Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Simak deh.
Sedekah itu baik. Namun jangan mau juga kalau disalahgunakan. Itu kurang bijak, menurut saya.

Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan preman juga oknum setempat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan.

Pantaslah MUI dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.

Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis jalanan seperti kasus-kasus yang diberitakan di media. Tahukah Anda, ketika Ramadhan, income mereka bisa melesat tiga kali lipat!

Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.

Sekali lagi, alangkah baiknya jika sedekah kita tepat sasaran dan tidak mengayakan preman juga oknum setempat. Mudah-mudahan menjadi kebaikan yang terhitung sempurna. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Keceriaan ketika bukber kemarin bareng mitra-mitra. Alhamdulillah, ada sharing dari Pak Nasrullah dan Pak Ahmad Gozali. Hadir juga Mas Mono
Mukmin bagaikan lebah. Itu kata Nabi... Kenapa lebah? Kok bukan semut, kuda, atau unta? Simak video di atas...
Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak? Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Terorganisir. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.

Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.

Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.

Ketika Ramadhan, gerakan mereka pun semakin menjadi-jadi karena bisa mendapatkan uang sedekahan 3X atau 4x lebih besar.

Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
 
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.

Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!

Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.

Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.

Mungkin ada baiknya kita berdonasi melalui lembaga-lembaga terpercaya saja, seperti Dompet Dhuafa (DD), ACT, DT, PPPA, BAZNAS, Yatim Mandiri, atau sejenisnya. Mereka teraudit. Publik pun bisa mengecek. Amanah insya Allah.

Be wise.
Anda tahu, apa yang paling penting pada 'pasangan'?

Yang paling penting adalah kata 'pas'.

Tanpa kata 'pas' yang ada cuma 'angan' alias 'angan-angan'.

Terus, gimana dengan falsafah 'belahan jiwa'?

Sering disebut-sebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Apa betul itu? Ternyata, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia cenderung memiliki DNA yang sama.

Menakjubkan dan mengejutkan!

Ini menurut Ben Domingue dari University of California setelah meneliti 800 pasangan. Nah, bagaimana dengan belahan jiwa Anda? Sudahkah ditemukan? Kalau sudah ditemukan, sudahkah dibahagiakan?

Bagi saya, kalau memang dia itu istri Anda atau suami Anda, berarti itu adalah takdir Anda. Dengan kata lain, itulah yang terbaik buat Anda saat ini, menurut Allah. Semoga kita semua pandai-pandai memaknai dan mensyukuri keberadaan pasangan kita masing-masing.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau hari biasa kita berbuat baik kepada pasangan, pastikan di bulan puasa kita berbuat lebih. Ya, berbuat lebih.
Sabtu, 2 Juni, jam 15.00 WIB, insya Allah saya akan sharing di acara HijabFest, Senayan City.
Yang mau belajar ilmu rezeki, ilmu keajaiban, silakan hadir bersama sahabat-sahabat dan keluarganya.
Saya sering mengingatkan peserta seminar tentang rezeki yang halal. Ya, rezeki yang halal.

“Sesiapa yang mengusahakan barang yang halal untuk keluarganya, ibaratnya ia seorang pejuang di jalan Allah. Dan sesiapa yang mencari dunia yang halal dengan menjaga diri dari sesuatu yang tak berguna, maka ia menduduki derajat seorang syuhada,” pesan Nabi Muhammad suatu ketika.

“Sesiapa yang menyantap makanan yang halal selama empat puluh hari, niscaya Allah akan menyinari hatinya dan akan memancarkan hikmah dari hatinya ke lisannya," pesan Nabi Muhammad di kesempatan berbeda.

Ternyata, sesuatu yang halal itu membawa berbagai manfaat. Masya Allah! Bukan saja diganjar surga, melainkan juga diberi ilmu, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Kesehatan? Itu pasti.

Saad bin Abi Waqqash, sahabat kesayangan Nabi Muhammad dan kesayangan Usman bin Affan, pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat berharga, "Bagaimana caranya agar doaku lebih dikabulkan?"

Menariknya, Nabi tidak mengajarkan Saad zikir atau amal tertentu. Sama sekali tidak. Nabi malah menjawab sesuatu yang berbeda. Lantas, apa jawaban Nabi? "Jaga makananmu."

Perlu ditegaskan di sini, penafkahan yang abu-abu atau ragu-ragu, abaikan saja.

Begitulah, rezeki yang halal adalah suatu keharusan, tak bisa ditawar-tawar. Ini harus kita perjuangkan. Apapun posisi kita, apapun profesi kita. Entah karyawan, entah pengusaha. Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.



(Saya lebih aktif di channel Telegram @ipphoright. Silakan ajak keluarga dan teman-teman kita beralih ke Telegram. Lebih ringan dan lebih cepat daripada WA)
Gaya Pak Sandi ketika melihat saya dan Direktur DD di Kampus Umar Usman. Santai, hangat.
Sharing di Ramadhan Camp, Umar Usman.
Diskusi dengan pendiri DD.