Senang sekali, tadi pagi bisa silaturahim (lagi) dengan tiga ulama, yaitu Ust Somad, Aa Gym, dan TGB. Sarapan bareng. Alhamdulillah.
Btw, teman-teman ada pesan untuk beliau-beliau? Silakan komen dan sampaikan di IG saya...
https://www.instagram.com/p/BhA_sVZhU3v/
Btw, teman-teman ada pesan untuk beliau-beliau? Silakan komen dan sampaikan di IG saya...
https://www.instagram.com/p/BhA_sVZhU3v/
Instagram
Motivator Indonesia - IPPHO
Belajar dan berguru, jangan pernah jemu. Ketika #berguru, bukan sekedar mencari ilmu. Tapi akhlak sang guru juga harus ditiru. Teman-teman setuju?
Membangun silaturahim bukan pekerjaaan satu hari dua hari, melainkan pekerjaan bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Kita mesti mau mengalokasikan waktu, kadang harus melepas kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kita tidak bisa hadir di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Right?
Jumat sore, saya diundang oleh Shafira untuk hadir di acara Indonesia Fashion Week. Saya pun beroleh kehormatan untuk memberikan bunga di akhir sesi kepada founder dan perancang Shafira, Bu Feny Mustafa. Alhamdulillah.
Sabtu pagi sampai sore, saya bersama mitra-mitra British Propolis mengunjungi rumah Mas Jaya Setiabudi, founder YukBisnis.com. Di sana kami ngobrol-ngobrol bermutu, insya Allah sarat dengan ilmu. Alhamdulillah, kami sudah bersahabat selama belasan tahun, sejak di Batam dulu.
Ahad pagi, saya bahagia sekali diundang sama #AaGym untuk sarapan juga silaturahim dengan #UstadzAbdulSomad dan #TuanGuruBajang di Eco Pesantren DT. Serunya lagi, mereka berkuda. Foto-fotonya sekarang jadi viral.
UAS dan TGB awal-awal sempat kagok pas diajak berkuda. Apalagi kudanya besar-besar, hehehe. Tapi akhirnya beliau-beliau menikmati. Begitulah, rasa takut jangan dimanjakan. Baiknya dihadapi dan diatasi. Insya Allah berbagai hikmah menanti.
Sama seperti UAS, ternyata TGB sudah lama membaca buku saya. Alhamdulillah.
Sebagian teman-teman bertanya kepada saya, "Kok Mas Ippho bisa ngumpul-ngumpul bareng beliau-beliau. Apa karena buku?" Saya cuma senyum. Yang jelas, Allah yang mempertemukan. Saya cuma menjalani. Sesederhana itu.
Di satu sisi, Aa Gym dan UAS adalah guru-guru yang rendah hati. Saya sebagai murid senang sekali ketika diajak serta. Di sisi lain, saya mengenal Aa Gym sejak 2004, bahkan kami sempat seminar bareng dan bikin buku bareng pada 2005.
Memang, hadirnya buku-buku saya memudahkan saya untuk silaturahim. Ke sana, ke mari. Tapi, menurut saya, BUKAN itu yang utama. Terus, apa yang utama? Mau mengalokasikan waktu dan mau melepas kesempatan-kesempatan yang lain.
Pas sesi sarapan, saya sempat memperkenalkan ibu saya kepada UAS. Bertepatan saya dan UAS sama-sama berasal dari Pekanbaru. Terus, ibu saya berasal dari Pakakumbuh. Begitu tahu ibu saya berdarah Minang, UAS langsung menyapa ibu saya dengan Bahasa Minang yang fasih dan hangat. Ini berkesan bagi ibu saya.
Begitulah, di dalam silaturahim bertabur hikmah-hikmah. Bukan saja ilmu, tapi juga mendekatkan hati satu sama lain dan mengundang berbagai keberkahan. Insya Allah. Saya harap Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jumat sore, saya diundang oleh Shafira untuk hadir di acara Indonesia Fashion Week. Saya pun beroleh kehormatan untuk memberikan bunga di akhir sesi kepada founder dan perancang Shafira, Bu Feny Mustafa. Alhamdulillah.
Sabtu pagi sampai sore, saya bersama mitra-mitra British Propolis mengunjungi rumah Mas Jaya Setiabudi, founder YukBisnis.com. Di sana kami ngobrol-ngobrol bermutu, insya Allah sarat dengan ilmu. Alhamdulillah, kami sudah bersahabat selama belasan tahun, sejak di Batam dulu.
Ahad pagi, saya bahagia sekali diundang sama #AaGym untuk sarapan juga silaturahim dengan #UstadzAbdulSomad dan #TuanGuruBajang di Eco Pesantren DT. Serunya lagi, mereka berkuda. Foto-fotonya sekarang jadi viral.
UAS dan TGB awal-awal sempat kagok pas diajak berkuda. Apalagi kudanya besar-besar, hehehe. Tapi akhirnya beliau-beliau menikmati. Begitulah, rasa takut jangan dimanjakan. Baiknya dihadapi dan diatasi. Insya Allah berbagai hikmah menanti.
Sama seperti UAS, ternyata TGB sudah lama membaca buku saya. Alhamdulillah.
Sebagian teman-teman bertanya kepada saya, "Kok Mas Ippho bisa ngumpul-ngumpul bareng beliau-beliau. Apa karena buku?" Saya cuma senyum. Yang jelas, Allah yang mempertemukan. Saya cuma menjalani. Sesederhana itu.
Di satu sisi, Aa Gym dan UAS adalah guru-guru yang rendah hati. Saya sebagai murid senang sekali ketika diajak serta. Di sisi lain, saya mengenal Aa Gym sejak 2004, bahkan kami sempat seminar bareng dan bikin buku bareng pada 2005.
Memang, hadirnya buku-buku saya memudahkan saya untuk silaturahim. Ke sana, ke mari. Tapi, menurut saya, BUKAN itu yang utama. Terus, apa yang utama? Mau mengalokasikan waktu dan mau melepas kesempatan-kesempatan yang lain.
Pas sesi sarapan, saya sempat memperkenalkan ibu saya kepada UAS. Bertepatan saya dan UAS sama-sama berasal dari Pekanbaru. Terus, ibu saya berasal dari Pakakumbuh. Begitu tahu ibu saya berdarah Minang, UAS langsung menyapa ibu saya dengan Bahasa Minang yang fasih dan hangat. Ini berkesan bagi ibu saya.
Begitulah, di dalam silaturahim bertabur hikmah-hikmah. Bukan saja ilmu, tapi juga mendekatkan hati satu sama lain dan mengundang berbagai keberkahan. Insya Allah. Saya harap Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Azan & Aktor Hollywood
Dalam azan, sebenarnya ada dua seruan. Pertama, seruan untuk sholat. Kedua, seruan untuk menang. Ayo sholat, ayo menang. Menurut saya, ini hebat sekali. Lebih hebat dari yell-yell motivasi manapun!
Dua aktor ternama Hollywood, Liam Neeson juga Will Smith, sempat terpana dan terpesona dengan #SuaraAzan. Ini terjadi di Turki dan di India. Justin Bieber bahkan pernah menghentikan sejenak konsernya demi menghormati azan.
Nggak percaya? Silakan googling berita-beritanya. Sahih insya Allah. Ternyata mereka bertiga lebih pancasilais ketimbang si pembaca puisi itu. Btw, suara azan dianggap kalah merdu, menurut si pembaca puisi itu.
Apa pendapat saya? Pernyataan dia jelas-jelas menghina dan merendahkan. Repotnya, kalau kita protes, ntar kita dianggap terlalu vokal dan radikal. Padahal siapa yang bermulut kasar dan berpikir dangkal?
Kita berulang kali diminta untuk sabar dan menjaga sikap. Selaluuu begitu. Sementara orang-orang seperti dia seenaknya tidak menjaga mulut dan tidak menjaga sikap. Apa mungkin karena mereka sadar bahwa mereka kebal hukum?
Azan itu istimewa. Pesan Nabi, kalau ada azan, dengarlah dan jawablah. Selesai azan, berdoalah. Bayangkan, ini reminder dan calling untuk beribadah kepada-Nya. Sarat dengan doa serta harapan. Itu kan indah sekali. Setidaknya, bagi seorang Muslim yang masih punya iman di hatinya.
Bagi saya, kalau kau belum tahu soal syariat, kalau kau belum tahu soal azan, #belajarlah. Jangan pongah. Tak perlu pula kau rendahkan azan dan kau banding-bandingkan dengan kidung serta puisi.
Kalaupun kau tak mau belajar soal syariat dan azan, yah diam dan hormatilah. Ini Indonesia. Saling menghormati, saling menghargai, itu baru namanya Indonesia, itu baru namanya Pancasila.
Di sisi lain, bagi seluruh Muslim, saya menganjurkan kita semua untuk introspeksi. Barangkali selama ini kita sering mengabaikan azan. Tidak mengindahkan. Allah izinkan peristiwa ini terjadi, mungkin agar kita kembali mengingat pentingnya azan dan pentingnya sholat.
Tulisan ini boleh di-share. Berulang-ulang. Seluas-luasnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam azan, sebenarnya ada dua seruan. Pertama, seruan untuk sholat. Kedua, seruan untuk menang. Ayo sholat, ayo menang. Menurut saya, ini hebat sekali. Lebih hebat dari yell-yell motivasi manapun!
Dua aktor ternama Hollywood, Liam Neeson juga Will Smith, sempat terpana dan terpesona dengan #SuaraAzan. Ini terjadi di Turki dan di India. Justin Bieber bahkan pernah menghentikan sejenak konsernya demi menghormati azan.
Nggak percaya? Silakan googling berita-beritanya. Sahih insya Allah. Ternyata mereka bertiga lebih pancasilais ketimbang si pembaca puisi itu. Btw, suara azan dianggap kalah merdu, menurut si pembaca puisi itu.
Apa pendapat saya? Pernyataan dia jelas-jelas menghina dan merendahkan. Repotnya, kalau kita protes, ntar kita dianggap terlalu vokal dan radikal. Padahal siapa yang bermulut kasar dan berpikir dangkal?
Kita berulang kali diminta untuk sabar dan menjaga sikap. Selaluuu begitu. Sementara orang-orang seperti dia seenaknya tidak menjaga mulut dan tidak menjaga sikap. Apa mungkin karena mereka sadar bahwa mereka kebal hukum?
Azan itu istimewa. Pesan Nabi, kalau ada azan, dengarlah dan jawablah. Selesai azan, berdoalah. Bayangkan, ini reminder dan calling untuk beribadah kepada-Nya. Sarat dengan doa serta harapan. Itu kan indah sekali. Setidaknya, bagi seorang Muslim yang masih punya iman di hatinya.
Bagi saya, kalau kau belum tahu soal syariat, kalau kau belum tahu soal azan, #belajarlah. Jangan pongah. Tak perlu pula kau rendahkan azan dan kau banding-bandingkan dengan kidung serta puisi.
Kalaupun kau tak mau belajar soal syariat dan azan, yah diam dan hormatilah. Ini Indonesia. Saling menghormati, saling menghargai, itu baru namanya Indonesia, itu baru namanya Pancasila.
Di sisi lain, bagi seluruh Muslim, saya menganjurkan kita semua untuk introspeksi. Barangkali selama ini kita sering mengabaikan azan. Tidak mengindahkan. Allah izinkan peristiwa ini terjadi, mungkin agar kita kembali mengingat pentingnya azan dan pentingnya sholat.
Tulisan ini boleh di-share. Berulang-ulang. Seluas-luasnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sudirman bukan saja seorang jenderal, tapi juga seorang ustadz.
Menurut catatan sejarah, Sudirman dan adiknya belajar Islam di bawah bimbingan Kyai Haji Qahar. Boleh dibilang, Sudirman adalah orang yang taat beragama dan shalat tepat waktu. Ia pun dipercaya untuk melantunkan azan dan iqamah.
Sudah terlihat sejak kecil, Sudirman punya jiwa sosial yang tinggi. Ia gemar membantu. Pendidikan yang pernah dikecapnya adalah Sekolah Guru Muhammadiyah di Solo, tapi tidak sampai tamat. Namun demikian, beliau sempat menjadi guru di Muhammadiyah Cilacap.
Anak buahnya biasa menyapa Kajine, istilah Jawa untuk panggilan Pak Haji. Padahal beliau belum pernah ke Mekkah apalagi sampai berhaji. Satu lagi. Ia gemar berzikir dan menjaga wudhu. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Surah Ash-Shaf ayat 10-12 sering ia kutip dan sampaikan kepada anak buahnya. Intinya tentang suatu perniagaan yang benar-benar menyelamatkan, yaitu dengan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa.
Ketika ia sakit keras, ia tetap memilih untuk berjuang. Tidak diam. Selama bertahun-tahun. Karena jasa-jasanya, Sudirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968 serta namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan besar, universitas, museum, dan monumen.
Muhammad Isa Anshary menyatakan bahwa Sudirman adalah putra revolusi, karena dia lahir dalam revolusi, dan dibesarkan oleh revolusi. Yang jelas, Sudirman bukan saja seorang jenderal, tapi juga seorang ustadz. Semoga menjadi inspirasi bagi kita.
Menurut catatan sejarah, Sudirman dan adiknya belajar Islam di bawah bimbingan Kyai Haji Qahar. Boleh dibilang, Sudirman adalah orang yang taat beragama dan shalat tepat waktu. Ia pun dipercaya untuk melantunkan azan dan iqamah.
Sudah terlihat sejak kecil, Sudirman punya jiwa sosial yang tinggi. Ia gemar membantu. Pendidikan yang pernah dikecapnya adalah Sekolah Guru Muhammadiyah di Solo, tapi tidak sampai tamat. Namun demikian, beliau sempat menjadi guru di Muhammadiyah Cilacap.
Anak buahnya biasa menyapa Kajine, istilah Jawa untuk panggilan Pak Haji. Padahal beliau belum pernah ke Mekkah apalagi sampai berhaji. Satu lagi. Ia gemar berzikir dan menjaga wudhu. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Surah Ash-Shaf ayat 10-12 sering ia kutip dan sampaikan kepada anak buahnya. Intinya tentang suatu perniagaan yang benar-benar menyelamatkan, yaitu dengan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa.
Ketika ia sakit keras, ia tetap memilih untuk berjuang. Tidak diam. Selama bertahun-tahun. Karena jasa-jasanya, Sudirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968 serta namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan besar, universitas, museum, dan monumen.
Muhammad Isa Anshary menyatakan bahwa Sudirman adalah putra revolusi, karena dia lahir dalam revolusi, dan dibesarkan oleh revolusi. Yang jelas, Sudirman bukan saja seorang jenderal, tapi juga seorang ustadz. Semoga menjadi inspirasi bagi kita.
Pertama-tama, saya mau bertanya. Rp 1 M, terhitung besar atau kecil? Relatif, sebenarnya. Tergantung kapasitas kita. Terlepas dari itu, saya yakin Anda setuju dengan kalimat-kalimat berikut ini:
- Rp 1 M menjadi mudah, jika kita tahu ilmunya. Apalagi kalau cuma Rp 100 juta.
- Masalah (Outer Problem) sebesar Rp 100 juta menjadi kecil, jika kapasitas kita (Inner-Capacity) sudah Rp 500 juta.
- Dengan kata lain, yang menjadi kunci adalah kapasitas kita. Maka perbesar kapasitas kita!
Berdasarkan pengalaman saya yang sudah-sudah, hadirnya ilmu yang tepat adalah cara terbaik untuk memperbesar kapasitas. Sekali lagi, hadirnya ilmu yang tepat.
Bisakah Anda menyetir sedan? Bisa, kalau Anda sudah menguasai ilmu menyetir sedan.
Bisakah Anda menyetir truk? Bisa, kalau Anda sudah menguasai ilmu menyetir truk (baca: memperbesar kapasitas).
Satu lagi. Mengelola sebuah warung beda dengan mengelola sebuah supermarket. Right? Kita sama-sama maklum, perlu ilmu yang lebih mumpuni (baca: kapasitas lebih besar) untuk mengelola supermarket.
Terus, apa hikmahnya? Belajarlah. Cari ilmu. Cari pengalaman. Insya Allah dengan belajar, kapasitas kita akan membesar. Mumpuni, istilah lainnya.
Dan terakhir ingatlah, Outer Problem akan mengecil, seiring Inner-Capacity kita yang membesar. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
- Rp 1 M menjadi mudah, jika kita tahu ilmunya. Apalagi kalau cuma Rp 100 juta.
- Masalah (Outer Problem) sebesar Rp 100 juta menjadi kecil, jika kapasitas kita (Inner-Capacity) sudah Rp 500 juta.
- Dengan kata lain, yang menjadi kunci adalah kapasitas kita. Maka perbesar kapasitas kita!
Berdasarkan pengalaman saya yang sudah-sudah, hadirnya ilmu yang tepat adalah cara terbaik untuk memperbesar kapasitas. Sekali lagi, hadirnya ilmu yang tepat.
Bisakah Anda menyetir sedan? Bisa, kalau Anda sudah menguasai ilmu menyetir sedan.
Bisakah Anda menyetir truk? Bisa, kalau Anda sudah menguasai ilmu menyetir truk (baca: memperbesar kapasitas).
Satu lagi. Mengelola sebuah warung beda dengan mengelola sebuah supermarket. Right? Kita sama-sama maklum, perlu ilmu yang lebih mumpuni (baca: kapasitas lebih besar) untuk mengelola supermarket.
Terus, apa hikmahnya? Belajarlah. Cari ilmu. Cari pengalaman. Insya Allah dengan belajar, kapasitas kita akan membesar. Mumpuni, istilah lainnya.
Dan terakhir ingatlah, Outer Problem akan mengecil, seiring Inner-Capacity kita yang membesar. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sekian tahun saya tinggal bersama kakek dan nenek. Beliau (kakek saya) adalah seorang karyawan. Ayah dan ibu saya juga. Karyawan. Tidak terkecuali kakak saya yang turut membantu biaya sekolah saya. Nah, ketika saya menjadi entrepreneur, ini adalah sesuatu yang baru di keluarga saya.
Layaknya entrepreneur-entrepreneur lainnya, niat saya saat itu untuk penafkahan yang lebih baik. Kurang-lebih begitu. Nggak kepikir soal sunnah atau membantu pembangunan negara. Kemudian barulah saya sadar ternyata menjadi entrepreneur itu bagian dari sunnah dan sedikit-banyak membantu pembangunan negara.
Menurut data dari pemerintah, negara-negara maju memiliki wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha muda untuk turut membantu pembangunan negara.
Disebut-sebut membantu pembangunan negara, kok bisa? Ya bisa, karena setiap unit usaha yang hadir akan membuka lapangan kerja dan ujung-ujungnya menggerakkan roda ekonomi. Betul apa betul?
Ternyata ini tidak sesulit yang kita bayangkan. Anak kecil pun bisa dilatih entrepreneurship-nya. Saran saya, biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.
Ini kita terapkan di TK dan SD Khalifah. Alhamdulillah, sekarang sudah puluhan cabang, dari Aceh sampai Papua. Termasuk di Kampus Bisnis Umar Usman di Pejaten, Jakarta.
Ketika saya bertemu Chairul Tanjung, beliau juga menyarankan hal serupa pada saya. Ajarkan ilmu penjualan sejak dini. Pesan Chairul Tanjung selanjutnya, "Jangan takut mengambil resiko. Jika berhasil, kita akan bahagia. Jika gagal, kita akan lebih bijaksana." Saya pikir kalimat itu ada benarnya
Teman-teman siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Layaknya entrepreneur-entrepreneur lainnya, niat saya saat itu untuk penafkahan yang lebih baik. Kurang-lebih begitu. Nggak kepikir soal sunnah atau membantu pembangunan negara. Kemudian barulah saya sadar ternyata menjadi entrepreneur itu bagian dari sunnah dan sedikit-banyak membantu pembangunan negara.
Menurut data dari pemerintah, negara-negara maju memiliki wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha muda untuk turut membantu pembangunan negara.
Disebut-sebut membantu pembangunan negara, kok bisa? Ya bisa, karena setiap unit usaha yang hadir akan membuka lapangan kerja dan ujung-ujungnya menggerakkan roda ekonomi. Betul apa betul?
Ternyata ini tidak sesulit yang kita bayangkan. Anak kecil pun bisa dilatih entrepreneurship-nya. Saran saya, biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.
Ini kita terapkan di TK dan SD Khalifah. Alhamdulillah, sekarang sudah puluhan cabang, dari Aceh sampai Papua. Termasuk di Kampus Bisnis Umar Usman di Pejaten, Jakarta.
Ketika saya bertemu Chairul Tanjung, beliau juga menyarankan hal serupa pada saya. Ajarkan ilmu penjualan sejak dini. Pesan Chairul Tanjung selanjutnya, "Jangan takut mengambil resiko. Jika berhasil, kita akan bahagia. Jika gagal, kita akan lebih bijaksana." Saya pikir kalimat itu ada benarnya
Teman-teman siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Mau nasib berubah? Mau rezeki bertambah? Mau impian tercapai?
Menjemput jodoh? Punya rumah impian? Punya mobil impian?
Satu hal yang selalu dipesankan oleh para mentor, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan seminar-seminar yang pernah kita ikuti."
Nah, 22 April 2018, insya Allah saya (Ippho Santosa) akan berbagi ilmu-ilmu percepatan melalui seminar 7 Keajaiban Rezeki. Bukan kebetulan, seminar ini sudah menjadi viral di mana-mana, sehingga menembus belasan negara di 5 benua, termasuk Amerika, Jerman, Jepang, New Zealand, dan Oman.
Keajaiban. Percepatan. Lompatan demi lompatan. Inilah yang akan saya tunjukkan satu per satu. Tak sedikit yang berubah nasibnya menjadi miliarder atau orang berpengaruh di negeri ini, wasilahnya melalui seminar 7 Keajaiban Rezeki. Dan dengan izin Allah, di Indonesia seminar ini telah diikuti para miliarder, para triliuner, dan artis-artis.
Kapan diadakan lagi? Di mana? Berapa lama? Silakan catat tanggal dan tempatnya:
Pejaten, Jakarta
22 April 2018
08.00 s/d 15.00
HTM Rp199ribu
VIP Rp500ribu
Rekening a/n Yayasan Dompet Dhuafa Republika:
Mandiri 127.00.700.7000.6
BNI Syariah 700.7000.117
Setelah transfer, mohon konfirmasi (via WA) ke 0813-9875-6577.
Bukti transfer berlaku sebagai tiket masuk di seminar 7 Keajaiban Rezeki ini. Fyi, sewaktu-waktu harga tiket bisa naik. Dan sewaktu-waktu ketersediaan tiket bisa habis alias sold out.
Yang pernah ikut, bantu rekomen ya. Boleh?
Temukan rahasia-rahasia sukses dan kunci-kunci percepatan di seminar ini. Semoga teman-teman semua dimudahkan untuk mengikuti. Ajak juga keluarganya. Tidak puas? Tidak dapat manfaat? Uang tiket 100% akan dikembalikan, tanpa pertanyaan apapun!
Satu lagi, seluruh keuntungan dari tiket dan acara 100% untuk sedekah.
Menjemput jodoh? Punya rumah impian? Punya mobil impian?
Satu hal yang selalu dipesankan oleh para mentor, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan seminar-seminar yang pernah kita ikuti."
Nah, 22 April 2018, insya Allah saya (Ippho Santosa) akan berbagi ilmu-ilmu percepatan melalui seminar 7 Keajaiban Rezeki. Bukan kebetulan, seminar ini sudah menjadi viral di mana-mana, sehingga menembus belasan negara di 5 benua, termasuk Amerika, Jerman, Jepang, New Zealand, dan Oman.
Keajaiban. Percepatan. Lompatan demi lompatan. Inilah yang akan saya tunjukkan satu per satu. Tak sedikit yang berubah nasibnya menjadi miliarder atau orang berpengaruh di negeri ini, wasilahnya melalui seminar 7 Keajaiban Rezeki. Dan dengan izin Allah, di Indonesia seminar ini telah diikuti para miliarder, para triliuner, dan artis-artis.
Kapan diadakan lagi? Di mana? Berapa lama? Silakan catat tanggal dan tempatnya:
Pejaten, Jakarta
22 April 2018
08.00 s/d 15.00
HTM Rp199ribu
VIP Rp500ribu
Rekening a/n Yayasan Dompet Dhuafa Republika:
Mandiri 127.00.700.7000.6
BNI Syariah 700.7000.117
Setelah transfer, mohon konfirmasi (via WA) ke 0813-9875-6577.
Bukti transfer berlaku sebagai tiket masuk di seminar 7 Keajaiban Rezeki ini. Fyi, sewaktu-waktu harga tiket bisa naik. Dan sewaktu-waktu ketersediaan tiket bisa habis alias sold out.
Yang pernah ikut, bantu rekomen ya. Boleh?
Temukan rahasia-rahasia sukses dan kunci-kunci percepatan di seminar ini. Semoga teman-teman semua dimudahkan untuk mengikuti. Ajak juga keluarganya. Tidak puas? Tidak dapat manfaat? Uang tiket 100% akan dikembalikan, tanpa pertanyaan apapun!
Satu lagi, seluruh keuntungan dari tiket dan acara 100% untuk sedekah.
Saat bertemu guru, baiknya kita bukan sekadar berguru. Cobalah berkhidmat kalau perlu.
Di Tiongkok, terhadap guru Kung Fu, para murid bersikap begitu. Di pesantren, terhadap kyai dan ustadz, para santri bersikap begitu. Berkhidmat, ini budaya yang sangat bagus dan perlu ditiru.
Saya sering berpesan, "Mesti sungguh-sungguh ketika melayani tamu atau guru. Jangan biarkan mereka menunggu." Aktif dan proaktiflah sepanjang waktu.
#Berkhidmat ada tiga caranya. Dengan tenaga, harta, dan doa. Kalau dipakai semuanya, tentu ini lebih baik. Sekiranya belum bisa semuanya, niatkan dan ikhtiarkan. Insya Allah pelan-pelan akan dimampukan.
Ibnu Abbas ketika masih kecil berkhidmat dengan tenaga kepada Nabi, lalu Nabi mendoakan kecerdasan kepada Ibnu Abbas. Sekarang, kita mengenal Ibnu Abbas sebagai sahabat yang kuat daya ingatnya dan cerdas.
Guru pada umumnya tidak minta dihormati oleh muridnya. Namun, orang yang beradab dan sadar bahwa dirinya seorang murid harus tahu diri untuk menghormati gurunya. Right?
Lagi pula, berkhidmat ini penuh keberkahan. Fakhruddin al-Arsabandi, saat tenar dan berkuasa, mengungkapkan rahasia suksesnya, "Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat kepada guruku."
Mari diterapkan. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di Tiongkok, terhadap guru Kung Fu, para murid bersikap begitu. Di pesantren, terhadap kyai dan ustadz, para santri bersikap begitu. Berkhidmat, ini budaya yang sangat bagus dan perlu ditiru.
Saya sering berpesan, "Mesti sungguh-sungguh ketika melayani tamu atau guru. Jangan biarkan mereka menunggu." Aktif dan proaktiflah sepanjang waktu.
#Berkhidmat ada tiga caranya. Dengan tenaga, harta, dan doa. Kalau dipakai semuanya, tentu ini lebih baik. Sekiranya belum bisa semuanya, niatkan dan ikhtiarkan. Insya Allah pelan-pelan akan dimampukan.
Ibnu Abbas ketika masih kecil berkhidmat dengan tenaga kepada Nabi, lalu Nabi mendoakan kecerdasan kepada Ibnu Abbas. Sekarang, kita mengenal Ibnu Abbas sebagai sahabat yang kuat daya ingatnya dan cerdas.
Guru pada umumnya tidak minta dihormati oleh muridnya. Namun, orang yang beradab dan sadar bahwa dirinya seorang murid harus tahu diri untuk menghormati gurunya. Right?
Lagi pula, berkhidmat ini penuh keberkahan. Fakhruddin al-Arsabandi, saat tenar dan berkuasa, mengungkapkan rahasia suksesnya, "Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat kepada guruku."
Mari diterapkan. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lahir di Jerman, Nouman Ali Khan salah satu ulama muda paling menonjol saat ini dan masuk dalam 500 most influential muslims in the world.
Nouman dikenal sebagai profesor di bidang tafsir, yang kemudian mendirikan Bayyinah Institute, sebuah pusat studi di Amerika Serikat.
Kemampuannya menyederhanakan analisa-analisa terkait Alquran disertai dengan bahasa yang lugas berhasil membius setiap peserta untuk fokus memperhatikan ceramahnya.
Menariknya, awal Mei 2018 beliau akan hadir dan berceramah di Indonesia. Insya Allah. Teman-teman silakan mendaftar. Free >> http://www.UstadNouman.com
Nouman dikenal sebagai profesor di bidang tafsir, yang kemudian mendirikan Bayyinah Institute, sebuah pusat studi di Amerika Serikat.
Kemampuannya menyederhanakan analisa-analisa terkait Alquran disertai dengan bahasa yang lugas berhasil membius setiap peserta untuk fokus memperhatikan ceramahnya.
Menariknya, awal Mei 2018 beliau akan hadir dan berceramah di Indonesia. Insya Allah. Teman-teman silakan mendaftar. Free >> http://www.UstadNouman.com
Saya menganjurkan orang-orang untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Syukur-syukur kalau bisa rutin seminggu sekali.
Di sini perlu keberanian, ketenangan, dan pengendalian diri. Kuda tidak suka ditunggangi oleh orang yang cemas. Dan kuda bisa tahu apakah penunggangnya cemas atau tidak. Ini fakta, bukan mitos.
Umar bin Khattab telah mewajibkan penduduk Syam supaya mengajar anak-anak mereka berenang, dan memanah, dan menunggang kuda. Pastilah ini bukan pekerjaan sia-sia atau sekadar mengisi waktu luang.
''Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah," pesan Nabi.
''Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda)," pesan Nabi.
Gimana dengan mengendarai mobil dan motor? Tentu saja ini perlu dan kita harus mampu. Tapi, ini sama sekali tidak menggantikan hikmah dan manfaat dari berkuda.
Dari segi kesehatan, berkuda bisa menjadi obat untuk berbagai penyakit atau masalah kesehatan. Seperti autis dan sakit jantung. Juga dapat menghilangkan sakit kepala, sakit pinggang, dan stress.
Sekali lagi, cobalah untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Kalau rutin seminggu sekali, tentu ini lebih baik. Semoga sehat, berkah, dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di sini perlu keberanian, ketenangan, dan pengendalian diri. Kuda tidak suka ditunggangi oleh orang yang cemas. Dan kuda bisa tahu apakah penunggangnya cemas atau tidak. Ini fakta, bukan mitos.
Umar bin Khattab telah mewajibkan penduduk Syam supaya mengajar anak-anak mereka berenang, dan memanah, dan menunggang kuda. Pastilah ini bukan pekerjaan sia-sia atau sekadar mengisi waktu luang.
''Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah," pesan Nabi.
''Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda)," pesan Nabi.
Gimana dengan mengendarai mobil dan motor? Tentu saja ini perlu dan kita harus mampu. Tapi, ini sama sekali tidak menggantikan hikmah dan manfaat dari berkuda.
Dari segi kesehatan, berkuda bisa menjadi obat untuk berbagai penyakit atau masalah kesehatan. Seperti autis dan sakit jantung. Juga dapat menghilangkan sakit kepala, sakit pinggang, dan stress.
Sekali lagi, cobalah untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Kalau rutin seminggu sekali, tentu ini lebih baik. Semoga sehat, berkah, dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.