منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حدثنا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

‘Amr bin Yahya berkata: saya mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya:

Kami duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) sebelum shalat Subuh. Kalau nanti beliau keluar, kami akan berjalan bersama beliau ke masjid. Kemudian datang kepada kami Abu Musa al-Asy’ariy dan berkata: Apakah Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) telah keluar menuju kalian? Kami katakan: Tidak. Maka beliau (Abu Musa al-‘Asy’ari pun duduk bersama kami) hingga keluarnya Ibnu Mas’ud.

Ketika Ibnu Mas’ud telah keluar, kami semua bangkit kemudian Abu Musa berkata: Wahai Abu Abdirrohman, aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku ingkari. Dan aku tidak melihat, Alhamdulillah kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud bertanya: Apa itu? Abu Musa mengatakan: Kalau nanti engkau masih hidup, engkau akan melihatnya.

Aku melihat di masjid ada lingkaran-lingkaran (majelis) mereka duduk menunggu shalat. Pada setiap lingkaran itu ada seorang yang di tangannya memegang kerikil kemudian berkata: Bertakbirlah 100 kali. Maka jamaah di lingkaran itupun bertakbir 100 kali. Dia berkata: ucapkan tahlil 100 kali, merekapun bertahlil 100 kali. Dia berkata: ucapkan tasbih 100 kali, merekapun bertasbih 100 kali.

Ibnu Mas’ud bertanya: Apa yang kau katakan kepada mereka? (abu Musa) berkata: Aku tidak berkata apa-apa karena menunggu pendapat dan perintahmu.

Ibnu Mas’ud berkata: Mengapa engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja kesalahan-kesalahan mereka, dan engkau jamin bahwasanya kebaikan-kebaikan mereka tidak akan sia-sia.

Kemudian berlanjutlah perjalanan itu hingga ketika Ibnu Mas’ud telah mendatangi salah satu lingkaran (majelis) itu beliau berdiri di dekat mereka kemudian berkata: Apa ini yang kalian perbuat? Mereka berkata: Wahai Abu Abdirrohman, kerikil-kerikil ini kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.
Ibnu Mas’ud berkata: Hitunglah keburukan-keburukan kalian. Aku menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Celaka kalian wahai umat Muhammad, sungguh cepat kebinasaan kalian.

Para Sahabat Nabi kalian shollallahu alaihi wasallam masih banyak. Pakaian-pakaian beliau masih belum basah, bejana-bejana beliau belum rusak.

Demi (Allah) Yang jiwaku di TanganNya, apakah kalian (merasa) berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dibandingkan agama Muhammad, ataukah kalian membuka pintu kesesatan?!

Mereka berkata: Demi Allah, wahai Abu Abdirrohman, kami tidaklah menginginkan kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud berkata: Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak bisa mendapatkannya.

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca al-Quran tapi (bacaannya) tidak sampai melewati kerongkongannya. Demi Allah, aku tidak tahu apakah kebanyak mereka adalah termasuk di antara kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud berpaling dari mereka.

‘Amr bin Salamah berkata: Kami melihat kebanyakan mereka yang ikut majelis itu berperang melawan kami pada hari Nahrowan bersama para Khowarij (H.R ad-Daarimi)

Segala macam bentuk pelanggaran syar’i (kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan) tidak boleh dilakukan di mana saja, apalagi di masjid yang suci yang merupakan rumah Allah.


4⃣ MEMAKMURKAN MASJID DENGAN SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DAN MAJELIS ILMU SYAR’I

Di antara isi surat Umar bin Abdil Aziz rahimahullah adalah:

فَأْمُرْ أَهْلَ الْعِلْمِ أَنْ يَنْشُرُوْا الْعِلْمَ فِي مَسَاجِدِهِمْ فَإِنَّ السُّنَّةَ كَانَتْ قَدْ أُمِيْتَتْ

Perintahkan kepada orang-orang yang berilmu untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid mereka, karena sunnah telah dimatikan (riwayat arRoomarurmuuziy dalam al-Muhadditsul Faashil dari Ikrimah bin ‘Ammaar, dikuatkan juga dengan riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayaanil Ilmi wa Fadhlih dari Ja’far bin Burqaan)


5⃣ TIDAK MENGHIAS MASJID

مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Aku tidak diperintah untuk meninggikan (bangunan) masjid (untuk kemegahan, pent). Ibnu Abbas berkata: Sungguh-sungguh kalian akan menghiasnya (masjid) sebagaimana Yahudi dan Nashrani menghias (tempat peribadatan mereka)(H.R Abu Dawud dari Ibnu Abbas, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany)

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Tidak datang hari kiamat hingga manusia berbangga-bangga (bermegah-megahan) dengan masjid-masjid (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan al-Albany)

(dikutip dari naskah buku “Membangun Rumah di Surga”, Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah)
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE 1)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Pendahuluan


Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab anNajdi rahimahullah adalah salah satu karya tulis di bidang aqidah yang banyak memberikan manfaat bagi kaum muslimin setelahnya.

Pada tiap bab hanya disebutkan dalil dari al-Quran dan hadits Nabi kemudian dijelaskan faidah-faidah yang bisa diambil dari hadits.

Pada tulisan kajian Kitabut Tauhid ini dan serial tulisan berikutnya insyaAllah kami menggunakan metode sebagai berikut:

1. Menyebutkan tema pada setiap bab di bawah penyebutan bab.

2. Menyebutkan dalil ayat atau hadits sesuai urutannya.

3. Jika itu hadits, maka disebutkan sesuai lafadz pada kitab induk Ulama hadits yang meriwayatkan, serta penilaian ulama yang menshahihkan atau menghasankannya. Jika menurut pendapat yang rajih dari Ulama Ahlul Hadits ternyata hadits itu dinilai lemah, maka dijelaskan kelemahannya. Jika ada penguat dari riwayat lain, maka disebutkan dalilnya.

4. Pada setiap dalil ayat dan hadits itu kami sarikan penjelasan-penjelasan para Ulama Ahlussunnah yang menafsirkan ayat atau mensyarah hadits tersebut.

Serial tulisan ini sekedar untuk menyajikan rangkuman penjelasan yang mudah bagi makna ayat dan hadits dalam Kitabut Tauhid.

Penjelasan-penjelasan terbaik tetaplah yang telah dikemukakan para Ulama’ dalam syarah-syarah mereka baik dalam bentuk tulisan ataupun ceramah. Diharapkan pembaca termotivasi untuk mengkaji lebih lanjut kitab-kitab para Ulama’ yang mensyarah Kitabut Tauhid tersebut.


Dalil Pertama:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu (Q.S adz-Dzaariyaat:56)


Penjelasan Dalil Pertama:

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193)).

Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.

Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:

(i) cinta dengan pengagungan,
(ii) takut, dan
(iii) berharap.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah zindiq.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khowarij).

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah.

◽️Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman.

Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-2)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Kedua:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت

Dan sungguh Kami utus Rasul pada setiap umat agar mereka menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi Taghut (Q.S anNahl:36)


Penjelasan Dalil Kedua:

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasul (utusanNya) pada setiap umat. Misi dakwah semua Rasul itu sama tidak berbeda, yaitu dua hal:

1. Beribadah hanya kepada Allah (mentauhidkan Allah).

2. Menjauhi Taghut.

Apa makna Thaghut? Ada beberapa definisi Taghut dari para Sahabat maupun Ulama Salaf.

Umar bin al-Khottob dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan: Thaghut adalah Syaithan (riwayat atThobary, dinyatakan sanadnya kuat oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari). Imam Malik menjelaskan makna Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah (riwayat Ibnu Abi Hatim).

Secara bahasa, kata Thaghut berasal dari kata thaghaa yang maknanya adalah ‘melampaui batas’.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah merangkum penjelasan-penjelasan para Ulama sebagai definisi Thaghut secara istilah syar’i adalah : segala sesuatu yang diperlakukan melampaui batas dalam hal disembah, diikuti, atau ditaati (I’laamul Muwaqqi’iin (1/50)).

Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa tauhid tidak akan sempurna tanpa meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah. Tidak bisa sempurna ibadah seseorang kepada Allah tanpa menjauhi Thaghut.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-3)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Ketiga:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepadaNya dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Israa’:23)


Penjelasan Dalil Ketiga:

Di dalam potongan ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita pada 2 hal, yaitu:

1. Tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah (tauhid).

2. Berbuat baik kepada kedua orangtua.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menggandengkan penyebutan perintah mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan, kemudian menunaikan hak orangtua. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan ketika Kami mengambil perjanjian kepada Bani Israil agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Baqoroh: 83).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat kesyirikan kepadaNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua (Q.S anNisaa’:36)

Hal itu menunjukkan bahwa hak orangtua bagi anak adalah sangat besar. Maka janganlah seorang anak yang berusaha mentauhidkan Allah mendurhakai orangtuanya.

Namun, seorang anak jika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah, tidak boleh ia mengikuti perintah itu. Ia tinggalkan perintah itu, namun dalam hal lain ia tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepadanya.

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Tidak ada ketaatan (kepada siapapun) dalam hal bermaksiat kepada Allah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ali, dengan lafadz riwayat Muslim)

Apalagi jika ia diperintah oleh orangtuanya untuk berbuat kesyirikan, maka jelaslah ia harus mendahulukan ketaatan kepada Allah, tidak boleh ia taati perintah orangtuanya dalam hal kesyirikan, namun tetap menjalin hubungan baik dengan orangtua dan mentaatinya dalam urusan duniawi yang lain yang tidak mengandung dosa.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika mereka berdua (orangtua) memaksamu untuk mensekutukan Aku dalam hal yang engkau tidak memiliki ilmu padanya, janganlah mentaati keduanya. Dan tetaplah menjalin hubungan baik kepada keduanya dalam urusan duniawi (Q.S Luqman: 15)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orangtua)
::
📬 MENINGGAL DI ATAS KEBID’AHAN NAMUN BELUM SAMPAI TARAF KAFIR

Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmiy rahimahullah menyatakan:

أصحاب البدع دائمًا هم يقصدون التقرب إلى الله، ولكنَّهم لم يعرفوا الطريق التي يتقربون بها إلى الله، وليس عندهم من العلم ما يمنعهم من الدخول في البدع؛ فإن كان هذا الذي يريد الخير يسَّر الله له من يدعوه ويبيِّن له، وصرف عنه شر أصحاب البدع الذين يحذِّرونه من طاعة الناصحين، فإنَّه إن تاب تاب الله عليه، وإن بقي على بدعته حتى يلقى الله بها كان ذلك نقصًا في إسلامه، وأمره إلى الله إن شاء عفا عنه، وإن شاء عذَّبه

Para pelaku kebid’ahan selalu bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun mereka tidak mengetahui jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tidak memiliki ilmu yang menghalangi mereka untuk tidak masuk ke dalam kebid’ahan. Jika orang yang menginginkan kebaikan ini dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan orang yang mengajak (kepada sunnah, pent) dan menjelaskan kepadanya, memalingkannya dari keburukan Ahlul Bid’ah yang memperingatkan dia agar jangan taat kepada orang yang memberi nasihat, kalau ia bertobat, Allah akan menerima tobatnya. Jika ia tetap di atas kebid’ahannya hingga bertemu dengan Allah, itu adalah kekurangan pada keislamannya. Urusannya (dikembalikan) kepada Allah. Jika (Allah) menghendaki, Allah memaafkannya. Jika (Allah) menghendaki (hal lain) Allah mengadzabnya (Irsyaadusy Syaariy bi Syarhi Syarhis Sunnah lil Barbahaariy halaman 63)



📝Catatan:

Ini adalah salah satu bentuk keadilan Ahlus Sunnah dalam menilai. Ahlus Sunnah (Salafy) tidak serta merta langsung memvonis seseorang yang secara dzhahir berada dalam kebid’ahan sudah pasti masuk neraka. Apalagi divonis kafir. Tidak demikian.

Hal ini berbeda dengan anggapan miring terhadap Ahlus Sunnah (Salafy) yang banyak digembar-gemborkan oleh para pembenci dakwah sunnah.

Kebid’ahan adalah kemunkaran yang harus dijauhi dan diingkari. Namun pengingkaran terhadap kemunkaran tersebut bukanlah berarti vonis dan penghakiman bahwa individu yang terjatuh padanya pasti masuk neraka.

Ahlus Sunnah memperingatkan umat akan bahaya kebid’ahan karena kasih sayang kepada kaum muslimin dan meneladani Nabi dan para Sahabat.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-4)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Dalil Keempat:


وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan sembahlah Allah, janganlah mensekutukanNya dengan suatu apapun (Q.S anNisaa’:36)


Penjelasan Dalil Keempat:

Ayat ini memerintahkan kepada kita agar menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyembah selain Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak cukup seseorang menyembah Allah kemudian di waktu lain ia menyembah selain Allah.

Jika seorang beribadah kepada Allah dalam sejumlah waktu, kemudian pada sedikit waktu yang lain ia berdoa kepada selain Allah, maka batallah tauhidnya. Terhapuslah amal kebaikan dia sebelumnya.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Jika engkau berbuat kesyirikan, sungguh niscaya akan terhapuslah amalanmu dan sungguh engkau akan termasuk orang-orang yang merugi (Q.S az-Zumar:65).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-5)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Dalil Kelima:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (151) وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (152) وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (153)

Katakanlah : Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepada kalian, yaitu janganlah kalian mensekutukanNya dengan suatu apapun dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua. Dan janganlah membunuh anak kalian karena khawatir miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka. Dan janganlah kalian mendekati perbuatan keji yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian berpikir (151) dan janganlah mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik hingga ia berusia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan secara adil. Kami tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya. Jika kalian berbicara maka bersikap adillah meskipun terhadap karib kerabat. Dan tunaikanlah perjanjian Allah. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian mengingat (152) Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah (jalan itu) dan jangan ikuti jalan-jalan (yang lain) hingga kalian akan tercerai berai dari jalanNya. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa (153) (Q.S al-An’aam:151-153).


Penjelasan Dalil Kelima:

Surat al-An’aam ayat 151-153 ini terdapat 10 wasiat penting dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Dalam 10 wasiat itu Allah mulai dengan wasiat yang paling penting, yaitu agar manusia mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan kepadaNya. Hal itu menunjukkan bahwa Tauhid adalah kewajiban paling awal sebelum yang lain, dan kesyirikan adalah perbuatan dosa paling besar yang pertama kali harus dijauhi.

Berikut ini adalah penyebutan dan sedikit penjelasan 10 wasiat yang ada di 3 ayat tersebut:

1. Tauhidkan Allah, beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan berbuat kesyirikan sedikitpun

2. Berbaktilah kepada kedua orangtua.

3. Jangan membunuh anak karena khawatir miskin. Karena rezeki kalian bukan di tangan kalian sebagai penentunya. Allahlah yang memberi rezeki kepada kalian dan kepada anak-anak itu. Kalian hanya berusaha menjalankan sebab.

4. Jangan mendekati perbuatan keji baik yang nampak maupun tersembunyi. Contoh perbuatan keji adalah perbuatan zina. Jangan dekati zina, seperti: janganlah berduaan dengan wanita yang bukan mahram, janganlah berjabat tangan antara laki dan wanita yang bukan mahram, janganlah wanita sendirian melakukan safar tanpa mahram, dan semisalnya yang merupakan larangan-larangan Nabi dalam hadits-haditsnya.
5. Jangan membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali sesuai dengan haq. Jiwa yang Allah haramkan adalah:

a) Kaum muslimin. Selama ia masih muslim, secara asal darah, harta dan kehormatannya harus dijaga.

b) Orang kafir yang bukan kafir harbi. Bukan kafir yang memerangi kaum muslimin. Seperti kafir Muahid dan Dzimmi.

Adakalanya jiwa yang Allah haramkan itu melakukan hal-hal yang menyebabkan ia berhak dibunuh sesuai aturan syariat Islam, seperti: orang yang berzina dalam keadaan pernah menikah, maka ia berhak mendapatkan hukum rajam: dilempari batu (yang tidak terlalu besar atau terlalu kecil) hingga meninggal dunia.

Demikian juga muslim yang membunuh muslim lainnya, maka ia berhak mendapatkan hukuman qishash (dibalas dibunuh juga), kecuali ahli waris terbunuh memaafkan. Demikian juga orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) bukan karena dipaksa tapi sukarela maka ia berhak dijatuhi hukuman bunuh sebagaimana perintah Nabi. Namun tentunya yang berhak menetapkan putusan hukuman-hukuman tersebut adalah Waliyyul amr (pemerintah muslim) bukan tindakan perorangan/ pribadi.

6. Bagi seseorang yang dititipi amanah menjaga harta anak yatim, janganlah mengambil harta itu untuk tujuan pribadi. Kalaupun ingin memberi manfaat tambahan yang jelas bagi anak yatim, kelolalah harta itu dengan cara yang tidak bertentangan dengan syar’i seperti perdagangan atau investasi yang dengan dugaan kuat akan memberikan hasil, kemudian nanti saat anak yatim itu telah hilang predikat yatimnya (sudah dewasa/ baligh), ia berikan seluruh harta plus keuntungannya kepada anak itu, maka ini adalah cara yang lebih baik.

7. Jika menakar atau menimbang sesuatu, maka takarlah dan timbanglah secara adil, jangan mendzhalimi orang lain. Mengurangi timbangan secara sengaja adalah dosa besar. Namun jika ia telah berusaha keras untuk adil, namun tanpa sengaja timbangannya tidak tepat dan tidak bisa lagi menghubungi orang yang beli darinya, ini tidak mengapa. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas usaha (kemampuannya).

8. Adillah dalam berbicara. Sampaikan kebenaran yang diketahui tanpa ditambah atau dikurangi jika engkau diminta bersaksi. Jangan sampai engkau berbuat tidak adil karena engkau harus bersaksi untuk kerabat atau orang yang engkau cintai, menyebabkan engkau sungkan atau kasihan sehingga tidak berbuat adil.

9. Tunaikanlah janji kalian kepada Allah, untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

10. Ikutilah jalan Allah melalui petunjuk dan bimbingan Rasul-Nya, jangan ikut jalan-jalan lain yang menyimpang. Hanya satu jalan yang bisa mengantarkan seseorang pada Surga Allah, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Rasul. Selain itu, semuanya adalah jalan kesesatan. Tidak bisa seseorang mendapatkan keridhaan Allah tanpa melalui petunjuk Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Tidak bisa seseorang beribadah kepada Allah tanpa mencontoh teladan yang ditunjukkan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️