☀🌍🌙🌌 MATAHARI MENGELILINGI BUMI, atau
BUMI MENGELILINGI MATAHARI??
---------------------
📜 Apa Hukum Orang yang Mengatakan bahwa Matahari Beredar/Bergerak?
asy-Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjawab :
"Matahari beredar, Matahari berjalan. Apabila yang dimaksud dengan "beredar" adalah berjalan, maka tidak mengapa, insya Allah.
🔥⛵❌ Namun yang BERBAHAYA adalah menyatakan bahwa Matahari TETAP (tidak bergerak) dan Bumi beredar mengelilingi Matahari!! Ini adalah KEKUFURAN. Karena ucapan tersebut MENDUSTAKAN KITABULLAH, MENDUSTAKAN ALLAH, MENDUSTAKAN RASUL-NYA, dan MENDUSTAKAN KITAB-NYA.
Teori ini telah mati. Teori ini - sebagaimana aku baca - ada sejak abad kedelapan belas.
Sebagian orang mengatakan - sebagai bentuk ejekan terhadap pertanyaan seperti itu (yaitu Matahari diam, pen) - bahwa "Matahari yang diam itu Matahari pada abad kedelapan belas. Adapun Matahari abad kedua puluh, maka dia berjalan!"
Ilmu telah menetapkan - walhamdulillah - bahwa Matahari bergerak. Ini termasuk mukjizat al-Qur'an, Allah berfirman (artinya) : "Matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan al-'Aziz al-'Alim." (QS. Yasin 38)
✉📚 dari Tanya Jawab muhadharah "Fadhl al-'Ilmi wa Ahlihi". Lihat kitab "Marhaban Ya Thalibal 'Ilmi", hal. 361
••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~
BUMI MENGELILINGI MATAHARI??
---------------------
📜 Apa Hukum Orang yang Mengatakan bahwa Matahari Beredar/Bergerak?
asy-Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjawab :
"Matahari beredar, Matahari berjalan. Apabila yang dimaksud dengan "beredar" adalah berjalan, maka tidak mengapa, insya Allah.
🔥⛵❌ Namun yang BERBAHAYA adalah menyatakan bahwa Matahari TETAP (tidak bergerak) dan Bumi beredar mengelilingi Matahari!! Ini adalah KEKUFURAN. Karena ucapan tersebut MENDUSTAKAN KITABULLAH, MENDUSTAKAN ALLAH, MENDUSTAKAN RASUL-NYA, dan MENDUSTAKAN KITAB-NYA.
Teori ini telah mati. Teori ini - sebagaimana aku baca - ada sejak abad kedelapan belas.
Sebagian orang mengatakan - sebagai bentuk ejekan terhadap pertanyaan seperti itu (yaitu Matahari diam, pen) - bahwa "Matahari yang diam itu Matahari pada abad kedelapan belas. Adapun Matahari abad kedua puluh, maka dia berjalan!"
Ilmu telah menetapkan - walhamdulillah - bahwa Matahari bergerak. Ini termasuk mukjizat al-Qur'an, Allah berfirman (artinya) : "Matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan al-'Aziz al-'Alim." (QS. Yasin 38)
✉📚 dari Tanya Jawab muhadharah "Fadhl al-'Ilmi wa Ahlihi". Lihat kitab "Marhaban Ya Thalibal 'Ilmi", hal. 361
••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~
👍2
---------------------
🔅📟 SEJARAH NAJD dan HUBUNGANNYA DENGAN DAULAH ‘UTSMANIYYAH
- Bagian 5⃣ -
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh)
-----------------------------
Ⓜ🚪 Kondisi Politik dan Keamanan Daulah ‘Utsmaniyyah di Masa itu
💦 Banyak pihak menangisi dan meratapi keruntuhan Daulah ‘Utsmaniyyah.
👉 Namun sangat disayangkan, tangisan dan ratapan tersebut TIDAK DISERTAI dengan sikap yang adil dan ilmiah untuk menjadikannya sebagai pelajaran dan upaya instrospeksi diri, mengapa dan apa sebab-sebab keruntuhan Daulah ‘Utsmaniyyah.
🌑⚫ Yang ada justru sikap mengkambinghitamkan pihak-pihak terten-tu. Dalam hal ini YANG MENJADI SASARANNYA adalah dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. 👊 Dakwah ini dinyatakan sebagai salah satu biang keladi runtuhnya Daulah ‘Utsmaniyyah.
🌍🍁 Padahal kalau mereka mau jujur dan mempelajari dengan seksama, bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah TELAH HILANG KEKUATAN dan WIBAWANYA sejak JAUH HARI sebelum kelahiran Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
📖 Disebutkan oleh Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah Al-‘Ubud dalam disertasi doktoral-nya yang berjudul ‘Aqidatu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam Al-Islami (Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Serta Pengaruhnya Dalam Dunia Islam): “Bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah secara menyeluruh sejak awal abad ke-12 H -yaitu sejak jauh hari sebelum munculnya dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab- TELAH MELEMAH, bahkan secara de facto (kenyataan) dinyatakan FI HUKMIZ ZAWAL (dihukumi/ dianggap tidak ada).
Banyak penguasanya yang telah tunduk bertekuk lutut di hadapan beberapa negara kafir pada waktu itu, baik negara-negara Eropa Barat maupun Eropa Timur.
📂📰 Hal itu ditandai dengan adanya penanda-tanganan Perjanjian Damai Karlpetes di wilayah Tenggara Zagreb (ibukota Croatia sekarang, red.) dekat Sungai Danube pada tahun 1110 H, bertepatan dengan 1699 M5 dengan Pemerintahan Rusia. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Mushthafa II. Hal itu merupakan bukti resmi KELEMAHAN mereka untuk melindungi negaranya dari kekuatan negara-negara Nashara yang memusuhi Islam dan kaum muslimin.
🚫 Akibat kelemahan tersebut, negara-negara Eropa (Barat) berambisi untuk melemahkan Daulah ‘Utsmaniyyah secara menyeluruh.
Barat menggelari penguasa Dinasti ‘Utsmani pada waktu itu sebagai penguasa yang sedang sakit. Kemudian Barat sepakat untuk mulai membagi-bagi ‘warisan’ dari penguasa Dinasti ‘Utsmani ini kepada negara-negara kafir yang bersekutu dengan mereka pada waktu itu. Namun terjadi perselisihan di antara mereka tentang rincian hak masing-masing negara sekutu dari ‘warisan’ tersebut. Perselisihan yang terjadi antara mereka itu menyebabkan tertundanya makar peruntuhan total Daulah ‘Utsmaniyyah dalam beberapa waktu lamanya.
⏳ Secara kenyataan, Penguasa Dinasti ‘Utsmaniyyah tidak lagi memiliki kekuasaan dan wewenang apapun dalam pemerintahan. Kekuasaan dan wewenang pada waktu itu justru ada pada beberapa menterinya yang kebanyakan mereka adalah unsur-unsur asing dari Eropa dan dari kalangan Yahudi yang menampakkan keislaman, dan terdiri pula dari orang-orang yang silau dan kagum terhadap kafir Nashara. Akibat dari ini semua, muncul sejumlah pemberontakan, kerusuhan, atau pembunuhan. Bahkan sebagian menteri dan penguasa di daerah melakukan gerakan revolusi dengan membentuk pemerintahan-pemerintahan kecil.
📒 Muhammad Kamal Jam’ah berkata dalam kitabnya Al-Intisyar: “Di kala itu, istana negara dan para menteri serta orang-orang penting negara telah dipenuhi dengan wanita-wanita tawanan perang, yang ternyata wanita-wanita asing tersebut berfungsi sebagai mata-mata dalam gerakan spionase yang dilancarkan negara-negara kafir terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah.”
🔒 Keadaan Daulah ‘Utsmaniyyah sebagaimana tersebut di atas semakin diperlemah dengan adanya perselisihan-perselisihan yang terjadi baik di dalam maupun di luar negeri dan adanya gerakan-gerakan separatis dari daerah-daerah kekuasaannya yang ingin melepaskan diri dari Daulah (lihat At-Tarikh…, Al-‘Ajlani, hal. 47) sehingga pada akhirnya
🔅📟 SEJARAH NAJD dan HUBUNGANNYA DENGAN DAULAH ‘UTSMANIYYAH
- Bagian 5⃣ -
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh)
-----------------------------
Ⓜ🚪 Kondisi Politik dan Keamanan Daulah ‘Utsmaniyyah di Masa itu
💦 Banyak pihak menangisi dan meratapi keruntuhan Daulah ‘Utsmaniyyah.
👉 Namun sangat disayangkan, tangisan dan ratapan tersebut TIDAK DISERTAI dengan sikap yang adil dan ilmiah untuk menjadikannya sebagai pelajaran dan upaya instrospeksi diri, mengapa dan apa sebab-sebab keruntuhan Daulah ‘Utsmaniyyah.
🌑⚫ Yang ada justru sikap mengkambinghitamkan pihak-pihak terten-tu. Dalam hal ini YANG MENJADI SASARANNYA adalah dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. 👊 Dakwah ini dinyatakan sebagai salah satu biang keladi runtuhnya Daulah ‘Utsmaniyyah.
🌍🍁 Padahal kalau mereka mau jujur dan mempelajari dengan seksama, bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah TELAH HILANG KEKUATAN dan WIBAWANYA sejak JAUH HARI sebelum kelahiran Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
📖 Disebutkan oleh Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah Al-‘Ubud dalam disertasi doktoral-nya yang berjudul ‘Aqidatu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam Al-Islami (Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Serta Pengaruhnya Dalam Dunia Islam): “Bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah secara menyeluruh sejak awal abad ke-12 H -yaitu sejak jauh hari sebelum munculnya dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab- TELAH MELEMAH, bahkan secara de facto (kenyataan) dinyatakan FI HUKMIZ ZAWAL (dihukumi/ dianggap tidak ada).
Banyak penguasanya yang telah tunduk bertekuk lutut di hadapan beberapa negara kafir pada waktu itu, baik negara-negara Eropa Barat maupun Eropa Timur.
📂📰 Hal itu ditandai dengan adanya penanda-tanganan Perjanjian Damai Karlpetes di wilayah Tenggara Zagreb (ibukota Croatia sekarang, red.) dekat Sungai Danube pada tahun 1110 H, bertepatan dengan 1699 M5 dengan Pemerintahan Rusia. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Mushthafa II. Hal itu merupakan bukti resmi KELEMAHAN mereka untuk melindungi negaranya dari kekuatan negara-negara Nashara yang memusuhi Islam dan kaum muslimin.
🚫 Akibat kelemahan tersebut, negara-negara Eropa (Barat) berambisi untuk melemahkan Daulah ‘Utsmaniyyah secara menyeluruh.
Barat menggelari penguasa Dinasti ‘Utsmani pada waktu itu sebagai penguasa yang sedang sakit. Kemudian Barat sepakat untuk mulai membagi-bagi ‘warisan’ dari penguasa Dinasti ‘Utsmani ini kepada negara-negara kafir yang bersekutu dengan mereka pada waktu itu. Namun terjadi perselisihan di antara mereka tentang rincian hak masing-masing negara sekutu dari ‘warisan’ tersebut. Perselisihan yang terjadi antara mereka itu menyebabkan tertundanya makar peruntuhan total Daulah ‘Utsmaniyyah dalam beberapa waktu lamanya.
⏳ Secara kenyataan, Penguasa Dinasti ‘Utsmaniyyah tidak lagi memiliki kekuasaan dan wewenang apapun dalam pemerintahan. Kekuasaan dan wewenang pada waktu itu justru ada pada beberapa menterinya yang kebanyakan mereka adalah unsur-unsur asing dari Eropa dan dari kalangan Yahudi yang menampakkan keislaman, dan terdiri pula dari orang-orang yang silau dan kagum terhadap kafir Nashara. Akibat dari ini semua, muncul sejumlah pemberontakan, kerusuhan, atau pembunuhan. Bahkan sebagian menteri dan penguasa di daerah melakukan gerakan revolusi dengan membentuk pemerintahan-pemerintahan kecil.
📒 Muhammad Kamal Jam’ah berkata dalam kitabnya Al-Intisyar: “Di kala itu, istana negara dan para menteri serta orang-orang penting negara telah dipenuhi dengan wanita-wanita tawanan perang, yang ternyata wanita-wanita asing tersebut berfungsi sebagai mata-mata dalam gerakan spionase yang dilancarkan negara-negara kafir terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah.”
🔒 Keadaan Daulah ‘Utsmaniyyah sebagaimana tersebut di atas semakin diperlemah dengan adanya perselisihan-perselisihan yang terjadi baik di dalam maupun di luar negeri dan adanya gerakan-gerakan separatis dari daerah-daerah kekuasaannya yang ingin melepaskan diri dari Daulah (lihat At-Tarikh…, Al-‘Ajlani, hal. 47) sehingga pada akhirnya
Daulah ‘Utsmaniyyah terpaksa meninggalkan kekuasaannya di negeri Yaman disebabkan adanya revolusi para pimpinan Shan’a melawan mereka. Hingga kemudian terpaksa pula mereka hengkang dari Al-Ahsa` disebabkan revolusi perlawanan dari pimpinan Bani Khalid, Barak bin Gharir serta para pengikutnya pada tahun 1080 H. (lihat ‘Unwanul Majd fi Tarikh Najd, karya Ibnu Bisyr) –sekian keterangan Asy-Syaikh Shalih Al-‘Ubud
⛵ bersambung, insya Allah
💻 sumber http://manhajul-anbiya.net
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
⛵ bersambung, insya Allah
💻 sumber http://manhajul-anbiya.net
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
---------------------
🔅📟 SEJARAH NAJD dan HUBUNGANNYA DENGAN DAULAH ‘UTSMANIYYAH
- Bagian 6⃣ -
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh)
-----------------------------
🌋 Kondisi Aqidah dan Keagamaan Daulah ‘Utsmaniyyah
🏤❌ Daulah ‘Utsmaniyyah ternyata adalah daulah yang BANYAK DIPENGARUHI AQIDAH TASHAWWUF, mendukung penuh gerakan Shufi dengan berbagai macam tarekat-tarekatnya, yang sangat BERTENTANGAN dengan Islam dan tauhid.
👎 Dalam pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyyah telah masuk berbagai macam bentuk adat, termasuk sebagian adat peribadatan Nashara, seperti :
▪cara kehidupan kependetaan yang dikenal dengan Ar-Rahbaniyyah,
▪melantunkan dzikir-dzikir dengan lantunan nada diiringi tari-tarian, disertai pula teriakan-teriakan dan tepuk tangan.
👎 Berbagai macam bentuk peringatan maulid, dan berbagai macam aliran bid’ah yang lainnya.
👎 Bahkan telah masuk pula adat istiadat Hindu, Persia, dan Yunani dengan berbagai macam dakwah aqidah yang menyesatkan. Seperti :
🔥 aqidah Al-Hulul dan Al-Ittihad serta Wihdatul Wujud (aqidah yang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana dan telah menyatu dengan dzat makhluk-makhluk-Nya, atau sering dikenal di negeri Indonesia ini dengan manunggaling kawula gusti). Aqidah ini merupakan aqidah sesat dan menyesatkan yang dimotori tokoh-tokoh sesat tashawwuf semacam Al-Hallaj dan yang lainnya.
💉 Pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyyah beranggapan bahwa gerakan tashawwuf merupakan inti agama Islam. Sehingga para penguasanya benar-benar menghormati dan merendahkan dirinya di hadapan tokoh-tokoh tashawwuf serta berlebihan dalam mengagungkan mereka.
🚨🔥 Di negeri tersebut dan daerah-daerah kekuasaannya, dipenuhi dengan kubur-kubur yang diagungkan dan dikeramatkan dengan didirikan kubah-kubah di atasnya.
👉 Hal itu dilindungi secara resmi oleh Daulah ‘Utsmaniyyah, sehingga banyak umat yang berdatangan ke kubur-kubur dalam rangka mengagungkannya.
🔥 Demikian juga menyembelih qurban dan bernadzar untuk selain Allah telah tersebar luas dan merata di Daulah ‘Utsmaniyyah. Doa dan istighatsah kepada kubur merupakan suatu keadaan yang menyelimuti negeri tersebut.
💨💥 Gambaran dan kondisi Daulah ‘Utsmaniyyah yang bobrok dan bejat aqidahnya seperti di atas, telah ada JAUH SEBELUM dilahirkannya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
🌑👊 Semua itu berakibat semakin lemahnya Daulah ‘Utsmaniyyah, tercerai berainya persatuan mereka, sehingga mereka benar-benar lemah di hadapan musuh-musuhnya.
📁🔨🚫 Hilang wibawa mereka sehingga dengan penuh kerendahan dan kehinaan mereka harus menandatangani perjanjian damai dengan negara-negara kafir, yang menunjukkan betapa lemahnya Daulah ‘Utsmaniyyah. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah TIDAK menjunjung tinggi tauhid dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Allah tidak memberikan pertolongan-Nya kepada mereka. Telah hilang dari mereka janji Allah dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7)
📵 Mereka tercerai berai karena mereka telah meninggalkan prinsip dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maha Benar Allah yang telah berkata di dalam kitab-Nya:
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan jangan kalian ikuti as-subul (bid’ah dan syahwat), karena (jalan-jalan itu) menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (Al-An’am: 153)
📛 Dengan tercerai-berainya ini, karena meninggalkan tauhid dan Sunnah, yang kemudian diikuti ambisi masing-masing pihak dalam bentuk berbagai pemberontakan, akhirnya berujung pada hilangnya kekuatan dan kewibawaan mereka di hadapan musuh-musuh-Nya. Hal ini seba-gaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (Al Anfal: 46)
🔎 Dan benar pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah men
🔅📟 SEJARAH NAJD dan HUBUNGANNYA DENGAN DAULAH ‘UTSMANIYYAH
- Bagian 6⃣ -
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh)
-----------------------------
🌋 Kondisi Aqidah dan Keagamaan Daulah ‘Utsmaniyyah
🏤❌ Daulah ‘Utsmaniyyah ternyata adalah daulah yang BANYAK DIPENGARUHI AQIDAH TASHAWWUF, mendukung penuh gerakan Shufi dengan berbagai macam tarekat-tarekatnya, yang sangat BERTENTANGAN dengan Islam dan tauhid.
👎 Dalam pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyyah telah masuk berbagai macam bentuk adat, termasuk sebagian adat peribadatan Nashara, seperti :
▪cara kehidupan kependetaan yang dikenal dengan Ar-Rahbaniyyah,
▪melantunkan dzikir-dzikir dengan lantunan nada diiringi tari-tarian, disertai pula teriakan-teriakan dan tepuk tangan.
👎 Berbagai macam bentuk peringatan maulid, dan berbagai macam aliran bid’ah yang lainnya.
👎 Bahkan telah masuk pula adat istiadat Hindu, Persia, dan Yunani dengan berbagai macam dakwah aqidah yang menyesatkan. Seperti :
🔥 aqidah Al-Hulul dan Al-Ittihad serta Wihdatul Wujud (aqidah yang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana dan telah menyatu dengan dzat makhluk-makhluk-Nya, atau sering dikenal di negeri Indonesia ini dengan manunggaling kawula gusti). Aqidah ini merupakan aqidah sesat dan menyesatkan yang dimotori tokoh-tokoh sesat tashawwuf semacam Al-Hallaj dan yang lainnya.
💉 Pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyyah beranggapan bahwa gerakan tashawwuf merupakan inti agama Islam. Sehingga para penguasanya benar-benar menghormati dan merendahkan dirinya di hadapan tokoh-tokoh tashawwuf serta berlebihan dalam mengagungkan mereka.
🚨🔥 Di negeri tersebut dan daerah-daerah kekuasaannya, dipenuhi dengan kubur-kubur yang diagungkan dan dikeramatkan dengan didirikan kubah-kubah di atasnya.
👉 Hal itu dilindungi secara resmi oleh Daulah ‘Utsmaniyyah, sehingga banyak umat yang berdatangan ke kubur-kubur dalam rangka mengagungkannya.
🔥 Demikian juga menyembelih qurban dan bernadzar untuk selain Allah telah tersebar luas dan merata di Daulah ‘Utsmaniyyah. Doa dan istighatsah kepada kubur merupakan suatu keadaan yang menyelimuti negeri tersebut.
💨💥 Gambaran dan kondisi Daulah ‘Utsmaniyyah yang bobrok dan bejat aqidahnya seperti di atas, telah ada JAUH SEBELUM dilahirkannya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
🌑👊 Semua itu berakibat semakin lemahnya Daulah ‘Utsmaniyyah, tercerai berainya persatuan mereka, sehingga mereka benar-benar lemah di hadapan musuh-musuhnya.
📁🔨🚫 Hilang wibawa mereka sehingga dengan penuh kerendahan dan kehinaan mereka harus menandatangani perjanjian damai dengan negara-negara kafir, yang menunjukkan betapa lemahnya Daulah ‘Utsmaniyyah. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah TIDAK menjunjung tinggi tauhid dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Allah tidak memberikan pertolongan-Nya kepada mereka. Telah hilang dari mereka janji Allah dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7)
📵 Mereka tercerai berai karena mereka telah meninggalkan prinsip dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maha Benar Allah yang telah berkata di dalam kitab-Nya:
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan jangan kalian ikuti as-subul (bid’ah dan syahwat), karena (jalan-jalan itu) menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (Al-An’am: 153)
📛 Dengan tercerai-berainya ini, karena meninggalkan tauhid dan Sunnah, yang kemudian diikuti ambisi masing-masing pihak dalam bentuk berbagai pemberontakan, akhirnya berujung pada hilangnya kekuatan dan kewibawaan mereka di hadapan musuh-musuh-Nya. Hal ini seba-gaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (Al Anfal: 46)
🔎 Dan benar pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah men
👍1
yatakan:
“Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi pihak-pihak yang menyelisihi perintahku.” (HR. Ahmad)
⛵ bersambung, insya Allah
💻 sumber http://manhajul-anbiya.net
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi pihak-pihak yang menyelisihi perintahku.” (HR. Ahmad)
⛵ bersambung, insya Allah
💻 sumber http://manhajul-anbiya.net
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🔅📟 SEJARAH NAJD dan HUBUNGANNYA DENGAN DAULAH ‘UTSMANIYYAH
- Bagian 7⃣ - selesai
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh)
-----------------------------
Ⓜ💠 Jika boleh disimpulkan, bahwa keruntuhan Daulah ‘Utsmaniyyah disebab-kan dua faktor utama:
1⃣ Faktor kelemahan politik dan keamanan Daulah ‘Utsmaniyyah yang ditandai dengan:
🅾 a. Kekalahan dalam perang menghadapi kekuatan kafir Eropa sehingga terpaksa harus menandatangani perjanjian damai, sejak jauh hari sebelum lahirnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
🅾 b. Banyaknya gerakan separatis di daerah yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah.
🅾 c. Keadaan parlemen dan kementerian negara yang telah banyak disusupi oleh kaki tangan asing dalam rangka meruntuhkan kekuatan negara dari dalam.
2⃣ Faktor aqidah dan kehidupan keagamaan pemerintah Daulah ‘Utsmaniyyah maupun rakyatnya, yang telah banyak diwarnai kesyirikan, bid’ah, khurafat, serta kemaksiatan.
👉 Dengan adanya faktor-faktor tersebut di atas, hilanglah kesempatan mereka untuk meraih janji Allah yang disebutkan dalam firman-Nya (artinya) :
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan menger-jakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempesekutukan sesuatu apapun dengan-Ku….” (An-Nur: 55)
Wallahu a’lam.
🚪Selesai, walhamdulillah.
💻 sumber http://manhajul-anbiya.net
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
- Bagian 7⃣ - selesai
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh)
-----------------------------
Ⓜ💠 Jika boleh disimpulkan, bahwa keruntuhan Daulah ‘Utsmaniyyah disebab-kan dua faktor utama:
1⃣ Faktor kelemahan politik dan keamanan Daulah ‘Utsmaniyyah yang ditandai dengan:
🅾 a. Kekalahan dalam perang menghadapi kekuatan kafir Eropa sehingga terpaksa harus menandatangani perjanjian damai, sejak jauh hari sebelum lahirnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
🅾 b. Banyaknya gerakan separatis di daerah yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah.
🅾 c. Keadaan parlemen dan kementerian negara yang telah banyak disusupi oleh kaki tangan asing dalam rangka meruntuhkan kekuatan negara dari dalam.
2⃣ Faktor aqidah dan kehidupan keagamaan pemerintah Daulah ‘Utsmaniyyah maupun rakyatnya, yang telah banyak diwarnai kesyirikan, bid’ah, khurafat, serta kemaksiatan.
👉 Dengan adanya faktor-faktor tersebut di atas, hilanglah kesempatan mereka untuk meraih janji Allah yang disebutkan dalam firman-Nya (artinya) :
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan menger-jakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempesekutukan sesuatu apapun dengan-Ku….” (An-Nur: 55)
Wallahu a’lam.
🚪Selesai, walhamdulillah.
💻 sumber http://manhajul-anbiya.net
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
👍1
🌼1⃣🌅 METODE TEPAT MEMPEROLEH ILMU
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
Wajib atas Penuntut Ilmu Syar'i untuk memenuhi dua hal, atau bahkan tiga perkara yang merupakan jalan untuk mendapatkan Ilmu.
✳ Tiga perkara tersebut adalah:
1⃣ Membaca.
2⃣ Menghafal.
3⃣ Mendengar
....................................
📖👓 MEMBACA.
⌚🔑 Hendaknya dia menyediakan waktu untuk membaca kitab-kitab (para ulama, pen). Juga meringkasnya, dan mempelajarinya.
📌🅾 Wajib baginya untuk menyediakan jadwal harian untuk membaca dan memilih kitab yang sesuai dengan kemampuan ilmiyahnya. Janganlah dia beranjak ke kitab dengan tingkatan yang lebih tinggi, sehingga ia mengalami berbagai masalah yang akan kami jelaskan nanti Insya Allah.
.......................................
Bersambung.....
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
Wajib atas Penuntut Ilmu Syar'i untuk memenuhi dua hal, atau bahkan tiga perkara yang merupakan jalan untuk mendapatkan Ilmu.
✳ Tiga perkara tersebut adalah:
1⃣ Membaca.
2⃣ Menghafal.
3⃣ Mendengar
....................................
📖👓 MEMBACA.
⌚🔑 Hendaknya dia menyediakan waktu untuk membaca kitab-kitab (para ulama, pen). Juga meringkasnya, dan mempelajarinya.
📌🅾 Wajib baginya untuk menyediakan jadwal harian untuk membaca dan memilih kitab yang sesuai dengan kemampuan ilmiyahnya. Janganlah dia beranjak ke kitab dengan tingkatan yang lebih tinggi, sehingga ia mengalami berbagai masalah yang akan kami jelaskan nanti Insya Allah.
.......................................
Bersambung.....
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼2⃣🌅 METODE TEPAT MEMPEROLEH ILMU
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
📠📟 MENGHAFAL.
Begitupula ia juga harus menyediakan jadwal untuk menghafal.
✅ Pertama kali yang harus dia hafal adalah Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala. Dia harus bersungguh-sungguh menghafalkan Kalamullah Azza wa Jalla (Al-Quran). Dia harus selalu memiliki hubungan dengan Al-Quran dan punya jadwal untuk membacanya sehingga ia tidak termasuk dalam firman Allah:
(وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا)
Artinya: "Rasul shalallahu alaihi wa sallam berkata: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan". [Surat Al-Furqan 30]
✅ Begitupula ia menghafalkan matan-matan ilmiah di berbagai bidang studi yang mudah baginya dan secara berurutan.
......................................................
Bersambung...
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝 📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
📠📟 MENGHAFAL.
Begitupula ia juga harus menyediakan jadwal untuk menghafal.
✅ Pertama kali yang harus dia hafal adalah Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala. Dia harus bersungguh-sungguh menghafalkan Kalamullah Azza wa Jalla (Al-Quran). Dia harus selalu memiliki hubungan dengan Al-Quran dan punya jadwal untuk membacanya sehingga ia tidak termasuk dalam firman Allah:
(وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا)
Artinya: "Rasul shalallahu alaihi wa sallam berkata: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan". [Surat Al-Furqan 30]
✅ Begitupula ia menghafalkan matan-matan ilmiah di berbagai bidang studi yang mudah baginya dan secara berurutan.
......................................................
Bersambung...
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝 📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼3⃣ 🌅 METODE TEPAT MEMPEROLEH ILMU
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
🌍⛵ MENDENGARKAN.
🚧 Janganlah yang menjadi syaikhmu (gurumu, pen) adalah kitab saja. Ini adalah realita nyata yang dijumpai. Hal ini banyak kita dapatkan pada orang otodidak (belajar sendiri tanpa guru) - katanya - ternyata tidak semangat menghadiri durus (pelajaran-pelajaran) yang disampaikan oleh para Ulama, tidak pula duduk di hadapan mereka, tidak pula belajar dari Para Masyaikh Sunnah.
👉🔥 Kau dapati hasil akhirnya bermunculan darinya berbagai kesesatan, kebid'ahan, penyimpanan dalam keadaan ia tidak menyadari, bahkan menyangkanya sebagai Al-Haq.
💡 Inilah prinsipnya. Maka dari itu, terdapat atsar dari Al-Imam Malik rahimahullah:
لا يؤخذ العلم من ثلاث
Artinya: "Ilmu tidaklah diambil dari 3 golongan"
Di antaranya beliau sebutkan:
و من لم يعرف بالرحلة في طلب الحديث.
"Orang-orang yang tidak dikenal pernah rihlah (bepergian, pen) untuk belajar hadits"
⛵🚩 Apa maksudnya "RIHLAH fii thalabil hadits"? Maknanya adalah : BERJUMPA dengan para Ulama dan BELAJAR LANGSUNG dibawah bimbingan mereka.
Bersambung...
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
🌍⛵ MENDENGARKAN.
🚧 Janganlah yang menjadi syaikhmu (gurumu, pen) adalah kitab saja. Ini adalah realita nyata yang dijumpai. Hal ini banyak kita dapatkan pada orang otodidak (belajar sendiri tanpa guru) - katanya - ternyata tidak semangat menghadiri durus (pelajaran-pelajaran) yang disampaikan oleh para Ulama, tidak pula duduk di hadapan mereka, tidak pula belajar dari Para Masyaikh Sunnah.
👉🔥 Kau dapati hasil akhirnya bermunculan darinya berbagai kesesatan, kebid'ahan, penyimpanan dalam keadaan ia tidak menyadari, bahkan menyangkanya sebagai Al-Haq.
💡 Inilah prinsipnya. Maka dari itu, terdapat atsar dari Al-Imam Malik rahimahullah:
لا يؤخذ العلم من ثلاث
Artinya: "Ilmu tidaklah diambil dari 3 golongan"
Di antaranya beliau sebutkan:
و من لم يعرف بالرحلة في طلب الحديث.
"Orang-orang yang tidak dikenal pernah rihlah (bepergian, pen) untuk belajar hadits"
⛵🚩 Apa maksudnya "RIHLAH fii thalabil hadits"? Maknanya adalah : BERJUMPA dengan para Ulama dan BELAJAR LANGSUNG dibawah bimbingan mereka.
Bersambung...
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
👍1
🌼4⃣ 🌅 METODE TEPAT MEMPEROLEH ILMU
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
💻 Hal ini, wahai saudara-saudaraku seperti yang aku jelaskan, kemudahan di zaman kita sekarang lebih banyak daripada kemudahan di masa lalu. Al-Imam Ahmad rahimahullah -sebagaimana kita diketahui- termasuk penduduk kota Baghdad, Irak. Beliau pergi (rihlah) ke Yaman belajar kepada Al-Fadhl bin Dukain bersama Al-Imam Yahya bin Ma'in rahimahullah. Mereka berangkat, dan ketika itu sedang musim haji. Mereka berkata:
نذهب إلى الحرمين فنحجُّ، و نلتقي بعلماء الحرم، ثم نرحل إلى اليمن.
"Kita akan pergi ke Negeri Haramain, lalu berhaji. Kita akan menemui para Ulama Negeri Haram (untuk menimba ilmu kepada mereka, pen), kemudian kita akan melanjutkan pergi ke Yaman".
🔦 Perhatikanlah rihlah tersebut. Perjalanan yang panjang. Mereka duduk (di hadapan syaikh yang menjadi tujuan rihlahnya) berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mereka rihlah ke Yaman.
Allah Azza wa Jalla memberi kemudahan Al-Fadhl pula berhaji pada tahun tersebut. Al-Imam Yahya rahimahullah berkata:
يسر الله عز و جل عنا تلك الرحلة، فنأخذ العلم منه هنا.
Artinya: "Allah memudahkan untuk kita rihlah tersebut. Kalau begitu kita mengambil ilmu darinya (Fadhl bin Dukain) disini saja. "
✊❗ Maka Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan - ini menunjukkan pada tekad dan keinginan yang bulat untuk rihlah - :
لا أقطع نية نويتها لله، بل نرحل إلى اليمن معه
Artinya: "Aku tidak akan memutuskan niatku yang telah aku niatkan untuk Allah. Kita akan tetap melanjutkan rihlah ke Yaman bersamanya (Fadhl bin Dukain)!!"
⛵🅾 Mereka pun akhirnya rihlah ke Yaman bersama Al-Fadhl bin Dukain rahimahullah.
Contoh yang semisal ini banyak.
📠📻🔊 Di masa kita sekarang ada berbagai radio. Para Ulama ada. Dengarkan (siaran muhadharahnya, pen) jika kau belum bisa berjumpa langsung dengan mereka. Dengan tetap diiringi semangat yang tinggi untuk berjumpa dan belajar di bawah bimbingan mereka. Terkhusus sedikitnya jumlah mereka di zaman ini yang diketahui berakidah bersih dan bermanhaj dengan Manhaj Salafus Shalih.
🔎📮 Bersemangatlah untuk berjumpa dan pergi belajar (rihlah) kepada mereka.
📡📻 Jika hal tersebut belum bisa engkau lakukan, makaradio-radio Ahlussunnah (yang menyiarkan pelajaran-pelajaran para Ulama, pen) dan rekaman-rekaman mereka begitu mudah didapat.
🎒👉 Dengarkanlah dan bacalah kitab-kitab mereka beserta syarahnya. JALINLAH HUBUNGAN DENGAN AHLUL ILMI.
❗📌 Maka, bersandar semata kepada kitab, tanpa merujuk kepada Para Ulama, termasuk rintangan yang menghalangi seorang Penuntut Ilmu untuk sampai kepada tingkatan Ulama.
🌾 Sulaiman bin Musa Al-Faqih rahimahullah berkata:
كانوا يقولون لا تأخذ القرآن عن المصحفيين، و لا العلم عن صحفيّ.
Artinya: "Dahulu mereka (Salaf) berkata: "Jangan kalian mengambil Al-Quran (mempelajari) dari Mushafiyyin, jangan pula mengambil ilmu dari Suhufy".
🚫 "Al-Mushafiy": maknanya adalah orang yang mempelajari Al-Quran tanpa merujuk kepada Al-Qurra (Orang yang berilmu tentang Al-Quran), juga tidak mendengarkan darinya. Engkau akan mendapati beragam kesalahan pada orang-orang yang belajar Al-Quran hanya dari mushaf.
❌ Demikian juga orang yang belajar dari "Suhufy". Suhuf yang dimaksud adalah kumpulan kertas yaitu kitab-kitab, tanpa merujuk kepada Para Ulama. Tidaklah diambil ilmu dari mereka.
🌹🌻 Seyogyanya bagi Penuntut Ilmu untuk bersemangat dalam bab ini.
Selesai
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝 📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🔊 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------
💻 Hal ini, wahai saudara-saudaraku seperti yang aku jelaskan, kemudahan di zaman kita sekarang lebih banyak daripada kemudahan di masa lalu. Al-Imam Ahmad rahimahullah -sebagaimana kita diketahui- termasuk penduduk kota Baghdad, Irak. Beliau pergi (rihlah) ke Yaman belajar kepada Al-Fadhl bin Dukain bersama Al-Imam Yahya bin Ma'in rahimahullah. Mereka berangkat, dan ketika itu sedang musim haji. Mereka berkata:
نذهب إلى الحرمين فنحجُّ، و نلتقي بعلماء الحرم، ثم نرحل إلى اليمن.
"Kita akan pergi ke Negeri Haramain, lalu berhaji. Kita akan menemui para Ulama Negeri Haram (untuk menimba ilmu kepada mereka, pen), kemudian kita akan melanjutkan pergi ke Yaman".
🔦 Perhatikanlah rihlah tersebut. Perjalanan yang panjang. Mereka duduk (di hadapan syaikh yang menjadi tujuan rihlahnya) berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mereka rihlah ke Yaman.
Allah Azza wa Jalla memberi kemudahan Al-Fadhl pula berhaji pada tahun tersebut. Al-Imam Yahya rahimahullah berkata:
يسر الله عز و جل عنا تلك الرحلة، فنأخذ العلم منه هنا.
Artinya: "Allah memudahkan untuk kita rihlah tersebut. Kalau begitu kita mengambil ilmu darinya (Fadhl bin Dukain) disini saja. "
✊❗ Maka Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan - ini menunjukkan pada tekad dan keinginan yang bulat untuk rihlah - :
لا أقطع نية نويتها لله، بل نرحل إلى اليمن معه
Artinya: "Aku tidak akan memutuskan niatku yang telah aku niatkan untuk Allah. Kita akan tetap melanjutkan rihlah ke Yaman bersamanya (Fadhl bin Dukain)!!"
⛵🅾 Mereka pun akhirnya rihlah ke Yaman bersama Al-Fadhl bin Dukain rahimahullah.
Contoh yang semisal ini banyak.
📠📻🔊 Di masa kita sekarang ada berbagai radio. Para Ulama ada. Dengarkan (siaran muhadharahnya, pen) jika kau belum bisa berjumpa langsung dengan mereka. Dengan tetap diiringi semangat yang tinggi untuk berjumpa dan belajar di bawah bimbingan mereka. Terkhusus sedikitnya jumlah mereka di zaman ini yang diketahui berakidah bersih dan bermanhaj dengan Manhaj Salafus Shalih.
🔎📮 Bersemangatlah untuk berjumpa dan pergi belajar (rihlah) kepada mereka.
📡📻 Jika hal tersebut belum bisa engkau lakukan, makaradio-radio Ahlussunnah (yang menyiarkan pelajaran-pelajaran para Ulama, pen) dan rekaman-rekaman mereka begitu mudah didapat.
🎒👉 Dengarkanlah dan bacalah kitab-kitab mereka beserta syarahnya. JALINLAH HUBUNGAN DENGAN AHLUL ILMI.
❗📌 Maka, bersandar semata kepada kitab, tanpa merujuk kepada Para Ulama, termasuk rintangan yang menghalangi seorang Penuntut Ilmu untuk sampai kepada tingkatan Ulama.
🌾 Sulaiman bin Musa Al-Faqih rahimahullah berkata:
كانوا يقولون لا تأخذ القرآن عن المصحفيين، و لا العلم عن صحفيّ.
Artinya: "Dahulu mereka (Salaf) berkata: "Jangan kalian mengambil Al-Quran (mempelajari) dari Mushafiyyin, jangan pula mengambil ilmu dari Suhufy".
🚫 "Al-Mushafiy": maknanya adalah orang yang mempelajari Al-Quran tanpa merujuk kepada Al-Qurra (Orang yang berilmu tentang Al-Quran), juga tidak mendengarkan darinya. Engkau akan mendapati beragam kesalahan pada orang-orang yang belajar Al-Quran hanya dari mushaf.
❌ Demikian juga orang yang belajar dari "Suhufy". Suhuf yang dimaksud adalah kumpulan kertas yaitu kitab-kitab, tanpa merujuk kepada Para Ulama. Tidaklah diambil ilmu dari mereka.
🌹🌻 Seyogyanya bagi Penuntut Ilmu untuk bersemangat dalam bab ini.
Selesai
💻 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/
•••••••••••••••••••••••••
🌠📝 📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
👍1
💍🔴1⃣ Berapa Batasan Umur Anak Kecil yang Tidak Boleh Lagi Masuk ke Kaum Wanita, dan seorang Wanita sudah Harus Berhijab di hadapannya?
-------------------------
FATWA al-Lajnah ad-Da`imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’ No. 6011
❓🎒 Pertanyaan : "Seorang anak kecil, kapan dia dilarang masuk kepada kaum wanita asing (yang bukan mahramnya). Dan apa makna firman Allah Ta’ala :
{أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ}
“… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita … “ (an-Nur : 31)
🍊🌳 Jawab :
"Apabila anak itu masih kecil, belum mencapai usia hilm (belum mengalami ihtilam/mimpi basah), belum mengerti hal-hal yang berkaitan dengan kaum wanita, maka dia masih boleh masuk ke kalangan wanita, dan boleh wanita untuk tidak berhijab dari anak tersebut.
📒 Adapun makna firman Allah “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita … “ (an-Nur : 31)
🚞 Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “karena (usianya) yang masih kecil, belum memahami hal-hal terkait dengan kaum wanita dan aurat-aurat mereka, berupa ucapan lemah lembut kaum wanita, lenggak-lengkok kaum wanita dalam berjalan, gerak-gerik, dan diamnya kaum wanita. APABILA ANAK ITU MASIH KECIL BELUM MEMAHAMI HAL-HAL ITU SEMUA, MAKA TIDAK MENGAPA MASUK KEPADA KAUM WANITA (yang bukan mahramnya, pen).
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
💻 http://www.manhajul-anbiya.net/umur-anak-kecil-yang-tidak-boleh-masuk-ke-kalangan-wanita/
••••••••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~
-------------------------
FATWA al-Lajnah ad-Da`imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’ No. 6011
❓🎒 Pertanyaan : "Seorang anak kecil, kapan dia dilarang masuk kepada kaum wanita asing (yang bukan mahramnya). Dan apa makna firman Allah Ta’ala :
{أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ}
“… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita … “ (an-Nur : 31)
🍊🌳 Jawab :
"Apabila anak itu masih kecil, belum mencapai usia hilm (belum mengalami ihtilam/mimpi basah), belum mengerti hal-hal yang berkaitan dengan kaum wanita, maka dia masih boleh masuk ke kalangan wanita, dan boleh wanita untuk tidak berhijab dari anak tersebut.
📒 Adapun makna firman Allah “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita … “ (an-Nur : 31)
🚞 Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “karena (usianya) yang masih kecil, belum memahami hal-hal terkait dengan kaum wanita dan aurat-aurat mereka, berupa ucapan lemah lembut kaum wanita, lenggak-lengkok kaum wanita dalam berjalan, gerak-gerik, dan diamnya kaum wanita. APABILA ANAK ITU MASIH KECIL BELUM MEMAHAMI HAL-HAL ITU SEMUA, MAKA TIDAK MENGAPA MASUK KEPADA KAUM WANITA (yang bukan mahramnya, pen).
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
💻 http://www.manhajul-anbiya.net/umur-anak-kecil-yang-tidak-boleh-masuk-ke-kalangan-wanita/
••••••••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~
Manhajul Anbiya
Umur Anak Kecil yang Tidak Boleh Masuk ke Kalangan Wanita - Manhajul Anbiya
Berapa Batasan Umur Anak Kecil yang Tidak Boleh Lagi Masuk ke Kaum Wanita dan seorang Wanita sudah Harus Berhijab di hadapannya? FATWA al-Lajnah ad-Da`imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’ No. 6011 Pertanyaan : Seorang anak kecil, kapan dia dilarang…
👍4
💍🔴2⃣ Berapa Batasan Umur Anak Kecil yang Tidak Boleh Lagi Masuk ke Kaum Wanita, dan seorang Wanita sudah Harus Berhijab di hadapannya?
-------------------------
📒 Fatwa Nur ‘ala ad-Darb
(asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaiminrahimahullah)
❓🌈 Pertanyaan : "Berapa batas umur seorang anak yang wanita sudah harus berhijab darinya?"
🚉 Jawab :
🍌 "Allah tidak memberikan batasan dengan umur.
Namun Allah berfirman tentang deretan pihak-pihak yang seorang wanita boleh menampakkan perhiasan di hadapnnya, di antaranya : “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita … “ (an-Nur : 31)
🍥✅ Maka, yang menjadikan patokan seorang anak kecil yang wanita masih boleh tidak berhijab darinya adalah : DIA BELUM MENGERTI TENTANG HAL-HAL YANG TERKAIT DENGAN WANITA, dan TIDAK MEMILIKI PERHATIAN TERHADAPNYA.
🔄 Kondisi tersebut berbeda sesuai dengan perbedaan tabiat/watak/insting syahwat seorang anak dan perkembangannya masing-masing.
📦 Bisa jadi anak yang berusia tujuh tahun, dia telah mengalami/mengerti seperti yang dialami/dimengerti oleh anak yang sudah baligh terkait denga kaum wanita. Atau bisa jadi dia sudah mencapai usia 11 tahun, namun belum memiliki perhatian terhadap hal-hal semacam itu, tidak melihatnya, dan tidak terbersit di benaknya sama sekali.
🔖 Kemudian kondisi lingkungan juga berpengaruh. Apabila seorang anak hidup di tengah-tengah kaum/masyarakat yang banyak membicarakan/memperbincangkan tentang kaum perempuan dan hal-hal tentangnya, maka tumbuhlah pada insting syawat tersebut dengan perkembangan yang cepat. Sebaliknya, seorang anak yang hidup di tengah-tengah kaum/masyarakat yang tidak banyak membicarakan/memperbincangkan perkara-perkara seperti itu, maka insting syahwat tersebut pun lemah dan si anak tersebut tidak akan perhatian terhadap hal-hal seperti itu.
🎯 Walhasil, kita lihat kondisi anak.
💥 Apabila dia memandang kepada seorang perempuan cantik tidak seperti ketika dia memandang kepada wanita yang tidak cantik, atau
💥 kita tahu dia memiliki rasa, atau
💥 mencari sesuatu yang menunjukkan bahwa padanya ada syahwat,
👉🏻 maka (jika demikian) WAJIB BERHIJAB DARINYA.
🔒 Jika anak tersebut belum perhatian terhadap hal-hal seperti ini, maka TIDAK WAJIB (berhijab darinya).
📛 Namun tidak diragukan, anak yang telah berusia sepuluh tahun, mayoritas/pada umumnya telah tumbuh insting (syawat) tersebut.
💾 http://www.manhajul-anbiya.net/umur-anak-kecil-yang-tidak-boleh-masuk-ke-kalangan-wanita/
••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~
-------------------------
📒 Fatwa Nur ‘ala ad-Darb
(asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaiminrahimahullah)
❓🌈 Pertanyaan : "Berapa batas umur seorang anak yang wanita sudah harus berhijab darinya?"
🚉 Jawab :
🍌 "Allah tidak memberikan batasan dengan umur.
Namun Allah berfirman tentang deretan pihak-pihak yang seorang wanita boleh menampakkan perhiasan di hadapnnya, di antaranya : “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita … “ (an-Nur : 31)
🍥✅ Maka, yang menjadikan patokan seorang anak kecil yang wanita masih boleh tidak berhijab darinya adalah : DIA BELUM MENGERTI TENTANG HAL-HAL YANG TERKAIT DENGAN WANITA, dan TIDAK MEMILIKI PERHATIAN TERHADAPNYA.
🔄 Kondisi tersebut berbeda sesuai dengan perbedaan tabiat/watak/insting syahwat seorang anak dan perkembangannya masing-masing.
📦 Bisa jadi anak yang berusia tujuh tahun, dia telah mengalami/mengerti seperti yang dialami/dimengerti oleh anak yang sudah baligh terkait denga kaum wanita. Atau bisa jadi dia sudah mencapai usia 11 tahun, namun belum memiliki perhatian terhadap hal-hal semacam itu, tidak melihatnya, dan tidak terbersit di benaknya sama sekali.
🔖 Kemudian kondisi lingkungan juga berpengaruh. Apabila seorang anak hidup di tengah-tengah kaum/masyarakat yang banyak membicarakan/memperbincangkan tentang kaum perempuan dan hal-hal tentangnya, maka tumbuhlah pada insting syawat tersebut dengan perkembangan yang cepat. Sebaliknya, seorang anak yang hidup di tengah-tengah kaum/masyarakat yang tidak banyak membicarakan/memperbincangkan perkara-perkara seperti itu, maka insting syahwat tersebut pun lemah dan si anak tersebut tidak akan perhatian terhadap hal-hal seperti itu.
🎯 Walhasil, kita lihat kondisi anak.
💥 Apabila dia memandang kepada seorang perempuan cantik tidak seperti ketika dia memandang kepada wanita yang tidak cantik, atau
💥 kita tahu dia memiliki rasa, atau
💥 mencari sesuatu yang menunjukkan bahwa padanya ada syahwat,
👉🏻 maka (jika demikian) WAJIB BERHIJAB DARINYA.
🔒 Jika anak tersebut belum perhatian terhadap hal-hal seperti ini, maka TIDAK WAJIB (berhijab darinya).
📛 Namun tidak diragukan, anak yang telah berusia sepuluh tahun, mayoritas/pada umumnya telah tumbuh insting (syawat) tersebut.
💾 http://www.manhajul-anbiya.net/umur-anak-kecil-yang-tidak-boleh-masuk-ke-kalangan-wanita/
••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~~
Manhajul Anbiya
Umur Anak Kecil yang Tidak Boleh Masuk ke Kalangan Wanita - Manhajul Anbiya
Berapa Batasan Umur Anak Kecil yang Tidak Boleh Lagi Masuk ke Kaum Wanita dan seorang Wanita sudah Harus Berhijab di hadapannya? FATWA al-Lajnah ad-Da`imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’ No. 6011 Pertanyaan : Seorang anak kecil, kapan dia dilarang…
👍3
📌الآن مباشر
شرح كتاب التوحيد
للشيخ عبد الله بن صلفيق الظفيري
حفظه الله
عبر إذاعة ميراث الأنبياء الرئيسية
http://bit.ly/1stRadioPC
شرح كتاب التوحيد
للشيخ عبد الله بن صلفيق الظفيري
حفظه الله
عبر إذاعة ميراث الأنبياء الرئيسية
http://bit.ly/1stRadioPC
🍊🚉 PENTINGNYA DZIKRULLAH
💍 Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah, berkata :
"Dzikir-dzikir dan bacaan-bacaan ta'awudz yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah, semuanya merupakan sebab-sebab penjagaan, keselamatan, dan keamanan dari semua kejelekan."
قال الإمام عبدالعزيز ابن باز -رحمه الله- :
"فهذه الأذكار والتعوذات من القرآن والسنة كلها من أسباب الحفظ والسلامة والأمن من كل سوء."
📚 مجموع فتاوى ابن باز - (٤٥٤/٣)
📒 Majmu' Fatawa Ibn Baz 3/454
••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~
💍 Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah, berkata :
"Dzikir-dzikir dan bacaan-bacaan ta'awudz yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah, semuanya merupakan sebab-sebab penjagaan, keselamatan, dan keamanan dari semua kejelekan."
قال الإمام عبدالعزيز ابن باز -رحمه الله- :
"فهذه الأذكار والتعوذات من القرآن والسنة كلها من أسباب الحفظ والسلامة والأمن من كل سوء."
📚 مجموع فتاوى ابن باز - (٤٥٤/٣)
📒 Majmu' Fatawa Ibn Baz 3/454
••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
~~~~~~~~~~~~~~
👍2
🎯⌚🚞 JAGALAH WAKTUMU!
💍 Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
"🌳🕘 Barangsiapa yang menjaga waktunya dengan banyak berdzikrullah, membaca al-Qur'an, dan bergaul dengan orang-orang baik serta menjauh dari orang-orang lalai dan jelek, maka HATINYA AKAN MENJADI BAIK dan LEMBUT."
قال الإمام عبدالعزيز ابن باز -رحمه الله- :
"من حفظ وقته بذكر الله وقراءة القرآن وصحبة الأخيار والبعد عن صحبة الغافلين والأشرار يطيب قلبـه ويلين"
📚مجموع فتاوى ابن باز - 244/5
📓 Majmu' Fatawa Ibn Baz 5/244
•••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 https://telegram.me/ManhajulAnbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~
💍 Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
"🌳🕘 Barangsiapa yang menjaga waktunya dengan banyak berdzikrullah, membaca al-Qur'an, dan bergaul dengan orang-orang baik serta menjauh dari orang-orang lalai dan jelek, maka HATINYA AKAN MENJADI BAIK dan LEMBUT."
قال الإمام عبدالعزيز ابن باز -رحمه الله- :
"من حفظ وقته بذكر الله وقراءة القرآن وصحبة الأخيار والبعد عن صحبة الغافلين والأشرار يطيب قلبـه ويلين"
📚مجموع فتاوى ابن باز - 244/5
📓 Majmu' Fatawa Ibn Baz 5/244
•••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 https://telegram.me/ManhajulAnbiya
~~~~~~~~~~~~~~~~
👍2
