::
📬 TAUBAT NASUHA TATKALA WABAH MELANDA
Pada tahun 1224 H terjadi wabah (pandemi) dan penyakit yang parah, khususnya di negeri Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama). Qaddaralallah wa ma syaa fa’al. Wabah ini terjadi sampai bulan Jumada (bulan ke-5 dan ke-6 tahun hijriyah, pen).
Kala itu di Dir’iyyah korban berjatuhan sangat banyak, baik dari kalangan pendatang maupun penduduk setempat. Kondisi terus memuncak, hingga terjadi dalam satu hari 30 sampai 40 orang meninggal dunia!
Maka pimpinan Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama) pada masa itu, seorang raja yang shalih dan bijak, al-Imam Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Raja ke-3 Negara Saudi Pertama, – rahimahullah – menulis nasehat yang sangat mendalam kepada seluruh rakyat Dir’iyyah, yang dikirim ke seluruh penjuru negeri.
Dalam nasehatnya tersebut, sang Raja mengajak seluruh rakyat untuk meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat dengan taubah nasuha. Seraya beliau menyebutkan perkara-perkara dosa, disertai dengan dalil-dalil dan ancaman agar meninggalkannya.
Beliau juga berdo’a kepada Allah dengan doa yang luar biasa memohon agar wabah dan bencana tersebut segera diangkat oleh Allah. Dalam doa tersebut beliau banyak memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, bertawassul kepada-Nya dengan Asmaul Husna (nama-nama-Nya yang indah).
Nasehat agung ini dibacakan kepada segenap rakyat di masjid-masjid negeri Dir’iyyah. Dengan izin Allah, tak lama setelah itu wabahpun berakhir. Walhamdulillah.
Disebutkan dalam sejarah, bahwa di antara yang wafat dalam peristiwa wabah ini adalah seorang tokoh ulama besar, Mufti Agung Negeri Dir’iyyah, Al-‘Allamah al-Mufid Husain bin Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Beliau ulama besar dalam bidang ilmu tauhid, aqidah, tafsir, fiqh, dan lainnya. Beliau meninggal pada bulan Rabiul Akhir 1224 H.
Di antara yang tercatat meninggal dunia dalam peristiwa wabah ini pula: Sa’d bin Salim, Sa’d bin Abdillah bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Ali bin Musa bin Suwailim, dan lainnya, termasuk 4 tokoh besar dari Alu Ma’mar.
(Dikisahkan ulang dari Kitab Sejarah: ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, 1/299-300, karya ‘Utman bin Abdillah bin Bisyr).
* * *
Semoga petikan sejarah ini bermanfaat bagi kita semua. Terkhusus pada bulan-bulan terakhir ini kita juga mengalama bencana pandemi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kita pun perlu mengoreksi diri sekaligus memperbaikinya.
Mari kita segera kembali kepada Allah, bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Karena petaka yang terjadi akibat perbuatan dan dosa anak manusia. Berapa banyak dari manusia, disadari maupun tidak, sengaja atau pun tidak melakukan tindak kerusakan di muka bumi.
* * *
Musibah dan bencana juga bisa terjadi akibat dosa dan kemaksiatan yang perbuat oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) [الشورى: 30]
“Segala musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
(Bersambung)
📬 TAUBAT NASUHA TATKALA WABAH MELANDA
Pada tahun 1224 H terjadi wabah (pandemi) dan penyakit yang parah, khususnya di negeri Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama). Qaddaralallah wa ma syaa fa’al. Wabah ini terjadi sampai bulan Jumada (bulan ke-5 dan ke-6 tahun hijriyah, pen).
Kala itu di Dir’iyyah korban berjatuhan sangat banyak, baik dari kalangan pendatang maupun penduduk setempat. Kondisi terus memuncak, hingga terjadi dalam satu hari 30 sampai 40 orang meninggal dunia!
Maka pimpinan Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama) pada masa itu, seorang raja yang shalih dan bijak, al-Imam Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Raja ke-3 Negara Saudi Pertama, – rahimahullah – menulis nasehat yang sangat mendalam kepada seluruh rakyat Dir’iyyah, yang dikirim ke seluruh penjuru negeri.
Dalam nasehatnya tersebut, sang Raja mengajak seluruh rakyat untuk meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat dengan taubah nasuha. Seraya beliau menyebutkan perkara-perkara dosa, disertai dengan dalil-dalil dan ancaman agar meninggalkannya.
Beliau juga berdo’a kepada Allah dengan doa yang luar biasa memohon agar wabah dan bencana tersebut segera diangkat oleh Allah. Dalam doa tersebut beliau banyak memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, bertawassul kepada-Nya dengan Asmaul Husna (nama-nama-Nya yang indah).
Nasehat agung ini dibacakan kepada segenap rakyat di masjid-masjid negeri Dir’iyyah. Dengan izin Allah, tak lama setelah itu wabahpun berakhir. Walhamdulillah.
Disebutkan dalam sejarah, bahwa di antara yang wafat dalam peristiwa wabah ini adalah seorang tokoh ulama besar, Mufti Agung Negeri Dir’iyyah, Al-‘Allamah al-Mufid Husain bin Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Beliau ulama besar dalam bidang ilmu tauhid, aqidah, tafsir, fiqh, dan lainnya. Beliau meninggal pada bulan Rabiul Akhir 1224 H.
Di antara yang tercatat meninggal dunia dalam peristiwa wabah ini pula: Sa’d bin Salim, Sa’d bin Abdillah bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Ali bin Musa bin Suwailim, dan lainnya, termasuk 4 tokoh besar dari Alu Ma’mar.
(Dikisahkan ulang dari Kitab Sejarah: ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, 1/299-300, karya ‘Utman bin Abdillah bin Bisyr).
* * *
Semoga petikan sejarah ini bermanfaat bagi kita semua. Terkhusus pada bulan-bulan terakhir ini kita juga mengalama bencana pandemi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kita pun perlu mengoreksi diri sekaligus memperbaikinya.
Mari kita segera kembali kepada Allah, bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Karena petaka yang terjadi akibat perbuatan dan dosa anak manusia. Berapa banyak dari manusia, disadari maupun tidak, sengaja atau pun tidak melakukan tindak kerusakan di muka bumi.
* * *
Musibah dan bencana juga bisa terjadi akibat dosa dan kemaksiatan yang perbuat oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) [الشورى: 30]
“Segala musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
(Bersambung)
Pakar dan imam ahli tafsir terkemuka, Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan tentang tafsir ayat di atas:
“Wahai umat manusia, tidaklah musibah yang menimpa kalian di dunia ini, baik musibah yang mengenai diri kalian sendiri, keluarga kalian, atau pun harta kalian, tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali sebagai hukuman dari Allah akibat dosa-dosa yang kalian perbuat, baik perbuatan dosa antara sesama kalian, maupun perbuatan dosa kalian terhadap Sang Pencipta. Itu pun Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian, sehingga kalian tidak dihukum karenanya.” (Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 21/538)
Sejarah juga mencatat, bahwa berapa banyak dari bangsa-bangsa besar pada masa lalu, yang memiliki kebudayaan dan peradaban besar, berujung kepada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri yang berani melawan Allah Ta’ala, tidak mau tunduk terhadap agama-Nya, dan menentang para rasul-Nya.
Ada yang mengalami musibah banjir bandang, ada yang mengalami gempa bumi yang sangat keras, ada yang ditenggelamkan dalam bumi, dan berbagai bencana dan musibah lainnya yang terjadi dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berkata,
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40) [العنكبوت: 40]
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan). Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut : 40)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:
لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا.
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.
وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian ditimpa ujian karenanya, dan aku minta perlindungan kepada Allah agar lima hal tersebut jangan sampai menimpa kalian:
➊ Tidaklah perbuatan keji tampak terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka (wabah) tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
➋ Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan mengalami paceklik, kehabisan bahan pangan, dan akan datang penguasa yang zhalim yang memimpin mereka.
“Wahai umat manusia, tidaklah musibah yang menimpa kalian di dunia ini, baik musibah yang mengenai diri kalian sendiri, keluarga kalian, atau pun harta kalian, tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali sebagai hukuman dari Allah akibat dosa-dosa yang kalian perbuat, baik perbuatan dosa antara sesama kalian, maupun perbuatan dosa kalian terhadap Sang Pencipta. Itu pun Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian, sehingga kalian tidak dihukum karenanya.” (Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 21/538)
Sejarah juga mencatat, bahwa berapa banyak dari bangsa-bangsa besar pada masa lalu, yang memiliki kebudayaan dan peradaban besar, berujung kepada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri yang berani melawan Allah Ta’ala, tidak mau tunduk terhadap agama-Nya, dan menentang para rasul-Nya.
Ada yang mengalami musibah banjir bandang, ada yang mengalami gempa bumi yang sangat keras, ada yang ditenggelamkan dalam bumi, dan berbagai bencana dan musibah lainnya yang terjadi dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berkata,
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40) [العنكبوت: 40]
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan). Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut : 40)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:
لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا.
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.
وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian ditimpa ujian karenanya, dan aku minta perlindungan kepada Allah agar lima hal tersebut jangan sampai menimpa kalian:
➊ Tidaklah perbuatan keji tampak terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka (wabah) tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
➋ Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan mengalami paceklik, kehabisan bahan pangan, dan akan datang penguasa yang zhalim yang memimpin mereka.
➌ Tidaklah sebuah kaum menolak membayar zakat hartanya, kecuali akan terhalangi hujan dari langit, kalau bukan karena keberadaan hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan sama sekali.
➍ Tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh-musuh mereka dari selain mereka akan menguasai mereka, sehingga musuh-musuh itu pun akan mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka.
➎ Apabila para pimpinan mereka tidak berhukum dengan Kitabullah, dan tidak mau mencari kebaikan dari agama yang Allah turunkan, kecuali akan Allah jadikan kejelekan mereka akan menimpa mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah 4019, lihat ash-Shahihah no. 106)
Dalam hadits tersebut, dengan jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa berbagai musibah dan bencana, baik berupa wabah penyakit, kelaparan, kekeringan, kehabisan bahan pangan, bahkan sampai kezhaliman penguasa, penjajahan, dan ditimpa oleh akibat dari kejelekan diri sendiri, itu semua terjadi sebagai akibat perbuatan dosa-dosa mereka sendiri.
Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa wabah penyakit terjadi ketika perbuatan keji terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan.
Jika hal ini terjadi pada suatu kaum, maka akan terjadi wabah tha’un atau wabah penyakit lainnya yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
Sungguh kita takut kepada Allah Ta’ala. Takut akan kemurkaan dan adzab-Nya, akibat kita berani berbuat dosa, menentang perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya.
Mari segera kembali kepada Allah, segera bertaubat kepada-Nya. Segera memperbaiki iman dan taqwa kepada-Nya.
Termasuk taqwa kepada Allah Ta’ala adalah meningkat ketaatan dan amal shalih, menjauhi berbagai kemaksiatan.
Termasuk taqwa kepada-Nya adalah menaati imbauan pemerintah untuk disiplin protokol kesehatan dan melakukan segala upaya pencegahan. Tak hanya karena takut kena sanksi, namun karena dorongan iman dan kesabaran.
Semoga bencana pandemi Covid-19 ini segera Allah angkat dari muka bumi. Hanya kepada-Nya kita berharap dan memohon pertolongan. Amin.
Sumber: https://www.tanggapcovid19.com/taubat-nasuha-tatkala-wabah-melanda/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
➍ Tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh-musuh mereka dari selain mereka akan menguasai mereka, sehingga musuh-musuh itu pun akan mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka.
➎ Apabila para pimpinan mereka tidak berhukum dengan Kitabullah, dan tidak mau mencari kebaikan dari agama yang Allah turunkan, kecuali akan Allah jadikan kejelekan mereka akan menimpa mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah 4019, lihat ash-Shahihah no. 106)
Dalam hadits tersebut, dengan jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa berbagai musibah dan bencana, baik berupa wabah penyakit, kelaparan, kekeringan, kehabisan bahan pangan, bahkan sampai kezhaliman penguasa, penjajahan, dan ditimpa oleh akibat dari kejelekan diri sendiri, itu semua terjadi sebagai akibat perbuatan dosa-dosa mereka sendiri.
Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa wabah penyakit terjadi ketika perbuatan keji terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan.
Jika hal ini terjadi pada suatu kaum, maka akan terjadi wabah tha’un atau wabah penyakit lainnya yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
Sungguh kita takut kepada Allah Ta’ala. Takut akan kemurkaan dan adzab-Nya, akibat kita berani berbuat dosa, menentang perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya.
Mari segera kembali kepada Allah, segera bertaubat kepada-Nya. Segera memperbaiki iman dan taqwa kepada-Nya.
Termasuk taqwa kepada Allah Ta’ala adalah meningkat ketaatan dan amal shalih, menjauhi berbagai kemaksiatan.
Termasuk taqwa kepada-Nya adalah menaati imbauan pemerintah untuk disiplin protokol kesehatan dan melakukan segala upaya pencegahan. Tak hanya karena takut kena sanksi, namun karena dorongan iman dan kesabaran.
Semoga bencana pandemi Covid-19 ini segera Allah angkat dari muka bumi. Hanya kepada-Nya kita berharap dan memohon pertolongan. Amin.
Sumber: https://www.tanggapcovid19.com/taubat-nasuha-tatkala-wabah-melanda/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬HUKUM UCAPAN BERKABUNG SAAT KEMATIAN ORANG KAFIR DAN HUKUM MENDOAKANNYA
Pertanyaan:
Apabila seorang laki-laki atau wanita kafir meninggal, apakah boleh atau tidak, kami mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un , dan kita mengucapkan :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28]
hingga akhir surah ?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:
Apabila seorang kafir meninggal tidak mengapa kalian mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Alhamdulillah, mengucapkan kepada kerabatmu tidak mengapa, karena semua manusia akan kembali kepada Allah, semua manusia milik Allah, yang demikian tidak mengapa, akan tetapi tidak perlu mendoakannya.
Ketika yang meninggal kafir, maka tidak boleh mendoakannya, dan tidak pula mengucapkan : Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu... karena jiwanya adalah jiwa yang tidak tenang, jiwa yang jelek (kafir). Jangan mengucapkan kalimat ini. Kalimat ini hanya diucapkan kepada seorang mukmin.
Maka kesimpulannya orang kafir yang meninggal, tidak mengapa kita mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Dan tidak mengapa yang lain mengucapkan kepadamu : Semoga Allah memperbesar pahalamu dan menjadikan duka-citamu dalam kebaikan, ini tidak mengapa.
Mungkin ada manfaat bagimu selama hidupnya dulu atau dia pernah berbuat baik kepadamu, atau dia pernah berjasa baik kepadamu. Akan tetapi:
- Tidak boleh mendoakannya,
- Tidak boleh memintakan ampun baginya,
- dan Tidak boleh bershodaqoh untuknya, apabila dia meninggal dalam keadaan kafir.
======================
السؤال:
إذا مات رجل أو امرأة وهو كافر، هل يمكن أن نقول: إن لله وإنا إليه راجعون أو لا يجوز، ونقول أيضاً: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28] إلى آخره؟
الجواب:
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا بأس، كل الناس إلى الله راجعون، كل الناس ملك لله ، لا بأس بهذا، ولكن لا يدعى له، ما دام كافر لا يدعى له، ولا يقال: يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي، لأن النفس هذه غير مطمئنة، نفس فاجرة، لا يقال لها هذا، وإنما يقال هذا في المؤمن، فالحاصل أن الكافر إذا مات لا بأس أن تقول إنا لله وإنا إليه راجعون، ولا بأس أن يقول لك غيرك: عظم الله أجرك فيه، وأحسن عزاءك فيه، ما في بأس، قد يكون لك مصلحة في حياته، قد يكون في حياته يحسن إليك، ينفعك، فلا بأس، لكن لا يدعى له، ولا يستغفر له، ولا يتصدق عنه، إذا مات كافراً.
▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️
Diterjemahkan oleh Abu Muhammad Qosim dari situs resmi Syaikh bin Baz rahimahullah : http://bit.ly/39OXiZj
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬HUKUM UCAPAN BERKABUNG SAAT KEMATIAN ORANG KAFIR DAN HUKUM MENDOAKANNYA
Pertanyaan:
Apabila seorang laki-laki atau wanita kafir meninggal, apakah boleh atau tidak, kami mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un , dan kita mengucapkan :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28]
hingga akhir surah ?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:
Apabila seorang kafir meninggal tidak mengapa kalian mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Alhamdulillah, mengucapkan kepada kerabatmu tidak mengapa, karena semua manusia akan kembali kepada Allah, semua manusia milik Allah, yang demikian tidak mengapa, akan tetapi tidak perlu mendoakannya.
Ketika yang meninggal kafir, maka tidak boleh mendoakannya, dan tidak pula mengucapkan : Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu... karena jiwanya adalah jiwa yang tidak tenang, jiwa yang jelek (kafir). Jangan mengucapkan kalimat ini. Kalimat ini hanya diucapkan kepada seorang mukmin.
Maka kesimpulannya orang kafir yang meninggal, tidak mengapa kita mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Dan tidak mengapa yang lain mengucapkan kepadamu : Semoga Allah memperbesar pahalamu dan menjadikan duka-citamu dalam kebaikan, ini tidak mengapa.
Mungkin ada manfaat bagimu selama hidupnya dulu atau dia pernah berbuat baik kepadamu, atau dia pernah berjasa baik kepadamu. Akan tetapi:
- Tidak boleh mendoakannya,
- Tidak boleh memintakan ampun baginya,
- dan Tidak boleh bershodaqoh untuknya, apabila dia meninggal dalam keadaan kafir.
======================
السؤال:
إذا مات رجل أو امرأة وهو كافر، هل يمكن أن نقول: إن لله وإنا إليه راجعون أو لا يجوز، ونقول أيضاً: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28] إلى آخره؟
الجواب:
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا بأس، كل الناس إلى الله راجعون، كل الناس ملك لله ، لا بأس بهذا، ولكن لا يدعى له، ما دام كافر لا يدعى له، ولا يقال: يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي، لأن النفس هذه غير مطمئنة، نفس فاجرة، لا يقال لها هذا، وإنما يقال هذا في المؤمن، فالحاصل أن الكافر إذا مات لا بأس أن تقول إنا لله وإنا إليه راجعون، ولا بأس أن يقول لك غيرك: عظم الله أجرك فيه، وأحسن عزاءك فيه، ما في بأس، قد يكون لك مصلحة في حياته، قد يكون في حياته يحسن إليك، ينفعك، فلا بأس، لكن لا يدعى له، ولا يستغفر له، ولا يتصدق عنه، إذا مات كافراً.
▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️
Diterjemahkan oleh Abu Muhammad Qosim dari situs resmi Syaikh bin Baz rahimahullah : http://bit.ly/39OXiZj
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم قول الحوقلة عند موت الكافر، وحكم الدعاء له
الجواب:
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا
::
📬 MEMILIH GURU YANG DIKENAL BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH NABI DALAM BERAKIDAH, BERIBADAH, BERAKHLAK DAN MUAMALAH
Sebab, urusan ilmu adalah urusan agama. Seseorang tidak bisa sembarangan atau asal comot mengambilnya, tanpa peduli dari siapa dia dapatkan.
Hal ini akan berakibat fatal sampai akhirat kelak. Maka dari itu, dia harus mengetahui orang yang akan dia ambil ilmu agamanya.
⚠️ Jangan sampai dia mengambil agamanya dari orang yang memusuhi As-Sunnah, orang yang memusuhi Ahlus Sunnah, orang yang tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini mempelajari akidah-akidah yang salah atau orang yang mendapatkan ilmu hanya dari hasil membaca tanpa bimbingan para ulama Ahlus Sunnah. Sangat dikhawatirkan, dia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.
Seorang tabiin bernama Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau juga berkata, “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits. Tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkan kepada kami sanad kalian.’ Mereka melihat (sanadnya adalah) Ahlus Sunnah, lalu mereka menerima haditsnya. Mereka juga melihat (sanadnya adalah) ahlul bid’ah, lalu menolak haditsnya.”
📚 (Riwayat Muslim dalam “Muqaddimah” Shahih-nya)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ
“Keberkahan ada pada orang-orang besar kalian.”
📚 (Sahih, HR. Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 614 dengan tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2887 dan ash-Shahihah no. 1778)
Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوا عَنْ صِغَارِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا
“Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka. Jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, mereka akan binasa.”
Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih olehnya)
Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ulama tentang maksud dari hadits di atas, “Yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya ialah orang yang dimintai fatwa padahal tidak berilmu. Adapun orang besar artinya yang berilmu tentang segala hal, atau yang mengambil ilmu dari para sahabat.”
📚 (Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 617)
Simak selengkapnya: https://asysyariah.com/prinsip-prinsip-mengkaji-agama/ | @hikmahsalafiyyah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MEMILIH GURU YANG DIKENAL BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH NABI DALAM BERAKIDAH, BERIBADAH, BERAKHLAK DAN MUAMALAH
Sebab, urusan ilmu adalah urusan agama. Seseorang tidak bisa sembarangan atau asal comot mengambilnya, tanpa peduli dari siapa dia dapatkan.
Hal ini akan berakibat fatal sampai akhirat kelak. Maka dari itu, dia harus mengetahui orang yang akan dia ambil ilmu agamanya.
⚠️ Jangan sampai dia mengambil agamanya dari orang yang memusuhi As-Sunnah, orang yang memusuhi Ahlus Sunnah, orang yang tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini mempelajari akidah-akidah yang salah atau orang yang mendapatkan ilmu hanya dari hasil membaca tanpa bimbingan para ulama Ahlus Sunnah. Sangat dikhawatirkan, dia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.
Seorang tabiin bernama Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau juga berkata, “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits. Tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkan kepada kami sanad kalian.’ Mereka melihat (sanadnya adalah) Ahlus Sunnah, lalu mereka menerima haditsnya. Mereka juga melihat (sanadnya adalah) ahlul bid’ah, lalu menolak haditsnya.”
📚 (Riwayat Muslim dalam “Muqaddimah” Shahih-nya)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ
“Keberkahan ada pada orang-orang besar kalian.”
📚 (Sahih, HR. Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 614 dengan tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2887 dan ash-Shahihah no. 1778)
Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوا عَنْ صِغَارِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا
“Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka. Jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, mereka akan binasa.”
Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih olehnya)
Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ulama tentang maksud dari hadits di atas, “Yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya ialah orang yang dimintai fatwa padahal tidak berilmu. Adapun orang besar artinya yang berilmu tentang segala hal, atau yang mengambil ilmu dari para sahabat.”
📚 (Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 617)
Simak selengkapnya: https://asysyariah.com/prinsip-prinsip-mengkaji-agama/ | @hikmahsalafiyyah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
::
🚇 BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PERAYAAN IMLEK?
Pembaca buletin Al-Faidah rahimakumullah
Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip albara' (kebencian) melalui hari raya mereka maka sangatlah penting untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:
1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata:
"Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah Ta'ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong di dalam dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah:2)
Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka, meskipun hanya sekedar menonton pertunjukkan atau acara mereka, seperti pertunjukkan barongsai yang menjadi ciri khas mereka dan lain sebagainya.Karena hal itu menunjukkan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.Turut memeriahkan perayaan non muslim merupakan bentuk loyalitas kepada mereka. Padahal Allah melarang keras kaum muslimin untuk memberikan loyalitas kepada non-muslim. AIlah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang yahudi dan nasrani sebagai kekasih (yang diberi loyalitas) Sebagian mereka menjadi kekasih bagi sebagian yang lain. Siapa yang memberikan loyalitas kepada mereka berarti dia bagian dari mereka." (QS. Al-Maidah: 51)
Kitapun tentu paham, turut menyambut dengan gembira dan memeriahkan hari raya imlek termasuk bukti adanya loyalitas dan kecintaan terhadap tradisi tersebut. Untuk disebut memeriahkan hari raya orang kafir, tidak harus dengan mengikuti ritual mereka.
❗️Sebatas turut merasa gembira, senang, dan bahagia dengan kehadiran perayaan orang kafir, sudah bisa dianggap bentuk memeriahkan hari raya mereka. Sekali lagi meskipun isinya hanya main-main bergembira-ria, tanpa ada ritual apapun.
2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya
Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram.
Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu:
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ
"Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian."(QS. Az Zumar:7).
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)
🚇 BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PERAYAAN IMLEK?
Pembaca buletin Al-Faidah rahimakumullah
Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip albara' (kebencian) melalui hari raya mereka maka sangatlah penting untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:
1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata:
"Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah Ta'ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong di dalam dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah:2)
Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka, meskipun hanya sekedar menonton pertunjukkan atau acara mereka, seperti pertunjukkan barongsai yang menjadi ciri khas mereka dan lain sebagainya.Karena hal itu menunjukkan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.Turut memeriahkan perayaan non muslim merupakan bentuk loyalitas kepada mereka. Padahal Allah melarang keras kaum muslimin untuk memberikan loyalitas kepada non-muslim. AIlah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang yahudi dan nasrani sebagai kekasih (yang diberi loyalitas) Sebagian mereka menjadi kekasih bagi sebagian yang lain. Siapa yang memberikan loyalitas kepada mereka berarti dia bagian dari mereka." (QS. Al-Maidah: 51)
Kitapun tentu paham, turut menyambut dengan gembira dan memeriahkan hari raya imlek termasuk bukti adanya loyalitas dan kecintaan terhadap tradisi tersebut. Untuk disebut memeriahkan hari raya orang kafir, tidak harus dengan mengikuti ritual mereka.
❗️Sebatas turut merasa gembira, senang, dan bahagia dengan kehadiran perayaan orang kafir, sudah bisa dianggap bentuk memeriahkan hari raya mereka. Sekali lagi meskipun isinya hanya main-main bergembira-ria, tanpa ada ritual apapun.
2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya
Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram.
Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu:
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ
"Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian."(QS. Az Zumar:7).
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
3. Tidak Menjual Sesuatu Untuk Keperluan Hari Raya Mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian, atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut.
Perbuatan ini dilarang atas dasar suatu kaidah,yaitu tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha' Shiratil Mustaqim hal.325)
4. Tidak memberikan respon dalam bentuk apapun.
Respon yang dimaksud disini yaitu adanya unsur dukungan, berpartisipasi dalam acara tersebut, bekerjasama dengan orang yang merayakannya, membantunya dengan sesuatu apapun, seperti:
▪️Membuat spanduk/ iklan,
▪️Menulis ucapan pada jam dinding,
▪️Menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud,
▪️Membuat cinderamata dan kenang-kenangan,
▪️Membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat,
▪️Memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan,
▪️ataupun yang banyak terjadi yaitu Mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka.
❗️Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.
••••
Sumber:
"Imlek Dalam Pandangan Islam"
Buletin Al-Faidah edisi 46 Tahun ke-2 1437 H hal. 2-4 | Penyusun: Team Buletin Al-Faidah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian, atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut.
Perbuatan ini dilarang atas dasar suatu kaidah,yaitu tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha' Shiratil Mustaqim hal.325)
4. Tidak memberikan respon dalam bentuk apapun.
Respon yang dimaksud disini yaitu adanya unsur dukungan, berpartisipasi dalam acara tersebut, bekerjasama dengan orang yang merayakannya, membantunya dengan sesuatu apapun, seperti:
▪️Membuat spanduk/ iklan,
▪️Menulis ucapan pada jam dinding,
▪️Menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud,
▪️Membuat cinderamata dan kenang-kenangan,
▪️Membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat,
▪️Memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan,
▪️ataupun yang banyak terjadi yaitu Mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka.
❗️Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.
••••
Sumber:
"Imlek Dalam Pandangan Islam"
Buletin Al-Faidah edisi 46 Tahun ke-2 1437 H hal. 2-4 | Penyusun: Team Buletin Al-Faidah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SELAMA AQIDAH SAMA, JANGAN SAMPAI PERBEDAAN PENDAPAT FIQH MENYEBABKAN PERMUSUHAN
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjawab secara bijak prasangka buruk bahwa telah terjadi perselisihan antara beliau dengan para ulama Kerajaan Saudi Arabia (KSA):
"Sesungguhnya perbedaan pendapat itu merupakan perkara yang sangat lumrah terjadi. Hal itu memiliki sebab-sebab sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam tulisan beliau yang telah dikenal luas dengan judul apa? Rof'ul Malam 'an A-immatil A'lam.
Karena itu, bukanlah hal yang mengherankan adanya pihak yang berbeda pendapat (dengan pendapat saya) dari beberapa ulama dari negara manapun mereka berasal. Karena memang perkara ini adalah keadaan yang lumrah terjadi, juga sebagaimana yang anda isyaratkan dalam pertanyaan anda tentang ucapan imam Malik rahimahullah yang mengatakan:
"Tidak ada seorangpun diantara kita yang ucapannya bisa ditolak maupun diterima mutlak kecuali penghuni kubur ini (yakni Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam)." ¹)
Akan tetapi saya akan mengatakan sebuah ucapan yang jelas, Bahwa bisa saja terkadang didapati dari diri saya sebagian kalimat oleh sebagian pihak yang membacanya, sedangkan dia belum membaca pendapat pihak lain yang saya bantah, walaupun sekedar membaca secara umum. Dia mendapati padanya beberapa ungkapan yang dikategorikan sikap kaku ataupun keras.
Saya tidak mengingkari kemungkinan adanya jenis sikap tegas, tidak pula tentang sikap keras pada sebagian tulisan saya. Akan tetapi saya mengakui bahwa yang seperti itu tidak dimaksudkan untuk menyerang.
Hanyalah saya sekedar berusaha mengambil hak saya terhadap pihak yang berbuat salah kepada saya. Dimana betapa banyak yang dia katakan tentang diri saya adalah sesuatu yang bukan keyakinan saya.
Seperti misalnya sebagian tuduhan kepada saya yang sama sekali saya tidak meyakininya, seperti tuduhan saya zindiq, atau saya telah mengarah ke keyakinan zindiq hanya karena saya mengatakan sesuatu yang sudah pernah diucapkan oleh sebagian ulama, bahkan yang disebutkan oleh jumhur ulama, bahwa wajah wanita bukan termasuk aurat.
Demikianlah,
Apabila saya mengatakan semisal pendapat itu dan saya berdalil serta menjelaskannya dengan dasar alkitab, assunnah maupun atsar-atsar salafiyyah dan seterusnya, bersamaan dengan hal itu sebagian mereka tetap saja menuduh saya telah membuka pintu fitnah, dan membuka pintu bersolek (tabarruj) bagi para wanita. Dan bisa jadi beberapa pihak menilai saya dengan selain yang telah saya sebutkan tadi.
Sehingga memang apabila terjadi dalam pembelaan diriku terhadap tuduhan yang semisal ini terdapat (pembelaan) yang mengandung ucapan kaku ataupun keras, saya tidak mengingkarinya.
Hanya saja saya sebatas upaya yang bisa saya lakukan tidaklah memulai seorang pun yang menyampaikan bantahan kepada saya bantahan ilmiah dengan tanggapan yang kaku.
Dan saya berharap kepada setiap yang mencintai saya dan tulus terhadap saya, apabila dia melihat saya yang memulai menyerang dan mengawali celaan terhadap seorang alim siapapun, yang berasal dari negeri manapun di dunia ini, hendaklah dia mengingatkan saya. Dan saya akan mengatakan kepadanya:
رحم الله امرأ أهدى إليّ عيوبي
"semoga Allah merahmati sesorang yang telah menghadiahkan paparan aib-aibku kepadaku." ²)
(Sehingga) apabila perbedaan pendapat yang terjadi masuk kategori perkara manusiawi yang lumrah, sebagaimana juga merupakan tabiat manusiawi pada diri saya ketika berbeda pendapat dengan sebagian ulama di negeri (KSA) tersebut.
Akan tetapi saya bertahmid (memuji Allah) bahwa perbedaan yang terjadi sebagaimana dibahasakan - walaupun saya sendiri tidak mendukung ungkapan ini - bahwa perbedaan yang terjadi pada ranah cabang (الفروع) bukan pada ranah prinsip (الأصول).
📬 SELAMA AQIDAH SAMA, JANGAN SAMPAI PERBEDAAN PENDAPAT FIQH MENYEBABKAN PERMUSUHAN
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjawab secara bijak prasangka buruk bahwa telah terjadi perselisihan antara beliau dengan para ulama Kerajaan Saudi Arabia (KSA):
"Sesungguhnya perbedaan pendapat itu merupakan perkara yang sangat lumrah terjadi. Hal itu memiliki sebab-sebab sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam tulisan beliau yang telah dikenal luas dengan judul apa? Rof'ul Malam 'an A-immatil A'lam.
Karena itu, bukanlah hal yang mengherankan adanya pihak yang berbeda pendapat (dengan pendapat saya) dari beberapa ulama dari negara manapun mereka berasal. Karena memang perkara ini adalah keadaan yang lumrah terjadi, juga sebagaimana yang anda isyaratkan dalam pertanyaan anda tentang ucapan imam Malik rahimahullah yang mengatakan:
"Tidak ada seorangpun diantara kita yang ucapannya bisa ditolak maupun diterima mutlak kecuali penghuni kubur ini (yakni Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam)." ¹)
Akan tetapi saya akan mengatakan sebuah ucapan yang jelas, Bahwa bisa saja terkadang didapati dari diri saya sebagian kalimat oleh sebagian pihak yang membacanya, sedangkan dia belum membaca pendapat pihak lain yang saya bantah, walaupun sekedar membaca secara umum. Dia mendapati padanya beberapa ungkapan yang dikategorikan sikap kaku ataupun keras.
Saya tidak mengingkari kemungkinan adanya jenis sikap tegas, tidak pula tentang sikap keras pada sebagian tulisan saya. Akan tetapi saya mengakui bahwa yang seperti itu tidak dimaksudkan untuk menyerang.
Hanyalah saya sekedar berusaha mengambil hak saya terhadap pihak yang berbuat salah kepada saya. Dimana betapa banyak yang dia katakan tentang diri saya adalah sesuatu yang bukan keyakinan saya.
Seperti misalnya sebagian tuduhan kepada saya yang sama sekali saya tidak meyakininya, seperti tuduhan saya zindiq, atau saya telah mengarah ke keyakinan zindiq hanya karena saya mengatakan sesuatu yang sudah pernah diucapkan oleh sebagian ulama, bahkan yang disebutkan oleh jumhur ulama, bahwa wajah wanita bukan termasuk aurat.
Demikianlah,
Apabila saya mengatakan semisal pendapat itu dan saya berdalil serta menjelaskannya dengan dasar alkitab, assunnah maupun atsar-atsar salafiyyah dan seterusnya, bersamaan dengan hal itu sebagian mereka tetap saja menuduh saya telah membuka pintu fitnah, dan membuka pintu bersolek (tabarruj) bagi para wanita. Dan bisa jadi beberapa pihak menilai saya dengan selain yang telah saya sebutkan tadi.
Sehingga memang apabila terjadi dalam pembelaan diriku terhadap tuduhan yang semisal ini terdapat (pembelaan) yang mengandung ucapan kaku ataupun keras, saya tidak mengingkarinya.
Hanya saja saya sebatas upaya yang bisa saya lakukan tidaklah memulai seorang pun yang menyampaikan bantahan kepada saya bantahan ilmiah dengan tanggapan yang kaku.
Dan saya berharap kepada setiap yang mencintai saya dan tulus terhadap saya, apabila dia melihat saya yang memulai menyerang dan mengawali celaan terhadap seorang alim siapapun, yang berasal dari negeri manapun di dunia ini, hendaklah dia mengingatkan saya. Dan saya akan mengatakan kepadanya:
رحم الله امرأ أهدى إليّ عيوبي
"semoga Allah merahmati sesorang yang telah menghadiahkan paparan aib-aibku kepadaku." ²)
(Sehingga) apabila perbedaan pendapat yang terjadi masuk kategori perkara manusiawi yang lumrah, sebagaimana juga merupakan tabiat manusiawi pada diri saya ketika berbeda pendapat dengan sebagian ulama di negeri (KSA) tersebut.
Akan tetapi saya bertahmid (memuji Allah) bahwa perbedaan yang terjadi sebagaimana dibahasakan - walaupun saya sendiri tidak mendukung ungkapan ini - bahwa perbedaan yang terjadi pada ranah cabang (الفروع) bukan pada ranah prinsip (الأصول).
Demikianlah..
Maksudnya bahwa perbedaan pandangan yang terjadi hanyalah dalam beberapa permasalahan fiqh saja. Adapun dalam permasalah aqidah, kami semua walhamdulillah sama-sama bersepakat.
Memang sudah sekian lama kami dituduh termasuk dari wahhabiyyin. Sudah sekian lama pula kami hidup seakan di antara dua "batu giling". Di satu sisi, beliau-beliau yang disebut sebagai wahhabiyyah tidak membela manhaj kami, dan di sisi yang lain sebagian orang yang disandarkan kepada wahhabiyyah juga tidak ridha kepada kami. Namun kami berharap semoga Allah meridhai kita semua."
Semoga Allah merahmati para ulama ahlussunnah yang telah wafat, dan menjaga para ulama yang masih hidup, serta kita semua untuk istiqomah bersaudara karena Allah dan bersatu dalam aqidah dan manhaj yang benar ini.
___________
Catatan kaki:
¹) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani sendiri pernah meneliti asal kaedah ini, beliau rahimahullah menyebutkan:
"Penyandaran ucapan ini kepada Imam Malik sudah dikenal luas di kalangan ulama generasi akhir. Sementara Ibnu Abdil Hadi dalam "IrsyadusSalik (1/227)" telah membenarkannya. Telah diriwayatkan Ibnu Abdil Bar dalam "Al Jami' (2/91),"_ Ibnu Hazm dalam "Ushulul Ahkam (6/145 & 179)" sebagai ucapan Al Hakam bin 'Utbah, dan Mujahid." dst. (Lihat Ashl Shifat Sholat Nabi 1/27)
²) Beliau tampaknya mengisyaratkan kepada ucapan Umar bin Al Khoththob radhiyallahu 'anhu:
ﺭﺣﻢ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﺪﻯ ﺇﻟﻲ ﻋﻴﻮﺑﻲ
sebagaimana dikutip dalam Sunan Ad Darimi 1/506
Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dengan koreksi para afadhil jazahumullahu khoiro dari audio http://bit.ly/39WChfb
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Maksudnya bahwa perbedaan pandangan yang terjadi hanyalah dalam beberapa permasalahan fiqh saja. Adapun dalam permasalah aqidah, kami semua walhamdulillah sama-sama bersepakat.
Memang sudah sekian lama kami dituduh termasuk dari wahhabiyyin. Sudah sekian lama pula kami hidup seakan di antara dua "batu giling". Di satu sisi, beliau-beliau yang disebut sebagai wahhabiyyah tidak membela manhaj kami, dan di sisi yang lain sebagian orang yang disandarkan kepada wahhabiyyah juga tidak ridha kepada kami. Namun kami berharap semoga Allah meridhai kita semua."
Semoga Allah merahmati para ulama ahlussunnah yang telah wafat, dan menjaga para ulama yang masih hidup, serta kita semua untuk istiqomah bersaudara karena Allah dan bersatu dalam aqidah dan manhaj yang benar ini.
___________
Catatan kaki:
¹) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani sendiri pernah meneliti asal kaedah ini, beliau rahimahullah menyebutkan:
"Penyandaran ucapan ini kepada Imam Malik sudah dikenal luas di kalangan ulama generasi akhir. Sementara Ibnu Abdil Hadi dalam "IrsyadusSalik (1/227)" telah membenarkannya. Telah diriwayatkan Ibnu Abdil Bar dalam "Al Jami' (2/91),"_ Ibnu Hazm dalam "Ushulul Ahkam (6/145 & 179)" sebagai ucapan Al Hakam bin 'Utbah, dan Mujahid." dst. (Lihat Ashl Shifat Sholat Nabi 1/27)
²) Beliau tampaknya mengisyaratkan kepada ucapan Umar bin Al Khoththob radhiyallahu 'anhu:
ﺭﺣﻢ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﺪﻯ ﺇﻟﻲ ﻋﻴﻮﺑﻲ
sebagaimana dikutip dalam Sunan Ad Darimi 1/506
Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dengan koreksi para afadhil jazahumullahu khoiro dari audio http://bit.ly/39WChfb
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 MENGAMBIL IBROH DARI FITNAH MUSHO'FIQOH : ORANG SUDAH RUJUK DAN TAUBAT TIDAKLAH CUKUP, TAPI HARUS DIHANCURKAN!
Al-Ustadz Usamah Mahri hafizhahullah
Transkrip:
Ibroh yang bisa kita ambil dari Fitnah mushofiqoh, Fitnah Muhammad Bin Hady.. dan banyak fitnah mereka,
Salah satunya.. mereka menilai dan menganggap rujuknya orang dari kesalahannya itu rodhilah kerendahan dan kehinaan.. yusyanna' mereka cela..!
Mereka jadikan itu Sukhriyyah bahan tertawaan..!
Mereka jadikan itu nilai negatif..!
Fulan pernah begini, fulan pernah mengatakan ini..
Dan dijadikan bahan untuk menjatuhkan..!
ITU MANHAJ HADDADIY.. MANHAJ MUSHO'FIQOH!!
Bukan manhaj 'ulama..arroskhiin min ahlil 'ilmy,
ORANG RUJUK MENGAKU SALAH YA ALHAMDULILLAH.. ITU YANG DIHARAPKAN, TIDAK LEBIH!
Kecuali memang tampak kalau orang itu punya muatan lain.. bukan karena Allah tapi ADA MUATAN-MUATAN PRIBADI INGIN MENGHANCURKAN KARAKTER TERTENTU..!
INGIN MERUSAK DAN MENJATUHKANNYA..!
Hanya sekedar Rujuk Taubat nggak cukup baginya, HARUS DIHANCURKAN ORANG INI...!!
DAN ITU AKHLAK RENDAH..! AKHLAK MUNAFIK..!
Mukmin yastur wa yanshoh.. sifat seorang mukmin menutupi dan menasehati..
Tidak dibiarkan saudaranya dalam kesalahan.. Ta'aal! diingatkan!
Aku melihat kamu begini Ittaqillah ya fulan, ini salah..! ini jelek.. rubah, benahi, tinggalkan! lakukan ini! nasehat.. ! (Tapi dia tutupi..)
TIDAK DIA SIARKAN DAN GEMBAR-GEMBORKAN KESANA KEMARI!
Walmunaafik yafdhoh wa yu'ayyirrr..!!
Sifat munafik yafdhoh..! Bangga dan senangnya kalau dapat kesalahan saudaranya!
DIA BONGKAR DAN DIA SEBAR KESANA-KEMARI.. dan bukannya dia nasehati tapi yu'ayyir..
Haah kan ketahuaan..!? Makanya hua ini.. dia lakukan ini ! (Sudah tobat) makanya hhh..! Aku kan sudah pernah bilang dia itu begini-gini !
Bukannya Alhamdulillah saudara kita rujuk, Semoga Allah beri Taufik.. semoga.. disambut dengan baik!
La, munafik yu'ayyirrr!
Dia Jadikan itu poin bagaimana menghancurkan.. bukan akhlak seorang mukmin.. 'azhiim.
http://bit.ly/33lbEx2
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENGAMBIL IBROH DARI FITNAH MUSHO'FIQOH : ORANG SUDAH RUJUK DAN TAUBAT TIDAKLAH CUKUP, TAPI HARUS DIHANCURKAN!
Al-Ustadz Usamah Mahri hafizhahullah
Transkrip:
Ibroh yang bisa kita ambil dari Fitnah mushofiqoh, Fitnah Muhammad Bin Hady.. dan banyak fitnah mereka,
Salah satunya.. mereka menilai dan menganggap rujuknya orang dari kesalahannya itu rodhilah kerendahan dan kehinaan.. yusyanna' mereka cela..!
Mereka jadikan itu Sukhriyyah bahan tertawaan..!
Mereka jadikan itu nilai negatif..!
Fulan pernah begini, fulan pernah mengatakan ini..
Dan dijadikan bahan untuk menjatuhkan..!
ITU MANHAJ HADDADIY.. MANHAJ MUSHO'FIQOH!!
Bukan manhaj 'ulama..arroskhiin min ahlil 'ilmy,
ORANG RUJUK MENGAKU SALAH YA ALHAMDULILLAH.. ITU YANG DIHARAPKAN, TIDAK LEBIH!
Kecuali memang tampak kalau orang itu punya muatan lain.. bukan karena Allah tapi ADA MUATAN-MUATAN PRIBADI INGIN MENGHANCURKAN KARAKTER TERTENTU..!
INGIN MERUSAK DAN MENJATUHKANNYA..!
Hanya sekedar Rujuk Taubat nggak cukup baginya, HARUS DIHANCURKAN ORANG INI...!!
DAN ITU AKHLAK RENDAH..! AKHLAK MUNAFIK..!
Mukmin yastur wa yanshoh.. sifat seorang mukmin menutupi dan menasehati..
Tidak dibiarkan saudaranya dalam kesalahan.. Ta'aal! diingatkan!
Aku melihat kamu begini Ittaqillah ya fulan, ini salah..! ini jelek.. rubah, benahi, tinggalkan! lakukan ini! nasehat.. ! (Tapi dia tutupi..)
TIDAK DIA SIARKAN DAN GEMBAR-GEMBORKAN KESANA KEMARI!
Walmunaafik yafdhoh wa yu'ayyirrr..!!
Sifat munafik yafdhoh..! Bangga dan senangnya kalau dapat kesalahan saudaranya!
DIA BONGKAR DAN DIA SEBAR KESANA-KEMARI.. dan bukannya dia nasehati tapi yu'ayyir..
Haah kan ketahuaan..!? Makanya hua ini.. dia lakukan ini ! (Sudah tobat) makanya hhh..! Aku kan sudah pernah bilang dia itu begini-gini !
Bukannya Alhamdulillah saudara kita rujuk, Semoga Allah beri Taufik.. semoga.. disambut dengan baik!
La, munafik yu'ayyirrr!
Dia Jadikan itu poin bagaimana menghancurkan.. bukan akhlak seorang mukmin.. 'azhiim.
http://bit.ly/33lbEx2
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
﷽ ADAKAH MANFAAT BAGIMU JIKA KAU ENGGAN MEMAAFKAN SAUDARAMU?
✍🏻 Untaian nasihat indah, pernah dituturkan oleh al-Imam Ahmad bin Hambal رحمه اللّٰه,
العفو أفضل، وما ينفعك أن يعذب أخوك المسلم بسببك؟!
❝ Memaafkan itu yang lebih utama, apa manfaat bagimu tatkala saudaramu yang muslim diazab dengan sebab dirimu?! ❞
📖 Al-Musnad lil Imam Ahmad Hal. 115, Jilid 1, Cetakan Darul Hadits.
@BuletinAlFaidah
✍🏻 Untaian nasihat indah, pernah dituturkan oleh al-Imam Ahmad bin Hambal رحمه اللّٰه,
العفو أفضل، وما ينفعك أن يعذب أخوك المسلم بسببك؟!
❝ Memaafkan itu yang lebih utama, apa manfaat bagimu tatkala saudaramu yang muslim diazab dengan sebab dirimu?! ❞
📖 Al-Musnad lil Imam Ahmad Hal. 115, Jilid 1, Cetakan Darul Hadits.
@BuletinAlFaidah
::
📬 SUDAHKAH KAU BERKORBAN UNTUK AGAMAMU?
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih -hafizhahullah-
◙ Durasi 01:18:14
◙ Ukuran file 18 MB
◙ Link: http://bit.ly/3pLlTTx
(*) Juga disampaikan Bimbingan dari Ulama Kibar:
1. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' al-Madkhali hafizhahullah.
2. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.
3. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah.
4. Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi hafizhahullah.
Yang berisi agar Salafiyyin menjalin persatuan dan ukhuwah sesama mereka.
Sumber audio: @albahrbintan
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SUDAHKAH KAU BERKORBAN UNTUK AGAMAMU?
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih -hafizhahullah-
◙ Durasi 01:18:14
◙ Ukuran file 18 MB
◙ Link: http://bit.ly/3pLlTTx
(*) Juga disampaikan Bimbingan dari Ulama Kibar:
1. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' al-Madkhali hafizhahullah.
2. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.
3. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah.
4. Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi hafizhahullah.
Yang berisi agar Salafiyyin menjalin persatuan dan ukhuwah sesama mereka.
Sumber audio: @albahrbintan
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 MUNCULNYA FITNAH DAN BENCANA AKIBAT BERPALING DARI ULAMA
Al Allamah Muqbil Al Wadi'i rahimahullah berkata,
● إن من الفتن والبلايا
● والمصائب التي دهمت المسلمين، في جميع البلاد الإسلامية
>>> هو الإعراض عن العلماء .
"Sesungguhnya termasuk fitnah dan bencana serta musibah yang menimpa kaum muslimin di berbagai negeri Islam yaitu sikap berpaling dari para ulama."
📚 [ Ijabatus Sa'il hlm:18 ].
@manhajulhaqcom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MUNCULNYA FITNAH DAN BENCANA AKIBAT BERPALING DARI ULAMA
Al Allamah Muqbil Al Wadi'i rahimahullah berkata,
● إن من الفتن والبلايا
● والمصائب التي دهمت المسلمين، في جميع البلاد الإسلامية
>>> هو الإعراض عن العلماء .
"Sesungguhnya termasuk fitnah dan bencana serta musibah yang menimpa kaum muslimin di berbagai negeri Islam yaitu sikap berpaling dari para ulama."
📚 [ Ijabatus Sa'il hlm:18 ].
@manhajulhaqcom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JANGAN TINGGALKAN ULAMA!
🟧 Allah Menjadikan Ulama Sebagai Tempat Rujukan Umat
Allah Ta'ala berfirman:
فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui..". (QS. An-Nahl: 43)
🟧 Allah Menjadikan Ulama Sebagai Pewaris Ilmu Syariat
Dari Abud Darda' radhiyallahu 'anhu berkata,
"Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan uang dinar tidak pula dirham. Mereka itu mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambil ilmu itu (dari ulama), berarti ia telah mengambil bagian yang banyak". (HR lmam Abu Dawud dan lmam Tirmidzi, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani).
🟧 Jangan Tinggalkan Ulama!
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i rahimahullah mengatakan;
إن الفتن وإن البلايا والمصائب التي دهمت المسلمين في جميع البلاد الإسلامية من أعظم أسبابها هو الإعراض عن العلماء.
"Sesungguhnya ujian, bencana dan musibah yang menimpa kaum muslimin di semua negeri lslam di antara sebab terbesarnya adalah berpaling (menjauh) dari ulama".
📚 إجابة السائل على أهم المسائل ، الصفحة : (١٨).
✍🏾 FIK الفقير إلى عفو ربه أبو يحيى
@forumIlmiahkaranganyar
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JANGAN TINGGALKAN ULAMA!
🟧 Allah Menjadikan Ulama Sebagai Tempat Rujukan Umat
Allah Ta'ala berfirman:
فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui..". (QS. An-Nahl: 43)
🟧 Allah Menjadikan Ulama Sebagai Pewaris Ilmu Syariat
Dari Abud Darda' radhiyallahu 'anhu berkata,
"Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan uang dinar tidak pula dirham. Mereka itu mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambil ilmu itu (dari ulama), berarti ia telah mengambil bagian yang banyak". (HR lmam Abu Dawud dan lmam Tirmidzi, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani).
🟧 Jangan Tinggalkan Ulama!
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i rahimahullah mengatakan;
إن الفتن وإن البلايا والمصائب التي دهمت المسلمين في جميع البلاد الإسلامية من أعظم أسبابها هو الإعراض عن العلماء.
"Sesungguhnya ujian, bencana dan musibah yang menimpa kaum muslimin di semua negeri lslam di antara sebab terbesarnya adalah berpaling (menjauh) dari ulama".
📚 إجابة السائل على أهم المسائل ، الصفحة : (١٨).
✍🏾 FIK الفقير إلى عفو ربه أبو يحيى
@forumIlmiahkaranganyar
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BIMBINGAN ULAMA KIBAR DALAM MENYIKAPI FITNAH TERKINI
1. Al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' al-Madkhali hafizhahullah.
2. Al-'Allamah asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.
3. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah.
4. Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi hafizhahullah.
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih -hafizhahullah-
◙ Durasi 00:18:50
◙ Ukuran file 4,4 MB
◙ Link: http://bit.ly/3pUn5nX
Diantara wasiat dan nasehat ulama kibar:
(1). Hendaklah Salafiyin saling bersaudara, saling mengasihi, dan saling memberikan kelembutan, dan bersatu, bersatupadu membangun persatuan diantara mereka diatas kebenaran dan hendaklah mereka meninggalkan berbagai macam/segala macam perselisihan dan juga meninggalkan semua sebab-sebab perpecahan sehingga mereka semua bisa menjadi seperti satu tubuh.
(2). Meninggalkan channel-channel yang majhul, yang tidak diketahui siapa di dalamnya, yang tidak diketahui siapa pengampunya, yang tidak diketahui siapa pembinanya, apakah mereka para thullabul ilmi, bagaimana sejarah mereka di dalam
menuntut ilmu, apakah mereka berguru kepada para Asatidzah kita, apakah mereka berguru
kepada Masyaikh kita.
(3). Para Asatidzah seperti: Ust.Luqman Ba'abduh hafizhahullah, Ust. Muhammad As Sewed hafizhahullah, Ust. Abdush Shamad Bawazier hafizhahullahu Ta'ala, Ust. Usamah Mahri hafizhahullahu Ta'ala, Ust. Qomar hafizhahullahu Ta'ala dan yang lainnya dari kalangan para dai al fudhala mereka semua Salafiyun, mereka semua adalah murid-murid Masyaikh kita dan mereka semua senantiasa kembali kepada para ulama dan para Masyaikh.
Sumber audio: @albahrbintan
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BIMBINGAN ULAMA KIBAR DALAM MENYIKAPI FITNAH TERKINI
1. Al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' al-Madkhali hafizhahullah.
2. Al-'Allamah asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.
3. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah.
4. Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi hafizhahullah.
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih -hafizhahullah-
◙ Durasi 00:18:50
◙ Ukuran file 4,4 MB
◙ Link: http://bit.ly/3pUn5nX
Diantara wasiat dan nasehat ulama kibar:
(1). Hendaklah Salafiyin saling bersaudara, saling mengasihi, dan saling memberikan kelembutan, dan bersatu, bersatupadu membangun persatuan diantara mereka diatas kebenaran dan hendaklah mereka meninggalkan berbagai macam/segala macam perselisihan dan juga meninggalkan semua sebab-sebab perpecahan sehingga mereka semua bisa menjadi seperti satu tubuh.
(2). Meninggalkan channel-channel yang majhul, yang tidak diketahui siapa di dalamnya, yang tidak diketahui siapa pengampunya, yang tidak diketahui siapa pembinanya, apakah mereka para thullabul ilmi, bagaimana sejarah mereka di dalam
menuntut ilmu, apakah mereka berguru kepada para Asatidzah kita, apakah mereka berguru
kepada Masyaikh kita.
(3). Para Asatidzah seperti: Ust.Luqman Ba'abduh hafizhahullah, Ust. Muhammad As Sewed hafizhahullah, Ust. Abdush Shamad Bawazier hafizhahullahu Ta'ala, Ust. Usamah Mahri hafizhahullahu Ta'ala, Ust. Qomar hafizhahullahu Ta'ala dan yang lainnya dari kalangan para dai al fudhala mereka semua Salafiyun, mereka semua adalah murid-murid Masyaikh kita dan mereka semua senantiasa kembali kepada para ulama dan para Masyaikh.
Sumber audio: @albahrbintan
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KEDUDUKAN ULAMA DI TENGAH UMAT
✍🏻 Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata,
ﻓﻤﺎ ﻇﻨﻜﻢ ـ ﺭﺣﻤﻜﻢ اﻟﻠﻪ ـ ﺑﻄﺮﻳﻖ ﻓﻴﻪ ﺁﻓﺎﺕ ﻛﺜﻴﺮﺓ ، ﻭﻳﺤﺘﺎﺝ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺳﻠﻮﻛﻪ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﻇﻠﻤﺎء ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ضياء ﻭﺇﻻ ﺗﺤﻴﺮﻭا ، ﻓﻘﻴﺾ اﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﻓﻴﻪ ﻣﺼﺎﺑﻴﺢ ﺗﻀﻲء ﻟﻬﻢ ، ﻓﺴﻠﻜﻮﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭاﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ، ﺛﻢ ﺟﺎءﺕ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻻﺑﺪ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﺴﻠﻜﻮا ، ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻢ ﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫ ﻃﻔﺌﺖ اﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ ﻓﺒﻘﻮا ﻓﻲ اﻟﻈﻠﻤﺔ ، ﻓﻤﺎ ﻇﻨﻜﻢ ﺑﻬﻢ؟
Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah jalan dengan banyak gangguan, orang-orang butuh melewatinya di malam yang gelap gulita. Tidak ada cahaya sehingga mereka kebingungan?
Kemudian, Allah menyediakan lentera-lentera yang menerangi mereka. Akhirnya, mereka dapat melewati jalan tersebut dengan selamat.
Setelah itu, datanglah sekelompok manusia lain yang harus melewati jalan tersebut. Saat mereka berjalan, tiba-tiba lentera-lentera tersebut padam. Akhirnya mereka berada dalam kegelapan.
Bagaimana menurut kalian tentang mereka?
ﻫﻜﺬا اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺱ ، ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻛﻴﻒ ﺃﺩاء اﻟﻔﺮاﺋﺾ ، ﻭلا ﻛﻴﻒ اﺟﺘﻨﺎﺏ اﻟﻤﺤﺎﺭﻡ ، ﻭﻻ ﻛﻴﻒ ﻳﻌﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﻳﻌﺒﺪﻩ ﺑﻪ ﺧﻠﻘﻪ ، ﺇﻻ ﺑﺒﻘﺎء اﻟﻌﻠﻤﺎء ، ﻓﺈﺫا ﻣﺎﺕ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﺗﺤﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ، ﻭﺩُﺭِﺱَ اﻟﻌﻠﻢ ﺑﻤﻮﺗﻬﻢ ، ﻭﻇﻬﺮ اﻟﺠﻬﻞ ، ﻓﺈﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺭاﺟﻌﻮﻥ ، ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻣﺎ ﺃﻋﻈﻤﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ؟
Demikianlah kedudukan ulama di tengah-tengah umat manusia.
🟧 Mayoritas orang tidak dapat mengetahui bagaimana menunaikan kewajiban,
🟧 Menjauhi yang haram, dan
🟧 Beribadah kepada Allah dengan seluruh jenis ibadah yang dilakukan makhluk;
kecuali melalui keberadaan para ulama.
Apabila ulama wafat, umat manusia menjadi kebingungan. Ilmu terkubur bersama kematian mereka. Muncullah kebodohan. Innaa lillahi wa Innaa ilaihi rajiun. Betapa besar musibah yang menimpa kaum muslimin.
📚 Akhlak al-Ulama, hal. 30-31
@ForumSalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KEDUDUKAN ULAMA DI TENGAH UMAT
✍🏻 Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata,
ﻓﻤﺎ ﻇﻨﻜﻢ ـ ﺭﺣﻤﻜﻢ اﻟﻠﻪ ـ ﺑﻄﺮﻳﻖ ﻓﻴﻪ ﺁﻓﺎﺕ ﻛﺜﻴﺮﺓ ، ﻭﻳﺤﺘﺎﺝ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺳﻠﻮﻛﻪ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﻇﻠﻤﺎء ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ضياء ﻭﺇﻻ ﺗﺤﻴﺮﻭا ، ﻓﻘﻴﺾ اﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﻓﻴﻪ ﻣﺼﺎﺑﻴﺢ ﺗﻀﻲء ﻟﻬﻢ ، ﻓﺴﻠﻜﻮﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭاﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ، ﺛﻢ ﺟﺎءﺕ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻻﺑﺪ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﺴﻠﻜﻮا ، ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻢ ﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫ ﻃﻔﺌﺖ اﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ ﻓﺒﻘﻮا ﻓﻲ اﻟﻈﻠﻤﺔ ، ﻓﻤﺎ ﻇﻨﻜﻢ ﺑﻬﻢ؟
Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah jalan dengan banyak gangguan, orang-orang butuh melewatinya di malam yang gelap gulita. Tidak ada cahaya sehingga mereka kebingungan?
Kemudian, Allah menyediakan lentera-lentera yang menerangi mereka. Akhirnya, mereka dapat melewati jalan tersebut dengan selamat.
Setelah itu, datanglah sekelompok manusia lain yang harus melewati jalan tersebut. Saat mereka berjalan, tiba-tiba lentera-lentera tersebut padam. Akhirnya mereka berada dalam kegelapan.
Bagaimana menurut kalian tentang mereka?
ﻫﻜﺬا اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺱ ، ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻛﻴﻒ ﺃﺩاء اﻟﻔﺮاﺋﺾ ، ﻭلا ﻛﻴﻒ اﺟﺘﻨﺎﺏ اﻟﻤﺤﺎﺭﻡ ، ﻭﻻ ﻛﻴﻒ ﻳﻌﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﻳﻌﺒﺪﻩ ﺑﻪ ﺧﻠﻘﻪ ، ﺇﻻ ﺑﺒﻘﺎء اﻟﻌﻠﻤﺎء ، ﻓﺈﺫا ﻣﺎﺕ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﺗﺤﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ، ﻭﺩُﺭِﺱَ اﻟﻌﻠﻢ ﺑﻤﻮﺗﻬﻢ ، ﻭﻇﻬﺮ اﻟﺠﻬﻞ ، ﻓﺈﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺭاﺟﻌﻮﻥ ، ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻣﺎ ﺃﻋﻈﻤﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ؟
Demikianlah kedudukan ulama di tengah-tengah umat manusia.
🟧 Mayoritas orang tidak dapat mengetahui bagaimana menunaikan kewajiban,
🟧 Menjauhi yang haram, dan
🟧 Beribadah kepada Allah dengan seluruh jenis ibadah yang dilakukan makhluk;
kecuali melalui keberadaan para ulama.
Apabila ulama wafat, umat manusia menjadi kebingungan. Ilmu terkubur bersama kematian mereka. Muncullah kebodohan. Innaa lillahi wa Innaa ilaihi rajiun. Betapa besar musibah yang menimpa kaum muslimin.
📚 Akhlak al-Ulama, hal. 30-31
@ForumSalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA
✏️ Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Dalil Pertama:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu". (Q.S adz-Dzaariyaat : 56)
Penjelasan Dalil Pertama:
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193)).
Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.
Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah -Subhanahu wa ta'ala- adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah -Subhanahu Wa Ta'ala-, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.
Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:
1⃣ Cinta Dengan Pengagungan,
2⃣ Takut, dan
3⃣ Berharap.
Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah Zindiq.
Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khowarij).
Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah.
Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman.
Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim -rahimahullah- sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.
〰〰〰
📝 Disalin dari "Tauhid, Anugerah yang Tak Tergantikan (Syarh Kitabit Tauhid)"
@KeutamaanTauhid
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA
✏️ Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Dalil Pertama:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu". (Q.S adz-Dzaariyaat : 56)
Penjelasan Dalil Pertama:
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193)).
Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.
Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah -Subhanahu wa ta'ala- adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah -Subhanahu Wa Ta'ala-, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.
Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:
1⃣ Cinta Dengan Pengagungan,
2⃣ Takut, dan
3⃣ Berharap.
Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah Zindiq.
Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khowarij).
Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah.
Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman.
Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim -rahimahullah- sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.
〰〰〰
📝 Disalin dari "Tauhid, Anugerah yang Tak Tergantikan (Syarh Kitabit Tauhid)"
@KeutamaanTauhid
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com