Dulu, setiap kali disebut bulan November, maka yang saya ingat adalah 10 November dan November Rain, hehehe. Yang terakhir adalah sebuah lagu dari Guns N' Roses. Sekarang tambah lagi, 4 November.
Lantas, siapa sosok yang kita ingat ketika disebutkan 10 November? Yah siapa lagi kalau bukan Bung Tomo, lengkap dengan pekik kerasnya 'Allahu Akbar' yang membakar semangat rakyat Indonesia saat itu.
Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena perannya mengusir tentara NICA Belanda, yang berakhir dengan pertempuran sengit 10 November 1945 yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Ia sempat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, yang kemudian meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, pada umur 61 tahun. Mudah-mudahan tempat meninggalnya ini menjadi pertanda bahwa Allah memuliakan beliau. Aamiin.
Masih soal perjuangan. Anda sudah nonton film #HacksawRidge? This movie is very cool. Apalagi ada Andrew Garfield yang pernah memerankan Spiderman dan Vince Vaughn yang selalu memerankan karakter kocak. Film yang diwarnai semangat Bible dan diarahkan Mel Gibson ini mengajarkan kita tentang arti sebuah perjuangan.
Terakhir, terkait perjuangan, inilah pendapat para netizen:
Perjuangan karena dapat uang? Akan segera goyang.
Perjuangan karena alasan perut? Akan segera surut.
Perjuangan karena dapat nasi? Akan segera basi.
Perjuangan karena dapat bayaran? Akan segera bubaran.
Perjuangan karena dapat baju? Tidak akan maju.
Lantas, bagaimana dengan perjuangan karena alasan iman? Insya Allah akan tetap bertahan dan tak terpatahkan.
Ibarat sholat, satu rakaat atau dua rakaat, itu hal yang lumrah bagi seorang muslim. Toh selama ini tarawihnya bisa belasan rakaat bahkan 20-an rakaat. Ya, ini sebuah pengandaian semata. Begitulah, namanya perjuangan, tak pernah berjalan sebentar. Perlu waktu. Perlu stamina.
Semoga tulisan singkat ini menjadi inspirasi dan motivasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lantas, siapa sosok yang kita ingat ketika disebutkan 10 November? Yah siapa lagi kalau bukan Bung Tomo, lengkap dengan pekik kerasnya 'Allahu Akbar' yang membakar semangat rakyat Indonesia saat itu.
Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena perannya mengusir tentara NICA Belanda, yang berakhir dengan pertempuran sengit 10 November 1945 yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Ia sempat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, yang kemudian meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, pada umur 61 tahun. Mudah-mudahan tempat meninggalnya ini menjadi pertanda bahwa Allah memuliakan beliau. Aamiin.
Masih soal perjuangan. Anda sudah nonton film #HacksawRidge? This movie is very cool. Apalagi ada Andrew Garfield yang pernah memerankan Spiderman dan Vince Vaughn yang selalu memerankan karakter kocak. Film yang diwarnai semangat Bible dan diarahkan Mel Gibson ini mengajarkan kita tentang arti sebuah perjuangan.
Terakhir, terkait perjuangan, inilah pendapat para netizen:
Perjuangan karena dapat uang? Akan segera goyang.
Perjuangan karena alasan perut? Akan segera surut.
Perjuangan karena dapat nasi? Akan segera basi.
Perjuangan karena dapat bayaran? Akan segera bubaran.
Perjuangan karena dapat baju? Tidak akan maju.
Lantas, bagaimana dengan perjuangan karena alasan iman? Insya Allah akan tetap bertahan dan tak terpatahkan.
Ibarat sholat, satu rakaat atau dua rakaat, itu hal yang lumrah bagi seorang muslim. Toh selama ini tarawihnya bisa belasan rakaat bahkan 20-an rakaat. Ya, ini sebuah pengandaian semata. Begitulah, namanya perjuangan, tak pernah berjalan sebentar. Perlu waktu. Perlu stamina.
Semoga tulisan singkat ini menjadi inspirasi dan motivasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa pendapat Robert Kiyosaki tentang Donald Trump, presiden terpilih AS?
"Many times I thought he was finished. But, he is a cat with nine lives."
"He is a president at one of the most turbulent times in world history."
"May God watch over all of us during this time of global change."
Sebelumnya, Kiyosaki menyangka Trump akan habis, boro-boro bisa menang. Di sisi lain, Kiyosaki menyadari sekarang adalah masa-masa sulit, siapapun presidennya. Karena itulah dia berharap Tuhan akan membimbing kita untuk melalui masa-masa penuh perubahan ini.
Toh Kiyosaki belum tahu, perubahan seperti apa yang bakal dibawa oleh Trump. Apakah great atau cuma greed. Saya pribadi sempat bertemu Trump, bahkan dua kali bertemu Kiyosaki. Waktu itu ceritanya saya mau belajar bisnis.
Lantas, apa saran saya? Saran saya, berita-berita bersifat makro jangan pernah mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita pada hal-hal bersifat mikro. Contohnya? Berapa harga produk pesaing kita, berapa ketersediaan barang kita, sejauh apa kesiapan promosi kita, sejauh apa kesigapan tim kita, dll.
Belakangan ini, disengaja atau tidak, seringnya kita malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca berita-berita bersifat makro yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis kita. Tentu, itu semua perlu diketahui. Tapi, yah sekadar tahu saja. Nggak perlu didalami dan diselami.
Memulai bisnis saat ini jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya. Tidak harus memulai bisnis dari angka nol, di mana kita harus mengurusi produksi, desain, merek, harga dll. Kita cukup memulai bisnis dari 'angka 5' atau 'angka 6'. Maksudnya? Kita cukup menjual saja. Serahkan produksi, desain, merek dll kepada pihak lain yang lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Kita-kita yang berusia 20-30 tahun, tidak terlalu dianjurkan untuk mengurusi produksi. Kenapa? Karena, untuk menghadirkan produksi yang efisien diperlukan modal yang banyak, waktu yang banyak, juga output produksi yang banyak. Jujur saja, orang-orang muda biasanya nggak bakal sanggup untuk itu.
Yang lebih saya anjurkan adalah menjual. Di mana kita bersentuhan langsung dengan komunitas (baca: konsumen). Nah, kalau begini, kita semua juga bisa. Istilahnya macam-macam, mulai dari reseller, agen, distributor, sampai mitra franchise dan mitra license dll. Modalnya nggak harus besar-besaran tho? Sementara, potensi margin per produk yang bakal dipetik malah lebih besar.
Gejolak politik di Amerika sepertinya tak akan membawa imbas besar pada bisnis kita. Secara umum, yah begitu. Maka tak ada salahnya kalau kita lebih memperhatikan bisnis kita atau peluang-peluang bisnis di sekitar kita. Seringkali peluang-peluang emas datang dan pandangan kita terhalang, karena pikiran kita sudah teralihkan pada isu-isu lain yang lalu-lalang. Ini kan sayang.
Kembali ke laptop. Get back to your business. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Many times I thought he was finished. But, he is a cat with nine lives."
"He is a president at one of the most turbulent times in world history."
"May God watch over all of us during this time of global change."
Sebelumnya, Kiyosaki menyangka Trump akan habis, boro-boro bisa menang. Di sisi lain, Kiyosaki menyadari sekarang adalah masa-masa sulit, siapapun presidennya. Karena itulah dia berharap Tuhan akan membimbing kita untuk melalui masa-masa penuh perubahan ini.
Toh Kiyosaki belum tahu, perubahan seperti apa yang bakal dibawa oleh Trump. Apakah great atau cuma greed. Saya pribadi sempat bertemu Trump, bahkan dua kali bertemu Kiyosaki. Waktu itu ceritanya saya mau belajar bisnis.
Lantas, apa saran saya? Saran saya, berita-berita bersifat makro jangan pernah mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita pada hal-hal bersifat mikro. Contohnya? Berapa harga produk pesaing kita, berapa ketersediaan barang kita, sejauh apa kesiapan promosi kita, sejauh apa kesigapan tim kita, dll.
Belakangan ini, disengaja atau tidak, seringnya kita malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca berita-berita bersifat makro yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis kita. Tentu, itu semua perlu diketahui. Tapi, yah sekadar tahu saja. Nggak perlu didalami dan diselami.
Memulai bisnis saat ini jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya. Tidak harus memulai bisnis dari angka nol, di mana kita harus mengurusi produksi, desain, merek, harga dll. Kita cukup memulai bisnis dari 'angka 5' atau 'angka 6'. Maksudnya? Kita cukup menjual saja. Serahkan produksi, desain, merek dll kepada pihak lain yang lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Kita-kita yang berusia 20-30 tahun, tidak terlalu dianjurkan untuk mengurusi produksi. Kenapa? Karena, untuk menghadirkan produksi yang efisien diperlukan modal yang banyak, waktu yang banyak, juga output produksi yang banyak. Jujur saja, orang-orang muda biasanya nggak bakal sanggup untuk itu.
Yang lebih saya anjurkan adalah menjual. Di mana kita bersentuhan langsung dengan komunitas (baca: konsumen). Nah, kalau begini, kita semua juga bisa. Istilahnya macam-macam, mulai dari reseller, agen, distributor, sampai mitra franchise dan mitra license dll. Modalnya nggak harus besar-besaran tho? Sementara, potensi margin per produk yang bakal dipetik malah lebih besar.
Gejolak politik di Amerika sepertinya tak akan membawa imbas besar pada bisnis kita. Secara umum, yah begitu. Maka tak ada salahnya kalau kita lebih memperhatikan bisnis kita atau peluang-peluang bisnis di sekitar kita. Seringkali peluang-peluang emas datang dan pandangan kita terhalang, karena pikiran kita sudah teralihkan pada isu-isu lain yang lalu-lalang. Ini kan sayang.
Kembali ke laptop. Get back to your business. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jarang-jarang saya meneteskan air mata ketika tampil di TV. Ini adalah salah satunya.
Insya Allah inspiring dan touching. Sempatkan nonton ya. Cuma 10 menitan.
Ajak juga saudara dan sahabat kita nonton.
Insya Allah inspiring dan touching. Sempatkan nonton ya. Cuma 10 menitan.
Ajak juga saudara dan sahabat kita nonton.
Ada baiknya kita memiliki mentor yang tepat untuk bisnis kita. Memang tak mudah untuk mendapatkannya. Tapi ini bukan berarti mustahil. Bisa, insya Allah.
Lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya.
Pengalaman saya dalam berbisnis, coba-coba sendiri malah menguras uang dan waktu. Makanya saya merasa sangat terbantu ketika bertemu dengan senior-senior, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Saya merasa terbimbing.
Lebih lanjut, mentor hendaknya memiliki ilmu dan jam terbang. Selain itu, ia juga mampu menyampaikan ilmunya. Betapa sering kita bertemu dengan pengusaha yang hebat namun ia tidak terlalu pandai menyampaikan kehebatan dan ilmu-ilmunya.
Di mana ia tidak komunikatif. Atau, mungkin mampu berkomunikasi, tapi ilmu-ilmu yang ia sampaikan kurang sistematis. Sehingga kita merasa 'lost' atau 'missed' di beberapa hal ketika mempelajarinya.
Sekali lagi, miliki mentor yang tepat untuk bisnis kita. Kendati ini tidak mudah. Siap?
Lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya.
Pengalaman saya dalam berbisnis, coba-coba sendiri malah menguras uang dan waktu. Makanya saya merasa sangat terbantu ketika bertemu dengan senior-senior, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Saya merasa terbimbing.
Lebih lanjut, mentor hendaknya memiliki ilmu dan jam terbang. Selain itu, ia juga mampu menyampaikan ilmunya. Betapa sering kita bertemu dengan pengusaha yang hebat namun ia tidak terlalu pandai menyampaikan kehebatan dan ilmu-ilmunya.
Di mana ia tidak komunikatif. Atau, mungkin mampu berkomunikasi, tapi ilmu-ilmu yang ia sampaikan kurang sistematis. Sehingga kita merasa 'lost' atau 'missed' di beberapa hal ketika mempelajarinya.
Sekali lagi, miliki mentor yang tepat untuk bisnis kita. Kendati ini tidak mudah. Siap?
Saat kondisi tak menentu alias tidak pasti, belilah emas. Jangan banyak-banyak pegang uang kertas. Beli emasnya di mana? Beli emasnya di Pegadaian atau Antam. Jangan beli di toko sepatu, nggak bakal ada, hehehe.
Sayang juga pegang uang kertas dalam jumlah banyak. Siapkan seperlunya saja. Selebihnya, alihkan ke emas. Terus, gimana dengan emas perhiasaan? Sesuai namanya yah untuk perhiasan. Kalau untuk menjaga nilai, baiknya jangan berbentuk perhiasan.
Sekali lagi, beli emas. Jangan banyak-banyak pegang uang kertas. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya...
Sayang juga pegang uang kertas dalam jumlah banyak. Siapkan seperlunya saja. Selebihnya, alihkan ke emas. Terus, gimana dengan emas perhiasaan? Sesuai namanya yah untuk perhiasan. Kalau untuk menjaga nilai, baiknya jangan berbentuk perhiasan.
Sekali lagi, beli emas. Jangan banyak-banyak pegang uang kertas. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya...
"Alhamdulillah, baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk halaman 3 Google. Ditambah lagi, blog pribadi saya masuk halaman 1 Google, padahal baru dibuat 6 hari. Ini berkat magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."
"Awalnya saya bukan orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."
"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang."
Ini adalah testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang dan training Internet Marketing di Kantor Ippho Santosa.
Mau ikut magang dan training Internet Marketing di Kantor Ippho Santosa? Akhir Desember, selama 8 hari. Biaya normal Rp 7 juta. Promo hanya Rp 4 juta. Ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis.
Tapi ingat ya, harga promo ini berlaku sampai besok (Jumat sore). Setelah itu, naik lagi ke Rp5juta. Ya, naik bertahap sampai Rp7juta. Sengaja dinaikkan agar teman-teman cepat mendaftar dan kami pun cepat menyiapkan akomodasi dll.
Yang serius, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS juga 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp).
"Awalnya saya bukan orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."
"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang."
Ini adalah testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang dan training Internet Marketing di Kantor Ippho Santosa.
Mau ikut magang dan training Internet Marketing di Kantor Ippho Santosa? Akhir Desember, selama 8 hari. Biaya normal Rp 7 juta. Promo hanya Rp 4 juta. Ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis.
Tapi ingat ya, harga promo ini berlaku sampai besok (Jumat sore). Setelah itu, naik lagi ke Rp5juta. Ya, naik bertahap sampai Rp7juta. Sengaja dinaikkan agar teman-teman cepat mendaftar dan kami pun cepat menyiapkan akomodasi dll.
Yang serius, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS juga 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp).
Secara rasional, ada tiga resep makmur:
- suka jualan
- suka berhemat
- suka berinvestasi
Orang rata-rata, sayangnya, nggak suka jualan. Lalu, apa pendapat saya? Kalau jualan, jangan merasa malu dan tabu. Toh nggak harus tatap muka. Masih bisa online. Nggak harus produksi sendiri. Toh masih bisa reseller. Nggak harus modal besar. Toh masih bisa kecil-kecilan. Yang penting cashflow masuk. Halal dan legal. Terkait reseller, cari produk yang bagus, support-nya juga yang bagus, serta sangat luas pasarnya.
Enaknya konsep reseller (yang bagus, tentunya) otomatis Anda memiliki mentor dan belajar bersama mentor. Siapa sih mentornya? Yah, produsen Anda atau distributor Anda. Kok bisa? Yah, bisa! Karena mereka tidak akan maju kalau mengabaikan Anda. Dengan kata lain, mau nggak mau, harus maju bersama. Istilahnya, maju dan memajukan.
Satu hal lagi, ketika menjual, niatkan untuk membantu. Alias men-solusikan. Ini sudah dibahas di artikel-artikel sebelumnya. Penjual terkenal yang juga motivator terkenal, Joe Girard, selalu optimis dan antusias dalam menjual. Kenapa? Karena ia merasa dirinya membantu orang lain. Ya, mensolusikan. Bukankah itu pekerjaan mulia?
Sebab itulah saya memilih produk dan jasa yang sarat manfaat. Bukan sekadar laku. Bukan sekadar untung. Mikirnya harus lebih daripada itu. Misalnya bidang pendidikan dan kesehatan. Ini kan sarat manfaat. Betul-betul diperlukan. Capek-capek kita jualan, insya Allah kita dapatnya lebih dari sekadar uang. Betul apa betul?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
- suka jualan
- suka berhemat
- suka berinvestasi
Orang rata-rata, sayangnya, nggak suka jualan. Lalu, apa pendapat saya? Kalau jualan, jangan merasa malu dan tabu. Toh nggak harus tatap muka. Masih bisa online. Nggak harus produksi sendiri. Toh masih bisa reseller. Nggak harus modal besar. Toh masih bisa kecil-kecilan. Yang penting cashflow masuk. Halal dan legal. Terkait reseller, cari produk yang bagus, support-nya juga yang bagus, serta sangat luas pasarnya.
Enaknya konsep reseller (yang bagus, tentunya) otomatis Anda memiliki mentor dan belajar bersama mentor. Siapa sih mentornya? Yah, produsen Anda atau distributor Anda. Kok bisa? Yah, bisa! Karena mereka tidak akan maju kalau mengabaikan Anda. Dengan kata lain, mau nggak mau, harus maju bersama. Istilahnya, maju dan memajukan.
Satu hal lagi, ketika menjual, niatkan untuk membantu. Alias men-solusikan. Ini sudah dibahas di artikel-artikel sebelumnya. Penjual terkenal yang juga motivator terkenal, Joe Girard, selalu optimis dan antusias dalam menjual. Kenapa? Karena ia merasa dirinya membantu orang lain. Ya, mensolusikan. Bukankah itu pekerjaan mulia?
Sebab itulah saya memilih produk dan jasa yang sarat manfaat. Bukan sekadar laku. Bukan sekadar untung. Mikirnya harus lebih daripada itu. Misalnya bidang pendidikan dan kesehatan. Ini kan sarat manfaat. Betul-betul diperlukan. Capek-capek kita jualan, insya Allah kita dapatnya lebih dari sekadar uang. Betul apa betul?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Saya bersyukur sekali bisa ikut magang sama Mas Ippho dan tim. Saya termasuk orang yang nggak begitu melek internet, tapi saya ingin memasarkan produk saya secara online agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Tanpa batas."
"Ternyata, setelah belajar 3 hari tentang internet marketing terutama tentang SEO, blog saya bisa masuk halaman 2 dan hal 3 Google. Beneran masuk!"
"Rupanya internet marketing tidak sesulit yang saya bayangkan selama ini. Asal mau mengikuti step by step yang sudah diajarkan Mas Ippho dan tim."
"Terima kasih Mas Ippho, berkat magang ini saya menemukan jalan yg lebih mudah untuk membuat orang dari seluruh Indonesia bahkan dunia mengenal produk saya. Salam berkelimpahan!"
Ini testimoni dari Yuliani, salah satu peserta Magang Internet Marketing.
Yang mau ikut Magang Batch-3, maaf, sudah full. Kalau Batch-4? Masih ada, itu pun tinggal beberapa seat lagi. Mulai magang 24 Desember, selama 8 hari. Insya Allah.
Biaya normal Rp 7 juta. Sekarang masih Rp 4 juta. Sore ini akan naik ke Rp 5 juta dan terus naik secara bertahap. Yang serius, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS juga 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp)...
Saatnya menjemput perubahan!
"Ternyata, setelah belajar 3 hari tentang internet marketing terutama tentang SEO, blog saya bisa masuk halaman 2 dan hal 3 Google. Beneran masuk!"
"Rupanya internet marketing tidak sesulit yang saya bayangkan selama ini. Asal mau mengikuti step by step yang sudah diajarkan Mas Ippho dan tim."
"Terima kasih Mas Ippho, berkat magang ini saya menemukan jalan yg lebih mudah untuk membuat orang dari seluruh Indonesia bahkan dunia mengenal produk saya. Salam berkelimpahan!"
Ini testimoni dari Yuliani, salah satu peserta Magang Internet Marketing.
Yang mau ikut Magang Batch-3, maaf, sudah full. Kalau Batch-4? Masih ada, itu pun tinggal beberapa seat lagi. Mulai magang 24 Desember, selama 8 hari. Insya Allah.
Biaya normal Rp 7 juta. Sekarang masih Rp 4 juta. Sore ini akan naik ke Rp 5 juta dan terus naik secara bertahap. Yang serius, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS juga 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp)...
Saatnya menjemput perubahan!
Selama dua hari ini saya memberikan training untuk leader-leader Avail se-Indonesia. Di Aston Bogor.
Suasana kekeluargaan terasa di sini. Apalagi Sang Founder begitu membaur dengan seluruh peserta.
Membangun bisnis bukan soal strategi saja. Melainkan juga soal hubungan emosional alias kekeluargaan.
Saya yakin Anda setuju dengan pernyataan ini. Silakan diterapkan.
Suasana kekeluargaan terasa di sini. Apalagi Sang Founder begitu membaur dengan seluruh peserta.
Membangun bisnis bukan soal strategi saja. Melainkan juga soal hubungan emosional alias kekeluargaan.
Saya yakin Anda setuju dengan pernyataan ini. Silakan diterapkan.
Mana yang duluan? Mampu dulu atau maju dulu? Action atau vision? Cepat atau tepat? Simak jawaban saya, Bong Chandra, Merry Riana, James Gwee, dan Charles Bonar Sirait... Tonton exclusive video ini, sekitar 15 menit...
Heroik!
Ketika berhaji dulu, saya sempat bertemu dengan sekelompok jamaah Indonesia yang berjalan kaki sekitar 100 km dari Mekkah ke Arafah, terus ke Musdalifah dan Mina, lalu balik lagi ke Mekkah. Ya, berjalan kaki! Tanpa kendaraan sama sekali! Meskipun kendaraan tersedia, namun mereka memilih untuk berjalan kaki. Bukan apa-apa, mereka ingin merasakan apa yang dirasakan oleh para sahabat terdahulu.
Ini heroik!
Jujur, saya nggak bisa ngebayangin betapa jauhnya dan betapa beratnya perjalanan mereka. Selain faktor jarak, ada juga faktor debu dan cuaca. Tahu sendiri kan, panasnya Arab Saudi beda dengan negeri kita. Penasaran, saya pun menghampiri mereka. Ternyata mereka bukan atlit, bukan pula kyai. Mereka adalah orang biasa. Bahkan di kelompok itu, tak sedikit orang-orang tua yang berusia 60 tahun dan 70 tahun.
Mengetahui itu, kekaguman saya pun bertambah-tambah. Sampai-sampai saya pegang kaki mereka, “Bener nggak ini manusia, jangan-jangan malaikat!” Hehehe. Terlihat jelas di sini, kalau yakin dan iman sudah besar, maka segala hambatan terasa kecil. Tapi, kalau yakin dan iman masih kecil, maka segala hambatan terasa besar. Bahkan yang sering terjadi, bukan besar beneran, melainkan cuma dibesar-besarkan.
Belakangan ini, sekelompok santri yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta demi Aksi Damai 212 menyita perhatian kita. Gimana nggak? Selebaran yang ditebar dari helikopter, stigma makar (awal-awal) dari polisi, komen negatif dari para netizen, seruan melarang dari para tokoh, penolakan jasa transportasi (awal-awal) untuk mengangkut mereka, itu semua tidak menyurutkan niat mereka. Sama sekali tidak!
Berjalan kaki sekian hari pun mereka tempuh. Mereka buktikan bahwa niat mereka sungguh-sungguh. Hujan, panas dan peluh tidak membuat mereka mengeluh apalagi mengaduh. Yang ada, di sepanjang jalan, simpati demi simpati yang mereka rengkuh. Nggak sedikit ibu-ibu yang menyediakan makanan yang hangat atau teh yang diseduh. Melihat long march mereka, hati kita pun tersentuh dan terenyuh.
Tak pelak lagi, akhirnya long march dari Ciamis ini menginspirasi long march di daerah-daerah lainnya. Heroik!
Dalam prosesnya, Aksi Damai 212 ini mengalami pergeseran dari segi lokasi dan durasi. Menurut saya, ada bagusnya juga. Awalnya zuhur sampai ashar, jadinya pagi sampai siang (tapi saya yakin bisa berlangsung sampai sore juga). Awalnya di Thamrin dan Sudirman, jadinya terpusat di Monas (tapi saya yakin bisa meluber sampai Thamrin dan Sudirman juga). Awalnya tidak melibatkan Kapolri sebagai peserta, jadinya melibatkan beliau sebagai peserta. Insya Allah.
Kalau kita mau jujur, sebenarnya Aksi 411 serta Aksi 212 lebih tepat disebut REAKSI, bukan aksi. Dan insya Allah ini bukan bid’ah, boro-boro bid’ah terbesar. Bukan pula kumpulan orang-orang yang sakit otaknya seperti tudingan seorang tokoh. Percayalah, kita semua cinta damai. Namun damai hanya bisa terlaksana sempurna jika keadilan ditegakkan dengan sempurna pula dan itulah yang didambakan oleh peserta Aksi 411 dan Aksi 212. Keadilan.
Begitu kelar aksi, diduga akan muncul berita-berita pelintiran yang malah menyorot soal sampah, massa bayaran, jumlah peserta yang katanya nggak seberapa, dan sejenisnya. Hei, asal tahu saja, terkait Aksi 411 dulu, daya tampung Istiqlal saja sekitar 200.000 orang. Dari Istiqlal, massa pun meluber sampai Istana dan Bundaran HI. Kok diberitain cuma ratusan ribu orang? Itu 2 juta orang, Bro! Kalau mau ngecil-ngecilin, mbok ya, jangan kebangetan!
Terlepas dari itu, akankah Aksi 212 seheroik Aksi 411? Entahlah. Toh, Anda bukan Kakek Segala Tahu. Anda juga bukan pemilik Kapak Naga Geni 212 karangan Bastian Tito. Kalau boleh saya berpesan, teman-teman yang terlibat dalam Aksi 212 mohon menjaga niat dan sikapnya. Terlihat heroik, terlihat soleh, dan terlihat peduli bukanlah tujuan sebuah perjuangan. Sama sekali bukan. Ingatlah, sebesar apapun massa yang berkumpul, kalau keliru niat dan sikapnya, hanya akan berujung pada kesia-siaan bahkan kebinasaan.
Ketika berhaji dulu, saya sempat bertemu dengan sekelompok jamaah Indonesia yang berjalan kaki sekitar 100 km dari Mekkah ke Arafah, terus ke Musdalifah dan Mina, lalu balik lagi ke Mekkah. Ya, berjalan kaki! Tanpa kendaraan sama sekali! Meskipun kendaraan tersedia, namun mereka memilih untuk berjalan kaki. Bukan apa-apa, mereka ingin merasakan apa yang dirasakan oleh para sahabat terdahulu.
Ini heroik!
Jujur, saya nggak bisa ngebayangin betapa jauhnya dan betapa beratnya perjalanan mereka. Selain faktor jarak, ada juga faktor debu dan cuaca. Tahu sendiri kan, panasnya Arab Saudi beda dengan negeri kita. Penasaran, saya pun menghampiri mereka. Ternyata mereka bukan atlit, bukan pula kyai. Mereka adalah orang biasa. Bahkan di kelompok itu, tak sedikit orang-orang tua yang berusia 60 tahun dan 70 tahun.
Mengetahui itu, kekaguman saya pun bertambah-tambah. Sampai-sampai saya pegang kaki mereka, “Bener nggak ini manusia, jangan-jangan malaikat!” Hehehe. Terlihat jelas di sini, kalau yakin dan iman sudah besar, maka segala hambatan terasa kecil. Tapi, kalau yakin dan iman masih kecil, maka segala hambatan terasa besar. Bahkan yang sering terjadi, bukan besar beneran, melainkan cuma dibesar-besarkan.
Belakangan ini, sekelompok santri yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta demi Aksi Damai 212 menyita perhatian kita. Gimana nggak? Selebaran yang ditebar dari helikopter, stigma makar (awal-awal) dari polisi, komen negatif dari para netizen, seruan melarang dari para tokoh, penolakan jasa transportasi (awal-awal) untuk mengangkut mereka, itu semua tidak menyurutkan niat mereka. Sama sekali tidak!
Berjalan kaki sekian hari pun mereka tempuh. Mereka buktikan bahwa niat mereka sungguh-sungguh. Hujan, panas dan peluh tidak membuat mereka mengeluh apalagi mengaduh. Yang ada, di sepanjang jalan, simpati demi simpati yang mereka rengkuh. Nggak sedikit ibu-ibu yang menyediakan makanan yang hangat atau teh yang diseduh. Melihat long march mereka, hati kita pun tersentuh dan terenyuh.
Tak pelak lagi, akhirnya long march dari Ciamis ini menginspirasi long march di daerah-daerah lainnya. Heroik!
Dalam prosesnya, Aksi Damai 212 ini mengalami pergeseran dari segi lokasi dan durasi. Menurut saya, ada bagusnya juga. Awalnya zuhur sampai ashar, jadinya pagi sampai siang (tapi saya yakin bisa berlangsung sampai sore juga). Awalnya di Thamrin dan Sudirman, jadinya terpusat di Monas (tapi saya yakin bisa meluber sampai Thamrin dan Sudirman juga). Awalnya tidak melibatkan Kapolri sebagai peserta, jadinya melibatkan beliau sebagai peserta. Insya Allah.
Kalau kita mau jujur, sebenarnya Aksi 411 serta Aksi 212 lebih tepat disebut REAKSI, bukan aksi. Dan insya Allah ini bukan bid’ah, boro-boro bid’ah terbesar. Bukan pula kumpulan orang-orang yang sakit otaknya seperti tudingan seorang tokoh. Percayalah, kita semua cinta damai. Namun damai hanya bisa terlaksana sempurna jika keadilan ditegakkan dengan sempurna pula dan itulah yang didambakan oleh peserta Aksi 411 dan Aksi 212. Keadilan.
Begitu kelar aksi, diduga akan muncul berita-berita pelintiran yang malah menyorot soal sampah, massa bayaran, jumlah peserta yang katanya nggak seberapa, dan sejenisnya. Hei, asal tahu saja, terkait Aksi 411 dulu, daya tampung Istiqlal saja sekitar 200.000 orang. Dari Istiqlal, massa pun meluber sampai Istana dan Bundaran HI. Kok diberitain cuma ratusan ribu orang? Itu 2 juta orang, Bro! Kalau mau ngecil-ngecilin, mbok ya, jangan kebangetan!
Terlepas dari itu, akankah Aksi 212 seheroik Aksi 411? Entahlah. Toh, Anda bukan Kakek Segala Tahu. Anda juga bukan pemilik Kapak Naga Geni 212 karangan Bastian Tito. Kalau boleh saya berpesan, teman-teman yang terlibat dalam Aksi 212 mohon menjaga niat dan sikapnya. Terlihat heroik, terlihat soleh, dan terlihat peduli bukanlah tujuan sebuah perjuangan. Sama sekali bukan. Ingatlah, sebesar apapun massa yang berkumpul, kalau keliru niat dan sikapnya, hanya akan berujung pada kesia-siaan bahkan kebinasaan.
Sebagian mungkin ragu-ragu akan keabsahan sholat Jumatnya, “Kok nggak di masjid?” Sebenarnya Muhammad Al-Fatih dan Jamaah Tabligh sudah melakukannya sejak lama. Imam Mazhab juga mengizinkan. Kalaupun masih ragu-ragu, yah sudah, boleh juga hadir di sekitar Monas sejak pagi. Doa bersama. Begitu jam 11, carilah masjid terdekat dan Jumatan-lah di sana. Selesai Jumatan, Anda bisa pulang atau kembali ke sekitar Monas. Insya Allah ini pun sangat baik.
Sekiranya sebagian kita bersikeras untuk tidak terlibat dalam Aksi 212, yah silakan. Hanya saja, mohon menahan sikap dan kata-kata. Seringkali keadaan menjadi lebih runyam hanya karena sebagian kita tidak mampu menahan kata-kata. Nyinyir. Nyindir-nyindir. Atau sejenisnya. Belajarlah dari pengalaman, bukankah segala hiruk-pikuk ini bersumber dari satu orang yang tak dapat menahan kata-kata?
Pada akhirnya, mari kita berdoa untuk kebaikan negeri ini. NKRI harga mati, Quran tetap di hati!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sekiranya sebagian kita bersikeras untuk tidak terlibat dalam Aksi 212, yah silakan. Hanya saja, mohon menahan sikap dan kata-kata. Seringkali keadaan menjadi lebih runyam hanya karena sebagian kita tidak mampu menahan kata-kata. Nyinyir. Nyindir-nyindir. Atau sejenisnya. Belajarlah dari pengalaman, bukankah segala hiruk-pikuk ini bersumber dari satu orang yang tak dapat menahan kata-kata?
Pada akhirnya, mari kita berdoa untuk kebaikan negeri ini. NKRI harga mati, Quran tetap di hati!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sesuai labelnya, Aksi 212 beneran damai alias super damai. Sejatinya Aksi 411 juga sangat damai. Dan ini tidak mudah, apalagi kalau ditilik dari jumlah massa yang masing-masing aksi mencapai lebih 2 juta orang (cek Google Earth). Ramai tapi relatif damai.
Ya, ini aksi bermartabat. Boleh diadu dengan unjuk rasa manapun sedunia sepanjang sejarah, termasuk negara-negara maju yang ngakunya lebih demokratis. Adakah seramai dan sedamai ini? Kapolri saja mengakui, tak satu pun pohon tumbang.
Selama ini unjuk rasa identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Nah, Aksi 212 dan Aksi 411 mengubah mindset pesertanya. Ramai tapi relatif damai. Tertib. Boleh dibilang, Revolusi Mental (Revolusi Mindset) terjadi di sini.
Lebih jauh, sebenarnya nilai-nilai Nawacita pun seperti aman, demokratis, melibatkan daerah, menghargai kebhinnekaan dan restorasi sosial, diam-diam sudah tertuang di Aksi 212 ini.
Bayangkan 2 juta lebih massa berkumpul di Monas dan sekitarnya. Begitu massa bubaran, eh sampah juga ikut 'bubaran' alias bersih. Teramat banyak orang yang berlomba-lomba mungutin sampah. Ini sebuah restorasi sosial, bukankah selama ini masyarakat kita dikenal 'masa bodoh dengan sampah'? Belum lagi yang bagi-bagi makanan serasa di Nabawi.
Heroiknya, Aksi 212 lebih membludak daripada Aksi 411. Padahal sebelumnya sudah ada fatwa haram dari seorang tokoh, fatwa bid'ah dari seorang ulama, stigma makar dari polisi, tebar selebaran dari helikopter, boikot transportasi dari aparat, eh tetap saja lebih membludak. Meluber sampai Istiqlal, Thamrin, serta Tugu Tani.
Dan keajaiban kecil pun terjadi. Ketika panitia mulai kuatir peserta akan dehidrasi, keletihan, dan kekurangan air wudhu, eh tiba-tiba ada kejutan: hujan turun di menit-menit menjelang Jumatan. Ya Allah, Engkau memang The Best Planner!
"Rasain kehujanan!" tukas si hater. Hehe, dia tidak tahu bahwa insya Allah: Jumat + Hujan + Jamaah = Makbul.
Meski hujan, massa tak bergeming. Saya yakin akan beda ceritanya kalau kampanye politik atau konser musik. Dihujani begitu, pasti massa akan terbirit-birit.
Lihat pula Surah Anfal 11, hujan seperti itu diturunkan untuk menyegarkan jasad dan meneguhkan kedudukan. Bukankah hujan sedemikian juga pernah diturunkan ketika Perang Badar?
Saat Isra Miraj, Nabi Muhammad bersua dengan malaikat yang sangat ahli soal hujan (lihat Al-Mustadrak Syeikh An-Nuri, jilid 5), bahkan mampu menghitung jumlah tetes air hujan yang tercurah sejak manusia pertama sampai manusia terakhir!
Namun tahukah Anda apa kelemahan malaikat ini? Ternyata, ia tidak mampu menghitung jumlah pahala yang tercurah saat umat Nabi Muhammad berkumpul di suatu tempat dan menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad! Masya Allah, bukankah ini juga terjadi di Aksi 212?
Beberapa ustadz pun memaparkan:
- Aksi 411 bagai Sa'i, berjalan dan berlari-lari kecil.
- Aksi 212 bagai Wukuf, duduk diam tak banyak bergerak.
- Boleh dibilang, kedua aksi ini mirip manasik haji terbesar (sekaligus sholat jumat terbesar sepanjang sejarah NKRI). Toh lengkap, ada zikir dan shalawat, ada pembimbing lapangan juga bagai muthawif. Plus sedikit desak-desakan karena ramainya massa, hehe.
- Yang nggak ada cuma Melempar Jumrah. Wah, bahaya nih kalau sampai ada lempar-lemparan dalam Aksi 212. Hehe.
"Ah, hanya orang-orang tolol yang hadir di situ," tukas si hater. Oya? Bukankah presiden, menteri, kapolri, dan panglima turut hadir, selain kyai-kyai dan habib-habib? Hehe, bodohkah mereka? Mohon maaf, saya pun bisa menunjukkan doktor-doktor (S3) dan miliarder-miliarder yang juga hadir, yang insya Allah jauh lebih cerdas dan jauh lebih kaya daripada dirimu wahai hater.
Manakala umat tidak memegang media dan kekuasaan, yah mau gimana lagi. Terpaksalah Aksi 212 dan 411 digulirkan. Namun, bagaimanapun juga, kita harus menjauhkan diri dari sikap ujub dan riya. Kembalilah fokus pada tujuan utama. Semoga Allah memudahkan. Aamiin.
Kalau Anda muslim, baiknya Anda membuat tulisan seperti ini. Agar dunia tahu betapa heroiknya aksi ini. Namun sekiranya belum bisa menulis artikel, silakan share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ya, ini aksi bermartabat. Boleh diadu dengan unjuk rasa manapun sedunia sepanjang sejarah, termasuk negara-negara maju yang ngakunya lebih demokratis. Adakah seramai dan sedamai ini? Kapolri saja mengakui, tak satu pun pohon tumbang.
Selama ini unjuk rasa identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Nah, Aksi 212 dan Aksi 411 mengubah mindset pesertanya. Ramai tapi relatif damai. Tertib. Boleh dibilang, Revolusi Mental (Revolusi Mindset) terjadi di sini.
Lebih jauh, sebenarnya nilai-nilai Nawacita pun seperti aman, demokratis, melibatkan daerah, menghargai kebhinnekaan dan restorasi sosial, diam-diam sudah tertuang di Aksi 212 ini.
Bayangkan 2 juta lebih massa berkumpul di Monas dan sekitarnya. Begitu massa bubaran, eh sampah juga ikut 'bubaran' alias bersih. Teramat banyak orang yang berlomba-lomba mungutin sampah. Ini sebuah restorasi sosial, bukankah selama ini masyarakat kita dikenal 'masa bodoh dengan sampah'? Belum lagi yang bagi-bagi makanan serasa di Nabawi.
Heroiknya, Aksi 212 lebih membludak daripada Aksi 411. Padahal sebelumnya sudah ada fatwa haram dari seorang tokoh, fatwa bid'ah dari seorang ulama, stigma makar dari polisi, tebar selebaran dari helikopter, boikot transportasi dari aparat, eh tetap saja lebih membludak. Meluber sampai Istiqlal, Thamrin, serta Tugu Tani.
Dan keajaiban kecil pun terjadi. Ketika panitia mulai kuatir peserta akan dehidrasi, keletihan, dan kekurangan air wudhu, eh tiba-tiba ada kejutan: hujan turun di menit-menit menjelang Jumatan. Ya Allah, Engkau memang The Best Planner!
"Rasain kehujanan!" tukas si hater. Hehe, dia tidak tahu bahwa insya Allah: Jumat + Hujan + Jamaah = Makbul.
Meski hujan, massa tak bergeming. Saya yakin akan beda ceritanya kalau kampanye politik atau konser musik. Dihujani begitu, pasti massa akan terbirit-birit.
Lihat pula Surah Anfal 11, hujan seperti itu diturunkan untuk menyegarkan jasad dan meneguhkan kedudukan. Bukankah hujan sedemikian juga pernah diturunkan ketika Perang Badar?
Saat Isra Miraj, Nabi Muhammad bersua dengan malaikat yang sangat ahli soal hujan (lihat Al-Mustadrak Syeikh An-Nuri, jilid 5), bahkan mampu menghitung jumlah tetes air hujan yang tercurah sejak manusia pertama sampai manusia terakhir!
Namun tahukah Anda apa kelemahan malaikat ini? Ternyata, ia tidak mampu menghitung jumlah pahala yang tercurah saat umat Nabi Muhammad berkumpul di suatu tempat dan menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad! Masya Allah, bukankah ini juga terjadi di Aksi 212?
Beberapa ustadz pun memaparkan:
- Aksi 411 bagai Sa'i, berjalan dan berlari-lari kecil.
- Aksi 212 bagai Wukuf, duduk diam tak banyak bergerak.
- Boleh dibilang, kedua aksi ini mirip manasik haji terbesar (sekaligus sholat jumat terbesar sepanjang sejarah NKRI). Toh lengkap, ada zikir dan shalawat, ada pembimbing lapangan juga bagai muthawif. Plus sedikit desak-desakan karena ramainya massa, hehe.
- Yang nggak ada cuma Melempar Jumrah. Wah, bahaya nih kalau sampai ada lempar-lemparan dalam Aksi 212. Hehe.
"Ah, hanya orang-orang tolol yang hadir di situ," tukas si hater. Oya? Bukankah presiden, menteri, kapolri, dan panglima turut hadir, selain kyai-kyai dan habib-habib? Hehe, bodohkah mereka? Mohon maaf, saya pun bisa menunjukkan doktor-doktor (S3) dan miliarder-miliarder yang juga hadir, yang insya Allah jauh lebih cerdas dan jauh lebih kaya daripada dirimu wahai hater.
Manakala umat tidak memegang media dan kekuasaan, yah mau gimana lagi. Terpaksalah Aksi 212 dan 411 digulirkan. Namun, bagaimanapun juga, kita harus menjauhkan diri dari sikap ujub dan riya. Kembalilah fokus pada tujuan utama. Semoga Allah memudahkan. Aamiin.
Kalau Anda muslim, baiknya Anda membuat tulisan seperti ini. Agar dunia tahu betapa heroiknya aksi ini. Namun sekiranya belum bisa menulis artikel, silakan share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
2 million or 4 million people?
As the tagline indicated, Action 212 was truly conducted peacefully or super peacefully. In fact Action 411 was indeed also very peaceful. It was not easy at all considering each action reached more than 2 million people (please check Google earth). It was crowded yet peaceful.
It was a dignified action. You may compare it with any other demonstrations in the world history, including in those developed countries that claimed themselves as more democratic. Were they as crowded and peaceful as this one? The Chief of Police of the Republic Indonesian also admitted that not even a single tree fell down. Public Sanitary Department amazed on how neat it was.
Channeling the mass’ aspiration has been always associated with violence and unrest. Those Action 212 and Action 411 completely changed the mindset perception. It was crowded yet peaceful. Orderly. Mental revolution (mindset changing) occurred here.
Furthermore, “Nawacita”, Indonesian values such as security, democratic, local involvement, respect for diversity and social restoration have been embraced by this Action 212.
Imagine, over 4 million people gathered in Monas – National Monument - and it surroundings. When they dismissed, the garbage also ‘dismissed’ or clean. So many people were vying to collect garbage. It was a social restoration. Our people have been known as ignorance to garbage, isn’t it? Not to mention those people who distributed food for free. It was like Nabawi and Masjidil Haram.
It was heroic, Action 212 action outnumbered the Action 411. Even though there was a fatwa of haram (forbidden) from a public figure, a fatwa of bid’ah (innovation) from a scholar, a stigma of treason, dropping leaflets from helicopter, transportation boycott by police, it was still booming. People overflew up to Istiqlal, Thamrin as well as Tugu Tani. More than 4 million people.
It was more exciting, no politician were given a space on the stage.
And a little miracle occurred. When the committee began to worry that people would be dehydrated, fatigue and no enough water for ablution (wudhu), suddenly there was a surprise: it rained in the minutes before Friday prayer. O Allah, You are indeed the Best Planner.
“Get you! You got caught in the rain!’ the haters said. They were not aware that In shaa Allah : Friday + Rain + Masses = Dua is being accepted.
In fact Ustadz Arifin Ilham prayed on the stage to have rain as the sign of the prayers being accepted. Even though it rained, people did not move. I believe the story would be different if it were political campaign or musical concert where people would dismiss if it rained.
Please check Surah Anfal 11, this kind of rain falls to refresh the body and strengthen the position. Similar kind of rain fell during the Badar war, right?
During Isra Miraj, when Prophet Muhammad met the Angel who is knowledgeable about rain (please check Al Mustadrak Syeikh An-Nuri vol 5), he even counted the numbers of rain drops from the first human to the last!
Do you kno what the angel’s weakness? He was not capable of counting the numbers of reward (pahala) given during the gathering of Prophet Muhammad’s followers in a place and mention the name of Prophet Muhammad! Ma Shaa Allah, it did occur during Action 212, right?
Therefore, some scholars described:
- Action 411 was like Sa’i, walking and running slowly.
- Action 212 was like Wukuf, sitting down silently without moving a lot.
- It is arguably, both actions are similar to the biggest manasik haji (at the same time the biggest group of Friday prayers of the Indonesia history). It was complete, there were field supervisors just like muthawif, plus a bit of stampede due to large numbers of masses.
- what we didn’t have was throwing pebbles (jumrah). Gee, it would be dangerous if people threw one another in the Action 212, hehehe.
“Ah, only the fools who attended the event," the haters said. Really? Apart from the scholars and habib, wasn’t it that President, ministers, chief of police and commander were present there? Hehehe. Are they fools?
As the tagline indicated, Action 212 was truly conducted peacefully or super peacefully. In fact Action 411 was indeed also very peaceful. It was not easy at all considering each action reached more than 2 million people (please check Google earth). It was crowded yet peaceful.
It was a dignified action. You may compare it with any other demonstrations in the world history, including in those developed countries that claimed themselves as more democratic. Were they as crowded and peaceful as this one? The Chief of Police of the Republic Indonesian also admitted that not even a single tree fell down. Public Sanitary Department amazed on how neat it was.
Channeling the mass’ aspiration has been always associated with violence and unrest. Those Action 212 and Action 411 completely changed the mindset perception. It was crowded yet peaceful. Orderly. Mental revolution (mindset changing) occurred here.
Furthermore, “Nawacita”, Indonesian values such as security, democratic, local involvement, respect for diversity and social restoration have been embraced by this Action 212.
Imagine, over 4 million people gathered in Monas – National Monument - and it surroundings. When they dismissed, the garbage also ‘dismissed’ or clean. So many people were vying to collect garbage. It was a social restoration. Our people have been known as ignorance to garbage, isn’t it? Not to mention those people who distributed food for free. It was like Nabawi and Masjidil Haram.
It was heroic, Action 212 action outnumbered the Action 411. Even though there was a fatwa of haram (forbidden) from a public figure, a fatwa of bid’ah (innovation) from a scholar, a stigma of treason, dropping leaflets from helicopter, transportation boycott by police, it was still booming. People overflew up to Istiqlal, Thamrin as well as Tugu Tani. More than 4 million people.
It was more exciting, no politician were given a space on the stage.
And a little miracle occurred. When the committee began to worry that people would be dehydrated, fatigue and no enough water for ablution (wudhu), suddenly there was a surprise: it rained in the minutes before Friday prayer. O Allah, You are indeed the Best Planner.
“Get you! You got caught in the rain!’ the haters said. They were not aware that In shaa Allah : Friday + Rain + Masses = Dua is being accepted.
In fact Ustadz Arifin Ilham prayed on the stage to have rain as the sign of the prayers being accepted. Even though it rained, people did not move. I believe the story would be different if it were political campaign or musical concert where people would dismiss if it rained.
Please check Surah Anfal 11, this kind of rain falls to refresh the body and strengthen the position. Similar kind of rain fell during the Badar war, right?
During Isra Miraj, when Prophet Muhammad met the Angel who is knowledgeable about rain (please check Al Mustadrak Syeikh An-Nuri vol 5), he even counted the numbers of rain drops from the first human to the last!
Do you kno what the angel’s weakness? He was not capable of counting the numbers of reward (pahala) given during the gathering of Prophet Muhammad’s followers in a place and mention the name of Prophet Muhammad! Ma Shaa Allah, it did occur during Action 212, right?
Therefore, some scholars described:
- Action 411 was like Sa’i, walking and running slowly.
- Action 212 was like Wukuf, sitting down silently without moving a lot.
- It is arguably, both actions are similar to the biggest manasik haji (at the same time the biggest group of Friday prayers of the Indonesia history). It was complete, there were field supervisors just like muthawif, plus a bit of stampede due to large numbers of masses.
- what we didn’t have was throwing pebbles (jumrah). Gee, it would be dangerous if people threw one another in the Action 212, hehehe.
“Ah, only the fools who attended the event," the haters said. Really? Apart from the scholars and habib, wasn’t it that President, ministers, chief of police and commander were present there? Hehehe. Are they fools?
Of course not. My apology, I can show doctors (PhD) and billionaire who attended. In shaa Allah they are far more intelligent and far richer than you are, O haters.
We, ummah, do not own media and power. We were forced to conduct Actions 212 and 411. We have to. However, despite the success of the event, we have to keep ourselves away from ‘ujub’(arrogant) and ‘riya’ (showing off). Focus to the main objective. May Allah help us to achieve the main objective. Amien.
If you are a muslim, you’d better write this kind of article. Do something. So that the world is aware of how heroic the action was. Otherwise, please share this article if you have not been able to write. Yes, please share. Salam from me, Ippho Santosa (No.1 Mega-Bestselling Author from Indonesia).
We, ummah, do not own media and power. We were forced to conduct Actions 212 and 411. We have to. However, despite the success of the event, we have to keep ourselves away from ‘ujub’(arrogant) and ‘riya’ (showing off). Focus to the main objective. May Allah help us to achieve the main objective. Amien.
If you are a muslim, you’d better write this kind of article. Do something. So that the world is aware of how heroic the action was. Otherwise, please share this article if you have not been able to write. Yes, please share. Salam from me, Ippho Santosa (No.1 Mega-Bestselling Author from Indonesia).
Karena banyak permintaan
akhirnya kami buat artikel
terkait Aksi 212
dalam Bahasa Inggris.
akhirnya kami buat artikel
terkait Aksi 212
dalam Bahasa Inggris.
Dia Layak Jadi Jodohmu
Oleh: Ippho Santosa
Rumput dan taman aja dia jagain, apalagi kamu.
Pintu istana dan pintu langit aja dia ketuk, apalagi pintu rumahmu.
Jalan kaki tanpa kamu aja dia kuat, apalagi jalan kaki bareng kamu.
Dihalang-halangi aja dia datang, apalagi disambut kamu.
Tanpa dibayar aja dia datang, apalagi dihadiahi kamu.
Hujan-hujanan di lapangan aja dia tetap berdoa, apalagi tahajjud di rumah bersamamu.
Di Monas aja dia munajat sampai nangis, apalagi munajat di Mekkah bersamamu.
Di Monas aja dia shalawat sampai haru, apalagi shalawat di Madinah bersamamu.
Bukan Bella Saphira, yang penting baginya bela Quran dan belain kamu.
Dia suka aksi damai di Monas, dia juga suka aksi damai dan sakinah bersamamu.
Dia belum seperti santri Ciamis, tapi ia sanggup menempuh suka-duka hidup bersamamu.
Dialah alumni 212.
Oleh: Ippho Santosa
Rumput dan taman aja dia jagain, apalagi kamu.
Pintu istana dan pintu langit aja dia ketuk, apalagi pintu rumahmu.
Jalan kaki tanpa kamu aja dia kuat, apalagi jalan kaki bareng kamu.
Dihalang-halangi aja dia datang, apalagi disambut kamu.
Tanpa dibayar aja dia datang, apalagi dihadiahi kamu.
Hujan-hujanan di lapangan aja dia tetap berdoa, apalagi tahajjud di rumah bersamamu.
Di Monas aja dia munajat sampai nangis, apalagi munajat di Mekkah bersamamu.
Di Monas aja dia shalawat sampai haru, apalagi shalawat di Madinah bersamamu.
Bukan Bella Saphira, yang penting baginya bela Quran dan belain kamu.
Dia suka aksi damai di Monas, dia juga suka aksi damai dan sakinah bersamamu.
Dia belum seperti santri Ciamis, tapi ia sanggup menempuh suka-duka hidup bersamamu.
Dialah alumni 212.