Ingin awet muda?
Ingin panjang umur?
Ingin pasangan bahagia?
Nah, simak tulisan ini...
Daniel Conroy-Beam, psikolog dari University of Texas, setelah meneliti, menyimpulkan bahwa kepuasan kita BUKAN bergantung pada seberapa cocok pasangan kita dengan kriteria yang kita inginkan.
Namun, ternyata kepuasan kita bergantung pada seberapa baik pasangan kita. Sekali lagi, seberapa baik pasangan kita dan termasuk di dalamnya sikap yang ramah dan bersahabat. Kurang-lebih begitu.
Dan penelitian yang dihelat terhadap mereka yang berusia panjang, katakanlah 75-100 tahun, ditemukan fakta bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah, bersahabat, dan senang bersosialisasi.
Lebih lanjut, hasil penelitian terhadap para manula berusia 95-100 tahun ditemukan fakta bahwa selain sikap ramah dan bersahabat, kemampuan mengungkapkan perasaan (ekspresif) membantu memanjangkan usia.
Orang-orang seperti itu biasanya senang tertawa dan membagi perasaan dengan orang lain, ketimbang hanya menyimpannya di dalam hati. Berhubung dia ramah dan bersahabat, maka orang lain pun tak keberatan menerimanya.
Ramah dan bersahabat, ternyata inilah kunci untuk menuju:
- awet muda
- panjang umur
- pasangan bahagia
Setidaknya, inilah menurut penelitian. Orang yang ramah dan bersahabat, tentulah senang sosialisasi (silaturahim), punya banyak teman (relasi), dan ujung-ujungnya memudahkan rezeki. Saya yakin Anda setuju dengan saya.
Semoga berkah berlimpah!
Ingin panjang umur?
Ingin pasangan bahagia?
Nah, simak tulisan ini...
Daniel Conroy-Beam, psikolog dari University of Texas, setelah meneliti, menyimpulkan bahwa kepuasan kita BUKAN bergantung pada seberapa cocok pasangan kita dengan kriteria yang kita inginkan.
Namun, ternyata kepuasan kita bergantung pada seberapa baik pasangan kita. Sekali lagi, seberapa baik pasangan kita dan termasuk di dalamnya sikap yang ramah dan bersahabat. Kurang-lebih begitu.
Dan penelitian yang dihelat terhadap mereka yang berusia panjang, katakanlah 75-100 tahun, ditemukan fakta bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah, bersahabat, dan senang bersosialisasi.
Lebih lanjut, hasil penelitian terhadap para manula berusia 95-100 tahun ditemukan fakta bahwa selain sikap ramah dan bersahabat, kemampuan mengungkapkan perasaan (ekspresif) membantu memanjangkan usia.
Orang-orang seperti itu biasanya senang tertawa dan membagi perasaan dengan orang lain, ketimbang hanya menyimpannya di dalam hati. Berhubung dia ramah dan bersahabat, maka orang lain pun tak keberatan menerimanya.
Ramah dan bersahabat, ternyata inilah kunci untuk menuju:
- awet muda
- panjang umur
- pasangan bahagia
Setidaknya, inilah menurut penelitian. Orang yang ramah dan bersahabat, tentulah senang sosialisasi (silaturahim), punya banyak teman (relasi), dan ujung-ujungnya memudahkan rezeki. Saya yakin Anda setuju dengan saya.
Semoga berkah berlimpah!
Alhamdulillah, saya dan Mas Mario diamanahi untuk membuat grup WA bersama Nouman Ali Khan.
Salah satu member bertanya kepada beliau bagaimana cara mengoptimalkan Ramadhan. Dan ini jawaban beliau:
Salah satu member bertanya kepada beliau bagaimana cara mengoptimalkan Ramadhan. Dan ini jawaban beliau:
Berhenti belajar, itu artinya berhenti bertumbuh. Pelan-pelan, rezeki bisa menjauh. Selagi weekend, selagi tanggal merah, manfaatkan untuk menambah ilmu serta menambah relasi, dan jangan pernah jenuh.
Ketika pemain bola refleks bersyukur dan bersujud, foto dan videonya jadi viral di mana-mana. Ini bagus, menurut saya. Jadi contoh. Namun ternyata masih ada saja yang nyinyir dan nyindir-nyindir.
Merasa ilmu agamanya paling dalam, langsung saja mereka nyeletuk, "Sujud syukur yang dicontohkan Rasul itu ada tata caranya. Menutup aurat, menghadap kiblat, ada wudhu, bebas hadas besar, dan bebas hadas kecil."
Sebenarnya, menurut Ibnu Taimiyah, hal-hal tadi hanyalah disunnahkan saja, bukan syarat mutlak. Sekali lagi, bukan syarat mutlak.
Begini. Berdoa pun ada tata caranya. Namun apabila tata cara berdoa ini tidak terpenuhi 100%, bukan berarti berdoa serba spontan itu salah. Toh masih ada bagusnya. Namanya doa yah pasti bagus.
Lihat saja diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Kadang Muslim refleks berdoa dalam hati tanpa menghadap kiblat dan tanpa wudhu sama sekali. Mungkin di jalan, di mobil, di kelas, di gedung, di lapangan. Tetap bagus tho?
Be positive. Sudah mending si atlit itu sujud, mengakui kekuatan Tuhan-nya, bukan bangga-banggain dirinya. Jangan lagi kita salah-salahin. Kalaupun mau berdakwah, tentu ada cara, waktu, dan adabnya.
Termasuk kepada orang-orang yang berpuasa di sekitar kita. Mungkin banyak yang belum ideal. Sikap positif kita sangat diharapkan. Ya, sangat diharapkan. Adab, salah satunya.
Zaman sekarang, bukan ilmu yang kurang. Mungkin adab yang kurang. Itu kesimpulan saya. Semoga kita dan teman-teman kita terpelihara dari sikap-sikap yang tanpa adab.
Merasa ilmu agamanya paling dalam, langsung saja mereka nyeletuk, "Sujud syukur yang dicontohkan Rasul itu ada tata caranya. Menutup aurat, menghadap kiblat, ada wudhu, bebas hadas besar, dan bebas hadas kecil."
Sebenarnya, menurut Ibnu Taimiyah, hal-hal tadi hanyalah disunnahkan saja, bukan syarat mutlak. Sekali lagi, bukan syarat mutlak.
Begini. Berdoa pun ada tata caranya. Namun apabila tata cara berdoa ini tidak terpenuhi 100%, bukan berarti berdoa serba spontan itu salah. Toh masih ada bagusnya. Namanya doa yah pasti bagus.
Lihat saja diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Kadang Muslim refleks berdoa dalam hati tanpa menghadap kiblat dan tanpa wudhu sama sekali. Mungkin di jalan, di mobil, di kelas, di gedung, di lapangan. Tetap bagus tho?
Be positive. Sudah mending si atlit itu sujud, mengakui kekuatan Tuhan-nya, bukan bangga-banggain dirinya. Jangan lagi kita salah-salahin. Kalaupun mau berdakwah, tentu ada cara, waktu, dan adabnya.
Termasuk kepada orang-orang yang berpuasa di sekitar kita. Mungkin banyak yang belum ideal. Sikap positif kita sangat diharapkan. Ya, sangat diharapkan. Adab, salah satunya.
Zaman sekarang, bukan ilmu yang kurang. Mungkin adab yang kurang. Itu kesimpulan saya. Semoga kita dan teman-teman kita terpelihara dari sikap-sikap yang tanpa adab.
Sedekah itu baik. Namun jangan mau juga kalau disalahgunakan. Itu kurang bijak, menurut saya.
Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan preman juga oknum setempat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan.
Pantaslah MUI dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis jalanan seperti kasus-kasus yang diberitakan di media. Tahukah Anda, ketika Ramadhan, income mereka bisa melesat tiga kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekali lagi, alangkah baiknya jika sedekah kita tepat sasaran dan tidak mengayakan preman juga oknum setempat. Mudah-mudahan menjadi kebaikan yang terhitung sempurna. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan preman juga oknum setempat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan.
Pantaslah MUI dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis jalanan seperti kasus-kasus yang diberitakan di media. Tahukah Anda, ketika Ramadhan, income mereka bisa melesat tiga kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekali lagi, alangkah baiknya jika sedekah kita tepat sasaran dan tidak mengayakan preman juga oknum setempat. Mudah-mudahan menjadi kebaikan yang terhitung sempurna. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Keceriaan ketika bukber kemarin bareng mitra-mitra. Alhamdulillah, ada sharing dari Pak Nasrullah dan Pak Ahmad Gozali. Hadir juga Mas Mono
Mukmin bagaikan lebah. Itu kata Nabi... Kenapa lebah? Kok bukan semut, kuda, atau unta? Simak video di atas...
Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak? Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Terorganisir. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Ketika Ramadhan, gerakan mereka pun semakin menjadi-jadi karena bisa mendapatkan uang sedekahan 3X atau 4x lebih besar.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Mungkin ada baiknya kita berdonasi melalui lembaga-lembaga terpercaya saja, seperti Dompet Dhuafa (DD), ACT, DT, PPPA, BAZNAS, Yatim Mandiri, atau sejenisnya. Mereka teraudit. Publik pun bisa mengecek. Amanah insya Allah.
Be wise.
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Ketika Ramadhan, gerakan mereka pun semakin menjadi-jadi karena bisa mendapatkan uang sedekahan 3X atau 4x lebih besar.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Mungkin ada baiknya kita berdonasi melalui lembaga-lembaga terpercaya saja, seperti Dompet Dhuafa (DD), ACT, DT, PPPA, BAZNAS, Yatim Mandiri, atau sejenisnya. Mereka teraudit. Publik pun bisa mengecek. Amanah insya Allah.
Be wise.
Anda tahu, apa yang paling penting pada 'pasangan'?
Yang paling penting adalah kata 'pas'.
Tanpa kata 'pas' yang ada cuma 'angan' alias 'angan-angan'.
Terus, gimana dengan falsafah 'belahan jiwa'?
Sering disebut-sebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Apa betul itu? Ternyata, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia cenderung memiliki DNA yang sama.
Menakjubkan dan mengejutkan!
Ini menurut Ben Domingue dari University of California setelah meneliti 800 pasangan. Nah, bagaimana dengan belahan jiwa Anda? Sudahkah ditemukan? Kalau sudah ditemukan, sudahkah dibahagiakan?
Bagi saya, kalau memang dia itu istri Anda atau suami Anda, berarti itu adalah takdir Anda. Dengan kata lain, itulah yang terbaik buat Anda saat ini, menurut Allah. Semoga kita semua pandai-pandai memaknai dan mensyukuri keberadaan pasangan kita masing-masing.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang paling penting adalah kata 'pas'.
Tanpa kata 'pas' yang ada cuma 'angan' alias 'angan-angan'.
Terus, gimana dengan falsafah 'belahan jiwa'?
Sering disebut-sebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Apa betul itu? Ternyata, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia cenderung memiliki DNA yang sama.
Menakjubkan dan mengejutkan!
Ini menurut Ben Domingue dari University of California setelah meneliti 800 pasangan. Nah, bagaimana dengan belahan jiwa Anda? Sudahkah ditemukan? Kalau sudah ditemukan, sudahkah dibahagiakan?
Bagi saya, kalau memang dia itu istri Anda atau suami Anda, berarti itu adalah takdir Anda. Dengan kata lain, itulah yang terbaik buat Anda saat ini, menurut Allah. Semoga kita semua pandai-pandai memaknai dan mensyukuri keberadaan pasangan kita masing-masing.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau hari biasa kita berbuat baik kepada pasangan, pastikan di bulan puasa kita berbuat lebih. Ya, berbuat lebih.