منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Anda bisa melihat di tembok-tembok itu! Banyak tembok bangunan yang menjadi korban perbuatan para pelajar remaja, mereka mencoretinya dengan berbagai macam tulisan yang buruk.

Jika anda membacanya anda akan mendapati ternyata itu adalah tulisan-tulisan berbau perzinaan. Itu menunjukkan bahwa dalam diri-diri mereka terdapat gejolak kerusakan. Mereka lampiaskan itu semua di tembok tersebut dengan tulisan-tulisan tadi.

Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah...

Banyak pula di antara mereka yang pergi ke padang-padang rumput lalu melancarkan aksi balapan (semacam off road) di sana sehingga mengakibatkan rusaknya padang tersebut; tidak lagi menumbuhkan tetumbuhan atau memberikan manfaat apapun.

Itu semua karena telah dirusak oleh para pemuda tadi dengan perbuatan mereka. Sungguh itu merupakan kegiatan yang merusak.

Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah...

Perhatikanlah anak-anak anda dan jangan telantarkan mereka. Berbagai kejahatan yang terpampang jelas itu merupakan dampak dari pendidikan yang buruk. Dilakukan secara terang-terangan sehingga bisa dilihat oleh siapapun.

Lihatlah orang-orang kafir, mereka begitu perhatian dengan pendidikan anak-anak mereka, walaupun tentu yang mereka tanamkan adalah pendidikan dalam hal dunia. Mereka benar-benar serius mendidik sang anak.

Anda tidak akan mendapati ada anak-anak mereka yang berkeliaran di jalanan dengan mobil atau di tempat manapun, dalam keadaan anak mereka banyak. Padahal mereka itu orang-orang kafir! Lalu bagaimana mungkin orang-orang islam kondisinya demikian buruknya?!

Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah!

Selalu perhatikan anak-anak anda dan curahkan perhatian untuk mereka. Ketahuilah mereka adalah ujian bagi anda. Anda yang akan membuatnya baik atau malah merusaknya. Dan sungguh anda semua akan ditanyai tentang mereka di hadapan Allah.

Jika mereka baik mereka akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuanya hingga di surga kelak. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-orang yang beriman beserta keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan mereka dengan keturunan mereka (di surga kelak). Dan Kami tidak akan mengurangi pahala mereka sedikitpun. Setiap orang tergantung dengan apa yang ia perbuat. (QS. ath Thuur: 21)


Berkata para ahli tafsir:

Sesungguhnya apabila seorang anak berada di surga bersama orangtuanya dan orangtuanya berada di tingkatan yang lebih tinggi darinya, maka Allah akan meninggikan derajat sang anak hingga ke tingkatan orangtuanya, agar mereka bisa berkumpul kembali sehingga pandangan orangtua menjadi sejuk dengan keberadaan sang anak.

Dengan itu, sang anak menjadi penyejuk pandangan orangtuanya di dunia dan di akhirat. (Riwayat ath-Thobari dalam tafsirnya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, pent-)

Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Diterjemahkan oleh Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KERUKUNAN DAN PERSATUAN LEBIH DIUTAMAKAN DARIPADA MENERAPKAN PENDAPAT PILIHAN DALAM FIQH


Dalam beberapa kondisi terkadang kita dihadapkan pada permasalahan yang dilematis. Apakah tetap menjalankan suatu pendapat yang secara syar'i disukai (mustahab) dan lebih utama (afdhol), ataukah lebih mendahulukan pendapat lain yang tidak lebih utama (mafdhul) walaupun masih dalam taraf diperbolehkan.

Apabila tindakan yang mafdhul lebih dekat kepada tercapainya kerukunan dan persatuan muslimin, merupakan kebaikan dan hikmah apabila kita menjalaninya walaupun untuk sementara meninggalkan yang mustahab dan afdhol.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺇﻟﻰ ﺗﺄﻟﻴﻒ ﻫﺬﻩ اﻟﻘﻠﻮﺏ ﺑﺘﺮﻙ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺘﺤﺒﺎﺕ؛ ﻷﻥ ﻣﺼﻠﺤﺔ اﻟﺘﺄﻟﻴﻒ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻓﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا، ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻙ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﻐﻴﻴﺮ ﺑﻨﺎء اﻟﺒﻴﺖ ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﻓﻲ ﺇﺑﻘﺎﺋﻪ ﻣﻦ ﺗﺄﻟﻴﻒ اﻟﻘﻠﻮﺏ

"Dianjurkan bagi seseorang untuk mengedepankan kerukunan antar hati ini, walaupun perlu meninggalkan beberapa hal yang disunnahkan.

Karena nilai manfaat bersatunya hati lebih agung kedudukannya dalam agama ini dibandingkan penerapan amalan mustahab semacam ini.

Sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengurungkan rencana restorasi (mengembalikan) bangunan kakbah. Tatkala beliau mempertimbangkan bahwa membiarkannya tetap pada bentuknya saat itu menjadi bagian penyatuan antar hati mereka."
(Al Qowa'id anNuroniyyah hal. 46)

Beliau rahimahullah juga mengingatkan dengan hikmah fatwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺳﺄﻟﻪ ﺭﺟﻞ ﻋﻦ ﻭﻗﺖ اﻟﺮﻣﻲ، ﻓﺄﺧﺒﺮﻩ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﻓﻌﻞ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﺇﻣﺎﻣﻚ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.

"Demikian pula Anas bin Malik rahimahullah ketika ada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang waktu melempar jumroh, beliaupun menjelaskan batasan ketentuannya, lalu berkata: (jika sulit) lakukanlah sebagaimana dilakukan pemimpinmu!
Wallahu a'lam"
(Al Fatawa Al Kubro Kitab ashSholah hal. 252)

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

artikel lainnya:

https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/obat-untuk-melapangkan-dada/

https://itishom.org/blog/artikel/muamalah/tiga-etika-dasar-pergaulan/

https://itishom.org/blog/artikel/manhaj/perbedaan-dalam-prinsip-akidah-tidak-boleh-dibiarkan/

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Batasannya pernah beliau rahimahullah singgung pula di tempat lain dengan pernyataan beliau:

ﻭﻟﻬﺬا ﻧﺺ اﻷﺋﻤﺔ ﻛﺄﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻭﻓﻲ ﻭﺻﻞ اﻟﻮﺗﺮ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ اﻟﻌﺪﻭﻝ ﻋﻦ اﻷﻓﻀﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﺠﺎﺋﺰ اﻟﻤﻔﻀﻮﻝ ﻣﺮاﻋﺎﺓ اﺋﺘﻼﻑ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﺃﻭ ﻟﺘﻌﺮﻳﻔﻬﻢ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﻣﺜﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.

"Karenanyalah para imam semisal Imam Ahmad dan selainnya telah menyatakan hal itu (seperti) pada permasalahan (dimakluminya mengeraskan) bacaan basmalah, disambungnya rokaat sholat witir dan yang selainnya dengan mentolerir penerapan berbeda dari penerapannya yang afdhol menjadi sekedar menerapkan hal yang masih diperbolehkan (walaupun) mafdhul. Hal itu dilakukan sebagai upaya menjaga sikap kasih sayang pada mukminin, atau agar mereka bisa mengerti sunnah, dan tujuan lain semisal itu. Wallahu a'lam."
(Majmu' Al Fatawa 22/437)

Sehingga tatkala sosok Ahlussunnah yang dikenal kebaikannya menerapkan suatu tindakan yang tidak masuk kategori afdhol, selama bukan merupakan dosa ataupun permusuhan, jika kita tidak sepakat dengan tindakannya hendaknya diberikan sekian udzur baginya.
Perangai Seorang Muslim
Al Hafidz ibnu Katsir rahimahullah menukilkan:

"Dan telah dihikayatkan oleh Az Zuhri dan lainnya bahwa diantara alasan Utsman radhiyallahu 'anhu menggenapkan (jumlah rokaat di Mina) karena terdapat kekhawatiran nantinya kalangan badui pedalaman (yang ikut hadir) akan meyakini bahwa sholat memang difardhukan cukup 2 rokaat saja.

Ada juga yang menyatakan kemungkinannya bahwa beliau memiliki istri di Mekah. Dimana Ya'la dan lainnya pernah meriwayatkan hadits Ikrimah bin Ibrahim; "Telah menceritakan kepada saya Abdullah bin Abdurrohman bin Al Harits bin Abi Dzubab dari ayahandanya bahwasanya Utsman pernah sholat bersama mereka sejumlah 4 rokaat. Lalu Utsman menghadap ke arah mereka seraya berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إذَا تزوَّج رَجُلٌ بِبَلَدٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِه

《Barangsiapa yang beristrikan penduduk suatu negeri, maka dia juga menjadi penduduk negeri tersebut.》

Sehingga aku sengaja menyempurnakan (jumlah roka'at sholat) karena memang aku beristrikan penduduk daerah ini sejak aku tiba di daerah ini."
(Al Bidayah wan Nihayah 7/244)

Walaupun hadits tersebut selanjutnya telah dikomentari sendiri oleh Al Hafidz ibnu Katsir sebagai hadits yang tidak shohih, namun kita tetap dapat mengambil pelajaran tentang upaya mencarikan udzur dari para ulama terkait tindakan Utsman radhiyallahu 'anhu. Memang, toleransi yang tepat dan mengedepankan persatuan adalah upaya yang patut disyukuri dan diteladani.

Wallahu a'lam

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 MENUTUP HIDUNG DAN MULUT SERTA BERSANDAR KETIKA SHOLAT

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan menutup hidung dan mulut ketika sholat? Dan apakah (juga diperbolehkan) menyandarkan tubuh ke dinding atau tiang dan semisal itu?


Jawaban:

Dimakruhkan menutup hidung dan mulut ketika sholat kecuali ada alasan.

Juga tidak diperbolehkan bersandar di waktu sholat - khususnya sholat fardhu - pada dinding maupun tiang. Karena merupakan kewajiban bagi orang yang mampu untuk berdiri secara tegak tanpa bersandar.

Adapun untuk sholat sunnah, tidak mengapa melakukan hal itu. Karena (dalam sholat sunnah) diperbolehkan menunaikannya dalam posisi duduk. Walaupun penunaian sholat dalam posisi berdiri tetap lebih utama dibandingkan duduk.

(Dipublikasikan di surat kabar Okaz volume 10877 bertanggal 7 Muharram 1417 H. Majmu' Fatawa wa Maqolat AsySyaikh ibnu Baz 11/114).

=======================

التلثم في الصلاة


س: هل يجوز التلثم في الصلاة؟ أو الاستناد إلى جدار أو عمود ونحو ذلك؟


ج: يكره التلثم في الصلاة إلا من علة، ولا يجوز الاستناد في الصلاة -صلاة الفرض- إلى جدار أو عمود؛ لأن الواجب على المستطيع الوقوف معتدلًا غير مستند، فأما النافلة فلا حرج في ذلك؛ لأنه يجوز أداؤها قاعدًا، وأداؤها قائمًا أفضل من الجلوس[1].

نشرت في (جريدة عكاظ) العدد (10877) وتاريخ الجمعة 7 محرم 1417هـ. (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 11/114).

Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/4051/%D8%A7%D9%84



Baca juga artikel

https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/hukum-sholat-malam-lagi-sebelum-sahur/

https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/panduan-ringkas-shalat-jenazah/

https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/sujud-sahwi/

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KHOTBAH JUMAT: MERAJUT UKHUWWAH KARENA ALLAH

(disampaikan dalam khotbah Jumat di masjid al-Fauzan Ma'had Al I'tishom Sumberlele Kraksaan Probolinggo, 20 Rabiul Awwal 1442 H/6 Nov 2020 M)


KHOTBAH PERTAMA:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدَّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang sangat besar. Nikmat Islam dan Sunnah. Petunjuk Islam dan Sunnah ini seharusnya merekatkan kita dalam ikatan ukhuwwah yang menghantarkan kita masuk ke dalam Jannah.

Sebagaimana nikmat ukhuwwah imaniyyah ini Allah berikan kepada para Sahabat Nabi ridhwanullahi ‘alaihim ‘ajmain….

Dulu, kaum Anshar Aus dan Khazraj saling bermusuhan. Begitu kuat permusuhan itu, bahkan diwariskan. Untuk saling membenci dan memusuhi. Seakan-akan tidak akan hilang permusuhan itu.

Namun kemudian Allah menyatukan mereka dengan ajaran Islam. Rasul shollallahu alaihi wasallam mempersaudarakan mereka. Maka Allah ingatkan nikmat ini dalam firman-Nya:

...وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا...

…dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian. Ketika kalian saling bermusuhan. Kemudian Allah satukan hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara. Kalianpun sudah berada di jurang neraka, kemudian Allah selamatkan kalian darinya…(Q.S Ali Imran ayat 103)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pun mengingatkan kaum Anshar akan nikmat tersebut setelah beliau membagi-bagikan harta rampasan perang Hunain:

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمْ اللَّهُ بِي وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمْ اللَّهُ بِي

Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah aku dulu mendapati kalian dalam keadaan sesat, kemudian Allah berikan hidayah kepada kalian dengan sebabku. Bukankah dulunya kalian terpecah belah, kemudian Allah satukan kalian dengan sebabku…(H.R al-Bukhari dan Muslim)

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Pengetahuan kita tentang tauhid dan sunnah, serta ajaran Nabi yang murni, seharusnya justru merekatkan kita. Menyatukan kita. Mempersaudarakan kita.

Berpegangteguhlah dengan tali Allah yaitu alQuran, Sunnah Nabi, dan pemahaman para Sahabat beliau. Janganlah berpecah belah.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا...

Berpegangteguhlah dengan tali Allah seluruhnya, janganlah kalian berpecah belah…(Q.S Ali Imran ayat 103)

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian saling berselisih. (Jika kalian berselisih) kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (Q.S al-Anfaal ayat 46)

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Allah Azza Wa Jalla juga mengisahkan dalam alQuran bahwa seluruh ikatan pertemanan dan persahabatan untuk selain Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan. Hanya ikatan baik antar orang-orang bertakwa sajalah yang tidak akan berganti menjadi permusuhan pada hari kiamat:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Setiap pertemanan dan persahabatan pada hari itu (hari kiamat) akan berubah menjadi permusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
Salah satu dari 7 golongan yang akan Allah naungi pada hari kiamat, di hari tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah.

...وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ...

…dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dalam kecintaan karena Allah dan berpisah juga karena-Nya…(H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah).

anNawawiy rahimahullah menjelaskan makna hadits itu:

كَانَ سَبَبُ اجْتِمَاعِهِمَا حُبَّ اللهِ وَاسْتَمَرَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى تَفَرَّقَا مِنْ مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا صَادِقَانِ فِي حُبِّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبِهِ لِلَّهِ تَعَالَى حَالَ اجْتِمَاعِهِمَا وَافْتِرَاقِهِمَا

Penyebab berkumpulnya kedua orang itu adalah karena cinta kepada Allah. Hal itu terus berlangsung hingga keduanya berpisah dari majelis. Dalam keadaan, keduanya benar-benar jujur mencintai rekannya karena Allah Ta’ala pada saat berkumpul maupun pada saat berpisah (al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaaj (7/121)).

Sesungguhnya keimanan dan saling mencintai karena Allah akan menghantarkan seseorang menuju al-Jannah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا...

Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan sempurna keimanannya hingga saling mencintai…(H.R Muslim)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita bersaudara dalam Islam dilandasi oleh kecintaan karena Allah dan semoga persaudaraan itu menghantarkan kita menuju al-Jannah atau surga-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



KHOTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيِّتِهِ وَإِلَهِيَّتِهِ وَأَسْمَاءِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...

Pada khotbah yang pertama kita telah membahas tentang keutamaan menjalin ukhuwwah karena Allah. Bagaimana cara mewujudkan ukhuwwah (persaudaraan) karena Allah itu?

Semua solusi dan arahannya ada dalam alQuran dan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam. Jika kita menerapkan semua bimbingan alQuran dan Sunnah, kita akan menjadi orang yang bertakwa, dan kita akan bisa mewujudkan ukhuwwah karena Allah. Hanya Allah semata yang bisa memberikan taufiq kepada hal itu.

Cintailah saudaramu karena Allah. Ketika ia adalah orang yang bertakwa, komitmen di atas sunnah. Cintailah ia karena perilaku dan manhajnya itu.

Doakan kebaikan untuk saudaramu. Bahkan doa yang dipanjatkan kepada Allah tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab.

Cintailah kebaikan pada saudaramu sebagaimana engkau suka kebaikan itu ada pada dirimu. Dengan demikian, engkau tidak akan memiliki sifat hasad, iri, dan dengki atas kebaikan yang ada pada saudaramu. Sesungguhnya mencintai kebaikan pada saudara kita sebagaimana kita suka kebaikan itu ada pada diri kita adalah termasuk sifat yang akan menghantarkan seseorang menuju al-Jannah.

Dalam sebuah hadits, Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan kepada Yazid bin Asad:

أَتُحِبُّ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَأَحِبَّ لِأَخِيكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

Apakah engkau senang (masuk) surga? Yazid menyatakan: Ya. Nabi bersabda: Maka cintailah untuk saudaramu sebagaimana engkau cinta (hal itu terjadi) kepada dirimu (H.R Ahmad, dishahihkan oleh alHakim dan disepakati oleh adz-Dzahaby)

Ukhuwaah imaniyyah dilandasi oleh sikap saling memberi nasihat. Nasihat adalah penyampaian yang dilandasi ketulusan ingin kebaikan untuk saudaranya. Tidak ada tendensi untuk menjatuhkan atau melecehkannya.
Sebagai pihak yang memberi nasihat, sampaikan nasihat itu dengan ikhlas. Karena Allah. Sampaikan dengan penyampaian yang baik dan hikmah. Dengan memperhatikan situasi dan keadaan yang tepat. Di waktu yang tepat. Sampaikan tanpa harus diketahui oleh pihak lain. Pastikan bahwa nasihat yang engkau sampaikan berdasarkan alQuran dan Sunnah dengan pemahaman para Sahabat Nabi.

Apabila masalah yang dibahas adalah masalah ijtihadiyyah, karena tidak adanya nash tegas dalam masalah itu, namun engkau memandang sesuatu yang menurutmu baik, sampaikan argumenmu dengan baik. Namun jangan memaksa bahwa itu harus diterima. Bahkan mungkin dalam majelis munashohah itu terbuka sisi pandang lain yang memiliki kekuatan dan kebaikan.

Dari sisi pihak yang dinasihati, sadarilah itikad baik dari saudaramu yang menginginkan kebaikan pada dirimu Cermatilah dengan baik masukan-masukan dan saran dari saudaramu. Uraikan pula dengan penyampaian yang baik. Dengan penyampaian yang baik dan beradab.

Saudaraku….

Seorang muslim yang secara dzhahir nampak sebagai pribadi yang adil, harus dikedepankan husnudzdzhon (baik sangka) terhadapnya. Jangan menerima berita-berita keburukan tentang dia dari sumber-sumber yang tidak jelas.

Kedepankan persangkaan yang baik untuk saudaramu Ahlussunnah. Terapkan tabayyun mengklarifikasi berita kepada pihak yang berwenang secara langsung. Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci ucapan katanya dan katanya, yang tidak jelas sumber informasinya.

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَال

Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian tiga hal: Ungkapan katanya dan katanya, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Janganlah pula engkau umbar aib dan keburukan saudaramu kepada pihak-pihak yang tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan nasihat atau perbaikan. Apalagi jika seandainya saudaramu itu telah bertobat dari kesalahan-kesalahan tersebut.

Seorang muslim lainnya, apabila melihat saudaranya berselisih, hendaknya berusaha untuk mendamaikan. Atau setidaknya mengurangi dampak perselisihan itu. Janganlah berpihak untuk mendukung satu pihak sampai benar-benar paham permasalahan. Jika kita tidak mampu untuk mendamaikan secara langsung, diamlah dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguatkan ukhuwwah kita karena Allah dan semoga hal itu menghantarkan kita menuju al-Jannah.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَأَجِرْنَا مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Forwarded from AL-BAHR BINTAN


Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sholawat dan salam atas nabi kita Muhammad Shalallahu 'Alahi Wa Sallam, keluarga, dan para shabatnya, waba'du.

Audio ini telah ditayangkan secara live streaming pada malam Senin (10 Rajab 1442 H / 21 Februari 2021) dengan tema "Sudahkah Kau Berkorban untuk Agamamu", yang dibawakan oleh Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih hafizhahullah.