Memperkenalkan salah satu kopi terbaik Indonesia kepada Syekh. Kopi Toraja. Kata beliau, kopi ini seperti sahabat.
Teman-teman yang ingin mengikuti magang Internet Marketing bersama Ippho Santosa dan tim di kantornya pada awal April 2018 (selama seminggu), silakan WA 0815-4333-3600 atau 0813-8080-9921. Soal jadwal dan biaya, akan kami sampaikan via WA. Baiknya segera saja take action. Mumpung masih ada seat.
Sebenarnya magang dan training ini solusi yang benar-benar smart. Serius. Cuma belajar seminggu, tapi bisa langsung menghasilkan. Insya Allah.
Support warung tetangga, sebisanya. Toh, ini bagian dari silaturahim dan meningkatkan ekonomi kerakyatan (ekonomi umat)
Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kita pun turut mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, membeli villa yang wow, dan sejenisnya.
Sementara, uang receh yang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Sambil harap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu. Betul apa betul?
Satu hal lagi. Ya, warung tetangga memang belum ideal. Tapi kalau kita dukung (support) terus-menerus, insya Allah ideal juga. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kita pun turut mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, membeli villa yang wow, dan sejenisnya.
Sementara, uang receh yang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Sambil harap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu. Betul apa betul?
Satu hal lagi. Ya, warung tetangga memang belum ideal. Tapi kalau kita dukung (support) terus-menerus, insya Allah ideal juga. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Ketika dulu merantau dan berpisah dengan keluarga, saya sempat merasa sedih. Tapi, tidak sampai menangis... Anehnya begitu berpisah dengan Syekh #YusufEstes, saya sampai menangis...
Hanya doa dan harap yang bisa kami antarkan dari Tanah Air... Semoga Allah selalu menjagamu, wahai Syekh...
Semoga teman segera ke sini (lagi) bersama keluarga dan timnya, berkali-kali. Aamiin.