Bersyukur sekali saya ditakdirkan menemani Syekh #YusufEstes sejak 18 Maret sampai 22 Maret (kecuali 19 Maret). Tepatnya, selama beliau berada di Jakarta dan Balikpapan.
Ceritanya, begitu pulang umrah dan landing di Jakarta, saya langsung menghampiri beliau beserta rombongan di Sunda Kelapa. Terima kasih Pak Bukhari.
Sempat ngopi juga di sebuah kafe. Karena beliau penggemar kopi, saya perkenalkan kopi Toraja kepada beliau. Terus komen beliau, "I don't like it. I LOVE IT."
Malamnya di Hotel Ayana, saya dimarahin sama Syekh. Pura-pura marah, tepatnya. Begini ceritanya. Kan saya bilang ke beliau, kita sebentar lagi masuk ke sesi tanya-jawab dengan peserta.
Terus beliau protes, "Harusnya saya yang bertanya, kalian yang menjawab." Ada juga candaan-candaan lainnya. Kami pun tertawa mendengar candaan-candaan beliau.
Beliau disebut-sebut “Funny Syaikh” karena gemar memasukkan unsur canda dalam ceramahnya. Di satu sisi, beliau seorang ulama internasional yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh.
Saat ini beliau menjalankan televisi “Guide Us TV”yang merupakan televisi dakwah Islam pertama di Amerika, tayang 24 jam. Alhamdulillah, sewaktu di New York, saya pernah mengisi di sana, diundang oleh Imam Shamsi Ali.
Manakala menemani Syekh di Balikpapan, saya minta izin untuk mencium tangan beliau. Tak diizinkan. Sebagai gantinya, beliau malah memeluk dan mendoakan saya. Moment tak terlupakan, masya Allah.
Yang lebih mengejutkan adalah ketika beliau meminta saya menjadi imam ketika sholat zuhur dan ashar (jamak)! Beliau makmum-nya. Tentu saja saya menolak. Berkali-kali. Tapi beliau bersikeras. Ya Allah, sepanjang sholat saya pun gemetar!
Satu lagi. Dalam sebuah pose foto sesuai arahan beliau, kami melihat ke atas dan pura-pura menunjuk sesuatu. Beliau bilang, dengan pose seperti ini orang akan bertanya-tanya dan kita kelihatan pintar, hehehe. Ada-ada saja.
Begitulah, beliau ini benar-benar hangat dan humoris. Membuat kami tertawa berkali-kali. Beliau juga mengajarkan saya simple game untuk Fathima, anak saya. Maklumlah, beliau sangat berpengalaman soal ini. Punya banyak cucu.
Ketika tampil di acara puncak di Balai Sudirman, beliau hampir kehilangan suara. Sebagai presenter, Mario Irwinsyah sempat menangis pas memanggil dan mempersilakan beliau naik ke panggung. Kalau peserta, jangan ditanya. Terharu. Bertakbir.
"Sembahlah Sang Pencipta, BUKAN ciptaan-Nya," inilah pesan Syekh dalam stikernya. Lalu stiker itu diberikan kepada saya dan langsung saya tempel di mobil.
Saat makan, beliau tak sungkan-sungkan menyuapkan snack ke mulut kita (panitia). Bahkan saya berkali-kali diminta mencicipi kopi langsung dari cangkir beliau. Masya Allah.
Safari dakwah beliau pun usai di Indonesia, berlanjut ke Malaysia dan Tanzania. Tak terasa, menetes air mata saya ketika melepas beliau di bandara. Saya memeluk beliau erat-erat dan beliau tiada henti mendoakan saya. Ya Allah.
Semangat berdakwah beliau memang luar biasa. Padahal kakinya sering nyeri dan suaranya kadang hilang. Tidur hanya 3-4 jam saja sehari. Usia pun sudah 74 tahun.
"Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki unta-unta merah,” HR Bukhari dan Muslim.
Ternyata hadis ini yang menjadi penyemangat bagi beliau. Unta-unta merah zaman dulu mungkin setara dengan Ferrari merah dan Lamborghini kuning. Atau Bentley putih.
Pada akhirnya, kelak kita akan dikumpulkan dengan orang-orang yang kita cintai dan kita bela. Kita doakan ya, semoga beliau selalu sehat, panjang umur, dan dilindungi Allah. Aamiin.
Ceritanya, begitu pulang umrah dan landing di Jakarta, saya langsung menghampiri beliau beserta rombongan di Sunda Kelapa. Terima kasih Pak Bukhari.
Sempat ngopi juga di sebuah kafe. Karena beliau penggemar kopi, saya perkenalkan kopi Toraja kepada beliau. Terus komen beliau, "I don't like it. I LOVE IT."
Malamnya di Hotel Ayana, saya dimarahin sama Syekh. Pura-pura marah, tepatnya. Begini ceritanya. Kan saya bilang ke beliau, kita sebentar lagi masuk ke sesi tanya-jawab dengan peserta.
Terus beliau protes, "Harusnya saya yang bertanya, kalian yang menjawab." Ada juga candaan-candaan lainnya. Kami pun tertawa mendengar candaan-candaan beliau.
Beliau disebut-sebut “Funny Syaikh” karena gemar memasukkan unsur canda dalam ceramahnya. Di satu sisi, beliau seorang ulama internasional yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh.
Saat ini beliau menjalankan televisi “Guide Us TV”yang merupakan televisi dakwah Islam pertama di Amerika, tayang 24 jam. Alhamdulillah, sewaktu di New York, saya pernah mengisi di sana, diundang oleh Imam Shamsi Ali.
Manakala menemani Syekh di Balikpapan, saya minta izin untuk mencium tangan beliau. Tak diizinkan. Sebagai gantinya, beliau malah memeluk dan mendoakan saya. Moment tak terlupakan, masya Allah.
Yang lebih mengejutkan adalah ketika beliau meminta saya menjadi imam ketika sholat zuhur dan ashar (jamak)! Beliau makmum-nya. Tentu saja saya menolak. Berkali-kali. Tapi beliau bersikeras. Ya Allah, sepanjang sholat saya pun gemetar!
Satu lagi. Dalam sebuah pose foto sesuai arahan beliau, kami melihat ke atas dan pura-pura menunjuk sesuatu. Beliau bilang, dengan pose seperti ini orang akan bertanya-tanya dan kita kelihatan pintar, hehehe. Ada-ada saja.
Begitulah, beliau ini benar-benar hangat dan humoris. Membuat kami tertawa berkali-kali. Beliau juga mengajarkan saya simple game untuk Fathima, anak saya. Maklumlah, beliau sangat berpengalaman soal ini. Punya banyak cucu.
Ketika tampil di acara puncak di Balai Sudirman, beliau hampir kehilangan suara. Sebagai presenter, Mario Irwinsyah sempat menangis pas memanggil dan mempersilakan beliau naik ke panggung. Kalau peserta, jangan ditanya. Terharu. Bertakbir.
"Sembahlah Sang Pencipta, BUKAN ciptaan-Nya," inilah pesan Syekh dalam stikernya. Lalu stiker itu diberikan kepada saya dan langsung saya tempel di mobil.
Saat makan, beliau tak sungkan-sungkan menyuapkan snack ke mulut kita (panitia). Bahkan saya berkali-kali diminta mencicipi kopi langsung dari cangkir beliau. Masya Allah.
Safari dakwah beliau pun usai di Indonesia, berlanjut ke Malaysia dan Tanzania. Tak terasa, menetes air mata saya ketika melepas beliau di bandara. Saya memeluk beliau erat-erat dan beliau tiada henti mendoakan saya. Ya Allah.
Semangat berdakwah beliau memang luar biasa. Padahal kakinya sering nyeri dan suaranya kadang hilang. Tidur hanya 3-4 jam saja sehari. Usia pun sudah 74 tahun.
"Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki unta-unta merah,” HR Bukhari dan Muslim.
Ternyata hadis ini yang menjadi penyemangat bagi beliau. Unta-unta merah zaman dulu mungkin setara dengan Ferrari merah dan Lamborghini kuning. Atau Bentley putih.
Pada akhirnya, kelak kita akan dikumpulkan dengan orang-orang yang kita cintai dan kita bela. Kita doakan ya, semoga beliau selalu sehat, panjang umur, dan dilindungi Allah. Aamiin.
Memperkenalkan salah satu kopi terbaik Indonesia kepada Syekh. Kopi Toraja. Kata beliau, kopi ini seperti sahabat.
Teman-teman yang ingin mengikuti magang Internet Marketing bersama Ippho Santosa dan tim di kantornya pada awal April 2018 (selama seminggu), silakan WA 0815-4333-3600 atau 0813-8080-9921. Soal jadwal dan biaya, akan kami sampaikan via WA. Baiknya segera saja take action. Mumpung masih ada seat.
Sebenarnya magang dan training ini solusi yang benar-benar smart. Serius. Cuma belajar seminggu, tapi bisa langsung menghasilkan. Insya Allah.
Support warung tetangga, sebisanya. Toh, ini bagian dari silaturahim dan meningkatkan ekonomi kerakyatan (ekonomi umat)
Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kita pun turut mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, membeli villa yang wow, dan sejenisnya.
Sementara, uang receh yang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Sambil harap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu. Betul apa betul?
Satu hal lagi. Ya, warung tetangga memang belum ideal. Tapi kalau kita dukung (support) terus-menerus, insya Allah ideal juga. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Yang sebenarnya, kita pun turut mematikan karena absennya keberpihakan kita.
Jujur, saya salut sama kota-kota tertentu yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel. Coba bayangkan, membludaknya uang di tangan kapitalis itu, buat apa? Bisa ditebak. Membeli mobil sport, berlibur ke Eropa, membeli villa yang wow, dan sejenisnya.
Sementara, uang receh yang tak seberapa di tangan pemain kecil itu, buat apa? Bayar uang sekolah dan les anaknya. Sambil harap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat ini, tak bisakah kita sedikit berempati?
Tentu saja, spirit 'belanja di warung tetangga' ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu. Betul apa betul?
Satu hal lagi. Ya, warung tetangga memang belum ideal. Tapi kalau kita dukung (support) terus-menerus, insya Allah ideal juga. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Ketika dulu merantau dan berpisah dengan keluarga, saya sempat merasa sedih. Tapi, tidak sampai menangis... Anehnya begitu berpisah dengan Syekh #YusufEstes, saya sampai menangis...
Hanya doa dan harap yang bisa kami antarkan dari Tanah Air... Semoga Allah selalu menjagamu, wahai Syekh...