Merawat seutas terang yang ditimang bak gemilang benderang, Kahil Roesjad, bertunas girang kami panjatkan doa penghalau malang, selamat menerjang rentang usia dengan lengang!
Selamat, Saudara. Perjamuan suka cita telah kami siapkan di atas meja, karena yang sedang bertambah usia patut ditinggikan oleh semesta. Kiranya kita berasal dari rumpun darah yang sama, maka dengan ini kami wujudkan pesta jelang bahagia. Lima buah delima sebagai bingkai nyawa dari para pembawa cela yang kami tata sedemikian rupa di depan mata. Dan kini, kepada engkau yang dinaungi tapak cahaya, kami hamparkan piring-piring harapan yang masih hangat berembun doa. Di atasnya, waktu merunduk dalam bayang, mengantarkan namamu pada secercah kelam yang lambat menjulang, sebab malam tahu: hayat yang bertambah bukan terang, melainkan sayap luka yang diam-diam tumbuh dari ruang terlarang, biarlah gelap menjadi saksi engkau tegak perlahan dari tempatmu tenggelam, kembali pulang ke pangkuan yang muram dan berjarang. Kami bangkitkan sebatang nyala pekat, bukan untuk mengiringi malam keramat, melainkan markah menobatkan setiap sadrah yang telah kau taklukkan dalam gulung-balat. Jejak langkahmu yang dulu retak kini menjelma iring arwah yang tak lagi tersesat, gumpal getir yang pernah kau telan tanpa suara berubah menjadi mantra penangkal lingat, pun jagat ikut merambat dalam tunduk paling khidmat.
Selamat, Saudara. Perjamuan suka cita telah kami siapkan di atas meja, karena yang sedang bertambah usia patut ditinggikan oleh semesta. Kiranya kita berasal dari rumpun darah yang sama, maka dengan ini kami wujudkan pesta jelang bahagia. Lima buah delima sebagai bingkai nyawa dari para pembawa cela yang kami tata sedemikian rupa di depan mata. Dan kini, kepada engkau yang dinaungi tapak cahaya, kami hamparkan piring-piring harapan yang masih hangat berembun doa. Di atasnya, waktu merunduk dalam bayang, mengantarkan namamu pada secercah kelam yang lambat menjulang, sebab malam tahu: hayat yang bertambah bukan terang, melainkan sayap luka yang diam-diam tumbuh dari ruang terlarang, biarlah gelap menjadi saksi engkau tegak perlahan dari tempatmu tenggelam, kembali pulang ke pangkuan yang muram dan berjarang. Kami bangkitkan sebatang nyala pekat, bukan untuk mengiringi malam keramat, melainkan markah menobatkan setiap sadrah yang telah kau taklukkan dalam gulung-balat. Jejak langkahmu yang dulu retak kini menjelma iring arwah yang tak lagi tersesat, gumpal getir yang pernah kau telan tanpa suara berubah menjadi mantra penangkal lingat, pun jagat ikut merambat dalam tunduk paling khidmat.
❤14🏆6❤🔥5🔥4🥰2🕊1🆒1
Semalam Lilow dan aku ditugaskan buat belanja kebutuhan rumah sama mbak Mada karena mumpung kita berdua lagi di luar juga. Kami beli banyak hal; sayur & buah, daging buat makan besar besok, terus jajan-jajan buat para bungsu! Paling susah nyari rempah-rempah sumpah, kami sampe video call mbak Binar dan Kirana buat ngasih tahu bedanya kencur sama jahe, sementara Lilow telefon mereka berdua dengan jalannya yang lambat itu aku angkat ajalah troli belanjaannya, "Eh, Kamimi turunin trolinya, malu!" 😭 "Kamu jalannya lama, Adek, ah udahlah sana aku mau ambil yupinya Bang Artem sama Nao." habis bilang gitu, aku tinggal deh dia ke sektor snack dan kawan-kawannya, tapi syukurnya gak lama setelah itu dia nyusul aku kemudian kami udah dapet semua keperluan. Kami lalu pulang dan melipir bentar ke toko roti yang lagi viral karena ada menu baru, ya udah sekalian beliin juga buat semuanya, deh, habis itu baru kami meluncur pulang ke rumah.
1❤8🍓5🔥4🏆4⚡2🕊2👀2💘2🥰1
Merawat seutas terang yang ditimang bak gemilang benderang, Artem Roesjad, bertunas girang kami panjatkan doa penghalau malang, selamat menerjang rentang usia dengan lengang!
Selamat, Saudara. Perjamuan suka cita telah kami siapkan di atas meja, karena yang sedang bertambah usia patut ditinggikan oleh semesta. Kiranya kita berasal dari rumpun darah yang sama, maka dengan ini kami wujudkan pesta jelang bahagia. Lima buah delima sebagai bingkai nyawa dari para pembawa cela yang kami tata sedemikian rupa di depan mata. Dan kini, kepada engkau yang dinaungi tapak cahaya, kami hamparkan piring-piring harapan yang masih hangat berembun doa. Di atasnya, waktu merunduk dalam bayang, mengantarkan namamu pada secercah kelam yang lambat menjulang, sebab malam tahu: usia yang bertambah bukan terang, melainkan sayap luka yang diam-diam tumbuh dari ruang yang terlarang, biarlah gelap menjadi saksi engkau bangkit perlahan dari tempatmu tenggelam, kembali pulang ke pangkuan yang muram dan berjarang. Kami bangkitkan sebatang nyala pekat, bukan untuk mengiringi malam keramat, melainkan untuk menobatkan setiap luka yang telah kau taklukkan dalam gulung-balat. Jejak langkahmu yang dulu retak kini menjelma iring arwah yang tak lagi tersesat, gumpal getir yang pernah kau telan tanpa suara kini berubah menjadi mantra penangkal lingat, pun jagat ikut merunduk dalam tunduk paling khidmat.
Selamat, Saudara. Perjamuan suka cita telah kami siapkan di atas meja, karena yang sedang bertambah usia patut ditinggikan oleh semesta. Kiranya kita berasal dari rumpun darah yang sama, maka dengan ini kami wujudkan pesta jelang bahagia. Lima buah delima sebagai bingkai nyawa dari para pembawa cela yang kami tata sedemikian rupa di depan mata. Dan kini, kepada engkau yang dinaungi tapak cahaya, kami hamparkan piring-piring harapan yang masih hangat berembun doa. Di atasnya, waktu merunduk dalam bayang, mengantarkan namamu pada secercah kelam yang lambat menjulang, sebab malam tahu: usia yang bertambah bukan terang, melainkan sayap luka yang diam-diam tumbuh dari ruang yang terlarang, biarlah gelap menjadi saksi engkau bangkit perlahan dari tempatmu tenggelam, kembali pulang ke pangkuan yang muram dan berjarang. Kami bangkitkan sebatang nyala pekat, bukan untuk mengiringi malam keramat, melainkan untuk menobatkan setiap luka yang telah kau taklukkan dalam gulung-balat. Jejak langkahmu yang dulu retak kini menjelma iring arwah yang tak lagi tersesat, gumpal getir yang pernah kau telan tanpa suara kini berubah menjadi mantra penangkal lingat, pun jagat ikut merunduk dalam tunduk paling khidmat.
❤10🏆5🕊4🆒2🍓1🎄1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Thinking about you~ Aku pastiin kalian bukan game, Seroja~ :3 Edisi bergoyang disuruh adek Jane, karna katanya aku gak pernah joget.
2❤10🏆7🕊4🍓3🆒3😍2👀2❤🔥1
Forwarded from SOLMARE: Inherited By Sun & Sea.
ᅠᅠㅤㅤᅠᅠㅤ
Today at 7:00 PM, as we celebrated Roesjad's Anton birthday, he invited Solmare's Wonbin to join us for a fancy dinner. The night was filled with plates of delicious food we couldn's get enough of, bought a beautiful bouquet and somewhere in between, Roesjad's Anton managed to capture a beautifully candid moment of Solmare's Wonbin. Under the glow of city lights, we shared stories, laughed over the simplest jokes, and let time slip by unnoticed until suddenly, it was already 9:00 PM. So we headed home with hearts full, carrying so many things left unsaid and an endless list of moments yet to create together. And they whispered each other, "I love you for all the tomorrows waiting for us."
ᅠᅠㅤㅤᅠᅠㅤ
Today at 7:00 PM, as we celebrated Roesjad's Anton birthday, he invited Solmare's Wonbin to join us for a fancy dinner. The night was filled with plates of delicious food we couldn's get enough of, bought a beautiful bouquet and somewhere in between, Roesjad's Anton managed to capture a beautifully candid moment of Solmare's Wonbin. Under the glow of city lights, we shared stories, laughed over the simplest jokes, and let time slip by unnoticed until suddenly, it was already 9:00 PM. So we headed home with hearts full, carrying so many things left unsaid and an endless list of moments yet to create together. And they whispered each other, "I love you for all the tomorrows waiting for us."
ᅠᅠㅤㅤᅠᅠㅤ
❤8🕊5💘5❤🔥3⚡1🥰1🏆1🍓1