منتدى نشر الفـــــــوائد
7.58K subscribers
4.3K photos
256 videos
279 files
5.61K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 PERTANYAAN TENTANG SHALAT TARAWIH DAN WITIR

Pertanyaan dari salah seorang anggota grup WA al I’tishom:

Bismillaah
Min fadhlikum afwan ustadz Sekedar saran / usulan, mohon dijabarkan digroup AL 'ITHISHOM (terkait sholat tarawih):
•Yang dikerjakan 11 raka'at (apa dua² atau juga boleh 4raka'at salam)
•Cara witir langsung 3 atau 2 trus 1
•Dan dasar orang² yang mengerjakan 23raka'at.

Jazakallohu Khoyron



💡Jawaban:

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa menolong kita untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada-Nya.

Shalat tarawih dan witir adalah salah satu ibadah yang disunnahkan di malam bulan Ramadhan. Bisa juga dikatakan bahwa itu adalah termasuk bagian dari Qiyamul Lail (shalat malam) di bulan Ramadhan.

Berkenaan dengan jumlah rakaat dalam shalat tarawih dan witir, kalau secara perbuatan, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha, Nabi shollallahu alaihi wasallam dalam melakukan qiyamul lail di dalam maupun di luar Ramadhan tidak pernah lebih dari 11 rakaat.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman yang mengkhabarkan bahwa ia bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha: Bagaimana sholat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan? (Aisyah) berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidaklah menambah di Ramadhan atau di bulan lain lebih dari 11 rokaat (H.R alBukhari dan Muslim)

Sedangkan secara ucapan, sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam tidaklah membatasi harus berapa rakaat totalnya. Beliau memberikan bimbingan bahwa shalat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat kemudian diakhiri satu rakaat.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا تَرَى فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ قَالَ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ الصُّبْحَ صَلَّى وَاحِدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى

Dari Abdullah bin Umar beliau berkata: Seseorang laki-laki bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam pada saat beliau di atas mimbar: Bagaimana pendapat anda tentang sholat malam. Rasul bersabda: dua rakaat-dua rakaat. Jika seseorang khawatir kedahuluan Subuh, hendaknya ia sholat 1 rakaat sehingga akan menjadi witir terhadap sholat sebelumnya (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Bagi yang ingin melakukan shalat tarawih dan witir dengan total 11 rakaat, lakukanlah dua rakaat dua rakaat dan diakhiri dengan 1 rakaat.


BAGAIMANA JIKA 11 RAKAAT DILAKUKAN 4 RAKAAT 4 RAKAAT?

Ada perbedaan pendapat para Ulama.

Pendapat pertama: Boleh. Namun yang lebih utama adalah dilakukan 2 rakaat 2 rakaat. Ini adalah pendapat anNawawiy dalam syarh Shahih Muslim (6/20)), dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albaniy.

Pendapat kedua: Tidak boleh. Karena seharusnya shalat malam adalah 2 rakaat 2 rakaat sebagaimana hadits Ibnu Umar di atas. Ini dinisbatkan sebagai pendapat al-Imam Ahmad, dan dikuatkan oleh Syaikh Ibn Utsaimin. Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwa menurut kebanyakan Ulama hal itu berkisar antara makruh atau haram.

Bagaimana dengan hadits Aisyah yang menunjukkan bahwa secara zhahir Nabi pernah melakukan shalat 4 rakaat 4 rakaat? Yaitu hadits berikut:

يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

Beliau shalat 4 rakaat. Janganlah tanya bagusnya dan panjangnya shalat itu. Kemudian beliau shalat 4 rakaat. Janganlah tanya bagusnya dan panjangnya shalat itu. Kemudian beliau shalat 3 rakaat (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Sebagian Ulama menafsirkan makna hadits Aisyah itu dengan hadits Aisyah juga dalam riwayat lain, bahwa maksud 4 rakaat itu bukanlah dengan satu salam. Namun 4 rakaat dengan 2 salam. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah riwayat Muslim:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam shalat antara selesainya shalat Isya – yang disebut oleh orang-orang sebagai al-‘Atamah – hingga fajar, sebanyak 11 rakaat. Beliau salam setiap 2 rakaat dan melakukan witir 1 rakaat (H.R Muslim)


BAGAIMANA CARA WITIR 3 RAKAAT?

Boleh dilakukan 2 rakaat kemudian 1 rakaat. Boleh juga 3 rakaat langsung dengan satu kali tasyahhud di akhir dan 1 salam.

Di antara dalil bolehnya shalat witir 2 rakaat kemudian 1 rakaat, sebagaimana hadits Nabi dari Abdullah bin Umar riwayat al-Bukhari dan Muslim di atas. Secara perbuatan, itulah yang dilakukan oleh Ibnu Umar:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَالرَّكْعَةِ فِي الْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

Bahwasanya Abdullah bin Umar salam setiap dua rakaat dan satu rakaat pada witir. Hingga beliau memerintahkan kepada sebagian keperluan beliau (H.R Malik dalam al-Muwaththa’)

Sedangkan dalil bolehnya melakukan shalat 3 rakaat dengan satu salam dan satu tasyahhud:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam witir dengan 3 rokaat tidak duduk (tasyahhud) kecuali di akhir (rokaat) (H.R al-Baihaqy).

Sebagian saudara kita melakukan shalat tarawih dan witir sehingga totalnya adalah 23 rakaat. Hal itu tidak mengapa. Karena Nabi tidak membatasi jumlah rakaatnya.

Pada masa Umar bin al-Khottob pernah dilakukan sholat tarawih berjamaah 11 rokaat dan juga pernah 21 rokaat (Majmu’ Fataawa Ibn Baaz (11/322)). Kedua-duanya pernah dilakukan. Sebagian riwayat menunjukkan bahwa pernah dilakukan 23 rakaat

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْر

Dari as-Saa-ib bin Yazid ia berkata: Umar memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Daari untuk mengimami manusia dengan 11 rokaat. Imam membaca ratusan ayat sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri. Kami tidak berpaling (dari sholat) hingga menjelang fajar (H.R Malik no 379, Ibnu Abi Syaibah, al-Baihaqy)

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ أَنَّ عُمَرَ جَمَعَ النَّاسَ فِي رَمَضَانَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَعَلَى تَمِيْمِ الدَّارِي عَلَى إِحْدَى وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً يَقْرَؤُوْنَ بِالْمِئِيْنَ وَيَنْصَرِفُوْنَ عِنْدَ فُرُوْعِ الْفَجْرِ

Dari as-Saaib bin Yazid bahwasanya Umar mengumpulkan manusia pada Ramadhan (untuk sholat di belakang) Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Daari 21 rokaat membaca ratusan ayat dan selesai (sholat) menjelang fajar (H.R Abdurrozzaq)

عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِى زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِى رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَة

Dari Yazid bin Rumaan bahwasanya orang-orang pernah melakukan qiyamul lail di masa Umar bin al-Khoththob pada saat Ramadhan dengan 23 rakaat (H.R Malik)

Wallaahu A’lam.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUS SHIYAAM MIN BULUGHIL MARAM (Bag ke-7)

🗒️ Keberkahan dalam Makan Sahur

Hadits no 660

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dan dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya – ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Bersahurlah, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan (muttafaqun alaih).

💡Penjelasan:

Bersahur adalah makan dan minum sebelum terbit fajar. anNawawiy rahimahullah menjelaskan bahwa rentang waktu sahur:

وَقْتُ السُّحُوْرِ بَيْنَ نِصْفِ اللَّيْلِ وَطُلُوْعِ الْفَجْرِ

Waktu sahur adalah antara pertengahan malam dengan terbitnya fajar (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (6/360)).

Namun, dianjurkan untuk mengakhirkan sahur hingga menjelang terbit fajar. Seperti yang akan dijelaskan nanti, insyaallah.

Ibnul Mundzir menukil kesepakatan Ulama bahwa hukum bersahur adalah mustahab (dianjurkan)(al-Ijma’(1/48)). Bukanlah terhitung sebagai kewajiban, karena Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah melakukan puasa wishol, yaitu menyambung puasa dari satu hari ke hari berikutnya tanpa berbuka maupun bersahur. Demikian juga puasa wishol pernah dilakukan oleh sebagian Sahabat. Meskipun yang lebih utama adalah tidak melakukan wishol, sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan tersendiri, insyaallah.

Hadits dari Sahabat Anas bin Malik ini menunjukkan keberkahan bagi seseorang yang menyantap hidangan makanan atau minuman sahur. Keberkahan pada sahur juga disebutkan dalam hadits-hadits dari Sahabat Nabi yang lain, di antaranya:

عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَة قَالَ:دَعَانِي رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى السَّحُوْرِ فِي رَمَضَانَ، فَقَالَ:" هَلُمَّ إِلَى الغَدَاءِ الْمُبَارَكِ "

Dari al-‘Irbadl bin Sariyah ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengundang aku untuk bersantap sahur di bulan Ramadhan. Beliau bersabda: Mari menuju hidangan makan pagi yang diberkahi (H.R Abu Dawud, dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan Syaikh al-Albaniy)

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «عَلَيْكُمْ بِغَدَاءِ السَّحُورِ فَإِنَّهُ هُو الْغَدَاءُ الْمُبَارَكُ»

Dari al-Miqdaam bin Ma’diikarib dari Nabi shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Hendaknya kalian menyantap hidangan sahur, karena itu adalah makan pagi yang diberkahi (H.R anNasaai, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh al-Albaniy)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ

Dari Abu Said al-Khudriy ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sahur adalah makanan keberkahan...(H.R Ahmad)

Apa saja keberkahan dalam sahur? Keberkahan artinya kebaikan yang menetap dan banyak. Tentunya tidak ada yang bisa menghitungnya secara pasti berapa banyak kebaikan di dalamnya kecuali Allah Azza Wa Jalla. Namun sebagian Ulama menyebutkan sebagian di antara keberkahan dalam sahur, seperti anNawawiy dalam syarh Shahih Muslim, menyatakan:

Adapun keberkahan pada sahur (di antaranya): sahur itu menguatkan orang untuk berpuasa, membuatnya lebih bersemangat, lebih termotivasi untuk menambah puasa karena ringannya penderitaan yang dirasakan bagi orang yang bersahur. Ini adalah pendapat yang benar secara makna. Ada pula Ulama yang menyatakan bahwa karena pada sahur itu seorang terjaga untuk berdzikir dan berdoa di waktu mulia itu waktu turunnya rahmat dan terkabulnya doa. Ia juga bisa memohon ampunan (kepada Allah). Bisa jadi seorang itu berwudhu kemudian shalat. Atau ia meneruskan bangun untuk berdzikir, berdoa, shalat, atau melakukan persiapan hingga terbit fajar (al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (7/207))
Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan: Keberkahan sahur yang dimaksud adalah keberkahan secara syar’i dan keberkahan untuk badan. Keberkahan syar’i adalah dengan menjalankan perintah Rasul shollallahu alaihi wasallam dan meneladani beliau.

Sedangkan keberkahan pada badan di antaranya adalah memberikan nutrisi bagi badan dan menguatkan badan untuk berpuasa (Majmu’ Fataawa wa Rasaail al-Utsaimin (19/362)).

Nabi shollallahu alaihi wasallam benar-benar menekankan anjuran untuk bersahur bagi kaum muslimin, meskipun hanya dengan seteguk air.

فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ

Janganlah sekali-kali meninggalkannya (bersantap sahur) meski hanya meneguk seteguk air (H.R Ahmad dan dinyatakan bahwa sanadnya kuat oleh al-Mundziri dalam atTarghib wat Tarhiib, dihasankan Syaikh al-Albany)

Allah dan para Malaikat akan bersholawat kepada orang-orang yang bersahur:

فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bersholawat kepada orang-orang yang bersahur (H.R Ahmad)

Dengan bersahur, kaum muslimin telah menyelisihi perbuatan Ahli Kitab Yahudi dan Nashara:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur (H.R Muslim dari Amr bin al-Ash)

Dianjurkan untuk mengakhirkan sahur. Dalam hadits Zaid bin Tsabit riwayat al-Bukhari, jarak antara waktu bersahurnya Nabi dengan adzan Subuh adalah seperti orang yang membaca 50 ayat-ayat yang panjangnya pertengahan. Syaikh Ibn Utsaimin memperkirakan 10 hingga 15 menit (syarh Riyadhis Sholihin (1/1414).

Berakhirnya masa sahur bukanlah dengan berakhirnya kumandang imsak. Seseorang masih boleh makan, minum, dan melakukan pembatal puasa lainnya selama belum terbit fajar atau masuknya waktu Subuh. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ...

Dan makan dan minumlah hingga tampak jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datangnya) malam (maghrib) (Q.S al-Baqoroh:187)

Di masa Nabi tidak dikenal adanya seruan imsak. Justru di waktu itu, Nabi memerintahkan untuk mengumandangkan adzan 2 kali. Adzan pertama dikumandangkan oleh Bilal, pada saat masih malam. Sedangkan adzan kedua dikumandangkan oleh Ibnu Ummi Maktum pada saat sudah masuk waktu Subuh.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Aisyah radhiyallahu anha : Sesungguhnya Bilal adzan pada saat (masih) malam. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan karena dia tidaklah adzan hingga terbit fajar (H.R alBukhari)

Kalau bisa, jadikan kurma sebagai bagian dari santap sahur kita. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah kurma (H.R Abu Dawud dari Abu Hurairah, dishahihkan Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albaniy)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
🚇 PEMBATAL-PEMBATAL PUASA YANG PALING BANYAK DITANYAKAN TENTANG (HUKUM) NYA


1. SUPPOSITORIA (OBAT BERBENTUK PELURU YANG DIMASUKKAN KE DALAM ANUS ATAU YANG SEMISALNYA).
Tidak membatalkan puasa. [Menurut pendapat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh.]

2. TETES MATA
Tidak membatalkan puasa.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh].

3. CELAK
Tidak membatalkan puasa
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin].

4. TETES TELINGA
Tidak membatalkan puasa.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh]

5. TETES HIDUNG
Jika sampai masuk ke lambung maka membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]
📝 Adapun asy-Syaikh Ibnu Baz berpendapat tetes hidung TIDAK BOLEH bagi orang yang berpuasa. Dan barangsiapa yang mendapati rasanya di tenggorokannya, maka wajib baginya untuk mengqodho' (yakni batal puasanya).

6. SPRAYER (SEMPROT) ASMA.
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz, aay-Syaikh Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah rahimahumulloh].

7. SUNTIKAN NUTRISI
Membatalkan puasa. 👉🏽Adapun suntikan otot, pembuluh darah atau kulit maka tidak membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

8. SUNTIK PENICILLIN
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

9. SUNTIKAN INSULIN BAGI PENDERITA DIABETES
Tidak membatalkan puasa.
[al-Lajnah ad-Daimah].

10. SUNTIK BIUS (ANAESTESI) PADA GIGI, MENAMBAL DAN MEMBERSIHKANNYA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulloh].

11. MENGHIRUP BUKHUR (ASAP GAHARU) DENGAN SENGAJA DALAM KEADAAN TAHU
Membatalkan puasa.
🔻Adapun sekedar mencium aroma bukhur tanpa sengaja menghirupnya, maka TIDAK membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

12. MEMAKAI MINYAK WANGI DAN MENGHIRUPNYA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

13. PELEMBAB BIBIR
Tidak membatalkan puasa,
👉 Dengan syarat tidak ada yg tertelan sedikitpun darinya.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

14. MAKE-UP​
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

15. MUNTAH DENGAN SENGAJA
Membatalkan puasa.
🔻Adapun jika tidak sengaja maka tidak membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

16. EPISTAKSIS (MIMISAN), CABUT GERAHAM DISERTAI KELUARNYA DARAH
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

17. DIAMBIL DARAH UNTUK DIPERIKSA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

18. IHTILAM (MIMPI BASAH)
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

19. BERENANG DAN MENYELAM
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

20. OBAT KUMUR (SEMISAL LISTERINE​)
Tidak membatalkan puasa.
🔻Dengan syarat tidak ada yang tertelan sedikitpun darinya.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

21. SIWAK
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

22. PASTA GIGI (GOSOK GIGI)
Tidak membatalkan puasa selama tidak sampai Ke lambung.
🔻(Akan tetapi) yang lebih baik utama tidak menggunakannya, karena memiliki pengaruh (rasa) yang kuat.

23. MENELAN DAHAK
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].
🔻adapun asy Syaikh ibnu Baz rahimahulloh berpendapat dahak/riak (النخامة) tidak boleh ditelan dan wajib dibuang (tambahan dari pent).

24. MENCICIPI MAKANAN
Tidak membatalkan puasa,
👉🏽 akan tetapi tidak boleh menelannya, dan tidak melakukannya kecuali memang dibutuhkan.

25. KOYO NIKOTIN
Membatalkan puasa.
[al-Lajnah ad-Daimah]


••••
✍🏽 Alih Bahasa : Al-Ustadz Syafi'i al Idrus Hafizhahullah
Dari : "Tanbiihaat Syahri Ramadhon" | Faidah dari Majmu'ah Manaabir al-Kitab was Sunnah dengan sedikit perubahan | Forum Ahlussunnah Ngawi

••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
::
📬 KAJIAN KITABUS SHIYAAM MIN BULUGHIL MARAM (Bag ke-8)

🗒️Berbuka dengan Kurma Atau Air

Hadits no 661

وَعَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ - رضي الله عنه - عَنِ اَلنَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: - إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ - رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِم

Dan dari Salman bin ‘Amir ad-Dhobbiy –semoga Allah meridhainya- dari Nabi shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Jika salah seorang dari kalian berbuka, berbukalah dengan kurma. Jika ia tidak mendapatinya, hendaknya berbuka dengan air karena (air itu) suci. (Hadits diriwayatkan oleh Imam yang Lima, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)


💡Penjelasan:

Hadits dengan jalur riwayat ini adalah hadits yang lemah, karena ada perawi bernama arRobaab yang majhul (tidak dikenal). Syaikh al-Albaniy melemahkannya dalam Dhaif atTirmidzi.

Namun, ada jalur riwayat lain yang shahih, yaitu hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam berbuka sebelum sholat (Maghrib) dengan beberapa kurma basah. Jika tidak ada kurma basah, maka dengan kurma kering. Jika tidak ada kurma kering maka beliau meminum beberapa teguk air (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

Hal itu menunjukkan disunnahkannya segera berbuka ringan sebelum pelaksanaan shalat. Apabila ada kurma, itulah yang didahulukan sebagai hidangan berbuka. Demikian juga air putih.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KETIKA PENDAPAT JUMHUR MENYELISIHI AL HAQ


قال اﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :

《و هذه القاعدة ينبغي أن تعرف، وهي أنك إذا رأيت الجمهور على قول فلا تخرج عنه إلا بعد التأني والتريث والنظر في الأدلة والتدبر فيها؛ لأن قول الجمهور لا يستهان به، وقول الجمهور أقرب للحق من قول الواحد، فلا تفرح أن تجد قولا غريبا تخرج به أمام الناس، ليصدق قول الناس عليك: خالف تعرف، وبعض الناس يقول: خالف تذكر. بل كن مع الجماعة، لكن إذا بان أن الحق في خلاف قول الجمهور فالواجب عليك اتباع الحق. إذاً فكلام المؤلف رحمه الله فيه نظر 》.

(شرح العقيدة السفارينية ص ٧٤٧ ط مدار الوطن للنشر)

Berkata Al Allamah Asy Syaikh Al Utsaimin rahimahullah :

"Dan kaedah ini sudah selayaknya untuk diketahui, yaitu: Jika engkau melihat jumhur ulama berada diatas sebuah pendapat maka janganlah engkau keluar (menyelisihi) pendapat tersebut kecuali setelah berta'anni, pelan-pelan, meneliti dalil-dalil dan mencermatinya.

Karena pendapat jumhur ulama tidak boleh diremehkan, pendapat jumhur ulama itu lebih mendekati kebenaran dibandingkan pendapat satu orang ulama.

Dan janganlah engkau merasa gembira tatkala mendapati pendapat yang gharib/nyeleneh yang dengannya engkau tampil di hadapan manusia sehingga tepatlah apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang: "jika engkau ingin dikenal, maka selisihilah (kebanyakan manusia)". Sebagian lagi mengatakan: "jika engkau ingin disebut-sebut maka selisihilah (kebanyakan manusia)".

Namun hendaknya engkau bersama dengan aljama'ah.

Akan tetapi jika telah jelas bahwa al haq ada pada pendapat yang menyelisihi pendapat jumhur ulama, maka yang wajib atasmu adalah mengikuti al haq.

Jadi pada ucapan muallif (penulis kitab) perlu ditinjau kembali."

📚 Syarh Al-Aqidah as-Safariniyah hal.747
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BOLEHKAH MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ)?


Pertanyaan:

Pertanyaan pertama dari fatwa no. 13845, ada seseorang yang kecanduan narkoba hingga mengalami gangguan jiwa. Apakah dimungkinkan memberikan zakat kepadanya digabungkan bersama (8 golongan) yang disebutkan dalam surah At Taubah?¹)


Jawaban:

Apabila yang mengalami gangguan jiwa tersebut adalah seorang muslim yang fakir, boleh memberikan zakat kepadanya.

Kita memohon taufiq hanya kepada Allah, dan sholawat serta salam semoga dilimpahkan bagi Nabi kita Muhammad, para keluarga beliau serta sahabatnya.

Sumber:
(Kumpulan Fatwa) Komisi Tetap Penelitian Ilmiah dan Fatwa (Kerajaan Saudi Arabia) 8/361 volume ke-2.

Tertanda:
Abdul Aziz bin Abdillah Baz (Ketua)
Abdurrazaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdullah bin Al Ghudayan (Anggota)

---------------------------------------------

هل يجوز إعطاء المجنون من الزكاة ؟

السؤال:
السؤال الأول من الفتوى رقم(13845) كان رجل يدخن حتى صار مجنونا، هل يمكن أن نؤتيه الزكاة مع الذين ذكرتهم سورة التوبة؟

الجواب:
إذا كان المجنون مسلمًا فقيرًا جاز إعطاؤه من الزكاة. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

المصدر:
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (8/361) المجموعة الثانية عبد الله بن غديان ... عضو عبد الرزاق عفيفي ... نائب الرئيس عبد العزيز بن عبد الله بن باز ... الرئيس


Catatan kaki:

¹) Ayat yang dimaksudkan adalah Firman Allah Ta'ala:

{إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [التوبة : 60]

"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para _muallaf_ yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Luas Hikmah-Nya." (QS. At Taubah : 60)

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Diterjemahkan oleh Abu Abdirrahman Sofian dari sumber http://bit.ly/3twQqHH

Grup WA Al I'tishom
Situs resmi: https://itishom.org/
Radio kajian petang: https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUS SHIYAAM MIN BULUGHIL MARAM (Bag ke-9)

🗒️ Larangan Wishol (Menyambung Puasa Hingga Hari Berikutnya)

Hadits no 662

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: - نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ اَلْوِصَالِ, فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ: فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ؟ قَالَ: " وَأَيُّكُمْ مِثْلِي؟ إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي ". فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ اَلْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا, ثُمَّ يَوْمًا, ثُمَّ رَأَوُا اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: " لَوْ تَأَخَّرَ اَلْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ " كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dan dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang wishol (menyambung puasa dari satu hari ke hari berikutnya tanpa berbuka, pent). Kemudian seorang laki-laki muslim berkata: Bukankah anda melakukan wishol wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Siapakah di antara kalian yang seperti aku? Sesungguhnya aku melewati malam dengan diberi makan dan minum oleh Tuhanku”. Ketika para Sahabat menolak untuk berhenti dari wishol, Nabi pun melanjutkan wishol bersama mereka sehari kemudian sehari kemudian mereka melihat hilal (Syawwal). Kemudian beliau bersabda:” Kalau seandainya hilal tidak segera terlihat, niscaya aku akan tambah lagi”. Seakan-akan itu hukuman bagi mereka ketika enggan untuk berhenti (muttafaqun alaih)


💡Penjelasan:

Wishol artinya menyambung puasa ke hari berikutnya tanpa berbuka sama sekali. Hal itu dilarang oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam. Beliau melarang wishol adalah sebagai bentuk kasih sayang dan memberi kemudahan bagi umat. Hal yang utama adalah bersegera berbuka saat terbenam matahari, sebagaimana dijelaskan pada hadits-hadits terdahulu.

Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum wishol. Insyaallah pendapat yang rajih adalah sebagaimana pendapat al-Imam Ahmad bahwasanya wishol diperbolehkan hingga waktu sahur. Berdasarkan hadits:

لَا تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

Janganlah kalian melakukan wishol (menyambung puasa ke hari berikutnya tanpa berbuka, pent). Barang siapa di antara kalian yang hendak melakukan wishol, lakukanlah hingga waktu sahur (H.R al-Bukhari dari Abu Said al-Khudriy)(faidah penjelasan Syaikh Abdullah al-Bassam dalam Taudhihul Ahkam)

Namun, meskipun diperbolehkan hingga waktu sahur, tetap saja lebih utama tidaklah melakukan wishol. Karena meninggalkan wishol lebih memberikan kemudahan yang diinginkan oleh Allah Azza Wa Jalla:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر

Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan Dia tidak menginginkan kesulitan bagi kalian (Q.S al-Baqoroh ayat 185) (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam)

Nabi shollallahu alaihi wasallam memiliki kekhususan yang berbeda dari manusia lainnya. Salah satu kekhususan Nabi itulah yang membuat beliau melarang wishol bagi orang lain (kaum muslimin) sedangkan beliau melakukannya.

Apakah maksud sabda beliau: “Sesungguhnya aku melewati malam dengan diberi makan dan minum oleh Tuhanku”? Para Ulama berbeda pendapat akan hal itu. Insyaallah pendapat yang rajih adalah bahwa kenikmatan berdzikir, bermunajat, dan beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla membuat beliau sedemikian larut sehingga merasa cukup untuk tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu. Itulah makna yang diisyaratkan oleh sebagian Ulama, di antaranya Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad (2/31)) dan Madaarijus Saalikin (3/88)).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 FENOMENA SHOLAT ‘KILAT’ : TARAWIH NGEBUT SEPERTI AYAM JANTAN/ BURUNG GAGAK MEMATUK MAKANAN


Nabi ﷺ pernah ditanya tentang sholat malam. Beliau menjawab: "Dua rokaat-dua rokaat.." sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Umar riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Sehingga tidak masalah berapapun jumlah rokaatnya selama dilakukan dua-dua rokaat dan ditutup dengan witir. Jumlah rokaat bukanlah masalah..

Berapapun jumlah rokaatnya, selama sholat dilakukan dengan khusyu’, tenang (thuma’ninah), tidak tergesa-gesa, maka itu mengandung keutamaan yang besar.

Namun, keadaan yang menyedihkan, masih ada sebagian saudara kita kaum muslimin yang melakukan sholat tarawih dalam tempo yang sangat tinggi, kecepatan luar biasa.

Imam membaca al-Fatihah dengan sangat cepat, tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, bahkan posisi sujud bagaikan ayam yang mematuk biji-bijian atau gagak yang mematuk makanan.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺَ رَأَى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ مَثَلُ الَّذِيْ لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِيْ سُجُوْدِهِ مِثْلُ اْلجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

“Dari Abu Abdillah al-Asy’ari radliyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya, dan waktu sujud (dilakukan cepat seakan-akan) mematuk dalam keadaan dia sholat.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda : ‘Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya“
 

(H.R Abu Ya’la,al-Baihaqy, at-Thobrony, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan dihasankan oleh AlAlbaany)


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَانِيْ خَلِيْلِيْ ﷺَ أَنْ أَنْقُرَ فِيْ صَلاَتِيْ نَقْرَ الدِّيْكِ وَأَنْ أَلْتَفِتَ إِلْتِفَاتَ الثَّعْلَبِ وَأَنْ أُقْعِيَ إِقْعَاءَ الْقِرْدِ

“Dari Abu Hurairah beliau berkata : “Sahabat dekatku, (Nabi Muhamamad ﷺ ) melarangku sujud dalam sholat (dengan cepat) seperti mematuknya ayam jantan, melarangku berpaling (ke kanan atau ke kiri) seperti berpalingnya musang, dan melarangku duduk iq-aa’ seperti kera"

(H.R Thayalisi, Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah, dihasankan oleh Al-Albaany)


أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

“Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari sholatnya. (Para Sahabat bertanya) : Bagaimana seseorang bisa mencuri dari sholatnya? (Rasul menjawab) : ‘Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya“

(H.R Ahmad dan At-Thobrony, al-Haitsamy menyatakan bahwa para perawi hadits ini adalah perawi-perawi hadits shohih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)

Tidak thuma’ninah (tenang) dalam sholat bisa menyebabkan sholat TIDAK SAH, karena itu adalah rukun dalam sholat.

Nabi ﷺ pernah menyuruh seseorang yang tidak thuma’ninah dalam sholat untuk mengulangi sholatnya hingga 3 kali. Kemudian beliau memberikan bimbingan tentang tatacara sholat yang benar.


••••
(dikutip dari buku "Ramadhan Bertabur Berkah", Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah)
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KABAR GEMBIRA UNTUK AHLUSSUNNAH

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ubaid bin Abdillah Al Jabiry hafizhahullah berkata:

فاستبشروا خيرا يا أهل السنة، فالباطل له صولة وله طفرة، يستعر -أحيانا- كما تستعر النار في الهشيم، ثم يخبوا بإذن الله وينطمر أهله، وتصبح العاقبة للسنة وأهلها

📚 [تبصرة الخلف بشرح التحف في مذاهب السلف]

"Bergembiralah kalian wahai Ahlus Sunnah dengan kebaikan (yang ada, pent), karena sesungguhnya kebatilan itu memiliki kekuatan dan ada masanya, terkadang berkobar seperti api yang menyala-nyala pada ranting yang kering lalu padam dengan seizin Allah kemudian lenyaplah pula pelaku kebatilan. Adapun kesudahan yang baik tetap untuk Sunnah dan Ahlus Sunnah"

📒 @fawaz_almdkhli
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9198
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUS SHIYAAM MIN BULUGHIL MARAM (Bag ke-10)

🗒️ Berpuasa dari Ucapan dan Perbuatan yang Diharamkan

Hadits no 663

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ - رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ, وَأَبُو دَاوُدَ وَاللَّفْظُ لَهُ

Dan dari beliau (Abu Hurairah), beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, perbuatannya, maupun kebodohan (sikap permusuhan atau kedzhaliman), maka Allah tidaklah memerlukan dia meninggalkan makan dan minumnya. [Hadits riwayat al-Bukhari dan Abu Dawud, lafadz sesuai riwayat Abu Dawud]


💡Penjelasan:

Qouluz Zuur diartikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai kedustaan. Sedangkan al-Qooriy mengartikannya sebagai kebatilan (Tuhfatul Ahwadzi karya al-Mubarokfuriy (3/320)).

Syaikh Abdullah al-Bassam menjelaskan bahwa hal itu mencakup ucapan haram seperti dusta, ghibah, mengadudomba, bersaksi palsu, mencela, mengumpat, dan selainnya (Taudhihul Ahkam (2/572)).

Ucapan dan perbuatan yang mengandung dosa dilarang baik saat berpuasa maupun di luar keadaan berpuasa. Namun, saat dalam kondisi berpuasa larangan itu semakin ditekankan. Sebagaimana dosa berzina semakin besar bagi orang yang sudah tua, dosa sombong semakin besar pada orang yang miskin, karena faktor pendorongnya seharusnya semakin lemah (disarikan dari Subulus Salam karya as-Shon’aaniy (2/157) – dengan sedikit penambahan).

Sisi lain yang membuat perbuatan dosa semakin ditekankan untuk dijauhi orang yang berpuasa adalah karena suatu kemaksiatan akan semakin besar dosanya jika dilakukan oleh orang yang sedang beribadah. Demikian juga dosa yang dilakukan di suatu tempat atau waktu yang dimuliakan akan lebih besar dibandingkan yang dilakukan di tempat atau waktu lainnya (disarikan dari syarh Sunan Abi Dawud karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad(13/101)).

Wajib bagi orang yang berpuasa untuk meninggalkan seluruh ucapan dan perbuatan haram. Karena Allah Ta’ala mewajibkan puasa untuk tujuan ketakwaan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (Q.S al-Baqoroh:183)

Artinya: agar mereka bertakwa kepada Allah Azza Wa Jalla dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah tidaklah menghendaki dari para hamba-Nya untuk membuat mereka sempit dengan meninggalkan makan, minum, berhubungan badan. Namun Dia menghendaki agar mereka menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hingga puasa menjadi tempat belajar yang membiasakan mereka untuk meninggalkan hal-hal yang haram dan menjalankan kewajiban-kewajiban. Apabila dalam sebulan penuh seorang menjaga agamanya dengan meninggalkan hal yang haram dan melaksanakan kewajiban, hal itu diharapkan merubah jalan hidupnya (Syarh Riyadhis Shalihin karya Syaikh Ibn Utsaimin (1/1425)).
Yang dimaksud dengan tindakan atau ucapan kebodohan dalam hadits itu diartikan sebagai kezhaliman oleh Syaikh Bin Baz dalam al-Hulal al-Ibriziyyah dan diartikan sebagai tindakan permusuhan oleh Syaikh Ibn Utsaimin dalam syarh Riyadhis Sholihin.

Allah sebenarnya tidaklah memerlukan dan membutuhkan apapun maupun siapapun. Namun dinyatakan dalam hadits itu bahwa Allah tidak memerlukan orang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya jika ia melakukan perbuatan dosa menunjukkan kemurkaan Allah atas orang tersebut (disarikan dari al-Ifshoh ‘an ma’aniy as-Shihhaah karya Ibnu Hubairoh (7/321)).

Seorang yang melakukan perbuatan haram saat berpuasa tidaklah membatalkan puasanya, namun bisa mengurangi pahala atau bahkan menghilangkan pahala puasanya. Meski ia tidak harus mengganti puasa di hari lain karena tidak terhitung batal (disarikan dari Tashiilul Ilmaam karya Syaikh Sholih al-Fauzan (3/217)).

Sahabat Nabi Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata:

إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَأْثَمِ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً

Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan, dan lidahmu dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti budak. Hendaknya engkau bersikap tenang dan santun pada saat berpuasa. Jangan jadikan keadaanmu sama saja antara pada saat berpuasa dengan tidak. (riwayat Ibnu Abi Syaibah no 8973)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M | Surat Edaran Menag RI No. SE 04 tahun 2021
::
📬 KAJIAN KITABUS SHIYAAM MIN BULUGHIL MARAM (Bag ke-11)

🗒️ Bolehnya Mencium Istri Saat Berpuasa Bagi yang Mampu Menjaga Syahwatnya

Hadits no 664

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: - كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ, وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ, وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ .وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ: - فِي رَمَضَانَ –

Dan dari Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mencium (istri beliau) pada saat beliau berpuasa. Beliau juga bersentuhan kulit (dengan istri beliau) pada saat berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling bisa menahan syahwatnya. (Hadits muttafaqun alaih. Lafadz sesuai riwayat Muslim. Ada tambahan dalam sebagian riwayat: di (bulan) Ramadhan)


💡Penjelasan:

Hadits ini menunjukkan bolehnya seorang suami mencium istrinya saat berpuasa jika ia menduga kuat mampu menahan nafsunya sehingga tidak sampai terjadi persetubuhan atau menyebabkan keluarnya mani. Apabila ia merasa tidak mampu, maka semestinya hal itu dihindari saat berpuasa.

Dalam sebagian hadits, Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang seorang pemuda untuk melakukan ciuman atau persentuhan kulit -yang bukan jimak- dengan istrinya saat berpuasa. Namun beliau membolehkan hal itu bagi seorang yang sudah lanjut usia:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ لَهُ وَأَتَاهُ آخَرُ فَسَأَلَهُ فَنَهَاهُ فَإِذَا الَّذِي رَخَّصَ لَهُ شَيْخٌ وَالَّذِي نَهَاهُ شَابٌّ

dari Abu Hurairah bahwasanya seseorang bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang bersentuhan kulit dengan istri (selain persetubuhan, pent) bagi orang berpuasa. Nabi memberikan keringanan kepadanya. Kemudian datang orang lain bertanya kepada beliau (hal yang sama) tapi Nabi melarang. Ternyata yang diberi keringanan adalah orang yang sudah lanjut usia dan yang dilarang adalah pemuda (H.R Abu Dawud, dinyatakan sanadnya hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Dalam riwayat lain dari hadits Abdullah bin ‘Amr disebutkan:

إِنَّ الشَّيْخَ يَمْلِكُ نَفْسَهُ

Sesungguhnya orang yang sudah tua (kebanyakan) lebih bisa menahan dirinya (H.R Ahmad)

Itu adalah kondisi kebanyakan. Mayoritas orang yang sudah lanjut usia lebih bisa menahan hawa nafsunya dibandingkan para pemuda.

Apabila seorang menduga kuat bahwa ia aman untuk mencium atau bersentuhan kulit dengan istrinya, hal itu tidak mengapa. Baik kondisi dia masih muda atau sudah tua. Sebaliknya, meskipun ia sudah tua namun tidak merasa aman dari hal itu, semestinya dihindari. Ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.
Salah satu dalil al-Imam asy-Syafi’i adalah hadits Umar bin Abi Salamah.

Umar bin Abi Salamah yang saat itu masih muda pernah bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang hukum mencium (pasangan) bagi orang yang berpuasa. Nabi shollallahu alaihi wasallam menyuruh bertanya kepada Ummu Salamah – ibu kandung Umar bin Salamah – dan Ummu Salamah menyampaikan bahwa Nabi pernah melakukan hal itu.

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِى سَلَمَةَ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَيُقَبِّلُ الصَّائِمُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سَلْ هَذِهِ ». لأُمِّ سَلَمَةَ فَأَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ ذَلِكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ ».

dari Umar bin Abi Salamah bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam: Apakah orang yang berpuasa boleh mencium (istrinya)? Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tanyalah pada (wanita) ini. (Nabi mengisyaratkan kepada) Ummu Salamah. Maka Ummu Salamah pun mengkhabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melakukan hal itu. Maka orang itu berkata: Wahai Rasulullah, Allah telah mengampuni dosa anda yang telah terjadi maupun yang akan datang. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah yang paling bertakwa dan takut kepada Allah (H.R Muslim). (Faidah penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/151))

Sebab pertanyaan Umar bin Abi Salamah itu adalah karena ia menyangka bahwa kebolehan mencium itu hanyalah khusus untuk Nabi shollallahu alaihi wasallam saja. Maka Nabi pun mengingkari persangkaan Umar bin Abi Salamah tersebut. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi marah dengan ucapan itu (disarikan dari al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya anNawawiy (7/219)).

Apabila seseorang mencium istrinya atau bermesraan/ bercumbu meski tidak sampai terjadi persetubuhan kemudian keluar mani, hal itu membatalkan puasanya. Ibnu Qudamah rahimahullah tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat Ulama dalam hal itu (al-Mughni (6/81)).

Bagi orang yang sedang berpuasa juga dilarang untuk berbincang atau berbicara hal-hal yang mesum atau kotor. Baik saat berbincang dengan istrinya sendiri atau orang lain. Sebagaimana sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ

Jika kalian berada dalam kondisi berpuasa, janganlah rofats (berbicara atau berbuat hal yang kotor atau mesum) (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)(Faidah penjelasan as-Suyuthiy dalam Hasyiyah Sunan anNasaai (3/380))

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Bau Mulut Orang Berpuasa
::
📬 KAJIAN KITABUS SHIYAAM MIN BULUGHIL MARAM (Bag ke-12)

🗒️ Apakah Berbekam Membatalkan Puasa?

Hadits no 665

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا; - أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ, وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ - رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ.

Dan dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam berbekam dalam keadaan berihram, dan beliau berbekam dalam keadaan berpuasa. (Hadits riwayat al-Bukhari).


Hadits no 666

وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ - رضي الله عنه - - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَتَى عَلَى رَجُلٍ بِالْبَقِيعِ وَهُوَ يَحْتَجِمُ فِي رَمَضَانَ. فَقَالَ: " أَفْطَرَ اَلْحَاجِمُ [ وَالْمَحْجُومُ ] " - رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اَلتِّرْمِذِيَّ, وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Dan dari Syaddaad bin Aws –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mendatangi seorang laki-laki di Baqi’ pada saat orang itu berbekam di bulan Ramadhan. Nabi bersabda: Telah batal (puasa) orang yang membekam dan yang dibekam. (Hadits riwayat Imam yang Lima kecuali atTirmidzi, dishahihkan oleh Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).


Hadits no 667

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - أَوَّلُ مَا كُرِهَتِ اَلْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ; أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ اِحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَمَرَّ بِهِ اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ: " أَفْطَرَ هَذَانِ ", ثُمَّ رَخَّصَ اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - بَعْدُ فِي اَلْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ, وَكَانَ أَنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ - رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَقَوَّاهُ

Dan dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Pada permulaan berbekam tidaklah disukai (diharamkan) bagi orang yang berpuasa. Sesungguhnya Ja’far bin Abi Tholib berbekam dalam keadaan berpuasa. Nabi shollallahu alaihi wasallam lewat dan bersabda: Kedua orang ini (orang yang membekam dan yang dibekam) telah batal puasanya. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam memberikan keringanan setelah itu untuk berbekam bagi orang yang berpuasa. Anas pun berbekam dalam keadaan berpuasa. (Hadits riwayat ad-Daaraquthniy dan dia menguatkannya).


💡Penjelasan:

Berbekam adalah proses pengobatan mengeluarkan darah kotor dari tubuh. Di masa dahulu orang yang membekam menyedot darah pasien dengan mulut. Karena itu di dalam hadits Syaddaad bin Aws disebutkan bahwasanya orang yang membekam maupun yang dibekam batal puasanya.

Dalam pembahasan ini disebutkan 3 hadits. Hadits Ibnu Abbas menunjukkan bahwa berbekam tidaklah membatalkan puasa karena Nabi pernah berbekam dalam keadaan berpuasa. Hadits Syaddaad bin Aws menunjukkan bahwa Nabi bersabda akan batalnya puasa orang yang membekam dan yang dibekam. Sedangkan hadits Anas bin Malik menunjukkan bahwa dulu berbekam itu membatalkan puasa, namun kemudian Nabi memberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbekam.

Mayoritas Ulama dalam 3 madzhab fiqh yaitu Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafiiyyah berpendapat bahwasanya berbekam tidaklah membatalkan puasa.

Sebagian Ulama berpendapat bahwasanya hadits Syaddaad bin Aws meskipun shahih namun hukumnya mansukh (terhapus). Artinya, dulu Nabi shollallahu alaihi wasallam menilai bahwasanya pembekam dan yang dibekam sama-sama batal puasanya. Namun kemudian beliau memberi keringanan atau membolehkan.

Selain hadits Ibnu Abbas dan hadits Anas yang menunjukkan bolehnya berbekam bagi orang berpuasa, ada juga hadits Abu Said al-Khudriy:

رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ وَرَخَّصَ فِي الْحِجَامَةِ لِلصَّائِم

Nabi shollallahu alaihi wasallam memberikan keringanan untuk mencium bagi orang yang berpuasa dan beliau memberikan keringanan berbekam bagi orang berpuasa (H.R anNasaai, Ibnu Khuzaimah, ad-Daaraquthniy. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya shahih dan beliau merajihkan bahwa hadits itu marfu’ dalam penilaian hadits Shahih Ibnu Khuzaimah dan Irwaul Ghalil)