampu memilih lubang yang besar sehingga mengurangi risiko benturan
- Mengetahui jarak terdekat dari berbagai alternatif
- Mengetahui ranjau walaupun dari jarak jauh

Selama ini, kita pun mengenal beragam khasiat dari produk-produk turunan lebah seperti madu, propolis, dan royal jelly. Menariknya, ini sudah tercantum di Surah An-Nahl.

Dengan kata lain, lebah hanya membawa manfaat, manfaat, dan manfaat. Bukankah begitu? Sudah sepantasnya kita meniru yang baik-baik dari lebah.
Ada yang bertanya kepada saya, "Kok produk Mas Ippho dari Inggris sih?"

"Apa nggak ada barang bagus dari Indonesia atau negeri-negeri Islam?" Itu pertanyaan mereka.

Sebenarnya, produk-produk turunan lebah itu islami semua. Karena sarat manfaat dan direkomendasikan langsung oleh Al-Quran

Dan lebah, di negara manapun, nggak punya agama 😊😊😊

Kalau nggak percaya, silakan wawancara langsung lebahnya 😋

Satu hal lagi. Dalam muamalah, kita boleh berniaga dengan siapa saja, mengambil barang dari siapa saja, dan menawarkan barang kepada siapa. Dan ini dibuktikan sendiri oleh Nabi Muhammad selama 20 tahun lebih.

Bayangkan, 20 tahun lebih. Bukan sehari dua hari. Yang penting, barangnya halal dan orangnya jujur.

Beliau berniaga dengan siapa saja, tidak memandang suku dan agama, bahkan lintas wilayah. Kalau bahasa sekarang, sampai ke luar negeri alias international business.

Setelah Nabi Muhammad jadi nabi sekalipun, tidak sedikit pujian dan saran dari beliau untuk tumbuh-tumbuhan dari India. Dan kita sama-sama tahu, penduduk India itu beda agama dengan beliau. Ini fakta.

Misalnya tentang kayu gaharu dari India. Juga siwak jenis tertentu, dari India. Beliau puji. Sekiranya tidak percaya, silakan cari hadis-hadis terkait dua tetumbuhan tersebut.

Sebaliknya, satu botol miras, walaupun dari Tanah Arab, walaupun mereknya diubah jadi Bahasa Arab, walaupun dijual oleh Muslim Arab, tetap hukumnya haram. Dan di Dubai, ini bukan hal baru.

Ingat, bisnis itu disebut islami kalau halal barangnya, halal caranya, dan sarat manfaatnya. Sejak dulu sampai sekarang, saya berupaya membangun bisnis yang seperti itu. Sehingga mereka yang berbeda agama dengan saya pun tak keberatan untuk bermitra.

Sekian, semoga berkah berlimpah. Aamiin.
Nama Nabi Musa adalah nama yang paling sering disebutkan di Al-Quran, bahkan melebihi nama Nabi Muhammad. Dan kita sama-sama tahu, Nabi Musa sempat melarikan diri dan keluar dari Mesir, karena tak sengaja memukul orang...

Saat Nabi Musa diperintahkan untuk kembali ke Mesir dan berdakwah ke Firaun, awalnya Nabi Musa merasa keberatan. Malu, takut, dan sama sekali nggak pede... Apalagi beliau memang sedikit gagap...

Lalu beliau meminta ke Allah agar ada orang lain yang mem-backup-nya. Jadilah back-up itu Nabi Harun. Karena menurut Nabi Musa, Nabi Harun itu pandai bertutur-kata. Tak pernah punya kesalahan, tak pernah kabur dari Mesir...

So, dengan adanya Nabi Harun, Nabi Musa jadi lebih pede...

Kemudian, apa yang terjadi? Ternyata ketika bertemu Firaun, Nabi Harun hampir-hampir tidak ada bicara sama sekali. Siapa yang bicara? Tetap saja Nabi Musa. Terus, apakah Nabi Harun itu ada perannya? Tentu saja, ada perannya...

Lihatlah, dengan adanya Nabi Harun, Nabi Musa jadi lebih pede...

Adalah benar Nabi Musa telah yakin 100% kepada Tuhan-nya. Tapi, tetap saja dia membutuhkan orang lain. Dan orang itu adalah Nabi Harun. Ini sesuatu yang wajar. Alami dan manusiawi (Terima kasih Ustadz Nouman Ali Khan atas penjelasannya).

Demikian pula dengan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jujur saja, kita perlu 'Harun'. Bukan sekedar back-up, tapi lebih ke pendamping. Mungkin 'Harun' bagi kita adalah istri, sahabat, atau partner. Dengan hadirnya mereka, kita pun jadi lebih pede dalam berbicara dan bertindak. Masalah-masalah pun terselesaikan...

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat.
Pemimpin spiritual, Dalai Lama, menolak keras istilah 'teroris Kristen' atau 'teroris Muslim'. Ia mengaku tidak nyaman atas penggunaan istilah tersebut.

Menurut beliau, akan selalu ada kelompok radikal di semua komunitas, namun itu tidak mewakili keseluruhan komunitas tersebut. Pandangan itu tepat sekali.

Beliau pernah berkata, "Seorang Muslim kalau melakukan terorisme, berarti dia bukan lagi seorang Muslim." Demikian pula seorang Kristiani yang melakukan terorisme.

Lantas, apa pendapat saya tentang penembakan dan pembantaian yang terjadi di sebuah masjid di New Zealand?

Yang jelas, saya mengutuk dan mengecam tindakan terorisme tersebut. Mereka yang meninggal atau cidera, mari sama-sama kita doakan. Yang terbaik.

Mohon diperhatikan. Di kasus-kasus seperti ini, kita kecam pelakunya. Bukan masyarakatnya, bukan negaranya. Mari bersikap adil dan proporsional.

Simak lanjutannya >>

https://www.instagram.com/p/BvBYU6ulMSC/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=zzxqa9kqhrgm
Pernahkah Anda melakukan perjalanan bisnis (business trip) bersama partner-partner Anda? Alhamdulillah, saya pernah.

Sudah semestinya kita membangun hubungan yang baik dengan partner-partner kita. Sehingga, yang terjalin BUKAN semata-mata ikatan bisnis, tapi juga ikatan emosional dan ikatan spiritual. Syukur-syukur kalau mereka juga dijadikan sahabat.

Teman beda dengan sahabat.

Bergaul dengan siapa saja, boleh. Itu supel namanya. Tapi soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita.

Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual minyak wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."

Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat (sahabat) dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti soal ini.

"Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya (sahabatnya). Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,” peringatan Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.

Gimana dengan teman di socmed? Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook dan Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Ini menurut Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.

Kembali soal sahabat. Sekali lagi, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat).

Lantas, bagaimana cara membangun hubungan dan mengenal seorang sahabat?

Secara umum, ada dua. Pertama, perbanyak aktivitas bersama. Kedua, adakan perjalanan bersama (safar). Kadang disebut juga dengan safari. Pelakunya adalah musafir.

Ujar Syaikh Muhammad bin Shalih, "Safar secara makna disebut as-safaru-safran karena memang 'membuka akhlak seseorang'. Maksudnya, membuat keadaan jadi begitu jelas dan begitu nyata."

Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya untuk sekian lama dan bisa terungkap setelah melakukan safar alias bepergian bersama. Dalam safar itulah akhirnya kita mengetahui akhlak dan perangai aslinya. Right?

Reaksi Umar bin Khattab saat ada seseorang yang merekomendasikan temannya, adalah bertanya, “Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya? Apakah engkau telah lama bergaul dengannya?” Jika jawabannya 'ya' maka Umar pun menerimanya.

Jika jawabannya 'belum' maka Umar akan melanjutkan, “Engkau belum mengetahui hakikat nyata tentang orang itu."

Dan menurut agama, dianjurkan safar dengan teman. Bareng-bareng. Jangan sendirian. Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”

Suatu ketika Nabi Muhammad pun berpesan, "Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya."

Karena itulah di komunitas BP (Billionaire with Pride) kami bepergian bersama. Di antara hikmahnya adalah untuk saling menjaga dan untuk saling mengenal. Insya Allah.

Terakhir, saya berharap semoga Allah memampukan kita semua untuk safar (trip) ke berbagai negara di 5 benua. Aamiin. Mungkin untuk tujuan bisnis, tujuan ibadah, atau tujuan yang lainnya.
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Satu gambar, seribu makna!
Pesan guru saya, "Selling is amazing"

Menjual itu menakjubkan. Banyak sekali manfaatnya:
- Menyehatkan,
- Membuka Kemungkinan-Kemungkinan,
- Rezeki Tak Disangka-Sangka,
- Distribusi Manfaat,
- Sunnah Nabi

Lanjut guru saya, "Menjual (selling) itu seperti membawa sepeda (cycling). Bisa dilatih. Kalau sekali bisa, maka akan bisa selamanya." Saya pikir itu ada benarnya. Dan ini pula yang saya sampaikan kepada partner-partner saya.

Adam Knight, profesor biomekanik menyimpulkan, “Dari perspektif motorik, saat seseorang sudah mendapatkan satu skill, maka dia tidak akan kehilangan skill tersebut, kecuali terdapat kecelakaan syaraf atau otot.”

Ngomong-ngomong, dalam memulai bisnis, haruskah produksi sendiri? Boleh, tapi nggak harus. Saat kita ingin menjual mobil Toyota atau motor Yamaha, kita tidak perlu melakukan produksi dan perakitan sama sekali. Cukup menjual saja.

Sekarang, coba perhatikan mereka yang 'memindahkan' mobil dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa membuat dan merakit sedikitpun, mereka tetap disebut pengusaha. Right?
- Importir
- ATPM
- Dealer
- Showroom
- Broker

Boleh dibilang, seorang reseller itu mirip-mirip dengan sebuah showroom mobil. Kalau dropship? Mirip-mirip dengan seorang broker mobil. Fokusnya pada menjual.

Menjual itu baik. Asalkan barangnya, caranya, dan niatnya baik. So, jangan tabu, jangan malu. Bahkan Nabi Muhammad selama lebih dari 20 tahun, dalam bisnisnya, beliau fokus pada fungsi penjualan.

Ini pesan dan pelajaran buat kita. Think!
Business Tips For Beginner

Sejak lama, saya memberikan tips-tips berbisnis buat pemula (beginner). Ini biasanya saya sampaikan di training-training.

- No Production. Tidak harus produksi sendiri. Fokus saja pada penjualan. Karena, untuk menjalankan proses produksi yang efisien dan menguntungkan perlu modal dan pengalaman yang lumayan. Kalau pemula? Biasanya belum sanggup.

- No Operational. Jangan sampai waktu kita tersita di operasional. Fokus saja pada penjualan. Ini akan berdampak langsung pada penghasilan.

- Unperishable. Pilih produk yang tidak mudah rusak dan tidak mudah basi. Ingat, 80% teman kita di socmed, tempat tinggalnya beda kota dengan kita. Produk harus bisa dikirim dengan mudah dan cepat, tanpa harus buka cabang.

- Delivery-able. Ringan di ongkir, tidak terkendala di berat dan size. Jangan pula mudah pecah. Sebaiknya pilih produk yang kecil ukurannya tapi nilai jualnya tinggi.

- High Quality. Pastikan kualitasnya nilai 8 atau 9, sehingga manfaat dan khasiatnya berbicara dengan sendiri. Konsumen pun, tanpa diminta, akan memberikan testimoni. Lebih baik lagi kalau international standard.

- High Repetition. Cari produk yang harus dibeli ulang oleh konsumen dalam mingguan atau bulanan. Ini akan membantu kita dalam hal cahsflow. Ingat, mencari pelanggan baru mengharuskan cost 6 kali lebih tinggi.

- High Margin. Minimal marginnya 25%. Bukan karena kita serakah. Justru kita ingin bagi-bagi keuntungan kepada reseller, dropship, dsj. Kalau margin hanya 10%, gimana bagi-baginya?

- Sell to Seller. Produk harus bisa dijual pada penjual. Ini untuk mempercepat volume penjualan dan pertumbuhan bisnis. Satu lagi. Dengan cara ini, kita bisa membantu orang lain untuk jadi pengusaha.

Ya, sejak lama, saya memberikan tips-tips ini buat pemula. Silakan tanya alumni-alumni training saya. Nah sekarang, teman-teman di Telegram, tinggal praktek saja. Semoga berkah berlimpah.
Kalau bisnis harus produksi sendiri, yah repot.

Kalau bisnis harus punya karyawan, yah repot.

Kalau bisnis harus punya toko, yah repot.

Bukannya dilarang. Boleh-boleh saja. Tapi ini rada merepotkan bagi seorang pemula (beginner) yang jelas-jelas modalnya dan ilmunya sangat terbatas.

Karena itulah, buat pemula saya anjurkan:
- jangan buru-buru rekrut karyawan
- jangan dulu garap produksi
- jangan dulu sewa toko

Terus, baiknya?
- cari vendor dan produk yang bagus
- anda jualkan, distribusikan

Dengan cara ini, Anda bisa menghemat Rp5juta sampai Rp10juta sebulan. Soalnya Anda tidak perlu membayar gaji karyawan, sewa toko, listrik-air, dan proses produksi.

Seiring usaha semakin berkembang dan Anda semakin sibuk, barulah pelan-pelan Anda merekrut karyawan dan menyewa toko. Anda pun tidak keberatan melakukan ini karena sudah punya uangnya dan paham ilmunya.

Zaman sekarang, untuk menjadi pengusaha jauh lebih mudah. Socmed bisa menjangkau ke mana-mana. Dengan sedikit keberanian dan sedikit bimbingan, Anda atau siapapun bisa jadi pengusaha. Insya Allah.

Siap?
Target, prestasi, dan produktif adalah kata-kata yang dipopulerkan oleh manusia modern. Sah-sah saja. Dan kita mau nggak mau harus welcome dengan kata-kata ini. Juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, apa tips dari saya?

Pertama, cari lingkungan dan ekosistem yang membuat kita bertumbuh. Keras dikit, capek dikit, nggak masalah. Hei, jangan mengeluh. Yang penting, ini membantu kita bertumbuh.

Hati-hati. Keadaan serba nyaman sering membuat orang manja dan tidak keluar potensinya. Percayalah, harus ada leader atau mentor yang selalu mengingatkan kita, "Grow, grow, grow!"

Kedua, temukan kelebihan kita. Ekspos itu. Pada dasarnya, manusia akan merasa bahagia dan lebih cepat suksesnya kalau dia berhasil menemukan serta memanfaatkan kelebihannya.

Ketiga, jangan risih dengan target yang besar. Itu baik dampaknya buat finansial, kesehatan, dan pengembangan diri. Lagi pula, penetapan target tentu telah melalui proses yang panjang dan matang. Nggak asal-asalan.

Keempat, miliki ketekunan. Bisnis atau karier kalau ditekuni, insya Allah pasti menghasilkan. Ketekunan, saking seringnya dibahas, sampai-sampai semua orang merasa tahu. Tapi sayangnya, hanya segelintir yang benar-benar menerapkan.

Kelima, fokus pada prestasi, bukan nyinyiran orang lain. Ya, isi hari-hari dengan prestasi. Percayalah, setiap pencapaian akan berbunyi. Bahkan lebih terdengar daripada kata-kata dan narasi. Bagi saya, prestasi adalah bukti. Prestasi adalah kemuliaan diri.

Terakhir, izinkan saya memberikan contoh. Shafira adalah salah satu merek asli Indonesia yang sangat kita banggakan. Kaya dengan prestasi. Kaya dengan manfaat. Simak >> https://www.instagram.com/p/BvnTyAnFGAO/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=atfl2z6bn6dt

Lima tips tadi praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Istimewa! Itulah kesan saya saat mempelajari seekor hewan bernama lebah. Benar-benar istimewa.

Bayangkan, 20 Mei adalah Hari Lebah Sedunia. Sementara, Hari Ippho Sedunia belum ada sampai saat ini. Lebahnya lebih hebat tho?

😄

Peran lebah itu sangat krusial. Menurut FAO (PBB), 75% penyerbukan di dunia ditentukan oleh lebah. Bayangkan apa jadinya kalau dunia tanpa lebah? Musibah!

Walaupun propolis lebih powerful daripada madu, tapi kita semua tahu bahwa lebah bukan saja menghasilkan propolis dan madu, tapi juga bee pollen dan royal jelly. Semuanya sarat akan manfaat. Sepakat?

Begitulah, kebermanfaatan lebah tidak bisa dibantah sama sekali. Diakui oleh PBB dan semua orang seantero bumi, bahkan direkomendasikan oleh Illahi.

"Lebah mengeluarkan minuman," An-Nahl 69.

"Mukmin itu bagaikan lebah," HR Ahmad.

🐝🐝🐝

Lantas, apa hikmahnya buat kita?

Begini. Di mana saja lebah hinggap, tak satu pun daun atau ranting yang rusak. Alih-alih merusak, lebah malah membantu penyerbukan tumbuhan.

Terus, dia menghasilkan madu, propolis, dll. Semuanya sarat manfaat.

Demikian pula manusia. Di manapun dia berada harusnya membawa manfaat. Dan hanya manfaat. Saya menyebutnya, kebaikan yang berlapis-lapis.

Yuk praktek!
Seperti yang teman-teman tahu, saya punya komunitas Billionaire with Pride (BP). Mereka adalah partner-partner saya. Selain keluarga, jujur saja, saya banyak menghabiskan waktu bersama mereka.

Saya yakin, semua mitra confident dengan bisnis BP, baik dari segi profitnya, khasiatnya, ekosistem-nya, maupun mentoring-nya. Dan ini terlihat pada sales dan repeat order selama ini. Alhamdulillah.

Nah, di antara semua, ada mitra-mitra yang benar-benar fokus dan total di BP. Tingkat confidence mereka berbeda dengan mitra-mitra lainnya.

Bagi mereka, tidak ada bahtera yang lain, hanya ada satu bahtera, yaitu BP. Dan tidak ada nahkoda yang lain, hanya ada satu nahkoda, yaitu Ippho.

Tentu saja, totalitas ini perlu saya hargai. Makanya ada program dan hadiah khusus yang saya rancang untuk mereka. Salah satunya, jumpa dengan tokoh-tokoh tertentu.

Terus, apa saran saya buat teman-teman? Pertama, harus ada reward buat anggota tim yang sudah perform. Kedua, harus ada punishment, setidaknya warning, buat anggota tim yang belum perform.

Ini sesuatu yang wajar. Tuhan pun begitu ke kita. Dengan adanya pahala dan dosa, surga dan neraka. Pada akhirnya ini memotivasi kita untuk 'perform' lebih baik lagi. Kurang-lebih begitu.

Terakhir, hati-hati, ketidakjelasan pada reward dan punishment akan membuat tim bingung. Tentunya, ini akan berdampak pada performance mereka. Saran saya, harus ada kejelasan pada reward dan punishment sejak awal. Umumkan itu.

Sekian, semoga bermanfaat!
Bahagia itu mudah dan sederhana. Gaya-gayaan dan gengsi-gengsian yang membuatnya sulit dan rumit. Bahkan jadi mahal. Begitulah kira-kira.

Riset klasik menunjukkan sesuatu yang menarik tentang bahagia. Menurut Harvard Study of Adult Development, kunci kehidupan yang bahagia adalah kekuatan hubungan dengan keluarga, pasangan, dan sahabat. BUKAN pada uang dan ketenaran. 

Lantas, apa pendapat saya?

Sepertinya, lebih tepat kalau uang disebut sebagai alat bantu (tool) untuk mencapai kebahagiaan. Uang bukan semata-mata bertujuan konsumsi alias kepentingan pribadi. Melainkan uang juga bertujuan distribusi alias berbagi kepada sesama.

Lebih lanjut, telah ditemukan istilah 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989. Di mana munculnya bermacam-macam perasaan positif setelah menolong dan berbagi. Ya, bahagia dapat diraih dengan sederet cara, salah satunya dengan berbagi.

Dua hari terakhir saya berada di Purwokerto dan Solo. Kepada partner-partner, untuk kesekian kalinya saya membahas tentang pentingnya bahagia dan berbagi. Nggak harus nunggu kaya.

Pada akhirnya, saya harap Anda setuju dengan saya.
Hari itu, saya dan istri dijamu oleh Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Mereka adalah cucu dari pendiri Toyota. Masya Allah. Bukan itu saja. Lalu saya dan istri diizinkan menginap dua malam di rumah mereka.

Alhamdulillah selama berada di rumah keluarga Toyoda, saya memetik berbagai kisah dan hikmah dari penuturan mereka. Di antaranya, dukungan keluarga dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Ini sangat krusial.

Btw, Anda sudah nonton film Shazam dan Captain Marvel?

Di film #Shazam, kita diingatkan kembali tentang pentingnya peran keluarga dan kaitannya dengan pencapaian-pencapaian besar. Saat keluarga mendukung, maka potensi-potensi hebat pun terbuka. Kemenangan dan pencapaian-pencapaian besar akhirnya bisa diraih.

Mirip-mirip dengan film #CaptainMarvel. Selain diingatkan kembali tentang pentingnya peran keluarga, kita juga diingatkan tentang perlunya berdamai dengan masa lalu. Walaupun dulu kita dikaruniai orangtua dan lingkungan yang tidak ideal, kita harus mau menerima dan memaafkan.

Kepada siapapun jangan dendam, apalagi kepada orangtua.

Pesan saya, apapun yang pernah terjadi, jangan pernah dendam sama orangtua. Sekalipun jangan. Sekiranya sekarang kita didampingi oleh orangtua yang 'keras', yah dibawa positif saja.

Bukankah itu menempa kita? Menjadikan kita bermental baja, iya tho? Sehingga kita nggak cengeng kalau-kalau dihadapkan dengan masalah dan kegagalan. Be positive!

Terus, gimana kalau ternyata orangtua beda agama dengan kita? Tetaplah berbakti. Ada banyak cara untuk berbakti. Marah atau dendam, sekalipun jangan.

Coba lihat diri kita. Lihat baik-baik. Apakah diri kita ideal? Sepertinya tidak. Jauh dari ideal. Maka jangan pula kita berharap besar bahwa orang-orang di sekitar kita harus ideal. Lebih elok, bawa harapan itu dalam doa dan sabar.

Memang ini tidak mudah. Tapi, bisa insya Allah. Sekian, semoga bermanfaat.
Mereka baru berjuang sekitar 1 tahun 6 bulan. Hampir setiap hari saya bimbing melalui grup WA dan telepon. Berkala, ada training dari pusat (saya dan tim). Mereka pun sungguh-sungguh menerapkan.

Calon konsumen menolak, bagi mereka, itu biasa. Calon mitra menolak, itu juga biasa. Saya marahi, itu pun biasa. Hehehe. Mereka jalan terus. Ikhtiar terus. Fight terus. Kenapa?

Mereka sudah yakin, ini produk bagus. Margin oke, manfaat oke, bimbingan juga oke. Hanya dalam satu setengah tahun, alhamdulillah mereka meraih sesuatu. Income bertambah, ilmu bertambah, manfaat bertambah. Bahkan mereka turut mencetak hadirnya pengusaha-pengusaha baru.

Di BP, alhamdulillah itulah yang mereka raih. Saya tidak tahu apa saja yang akan mereka raih dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Sepertinya bakal lebih dahsyat lagi. Insya Allah. Toh selama ini di BP mereka sudah biasa mencetak uang belasan juta sampai puluhan juta per bulan.

Tolong doakan mereka, semoga menjadi pengusaha yang soleh, bermanfaat luas bagi keluarga dan sesama. Aamiin. Saya doakan juga teman-teman di sini, semoga berhasil dengan bisnisnya masing-masing. Aamiin.

Saling mendoakan ya >> https://www.instagram.com/p/BvyPSMnlND9/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1c4xxgmbdo50p
Awasi anak-anak kita.

Juni 2018, WHO resmi menetapkan #KecanduanGame sebagai gangguan mental. Netta Weinstein, psikolog dari Universitas Cardiff menyatakan, adanya semacam 'kekosongan jiwa' pada gamer yang kecanduan tersebut.

Hati-hati.