Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kemarin saya bertemu dengan sederet seniman, di antaranya HiVi. Mungkin sebagian dari kita belum pernah mendengar namanya tapi ternyata videonya di YouTube telah dilihat hampir 50 juta kali!

Dengan jumlah penonton sebanyak itu, tentu saja HiVi sudah meraup rupiah lumayan banyak dan boleh dibilang relatif mandiri. Begitulah, dengan YouTube dan socmed saat ini kita bisa menghasilkan uang.

Ya, cara mencari uang telah berubah.

Selama 3 tahun terakhir, saya lumayan intens mengajarkan ilmu internet marketing atau digital marketing. Kenapa? Karena ini benar-benar solusi, menurut saya. Siapa saja bisa. Yang penting, mau belajar.

Kita tidak harus punya ruko. Kita tidak harus paham produksi. Bisa dari rumah. Bisa terukur hasilnya. Hei, sesuatu yang terukur itu penting. Hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.

Bagi saya, kalaupun seminggu kita capek-capek belajar internet marketing, yah nggak masalah. Toh, langsung kelihatan hasilnya. Insya Allah kalau paham ilmunya, bisa langsung menghasilkan.

Kalau kita memiliki smartphone, ada baiknya kita belajar bagaimana mengoptimasi socmed, termasuk Facebook dan Instagram agar benar-benar menghasilkan uang. Adalah rugi kalau hanya posting-posting untuk sekadar eksis, tapi tidak menghasilkan uang.

Terakhir, saran saya, "Jadilah pemain! Bukan sekadar penonton!" Semoga berkah berlimpah!
Sebenarnya saya tidak mau memaparkan testimoni dari peserta-peserta yang magang di kantor saya. Tapi saya pikir ini bisa membangkitkan semangat bagi entrepreneur dan calon entrepreneur.

Ini beberapa di antaranya:

"Saya salah satu peserta magang IM bersama Mas Ippho. Profesi saya karyawan sekaligus mahasiswa di Semarang. Baru 3 hari mengikuti pelatihan Internet Marketing (IM), saya sudah bisa menangkap konsep materinya. Mulai dari blog, FB sampai SEO. Saya terapkan dan pada hari ke-5, penawaran saya masuk halaman 1 Google."
- Hanif Rahman, Reseller

"KEREN, banyak hal baru yang saya ambil di sini. Dan saya langsung action. Eh dapat order, setelah 2 jam tayang lewat FB, alhamdulillah."
-Helen Chu, Produsen Roti

"Coba-coba buat blog, men-share artikel, dan FB Ads, alhamdulillah saya langsung dapat orderan dari konsumen-konsumen baru. Produk saya juga lebih dikenal dan lebih tepat sasaran. Terima kasih Mas Ippho dan para mentor yang sudah berbagi ilmu."
-Wijaya Prima, Peternak Bebek

Nah, bagi teman-teman yang ingin mengikuti magang Internet Marketing bersama saya dan tim di kantor saya pada awal April 2018, silakan WA 0815-4333-3600 atau 0813-8080-9921. Soal jadwal dan biaya, akan kami sampaikan via WA.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Coba simak percakapan fiktif ini...

Hotman Paris: I'm rich.
Batman: I’m richer.
Iron Man: I’m a millionaire.
King T’challa (Black Panther): I'm the richest!

Hehehe...

Ngomong-ngomong, saat orang-orang beranggapan bahwa CINTA itu BUTA, ternyata SI CINTA tahu persis, mana yang roda empat, mana yang roda dua.

Mana yang Alphard, mana yang Avanza.
Mana yang Gucci, mana yang Guess.
Mana yang berlian, mana yang belingan.

Hehehe...

Begitulah, harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Di mana-mana. Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada manfaat.

Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakan-mu."

Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju.

Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika. Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita.

Ya, tak harus sekaya Batman atau Black Panther. Kita tebar saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.

Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika remaja, saya termasuk pengguna C59. Lumayan sering.

Anda tahu C59 dan Es Teler 77? Kalau nggak tahu, lha Anda tinggal di mana selama ini? Hehehe. Belasan tahun yang lalu, kedua merek ini adalah ikon di industrinya masing-masing.

Sekarang? Yah masih eksis dan masih disegani, namun tidak sementereng dulu. Setelah 1 dekade, apalagi 2 dekade, segala sesuatu bisa berubah. Benar-benar berubah.

Ya, dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya dominasi socmed. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan socmed.

Dalam berselancar di dunia maya alias internet, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop.

Kita sebagai entrepreneur atau profesi lainnya, kalau tidak memahami perubahan ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Ya, digilas zaman. Nokia dan Kodak adalah contoh kecilnya.

Alih-alih menganggap internet sebagai lawan atau ancaman, akan jauh lebih baik kalau kita menganggapnya sebagai kawan atau kesempatan. Betul apa betul?

Perhatikan baik-baik. Kita bisa memanfaatkan Facebook dan Instagram sebagai 'ruko kecil'. Kita pun bisa memanfaatkan blog sebagai 'billboard kecil'. Iya tho? Bahkan ini lebih hemat dan lebih tepat sasaran.

Kalau boleh jujur, kehadiran socmed secara langsung atau tidak langsung sebenarnya bisa membantu para entrepreneur, tepatnya para UKM, untuk go national dengan low budget. Nggak perlu buka cabang di mana-mana. Dan nggak perlu pasang iklan di TV nasional.

Pada akhirnya, ayo berdayakan, jangan malah terperdaya. Itulah sikap bijak kita terhadap internet dan socmed. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya berencana mau mengajak teman-teman tur ke sini, bareng saya. Seru soalnya.

Ada yang minat? Saya lagi penjajakan. Kalau banyak yang minat, insya Allah segera kita bikin programnya.

Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di FB saya. Ditunggu ya >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1914966685212191&id=144175158958028
Kaya atau miskin, mana yang lebih dianjurkan? Simak penjelasan Ustadz Abdul Somad berikut ini.
Silakan di-take-action!
Malam itu saya sempat ngobrol ringan sama Arie Untung dan Mario Irwinsyah. Tentang bisnis. Alhamdulillah, masing-masing kita punya bisnis dan menaruh minat yang besar pada bisnis.

Anda dan saya sama-sama tahu bahwa memulai bisnis saat ini semakin mudah. Tapi ingat, kalau serba mudah, maka pesaing juga merasakan hal yang sama. Serba mudah. Itu artinya, persaingan pun semakin sengit.

Lantas, bagaimana peranan socmed seperti FB dan IG pada bisnis? Socmed tidak lagi dipandang sebelah mata. FB dan IG tidak lagi dianggap enteng. Anda dan saya sama-sama maklum, betapa besarnya peran teknologi pada bisnis selama 1 dekade terakhir.

Suka atau tidak suka, Facebook (FB) adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu. Right?

"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap HopperHQ.

HopperHQ juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, menuju satu miliar user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.

Maka, tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari. Think.

Jangan sampai kita hanya menghabiskan waktu di socmed, tapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali jumlah like dan share. Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Silaturahim istimewa...
Kali ini coba Anda jawab pertanyaan saya. Pilih mana, mentraktir atau ditraktir?

Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan Anda juga termasuk πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.

"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.

Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!

😁😁😁

Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.

Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk secara cuma-cuma.

Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan saya punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah muamalah yang setimpal. Harga diri pun terjaga.

Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.

Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Lagi-lagi, ini soal mental kaya. 😎😎😎

Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.

Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak.