Beri ikannya?
Atau beri kailnya?
Saat kita hidup mapan dan berusaha membantu orang-orang di sekitar kita, maka orang bijak pun menasehati, "Beri kailnya. Bukan ikannya. Dengan kail, ia bisa memancing dan menafkahi hidupnya setiap hari. Tapi kalau cuma ikan, itu hanya mencukupi hidupnya satu-dua hari saja."
Lantas, apa pendapat saya? Soal kail ini, menurut saya, bisa benar atau tidak. Saya lebih setuju pada 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'. Hm, maksudnya? Begini.
Saya bahas dengan analogi kail dan ikan semata-mata karena analogi ini sudah sangat popoler di tengah-tengah masyarakat. Anda pasti pernah mendengarnya. Walaupun saya pribadi tidak terlalu suka dengan dunia pancing-memancing. Dan seperti biasa, tulisan saya boleh di-share.
Kail, ini identik dengan fasilitas demi fasilitas. Kalau kita berikan, hati-hati, ini bisa memanjakan saudara kita atau sahabat kita. Bahkan melemahkan potensi mereka. Bahaya. Namanya manusia, begitu merasa nyaman atau sangat nyaman, hampir otomatis tertutup potensinya. Alih-alih menggali potensi, mereka cenderung menikmati fasilitas yang sudah ada. Betul apa betul?
Contoh, Anda berikan mobil kepada adik Anda yang tengah kuliah atau bekerja. Apakah dengan ini, si adik akan berpikir keras dan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah mobil? Kemungkinan besar, tidak. Dia akan cenderung menikmati mobil yang sudah ada, tanpa perlu berpikir dan berusaha ini-itu lagi. Sebenarnya, kalaupun mau membantu, berikan si adik itu motor. Seken pun tak masalah. Jangan mobil.
Termasuk saat kita punya 5 restoran, lalu serta-merta kita memberikan 1 restoran kepada saudara kita atau sahabat kita. Lha, apa dia tahu ilmunya? Ingat, sepenting-pentingnya bisnis, lebih penting lagi ilmu di balik bisnis. Namanya bisnis, bisa untung bisa rugi. Tapi kalau tahu ilmunya, kita bisa mencetak untung berkali-kali walaupun sebelumnya pernah rugi. Right?
Camkan baik-baik. Kita tidak hidup selamanya. Kita tidak sehat selamanya. Bukan mustahil, kita yang meninggal duluan. Kasihan saudara kita kalau kita tidak mempersiapkan dia. Maka, kalau memang peduli dan sayang sama dia, persiapkan dia. Gembleng dia. Ajari dia. Inilah yang saya sebut 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'.
Kalaupun karena terpaksa, Anda memberikan kail, yah silakan. Tapi pastikan Anda beri kail itu sekalian dengan ilmu dan prosesnya. Sekali lagi saya ingatkan, memberi kail dan hanya kail, bisa memanjakan dia bahkan melemahkan potensi dia. Yang saya amati, saat kail ini hilang atau Anda ambil kembali, dia bisa depresi atau emosi karena memang dia tidak siap. Akan beda ceritanya kalau dia sudah tahu ilmunya.
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Atau beri kailnya?
Saat kita hidup mapan dan berusaha membantu orang-orang di sekitar kita, maka orang bijak pun menasehati, "Beri kailnya. Bukan ikannya. Dengan kail, ia bisa memancing dan menafkahi hidupnya setiap hari. Tapi kalau cuma ikan, itu hanya mencukupi hidupnya satu-dua hari saja."
Lantas, apa pendapat saya? Soal kail ini, menurut saya, bisa benar atau tidak. Saya lebih setuju pada 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'. Hm, maksudnya? Begini.
Saya bahas dengan analogi kail dan ikan semata-mata karena analogi ini sudah sangat popoler di tengah-tengah masyarakat. Anda pasti pernah mendengarnya. Walaupun saya pribadi tidak terlalu suka dengan dunia pancing-memancing. Dan seperti biasa, tulisan saya boleh di-share.
Kail, ini identik dengan fasilitas demi fasilitas. Kalau kita berikan, hati-hati, ini bisa memanjakan saudara kita atau sahabat kita. Bahkan melemahkan potensi mereka. Bahaya. Namanya manusia, begitu merasa nyaman atau sangat nyaman, hampir otomatis tertutup potensinya. Alih-alih menggali potensi, mereka cenderung menikmati fasilitas yang sudah ada. Betul apa betul?
Contoh, Anda berikan mobil kepada adik Anda yang tengah kuliah atau bekerja. Apakah dengan ini, si adik akan berpikir keras dan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah mobil? Kemungkinan besar, tidak. Dia akan cenderung menikmati mobil yang sudah ada, tanpa perlu berpikir dan berusaha ini-itu lagi. Sebenarnya, kalaupun mau membantu, berikan si adik itu motor. Seken pun tak masalah. Jangan mobil.
Termasuk saat kita punya 5 restoran, lalu serta-merta kita memberikan 1 restoran kepada saudara kita atau sahabat kita. Lha, apa dia tahu ilmunya? Ingat, sepenting-pentingnya bisnis, lebih penting lagi ilmu di balik bisnis. Namanya bisnis, bisa untung bisa rugi. Tapi kalau tahu ilmunya, kita bisa mencetak untung berkali-kali walaupun sebelumnya pernah rugi. Right?
Camkan baik-baik. Kita tidak hidup selamanya. Kita tidak sehat selamanya. Bukan mustahil, kita yang meninggal duluan. Kasihan saudara kita kalau kita tidak mempersiapkan dia. Maka, kalau memang peduli dan sayang sama dia, persiapkan dia. Gembleng dia. Ajari dia. Inilah yang saya sebut 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'.
Kalaupun karena terpaksa, Anda memberikan kail, yah silakan. Tapi pastikan Anda beri kail itu sekalian dengan ilmu dan prosesnya. Sekali lagi saya ingatkan, memberi kail dan hanya kail, bisa memanjakan dia bahkan melemahkan potensi dia. Yang saya amati, saat kail ini hilang atau Anda ambil kembali, dia bisa depresi atau emosi karena memang dia tidak siap. Akan beda ceritanya kalau dia sudah tahu ilmunya.
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Setiap ayah adalah superhero.
- Adalah benar ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.
- Adalah benar ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.
- Adalah benar ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.
- Adalah benar ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.
- Adalah benar, kalau kita ada masalah, ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.
Hormati ayah kita.
Sayangi ayah kita.
Doakan ayah kita.
Itu bagian dari berbakti. Dan saat kita berusaha untuk berbakti, tanpa terasa, ternyata itu memudahkan rezeki kita. Pun membuat anak mencontoh, lalu berbakti kepada kita. Belum lagi soal berkah dan pahala. Insya Allah ini nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
- Adalah benar ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.
- Adalah benar ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.
- Adalah benar ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.
- Adalah benar ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.
- Adalah benar, kalau kita ada masalah, ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.
Hormati ayah kita.
Sayangi ayah kita.
Doakan ayah kita.
Itu bagian dari berbakti. Dan saat kita berusaha untuk berbakti, tanpa terasa, ternyata itu memudahkan rezeki kita. Pun membuat anak mencontoh, lalu berbakti kepada kita. Belum lagi soal berkah dan pahala. Insya Allah ini nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Sabtu yang lalu, saya kembali belajar sama Ustadz Adi Hidayat. Belajar itu harus. Yang saya pahami, "Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Yah, tak akan bertemu antara cahaya dan kegelapan."
Satu lagi. Seberapa serius Anda dengan perubahan nasib? Ini terlihat dari seberapa serius Anda belajar.
Lantas, apa pesan saya untuk mereka yang menginginkan perubahan nasib? Simple saja. 5B, yaitu belajar, berhemat, berbisnis, berinvestasi, dan berbagi. Praktek minimal 2 tahun. Niscaya akan terlihat hasilnya.
Terkait bisnis, ada baiknya kita paham dulu. Belajar, berilmu. Kalau sekedar memulai, boleh tanpa ilmu. Tapi kalau membesarkan, yah perlu ilmu. Misalnya, sistem yang rapi, SDM yang solid, promosi yang efektif, dan lain-lain. Itu semua perlu dipelajari. Coba-coba sendiri? Boleh, tapi jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Saya, demi membenahi TK Khalifah, sempat memanggil sejumlah konsultan dan tenaga ahli. Saya belajar. Bukan sehari dua hari, melainkan bertahun-tahun. Karena saya tahu persis, kalau coba-coba sendiri jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok, juga menganjurkan kita untuk memiliki mentor. Tentunya, the real mentor. Gimana dengan Anda, sudah punya mentor? Di komunitas BP, saya berupaya menghadirkan lima mentor untuk semua member. Agar terarah, tak salah langkah.
Satu hal yang selalu dipesankan oleh orang-orang bijak, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan buku-buku yang kita baca." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin punya mentor, komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BrJTQGKltqf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=dp1kgckc7i64
Satu lagi. Seberapa serius Anda dengan perubahan nasib? Ini terlihat dari seberapa serius Anda belajar.
Lantas, apa pesan saya untuk mereka yang menginginkan perubahan nasib? Simple saja. 5B, yaitu belajar, berhemat, berbisnis, berinvestasi, dan berbagi. Praktek minimal 2 tahun. Niscaya akan terlihat hasilnya.
Terkait bisnis, ada baiknya kita paham dulu. Belajar, berilmu. Kalau sekedar memulai, boleh tanpa ilmu. Tapi kalau membesarkan, yah perlu ilmu. Misalnya, sistem yang rapi, SDM yang solid, promosi yang efektif, dan lain-lain. Itu semua perlu dipelajari. Coba-coba sendiri? Boleh, tapi jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Saya, demi membenahi TK Khalifah, sempat memanggil sejumlah konsultan dan tenaga ahli. Saya belajar. Bukan sehari dua hari, melainkan bertahun-tahun. Karena saya tahu persis, kalau coba-coba sendiri jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok, juga menganjurkan kita untuk memiliki mentor. Tentunya, the real mentor. Gimana dengan Anda, sudah punya mentor? Di komunitas BP, saya berupaya menghadirkan lima mentor untuk semua member. Agar terarah, tak salah langkah.
Satu hal yang selalu dipesankan oleh orang-orang bijak, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan buku-buku yang kita baca." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin punya mentor, komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BrJTQGKltqf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=dp1kgckc7i64
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Kadang kita belajar. Kadang kita mengajar... Ada saatnya kita jadi murid. Ada saatnya kita jadi guru. Jadi guru? Ya. Mungkin terhadap pasangan, anak, atau tim. Dijalani saja... Teman-teman setujuuuuu? ๐จโ๐๐จโ๐๐จโ๐
Poligami
Sebagian besar keluarga memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Masing-masing ada konsekuensi dan tanggung-jawab tersendiri.
Presiden Soekarno, poligami (beristri lebih dari dua). Wapres Hamzah Haz, poligami. Pendiri Muhammadiyah, poligami. Pendiri NU, poligami. Sampai sekarang, tidak ada yang berani mengolok-olok poligaminya mereka. Hm, ada yang berani?
Nah, bagaimana dengan nabi-nabi? Ada juga yang berpoligami, seperti Nabi Ibrahim (Abraham) dan Nabi Musa. Kita sama-sama tahu, Nabi Ibrahim adalah buyutnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Demikian pula Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, sangat banyak istrinya.
Sebelum Nabi Muhammad diutus jadi nabi, seorang pria bisa menikahi beberapa wanita sekaligus dengan jumlah tanpa batas. Dan ini terjadi di seluruh dunia, bukan di Tanah Arab saja.
Bahkan dua wanita bersaudara pun boleh dinikahi pada waktu bersamaan. Justru melalui risalah Islam, Nabi Muhammad mengajarkan pembatasan poligami dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Tulisan ini boleh di-share.
Lha, apa jadinya kalau tidak dibatasi? Yah, seorang pria bisa menikahi para wanita sesukanya. OC Kaligis istrinya 10. Eyang Subur istrinya 8. Iwan Tjahyadikarta (Eng Thiong) dari 9 Naga, istrinya 5. Itu sih yang ketahuan, karena mereka sangat populer. Tentu lebih banyak tokoh yang tidak ketahuan.
Seorang muslim sekiranya anti dengan poligami atau menolak syariat poligami, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, belum tahu sejarah Islam dan sejarah Indonesia. Kedua, lagi nyari sensasi. Caper (Mbok ya kalau caper itu dengan prestasi, bukan sensasi).
Begini. Ada seorang sahabat yang bersedekah 99%. Abubakar namanya. Ada seorang salaf yang menggendong ibunya berhaji. Uwais Al-Qarni namanya. Ada seorang nabi yang berkurban ribuan hewan. Ibrahim namanya.
Kita sebagai muslim kalau belum sanggup atau tidak sanggup seperti itu, yah nggak apa-apa. Tapi jangan sampai kita mengolok-olok kisah tersebut atau menyangkalnya. Demikian pula dengan kehidupan poligami. Buat apa Anda mengolok atau menyangkalnya?
Sekali lagi. Sebagian besar keluarga di Indonesia memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Tidak perlu kita mempermasalahkan satu sama lain, apalagi mengolok atau menyangkalnya. Saran saya, urus saja rumahtangga kita masing-masing.
Kalau bersikeras mau mempermasalahkan, yah permasalahkan mereka yang hidup serumah tanpa menikah (kumpul kebo), juga gay dan lesbian. Karena ini jelas-jelas bertentangan dengan Sila Pertama dan Sila Kedua dalam Pancasila, juga bertentangan dengan ajaran semua agama di Indonesia. Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sebagian besar keluarga memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Masing-masing ada konsekuensi dan tanggung-jawab tersendiri.
Presiden Soekarno, poligami (beristri lebih dari dua). Wapres Hamzah Haz, poligami. Pendiri Muhammadiyah, poligami. Pendiri NU, poligami. Sampai sekarang, tidak ada yang berani mengolok-olok poligaminya mereka. Hm, ada yang berani?
Nah, bagaimana dengan nabi-nabi? Ada juga yang berpoligami, seperti Nabi Ibrahim (Abraham) dan Nabi Musa. Kita sama-sama tahu, Nabi Ibrahim adalah buyutnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Demikian pula Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, sangat banyak istrinya.
Sebelum Nabi Muhammad diutus jadi nabi, seorang pria bisa menikahi beberapa wanita sekaligus dengan jumlah tanpa batas. Dan ini terjadi di seluruh dunia, bukan di Tanah Arab saja.
Bahkan dua wanita bersaudara pun boleh dinikahi pada waktu bersamaan. Justru melalui risalah Islam, Nabi Muhammad mengajarkan pembatasan poligami dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Tulisan ini boleh di-share.
Lha, apa jadinya kalau tidak dibatasi? Yah, seorang pria bisa menikahi para wanita sesukanya. OC Kaligis istrinya 10. Eyang Subur istrinya 8. Iwan Tjahyadikarta (Eng Thiong) dari 9 Naga, istrinya 5. Itu sih yang ketahuan, karena mereka sangat populer. Tentu lebih banyak tokoh yang tidak ketahuan.
Seorang muslim sekiranya anti dengan poligami atau menolak syariat poligami, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, belum tahu sejarah Islam dan sejarah Indonesia. Kedua, lagi nyari sensasi. Caper (Mbok ya kalau caper itu dengan prestasi, bukan sensasi).
Begini. Ada seorang sahabat yang bersedekah 99%. Abubakar namanya. Ada seorang salaf yang menggendong ibunya berhaji. Uwais Al-Qarni namanya. Ada seorang nabi yang berkurban ribuan hewan. Ibrahim namanya.
Kita sebagai muslim kalau belum sanggup atau tidak sanggup seperti itu, yah nggak apa-apa. Tapi jangan sampai kita mengolok-olok kisah tersebut atau menyangkalnya. Demikian pula dengan kehidupan poligami. Buat apa Anda mengolok atau menyangkalnya?
Sekali lagi. Sebagian besar keluarga di Indonesia memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Tidak perlu kita mempermasalahkan satu sama lain, apalagi mengolok atau menyangkalnya. Saran saya, urus saja rumahtangga kita masing-masing.
Kalau bersikeras mau mempermasalahkan, yah permasalahkan mereka yang hidup serumah tanpa menikah (kumpul kebo), juga gay dan lesbian. Karena ini jelas-jelas bertentangan dengan Sila Pertama dan Sila Kedua dalam Pancasila, juga bertentangan dengan ajaran semua agama di Indonesia. Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Nabi Muhammad itu kaya. Ya, kaya. Bayangkan, 25 tahun beliau berbisnis. Jangankan Nabi, orang biasa saja kalau berbisnis selama 25 tahun, disertai kejujuran, kegigihan, dan bimbingan, insya Allah kemudian pasti kaya. Itu orang biasa, apalagi Nabi!
Pernahkah beliau miskin? Pernah juga. Kapan?
- Ketika kecil saat jadi penggembala.
- Ketika istrinya dan pamannya meninggal lalu beliau diboikot.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu kaya, beliau tetap sederhana. Rumahnya kecil. Alas tidurnya kasar. Makanan, sering beliau bagi-bagikan ke orang lain dan beliau sendiri memilih untuk puasa. Dan jangan ditanya sedekahnya, selalu besar-besaran. Sulit disaingi oleh para sahabat.
Simak lanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/BrgdAqAlKgT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=147915f1r319g
Pernahkah beliau miskin? Pernah juga. Kapan?
- Ketika kecil saat jadi penggembala.
- Ketika istrinya dan pamannya meninggal lalu beliau diboikot.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu kaya, beliau tetap sederhana. Rumahnya kecil. Alas tidurnya kasar. Makanan, sering beliau bagi-bagikan ke orang lain dan beliau sendiri memilih untuk puasa. Dan jangan ditanya sedekahnya, selalu besar-besaran. Sulit disaingi oleh para sahabat.
Simak lanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/BrgdAqAlKgT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=147915f1r319g
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
"Tidak ada yang bisa mengalahkan sedekahnya nabi," ungkap Ibnu Abbas. Beliau kaya tapi sangat sederhana dan sangat dermawan. Semoga kita-kita di sini juga bisa seperti itu, kaya tapi sangat sederhana dan sangat dermawan. Aamiin.
Berapa maskawin Anda?
500 dirham, inilah maskawin Nabi Muhammad kepada Aisyah, menurut hadis riwayat Muslim. Satu dinar emas kurang-lebih setara dengan 10 dirham perak. Kalau dikonversi, 500 dirham itu minimal Rp 40 juta.
Yup, ini soal mahar. Mesti sungguh-sungguh.
Bagaimana dengan Ali? Baju besi buatan Huthomiyyah, inilah maskawin Ali kepada Fathimah, menurut hadis riwayat Abu Dawud. Bagi Ali, baju perang adalah sesuatu yang sangat berharga dan itulah yang kemudian ia berikan.
Benar, wanita sebaiknya menetapkan mahar yang ringan.
Tapi pria sebaiknya memberikan mahar yang terbaik.
Begitulah, seorang pria mesti berusaha kuat fisiknya dan kuat finansialnya, selain kuat imannya dan ilmunya. Dengan kata lain, kuat dalam segala hal selagi itu manfaat dan kebaikan.
"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing itu terdapat kebaikan. Bersemangatlah pada hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah," ini pesan Nabi Muhammad.
So, be strong!
Suatu ketika Ustadz Adi Hidayat berpesan, "Lebih baik kaya masuk surga daripada miskin nggak jelas."
Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BrlVrphlXSw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=b9mluwl8fyt1
500 dirham, inilah maskawin Nabi Muhammad kepada Aisyah, menurut hadis riwayat Muslim. Satu dinar emas kurang-lebih setara dengan 10 dirham perak. Kalau dikonversi, 500 dirham itu minimal Rp 40 juta.
Yup, ini soal mahar. Mesti sungguh-sungguh.
Bagaimana dengan Ali? Baju besi buatan Huthomiyyah, inilah maskawin Ali kepada Fathimah, menurut hadis riwayat Abu Dawud. Bagi Ali, baju perang adalah sesuatu yang sangat berharga dan itulah yang kemudian ia berikan.
Benar, wanita sebaiknya menetapkan mahar yang ringan.
Tapi pria sebaiknya memberikan mahar yang terbaik.
Begitulah, seorang pria mesti berusaha kuat fisiknya dan kuat finansialnya, selain kuat imannya dan ilmunya. Dengan kata lain, kuat dalam segala hal selagi itu manfaat dan kebaikan.
"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing itu terdapat kebaikan. Bersemangatlah pada hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah," ini pesan Nabi Muhammad.
So, be strong!
Suatu ketika Ustadz Adi Hidayat berpesan, "Lebih baik kaya masuk surga daripada miskin nggak jelas."
Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BrlVrphlXSw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=b9mluwl8fyt1
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Benarkah #AbdurrahmanBinAuf sulit masuk surga karena hartanya? Ini asumsi yang keliru... Semoga Allah menjadikan kita semua hartawan yang dermawan. Aamiin...
Nangis. Ya, nangis. Itulah respons ribuan orang ketika cuplikan lagu ini saya posting kemarin. Padahal itu baru cuplikannya saja. Nah, ini versi lengkapnya. Simak deh ยป https://www.youtube.com/watch?v=bevaxXHbMiw
YouTube
Fadly Padi - Teddy Snada - Dwiki Dharmawan - Ippho Santosa - KASIH IBU - Lagu Motivasi - Inspirasi
#HariIbu bukan diperingati satu hari saja, melainkan setiap hari setiap saat. Kalaupun ada hari khusus, itu semata-mata untuk mengingatkan kita semua. Mungkin sebagian kita lupa... #KasihIbu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Lagu nan indah ini digubahโฆ
Indonesia itu beragam.
Indonesia itu damai.
Keragaman dan perbedaan iman tidak menghalangi kita untuk saling menghormati dan menyayangi dalam arti yang sesungguhnya, bukan basa-basi belaka.
Dan ini sudah terjadi sejak lama. Lantas, bagaimana dengan ucapan natal? Harus kita akui, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Tapi saya yakin, seorang Kristiani sejati, meski tak diberi UcapanNatal, tak akan berkurang kadar bahagianya dan ia memaklumi pendapat saudaranya yang berbeda iman.
Sebaliknya, seorang Muslim sejati, meski tak memberikan ucapan natal, tak akan berkurang rasa sayangnya terhadap saudaranya yang berbeda iman.
Semoga di penghujung tahun yang damai ini, Yang Maha Kudus mencurahkan rahmat dan berkat-Nya untuk kita juga keluarga kita. Aamiin. Damai Indonesia-ku.
Indonesia itu damai.
Keragaman dan perbedaan iman tidak menghalangi kita untuk saling menghormati dan menyayangi dalam arti yang sesungguhnya, bukan basa-basi belaka.
Dan ini sudah terjadi sejak lama. Lantas, bagaimana dengan ucapan natal? Harus kita akui, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Tapi saya yakin, seorang Kristiani sejati, meski tak diberi UcapanNatal, tak akan berkurang kadar bahagianya dan ia memaklumi pendapat saudaranya yang berbeda iman.
Sebaliknya, seorang Muslim sejati, meski tak memberikan ucapan natal, tak akan berkurang rasa sayangnya terhadap saudaranya yang berbeda iman.
Semoga di penghujung tahun yang damai ini, Yang Maha Kudus mencurahkan rahmat dan berkat-Nya untuk kita juga keluarga kita. Aamiin. Damai Indonesia-ku.
17 Pertanyaan Penting Seputar Bisnis
3.4 MB
17 Pertanyaan Penting Seputar Bisnis
Sangat indah dan tak terlupakan. Itulah kesan saya terhadap seminar 'Langitkan Bisnismu' pada 30 Desember 2018 yang lalu di Ayana Midplaza. Turut hadir pula mitra-mitra saya. Alhamdulillah.
Di sana saya bicara soal target. Nah, saat saya bersikap 'rada keras' soal target kepada mitra-mitra saya, seringkali istri saya menegur saya. Mengingatkan.
Kata istri saya, "Kasihan mereka, Mas. Setiap bulan dikejar-kejar target terus. Gimana kalau bulan ini off dulu? Yang biasa-biasa aja."
Saya menjawabnya dengan pertanyaan, "Kalau target ini tercapai, kira-kira siapa yang diuntungkan? Kita (saya dan istri) atau mereka (mitra-mitra)?"
"Semua diuntungkan."
"Ya, betul. Tapi coba pikir baik-baik, siapa yang lebih diuntungkan? Kita atau mereka?"
"Hm. Mereka sih."
Akhirnya istri saya paham dengan sendirinya apa maksud dan tujuan saya. Ternyata penetapan target itu memang buat mereka. Ya, buat mereka. Mitra-mitra saya.
Kemudian saya sambung, "Kita sudah jadi pengusaha, alhamdulillah. Bahkan kata orang, kita ini pengusaha sukses. Lha, mereka? Jadi pengusaha, belum. Apalagi jadi pengusaha sukses. Padahal mereka mau bermitra dengan kita karena memang pengen dibimbing jadi pengusaha sukses."
Saya lanjutkan lagi, "Yang penting, dalam penetapan target itu bener-bener masuk akal dan bener-bener minim risiko." Nggak ngawang-ngawang. Nggak asal-asalan. Insya Allah mereka pasti bisa.
Istri saya pun mengangguk. Sepakat.
Pada akhirnya, mari kita sambut tahun 2019 ini dengan antusiasme dan optimisme terhadap pencapaian target. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di sana saya bicara soal target. Nah, saat saya bersikap 'rada keras' soal target kepada mitra-mitra saya, seringkali istri saya menegur saya. Mengingatkan.
Kata istri saya, "Kasihan mereka, Mas. Setiap bulan dikejar-kejar target terus. Gimana kalau bulan ini off dulu? Yang biasa-biasa aja."
Saya menjawabnya dengan pertanyaan, "Kalau target ini tercapai, kira-kira siapa yang diuntungkan? Kita (saya dan istri) atau mereka (mitra-mitra)?"
"Semua diuntungkan."
"Ya, betul. Tapi coba pikir baik-baik, siapa yang lebih diuntungkan? Kita atau mereka?"
"Hm. Mereka sih."
Akhirnya istri saya paham dengan sendirinya apa maksud dan tujuan saya. Ternyata penetapan target itu memang buat mereka. Ya, buat mereka. Mitra-mitra saya.
Kemudian saya sambung, "Kita sudah jadi pengusaha, alhamdulillah. Bahkan kata orang, kita ini pengusaha sukses. Lha, mereka? Jadi pengusaha, belum. Apalagi jadi pengusaha sukses. Padahal mereka mau bermitra dengan kita karena memang pengen dibimbing jadi pengusaha sukses."
Saya lanjutkan lagi, "Yang penting, dalam penetapan target itu bener-bener masuk akal dan bener-bener minim risiko." Nggak ngawang-ngawang. Nggak asal-asalan. Insya Allah mereka pasti bisa.
Istri saya pun mengangguk. Sepakat.
Pada akhirnya, mari kita sambut tahun 2019 ini dengan antusiasme dan optimisme terhadap pencapaian target. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.