Saya dua kali bertemu Robert Kiyosaki bersama istrinya, Kim Kiyosaki. Mereka berdua terkenal sebagai guru kekayaan. Mungkin teman-teman sudah baca buku-buku mereka.
Menurut Robert Kiyosaki, perbedaan mendasar antara orang super kaya dengan orang-orang yang berkantong rata-rata adalah pada cara pikir atau mindset mereka.
Mindset-lah yang akhirnya memberikan perbedaan, mengapa sebagian orang mampu membangun kekayaan tanpa batas dan mengapa sebagian yang lain tidak mampu.
Mindset akan mempengaruhi orang dalam memutuskan sebuah tindakan dan menghadapi konsekuensinya. Mindset juga berpengaruh pada gaya kerja seseorang, apakah sekadar kerja keras atau kerja cerdas.
Serunya, Business Insider menyampaikan sejumlah pantangan bagi orang kaya (orang bermental kaya). Nah, berikut ini adalah kalimat-kalimat yang tidak boleh disebut alias pantangan:
1. “Saya tidak mampu membelinya.” Harusnya tetap positif. Insya Allah suatu hari nanti mampu membelinya. Ini soal waktu dan kapasitas saja.
2. “Saya bekerja untuk mencari uang.” Harusnya? Saya bekerja untuk belajar. Kemudian, dengan bisnis, uanglah yang bekerja untuk saya.
3. “Belajar yang rajin agar bisa diterima bekerja di perusahaan terbaik.” Harusnya? Kalaupun saya bekerja, saya bekerja di tempat yang ada mentor bisnisnya.
4. “Bila berkaitan dengan uang, main aman saja, jangan ambil risiko.” Harusnya? Orang bermental kaya siap dengan risiko asalkan jelas ganjarannya dan terukur risikonya.
5. “Rumahku adalah asetku.” Ini keliru. Rumah hanya disebut aset kalau memang menghasilkan uang. Bukan menguras uang.
6. "Saya tidak akan pernah jadi orang kaya." Padahal? Yah bisa saja. Tergantung ikhtiar, amal, dan doa. Insya Allah.
7. "Saya tidak tertarik pada uang." Lagi-lagi ini salah kaprah. Orang kaya tidak pernah meremehkan uang. Tidak pernah pula mengejek uang.
8. "Orang lain perlu dijatuhkan agar saya sukses." Ini mindset yang salah. Dengki. Harusnya dia percaya bahwa Tuhan Maha Kaya, bisa mengayakan siapapun, pada waktu bersamaan.
Praktek ya. Dalam artian, hindari 8 pantangan ini. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menurut Robert Kiyosaki, perbedaan mendasar antara orang super kaya dengan orang-orang yang berkantong rata-rata adalah pada cara pikir atau mindset mereka.
Mindset-lah yang akhirnya memberikan perbedaan, mengapa sebagian orang mampu membangun kekayaan tanpa batas dan mengapa sebagian yang lain tidak mampu.
Mindset akan mempengaruhi orang dalam memutuskan sebuah tindakan dan menghadapi konsekuensinya. Mindset juga berpengaruh pada gaya kerja seseorang, apakah sekadar kerja keras atau kerja cerdas.
Serunya, Business Insider menyampaikan sejumlah pantangan bagi orang kaya (orang bermental kaya). Nah, berikut ini adalah kalimat-kalimat yang tidak boleh disebut alias pantangan:
1. “Saya tidak mampu membelinya.” Harusnya tetap positif. Insya Allah suatu hari nanti mampu membelinya. Ini soal waktu dan kapasitas saja.
2. “Saya bekerja untuk mencari uang.” Harusnya? Saya bekerja untuk belajar. Kemudian, dengan bisnis, uanglah yang bekerja untuk saya.
3. “Belajar yang rajin agar bisa diterima bekerja di perusahaan terbaik.” Harusnya? Kalaupun saya bekerja, saya bekerja di tempat yang ada mentor bisnisnya.
4. “Bila berkaitan dengan uang, main aman saja, jangan ambil risiko.” Harusnya? Orang bermental kaya siap dengan risiko asalkan jelas ganjarannya dan terukur risikonya.
5. “Rumahku adalah asetku.” Ini keliru. Rumah hanya disebut aset kalau memang menghasilkan uang. Bukan menguras uang.
6. "Saya tidak akan pernah jadi orang kaya." Padahal? Yah bisa saja. Tergantung ikhtiar, amal, dan doa. Insya Allah.
7. "Saya tidak tertarik pada uang." Lagi-lagi ini salah kaprah. Orang kaya tidak pernah meremehkan uang. Tidak pernah pula mengejek uang.
8. "Orang lain perlu dijatuhkan agar saya sukses." Ini mindset yang salah. Dengki. Harusnya dia percaya bahwa Tuhan Maha Kaya, bisa mengayakan siapapun, pada waktu bersamaan.
Praktek ya. Dalam artian, hindari 8 pantangan ini. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Orang Kaya Yang Bagaimana?
Kemarin saya berjumpa dengan Mufti Menk, difasilitasi oleh SKPI dan sahabat saya, Mario Irwinsyah. Menariknya, ketika berceramah, Mufti Menk mendoakan agar jamaah menjadi miliarder. Ya, menjadi miliarder.
Kita sama-sama tahu, tak semua ulama menganjurkan jamaah untuk kaya. Selain faktor hisab, kekayaan juga mengundang ujian-ujian tersendiri yang jelas-jelas tidak ringan.
Kompas pada 13 September 2018 melaporkan soal negara-negara kaya. Ironisnya, negara-negara yang dinyatakan kaya oleh badan-badan dunia, ternyata memiliki insiden bunuh diri yang tinggi. Benar-benar ironis.
Perlu contoh? Sebut saja Finlandia, Korea Selatan, Belgia, Perancis, Austria, dan Swiss. Sedangkan Indonesia adalah negara dengan peringkat bunuh diri nomor 165 dari 177 negara. Dengan kata lain, peringkat Indonesia relatif lebih baik.
Lantas, kaya yang bagaimana yang dianjurkan? Begini. Silakan saja kaya harta. Silakan saja kaya ilmu. Silakan saja kaya relasi. Tapi yang paling utama adalah kaya hati dan kaya iman. Ya, itulah yang utama.
Tanpa iman, kekayaan bisa menjadi mesin kapitalis yang mematikan. Tanpa iman, ilmu bisa menjadi alat rekayasa yang menjerumuskan. Tanpa iman, relasi bisa menjadi kelompok manipulatif yang menghancurkan.
Hendaknya kaya hati dan kaya iman dijadikan lokomotif. Diletakkan di depan. Terus, kaya harta, kaya ilmu, dan kaya relasi, menjadi gerbong-gerbong yang mengikuti di belakangnya. Proporsional, tidak berlebihan.
Dengan begini, insya Allah kita semua akan selamat. Anda sepakat?
Kemarin saya berjumpa dengan Mufti Menk, difasilitasi oleh SKPI dan sahabat saya, Mario Irwinsyah. Menariknya, ketika berceramah, Mufti Menk mendoakan agar jamaah menjadi miliarder. Ya, menjadi miliarder.
Kita sama-sama tahu, tak semua ulama menganjurkan jamaah untuk kaya. Selain faktor hisab, kekayaan juga mengundang ujian-ujian tersendiri yang jelas-jelas tidak ringan.
Kompas pada 13 September 2018 melaporkan soal negara-negara kaya. Ironisnya, negara-negara yang dinyatakan kaya oleh badan-badan dunia, ternyata memiliki insiden bunuh diri yang tinggi. Benar-benar ironis.
Perlu contoh? Sebut saja Finlandia, Korea Selatan, Belgia, Perancis, Austria, dan Swiss. Sedangkan Indonesia adalah negara dengan peringkat bunuh diri nomor 165 dari 177 negara. Dengan kata lain, peringkat Indonesia relatif lebih baik.
Lantas, kaya yang bagaimana yang dianjurkan? Begini. Silakan saja kaya harta. Silakan saja kaya ilmu. Silakan saja kaya relasi. Tapi yang paling utama adalah kaya hati dan kaya iman. Ya, itulah yang utama.
Tanpa iman, kekayaan bisa menjadi mesin kapitalis yang mematikan. Tanpa iman, ilmu bisa menjadi alat rekayasa yang menjerumuskan. Tanpa iman, relasi bisa menjadi kelompok manipulatif yang menghancurkan.
Hendaknya kaya hati dan kaya iman dijadikan lokomotif. Diletakkan di depan. Terus, kaya harta, kaya ilmu, dan kaya relasi, menjadi gerbong-gerbong yang mengikuti di belakangnya. Proporsional, tidak berlebihan.
Dengan begini, insya Allah kita semua akan selamat. Anda sepakat?
Mohon doa buat ibu saya. Boleh ya?
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2291543514221171&id=144175158958028
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2291543514221171&id=144175158958028
Facebook
Ippho Santosa & Tim Khalifah
Mohon doa. Ibu saya lagi diterapi dan 'rawat jalan'. Sudah 4 hari. Di Bandung... Mohon doa dari teman-teman ya, semoga ibu saya segera diberi kesembuhan, aamiin. Diberi kesabaran dan kekuatan,...
Prestasi akan lebih terdengar ketimbang kata-kata. Sadarkah kita, prestasi itu aksi nyata?
Bahkan:
Prestasi adalah dakwah.
Prestasi adalah syiar.
Lihatlah Khabib Nurmagomedov dan Mohamed Salah. Hampir semua orang membahasnya dan mengikutinya.
Bayangkan. Kalau omset kita Rp 1 M sebulan, kalau kita juara di Asian Games, kita bicara apa saja, orang-orang akan dengar.
Saat kita bicara soal dhuha dan tahajjud, orang-orang akan nurut.
Saat kita bicara soal berbagi dan sedekah, orang-orang akan tergugah.
Saat kita bicara soal hormat dan berbakti, orang-orang akan mengikuti.
Bayangkan. Orang sekelas Sandiaga Uno dan Erick Thohir bicara soal berbakti. Tentulah orang-orang akan mengikuti. Tidak ada yang memungkiri. Itu pasti.
Begitulah.
Prestasi adalah dakwah.
Prestasi adalah syiar.
Maka:
- berprestasilah
- sukseslah
- kayalah
Menang kompetisi, bagus. Menang pilkada, bagus. Jadi, direktur, bagus. Jadi miliarder, bagus. Jadi triliuner, bagus.
Mulai dari diri kita. Sebisanya. Siap?
Bahkan:
Prestasi adalah dakwah.
Prestasi adalah syiar.
Lihatlah Khabib Nurmagomedov dan Mohamed Salah. Hampir semua orang membahasnya dan mengikutinya.
Bayangkan. Kalau omset kita Rp 1 M sebulan, kalau kita juara di Asian Games, kita bicara apa saja, orang-orang akan dengar.
Saat kita bicara soal dhuha dan tahajjud, orang-orang akan nurut.
Saat kita bicara soal berbagi dan sedekah, orang-orang akan tergugah.
Saat kita bicara soal hormat dan berbakti, orang-orang akan mengikuti.
Bayangkan. Orang sekelas Sandiaga Uno dan Erick Thohir bicara soal berbakti. Tentulah orang-orang akan mengikuti. Tidak ada yang memungkiri. Itu pasti.
Begitulah.
Prestasi adalah dakwah.
Prestasi adalah syiar.
Maka:
- berprestasilah
- sukseslah
- kayalah
Menang kompetisi, bagus. Menang pilkada, bagus. Jadi, direktur, bagus. Jadi miliarder, bagus. Jadi triliuner, bagus.
Mulai dari diri kita. Sebisanya. Siap?
Selagi kita masih ada umur, selagi orangtua kita masih ada umur, berbaktilah. Sungguh-sungguh. Jangan sampai nanti kita menyesal... Kalau kita berbakti, insya Allah akan berbalas, berupa kemudahan rezeki dan keberkahan hidup. Bahkan anak-anak pun akan mencontoh, kelak mereka juga akan berbakti... Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat ya buat kita semua. Aamiin... Sekali lagi, mohon doa untuk ibu saya. Juga ibu-ibu kita semua...
https://www.instagram.com/p/BovkTU2A1ly/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=xncpm5q0fq2y
https://www.instagram.com/p/BovkTU2A1ly/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=xncpm5q0fq2y
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Maaf teman-teman, saya minta tolong lagi. Ini hari ke-8 ibu saya diterapi dan 'rawat jalan'. Mohon doa dari teman-teman untuk kesehatan ibu saya. Semoga ibu saya cepat pulih, aamiin... Sempat risau, karena kali ini saya tidak bisa menemani ibu saya selalu.…
Weekend kemarin, saya dan mitra-mitra berada di Sumbar. Alhamdulillah. Tepatnya, berseminar di Payakumbuh, Bukittinggi, dan Padang. Kali ini kita akan membahas soal orang Minang. Sejarahnya dan etos kerjanya.
“Sejarah memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah masa depan. Jika kita selalu membanggakan sejarah, kita bisa kehilangan masa depan,” sindir Wakil Presiden Jusuf Kalla suatu ketika.
Saat itu ia berbicara di peresmian gedung baru milik Universitas Negeri Padang (UNP). Dan tulisan berikut ini diambil dari PadangKita dengan sedikit penyuntingan tanpa mengubah pesan utama.
JK yang paham sejarah mengingatkan bahwa orang Minang sebenarnya sangat digdaya dan berjaya di republik ini. Mulai dari peran besar dalam mendirikan republik, hingga mengisi pos-pos penting seperti diplomat.
Pengalaman JK saat bertugas ke berbagai negara, di mana berjumpa dengan berbagai diplomat. Dia miris, dulu karena kecakapan bicara, orang Minang mendominasi pos-pos diplomat, tapi sekarang tidak lagi.
Ungkap JK, zaman dulu di semua sektor pasti ada orang Minang. Di politik kalau ketua orang Jawa, sekjen pasti orang Minang. Bisnis pun sama, termasuk di perusahaan-perusahaan besar. Ada orang Minang seperti Hasyim Ning, co-founder PT Pembangunan Jaya.
JK menambahkan referensi, orang Minang masih menghegemoni sederet bidang hingga dekade tahun 1950-an dan 1960-an. Termasuk agama. Jika dulu Shalat Jumat di Jakarta, dari 10 khatib, pasti 8-nya orang Minang.
JK yang istrinya berdarah Minang mengingatkan bahwa orang Minang harus paham habitatnya yakni pendidikan, surau, dan pasar.
“Artinya, jika ingin memudarkan orang Minang, yah rusak pendidikan, surau dan pasarnya. Habislah orang Minang. Sebaliknya, jika ingin memajukan orang Minang, maka majukan pendidikan, surau dan pasarnya,” pesan blak-blakan dari JK.
Sedari dulu, kebanggaan Minang berbeda dengan daerah lain. Jika daerah lain, tokoh dan pahlawannya memegang pedang, tombak, atau keris. Semuanya senjata fisik. Tapi tidak begitu di Minang. Semua tokohnya mengandalkan ilmu pengetahuan. Senjatanya yah otak.
“Generasi Minang sekarang tidak ke surau lagi, karena di rumah ada TV, ada kenyamanan," ujar JK. Padahal untuk bersaing dan maju, modalnya hari ini adalah ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan inisiatif.
Dulu, orang Minang yang jumlahnya hanya 6% di Jakarta mampu membuka pusat-pusat perdagangan seperti Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Cipulir, Pasar Jatinegara, dan Pasar Blok M. Mendominasi. Tapi itu dulu.
Dengan kata lain, saat ini orang Minang secara khusus dan orang Indonesia secara umum, perlu introspeksi. Benar-benar introspeksi. Karena sebenarnya pesan dan peringatan ini berlaku untuk kita semua.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
“Sejarah memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah masa depan. Jika kita selalu membanggakan sejarah, kita bisa kehilangan masa depan,” sindir Wakil Presiden Jusuf Kalla suatu ketika.
Saat itu ia berbicara di peresmian gedung baru milik Universitas Negeri Padang (UNP). Dan tulisan berikut ini diambil dari PadangKita dengan sedikit penyuntingan tanpa mengubah pesan utama.
JK yang paham sejarah mengingatkan bahwa orang Minang sebenarnya sangat digdaya dan berjaya di republik ini. Mulai dari peran besar dalam mendirikan republik, hingga mengisi pos-pos penting seperti diplomat.
Pengalaman JK saat bertugas ke berbagai negara, di mana berjumpa dengan berbagai diplomat. Dia miris, dulu karena kecakapan bicara, orang Minang mendominasi pos-pos diplomat, tapi sekarang tidak lagi.
Ungkap JK, zaman dulu di semua sektor pasti ada orang Minang. Di politik kalau ketua orang Jawa, sekjen pasti orang Minang. Bisnis pun sama, termasuk di perusahaan-perusahaan besar. Ada orang Minang seperti Hasyim Ning, co-founder PT Pembangunan Jaya.
JK menambahkan referensi, orang Minang masih menghegemoni sederet bidang hingga dekade tahun 1950-an dan 1960-an. Termasuk agama. Jika dulu Shalat Jumat di Jakarta, dari 10 khatib, pasti 8-nya orang Minang.
JK yang istrinya berdarah Minang mengingatkan bahwa orang Minang harus paham habitatnya yakni pendidikan, surau, dan pasar.
“Artinya, jika ingin memudarkan orang Minang, yah rusak pendidikan, surau dan pasarnya. Habislah orang Minang. Sebaliknya, jika ingin memajukan orang Minang, maka majukan pendidikan, surau dan pasarnya,” pesan blak-blakan dari JK.
Sedari dulu, kebanggaan Minang berbeda dengan daerah lain. Jika daerah lain, tokoh dan pahlawannya memegang pedang, tombak, atau keris. Semuanya senjata fisik. Tapi tidak begitu di Minang. Semua tokohnya mengandalkan ilmu pengetahuan. Senjatanya yah otak.
“Generasi Minang sekarang tidak ke surau lagi, karena di rumah ada TV, ada kenyamanan," ujar JK. Padahal untuk bersaing dan maju, modalnya hari ini adalah ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan inisiatif.
Dulu, orang Minang yang jumlahnya hanya 6% di Jakarta mampu membuka pusat-pusat perdagangan seperti Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Cipulir, Pasar Jatinegara, dan Pasar Blok M. Mendominasi. Tapi itu dulu.
Dengan kata lain, saat ini orang Minang secara khusus dan orang Indonesia secara umum, perlu introspeksi. Benar-benar introspeksi. Karena sebenarnya pesan dan peringatan ini berlaku untuk kita semua.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Setelah seminar di 3 kota di Sumbar, saya segera kembali ke Jakarta. Di Jakarta, telah menanti special dinner mitra-mitra saya dengan Dewi Sandra, dkk. Bukan rahasia lagi, mitra-mitra saya itu sebagian besar ibu-ibu.
Pesan saya, "Jangan engkau remehkan ibu-ibu atau emak-emak. Mungkin dia nggak gaul, mungkin dia nggak ngerti teknologi, mungkin dia nggak pernah kuliah bisnis. Tapi kalau mereka sudah terjun di bisnis, apa-apa yang dipegang jadi laris-manis."
Emak-emak dan mbak-mbak zaman sekarang beda. Ya, beda. Mereka demen jualan. Hehehe. Alhamdulillah, adanya teknologi dan komunitas sangat membantu perputaran bisnis mereka. Sehingga nggak perlu sering-sering keluar rumah, tapi tetap jualan. Betul apa betul? 😊
Bagi saya, jualan bukan sekedar menawarkan barang. Tapi juga menawarkan manfaat dan solusi. Sesuatu yang sangat bermanfaat, jangan didiamkan saja. Baiknya sampaikan ke orang lain. Kalau ngasih, namanya sedekah. Kalau jual, namanya muamalah. Dua-duanya berkah. Yang setuju, bantu share ya.
Selesai dinner, saya langsung cuss ke Bandung. Menjenguk ibu saya. Terus, balik lagi ke Jakarta. Siap-siap ke London.
Untuk belajar ilmu bisnis, teman-teman bisa belajar dari Mr Joss, Dedy Duit, Diaz Adriani, Wendi Abdillah, dan Subarkah. Bukan sekadar pengusaha, mereka juga berhasil mencetak ratusan pengusaha.
Demikianlah kesibukan saya weekend kemarin. Dan saya berharap Anda ikut merasakan kegembiraan saya melalui tulisan ini. Pada akhirnya, apapun kesibukan teman-teman semua, saya turut mendoakan, "Semoga berkah berlimpah."
Pesan saya, "Jangan engkau remehkan ibu-ibu atau emak-emak. Mungkin dia nggak gaul, mungkin dia nggak ngerti teknologi, mungkin dia nggak pernah kuliah bisnis. Tapi kalau mereka sudah terjun di bisnis, apa-apa yang dipegang jadi laris-manis."
Emak-emak dan mbak-mbak zaman sekarang beda. Ya, beda. Mereka demen jualan. Hehehe. Alhamdulillah, adanya teknologi dan komunitas sangat membantu perputaran bisnis mereka. Sehingga nggak perlu sering-sering keluar rumah, tapi tetap jualan. Betul apa betul? 😊
Bagi saya, jualan bukan sekedar menawarkan barang. Tapi juga menawarkan manfaat dan solusi. Sesuatu yang sangat bermanfaat, jangan didiamkan saja. Baiknya sampaikan ke orang lain. Kalau ngasih, namanya sedekah. Kalau jual, namanya muamalah. Dua-duanya berkah. Yang setuju, bantu share ya.
Selesai dinner, saya langsung cuss ke Bandung. Menjenguk ibu saya. Terus, balik lagi ke Jakarta. Siap-siap ke London.
Untuk belajar ilmu bisnis, teman-teman bisa belajar dari Mr Joss, Dedy Duit, Diaz Adriani, Wendi Abdillah, dan Subarkah. Bukan sekadar pengusaha, mereka juga berhasil mencetak ratusan pengusaha.
Demikianlah kesibukan saya weekend kemarin. Dan saya berharap Anda ikut merasakan kegembiraan saya melalui tulisan ini. Pada akhirnya, apapun kesibukan teman-teman semua, saya turut mendoakan, "Semoga berkah berlimpah."
Bisnis yang sarat manfaatnya dan positif ekosistemnya, layak diperjuangkan. Walaupun bisnis itu sesekali rugi, pertahankan. Ya, pertahankan. Apalagi kalau ternyata bisnis tersebut untung dan potensinya besar. Harus benar-benar diperjuangkan.
Saran saya, jangan sekedar berbisnis. Soal halal, itu sih sudah standar. Sebagai tambahan, cari bisnis yang ekosistemnya positif. Di mana lingkungan dalam bisnis itu membuat kita tambah dekat sama keluarga, tambah dekat sama agama, dan tambah peka terhadap sesama.
Indah tho? Insya Allah.
Bisnis yang hanya bicara soal rupiah adalah bisnis yang murah, bahkan murahan. Kita orang beriman harus berpikir lebih daripada itu. Ada keberkahan. Ada ekosistem yang positif. Ada manfaat yang luas. Kalau sudah begini, insya Allah bisnisnya akan 'menjaga' kita. Selamat dunia akhirat.
Tulisan ini saya ketik di London. Saya sempat merenung, "Hidup adalah pilihan." Maka, pilih bisnis yang bisa 'menjaga kita'. Kalau belum dapat, yah cari. Proaktif. Jangan diam begitu saja. Siap? Semoga berkah berlimpah. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan.
Saran saya, jangan sekedar berbisnis. Soal halal, itu sih sudah standar. Sebagai tambahan, cari bisnis yang ekosistemnya positif. Di mana lingkungan dalam bisnis itu membuat kita tambah dekat sama keluarga, tambah dekat sama agama, dan tambah peka terhadap sesama.
Indah tho? Insya Allah.
Bisnis yang hanya bicara soal rupiah adalah bisnis yang murah, bahkan murahan. Kita orang beriman harus berpikir lebih daripada itu. Ada keberkahan. Ada ekosistem yang positif. Ada manfaat yang luas. Kalau sudah begini, insya Allah bisnisnya akan 'menjaga' kita. Selamat dunia akhirat.
Tulisan ini saya ketik di London. Saya sempat merenung, "Hidup adalah pilihan." Maka, pilih bisnis yang bisa 'menjaga kita'. Kalau belum dapat, yah cari. Proaktif. Jangan diam begitu saja. Siap? Semoga berkah berlimpah. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan.
Rezeki tidak melulu soal uang.
Hampir 100% perjalanan saya, alhamdulillah, dibiayai oleh pihak lain. Mulai Bukittinggi sampai Inggris. Kesempatan jalan-jalan seperti ini, menurut saya adalah bentuk lain dari rezeki.
Pernah juga saya bertemu bahkan dinner dengan tokoh-tokoh nasional dan internasional. Ini juga rezeki. Gimana dengan kesehatan? Persahabatan? Keluarga? Nama baik? Itu pun rezeki.
Saya kenal dengan pengusaha-pengusaha yang jauh lebih sukses daripada saya. Tapi, sebagian besar mereka tidak sempat untuk jalan-jalan. Termasuk bertemu dengan tokoh-tokoh. Tidak sempat.
Karena itulah saya mengajak kita semua untuk selalu bersyukur. Ya, selalu bersyukur. Dan berhentilah mengeluh. Karena rezeki bukan melulu soal uang. Sungguh, dimensi rezeki itu amatlah luas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Salam dari London.
https://www.instagram.com/p/BpOEITHguIs/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=71tmifbv4khf
Hampir 100% perjalanan saya, alhamdulillah, dibiayai oleh pihak lain. Mulai Bukittinggi sampai Inggris. Kesempatan jalan-jalan seperti ini, menurut saya adalah bentuk lain dari rezeki.
Pernah juga saya bertemu bahkan dinner dengan tokoh-tokoh nasional dan internasional. Ini juga rezeki. Gimana dengan kesehatan? Persahabatan? Keluarga? Nama baik? Itu pun rezeki.
Saya kenal dengan pengusaha-pengusaha yang jauh lebih sukses daripada saya. Tapi, sebagian besar mereka tidak sempat untuk jalan-jalan. Termasuk bertemu dengan tokoh-tokoh. Tidak sempat.
Karena itulah saya mengajak kita semua untuk selalu bersyukur. Ya, selalu bersyukur. Dan berhentilah mengeluh. Karena rezeki bukan melulu soal uang. Sungguh, dimensi rezeki itu amatlah luas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Salam dari London.
https://www.instagram.com/p/BpOEITHguIs/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=71tmifbv4khf
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Jangan salah. Jogging adalah #olahraga yang mahal, bisa habis jutaan rupiah. Lho kok bisa? Ya, bisa. Misal, tinggalnya di Jakarta, terus hanya mau jogging kalau di Kensington Gardens. Kan lumayan tiket pesawatnya, hehehe... Ada banyak cabang olahraga. Pilih…
Hari itu, saya dan istri berkunjung ke Kota Bath, sekitar 2 jam dari London. Kota ini terkenal dengan pemandian kuno yang sudah eksis sejak Zaman Romawi. Ya, umurnya sudah ribuan tahun. Menakjubkan.
Di samping itu, saya melihat berbagai bisnis di Inggris yang umurnya sudah ratusan tahun. Di antaranya:
Restoran Sally Lunn yang berdiri sejak tahun 1600-an.
WHSmith Company yang berdiri sejak tahun 1828.
Burberry yang berdiri sejak tahun 1856.
British Petroleum sejak tahun 1909.
Masing-masing sudah ratusan tahun umurnya. Hebat ya. Sangat.
Ada pula Halal Restaurant di London Timur yang umurnya lebih dari 70 tahun. Menunya enak-enak.
Jujur saja, saya takjub. Di saat kita masih berjuang melawan penjajahan, pada waktu yang sama, mereka sudah mengembangkan berbagai macam bisnis, mulai dari fashion sampai kuliner. Dan sebagian masih bertahan sampai sekarang.
Mereka memiliki visi dan memperjuangkan visinya. Mereka pun mempersiapkan top management untuk generasi berikutnya. Selain itu, mereka welcome terhadap perubahan. Tidak anti. Itulah yang membuat mereka bertahan.
Lantas, gimana dengan bisnis kita?
Saran saya, "Kalaupun sekarang bisnis kita masih kecil, nggak masalah. Niatkan dan ikhtiarkan untuk besar juga bertahan lama. Siap?" Melalui visi. Melalui kaderisasi. Melalui manajemen perubahan.
Teman-teman siap? https://www.instagram.com/p/BpWd8q_AlJT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1vrhemysw0p7g
Di samping itu, saya melihat berbagai bisnis di Inggris yang umurnya sudah ratusan tahun. Di antaranya:
Restoran Sally Lunn yang berdiri sejak tahun 1600-an.
WHSmith Company yang berdiri sejak tahun 1828.
Burberry yang berdiri sejak tahun 1856.
British Petroleum sejak tahun 1909.
Masing-masing sudah ratusan tahun umurnya. Hebat ya. Sangat.
Ada pula Halal Restaurant di London Timur yang umurnya lebih dari 70 tahun. Menunya enak-enak.
Jujur saja, saya takjub. Di saat kita masih berjuang melawan penjajahan, pada waktu yang sama, mereka sudah mengembangkan berbagai macam bisnis, mulai dari fashion sampai kuliner. Dan sebagian masih bertahan sampai sekarang.
Mereka memiliki visi dan memperjuangkan visinya. Mereka pun mempersiapkan top management untuk generasi berikutnya. Selain itu, mereka welcome terhadap perubahan. Tidak anti. Itulah yang membuat mereka bertahan.
Lantas, gimana dengan bisnis kita?
Saran saya, "Kalaupun sekarang bisnis kita masih kecil, nggak masalah. Niatkan dan ikhtiarkan untuk besar juga bertahan lama. Siap?" Melalui visi. Melalui kaderisasi. Melalui manajemen perubahan.
Teman-teman siap? https://www.instagram.com/p/BpWd8q_AlJT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1vrhemysw0p7g
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Restoran ini berdiri sejak tahun 1600-an. WHSmith Company berdiri sejak tahun 1828. Sudah ratusan tahun umurnya. Kalaupun sekarang bisnis kita masih kecil, nggak masalah. Niatkan dan ikhtiarkan untuk besar juga bertahan lama. Siaaaaap? 😉
Duka masih menyelimuti Kota Palu, Sulteng. Di sana, sembako masih relatif mahal. Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian mereka juga belum bisa bekerja. Memprihatinkan. Maka, saran saya untuk semua, "Mari kita sama-sama bergerak, membantu." Setidaknya, bantu doa dan donasi.
Saat berada di sana, saya sempat mengunjungi beberapa spot yang terdampak gempa, tsunami, dan likuifaksi itu. Bayangkan, ribuan rumah di lahan seluas 180 hektar tersapu lumpur dan tanah bergerak, karena menyapu dengan kecepatan tinggi. Sebagai akibatnya, rumah-rumah dan mobil-mobil itu pun hancur tak berbentuk.
Kita semua kaget. Terperangah. Karena ini belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
Sempat juga saya mengunjungi rumah Mas Eka, mitra TK dan SD Khalifah di Palu. Bukan saja rata dengan tanah, rumahnya juga berputar dan bergeser dari posisi asalnya sejauh 200 meter. Sejumlah kebakaran pun terjadi sesaat setelah gempa dan tsunami melanda. Penjarahan demi penjarahan juga merebak, tak terelakkan.
Lantas, adakah sisi positifnya di balik bencana besar ini? Ada, insya Allah.
However, bencana adalah terapi kesabaran. Itu pesan guru saya. Meski berat, meski lelah, baiknya jangan pernah sekalipun kita berkeluh-kesah. Kalau saja kita mau bersabar dan berbaiksangka, niscaya akan tersingkap hikmah demi hikmah. Insya Allah.
Selain itu, bencana adalah penambah zikir dan muhasabah. Ya, zikir dan muhasabah. Dibanding ketika keadaan normal, orang yang terkena bencana akan lebih sering dan lebih khusyuk dalam menyebut nama Allah. Amal-amal pun ia tambah. Begitulah, ia benar-benar berubah.
Selanjutnya, bencana adalah penambah istighfar dan taubat. Ketika bencana, dosa-dosa akan lebih mudah teringat, ketimbang keadaan normal dan sehat. Sehingga mulut kita lebih ringan untuk memohon ampun dan taubat. Terlebih-lebih Allah memang menjanjikan bencana sebagai penggugur dosa dan peningkat derajat.
Pada akhirnya, mari kita doakan sungguh-sungguh mereka yang terkena bencana. Mereka itu saudara-saudara kita. Mudah-mudahan Allah beri mereka kesabaran, ketabahan, dan kekuatan. Aamiin. Simak videonya >> https://www.instagram.com/p/BpgNcx7Fmgh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18vb00gk7wj7x
Saat berada di sana, saya sempat mengunjungi beberapa spot yang terdampak gempa, tsunami, dan likuifaksi itu. Bayangkan, ribuan rumah di lahan seluas 180 hektar tersapu lumpur dan tanah bergerak, karena menyapu dengan kecepatan tinggi. Sebagai akibatnya, rumah-rumah dan mobil-mobil itu pun hancur tak berbentuk.
Kita semua kaget. Terperangah. Karena ini belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
Sempat juga saya mengunjungi rumah Mas Eka, mitra TK dan SD Khalifah di Palu. Bukan saja rata dengan tanah, rumahnya juga berputar dan bergeser dari posisi asalnya sejauh 200 meter. Sejumlah kebakaran pun terjadi sesaat setelah gempa dan tsunami melanda. Penjarahan demi penjarahan juga merebak, tak terelakkan.
Lantas, adakah sisi positifnya di balik bencana besar ini? Ada, insya Allah.
However, bencana adalah terapi kesabaran. Itu pesan guru saya. Meski berat, meski lelah, baiknya jangan pernah sekalipun kita berkeluh-kesah. Kalau saja kita mau bersabar dan berbaiksangka, niscaya akan tersingkap hikmah demi hikmah. Insya Allah.
Selain itu, bencana adalah penambah zikir dan muhasabah. Ya, zikir dan muhasabah. Dibanding ketika keadaan normal, orang yang terkena bencana akan lebih sering dan lebih khusyuk dalam menyebut nama Allah. Amal-amal pun ia tambah. Begitulah, ia benar-benar berubah.
Selanjutnya, bencana adalah penambah istighfar dan taubat. Ketika bencana, dosa-dosa akan lebih mudah teringat, ketimbang keadaan normal dan sehat. Sehingga mulut kita lebih ringan untuk memohon ampun dan taubat. Terlebih-lebih Allah memang menjanjikan bencana sebagai penggugur dosa dan peningkat derajat.
Pada akhirnya, mari kita doakan sungguh-sungguh mereka yang terkena bencana. Mereka itu saudara-saudara kita. Mudah-mudahan Allah beri mereka kesabaran, ketabahan, dan kekuatan. Aamiin. Simak videonya >> https://www.instagram.com/p/BpgNcx7Fmgh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18vb00gk7wj7x
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Saya masih di Palu, Sulteng. Di sini, sembako masih relatif mahal. Mereka kehilangan tempat tinggal. Bekerja, belum bisa... Mari kita sama-sama bergerak, membantu. Setidaknya, bantu share ya...
Pernah stress? Kemarin alhamdulillah saya berbagi ilmu alias in-house seminar untuk kantor Pak Wapres. Di sana saya sempat membahas soal mood dan stress.
Dilansir dari Lifehack.org, orang sukses jarang mengalami stress di awal pekan meskipun dirinya super sibuk. Kenapa? Orang sukses terlatih mengendalikan dirinya, terutama pikirannya.
Inilah cara-cara orang sukses mengatasi stress di hari kerja.
Orang sukses sebenarnya lebih mempersiapkan diri. Tepatnya mempersiapkan segala kebutuhan sebelum memulai sederet aktivitas dan ini merupakan salah satu kunci pembuka keberhasilan.
Ya, persiapan yang matang dapat mengurangi stress, terutama menyambut pekerjaan-pekerjaan yang belum tuntas. Salah satu contohnya Pak JK, yang terkenal sebagai sosok yang mampu mengurai hal-hal rumit jadi tuntas dan berkualitas.
Doa, sholat, dan meditasi juga diperlukan. Ini salah satu cara ampuh mencegah diri dari berbagai stress saat menyambut pekerjaan di awal pekan. Dengan ini, banyak orang sukses yang merasa dirinya lebih tenang dan lebih ceria.
Terus, apa lagi? Orang sukses mengelilingi dirinya dengan mereka yang optimis. Begini. Pikiran positif bisa menular. Ini seringkali menimbulkan kegembiraan dan mengusir rasa stress.
Kita sama-sama tahu, Pak JK sibuk sekali. Di suatu kesempatan, Pak JK pernah ditanya, "Bapak nggak pernah capek?" Beliau malah balik bertanya, "Apa itu capek?" Masya Allah. Rupanya beliau nggak kenal istilah capek.
Beberapa bulan yang lalu, ketika sarapan bareng, saya sempat nanya-nanya sama Pak JK, apa tips sehat dari beliau. Beliau pun berkenan menjawab. Ternyata adanya rasa ikhlas dan rasa enjoy dalam mengerjakan sesuatu. Bonusnya, kita akan terbebas dari rasa stress.
Silakan dicoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Dilansir dari Lifehack.org, orang sukses jarang mengalami stress di awal pekan meskipun dirinya super sibuk. Kenapa? Orang sukses terlatih mengendalikan dirinya, terutama pikirannya.
Inilah cara-cara orang sukses mengatasi stress di hari kerja.
Orang sukses sebenarnya lebih mempersiapkan diri. Tepatnya mempersiapkan segala kebutuhan sebelum memulai sederet aktivitas dan ini merupakan salah satu kunci pembuka keberhasilan.
Ya, persiapan yang matang dapat mengurangi stress, terutama menyambut pekerjaan-pekerjaan yang belum tuntas. Salah satu contohnya Pak JK, yang terkenal sebagai sosok yang mampu mengurai hal-hal rumit jadi tuntas dan berkualitas.
Doa, sholat, dan meditasi juga diperlukan. Ini salah satu cara ampuh mencegah diri dari berbagai stress saat menyambut pekerjaan di awal pekan. Dengan ini, banyak orang sukses yang merasa dirinya lebih tenang dan lebih ceria.
Terus, apa lagi? Orang sukses mengelilingi dirinya dengan mereka yang optimis. Begini. Pikiran positif bisa menular. Ini seringkali menimbulkan kegembiraan dan mengusir rasa stress.
Kita sama-sama tahu, Pak JK sibuk sekali. Di suatu kesempatan, Pak JK pernah ditanya, "Bapak nggak pernah capek?" Beliau malah balik bertanya, "Apa itu capek?" Masya Allah. Rupanya beliau nggak kenal istilah capek.
Beberapa bulan yang lalu, ketika sarapan bareng, saya sempat nanya-nanya sama Pak JK, apa tips sehat dari beliau. Beliau pun berkenan menjawab. Ternyata adanya rasa ikhlas dan rasa enjoy dalam mengerjakan sesuatu. Bonusnya, kita akan terbebas dari rasa stress.
Silakan dicoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Bagi saya, umrah BUKAN soal mampu atau tidak mampu. Tapi soal mau atau tidak mau. Saya yakin Anda sudah tahu tentang ini. Kalau benar-benar niat (mau) dan dibuktikan dengan memantaskan diri, maka akan dimampukan.
Yang seperti ini sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya. Sampai di Tanah Suci.
Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah.
Mohon maaf, ini asal-asalan namanya! Sekali lagi, asal-asalan!
Jadi, baiknya gimana? Yah pantaskan diri. Percayalah, Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri.
Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.
Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, biar Allah yang membereskan. Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah.
Bukan kata orang. Ini menurut pengalaman saya dan pengelaman alumni seminar saya. Gimana dengan Anda? Yakin? Seberapa yakin? Ayo praktek! Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Yang seperti ini sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya. Sampai di Tanah Suci.
Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah.
Mohon maaf, ini asal-asalan namanya! Sekali lagi, asal-asalan!
Jadi, baiknya gimana? Yah pantaskan diri. Percayalah, Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri.
Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.
Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, biar Allah yang membereskan. Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah.
Bukan kata orang. Ini menurut pengalaman saya dan pengelaman alumni seminar saya. Gimana dengan Anda? Yakin? Seberapa yakin? Ayo praktek! Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Lihatlah perubahan lingkungan bisnis yang terjadi di sekitar kita. Berubahnya begitu cepat, bahkan tidak bisa dikontrol, sampai-sampai menyebabkan hal-hal yang disruptive. Menyentak.
Berderet contohnya. Social media menggeser dominasi media-media konvensional. Percakapan di grup WA menggeser dominasi percakapan-percakapan konvensional. Toko online menjamur. Pembuat konten menjamur.
Ya, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right?
Menariknya, seorang entrepreneur sejati harus tetap memiliki sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan di tengah perubahan ini. Memang tidak mudah, tapi ini sebuah keniscayaan.
Sayangnya, iklim berbisnis di Indonesia, terutama aparat-aparat pemerintahnya, tidak bergerak selaras dengan perubahan ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Semua diminta untuk introspeksi dan berbenah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Cepatlah dalam berpikir, cepatlah dalam bertindak. Maksud saya, "Cepat, bukan buru-buru. Bergegas, bukan tergesa-gesa." Mudah-mudahan dengan begini, bisnis kita mampu bertahan lebih lama.
(Silakan save dan add WA Ippho Santosa, 0813-9520-0092)
Berderet contohnya. Social media menggeser dominasi media-media konvensional. Percakapan di grup WA menggeser dominasi percakapan-percakapan konvensional. Toko online menjamur. Pembuat konten menjamur.
Ya, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right?
Menariknya, seorang entrepreneur sejati harus tetap memiliki sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan di tengah perubahan ini. Memang tidak mudah, tapi ini sebuah keniscayaan.
Sayangnya, iklim berbisnis di Indonesia, terutama aparat-aparat pemerintahnya, tidak bergerak selaras dengan perubahan ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Semua diminta untuk introspeksi dan berbenah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Cepatlah dalam berpikir, cepatlah dalam bertindak. Maksud saya, "Cepat, bukan buru-buru. Bergegas, bukan tergesa-gesa." Mudah-mudahan dengan begini, bisnis kita mampu bertahan lebih lama.
(Silakan save dan add WA Ippho Santosa, 0813-9520-0092)
Kesulitan itu cuma sedikit. Ya, cuma sedikit. Coba perhatikan contoh-contoh berikut.
Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang.
Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya.
Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?
Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.
Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.
Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.
Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.
Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?
Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Bahkan Allah pun berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.
Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang.
Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya.
Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?
Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.
Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.
Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.
Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.
Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?
Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Bahkan Allah pun berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.
Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Ada uang di sekitar kita. Seliweran. Bertebaran. Dan sebenarnya, di mana ada masalah, di mana ada kemalasan, di mana ada harapan, maka di situ ada uang. Perlu contoh?
Orang-orang pada malas makan sayur-mayur. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah suplemen dan multivitamin.
Orang-orang pada malas cuci mobil. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa cuci mobil. Right?
Orang-orang pada malas cuci pakaian. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa laundry. Right?
Orang-orang pada malas masak lauk. Maka hadirlah penjual lauk. Bahkan sampai restoran dan pujasera.
Orang-orang pada malas belanja ke pasar. Apalagi kalau pasar becek. Maka hadirlah penjual sayur keliling.
Orang-orang pada malas bangun rumah sendiri. Maka hadirlah developer, membangun perumahan dengan berbagai tipe.
Orang-orang pada malas potong rambut sendiri atau dipotongkan oleh keluarganya. Maka hadirlah jasa pangkas dan salon.
Orang-orang pada malas desain website. Termasuk maintenance-nya. Maka hadirlah jasa desain website.
Orang-orang pada malas mengatur travelling-nya sendiri. Termasuk urusan tiket dan hotel. Maka hadirlah jasa tour and travel.
Perhatikan baik-baik. Saat muncul masalah, saat muncul kemalasan, maka pada waktu yang sama muncul pula harapan untuk disolusikan. Nah, jika kita mampu menawarkan solusinya, maka uang adalah ganjaran yang pasti untuk kita. Itu nyata.
Pada akhirnya, temukan masalah, temukan kemalasan. Terus, jadilah solusinya. Sesederhana itu. Siap praktek? Harus siap. Semoga berkah berlimpah.
Orang-orang pada malas makan sayur-mayur. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah suplemen dan multivitamin.
Orang-orang pada malas cuci mobil. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa cuci mobil. Right?
Orang-orang pada malas cuci pakaian. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa laundry. Right?
Orang-orang pada malas masak lauk. Maka hadirlah penjual lauk. Bahkan sampai restoran dan pujasera.
Orang-orang pada malas belanja ke pasar. Apalagi kalau pasar becek. Maka hadirlah penjual sayur keliling.
Orang-orang pada malas bangun rumah sendiri. Maka hadirlah developer, membangun perumahan dengan berbagai tipe.
Orang-orang pada malas potong rambut sendiri atau dipotongkan oleh keluarganya. Maka hadirlah jasa pangkas dan salon.
Orang-orang pada malas desain website. Termasuk maintenance-nya. Maka hadirlah jasa desain website.
Orang-orang pada malas mengatur travelling-nya sendiri. Termasuk urusan tiket dan hotel. Maka hadirlah jasa tour and travel.
Perhatikan baik-baik. Saat muncul masalah, saat muncul kemalasan, maka pada waktu yang sama muncul pula harapan untuk disolusikan. Nah, jika kita mampu menawarkan solusinya, maka uang adalah ganjaran yang pasti untuk kita. Itu nyata.
Pada akhirnya, temukan masalah, temukan kemalasan. Terus, jadilah solusinya. Sesederhana itu. Siap praktek? Harus siap. Semoga berkah berlimpah.