Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Mana yang duluan? Mampu dulu atau maju dulu? Action atau vision? Cepat atau tepat? Simak jawaban saya, Bong Chandra, Merry Riana, James Gwee, dan Charles Bonar Sirait... Tonton exclusive video ini, sekitar 15 menit...
Heroik!

Ketika berhaji dulu, saya sempat bertemu dengan sekelompok jamaah Indonesia yang berjalan kaki sekitar 100 km dari Mekkah ke Arafah, terus ke Musdalifah dan Mina, lalu balik lagi ke Mekkah. Ya, berjalan kaki! Tanpa kendaraan sama sekali! Meskipun kendaraan tersedia, namun mereka memilih untuk berjalan kaki. Bukan apa-apa, mereka ingin merasakan apa yang dirasakan oleh para sahabat terdahulu.

Ini heroik!

Jujur, saya nggak bisa ngebayangin betapa jauhnya dan betapa beratnya perjalanan mereka. Selain faktor jarak, ada juga faktor debu dan cuaca. Tahu sendiri kan, panasnya Arab Saudi beda dengan negeri kita. Penasaran, saya pun menghampiri mereka. Ternyata mereka bukan atlit, bukan pula kyai. Mereka adalah orang biasa. Bahkan di kelompok itu, tak sedikit orang-orang tua yang berusia 60 tahun dan 70 tahun.

Mengetahui itu, kekaguman saya pun bertambah-tambah. Sampai-sampai saya pegang kaki mereka, “Bener nggak ini manusia, jangan-jangan malaikat!” Hehehe. Terlihat jelas di sini, kalau yakin dan iman sudah besar, maka segala hambatan terasa kecil. Tapi, kalau yakin dan iman masih kecil, maka segala hambatan terasa besar. Bahkan yang sering terjadi, bukan besar beneran, melainkan cuma dibesar-besarkan.

Belakangan ini, sekelompok santri yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta demi Aksi Damai 212 menyita perhatian kita. Gimana nggak? Selebaran yang ditebar dari helikopter, stigma makar (awal-awal) dari polisi, komen negatif dari para netizen, seruan melarang dari para tokoh, penolakan jasa transportasi (awal-awal) untuk mengangkut mereka, itu semua tidak menyurutkan niat mereka. Sama sekali tidak!

Berjalan kaki sekian hari pun mereka tempuh. Mereka buktikan bahwa niat mereka sungguh-sungguh. Hujan, panas dan peluh tidak membuat mereka mengeluh apalagi mengaduh. Yang ada, di sepanjang jalan, simpati demi simpati yang mereka rengkuh. Nggak sedikit ibu-ibu yang menyediakan makanan yang hangat atau teh yang diseduh. Melihat long march mereka, hati kita pun tersentuh dan terenyuh.

Tak pelak lagi, akhirnya long march dari Ciamis ini menginspirasi long march di daerah-daerah lainnya. Heroik!

Dalam prosesnya, Aksi Damai 212 ini mengalami pergeseran dari segi lokasi dan durasi. Menurut saya, ada bagusnya juga. Awalnya zuhur sampai ashar, jadinya pagi sampai siang (tapi saya yakin bisa berlangsung sampai sore juga). Awalnya di Thamrin dan Sudirman, jadinya terpusat di Monas (tapi saya yakin bisa meluber sampai Thamrin dan Sudirman juga). Awalnya tidak melibatkan Kapolri sebagai peserta, jadinya melibatkan beliau sebagai peserta. Insya Allah.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya Aksi 411 serta Aksi 212 lebih tepat disebut REAKSI, bukan aksi. Dan insya Allah ini bukan bid’ah, boro-boro bid’ah terbesar. Bukan pula kumpulan orang-orang yang sakit otaknya seperti tudingan seorang tokoh. Percayalah, kita semua cinta damai. Namun damai hanya bisa terlaksana sempurna jika keadilan ditegakkan dengan sempurna pula dan itulah yang didambakan oleh peserta Aksi 411 dan Aksi 212. Keadilan.

Begitu kelar aksi, diduga akan muncul berita-berita pelintiran yang malah menyorot soal sampah, massa bayaran, jumlah peserta yang katanya nggak seberapa, dan sejenisnya. Hei, asal tahu saja, terkait Aksi 411 dulu, daya tampung Istiqlal saja sekitar 200.000 orang. Dari Istiqlal, massa pun meluber sampai Istana dan Bundaran HI. Kok diberitain cuma ratusan ribu orang? Itu 2 juta orang, Bro! Kalau mau ngecil-ngecilin, mbok ya, jangan kebangetan!

Terlepas dari itu, akankah Aksi 212 seheroik Aksi 411? Entahlah. Toh, Anda bukan Kakek Segala Tahu. Anda juga bukan pemilik Kapak Naga Geni 212 karangan Bastian Tito. Kalau boleh saya berpesan, teman-teman yang terlibat dalam Aksi 212 mohon menjaga niat dan sikapnya. Terlihat heroik, terlihat soleh, dan terlihat peduli bukanlah tujuan sebuah perjuangan. Sama sekali bukan. Ingatlah, sebesar apapun massa yang berkumpul, kalau keliru niat dan sikapnya, hanya akan berujung pada kesia-siaan bahkan kebinasaan.
Sebagian mungkin ragu-ragu akan keabsahan sholat Jumatnya, “Kok nggak di masjid?” Sebenarnya Muhammad Al-Fatih dan Jamaah Tabligh sudah melakukannya sejak lama. Imam Mazhab juga mengizinkan. Kalaupun masih ragu-ragu, yah sudah, boleh juga hadir di sekitar Monas sejak pagi. Doa bersama. Begitu jam 11, carilah masjid terdekat dan Jumatan-lah di sana. Selesai Jumatan, Anda bisa pulang atau kembali ke sekitar Monas. Insya Allah ini pun sangat baik.

Sekiranya sebagian kita bersikeras untuk tidak terlibat dalam Aksi 212, yah silakan. Hanya saja, mohon menahan sikap dan kata-kata. Seringkali keadaan menjadi lebih runyam hanya karena sebagian kita tidak mampu menahan kata-kata. Nyinyir. Nyindir-nyindir. Atau sejenisnya. Belajarlah dari pengalaman, bukankah segala hiruk-pikuk ini bersumber dari satu orang yang tak dapat menahan kata-kata?

Pada akhirnya, mari kita berdoa untuk kebaikan negeri ini. NKRI harga mati, Quran tetap di hati!

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sesuai labelnya, Aksi 212 beneran damai alias super damai. Sejatinya Aksi 411 juga sangat damai. Dan ini tidak mudah, apalagi kalau ditilik dari jumlah massa yang masing-masing aksi mencapai lebih 2 juta orang (cek Google Earth). Ramai tapi relatif damai.

Ya, ini aksi bermartabat. Boleh diadu dengan unjuk rasa manapun sedunia sepanjang sejarah, termasuk negara-negara maju yang ngakunya lebih demokratis. Adakah seramai dan sedamai ini? Kapolri saja mengakui, tak satu pun pohon tumbang.

Selama ini unjuk rasa identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Nah, Aksi 212 dan Aksi 411 mengubah mindset pesertanya. Ramai tapi relatif damai. Tertib. Boleh dibilang, Revolusi Mental (Revolusi Mindset) terjadi di sini.

Lebih jauh, sebenarnya nilai-nilai Nawacita pun seperti aman, demokratis, melibatkan daerah, menghargai kebhinnekaan dan restorasi sosial, diam-diam sudah tertuang di Aksi 212 ini.

Bayangkan 2 juta lebih massa berkumpul di Monas dan sekitarnya. Begitu massa bubaran, eh sampah juga ikut 'bubaran' alias bersih. Teramat banyak orang yang berlomba-lomba mungutin sampah. Ini sebuah restorasi sosial, bukankah selama ini masyarakat kita dikenal 'masa bodoh dengan sampah'? Belum lagi yang bagi-bagi makanan serasa di Nabawi.

Heroiknya, Aksi 212 lebih membludak daripada Aksi 411. Padahal sebelumnya sudah ada fatwa haram dari seorang tokoh, fatwa bid'ah dari seorang ulama, stigma makar dari polisi, tebar selebaran dari helikopter, boikot transportasi dari aparat, eh tetap saja lebih membludak. Meluber sampai Istiqlal, Thamrin, serta Tugu Tani.

Dan keajaiban kecil pun terjadi. Ketika panitia mulai kuatir peserta akan dehidrasi, keletihan, dan kekurangan air wudhu, eh tiba-tiba ada kejutan: hujan turun di menit-menit menjelang Jumatan. Ya Allah, Engkau memang The Best Planner!

"Rasain kehujanan!" tukas si hater. Hehe, dia tidak tahu bahwa insya Allah: Jumat + Hujan + Jamaah = Makbul.

Meski hujan, massa tak bergeming. Saya yakin akan beda ceritanya kalau kampanye politik atau konser musik. Dihujani begitu, pasti massa akan terbirit-birit.

Lihat pula Surah Anfal 11, hujan seperti itu diturunkan untuk menyegarkan jasad dan meneguhkan kedudukan. Bukankah hujan sedemikian juga pernah diturunkan ketika Perang Badar?

Saat Isra Miraj, Nabi Muhammad bersua dengan malaikat yang sangat ahli soal hujan (lihat Al-Mustadrak Syeikh An-Nuri, jilid 5), bahkan mampu menghitung jumlah tetes air hujan yang tercurah sejak manusia pertama sampai manusia terakhir!

Namun tahukah Anda apa kelemahan malaikat ini? Ternyata, ia tidak mampu menghitung jumlah pahala yang tercurah saat umat Nabi Muhammad berkumpul di suatu tempat dan menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad! Masya Allah, bukankah ini juga terjadi di Aksi 212?

Beberapa ustadz pun memaparkan:
- Aksi 411 bagai Sa'i, berjalan dan berlari-lari kecil.
- Aksi 212 bagai Wukuf, duduk diam tak banyak bergerak.
- Boleh dibilang, kedua aksi ini mirip manasik haji terbesar (sekaligus sholat jumat terbesar sepanjang sejarah NKRI). Toh lengkap, ada zikir dan shalawat, ada pembimbing lapangan juga bagai muthawif. Plus sedikit desak-desakan karena ramainya massa, hehe.
- Yang nggak ada cuma Melempar Jumrah. Wah, bahaya nih kalau sampai ada lempar-lemparan dalam Aksi 212. Hehe.

"Ah, hanya orang-orang tolol yang hadir di situ," tukas si hater. Oya? Bukankah presiden, menteri, kapolri, dan panglima turut hadir, selain kyai-kyai dan habib-habib? Hehe, bodohkah mereka? Mohon maaf, saya pun bisa menunjukkan doktor-doktor (S3) dan miliarder-miliarder yang juga hadir, yang insya Allah jauh lebih cerdas dan jauh lebih kaya daripada dirimu wahai hater.
 
Manakala umat tidak memegang media dan kekuasaan, yah mau gimana lagi. Terpaksalah Aksi 212 dan 411 digulirkan. Namun, bagaimanapun juga, kita harus menjauhkan diri dari sikap ujub dan riya. Kembalilah fokus pada tujuan utama. Semoga Allah memudahkan. Aamiin.

Kalau Anda muslim, baiknya Anda membuat tulisan seperti ini. Agar dunia tahu betapa heroiknya aksi ini. Namun sekiranya belum bisa menulis artikel, silakan share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
2 million or 4 million people?

As the tagline indicated, Action 212 was truly conducted peacefully or super peacefully. In fact Action 411 was indeed also very peaceful. It was not easy at all considering each action reached more than 2 million people (please check Google earth). It was crowded yet peaceful.

It was a dignified action. You may compare it with any other demonstrations in the world history, including in those developed countries that claimed themselves as more democratic. Were they as crowded and peaceful as this one? The Chief of Police of the Republic Indonesian also admitted that not even a single tree fell down. Public Sanitary Department amazed on how neat it was.

Channeling the mass’ aspiration has been always associated with violence and unrest. Those Action 212 and Action 411 completely changed the mindset perception. It was crowded yet peaceful. Orderly. Mental revolution (mindset changing) occurred here.

Furthermore, “Nawacita”, Indonesian values such as security, democratic, local involvement, respect for diversity and social restoration have been embraced by this Action 212.

Imagine, over 4 million people gathered in Monas – National Monument - and it surroundings. When they dismissed, the garbage also ‘dismissed’ or clean. So many people were vying to collect garbage. It was a social restoration. Our people have been known as ignorance to garbage, isn’t it? Not to mention those people who distributed food for free. It was like Nabawi and Masjidil Haram.

It was heroic, Action 212 action outnumbered the Action 411. Even though there was a fatwa of haram (forbidden) from a public figure, a fatwa of bid’ah (innovation) from a scholar, a stigma of treason, dropping leaflets from helicopter, transportation boycott by police, it was still booming. People overflew up to Istiqlal, Thamrin as well as Tugu Tani. More than 4 million people.

It was more exciting, no politician were given a space on the stage.

And a little miracle occurred. When the committee began to worry that people would be dehydrated, fatigue and no enough water for ablution (wudhu), suddenly there was a surprise: it rained in the minutes before Friday prayer. O Allah, You are indeed the Best Planner.

“Get you! You got caught in the rain!’ the haters said. They were not aware that In shaa Allah : Friday + Rain + Masses = Dua is being accepted.

In fact Ustadz Arifin Ilham prayed on the stage to have rain as the sign of the prayers being accepted. Even though it rained, people did not move. I believe the story would be different if it were political campaign or musical concert where people would dismiss if it rained.

Please check Surah Anfal 11, this kind of rain falls to refresh the body and strengthen the position. Similar kind of rain fell during the Badar war, right?

During Isra Miraj, when Prophet Muhammad met the Angel who is knowledgeable about rain (please check Al Mustadrak Syeikh An-Nuri vol 5), he even counted the numbers of rain drops from the first human to the last!

Do you kno what the angel’s weakness? He was not capable of counting the numbers of reward (pahala) given during the gathering of Prophet Muhammad’s followers in a place and mention the name of Prophet Muhammad! Ma Shaa Allah, it did occur during Action 212, right?

Therefore, some scholars described:

- Action 411 was like Sa’i, walking and running slowly.

- Action 212 was like Wukuf, sitting down silently without moving a lot.

- It is arguably, both actions are similar to the biggest manasik haji (at the same time the biggest group of Friday prayers of the Indonesia history). It was complete, there were field supervisors just like muthawif, plus a bit of stampede due to large numbers of masses.

- what we didn’t have was throwing pebbles (jumrah). Gee, it would be dangerous if people threw one another in the Action 212, hehehe.

“Ah, only the fools who attended the event," the haters said. Really? Apart from the scholars and habib, wasn’t it that President, ministers, chief of police and commander were present there? Hehehe. Are they fools?
Of course not. My apology, I can show doctors (PhD) and billionaire who attended. In shaa Allah they are far more intelligent and far richer than you are, O haters.

We, ummah, do not own media and power. We were forced to conduct Actions 212 and 411. We have to. However, despite the success of the event, we have to keep ourselves away from ‘ujub’(arrogant) and ‘riya’ (showing off). Focus to the main objective. May Allah help us to achieve the main objective. Amien.

If you are a muslim, you’d better write this kind of article. Do something. So that the world is aware of how heroic the action was. Otherwise, please share this article if you have not been able to write. Yes, please share. Salam from me, Ippho Santosa (No.1 Mega-Bestselling Author from Indonesia).
Karena banyak permintaan
akhirnya kami buat artikel
terkait Aksi 212
dalam Bahasa Inggris.
Dia Layak Jadi Jodohmu

Oleh: Ippho Santosa



Rumput dan taman aja dia jagain, apalagi kamu.

Pintu istana dan pintu langit aja dia ketuk, apalagi pintu rumahmu.

Jalan kaki tanpa kamu aja dia kuat, apalagi jalan kaki bareng kamu.

Dihalang-halangi aja dia datang, apalagi disambut kamu.

Tanpa dibayar aja dia datang, apalagi dihadiahi kamu.

Hujan-hujanan di lapangan aja dia tetap berdoa, apalagi tahajjud di rumah bersamamu.

Di Monas aja dia munajat sampai nangis, apalagi munajat di Mekkah bersamamu.

Di Monas aja dia shalawat sampai haru, apalagi shalawat di Madinah bersamamu.

Bukan Bella Saphira, yang penting baginya bela Quran dan belain kamu.

Dia suka aksi damai di Monas, dia juga suka aksi damai dan sakinah bersamamu.

Dia belum seperti santri Ciamis, tapi ia sanggup menempuh suka-duka hidup bersamamu.

Dialah alumni 212.
Dalam mencari guru atau mentor, saya sering memetakan begini:
- Guru lingkar 1
- Guru lingkar 2
- Guru lingkar 3

Nah, kali ini kita akan membahas guru lingkar 3. Guru yang gimana sih? Dia adalah orang yang bisa kita akses dan ilmu-ilmu bisnisnya sangat bermanfaat buat bisnis kita.

Mencari guru lingkar 3 ini susah-susah gampang. Selain sibuk, ia juga didekati oleh banyak orang. Tapi begitu dapat, wah, akan benar-benar menolong bisnis kita.

Terhadap guru lingkar 3 ini, sikap yang saya sarankan adalah:
- Jadilah partner-nya
- Jadilah staf-nya
- Jadilah muridnya

Sebaik-baiknya, jadilah partner-nya. Dengan begini, otomatis kita akan tahu ilmu-ilmu bisnisnya. Dan pastilah kita akan di-support olehnya, sedikit atau banyak.

Senior saya, Tung Desem Waringin, juga menganjurkan untuk belajarlah dari yang terbaik. Salah satu caranya, bermitralah.

Jelas, belajar dan berguru itu perlu. Namun berguru pun ada caranya agar lebih berdampak pada bisnis kita dan hidup kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Salah satu orang terkaya di Tiongkok, Jack Ma, pernah memberikan sebuah pesan yang amat berharga:

* Saat kita berusia 20-an tahun, beranilah mengambil risiko (take a risk).

* Saat kita berusia 30-an tahun, temukan boss yang tepat (find the right boss).

* Saat kita berusia 40-an tahun, fokuslah pada satu bidang (focus on single field).

* Saat kita berusia 50-an tahun, invest-lah pada orang muda (invest to young people).

* Saat kita berusia 60-an tahun, berbagi dan mengajarlah (share and teach).

Mari kita perhatikan poin pertama dan kedua (usia 20-an dan 30-an). Karena di sini Jack Ma melanjutkan pesannya yang amat berharga. Kalau Anda masih muda, maka yang terpenting adalah:
- dengan siapa Anda bekerja.
- BUKAN di perusahaan mana Anda bekerja.
- karena dari orang yang tepat Anda akan belajar langsung tentang dream, spirit, lagi passion.
- sekiranya ingin menjadi entrepreneur, maka bekerjalah di perusahaan kecil karena (lagi-lagi) Anda bisa belajar tentang dream, spirit, dan passion langsung dari si founder.

Dengan kata lain, menurut Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Ini petuah yang sangat tajam dan menukik, menurut saya. Sulit terbantahkan.

Lebih jauh, saya sebagai entrepreneur melihat sebuah kebijaksanaan yang berimbang di sini, terutama untuk orang-orang berusia 20-an dan 30-an. Apa itu?

Di satu sisi, kita dianjurkan untuk berani mengambil risiko. Di sisi lain, kita dianjurkan untuk mengurangi risiko dengan adanya mentor (boss yang tepat).

At last, happy action! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Peluang emas...
Di sebuah warteg, terjadilah percakapan berikut ini:
+ Ada ayam Mbak?
- Ada Mas, mau pesen berapa?
+ Usir Mbak! Saya mau makan :)

- Mau pesen minum apa, Mas?
+ Tehnya satu, Mbak.
- Manis nggak?
+ Gak perlu manis, yang penting setia :)

Si Mbak pun terdiam, bingung. Kemudian dia pun bertekad untuk membalas.

+ Mbak, nasi goreng sepiring, berapa?
- Waduh Mas, saya nggak pernah tuh ngitung nasinya :)

Hehehe.

Satu hal yang sering luput dalam transaksi di tempat makan adalah kejelasan harga. Rumah makan Padang, misalnya. Dapat dipastikan pemiliknya adalah muslim, bahkan Pak Haji.

Namun sayangnya harga tidak terpampang. Kurang jelas. Padahal dalam Islam, kejelasan harga itu sangat penting bahkan bisa menentukan sah atau tidaknya sebuah transaksi. Akad. Jadi, ini nggak main-main.

Saat kita selesai makan, tahu-tahu si pelayan datang lalu menghitung total harga makanan dengan coretan dan kalkulasi yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya. Kita pun dikondisikan untuk pasrah menerimanya, berapapun hasilnya.

Bagi teman-teman yang berbisnis makanan atau apapun, pastikan kejelasan harga di awal. Ridhanya pelanggan adalah awal dari keberkahan juga kehalalan.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
+ Ayah…
- Ya, Nak...
+ Berapa sih biaya untuk menikahi seorang wanita?
- Ayah kurang paham juga! Sampai sekarang, Ayah masih terus membayar ke ibumu.

Hehehe.

Sejatinya, adalah tugas pria untuk menafkahi.
* Wanita yang belum menikah, nafkahnya ditanggung sang ayah (pria).
* Wanita yang sudah menikah, nafkahnya ditanggung sang suami (pria).
* Wanita yang bercerai, nafkahnya ditanggung ayahnya, pamannya, atau saudara laki-lakinya (pria).

Suka atau tidak suka, itulah yang sebenarnya menurut hukum agama. Sayangnya, tak semua orang mau melakukannya. Sebagian malah pura-pura tidak tahu, tutup mata.

Btw, bolehkah wanita mencari nafkah? Yah, boleh-boleh saja. Tapi itu bukan tugasnya yang utamanya. Dan bagaimanapun, tanggung-jawab penafkahan tetap berada di pundak pria.

Pada akhirnya, saya pun berpesan kepada para pria, "Jangan pelit." Karena memang tanggung-jawab penafkahan tetap berada di pundak pria. Tak tergantikan.

Dan wanita tak suka sama pria yang pelit. Hehehe.

+ Mas, anak kita nelen koin cepek! Buruan kita bawa ke dokter!
- Mama kurang waras ya? Bayar dokter sampai Rp 200 ribu, cuma buat ngeluarin koin cepek?

Hehehe. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kelar subuhan di Pusdai, saya bersama ibu saya mengikuti Peringatan Milad DT yang ke-26, pesantren asuhan Aa Gym. Bareng guru-guru, saya pun duduk di panggung. Alhamdulillah.

Bersama karang-karang setegar #aagym #aher #deddymizwar #ridwankamil #bachtiarnasir #syekhalijaber, saya pun merasa seperti buih. Namun saya juga merasa bersyukur, dipertemukan dengan beliau-beliau.

Hadir juga Kapolri Tito beserta jajaran dan petinggi-petinggi TNI. Semoga Allah selalu merahmati DT, guru-gurunya, santri-santrinya, juga donatur-donaturnya. Aamiin.

Ketika tulisan ini diketik, saya lagi perjalanan menuju Ciamis. Rencananya saya mau memberikan seminar gratis di sana, sebagai hadiah kecil dari saya atas aksi heroik mereka ketika 212.

Mohon doa teman-teman ya, semoga perjalanan ini lancar dan berkah. Aamiin.
Milad DT
BERSAING DGN ALFAMART & INDOMARET

Salah seorang peserta seminar menelpon saya, "Pak, saya memiliki 1 minimarket di Bekasi yg berdiri 3 tahun yang lalu berkat inspirasi dari ikut seminar yg Bapak berikan. Alhamdulillah saat ini saya fokus mengelola minimarket saya, omsetnya sudah di atas 7 juta perhari."

"Tetapi 4 bulan yang lalu buka Indomaret berjarak 2 ruko di sebelah kiri saya dan 1 bulan yang lalu buka lagi Alfamart berjarak 4 ruko di sebelah kanan saya, omset saya langsung terjun bebas, saat ini menjadi hanya 1 juta per hari. Sudah pasti rugi dan saya bingung harus bagaimana. Apa sarannya Pak?"

Saya jawab, "Alfamart dan Indomaret itu sangat kuat karena memiliki banyak cabang, tetapi dibalik kekuatan itu sebenarnya ada kelemahan. Yakni tidak mudah untuk menambah jenis produk (karena sudah diatur seragam dari pusat). Nah toko bapak kan hanya satu, jadi gampang untuk mengubah/menambah jenis produk yang dijual, dan ada 1001 produk yg dibutuhkan orang yg mereka tidak jual."

"Silakan Bapak masih jualan produk yg sama seperti Alfamart saat ini, tapi tambah juga jenis lain yg mereka tidak jual, yakni ATK (mereka jual tapi sedikit), mainan, perlengkapan bayi, sandal, kacamata dll."

Beliau pun mengikuti saran saya dan menambah banyak produk di tokonya bahkan ada Aqua isi ulang, ada konter HP dll yg tidak mungkin Alfamart dan Indomaret akan mengikuti.

Akhirnya dalam tempo 6 bulan kemudian omsetnya sudah membaik menjadi 4 juta perhari (walau masih dibawah omset awal). Dia bertanya lagi, "Pak Wan yang saya bingung itu jika mereka promosi dan ada produk yang mereka jual dibawah harga grosir (tempat saya belanja), bagaimana cara menghadapinya?"

Saya balik bertanya, "berapa banyak barang promosi yg mereka jual dibawah harga grosir?"
"Tidak banyak Pak Wan, paling 5 item barang" jelasnya.

Saya lanjutkan, "Jika ada produk yang mereka jual dibawah grosir (umum ritel modern melakukan minus margin) maka jangan beli ke grosir, tapi beli ke toko mereka."

Benar, saran saya kembali diikuti, begitu Alfamart dan Indomaret promosi yg harga jual dibawah grosir maka 5 item produk itu diborong habis oleh beliau. Di saat pelanggan datang ke Alfamart produk promosi itu kosong dan bisa ditebak pelanggan datang ke tokonya. Dia menjual seharga yg dijual Alfamart (karena tidak perlu transport dan hanya butuh persiapan uang kas). Besok begitu lagi, diborong habis dan barang tersebut kosong di Alfamart.

Akhirnya Alfamart mengirim stok yg banyak dari pusat, dia tidak memborong (karena takut kadaluwarsa) dan beli hanya seperlunya saja. Alfamart tidak bisa melarang pelanggan belanja kan.

Terakhir dia bilang walaupun banyak produknya yang bisa bersaing dari Alfamart atau Indomaret namun image nya tetap mereka lebih murah. Saya tanya, "bapak ngomong gak sama pelanggan jika toko bapak lebih murah?"

"Ngomong Pak," jawabnya.
"Bagaimana ngomongnya?" lanjut saya.
"Saya bilang saat pelanggan belanja, ini gula lebih murah," jelasnya.

Saya komentari, "silahkan bapak ngomong spt itu, tetapi belum cukup, coba buat spanduk tulis bapak LEBIH MURAH DARI INDO DAN ALFA. Kan tidak ditulis lengkap Alfamart atau Indomaret."

Akhirnya dia buat spanduk tetapi tidak berani menulis nama pesaing itu, dia tulis "MINIMARKET TERMURAH, LEBIH MURAH DARI SEBELAH-SEBELAH". 😄😄

Saat ini omsetnya sudah lebih tinggi daripada dahulu sebelum dia jatuh. Intinya, jangan takut bersaing, jangan menyerah begitu saja. Semoga bermanfaat, bantu share ya.

Penulis: Wan MH.
Suatu hari saya berbincang dengan sahabat dekat yang kebetulan pengurus DPP salah satu partai politik. Beliau yang juga pengusaha mengatakan alasan kenapa dia masuk ke dalam sistem (politik), karena jika hanya mengandalkan bisnisnya berapa banyak pengaruhnya bagi negeri ini, APBN Indonesia untuk 1 tahun saja ribuan trilyun rupiah, tetapi dengan masuk ke dalam sistem dia bisa memperbaiki dari dalam (termasuk struktur APBN).

Saya tidak bermaksud membahas tentang politik atau APBN, namun saya hanya merenung, jika saya hanya mengandalkan pada kemampuan sendiri, memperbaiki dan membesarkan bisnis, berapa banyak yang bisa saya lakukan yang bisa berpengaruh terhadap perekonomian bangsa ini. Rasanya secara % akan sangat kecil, ritel terbesar di Indonesia saja laba bersihnya paling ratusan milyar (dengan jumlah karyawan 100 ribu orang). Andaikata saya bisa mencapai itu (mungkin waktunya bisa 20 tahun atau lebih) hanya "kecil sekali" sumbangsihya jika dibandingkan APBN yang membiayai negeri ini, termasuk memberi penghasilan kepada jumlah karyawan yang maksimal hanya ratusan ribu. Saya tetap fokus dan berusaha mengembangkan bisnis ritel saya, tetapi pernyataan teman saya tadi cukup lama menggayut dipikiran saya.

Suatu hari saya nongkrong ngopi di gerobak dekat stasiun Bogor. Dari cerita pedagang tersebut dia mendapatkan modal (gerobak + isinya) dari seorang pemodal (yang punya beberapa gerobak di sana) senilai total Rp 4,5 juta dan sistemnya harus setoran Rp 30 ribu per hari. Artinya bagi pemilik modal akan BEP selama 5 bulan !! Bagi pedagang dengan omset Rp 400 ribu per hari, saya perkiraan akan dapat laba kotor Rp 160 ribu (40% karena laba kotor air mineral dan kopi cukup tinggi) maka minimal dia punya penghasilan bersih setiap hari Rp 100 ribu, lumayan bukan?

Sepintas hasil Rp 100 ribu cukup baik, namun dia tidak akan pernah punya bisnis sendiri, karena modal milik orang lain, dan uang Rp 100 ribu itu selalu habis memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarganya. Banyak juga pedagang laki lima yang milik sendiri, namun sekali lagi penghasilan selalu dihabiskan, sehingga sudah 5 tahun bahkan 10 tahun lebih kehidupan mereka tidak pernah berubah. Apa yang salah?

PENGETAHUAN, disini kuncinya... mereka tidak punya semangat/motivasi agar bisnisnya membesar (yang mestinya jika stok ditambah, omset naik, laba naik, mereka bisa punya Warung, toko bahkan minimarket), mereka tidak tahu caranya... mereka menganggap semuanya sudah takdir... mereka menganggap hidup ini sangat sulit, untuk bisa bertahan saja sudah bagus. Lingkungan hidup mereka, teman mereka, keluarga mereka, semua yang mereka temui setiap hari setiap saat... adalah sama juga seperti mereka. Tidak ada yang pernah mengatakan pada mereka, bahwa semua orang bisa sukses, dunia ini sangat berlimpah, apapun bisa dicapai asal mereka mau berjuang dan belajar caranya... sayang tidak ada yg pernah menyampaikan itu... tidak ada yang memotivasi mereka... banyak sekali gerobak, warung kecil di sudut kota Bogor, ada ratusan bahkan ribuan orang yang menggantungkan hidup dari sana, ada jutaan diseluruh daerah di Indonesia, sebagian besar hidup dalam kemiskinan, dibawah standar, padahal kesempatan terbuka lebar, mereka hidup di negara yang mestinya kaya, mereka seperti ayam kelaparan di lumbung padi 😭😭

Dua kejadian diatas makanya AMRI dilahirkan, AMRI yang bisa menaungi para pedagang (ritel) di Indonesia, toko tradisional, grosir, Warung, gerobak bahkan asongan... andaikata semua bisa bergabung, memiliki motivasi dan semangat serta mau tumbuh maka angka minimal 1 juta orang adalah angka yang masih kecil, potensinya bisa 10 juta bahkan 20 juta orang lebih di seluruh Indonesia. Kita ambil angka 10 juta saja dan masing-masing bisa punya 10 karyawan (karena binis ritelnya tunbuh) maka bisa memberi penghidupan 100 juta orang, Insya Allah akan bisa mengentaskan kemiskinan di negeri ini.

Saya sadar saya tidak bisa melakukan ini sendirian, makanya dengan bersama-sama dibawah naungan AMRI kita bersatu, mulai dengan belajar sambil mengembangkan bisnis kita bersama-sama dan kemudian kita tularka
n sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Semoga AMRI adalah perwujudan jihad alias perjuangan kita bersama di bisnis.

Wan MH
(Founder AMRI)

Bagi yang mau bergabung hubungi:

Bang Wahyu
WA# 085640900331

Bang Beny
WA# 08129021939

Mohon dibantu untuk disebarluaskan ya...