Ide cemerlang nan bodoh sang papa bikin Iyan terkekeh. Dia pun membayangkan diri sendiri apabila berolahraga dengan menggunakan kaos kutang. “Ada-ada aja kelakuannya jadi bapak. Dimana-mana anterin baju buat anaknya, ini disuruh lepas baju aja.” dumelnya. Iyan memutuskan untuk tidak membalas pesan papanya, membiarkannya terkirim tanpa jawaban pasti akan apa yang bakal dia lakuin.
Iyan yang sudah memulai pelajaran olahraga pun tidak dapat membalas pesan papanya. Sedangkan di sisi lain, papanya sudah panik setengah mati. Takut anaknya malu-maluin karena olahraga dengan kaos kutang. Lari-larian dia kesana kemari, kembali ke rumah, mengambil baju olahraga, lalu melanjutkan perjalanan ke sekolah anaknya.
Security yang melihat seorang bapak-bapak berlari ke arahnya pun sontak kaget “Berhenti! Bapak mau kemana lari-larian? Santai pak” kata sang security. Jiwa seorang papa pun meronta-ronta “ANAK SAYA.. ANAK SAYA SALAH, PAKAIAN, KAOS KUTANG..” Security bingung, Hans kehabisan nafas, dan warga yang menyaksikan kejadian di depan gerbang sekolah itu pun ikut bingung sembari berbisik-bisik ria. “Pak, nafas dulu pak.” Setelah beberapa saat, keringat yang bercucuran dan nafas yang terengah-engah itu perlahan membaik. “Anak saya Shiyan, lupa bawa baju olahraga. Saya mau antarkan”
Security yang melihat seorang bapak-bapak berlari ke arahnya pun sontak kaget “Berhenti! Bapak mau kemana lari-larian? Santai pak” kata sang security. Jiwa seorang papa pun meronta-ronta “ANAK SAYA.. ANAK SAYA SALAH, PAKAIAN, KAOS KUTANG..” Security bingung, Hans kehabisan nafas, dan warga yang menyaksikan kejadian di depan gerbang sekolah itu pun ikut bingung sembari berbisik-bisik ria. “Pak, nafas dulu pak.” Setelah beberapa saat, keringat yang bercucuran dan nafas yang terengah-engah itu perlahan membaik. “Anak saya Shiyan, lupa bawa baju olahraga. Saya mau antarkan”