This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from THE BOYZ VILLAGE.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(𝒶𝒹𝒿.) aprìl book ♡.ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ephemeral spark —
perpetual spring; 최찬희 /. zenith ♥*
celestial bloom,
the apple of his existence
a garden, in perpetual spring;
resplendent harvest of grace.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(𝒶𝒹𝒿.) aprìl book ♡.ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ephemeral spark —
perpetual spring; 최찬희 /. zenith ♥*
celestial bloom,
the apple of his existence
a garden, in perpetual spring;
resplendent harvest of grace.
(april/26)ㅤㅤㅤ ㅤ 뉴..calendar circled ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ of — j o yㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Sore itu, langit memeluk semesta dengan pendar sewarna persik kala dua presensi puan menyusuri setapak taman kota. Jemari Wilkins' Moon Sua bertaut kelewat erat dengan milik Mondcroft's Ito Momoka. Semburat kemerahan menghiasi paras jelita Sua, menyadari hari ini menandai satu bulan penuh mereka mengukir afeksi. Angin musim semi menyapa surai legam Itomomo, membawa wangi vanila manis yang senantiasa memabukkan indra penciuman Sua.
Mereka memilih sudut teduh di bawah rindangnya pohon ek, menggelar tikar piknik kecil di atas hamparan rumput hijau. Keduanya asyik bertukar pandang penuh damba. Suasana terasa lengang dan menenangkan. Sesekali, netra Sua mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya, mengagumi pahat rahang Itomomo yang terlihat tegas sekaligus luar biasa lembut.
Itomomo merupakan bintang yang bersinar paling benderang di atas panggung, oshi kesayangan Sua yang kini nyata berada dalam dekapannya. Sua bangkit perlahan dari duduknya, membiarkan sang kekasih menatapnya bingung. Ia memundurkan langkah kakinya, mengangkat kamera digital kesayangannya. Lensa kamera itu membidik lurus pada presensi Itomomo. Gadis yang sepenuhnya dimiliki Mondcroft itu memiringkan kepalanya gemas, tersenyum kelewat manis berlatar belakang dedaunan gugur. Kilat blitz menyala terang. Sua menurunkan kameranya sebentar, menarik napas dalam-dalam, menangkupkan kedua tangan di dekat mulutnya, lalu berseru lantang memecah keheningan taman sore itu.
"Kamu cantik sekali, kekasihku!"
Pipi Itomomo kontan bersemu merah padam mendengar seruan mendadak tersebut. Ia buru-buru menutupi sebagian wajahnya dengan buku puisi, mati-matian menyembunyikan salah tingkah akibat kelakuan acak kekasihnya. Sua terkekeh pelan, melangkah mendekat sembari memandangi hasil jepretan di layar kameranya. Pahat paras Itomomo adalah mahakarya terindah ciptaan semesta. Dalam diam, Sua memotret Itomomo lagi dan lagi, mengabadikan setiap detail pesona sang idola yang kini menjadi miliknya seorang. Memori kamera itu didominasi oleh rupa jelita Itomomo.
Perjalanan kencan mereka berlanjut membelah hiruk-pikuk kota menuju akuarium raksasa. Pias cahaya kebiruan dari air memantul indah pada wajah mereka, menciptakan siluet dramatis. Itomomo menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca tebal, bersorak takjub melihat hiu paus raksasa berenang pelan melewatinya. Sua lebih memilih berdiri sedikit di belakang, menjadikan punggung sempit Itomomo sebagai pemandangan utamanya. Ia mengangkat kameranya lagi, merekam bagaimana pantulan cahaya air membuat sang kekasih terlihat seperti dewi laut yang turun ke bumi.
Mereka akhirnya menepi di sebuah sudut lorong sepi berhias lampu temaram, duduk berhadapan. Sua menggenggam erat kedua tangan Itomomo, mengusap lembut punggung tangannya menggunakan ibu jari.
"Kasihku," panggil Sua pelan, suaranya mengalun hangat. "Satu bulan ini adalah serpihan angan paling indah yang menolak usai. Memilikimu di sini, melihatmu tersenyum seluas ini, adalah magis yang sesungguhnya."
Itomomo mendengarkan dalam diam, sepasang matanya mulai berkaca-kaca mendapat perlakuan semanis ini. Tangannya balas menggenggam erat jemari Sua.
"Biarkan aku menjadi bumimu tempatmu membumi," lanjut Sua, merangkai diksi dari dasar sanubarinya, menumpahkan segala bentuk asmaraloka yang ia simpan rapi. "Kamu adalah renjana yang selalu kusemogakan setiap malam tiba. Selamat hari jadi bulan pertama, semestaku yang paling terang. Aku mencintaimu, lebih dari luasnya bentangan galaksi di atas sana."
Itomomo tersenyum haru, lalu menghambur memeluk Sua erat, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher sang puan. Kencan pertama ini ditutup dengan pelukan yang sehangat pelukan mentari, merayakan presensi satu sama lain dalam diam yang menenangkan.
Mereka memilih sudut teduh di bawah rindangnya pohon ek, menggelar tikar piknik kecil di atas hamparan rumput hijau. Keduanya asyik bertukar pandang penuh damba. Suasana terasa lengang dan menenangkan. Sesekali, netra Sua mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya, mengagumi pahat rahang Itomomo yang terlihat tegas sekaligus luar biasa lembut.
Itomomo merupakan bintang yang bersinar paling benderang di atas panggung, oshi kesayangan Sua yang kini nyata berada dalam dekapannya. Sua bangkit perlahan dari duduknya, membiarkan sang kekasih menatapnya bingung. Ia memundurkan langkah kakinya, mengangkat kamera digital kesayangannya. Lensa kamera itu membidik lurus pada presensi Itomomo. Gadis yang sepenuhnya dimiliki Mondcroft itu memiringkan kepalanya gemas, tersenyum kelewat manis berlatar belakang dedaunan gugur. Kilat blitz menyala terang. Sua menurunkan kameranya sebentar, menarik napas dalam-dalam, menangkupkan kedua tangan di dekat mulutnya, lalu berseru lantang memecah keheningan taman sore itu.
"Kamu cantik sekali, kekasihku!"
Pipi Itomomo kontan bersemu merah padam mendengar seruan mendadak tersebut. Ia buru-buru menutupi sebagian wajahnya dengan buku puisi, mati-matian menyembunyikan salah tingkah akibat kelakuan acak kekasihnya. Sua terkekeh pelan, melangkah mendekat sembari memandangi hasil jepretan di layar kameranya. Pahat paras Itomomo adalah mahakarya terindah ciptaan semesta. Dalam diam, Sua memotret Itomomo lagi dan lagi, mengabadikan setiap detail pesona sang idola yang kini menjadi miliknya seorang. Memori kamera itu didominasi oleh rupa jelita Itomomo.
Perjalanan kencan mereka berlanjut membelah hiruk-pikuk kota menuju akuarium raksasa. Pias cahaya kebiruan dari air memantul indah pada wajah mereka, menciptakan siluet dramatis. Itomomo menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca tebal, bersorak takjub melihat hiu paus raksasa berenang pelan melewatinya. Sua lebih memilih berdiri sedikit di belakang, menjadikan punggung sempit Itomomo sebagai pemandangan utamanya. Ia mengangkat kameranya lagi, merekam bagaimana pantulan cahaya air membuat sang kekasih terlihat seperti dewi laut yang turun ke bumi.
Mereka akhirnya menepi di sebuah sudut lorong sepi berhias lampu temaram, duduk berhadapan. Sua menggenggam erat kedua tangan Itomomo, mengusap lembut punggung tangannya menggunakan ibu jari.
"Kasihku," panggil Sua pelan, suaranya mengalun hangat. "Satu bulan ini adalah serpihan angan paling indah yang menolak usai. Memilikimu di sini, melihatmu tersenyum seluas ini, adalah magis yang sesungguhnya."
Itomomo mendengarkan dalam diam, sepasang matanya mulai berkaca-kaca mendapat perlakuan semanis ini. Tangannya balas menggenggam erat jemari Sua.
"Biarkan aku menjadi bumimu tempatmu membumi," lanjut Sua, merangkai diksi dari dasar sanubarinya, menumpahkan segala bentuk asmaraloka yang ia simpan rapi. "Kamu adalah renjana yang selalu kusemogakan setiap malam tiba. Selamat hari jadi bulan pertama, semestaku yang paling terang. Aku mencintaimu, lebih dari luasnya bentangan galaksi di atas sana."
Itomomo tersenyum haru, lalu menghambur memeluk Sua erat, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher sang puan. Kencan pertama ini ditutup dengan pelukan yang sehangat pelukan mentari, merayakan presensi satu sama lain dalam diam yang menenangkan.
P.S. This video was created by the incredibly talented Wilkins' Nicholas, and we feel truly honored to use his remarkable skills and artistry!
❤11🏆9🍓8☃7💘7🎃6🕊4
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from The Wendissle Records: “A Secrets In Dusted Ink.”
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ🕯| ㅤ
ㅤㅤIn the fog-veiled thoroughfares of
ㅤㅤLondon, every whisper conceals
ㅤㅤㅤa cipher—and every shadow,
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤa suspect.
───────────────────
ㅤㅤㅤㅤSoirée Code: B-221B-1894
ㅤㅤ"The Ebony Cipher of Wendissle."
ㅤㅤDate Opened: 20th August, 1894.
ㅤAttire: Masked and cloaked in secrecy.
ㅤㅤㅤLocation: Wendissle Manor.
ㅤㅤ Ciphered: #ParlourToWendissle.
ㅤㅤㅤㅤ🕯| ㅤ
LONDON'S WHISPER
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤSPEAKS IN CODE.ㅤㅤIn the fog-veiled thoroughfares of
ㅤㅤLondon, every whisper conceals
ㅤㅤㅤa cipher—and every shadow,
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤa suspect.
───────────────────
ㅤㅤㅤㅤSoirée Code: B-221B-1894
ㅤㅤ"The Ebony Cipher of Wendissle."
ㅤㅤDate Opened: 20th August, 1894.
ㅤAttire: Masked and cloaked in secrecy.
ㅤㅤㅤLocation: Wendissle Manor.
ㅤㅤ Ciphered: #ParlourToWendissle.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Embarking upon a delightful voyage each 25th of this month, we unite with dear companions to honor their monthly milestone!
In the eternal loom of existence, where seasoned bards and inquisitive wanderers intertwine the threads of our shared saga, the allure emanates from the intricate dance of character-driven quests and the bonds woven with kindred spirits, epitomized by @TheWalst @MlNDWAVE @CaveOfLoughrey @Raisje @Norveinsibs. Within this ongoing saga, our narratives transcend mere chronicles, evolving into a tapestry rich with depth and hues that mirror the myriad shades of our communal creativity. Answering the enchanting summons to our inspirational haven, a sacred realm where the fusion of affection and protection nurtures a sanctuary for revelry, we unfurl this jubilation and an ever-unfolding tale that binds us in this grand collective escapade!
As the echoes echo from our stories across the expanse—written in sincere words, @TheWilkins. ♥️
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from The Tropical Trails: Soigné Famillie
Heyyy, guess what we ended up doing today? 😂
Somehow it turned into a “Mini Chinese Lesson” with Luevine's Leo, Finches's Leo, Schröder's Leo, Soigné's Junseo, Houndric's Junseo, Runeshard's Geonwoo, Wyrmharrow's Sangwon, Soigné's Sangwon, Visnja's Sangwon, Scalden's Sangwon, Eelje's Sanghyeon, Walst's Sanghyeon, Soigné's Sanghyeon, and Wyrmharrow's Sanghyeon trying their best, mixing things up here and there. While Wraitheight’s Arno, Soigné's Arno, Schröder's Xinlong, Reedwart's Anxin, Wilkins's Anxin, Finches's Anxin, and Scarvaine's Anxin suddenly switched roles as the “coaches” for today, correcting us like pros (and maybe enjoying it a bit too much haha). Nothing really perfect, just learning a few words and having fun with it anyway. Anyone wanna join us?👀
Somehow it turned into a “Mini Chinese Lesson” with Luevine's Leo, Finches's Leo, Schröder's Leo, Soigné's Junseo, Houndric's Junseo, Runeshard's Geonwoo, Wyrmharrow's Sangwon, Soigné's Sangwon, Visnja's Sangwon, Scalden's Sangwon, Eelje's Sanghyeon, Walst's Sanghyeon, Soigné's Sanghyeon, and Wyrmharrow's Sanghyeon trying their best, mixing things up here and there. While Wraitheight’s Arno, Soigné's Arno, Schröder's Xinlong, Reedwart's Anxin, Wilkins's Anxin, Finches's Anxin, and Scarvaine's Anxin suddenly switched roles as the “coaches” for today, correcting us like pros (and maybe enjoying it a bit too much haha). Nothing really perfect, just learning a few words and having fun with it anyway. Anyone wanna join us?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM