MISI MENCARI DEGEM β€’ π—§π—›π—˜ 𝗠𝗒π—₯π—šπ—”π—‘π—©π—’π—¦ π—˜π—«π—˜π—₯π—–π—œπ—§π—¨π—¦
13.6K subscribers
705 photos
51 videos
168 files
40 links
CHAPT XVII ━╋ ᛨ OFFICIALLY SINCE, 28 OCTOBER 2024 βš”οΈ β€£ .. β€œJustice focuses on a consideration of time” #SOLIDARITY expose. recorded by identify agent 20:14 β“˜

➣ ⎈ AGENT OFC BOT : @Thegansrobot
➣ ⎈ MEDIA PARTNER AGENT : @PSTHEGANSROBOT ( Open )
Download Telegram
───┼ IX. Nostalgic Dance Wave


── Nicholas γ€ŒπŸŽ™ 」 Oke, sekarang masuk lagu yang begitu diputar langsung bikin orang bilang, β€œwah ini lagu lama tapi enak banget.” Stereo Love β€” Edward Maya & Vika Jigulina tuh punya magic nostalgia yang tidak pernah gagal.

── Yotha γ€ŒπŸŽ™ 」 Intro accordion-nya aja udah khas banget. Orang biasanya langsung senyum sendiri, terus dance nya jadi lebih santai bukan lompat, tapi groove pelan yang bikin suasana terasa dreamy.

── Willfred γ€ŒπŸŽ™ 」 Lagu ini cocok buat fase party yang udah agak larut. Energinya nggak liar, tapi justru bikin semua orang tetap di lantai dansa sambil menikmati vibe malam yang mulai terasa hangat dan sedikit sentimental.

── Nicholas γ€ŒπŸŽ™ 」 Kadang justru lagu kayak gini yang bikin party terasa cinematic. Semua masih bergerak, lampu redup, dan rasanya kayak adegan ending film yang pengen ditahan lebih lama.
❀‍πŸ”₯1❀1πŸ”₯1😍1
───┼ X. The Closing Song


── Nicholas γ€ŒπŸŽ™
」 Dan akhirnya kita sampai di lagu penutup yang rasanya pas banget buat akhir party yaitu One More Night β€” Maroon 5. Lagu ini tuh punya vibe bittersweet, masih bisa dance tapi udah ada rasa β€œmalamnya mau selesai.”

── Yotha γ€ŒπŸŽ™ 」 Biasanya di titik ini orang udah mulai capek tapi nggak mau pulang dulu. Jadi mereka tetap nyanyi bareng, gerak pelan, sambil menikmati sisa energi terakhir sebelum lampu benar-benar nyala.

── Willfred γ€ŒπŸŽ™ 」 Yang bikin lagu ini cocok jadi closing adalah ritmenya stabil dan easy listening. Nggak terlalu hype, nggak terlalu slow jadi kayak transisi alami dari party mode balik ke real life.

── Nicholas γ€ŒπŸŽ™ 」 Dan ya, ini momen dimana semua orang sadar malamnya seru banget. Foto terakhir diambil, tawa masih ada, dan lagu ini jadi soundtrack perfect buat mengakhiri party dengan perasaan hangat.
❀1❀‍πŸ”₯1πŸ”₯1πŸ‘€1πŸ’˜1
── Nicholas γ€ŒπŸŽ™ 」 Memang suasana di party bisa berubah tergantung lagu yang di mainkan ya. Tapi tentunya yang sering kali di mainkan adalah lagu yang up beat, agar tamu bisa mengikuti tempo dan juga menari bersama!

── Yotha γ€ŒπŸŽ™ 」 Setuju! Kalau hanya lagu up beat kadang membuat tamu menjadi lelah, jadi penggantian hawa itu kadang di perlukan. Apalagi kalau semua orang mendapatkan 'feel' dan bernyanyi.

── Willfred γ€ŒπŸŽ™ 」 Dan itulah beberapa lagu lagu yang menurut kita memiliki vibes yang cocok saat party! Pastinya masih ada banyak lagu lagu lain yang cocok sih dengan tema party, ada yang kepikiran lagu lain tidak? coba comment di comsect!

── Nicholas γ€ŒπŸŽ™ 」 Sekian dari kami untuk sesi #𝗔π—₯π—§π—˜π—«π—œπ—¨π—¦! Saya mengucapkan Terimakasih karena sudah mengundang saya sebagai Guest Star di sesi ini! Thankyou for the attention, dan jangan lupa untuk menyaksikan sesi sesi berikutnya!
πŸ”₯2πŸ’˜2❀1
──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Selamat sore, Vosian! Sore ini di #𝗔π—₯π—§π—˜π—«π—œπ—¨π—¦, Aku dan Matthew akan mengajak kalian melintasi benua, menuju hamparan salju abadi di Pegunungan Ural, Rusia, tepat di kaki Gunung Kholat Syakhl. Sebuah tempat yang oleh suku lokal Mansi dijuluki sebagai "Gunung Kematian".

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Ini bukan sekadar cerita tentang pendaki yang tersesat di tengah badai. Kita akan membahas sebuah misteri yang membeku dalam waktu sejak tahun 1959, Insiden Dyatlov Pass.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Mengapa sembilan pendaki berpengalaman kehilangan nyawanya secara misterius di Gunung Otorten? Sore ini, kita akan menyusuri jejak mengerikan itu, dari kesaksian tim pencari, bukti-bukti yang janggal, hingga teori fenomena alam.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Mari kita bedah satu per satu, antara sains, konspirasi, dan batas tipis ketakutan manusia di puncak Kholat Syakhl. Yuk, daripada penasaran, kita simak bareng-bareng di #𝗔π—₯π—§π—˜π—«π—œπ—¨π—¦.
IDENTITAS PENDAKI & ALASAN PENDAKIAN


──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Oke, Vosian. Sebelumnya kita harus kenal dulu siapa mereka. Ini bukan rombongan amatir yang sekadar iseng. Mereka adalah 10 pendaki (sebelum satu orang pulang) dari Institut Politeknik Ural yang punya sertifikasi Grade II, artinya mereka ahli di medan salju berat.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Betul, Leon. Mari kita absen dulu β€œThe Dyatlov Ten.” Ada Igor Dyatlov (pemimpin tim), Zinaida Kolmogorova, Lyudmila Dubinina, Alexander Zolotaryov, Yuri Doroshenko, Rustem, Slobodin, Nikolai Thibeaux-Brignolles, Semyon Kolevatov, dan Yuri Yudin.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Nah, pertanyaannya, kenapa mereka ke sana? Kenapa harus ke pegunungan Ural yang mematikan itu di tengah musim dingin Januari 1959?

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Tujuannya satu, Gunung Otorten. Secara harfiah dalam bahasa Mansi, Otorten berarti 'Jangan Pergi ke Sana'. Ironis, ya? Mereka ingin mendapatkan sertifikasi Grade III, tingkatan tertinggi untuk pendaki di Uni Soviet saat itu. Syaratnya, mereka harus menempuh 300 kilometer dalam cuaca ekstrem.
PERJALANAN DI GUNUNG OTORTEN


──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Perjalanan dimulai dari Vizhai pada 25 Januari 1959. Awalnya atmosfernya cukup ceria, mereka sempat menulis di buku harian kalau mereka sangat bersemangat.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Sampai akhirnya "pertanda" pertama muncul di tanggal 28 Januari. Yuri Yudin, anggota ke-10, terpaksa harus balik kanan karena masalah kesehatan, sendi punggungnya kambuh. Tapi tanpa dia tahu, keputusan itu justru yang menyelamatkan nyawanya.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Betul. Sembilan orang sisanya lanjut menembus hutan pinus yang mulai tertutup salju tebal. Perjalanan mereka mulai berat saat memasuki lembah Sungai Lozva. Di sini, cuaca benar-benar mulai menunjukkan taringnya. Jarak pandang mulai terbatas, dan angin dari arah pegunungan Ural mulai menderu seperti suara teriakan.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Tanggal 31 Januari, mereka sampai di kaki dataran tinggi dan mulai membangun labaz, semacam gudang logistik darurat untuk menyimpan makanan dan peralatan yang tidak perlu dibawa ke puncak.
PERJALANAN DI GUNUNG OTORTEN


──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Tapi maut justru datang di tanggal 1 Februari. Rencana awal mereka adalah melewati celah gunung untuk sampai ke sisi lain. Namun karena badai salju dan jarak pandang yang nol besar, mereka tersesat. Alih-alih melewati celah, mereka justru mendaki ke atas menuju lereng Kholat Syakhl.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Kholat Syakhl, dalam bahasa lokal Mansi artinya 'Gunung Kematian'. Dan entah kenapa, bukannya turun mencari perlindungan di hutan yang jaraknya hanya 1,5 kilometer di bawah, Igor justru memerintahkan tim untuk mendirikan tenda tepat di lereng gunung yang gundul dan terbuka itu sekitar jam 5 sore.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Pertanyaan besarnya. Kenapa mereka berhenti di tempat yang begitu terekspos angin kencang? Apakah mereka terlalu lelah untuk turun? Atau apakah Igor ingin melatih mental timnya di medan yang paling brutal sebelum mencapai Otorten?

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Apa pun alasannya, malam itu menjadi malam terakhir bagi mereka. Di dalam tenda yang sempit itu, mereka sempat makan malam dan menulis koran dinding satir berjudul 'The Evening Otorten'. Itu adalah jejak terakhir mereka sebelum "sesuatu" menyerang mereka.
MOMEN KEKACAUAN


──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Pada Malam 1 Februari 1959, suatu dentuman keras terjadi yang membuat mereka ketakutan sampai-sampai para pendaki ahli ini tidak sempat membuka ritsleting tenda. Mereka mengambil pisau dan merobek kain tenda dari dalam. Mereka keluar dengan panik ke suhu βˆ’30Β°C tanpa sepatu, tanpa jaket lengkap, hanya dengan kaus kaki atau pakaian dalam.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Jejak kaki di salju menunjukkan mereka berjalan, bukan berlari, turun ke arah hutan sejauh 1,5 kilometer. Kenapa berjalan? Mungkin karena jarak pandang nol, atau mungkin mereka sedang mengalami trauma hebat. Di sinilah "The Dyatlov Ten" mulai terpecah menjadi tiga kelompok dalam upaya bertahan hidup.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Yuri Doroshenko dan Yuri Krivonischenko ditemukan pertama kali di bawah pohon Cedar besar. Mereka mencoba menyalakan api kecil, tapi gagal. Tangan mereka melepuh karena mencoba memanjat pohon untuk melihat ke arah tenda, dan mereka meninggal karena hipotermia. Tubuh mereka ditemukan hanya mengenakan pakaian dalam.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Igor Dyatlov, Zinaida Kolmogorova, dan Rustem Slobodin tampaknya mencoba kembali ke tenda untuk mengambil logistik. Tapi satu per satu tumbang di antara pohon Cedar dan tenda. Jasad mereka ditemukan dalam posisi menghadap ke arah tenda.
MOMEN KEKACAUAN


──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Empat orang sisanya, Dubinina, Zolotaryov, Thibeaux-Brignolles, dan Kolevatov, ditemukan belakangan di sebuah jurang sedalam 4 meter. Di sinilah kengerian yang sebenarnya terungkap. Berbeda dengan yang lain yang meninggal karena dingin, kelompok ini mengalami cedera fisik yang brutal.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Betul, Matt. Thibeaux-Brignolles mengalami retak tengkorak yang parah. Dubinina dan Zolotaryov menderita patah tulang rusuk yang sangat hebat, setara dengan hantaman kecelakaan mobil berkecepatan tinggi. Dan yang paling mengerikan, Lyudmila Dubinina kehilangan lidah dan matanya.

──Matthew γ€ŒπŸŽ™ 」 Yang aneh, tidak ada tanda-tanda perkelahian atau serangan dari manusia lain. Tidak ada jejak kaki orang asing. Hanya ada mereka bersembilan, alam yang mengamuk, dan sebuah misteri yang tidak terpecahkan selama puluhan tahun.

──Leon γ€ŒπŸŽ™ 」 Tekanan internal yang sangat besar menghancurkan tulang rusuk mereka, tapi kulit mereka tidak lecet. Seolah-olah mereka diremas oleh kekuatan yang tidak terlihat.