Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Channel photo updated
Ada Dua Jenis Jomblo:
available
avai-labil

😆

Belum menikah?
Baru menikah?
Baca ini deh...

Riset yang dilangsungkan Australian Centre on Quality of Life merangkum, fase awal pernikahan (fase bulan madu) tidak selalu membuat pasangan merasa bahagia. Sementara, pasangan yang sudah menikah setidaknya 40 tahun ternyata lebih bahagia. Nah lho!

Apakah harta yang menentukan kebahagiaan? Nggak juga.

Saya dan istri menikah secara sederhana. Cuma syukuran di rumah. Pakai 2 tenda (awalnya cuma 1 tenda). Sebelum menikah, dia juga nggak minta macam-macam. Menurut saya, wanita yang nggak minta macam-macam, justru layak diperjuangkan dan diberikan macam-macam. Yang setuju, boleh share.

Kami bertemu cuma sekali, lalu kami memutuskan untuk menikah. Nggak pake pacaran. Menurut kami, saling kenal nggak harus pake pacaran. Resepsi kami sederhana, hidup kami awal-awal juga sederhana. Ya, serba sederhana. Walaupun restoran Sederhana tidak jadi sponsor dalam tulisan ini, hehehe.

Setelah menikah, rezeki kami membaik. Alhamdulillah, setahun setelah menikah, saya mengajaknya berumrah. Tak lama, tiga tahun berselang, kami pun berhaji. Setelah ke Tanah Suci, kami ke Amerika dan Jepang. Alhamdulillah, Dia Maha Pemurah.

Saran saya bagi teman-teman yang belum menikah, carilah pasangan yang siap berjuang namun juga siap hidup sederhana. Boleh-boleh saja berniat untuk kaya, namun kesiapan untuk hidup sederhana adalah keniscayaan. Sekali lagi, nis-ca-ya. Kenapa? Namanya hidup, percayalah, kadang tak seindah drama Korea atau film India. Ada fase-fase susah.

Perlu ditegaskan di sini, tak perlu terpana dan terpesona dengan resepsi ala artis atau pejabat di infotainment. Wong, sebagian reporter di infotainment itu sering enek ketika meliput mereka, hehehe. Jangan pula baper apalagi iri saat melihat foto honeymoon teman yang terpapar di Facebook dan Instagram. Tetaplah bertekad untuk resepsi secara sederhana.

Kalaupun ada rezeki lebih, besarkan saja di mahar, bukan di resepsi. Inilah yang sebenarnya dianjurkan oleh agama. Dengan dimaharkan begitu, uangnya nggak 'hilang' kan? Cuma berpindah ke tangan istri (pas BU, bisa dipinjam lagi, hehehe). Sekiranya jor-joran di resepsi, yang untung cuma Wedding Organizer, hehehe. Serba-serbi pernikahan, saya bahas di buku #EntengJodoh, yang sudah tersedia di Gramedia dan royaltinya semua untuk charity.

"Wah, susah nyari pasangan yang mau diajak hidup sederhana!" Nggak juga. Itu tergantung kita. Karena nilai-nilai yang kita anut akan memancar dan menarik tipe orang yang sejenis. Maka dari itulah saya selaluuuuu berseru, "Pantaskan diri, perbaiki diri." Soalnya, kita hanya dipertemukan dengan orang-orang yang pantas untuk kita. Ini berlaku dalam jodoh dan pergaulan.

Siap? #NikahSana

Ada baiknya, sekarang Anda share tulisan ini kepada teman-teman Anda. Saling mengingatkan. Terutama mereka yang belum menikah atau baru menikah.
Channel photo updated
Kali ini soal godaan.

Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi PRIA? Itulah wanita.

Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi WANITA? Itulah online shop. Hehehe.

Shopping. Belanja-belanja. Beli-beli. Milih-milih. Wanita mana yang nggak suka? Ayo ngaku! Anehnya, barang yang terlihat biasa-biasa saja oleh pria, eh bisa terlihat lucu dan unyu oleh wanita. Begitulah wanita. Hehehe.

Kadang, pekerjaan ibu rumahtangga itu melelahkan dan menjemukan. Kan seringnya di rumah. Betul apa betul? Jadi, sekiranya istri sesekali shopping, yah izinkan saja. Toh yang dia shopping itu untuk keluarga dan rumahtangga. Bukan untuk siapa-siapa.

Apabila selama ini suami SUDAH BENAR dalam mengarahkan dan mendidik istri, pastilah yang di-shopping istri itu barang-barang yang bermanfaat untuk keluarga dan rumahtangga. Nggak sia-sia.

Pesan untuk suami. Daripada berdebat nyuruh-nyuruh istri berhenti shopping, lebih baik shopping-nya diarahkan & diatur. So, everybody wins. Apalagi Anda tahu persis, nggak bakal menang berdebat melawan wanita, hehehe.

Hal ini tentu mesti dilihat secara berimbang, nggak timpang. Di mana istri pun harus tahu berapa kemampuan dan kesukaan suami. Jangan memaksakan diri. Jangan mau enaknya sendiri. Ocre?

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.

Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum dikaruniai jodoh, saya turut mendoakan. Semoga segera ya. Aamiin.
Pernah dengar Pizza Huh, Wumart, Bucksstar, dan Harry Poller?

Sekilas terdengar seperti Pizza Hut, Starbucks, Walmart, dan Harry Porter.

Kok bisa? Yuk kita bahas. Wal-Mart Stores, Inc, dengan merek Walmart, adalah raja ritel asal Amerika yang berdiri sejak 1962. Di China, kemudian merek ini ditiru dan berdirilah Wumart pada 1994, yang kini berkembang menjadi sekitar 430 toko dan 100 hypermarket. 

Begitulah China:
Wumart meniru Walmart
OFC (Obama) meniru KFC
McDnoald's meniru McDonald's
Pizza Huh meniru Pizza Hut
Bucksstar meniru Starbucks
Harry Poller meniru Harry Porter
APad meniru iPad
HiPhone meniru iPhone
Dan masih banyak lagi

Ya, meniru. Bukan sekedar terinspirasi.

Tanpa tedeng aling-aling, China menegaskan dirinya sebagai negara 'King of Counterfeiters' atau 'Rajanya Peniru' dan sulit dituntut secara hukum, terutama di China. Dari seluruh barang dan merek yang dipalsukan dunia sepanjang 2008-2010, China memproduksi 70% tiruan tersebut. Nggak percaya? Googling aja di Yahoo, hehehe.

Apakah peniruan-peniruan itu membuat Walmart, KFC, McDonald's, Pizza Hut, Starbucks, Harry Porter, iPad, dan iPhone tenggelam? Boro-boro padam, merek-merek besar itu malah semakin bersinar. Menurut mereka, lebih baik fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi. Adalah pekerjaan sia-sia kalau berharap China bertobat terkait peniruan.

Begini. Jangan gagal panen. Eh, maksud saya, jangan gagal paham. Hehehe. Saya tidak membenarkan tindakan pemalsuan dan demikian pula bunyi hukum di berbagai negara. Namun saya setuju dengan reaksi merek-merek besar itu. Alih-alih bermental pecundang, mereka fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi.

Maaf, rada beda dengan kita, yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda sudah menikah?
Punya saudara yang belum menikah?

Jones? Jomblo?
Benarkah itu jelek?

Hehehe.

Ternyata nggak juga. Sebuah studi dari Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa orang yang menjomblo bukanlah sosok kesepian seperti anggapan orang selama ini.

Anda-Anda yang jomblo pasti bersemangat sekali membaca riset ini, hehehe.

Riset tadi dihelat oleh peneliti Natalia Sarkisian dan Naomi Gerstel. Hasilnya, orang yang berstatus lajang memiliki kehidupan sosial yang lebih baik ketimbang pasangan yang telah menikah. Kok bisa?

Ya, bisa. Orang yang berstatus lajang lebih mampu bersosialisasi dengan baik terhadap teman, tetangga, orangtua, dan saudara kandung ketimbang orang seusianya yang telah menikah.

Kan mereka lebih leluasa dari segi waktu dan tidak terikat apapun. Selain itu, studi ini menemukan pula wanita dan pria yang belum menikah juga cenderung lebih mudah memberi dan menerima bantuan. Mereka tidak perlu berembuk dulu dengan siapapun. Ini sisi positifnya.

Terkait lajang alias single, sampai-sampai kemarin saya menulis status:

"MAU MENGUBAH dunia? Lakukan saja sekarang, selagi single. Ntar kalau sudah nikah, ngubah channel TV aja susah."

Hehehe, jangan terlalu serius.

Akan tetapi, para peneliti dari University of Toronto, Kanada menemukan bahwa 37 persen orang merasa takut hidup sebagai lajang alias single. Ditemukan bahwa orang yang takut melajang cenderung kurang selektif dalam memilih pasangan. Ini pun kurang baik.

Menjomblo sambil menjaga diri dan memantaskan diri adalah pilihan yang terbaik. Tak ada yang salah dengan itu. Nah, bagi Anda yang ingin menjemput jodoh dan rumahtangga yang lebih baik, ada baiknya baca buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' karya saya bareng Shamsi Ali (Imam di New York). Telah hadir di Gramedia, royalti 100% untuk sedekah.

Terus, gimana dengan falsafah 'belahan jiwa'?

Sering disebut-sebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Apa betul itu? Ternyata, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia cenderung memiliki DNA yang sama. Menakjubkan. Ini menurut Ben Domingue dari University of California setelah meneliti 800 pasangan.

Bagaimana dengan belahan jiwa Anda? Sudahkah ditemukan? Kalau sudah ditemukan, sudahkan dibahagiakan?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.