منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 MENGEMBALIKAN PALESTINA DARI CENGKRAMAN YAHUDI

Namun itu semua seakan tak memberikan arti. Israel (baca: Negara Yahudi) hingga hari ini terus bercokol dan menjajah bumi Palestina. Kabar tentang insiden bentrokan hingga serangan jet tempur Yahudi terhadap kaum muslimin Palestina masih terus menghiasi berita-berita Timur Tengah.

Kenapa perjuangan umat Islam tak membuahkan hasil? Padahal, satu peristiwa terjadi di Palestina maka seluruh dunia Islam pasti angkat bicara.

Termasuk peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Tatkala dengan pongah Amerika menyatakan bahwa al-Quds adalah ibukota Israel (baca : Negara Yahudi). Sontak dunia Islam pun bereaksi keras. Demikianlah solidaritas dan ukhuwwah Islamiyyah memanggil kaum muslimin membela saudara-saudaranya di negeri Palestina. Apalagi di sana terdapat salah satu masjid teramat mulia milik umat Islam, yaitu Masjid al-Aqsha.


UMAT YAHUDI TAK AKAN MENANG TERHADAP TENTARA TAUHID

Umat Yahudi adalah umat yang hina, umat yang dimurkai oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman tentang Yahudi,

فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Karena itu mereka (Yahudi) mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan, dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” .(al-Baqarah : 90)

Maksudnya: Yahudi mendapat kemurkaan yang berlipat-ganda, yaitu kemurkaan karena tidak beriman kepada nabi Muhammad dan kemurkaan yang disebabkan perbuatan mereka dahulu, yaitu membunuh para nabi, mendustakannya, mengubah-ubah isi kitab Taurat dan masih sangat banyak lagi. Allah Ta'ala juga berfirman,

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

“Mereka (Yahudi) diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Ali ‘Imran: 112)

Inilah sebagian sifat-sifat Yahudi yang mengharuskan mereka senantiasa berada dalam kehinaan, kerendahan dan selalu mendapat kemurkaan dari Allah Ta'ala.

Yahudi tidak akan pernah bisa tegak dalam kebaikan kecuali apabila mereka mau berpegang pada tali (agama) Allah Ta'ala dan tali (perjanjian) dengan manusia, yaitu perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Islam atas mereka.

Yahudi tidak memiliki sandaran sejarah keimanan dan akidah, tidak memiliki sandaran sejarah sifat kejantanan dan keberanian. Yahudi hanya berani berperang dari balik tembok, sementara permusuhan (perselisihan) di antara mereka sendiri sangat sengit.

Sungguh sifat-sifat keji Yahudi sangat banyak, di antaranya: khianat, melanggar perjanjian, menebar fitnah, menyalakan api peperangan, berbuat kerusakan di muka bumi, bahkan mencela dan menghina Allah Ta'ala dan agama-Nya serta rasul-Nya.

Setiap kali Yahudi menyalakan api peperangan niscaya Allah Ta'ala memadamkannya.

Maka wahai Yahudi, janganlah kalian terburu sombong dan berbangga dengan keberhasilan kalian. Sungguh kalian tidak akan menang melawan tentara nabi Muhammad ﷺ . Yaitu para tentara yang berakidah tauhid “Laailaaha illallah, Muhammad rasulullah”. Kalian tidak akan menang terhadap tentara yang dipimpin oleh para panglima semisal Umar bin al-Khathab al-Faruq, Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, atau Amr bin al-Ash.

Mereka adalah para panglima yang terdidik di atas akidah tauhid yang murni, di atas akidah nabi Muhammad ﷺ. Mereka mendidik tentaranya dengan akidah tersebut dan memimpin pasukannya di atas misi meninggikan kalimatullah di muka bumi.
Wahai Yahudi, sungguh kalian tidak akan menang terhadap bala tentara yang seperti ini akidah dan keimanannya. Kalian hanya akan bisa menang bila melawan tentara yang kondisinya seperti dalam firman Allah,

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ۙ

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Yaitu kaum yang melanggar syari’at agama dan menyimpang keimanannya.



BAGAIMANA UMAT ISLAM BISA MEREBUT AL-QUDS DAN MASJIDIL AQSHA?

Sungguh kaum muslimin tidak akan bisa membebaskan Palestina, al-Quds dan Masjidil Aqsha dari cengkraman tangan jahat Yahudi kecuali dengan nama Islam, di atas akidah yang bersih dan murni. Sebagaimana dulu Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab berhasil merebut Palestina dari cengkraman Nashara, maka dengan cara itu pulalah kaum muslimin pada masa ini bisa membebaskan Palestina.

Renungkanlah sejarah gemilang dan kejayaan generasi awal umat ini.

Bagaimana mereka bisa menang dan jaya? Maka dengan cara itu pulalah kaum muslimin saat ini akan bisa meraih kemenangan dan kejayaan. Yaitu dengan kekuatan iman, kemurnian akidah, ketaatan beragama, serta keluhuran akhlak. Allah berfirman,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Sungguh telah Kami tulis di dalam kitab-kitab terdahulu sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”
(al-Anbiya: 105)

Sudahkah kita termasuk hamba-hamba Allah yang shalih?

Yakni yang benar-benar menegakkan ubudiyyah (peribadatan) kepada-Nya dengan murni, taat terhadap segala perintah dan larangan-Nya, serta berakhlak mulia dan berprilaku santun?


HIMBAUAN KEPADA KAUM MUSLIMIN

Marilah kita kembali kepada kemurnian akidah dan tauhid. Jangan ada di tengah umat ini yang berdo’a dan bertawakkal kepada selain Allah. Jauhilah perdukunan dan jimat-jimat.

Marilah menjadi umat yang bertauladan penuh kepada baginda nabi Muhammad. Pegang teguh dan junjung tinggi-lah ajaran dan bimbingan (sunnah-sunnah) Nabi dan para Khulafaur Rasyidin dalam segala aspek. Baik dalam hal keyakinan, tata cara beribadah, cara bermuamalah, demikian juga dalam hal tata krama dan sopan santun.

Marilah kita memuliakan al-Qur’an dan al-Hadits, serta mengamalkannya. Jangan ada yang melecehkan atau menghina al-Qur’an dan al-Hadits.

Jangan menjadi umat yang radikal, fanatik buta, menebar anarkhis dan kekerasan, serta jangan pula menjadi umat yang liberal. Karena itu semua hanya akan mencoreng nama Islam dan membuat Yahudi tertawa melecehkan kaum muslimin. Umat Islam tidak akan menang dengan cara “jihad”nya kaum radikalis-teroris dan akan hancur pula bila kaum liberalis terus menebar kerancuan dalam beragama.

Jika kaum muslimin berpegang teguh kepada agamanya dengan sebenar-benarnya, maka mereka akan menjadi umat yang disegani oleh lawan-lawannya dan akan menjadi bala tentara yang menang dan jaya.
HIMBAUAN KEPADA PEMERINTAH- PEMERINTAH ISLAM DI SELURUH DUNIA

Melalui tulisan ini pula, kami mengajak pemerintah-pemerintah Islam:

⬜️ Pertama: Mari berpegang teguh dengan al-Qur’an al-Karim, Sunnah Rasulullah ﷺ dan bimbingan para Khulafaur Rasyidin dalam akidah, ibadah, akhlak dan politik, serta dalam berbagai aspek lainnya.

Tanamkanlah kepada rakyat prinsip- prinsip yang mulia tersebut. Sungguh kita semua adalah para hamba Allah, hidup di bumi Allah Ta'ala, makan dan minum dari rizki yang diberikan oleh-Nya. Maka sudah sepantasnya dan seharusnya kita semua bersyukur kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian dan syukurilah nikmat Allah, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya saja.” (an-Nahl : 114)

Maka murnikan ibadah hanya kepada-Nya, syukurilah nikmat-nikmat-Nya. Jadilah kita bangga dan mulia dengan syari’at Islam.

⬜️ Kedua: Hendaknya pemerintah- pemerintah Islam membentuk tentara Islam yang terdidik di atas pendidikan Islam. Terdidik di atas akidah nabi Muhammad ﷺ dan terdidik di atas akhlak yang terpuji. Terdidik di atas misi besar; menegakkan kalimat tauhid di muka bumi, dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘Alamin. Bukan di atas misi-misi politik keduniaan, atau di atas slogan-slogan jahiliyyah, fanatik kelompok dan golongan. Bukan di atas radikalisme dan terorisme. Bukan pula di atas liberalisme, yang sering menghina agama.

Sehingga jadilah mereka tentara-tentara Allah Ta'ala yang hakiki, yang tak kan terkalahkan. Allah Ta'ala berfirman,

وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (ash-Shaaffaat : 173)

Sungguh ucapan yang sangat bersejarah, patut ditulis dengan tinta emas, ucapan raja Faishal bin Abdul Aziz rahimahullah,

“Kami akan melakukan segala yang kami mampu demi menyelamatkan Palestina dan membebaskan tempat-tempat suci umat Islam. Kami akan melawan segala misi yang bertujuan meyahudikan al-Quds atau menginternasionalisasi al-Quds. Dengan penuh kekuatan dan keteguhan, kami akan berdiri menghadang segala konspirasi yang akan mengeruhkan permasalahan Palestina.”

Penulis: Ustadz Abu Amr Alfian hafizhahullah| Buletin al-Ilmu Edisi: 20 || Tahun 1439 H

Referensi: Shaihatun Nadzir ila Ummatil Ghadab Prof. DR. Rabi’ al-Madkhali hafizhahullah

https://buletin-alilmu.net/2018/05/12/mengembalikan-palestina-dari-cengkraman-yahudi/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 TIGA ETIKA DASAR PERGAULAN
(Petikan Khutbah Iedul Fithri 1442 H)


Saudaraku semoga kita dirahmati Allah, telah dimaklumi bahwa beda dada, beda isi pemikiran. Dan silang pandang adalah kelumrahan interaksi sosial.

Semakin sering kita bergaul, makin besar potensi perbedaan berpikir kita dengan ikhwan kita, pun bertambah bilangan dan kualitasnya.

Namun apakah itu melazimkan perpecahan?

Jangan! karena jelas terlarang apabila perbedaan pandangan menjadi sebab perpecahan selama bukan dalam bagian prinsip agama.
Bagaimana jika terlanjur terjebak dalam perselisihan dan sengketa antar saudara?

Alhamdulillah, telah ada bimbingan ilahi yang merupakan cakupan ringkas 3 perangai mulia; dalam surah Al A'raf, pada ayat ke-199 Allah berfirman:

{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ}

"Jadilah engkau pemaaf dan ajaklah orang lain mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang tidak paham."

Mari kita pelajari maknanya, merujuk penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'diy rahimahullah dalam tafsir beliau:


⬜️ (PERTAMA) خُذِ الْعَفْوَ JADILAH ENGKAU PEMAAF

Beliau rahimahullah menjelaskan:

"Ayat ini cakupan ringkas tentang akhlaq yang baik, beretika terhadap orang lain, dan kepatutan dalam pergaulan bersama mereka. Sehingga semestinya masyarakat dipergauli dengan kemurahan hati, suka memaafkan.

Yaitu keluhuran sikap anda terhadap mereka, yang bisa memudahkan mereka menerima tindakan dan perangai kita. Jadi jangan sampai membebani mereka dengan perilaku yang tabiat masyarakat sulit menerimanya.

Justru hendaknya setiap orang saling berterimakasih terhadap penerimaan yang dirasakan, baik berupa ucapan, sikap terpuji, ataupun yang kurang dari itu. Hendaknya pula anda mentolerir kekurangan mereka, mengabaikan keterbatasan mereka. Janganlah angkuh di hadapan rakyat kecil hanya karena kecilnya dia.

Jangan pula sombong kepada pihak yang kurang cara pandangnya hanya karena kekurangan itu. Begitu pun jangan arogan terhadap orang miskin semata disebabkan kemiskinannya.

Tapi hendaknya, pergaulilah mereka semuanya dengan penuh kelembutan dan sambutan hangat yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta yang dapat melapangkan dada mereka."


⬜️ (KEDUA) وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ AJAKLAH ORANG LAIN MENGERJAKAN YANG MA'RUF

Syaikh As Sa'di rahimahullah menerangkan:

“Yaitu melalui semua bentuk ucapan dan perbuatan yang baik, perangai terpuji terhadap kerabat dekat ataupun orang lain. Jadikanlah yang diterima masyarakat dari diri anda berupa pengajaran ilmu, atau anjuran kebaikan, berupa hubungan silaturrahim, bakti kepada kedua orang tua, mendamaikan pertikaian antar sesama, nasihat yang bermanfaat, saran yang benar, bantuan terhadap kebajikan dan taqwa, pencegahan dari keburukan, ataupun bimbingan dalam meraih kebaikan agama."


⬜️ (KETIGA) وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ BERPALINGLAH DENGAN TIDAK PERLU MENGGUBRIS ORANG-ORANG YANG BELUM PAHAM

Syaikh As Sa'di rahimahullah menyatakan:

“Allah ta'ala memerintahkan kita ketika menghadapi orang jahil (yang tidak paham agama) dengan menghindar dari mereka, dan tidak menanggapi kebodohan mereka.

Sehingga jika ada orang yang mengganggu anda dengan ucapan atau perbuatannya, jangan balas menyakitinya.

Begitu pula terhadap orang yang tidak lagi berbagi dengan anda, tetap berikan kebaikan anda kepadanya. Kepada yang telah memutus hubungan, hendaklah anda menyambungnya. Pun terhadap yang mendzalimi anda, tetaplah bersikap adil kepadanya.”

(Sampai disini kutipan makna dari Taisirul KarimirRahman).

Sehingga baik untuk kita nyatakan, saatnyalah momentum tepat kita menerapkannya. Senyampang (selagi_ed) tempaan dari Allah di bulan Ramadhan yang mengajarkan kesabaran masih lekat. Mumpung target ketakwaan masih dimuliakan.

Sambunglah silaturrahim yang mungkin terputus. Bersikaplah mulia dengan mengajukan permohonan maaf untuk menyulam kembali tali persaudaraan yang terkoyak. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu langsung, semoga tercukupi dengan sarana komunikasi lain yang tersedia luas.
Segeralah memulai bertegur sapa, padamkan kemarahan dan permusuhan. Jangan biarkan dendam berkepanjangan apalagi menahun.

عَنْ أَبِي خِرَاشٍ السُّلَمِيِّ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ

“Orang yang memboikot tidak menyapa saudaranya selama periode setahun, keadaannya seperti menumpahkan darahnya.”  (HR. Abu Dawud, dishahihkan Syakh Al Albani rahimahumullah).

Apabila kita diadu oleh pihak yang tidak senang kita bersatu, hendaknya kita mudah dipersatukan.

Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

الْمُؤْمِنُ مَأْلَفٌ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ

"Orang beriman itu bersifat lembut mudah berdamai, tidak sempurna kebaikan bagi orang yang tidak mudah bersatu dan tidak bisa dipersatukan" (Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no. 425)

Mari turut berbuat kebaikan dan terus mengajak saudara-saudara kita lainnya untuk andil dan turut melakukannya.

Jangan terhambat berbuat baik hanya karena celaan pihak-pihak yang belum memahami indahnya kebaikan ini.

Berpalinglah dari mereka orang-orang jahil, pihak-pihak yang berusaha merusak persatuan kita. Sambut dan ikutilah bimbingan dan nasihat para ulama, terkhusus para ulama senior terkemuka di masa kita.

Yakinlah dengan janji Allah والعاقبة للمتقين  “Akhir yang baik hanya bagi pihak yang bertaqwa.”

Contoh gamblang bisa diperoleh dari kisah sarat hikmah perjalan hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Betapa beliau telah diberi taufiq Allah:

⚫️ Untuk bersabar dan berhati murah lagi mudah memaafkan kekejaman saudar-saudaranya di masa lalu

⚫️ Untuk konsisten berdakwah mengajarkan tauhid dan mengajak berbuat kebaikan walaupun dalam kesendirian dan kesulitan.

⚫️ Dan untuk tidak menggubris seruan kebodohan untuk bermaksiat kepada Allah, meskipun begitu dahsyat rayuan dan terbuka kesempatan.



Bukti hasil akhirnya Allah abadikan dalam firman-Nya, kala beliau menaikkan kedua ayah-bundanya ke atas singgasana. Dan semua saudaranya yang dulu mendzalimi beliau bersujud di hadapan Nabi Yusuf alaihissalam;

وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ

"Dan Yusuf berkata: "Wahai ayahandaku inilah penjelasan ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Robku telah menjadikannya sebagai kenyataan."

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ

"Dan sesungguhnya Robku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa engkau dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antara diriku dan saudara-saudaraku."

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

"Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."  [QS Yusuf : 100]

Kebaikan dan kebahagian masih mungkin di raih di dunia. Adapun di akhirat, lebih jelas tanpa keraguan!

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Negeri akhirat itu, hanya Kami peruntukkan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri maupun berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Mari bersama mewujudkan kasih sayang ikhwan, dari sebuah kerinduan menjadi kenyataan!

Semoga Allah menyatukan hati-hati kita dalam ketaqwaan dan mengumpulkan kita semua di jannah-Nya sebagai saudara yang saling mencinta, kekal abadi dalam naungan rahmat-Nya.

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أما بعد :

Alhamdulillah, telah sampai kepada kami bimbingan (yang bersifat terbatas) dari Syaikh kita, Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari —semoga Allah menjaga beliau—pada Senin, 5 Syawal 1442 H.

Atas dasar itu, kami nasihatkan untuk diri kami dan untuk segenap ikhwah salafiyyin:

1. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah, terkhusus dalam dakwah ini dan menjaga nama baiknya.

2. Hendaknya kita semua menjaga ukhuwah di atas al-haq dan menjauhi perpecahan.

3. Kepada seluruh media secara umum, baik akun pribadi maupun grup/channel, seperti: WhatsApp, Telegram, dan medsos serta media lainnya; untuk tidak membicarakan perselisihan yang terjadi ini dan tidak saling memberi dan berbalas komentar terkait hal tersebut.

4. Hendaknya kita menyerahkan permasalahan yang diperselisihkan ini kepada masyayikh.

5. Hendaknya kita tetap fokus dalam dakwah dan tarbiah.

Semoga Allah membalas kebaikan kepada Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari dan menjaga beliau dari segala kejelekan.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.
ّ
وصلى الله على نبينا محمد و آله وصحبه وسلم

Rabu, 7 Syawal 1442 H/19 Mei 2021 M

Ustadz Muhammad as-Sewed
Ustadz Abdushshamad Bawazier
Ustadz Usamah Faishal Mahri
Ustadz Syafrudin
Ustadz Abdul Jabbar
Ustadz Afifudin
Ustadz Qomar Zainudin Abdullah

Link PDF:
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9291

◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 WAKTU PELAKSANAAN PUASA SYAWWAL, ANTARA YANG DIBOLEHKAN DAN YANG LEBIH UTAMA


Pertanyaan:

Sebagian orang, wahai Syaikh yang kami hormati, memilih untuk mengakhirkan pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawwal, hingga bisa bertepatan dengan "hari-hari putih" ( أيام البيض tanggal 13, 14 & 15 qomariyyah -pent.), atau (bertepatan dengan) hari Senin dan Kamis.

Manakah yang lebih utama:
- Bersambung secara berurutan? ataukah
- Menundanya (sehingga bertepatan dengan waktu-waktu tersebut) ?



Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah:

Penunaian bersambung secara urut tentu lebih utama. Karena cara ini menyambungkan dengan Ramadhan seperti (sholat) rowatib secara sempurna.

Sehingga keadaan seseorang menunaikannya langsung dimulai setelah Iedul Fithri sejak hari kedua bulan Syawwal dan menyambungnya, cara ini lebih utama, tanpa keraguan pada hal ini.

Namun jika dia meniatkan bersamaan dengan melakukan puasa 6 hari tersebut bertepatan dengan "hari-hari putih" telah tercukupi juga. Karena dia telah benar-benar menerapkan puasa (setidaknya) tiga hari dalam sebulan.

Kemudian (jika ternyata) pada hari-hari pelaksanaanya itu juga bertepatan dengan hari Senin dan Kamis (keduanya), atau (salah satu dari) hari Kamis atau Senin, tentu saja bisa terjadi. Yang demikian (diharapkan) dapat diraih tergabungkannya 2 pahala sekaligus.

=====================

السؤال:
بعض الناس يا فضيلة الشيخ يؤخرون صيام ست أيام من شوال إلى أيام البيض أو الإثنين والخميس فأيهما أفضل: التتابع أم تأخيرها؟
الجواب:
التتابع أفضل؛ لأن هذه تابعة لرمضان كالراتبة تماماً، فكونه يبدأ بها من حين أن يفطر في اليوم الثاني من شوال ويتابع أفضل؛ لا شك في هذا، ثم إنه إذا نوى بهذه الأيام الستة أنها عن أيام البيض كفاه؛ لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من كل شهر، ثم إن هذه الأيام سوف يمر عليه فيها يوم الإثنين ويوم الخميس، أو يوم الخميس أو يوم الإثنين لا بد من هذا فيحصل له الأجران جميعاً.

Sumber:
https://binothaimeen.net/content/946

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Artikel terkait:

https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/seputar-puasa-6-hari-di-bulan-syawwal/

https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/keutamaan-puasa/

https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/apakah-vaksin-membatalkan-puasa/

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HUKUM MENGGUNAKAN AIR HANGAT UNTUK BERWUDHU ATAU MANDI

Berikut ini akan disebutkan sebagian perbuatan Sahabat Nabi ﷺ yang menggunakan air hangat untuk berwudhu atau mandi, menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut. Apalagi dalam kondisi seseorang kedinginan ketika berada pada cuaca tertentu atau kondisi badannya menyulitkan dia untuk memakai air dingin.

عَنْ سَلَمَةَ: «أَنَّهُ كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ الْمَاءُ فَيَتَوَضَّأُ»

Dari Salamah (bin al-Akwaa’) bahwasanya air dihangatkan untuk beliau kemudian beliau berwudhu (dengan air itu) (H.R atThobaroniy dan Ibnu Abi Syaibah)

Rosyid bin Ma’bad al-Waashity berkata:

رَأَيْتُ الْمَاءَ يُسَخَّنُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي الشِّتَاءِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ بِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Aku melihat air dihangatkan untuk Anas bin Malik di musim dingin, kemudian beliau mandi menggunakan air itu pada hari Jumat (H.R Ibnul Mundzir dalam al-Awsath riwayat no 166)

عَنْ أَيُّوبَ ، قَالَ : سَأَلْتُ نَافِعًا عَنِ الْمَاءِ السُّخْنِ ؟ فَقَالَ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيم

Dari Ayyub ia berkata: Aku bertanya kepada Nafi’ tentang air hangat. Nafi’ berkata: Ibnu Umar biasa berwudhu dengan air hangat (H.R Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya)

Jika cuaca sangat dingin dan seseorang masih memungkinkan untuk menghangatkan air yang ia pakai untuk berwudhu atau mandi, ia tidak boleh bertayammum.

Bertayammum hanya boleh dilakukan jika seseorang yang sangat kedinginan tidak bisa menghangatkan air.

Syaikh Bin Baz rahimahullah menyatakan:

ليس لك التيمم وأنت تقدر على الماء الساخن، التيمم لمن عجز عن الماء الساخن في وقت البرد كما فعل عمرو بن العاص في بعض الغزوات لما اشتد البرد وخاف على نفسه تيمم، أما الذي يستطيع الماء الساخن فليس له التيمم، يسخن الماء ويتوضأ

Anda tidak boleh tayammum jika anda mampu (menggunakan) air hangat. Tayammum adalah untuk yang tidak mampu (mengadakan) air hangat di waktu dingin. Sebagaimana perbuatan Amr bin al-‘Ash dalam sebagian pertempuran (yang diikuti) ketika (cuaca) sangat dingin dan beliau mengkhawatirkan kondisi dirinya sehingga beliau bertayammum. Adapun orang yang mampu untuk membuat air hangat, dia tidak boleh bertayammum. Dia hangatkan air kemudian berwudhu.

(https://binbaz.org.sa/fatwas/16893/حكم-التيمم-خوفا-من-الماء-البارد)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KHUTBAH JUMAT MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT (TEMA: TAUHID)


Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...

Untuk menjadi seorang muslim, dua kalimat syahadat haruslah diucapkan dan dijalankan konsekuensinya. Dua kalimat syahadat adalah persaksian yang kuat yang akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat.

Dua kalimat syahadat itu, jika diucapkan dengan sesungguhnya dan dijalankan kandungannya sebenar-benarnya, akan menyelamatkan seseorang dari api Neraka. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ

Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Allah akan mengharamkan Neraka untuknya (H.R Muslim dari Ubadah bin as-Shomit)

Pada khotbah Jumat kali ini, insyaallah kita akan mengkaji makna dua kalimat syahadat. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq dan pertolonganNya kepada kita semua.

Persaksian yang pertama adalah ungkapan kita:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah

Dalam persaksian ini kita meyakini bahwa seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah batil. Peribadatan yang benar hanyalah yang dipersembahkan untuk Allah semata.

ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ اْلحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ اْلبَاطِلُ

“ Yang demikian itu adalah karena hanya Allahlah satu-satunya (sesembahan) yang haq, adapun yang mereka sembah selainNya adalah batil “(Q.S AlHajj:62)

Segala macam bentuk ibadah tidak boleh dipersembahkan untuk selain Allah. Jangan berdoa kepada selain Allah karena doa adalah ibadah, hanya hak Allah semata.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْر قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الدَّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

"Dari Sahabat an-Nu'maan bin Basyiir –semoga Allah meridhainya- beliau berkata : ' Saya mendengar Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda : " Doa adalah ibadah ". Kemudian beliau membaca ayat (Q.S Ghaafir /al -Mu 'min : 60) (yang artinya) : " Dan Tuhan kalian telah berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang- orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepadaKu, akan Aku masukkan ke dalam Jahannam dalam keadaan hina "(H.R Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, AtTirmidzi,dan beliau menyatakan bahwa hadits ini hasan shohih, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albaany)

Jangan pula berdoa menjadikan selain Allah sebagai perantara dalam permintaan doa kita. Kaum musyrikin yang didakwahi oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam itu menjadikan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai perantara agar semakin mendekatkan mereka kepada Allah. Demikian Allah abadikan pengakuan mereka dalam alQuran:

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali (penolong), (mereka mengatakan) : ‘kami tidaklah menyembah mereka kecuali supaya mendekatkan diri kami kepada Allah’ (Q.S AzZumar : 3)

Konsekuensi dari syahadat yang pertama ini adalah jangan beribadah kecuali hanya kepada Allah. Segala macam ibadah baik lahir maupun batin tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya untuk Allah. Apapun ibadah itu baik ucapan, perbuatan, ataupun yang ada dalam hati.
Ibadah lahiriah, seperti sholat, baca Quran, haji, dan semisalnya. Hanya bisa dipersembahkan untuk Allah. Termasuk juga tidak diperbolehkan mempersembahkan penyembelihan binatang sebagai bentuk pengagungan, kecuali hanya untuk Allah. Seperti ibadah penyembelihan binatang kurban, atau aqiqoh, dipersembahkan hanya untuk Allah.

Ibadah hati seperti tawakkal, takut dalam bentuk ibadah, berharap dalam bentuk ibadah, bertaubat dan memohon ampunan, hanya dipersembahkan untuk Allah. Tidak boleh dibagi dengan yang lainnya.

Jangan meminta pertolongan untuk hal-hal yang merupakan kekhususan Allah. Seperti meminta kesembuhan dari penyakit, keselamatan dari api Neraka, mendapatkan jodoh yang sholih atau sholihah, mendapatkan anugerah anak, dan semisalnya. Permintaan semacam ini hanya Allah saja yang mampu memberikannya, tidak boleh seseorang meminta hal-hal semacam itu kepada selain Allah.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kita agar bisa memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْبَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah...

Kalimat syahadat yang kedua adalah persaksian bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah Rasul atau utusan Allah. Dalam sebagian hadits, disebutkan lafadz kalimat syahadat yang lebih lengkap adalah persaksian bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah hamba dan utusan Allah.

Seperti dalam doa setelah selesai wudhu’, barangsiapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat, setelah berwudhu secara sempurna, akan dibukakan 8 pintu Surga. Dipersilakan kepadanya untuk memasuki Surga melalui pintu mana saja yang dikehendakinya. Dua kalimat syahadat dalam doa setelah selesai wudhu itu adalah ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ANNA MUHAMMADAN ABDULLAAHI WA ROSUULUH (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Dari Umar –radliyallaahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh “ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)
Dalam persaksian ini kita meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah hamba Allah. Karena itu beliau tidak boleh dituhankan. Beliau tidak boleh disembah. Beliau tidak memiliki sifat-sifat Uluhiyyah maupun Rububiyyah.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا . قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak mampu menolak kemudharatan terhadap kalian, tidak pula mampu memberikan kebaikan apapun kepada kalian (jika Allah tidak menghendakinya). Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya (jika aku bermaksiat kepada Allah) tidak ada siapapun yang bisa melindungi aku dari adzab Allah. Aku tidak bisa mendapatkan siapapun selain Dia (Allah) sebagai pelindung (Q.S al-Jin ayat 21-22)

Kita tidak boleh menjadikan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam sebagai tandingan bagi Allah.

...فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

...maka janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah jika kalian mengetahuinya (Q.S al-Baqoroh ayat 22)

Kita juga bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasul atau utusan Allah. Karena itu, janganlah mendustakan beliau. Jika kita bersaksi bahwa beliau adalah Rasul, benarkanlah setiap berita yang beliau sampaikan dalam hadits-hadits yang shahih. Janganlah ditolak meski tidak terjangkau oleh akal kita yang terbatas. Jangan menuruti perasaan hawa nafsu kita untuk menolak khabar atau perintah dari beliau. Taatilah perintah beliau dan jauhilah larangan beliau. Jangan beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau ajarkan kepada kita.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita bisa merealisasikan dua kalimat syahadat yang kita ikrarkan secara benar sesuai dengan yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لَنَا خَيْرًا
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 2)

BAB: ADAB
MELIHAT ORANG YANG DI BAWAH UNTUK MENUMBUHKAN PERASAAN BERSYUKUR



Hadits no 1438

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dan dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang di atas kalian. Selayaknya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian >> (muttafaqun alaih)



Penjelasan:

Cara kita memandang diri dan sekitar kita juga diatur oleh syariat. Salah satu upaya untuk memunculkan perasaan syukur terhadap nikmat Allah adalah dengan melihat ke arah orang-orang yang di bawah kita dalam hal harta dan kondisi fisik.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika salah seorang dari kalian memandang kepada orang yang diberi kelebihan harta dan fisik, lihatlah kepada orang yang kondisinya di bawahnya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Secara harta, lihatlah orang yang lebih kekurangan dibandingkan kita. Secara fisik, mungkin anggota tubuh kita lebih lengkap dan lebih berfungsi dibandingkan saudara-saudara kita yang lain. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala. (Faidah disarikan dari penjelasan as-Shon’aaniy dalam Subulus Salam)

Kita juga dibimbing untuk tidak silau melihat orang-orang kafir yang sukses kehidupan duniawinya. Sesungguhnya kesenangan duniawi hanyalah sementara. Surga yang Allah sediakan bagi orang-orang bertakwa jauh lebih nikmat rezekinya dan kekal tak akan sirna.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Janganlah pandanganmu terpukau oleh bermacam gemerlap kehidupan dunia pada mereka. (Kenikmatan itu adalah) ujian Kami untuk mereka. Sedangkan rezeki Rabbmu (dalam kehidupan akhirat) lebih baik dan lebih kekal (Q.S Thoha ayat 131)

(Faidah disarikan dari penjelasan al-Munawiy dalam atTaisiir bi syarhil Jami’is Shoghir)

Jika dalam urusan duniawi kita hendaknya melihat kepada orang-orang yang di bawah kita, namun dalam amalan kebaikan dan urusan akhirat kita harus terpacu untuk lebih bersemangat dengan melihat pada orang-orang mulia yang berilmu dan bertakwa (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdullah al-Basaam dalam Taudhihul Ahkam dan penjelasan Syaikh Bin Baz dalam al-Hulal al-Ibriziyyah)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 3)

BAB: ADAB
KEBAIKAN ADALAH AKHLAK YANG MULIA


وَعَنِ النَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ - رضي الله عنه - قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ? فَقَالَ: - الْبِرُّ: حُسْنُ الْخُلُقِ, وَالْإِثْمُ: مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ - أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari anNawwaas bin Sam’aan –semoga Allah meridainya- ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau bersabda: << Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka diketahui oleh orang lain (H.R Muslim)



Penjelasan:

Para Ulama’ Salaf mendefinisikan akhlak yang baik, di antaranya :

Al-Hasan al-Bashri mengatakan : “ Akhlak yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).

AsySya’bi menjelaskan : “ Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis “

Ibnul Mubaarok mengatakan : “ Akhlak yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain “

(Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal 454-457)

Di antara hadits tentang keutamaan akhlak yang mulia adalah:

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik “ (H.R Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya” (H.R Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

Allah Ta’ala menyebutkan satu ayat yang mencakup macam-macam kebaikan (al-Birr) sekaligus merupakan bentuk akhlak yang mulia:

...وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

...akan tetapi, kebaikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para Malaikat, Kitab (yang diturunkan Allah), para Nabi. Dan memberikan harta yang disukai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, kaum miskin, Ibnus Sabil, (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan sholat, menunaikan zakat, memenuhi janji jika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kondisi kekurangan, sakit, maupun saat pertempuran. Mereka itu adalah orang-orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa (Q.S al-Baqoroh ayat 177).

Hadits ini juga menjelaskan tanda-tanda untuk mengenali suatu dosa. Sesuatu yang menggelisahkan hati orang beriman dan tidak suka jika orang lain mengetahuinya.

Kadangkala kita dihadapkan dengan suatu hal yang masih baru dan asing bagi kita hukumnya. Tidak jelas apakah ini halal atau haram. Jika sesuatu itu jelas berdasarkan dalil yang shahih bahwa itu haram, kita seharusnya meninggalkannya. Sebaliknya, jika jelas halal, kita juga dengan lapang dada memanfaatkannya.
Apabila seseorang masih berada di atas fitrahnya, ia akan mengenali dengan kondisi hati dan jiwanya saat melakukan perbuatan yang masih samar hukumnya tersebut. Jika saat melakukannya hati menjadi gelisah dan tidak tenang, itu salah satu tanda bahwa perbuatan tersebut adalah dosa. Demikian juga jika kita tidak suka apabila orang lain mengetahui saat kita melakukannya. Itu tanda yang menunjukkan bahwa perbuatan itu dosa.

Nabi memberikan bimbingan demikian kepada anNawwaas bin Sam’aan seorang Sahabat Nabi yang mulia yang hatinya masih lurus bisa mengenali tanda-tanda dosa itu dengan hatinya.

Berbeda dengan orang yang sudah rusak tabiatnya, banyak berbuat kefasikan dan dosa, ia tidak akan merasa gelisah dengan perbuatan dosa yang dikerjakannya.

Bahkan justru akan merasa bangga. Parameter membedakan kebaikan dan dosa yang disebut dalam hadits ini hanya berlaku untuk orang yang baik dan lurus. Demikian juga hadits: mintalah fatwa kepada hatimu. (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarh Arbain anNawawiyyah).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
🕰🐚📭
═══════════
A ᴜ ᴅ ɪ ᴏ R ᴇ ᴋ ᴀ ᴍ ᴀ ɴ
═══════════
🚇 UKHUWAH : MENJAGA KEBERSAMAAN DAN SALING MEMAHAMI ANTAR SALAFIYYIN


🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri hafizhahullah

📅 Tausiyah hari Sabtu, 30 Rajab 1437 H / 7 Mei 2016 M di TKQ An Najiyah Perumahan Telaga Murni, Blok E19 no.2, Cikarang Barat, Bekasi
Link: bit.ly/1Wjb8rc

🅾 Durasi: 22:48 (5,43 MB)


═══════════════════
Beberapa perkara yang hendaknya dijaga dalam menjaga persaudaraan adalah:

Adanya TASAAMUH & TAFAAHUM ( Saling berlapang dada serta Saling memahami )
Saling TANAASHUH ( Saling menasihati )
Adanya ITSAR ( Mementingkan kepentingan saudaranya )
Adanya AT-TAGHAFUL ( Saling melupakan & memaafkan ) kesalahan saudaramu

═══════════════════

#tasamuh #tafahum
•••••
📓Sumber:
@tholibulilmicikarang
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 4)

BAB: ADAB
LARANGAN MEMBUAT SEORANG MUSLIM BERSEDIH

Hadits no 1440

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اِثْنَانِ دُونَ اَلْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Dan dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridainya – ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik tanpa melibatkan satu orang yang lain, hingga mereka berbaur dengan orang-orang. Karena hal itu akan membuat (satu orang yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan itu) akan bersedih (muttafaqun alaih, lafadz sesuai riwayat Muslim)


Penjelasan:


Hadits ini adalah salah satu bimbingan Nabi shollallahu alaihi wasallam untuk menjaga hubungan baik dan persaudaraan antar sesama muslim. Apabila dalam suatu kondisi ada 3 orang saja, tidak boleh ada pembicaraan rahasia yang hanya melibatkan 2 orang. Satu orang dibiarkan tidak terlibat dalam pembicaraan. Hal ini akan membuat satu orang itu bersedih.

Hadits ini menunjukkan larangan membuat seorang muslim bersedih. Membuat seorang muslim bersedih adalah termasuk hal yang menyakitkan baginya, dan orang yang berbuat demikian berdosa. Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:

وَالَّذِينَ يؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فقَدِ احْتَمَلُوا بهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang beriman laki-laki dan wanita, bukan dengan sebab (kesalahan) yang mereka lakukan, sungguh orang-orang itu telah membawa kedustaan dan dosa yang jelas (Q.S al-Ahzab ayat 58)

(faidah penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin)

Termasuk pembicaraan rahasia atau berbisik yang terlarang antar dua orang dan tidak melibatkan satu orang yang lain adalah apabila keduanya berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Sedangkan satu orang itu tidak memahami percakapan mereka (disarikan dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam)

Hal yang dipahami dari hadits itu adalah bahwa jika sekelompok orang itu total berjumlah 4 orang atau lebih, maka tidak mengapa terjadi pembicaraan rahasia hanya 2 orang tanpa melibatkan yang lain (Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam (6/250)).

Dalam riwayat hadits yang lain disebutkan bahwa jika hanya bertiga dan 2 orang hendak melakukan pembicaraan rahasia, hal itu boleh dilakukan jika mendapatkan izin dari satu orang yang lainnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ

Dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbicara rahasia (berbisik) tanpa melibatkan orang ketiga kecuali dengan seizinnya. Karena hal itu akan membuatnya bersedih >> (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Kalaupun ada pembicaraan rahasia antara 2 orang atau lebih, tidak boleh dalam pembicaraan yang mengandung dosa dan permusuhan. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berbicara secara rahasia, janganlah kalian berbicara dosa dan permusuhan serta untuk bermaksiat kepada Rasul. Berbicaralah dalam kebaikan dan ketakwaan, bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan (Q.S al-Mujadilah ayat 9)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BAGAIMANA SIKAP KITA DENGAN KONFLIK PALESTINA? MENGAPA ARAB SAUDI TIDAK TERJUN MENGERAHKAN MILITERNYA MELAWAN YAHUDI ISRAEL?

🎙Oleh :
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin حفظه الله

📆 Audio Kajian "Ta'awwun Dalam Dakwah" | Sabtu, 4 Rabi'uts Tsani 1439 H ~ 23 Desember 2017 di Rumah Belajar As-Salafy, Manglayang Regency, Cimekar, Cileunyi, Bandung

📊 Durasi 06:28 [1,7 MB]
📚 Link http://bit.ly/3oRXmNG

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
🚇 (ARSIP) APA YANG HARUS KITA LAKUKAN TERKAIT TRAGEDI PALESTINA? : BENARKAH SAUDI TIDAK MAU PEDULI DENGAN MUSLIMIN PALESTINA?

🎙Bersama :
Al-Ustadz Luqman Ba'abduh حفظه الله

📆 Audio Kajian 16-25 Muharram 1430 H ~ 13-22 Juni 2009 M | Tasjilat as-Salafy Jember

📊 Durasi 15:27 [3,7 MB]
📚 Link: https://tinyurl.com/yhlrc5dt


(*) Juga Fatwa Ulama menyikapi tragedi Palestina: apakah dengan kita berdakwah disana, menyumbang dana/harta ataukah berjihad bertempur bersama mereka?

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 SHOLAT GERHANA MATAHARI DAN BULAN : CARA SHOLAT KUSUF, SHALAT HUSUF, SHOLAT KHUSUF


APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN SHOLAT GERHANA?

Jawab:

Sholat gerhana adalah sholat yang dilakukan saat terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari. Jika terlihat di daerah itu gerhana bulan/ matahari baik penuh atau sebagian, disyariatkan bagi penduduk daerah tersebut untuk melaksanakan sholat gerhana.

Sedangkan jika di suatu daerah tidak terlihat gerhana, maka tidak disyariatkan sholat gerhana. Meski menurut prediksi ilmu astronomi akan terlihat gerhana di daerah itu. Jadi, patokannya adalah apakah pada saat kejadian terlihat atau tidak. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى يُفْرَجَ عَنْكُمْ

Jika kalian melihat hal itu (gerhana), maka sholatlah hingga dihilangkan hal itu terhadap kalian… (H.R al-Bukhari dari Aisyah)

Waktu pelaksanaan sholat sholat gerhana adalah dari sejak terlihat gerhana hingga tidak lagi terlihat gerhana. Sholat gerhana disunnahkan untuk dikerjakan meski pada saat terlarang melakukan sholat seperti setelah sholat Ashar, hal ini adalah pendapat yang benar dalam madzhab asySyafii.



APAKAH HUKUM SHOLAT GERHANA?

Jawab: Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat bahwa sholat gerhana adalah sunnah muakkadah.



APAKAH DISYARIATKAN MENGUMANDANGKAN : ASHSHOLAATU JAAMIAH UNTUK MEMANGGIL PARA JAMAAH DALAM SHOLAT GERHANA?

Jawab: Ya, disyariatkan mengumandangkan ashsholaatu Jaamiah saat terjadi gerhana.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ وَصَلَّى

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam maka beliau mengutus orang untuk berseru: Assholaatu Jaamiah. Maka manusia berkumpul, kemudian beliau maju bertakbir dan sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim)



BAGAIMANA TATA CARA SHOLAT GERHANA?

Jawab:

Sholat gerhana bisa dikerjakan sendirian, dan akan lebih baik lagi jika dikerjakan berjamaah.Jika dikerjakan berjamaah, maka Imam membaca alFatihah dan surat setelahnya dengan keras (jahr) meski dilakukan di siang hari.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا جَهَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ فَرَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يُعَاوِدُ الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ

Dari Aisyah radhiyallahu anha : Nabi shollallahu alaihi wasallam mengeraskan bacaan dalam sholat gerhana. Jika selesai dari membaca ayat, beliau bertakbir kemudian ruku’. Setelah bangkit dari ruku’ beliau mengucapkan : Samiallaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamdu. Kemudian mengulangi membaca (alFatihah dan surat). Dalam sholat gerhana terdapat 4 ruku’ dalam dua rokaat, dan ada 4 sujud (dalam keseluruhan) (H.R al-Bukhari)

Secara ringkas, tata cara sholat gerhana adalah sebagai berikut:

1. Takbiratul Ihram

2. Membaca istiftah, taawwudz, alFatihah dan surat lain (jika memungkinkan membaca surat yang panjang, seperti alBaqoroh, namun jika tidak memungkinkan, bisa surat apa saja).

3. Ruku’, jika memungkinkan dilakukan dalam waktu yang lama, apabila membaca surat yang panjang. Sebagaimana sunnah Nabi kadar lama ruku’ hampir sama dengan kadar membaca surat.

4. Bangkit dari ruku’ mengucapkan Samiallahu liman hamidah, kemudian membaca robbanaa wa lakal hamdu.

5. Tidak menuju sujud, namun berdiri kembali bersedekap dengan membaca alFatihah dan surat.

6. Ruku’ yang kedua dalam rokaat ini.

7. Bangkit dari ruku’, mengucapkan Samiallaahu liman hamidah, kemudian membaca robbanaa wa lakal hamdu.

8. Turun menuju sujud, kemudian bangkit dari sujud untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud lagi.

9. Bangkit ke rokaat kedua, memulai dengan alFatihah kemudian membaca surat. Selanjutnya sama caranya dengan cara di rokaat pertama.