Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Allah mengurusi kita pol-polan. Bukan asal-asalan.

Maka, perbaiki penampilan kita. Hindari sikap mengeluh. Terus? Cerah dan ceriakan wajah kita.

Kalau penampilan kita selalu lusuh dan sikap kita selalu mengeluh, itu artinya kita mengirim pesan kepada semua orang bahwa _Allah telah lalai mengurusi kita._

Pernah melihat seorang anak yang wajahnya murung dan suram? Pakaiannya kusam? Hati kita langsung membatin, "Ke mana orangtuanya? Kok anaknya dibiarin seperti itu?"

Ingat, Allah tidak pernah menelantarkan kita walaupun sepersekian detik. Telatennya Allah jauh melampaui telatennya seorang ibu terhadap bayinya.

Rasulullah pernah bersabda, "Jika dirimu telah diberi nikmat oleh Allah, maka tampakkan nikmat itu pada dirimu." Ya, boleh ditampakkan asalkan tidak berlebihan dan tanpa ujub.

Paham sampai di sini?

Sekali lagi, Allah mengurusi kita pol-polan. Bukan asal-asalan. Saya tambahkan sedikit, "Maka tampil dan berjalanlah sebagaimana layaknya seorang pemenang." Siaaap?
Saat ini, ilmu begitu mudahnya didapatkan. Dari YouTube, dari socmed, dari WA. Saking mudahnya, akhirnya sebagian kita mengabaikan adab dalam menuntut ilmu. Padahal adab hendaknya lebih diutamakan daripada ilmu.

Sewaktu menuntut ilmu, lazimnya kita berharap dapat ilmu canggih yang bisa membawa perubahan. Sebenarnya, ada yang lebih utama daripada 'canggihnya ilmu' tsb. Apa itu? Adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Agar apa? Agar ilmu itu jadi berkah dan benar-benar membekas.

Adalah kurang tepat kalau lagi belajar atau jumpa mentor, kitanya nyambi-nyambi main HP. Ini kurang tepat. Baiknya HP pun di-silent saat kita belajar atau bertemu mentor. Tunjukkan kesungguhan kita.

Terus? Badan menghadap ke si penyampai ilmu. Bukan ke arah yang lain. Percayalah, akan beda hasilnya. Satu lagi. Apa itu? Datang ontime bahkan datang lebih awal. Disiplin waktu, ini sudah menjadi sesuatu yang standar dalam menuntut ilmu. Entah itu di training, entah itu di kajian.

Dan ini semua harus kita terapkan sebagai pembelajar.

Ingat. Bukan canggihnya ilmu yang membuat nasib kita berubah. Bukan itu yang utama. Tapi lebih karena kita (si penuntut ilmu) punya adab dan punya kesungguhan terhadap ilmu. Alhamdulillah kemarin saya berbagi ilmu untuk PLN di Aceh. Hebat sekali semangat mereka! Semoga ilmu yang saya sampaikan bisa membawa perubahan!

Akhir kata, jadilah pembelajar sejati. Punya adab. Juga sungguh-sungguh.

Simak >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2542507295791457&id=144175158958028
Salah satu bukti kekayaan Nabi Ibrahim. Simak penjelasan Ustadz Hanan Attaki.
Sedekah dan berharap balasan, bolehkah? Selagi berharap sama Allah, yah boleh.

Berharap kepada-Nya = berdoa

Berharap kepada-Nya = bukti iman

Berharap kepada-Nya = enggan berharap ke makhluk

Berharap kepada-Nya = menuruti perintah-Nya karena itulah yang Dia perintahkan.

Apa yang jelas-jelas terlarang? Berharap ke makhluk. Itulah yang keliru.
Berusahalah mandiri sejak muda. Ya, sejak muda. Izinkan saya mengambil satu contoh yang sangat menginspirasi. Simak baik-baik:

- Semasa kuliah, ia berusaha tidak membebani orangtua. Bersama teman, ia berbisnis fotokopi.
- Semasa kuliah, walaupun miskin, dari hasil usahanya ia sering mentraktir teman-temannya.
- Ketika musim ujian di kampus, ia bangun dan belajar mulai jam 3 pagi. Lama-lama, ini jadi habit.
- Ketika muda, dia bekerja 18 jam sehari. Ketika berusia 50-an, dia bekerja 12-14 jam sehari.
- Menariknya, sebagai ayah ia terbiasa memandikan anak mengganti popok. Soalnya dulu sudah terbiasa mengasuh adik-adiknya.
- Kepada anak-anaknya, kemudian ia berpesan, “Kalian harus mampu berjuang sendiri. Agar kalian punya kebanggaan atas hasil karya sendiri.”

Siapakah dia? Ya, dialah Pak Chairul Tanjung alias CT. Seorang sosok yang sangat menginspirasi. Dan saat ini karyawannya ada 100.000 orang, tersebar di Bank Mega, Mega Syariah, Trans TV, Trans 7, juga Detik.

Di sini saya tidak mendesak Anda untuk menjadi seorang CT. Tapi, apa salahnya kita sama-sama belajar soal kerja kerasnya? Sekiranya kita belum bisa meniru kerja kerasnya 100%, cobalah menirunya 30% atau 40%.

Satu lagi. Apa itu? Berusahalah mandiri sejak muda. Ini akan membuat kita lebih dewasa dan lebih tangguh, tidak mudah mengeluh. Ingat, dunia ini keras. Dan akan terasa sangat keras kalau tidak mempersiapkan diri.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Mau e-book 'The Richest Moslem' ini? Free alias gratis. WA ke 0859-4506-3777.
Baca sampai selesai ya.
Photo from Ippho & Tim Khalifah
E-book terbaru. Judulnya 'Young Entrepreneur'. Sekarang masih gratis. Teman-teman mau?
Kisah Toyota Company telah menginspirasi dunia. Berikut ini pengalaman saya ketika dijamu dan diizinkan menginap di rumah keturunan pendiri Toyota (Toyoda Family). Sangat berkesan. Dan keramahan mereka membuat saya benar-benar terharu. Masya Allah.

https://www.instagram.com/p/BuXI6JRllzA/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18wmqe7yn2fg8

Semoga Mr Toyoda dan Mrs Toyoda selalu sehat, juga panjang umur. Aamiin.
"Go everywhere, see everything!"

Inilah pesan Mr Toyoda (lengkapnya Kanshiro Toyoda, cucunya pendiri Toyota) kepada saya. Lalu istrinya, Mrs Toyoda, menambahkan, "Satu kali melihat lebih berharga daripada seratus kali mendengar."

Ngomong-ngomong, gimana ceritanya, kok saya bisa bertemu langsung dengan mereka? Ceritanya begini.

Selesai berseminar di Tokyo, saya dan istri berangkat ke Toyota City. Partner-partner saya di TK Khalifah juga berangkat. Agenda utamanya, studi banding untuk TK dan SD. Alhamdulillah, kami diundang (Terima kasih Pak Mulyono dan Bu Lilis atas kesempatan ini).

Nggak nyangka, ternyata kemudian saya dan istri dijamu oleh Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Masya Allah. Bukan itu saja. Lalu kami diizinkan menginap di rumah mereka. Rezeki tak disangka-sangka bagi kami.

Alhamdulillah selama dua hari dua malam saya berada di rumah keluarga Toyoda. Sekali lagi, Mr Toyoda adalah keturunan dari pendiri Toyota dan beliau masih aktif memimpin salah satu perusahaan di Toyota Group.

Suami-istri ini usianya sudah 70-an tapi masih aktif dan produktif. Ke mana-mana nyetir sendiri. Jalannya cepat. Sikapnya sangat ramah dan sangat rendah hati. Sang istri lumayan lancar Bahasa Inggris-nya.

Hebatnya lagi, nggak ada asisten rumah. Semuanya mereka handle sendiri. Mungkin ini sudah biasa bagi masyarakat Jepang. Tapi beliau-beliau ini kan beda. Toyota sudah menjadi merek global. Bahkan sudah menjadi nama kota di Jepang.

Tapi begitulah, mereka tetap ramah dan tetap rendah hati.

Adapun filosofi Toyota, "Good thinking, good product." Mrs Toyoda cerita ke saya, concern mereka bukan lagi soal profit, tapi soal peningkatan taraf hidup manusia. Di Toyota City, di Jepang, dan di dunia.

Salah satu impian Mrs Toyoda, ingin dunia ini menjadi borderless dan penuh kedamaian. Beliau menceritakan ini sambil menyetir. Kata beliau, kayaknya ini mustahil terjadi saat ini. Tapi siapa tahu suatu hari nanti. Tulisan ini boleh di-share.

"Friendship forever," ini salah satu pesan Mrs Toyoda untuk entrepreneur-entrepreneur di Indonesia. Pokoknya, selama 2 hari 2 malam, saya dan partner-partner saya di TK Khalifah tak henti-henti dapat kejutan dari keluarga Toyoda dan masyarakat Toyota City.

Ya, mereka sangat friendly dan sangat humble. Bagi saya, ini berkesan sekali dan tak terlupakan. Sepertinya ucapan terimakasih tidak cukup untuk membalas kebaikan-kebaikan mereka.

Pada akhirnya, tibalah masa perpisahan itu. Menetes airmata saya saat pamitan dengan Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Terharu. Yang saya rasakan, mereka ini begitu tulus dan benar-benar memuliakan tamu.

Saat kami ber-sayonara dan berada di dalam bis, mereka berdiri di luar, di samping bis. Ya, mereka menunggu keberangkatan bis kami. Sambil berpayung, karena hujan, mereka bersikeras berada di situ sembari melambai-lambaikan tangannya, sampailah bis bergerak menjauh. Lagi-lagi saya speechless.

Bukan saya saja. Demikian pula teman-teman saya dari TK Khalifah. Mereka bahagia sekali dan terharu. Hampir semuanya meneteskan airmata. Karena diperlakukan dengan sangat hangat oleh warga Toyota City. Ternyata soal ramah, bukan dominasi orang Indonesia saja. Orang Jepang juga sangaaat ramah.

Kita doakan ya. Semoga Mr Toyoda dan Mrs Toyoda selalu sehat, juga panjang umur. Aamiin. Satu lagi. Mudah-mudahan hubungan Indonesia-Jepang semakin erat dan semakin akrab dari waktu ke waktu. Aamiin.

Saya pribadi berharap, ke depan lebih banyak lagi orang-orang yang terinspirasi dari kisah Toyota City, Toyota Company, dan Toyoda Family. Kalau perlu, berkunjung ke Toyota City. Insya Allah.
Mau e-book karya saya? Judulnya 'Young Entrepreneur'. Sekarang masih gratis. Mau? WA ke 0859-4506-3777. Selama ini, banyak sekali WA yang masuk. Saran saya, coba WA dua kali atau tiga kali. Biar lebih terlihat oleh admin saya. File e-book insya Allah akan dikirim via WA.

Mau? 🙂
Rahasia Pendidikan Jepang

Seperti yang teman-teman tahu, saya mendirikan dan mengelola TK dan SD Khalifah. Alhamdulillah tersebar puluhan cabang di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua.

Senang sekali, saya dan mitra-mitra TK Khalifah berkesempatan studi banding ke sekolah-sekolah di Jepang. Baik pemerintahnya maupun sekolahnya, sangat welcome terhadap kami, alhamdulillah.

Ada beberapa catatan yang menarik. Misalnya, tidak ada office boy atau cleaning service di sekolah (SD). Anak-anak yang membersihkan dan membereskan semuanya. Ya, semuanya. Termasuk membersihkan toilet dan salju!

Meja belajar sama dengan meja makan. Siswa menggeser dan mengatur mejanya sendiri. Tidak harus rapi, tidak harus lurus. Tinggi meja bisa disetel, disesuaikan dengan tinggi dan besarnya anak.

Anak TK menyuap makanannya sendiri. Tidak disuapi.

Selesai makan siang, siswa mengumpulkan sampah makanannya sendiri dan memilah-milah sampah tersebut (kertas, plastik, buah dll). Menu makanan dan gizi makanan diatur oleh sekolah. Kadang diubah, disesuaikan dengan kegiatan dan keperluan anak.

Meja dan loker dituliskan nama siswa masing-masing. Anak TK dan SD tidak berseragam, kecuali ketika berolahraga. Pelajaran budi pekerti menjadi penekanan ketika TK dan SD, bukan pelajaran calistung.

Ada jam tidur siang bagi anak TK. Satu lagi. Anak kecil tidak boleh difoto oleh orang yang tidak dikenal. Kalaupun anak difoto oleh pihak sekolah, untuk upload di socmed harus dengan izin orangtuanya.

Setidaknya, ini yang saya lihat di sana sewaktu kunjungan dan studi banding. Di sini saya sengaja tidak membahas soal fisik bangunan dan anggaran (biaya), karena tidak terlalu mudah bagi kita untuk menirunya. Yang saya bahas hanya keseharian dan kebiasaan mereka.

Semoga kita bisa meniru yang baik-baik dari pendidikan Jepang ya.