Ketika remaja, saya termasuk pengguna C59. Lumayan sering.
Anda tahu C59 dan Es Teler 77? Kalau nggak tahu, lha Anda tinggal di mana selama ini? Hehehe. Belasan tahun yang lalu, kedua merek ini adalah ikon di industrinya masing-masing.
Sekarang? Yah masih eksis dan masih disegani, namun tidak sementereng dulu. Setelah 1 dekade, apalagi 2 dekade, segala sesuatu bisa berubah. Benar-benar berubah.
Ya, dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya dominasi socmed. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan socmed.
Dalam berselancar di dunia maya alias internet, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi lainnya, kalau tidak memahami perubahan ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Ya, digilas zaman. Nokia dan Kodak adalah contoh kecilnya.
Alih-alih menganggap internet sebagai lawan atau ancaman, akan jauh lebih baik kalau kita menganggapnya sebagai kawan atau kesempatan. Betul apa betul?
Perhatikan baik-baik. Kita bisa memanfaatkan Facebook dan Instagram sebagai 'ruko kecil'. Kita pun bisa memanfaatkan blog sebagai 'billboard kecil'. Iya tho? Bahkan ini lebih hemat dan lebih tepat sasaran.
Kalau boleh jujur, kehadiran socmed secara langsung atau tidak langsung sebenarnya bisa membantu para entrepreneur, tepatnya para UKM, untuk go national dengan low budget. Nggak perlu buka cabang di mana-mana. Dan nggak perlu pasang iklan di TV nasional.
Pada akhirnya, ayo berdayakan, jangan malah terperdaya. Itulah sikap bijak kita terhadap internet dan socmed. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda tahu C59 dan Es Teler 77? Kalau nggak tahu, lha Anda tinggal di mana selama ini? Hehehe. Belasan tahun yang lalu, kedua merek ini adalah ikon di industrinya masing-masing.
Sekarang? Yah masih eksis dan masih disegani, namun tidak sementereng dulu. Setelah 1 dekade, apalagi 2 dekade, segala sesuatu bisa berubah. Benar-benar berubah.
Ya, dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya dominasi socmed. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan socmed.
Dalam berselancar di dunia maya alias internet, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi lainnya, kalau tidak memahami perubahan ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Ya, digilas zaman. Nokia dan Kodak adalah contoh kecilnya.
Alih-alih menganggap internet sebagai lawan atau ancaman, akan jauh lebih baik kalau kita menganggapnya sebagai kawan atau kesempatan. Betul apa betul?
Perhatikan baik-baik. Kita bisa memanfaatkan Facebook dan Instagram sebagai 'ruko kecil'. Kita pun bisa memanfaatkan blog sebagai 'billboard kecil'. Iya tho? Bahkan ini lebih hemat dan lebih tepat sasaran.
Kalau boleh jujur, kehadiran socmed secara langsung atau tidak langsung sebenarnya bisa membantu para entrepreneur, tepatnya para UKM, untuk go national dengan low budget. Nggak perlu buka cabang di mana-mana. Dan nggak perlu pasang iklan di TV nasional.
Pada akhirnya, ayo berdayakan, jangan malah terperdaya. Itulah sikap bijak kita terhadap internet dan socmed. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya berencana mau mengajak teman-teman tur ke sini, bareng saya. Seru soalnya.
Ada yang minat? Saya lagi penjajakan. Kalau banyak yang minat, insya Allah segera kita bikin programnya.
Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di FB saya. Ditunggu ya >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1914966685212191&id=144175158958028
Ada yang minat? Saya lagi penjajakan. Kalau banyak yang minat, insya Allah segera kita bikin programnya.
Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di FB saya. Ditunggu ya >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1914966685212191&id=144175158958028
Facebook
Ippho Santosa & Tim Khalifah
Senang sekali #JalanJalan kemarin. Kurangnya satu aja. Nggak ada istri. Kalau saya diminta untuk jalan-jalan atau roadshow lama-lama tanpa istri, kayaknya saya harus ke Pak Lurah untuk bikin 'Surat...
Kaya atau miskin, mana yang lebih dianjurkan? Simak penjelasan Ustadz Abdul Somad berikut ini.
Malam itu saya sempat ngobrol ringan sama Arie Untung dan Mario Irwinsyah. Tentang bisnis. Alhamdulillah, masing-masing kita punya bisnis dan menaruh minat yang besar pada bisnis.
Anda dan saya sama-sama tahu bahwa memulai bisnis saat ini semakin mudah. Tapi ingat, kalau serba mudah, maka pesaing juga merasakan hal yang sama. Serba mudah. Itu artinya, persaingan pun semakin sengit.
Lantas, bagaimana peranan socmed seperti FB dan IG pada bisnis? Socmed tidak lagi dipandang sebelah mata. FB dan IG tidak lagi dianggap enteng. Anda dan saya sama-sama maklum, betapa besarnya peran teknologi pada bisnis selama 1 dekade terakhir.
Suka atau tidak suka, Facebook (FB) adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu. Right?
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap HopperHQ.
HopperHQ juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, menuju satu miliar user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Maka, tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari. Think.
Jangan sampai kita hanya menghabiskan waktu di socmed, tapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali jumlah like dan share. Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Anda dan saya sama-sama tahu bahwa memulai bisnis saat ini semakin mudah. Tapi ingat, kalau serba mudah, maka pesaing juga merasakan hal yang sama. Serba mudah. Itu artinya, persaingan pun semakin sengit.
Lantas, bagaimana peranan socmed seperti FB dan IG pada bisnis? Socmed tidak lagi dipandang sebelah mata. FB dan IG tidak lagi dianggap enteng. Anda dan saya sama-sama maklum, betapa besarnya peran teknologi pada bisnis selama 1 dekade terakhir.
Suka atau tidak suka, Facebook (FB) adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu. Right?
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap HopperHQ.
HopperHQ juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, menuju satu miliar user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Maka, tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari. Think.
Jangan sampai kita hanya menghabiskan waktu di socmed, tapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali jumlah like dan share. Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Kali ini coba Anda jawab pertanyaan saya. Pilih mana, mentraktir atau ditraktir?
Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan Anda juga termasuk 😅😅😅
Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.
"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.
Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!
😁😁😁
Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.
Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk secara cuma-cuma.
Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan saya punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah muamalah yang setimpal. Harga diri pun terjaga.
Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.
Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Lagi-lagi, ini soal mental kaya. 😎😎😎
Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.
Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak.
Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan Anda juga termasuk 😅😅😅
Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.
"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.
Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!
😁😁😁
Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.
Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk secara cuma-cuma.
Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan saya punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah muamalah yang setimpal. Harga diri pun terjaga.
Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.
Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Lagi-lagi, ini soal mental kaya. 😎😎😎
Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.
Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak.
Sekadar berbagi cerita...
Total penjualan buku saya, termasuk 7 Keajaiban Rezeki, adalah 1 juta eksemplar. Bahkan lebih. Alhamdulillah.
Kalau trainer, baru 2 orang yang mencapai angka 1 juta itu. Yakni saya dan Ary Ginanjar. Ini menurut data Gramedia Group.
Keajaiban, siapa sih yang nggak mau?
Banyak yang bertanya ke saya, gimana cara menjemput keajaiban?
Saya jawab, "Kalau hidupmu baik-baik saja. Lebih sering sehat ketimbang sakit. Lebih sering senyum ketimbang nangis. Lebih sering kenyang ketimbang lapar. Itu saja sudah cukup disebut KEAJAIBAN. Karena sungguh, tak semua orang menikmatinya."
Mendengar jawaban ini, mereka pun terdiam.
Ini serius. Jangan lagi kita menunggu ini-itu untuk bersyukur. Sekiranya kita menjauhi kufur dan rajin bersyukur, niscaya rezeki semakin deras mengucur. Bukankah nikmat-Nya teramat banyak, tak terukur?
Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Mari ajak keluarga dan teman-teman kita bergabung ke Channel Telegram @ipphoright ini. Belajar bareng, sukses bareng)
Total penjualan buku saya, termasuk 7 Keajaiban Rezeki, adalah 1 juta eksemplar. Bahkan lebih. Alhamdulillah.
Kalau trainer, baru 2 orang yang mencapai angka 1 juta itu. Yakni saya dan Ary Ginanjar. Ini menurut data Gramedia Group.
Keajaiban, siapa sih yang nggak mau?
Banyak yang bertanya ke saya, gimana cara menjemput keajaiban?
Saya jawab, "Kalau hidupmu baik-baik saja. Lebih sering sehat ketimbang sakit. Lebih sering senyum ketimbang nangis. Lebih sering kenyang ketimbang lapar. Itu saja sudah cukup disebut KEAJAIBAN. Karena sungguh, tak semua orang menikmatinya."
Mendengar jawaban ini, mereka pun terdiam.
Ini serius. Jangan lagi kita menunggu ini-itu untuk bersyukur. Sekiranya kita menjauhi kufur dan rajin bersyukur, niscaya rezeki semakin deras mengucur. Bukankah nikmat-Nya teramat banyak, tak terukur?
Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Mari ajak keluarga dan teman-teman kita bergabung ke Channel Telegram @ipphoright ini. Belajar bareng, sukses bareng)
KESEMPATAN EMAS
Nyantri Bisnis Sebulan
Bersama Ippho Santosa & Tim
Syarat:
Usia 20 sampai 35 tahun, mau ber-dhuha setiap hari, punya laptop dan modem sendiri.
Lokasi: BSD, dekat Jakarta.
Jadwal: 7 Maret - 4 April
Sehari-hari peserta akan bekerja seperti karyawan (di rumahnya masing-masing dengan bimbingan dari pusat). Wajib ngantor jam 08.00 s/d 12.00, setiap hari Rabu.
Apa saja manfaatnya? Banyak. Peserta akan belajar ilmu bisnis, penjualan, SEO, socmed, WA, dan Telegram. Tentu saja langsung dari Ippho Santosa.
Berapa biayanya? Hanya Rp 1,5 juta (dan Rp 1 juta akan dikembalikan sekiranya peserta menyelesaikan semua tugas dengan baik sesuai arahan).
Minat? Serius? SMS 0877-7779-2779.
Nyantri Bisnis Sebulan
Bersama Ippho Santosa & Tim
Syarat:
Usia 20 sampai 35 tahun, mau ber-dhuha setiap hari, punya laptop dan modem sendiri.
Lokasi: BSD, dekat Jakarta.
Jadwal: 7 Maret - 4 April
Sehari-hari peserta akan bekerja seperti karyawan (di rumahnya masing-masing dengan bimbingan dari pusat). Wajib ngantor jam 08.00 s/d 12.00, setiap hari Rabu.
Apa saja manfaatnya? Banyak. Peserta akan belajar ilmu bisnis, penjualan, SEO, socmed, WA, dan Telegram. Tentu saja langsung dari Ippho Santosa.
Berapa biayanya? Hanya Rp 1,5 juta (dan Rp 1 juta akan dikembalikan sekiranya peserta menyelesaikan semua tugas dengan baik sesuai arahan).
Minat? Serius? SMS 0877-7779-2779.