Komunitas Itu Mahal
Dekat sama penjual minyak wangi, maka kita akan dapat wanginya.
Dekat sama pembakar besi, kita akan kena bakaran atau bau-nya.
Memang kalimat-kalimat ini kiasan. Tapi sangat relate buat kita, terutama sebagai pebisnis.
Berada dekat-dekat dengan orang berprestasi atau high performer bisa meningkatkan productivity dan performance kita sampai 15 persen. Ini menurut riset University of California.
Begini. Kita boleh berteman dengan siapa aja. Boleh. Tapi hati-hati dalam memilih sahabat dan mentor. Karena bisa mempengaruhi masa depan kita. Dunia dan akhirat.
Inilah yang menjadi bahan pertimbangan kita saat memilih sebuah komunitas. Apa itu? Persahabatan dan ekosistem-nya. Pilih-lah yang serba positif dan serba islami. Karena ini bagus buat masa depan kita.
Itu pendapat saya. Apa pendapat teman-teman?
Dekat sama penjual minyak wangi, maka kita akan dapat wanginya.
Dekat sama pembakar besi, kita akan kena bakaran atau bau-nya.
Memang kalimat-kalimat ini kiasan. Tapi sangat relate buat kita, terutama sebagai pebisnis.
Berada dekat-dekat dengan orang berprestasi atau high performer bisa meningkatkan productivity dan performance kita sampai 15 persen. Ini menurut riset University of California.
Begini. Kita boleh berteman dengan siapa aja. Boleh. Tapi hati-hati dalam memilih sahabat dan mentor. Karena bisa mempengaruhi masa depan kita. Dunia dan akhirat.
Inilah yang menjadi bahan pertimbangan kita saat memilih sebuah komunitas. Apa itu? Persahabatan dan ekosistem-nya. Pilih-lah yang serba positif dan serba islami. Karena ini bagus buat masa depan kita.
Itu pendapat saya. Apa pendapat teman-teman?
Ulama gelisah, kenapa?
Pernahkah teman-teman merasakan fenomena ini? Ternyata ini nyata, teman-teman...
Simak caption di reels ini ya...
https://www.instagram.com/reel/C6Hu1U7SPoG/?igsh=M2o0NGt6Y21lNTR5
Pernahkah teman-teman merasakan fenomena ini? Ternyata ini nyata, teman-teman...
Simak caption di reels ini ya...
https://www.instagram.com/reel/C6Hu1U7SPoG/?igsh=M2o0NGt6Y21lNTR5
Bisnis mentok? Jangan-jangan gak punya stok.
Penjual es, punya stok.
Penjual sate, punya stok.
Penjual gado-gado, punya stok.
Pengusaha kuliner, properti, fashion, ATK, semuanya punya stok. Sudah sewajarnya begitu, punya stok.
Berapa target yang ingin dicapai, yah segitulah stoknya. Kadang mereka lebihin, sebagai wujud optimisme. Right?
Seorang pengusaha kuliner ingin menjual 100 porsi sehari. Tapi stoknya cuma 60 porsi. Ini kan aneh. Beneran aneh.
Harus berani nyetok. Apalagi kalau produk kita tahan lama, gak mudah basi. Hadirnya stok mengundang rezeki.
Yakin? 🙂
Penjual es, punya stok.
Penjual sate, punya stok.
Penjual gado-gado, punya stok.
Pengusaha kuliner, properti, fashion, ATK, semuanya punya stok. Sudah sewajarnya begitu, punya stok.
Berapa target yang ingin dicapai, yah segitulah stoknya. Kadang mereka lebihin, sebagai wujud optimisme. Right?
Seorang pengusaha kuliner ingin menjual 100 porsi sehari. Tapi stoknya cuma 60 porsi. Ini kan aneh. Beneran aneh.
Harus berani nyetok. Apalagi kalau produk kita tahan lama, gak mudah basi. Hadirnya stok mengundang rezeki.
Yakin? 🙂