Support warung tetangga, sebisanya. Toh, ini bagian dari silaturahim dan meningkatkan ekonomi kerakyatan (ekonomi umat)
Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kita pun turut mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, membeli villa yang wow, dan sejenisnya.
Sementara, uang receh yang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Sambil harap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu. Betul apa betul?
Satu hal lagi. Ya, warung tetangga memang belum ideal. Tapi kalau kita dukung (support) terus-menerus, insya Allah ideal juga. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kita pun turut mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, membeli villa yang wow, dan sejenisnya.
Sementara, uang receh yang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Sambil harap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu. Betul apa betul?
Satu hal lagi. Ya, warung tetangga memang belum ideal. Tapi kalau kita dukung (support) terus-menerus, insya Allah ideal juga. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Ketika dulu merantau dan berpisah dengan keluarga, saya sempat merasa sedih. Tapi, tidak sampai menangis... Anehnya begitu berpisah dengan Syekh #YusufEstes, saya sampai menangis...
Hanya doa dan harap yang bisa kami antarkan dari Tanah Air... Semoga Allah selalu menjagamu, wahai Syekh...
Semoga teman segera ke sini (lagi) bersama keluarga dan timnya, berkali-kali. Aamiin.
Bisnis BUKAN sekadar sistem, tapi juga tim dan ekosistem.
Tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat itu lebih bertahan lama daripada skill. Misal skill-nya hebat, tapi ketika bekerjasama belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan terburu-buru. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Mudah-mudahan bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Yuk ajak teman-teman kita bergabung ke channel @ipphoright di Telegram ini. Lebih update, lebih komplit)
Tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat itu lebih bertahan lama daripada skill. Misal skill-nya hebat, tapi ketika bekerjasama belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan terburu-buru. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Mudah-mudahan bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Yuk ajak teman-teman kita bergabung ke channel @ipphoright di Telegram ini. Lebih update, lebih komplit)
Siap dengan risiko dan tahan banting, inilah dua ciri utama pengusaha.
Ketika ditanya, "Siapa yang MAU jadi pengusaha?" hampir semua orang mengacungkan tangannya.
Ketika lanjut ditanya, "Siapa yang SIAP jadi pengusaha?" sebagian besar orang menyembunyikan tangannya.
Anda termasuk yang mana?
Atau Anda jenis orang yang berani memulai usaha tapi tidak tahan dengan penolakan-penolakan?
Katanya mau jadi pengusaha. Jualan, malu. Ditolak, malu. Rugi, kapok. Gagal, kapok. Bangkrut, kapok. Ditipu, kapok. Alasannya segerobak. Malesnya sekontainer.
Situ serius mau jadi pengusaha? Hehehe.
Hei, punya usaha itu mudah. Untuk bener-bener jadi pengusaha, nah itu yang nggak mudah. Di sini kita bukan sekadar berani melangkah, tapi juga pantang menyerah (baca: tahan banting). Anda sanggupkah?
Di sini saya cuma mengingatkan. Sekali lagi, siap dengan risiko dan tahan banting, inilah dua ciri utama pengusaha. Sekiranya Anda tidak punya dua ciri ini, lupakan saja cita-cita Anda untuk menjadi pengusaha.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Ketika ditanya, "Siapa yang MAU jadi pengusaha?" hampir semua orang mengacungkan tangannya.
Ketika lanjut ditanya, "Siapa yang SIAP jadi pengusaha?" sebagian besar orang menyembunyikan tangannya.
Anda termasuk yang mana?
Atau Anda jenis orang yang berani memulai usaha tapi tidak tahan dengan penolakan-penolakan?
Katanya mau jadi pengusaha. Jualan, malu. Ditolak, malu. Rugi, kapok. Gagal, kapok. Bangkrut, kapok. Ditipu, kapok. Alasannya segerobak. Malesnya sekontainer.
Situ serius mau jadi pengusaha? Hehehe.
Hei, punya usaha itu mudah. Untuk bener-bener jadi pengusaha, nah itu yang nggak mudah. Di sini kita bukan sekadar berani melangkah, tapi juga pantang menyerah (baca: tahan banting). Anda sanggupkah?
Di sini saya cuma mengingatkan. Sekali lagi, siap dengan risiko dan tahan banting, inilah dua ciri utama pengusaha. Sekiranya Anda tidak punya dua ciri ini, lupakan saja cita-cita Anda untuk menjadi pengusaha.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Acara tadi malam, bersama Shafira dan owner-nya. Hadir juga Bu Lia, istri Kang Emil.
Semoga Shafira semakin maju dan berkembang. Demikian pula bisnis kita semua.
#FenyMustafa adalah wanita hebat di balik sukses merek busana muslimah Shafira yang selama hampir 30 tahun puluhan gerainya hadir di berbagai wilayah di Indonesia.
Saya beruntung beberapa kali diundang berseminar oleh Shafira dan sang founder dengan begitu rendah hati duduk sebagai peserta. Saya pun memilih Shafira untuk seragam tertentu di British Propolis dan TK Khalifah.
Ide awal membangun usaha Shafira, semua berawal dari keprihatinan Feny terhadap kaum muslimah Indonesia yang tidak diberi keleluasaan berhijab. Ini terjadi pada 30 tahun lalu.
"Saat itu jilbab tidak se-booming sekarang. Tapi saat Shafira hadir, ada respon positif terhadap label busana muslimah saya tersebut," jelas Feny yang sempat aktif di Rohis ITB.
"Saya benar-benar mengawali bisnis ini dari bawah. Awalnya hanya dibantu 1-2 karyawan saja. Bahkan untuk modal saya pinjam sana-sini," ungkap Feny.
"Satu lagi. Hal terpenting yang membuat sukses membangun bisnis pertama kali adalah support keluarga," ujar Feny. Tulisan ini diolah dari berita-berita di Liputan 6 dan Okezone.
Tidak cukup puluhan gerai Shafira, Feni juga mengembangkan brand Zoya yang kini telah memiliki 100-an toko di seluruh Indonesia. Saat ini Shafira merupakan label ritel busana Muslim yang sangat berpengaruh di Indonesia.
Saya pribadi berharap bisnis-bisnis saya kelak bisa sebesar Shafira. Aamiin.
Saya beruntung beberapa kali diundang berseminar oleh Shafira dan sang founder dengan begitu rendah hati duduk sebagai peserta. Saya pun memilih Shafira untuk seragam tertentu di British Propolis dan TK Khalifah.
Ide awal membangun usaha Shafira, semua berawal dari keprihatinan Feny terhadap kaum muslimah Indonesia yang tidak diberi keleluasaan berhijab. Ini terjadi pada 30 tahun lalu.
"Saat itu jilbab tidak se-booming sekarang. Tapi saat Shafira hadir, ada respon positif terhadap label busana muslimah saya tersebut," jelas Feny yang sempat aktif di Rohis ITB.
"Saya benar-benar mengawali bisnis ini dari bawah. Awalnya hanya dibantu 1-2 karyawan saja. Bahkan untuk modal saya pinjam sana-sini," ungkap Feny.
"Satu lagi. Hal terpenting yang membuat sukses membangun bisnis pertama kali adalah support keluarga," ujar Feny. Tulisan ini diolah dari berita-berita di Liputan 6 dan Okezone.
Tidak cukup puluhan gerai Shafira, Feni juga mengembangkan brand Zoya yang kini telah memiliki 100-an toko di seluruh Indonesia. Saat ini Shafira merupakan label ritel busana Muslim yang sangat berpengaruh di Indonesia.
Saya pribadi berharap bisnis-bisnis saya kelak bisa sebesar Shafira. Aamiin.