Insya Allah Kajian Online Malam ini pukul 20.00
"BERSAUDARA DI BAWAH BIMBINGAN AGAMA YANG SEMPURNA"
Ust.Muhammad Noer hafizhahullah
📥 Copas link berikut di browser anda: http://jember.radioislam.my.id:9999/index.html?sid=1
Kemudian klik tombol "play" ▶️ di bagian bawah
📲 Atau download aplikasi radionya di Playstore: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar
Baarokallaahu fiikum
"BERSAUDARA DI BAWAH BIMBINGAN AGAMA YANG SEMPURNA"
Ust.Muhammad Noer hafizhahullah
📥 Copas link berikut di browser anda: http://jember.radioislam.my.id:9999/index.html?sid=1
Kemudian klik tombol "play" ▶️ di bagian bawah
📲 Atau download aplikasi radionya di Playstore: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar
Baarokallaahu fiikum
::
📬 TUJUAN YANG SEMU
Jika kita bertanya dengan jujur kepada pihak yang mengucapkan selamat Natal, “Apa yang terbetik di hati Anda ketika mengucapkan selamat Natal?
Apakah Anda mengucapkannya dengan perasaan penuh kebencian?
Atau di hati Anda tidak ada perasaan apa-apa alias biasa-biasa saja?
Atau di hati Anda ada (walau sedikit) rasa ridha?
Bagaimana raut muka dan mimik wajah Anda ketika mengucapkannya?
Apakah Anda ucapkan dengan wajah masam dan cemberut?
Atau wajah senyum dan berseri?”
Apapun jawabannya, kami sarankan untuk menyimak kembali keterangan di atas, terkhusus penjelasan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
Di sisi lain kita katakan, minimalnya tujuan ucapan selamat Natal adalah supaya kaum Nasrani yang mereka ucapi selamat tersebut ridha atau senang. Bukankah begitu?
Rasulullah ﷺ bersabda,
ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ
“Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan jalan yang Allah murkai, Allah akan murka kepadanya dan Allah akan membuat manusia (yang dicari keridhaannya tersebut) murka kepadanya pula.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2414, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2250)
Oleh karena itu, tidak akan mungkin tujuan dari ucapan selamat Natal tersebut tercapai sedikit pun. Kalaupun beralasan toleransi, itu adalah toleransi yang semu.
Jika yang diharapkan adalah persatuan dan kerukunan, itu adalah persatuan dan kerukunan yang maya. Selama tujuan tersebut diraih dengan jalan yang Allah murkai, hakikat tujuan tersebut tidak akan pernah tercapai.
Persatuan dan kerukunan yang sebenarnya adalah dengan menjalin toleransi dan kerukunan di atas sikap berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman para sahabat.
Terakhir, kami mengingatkan kepada segenap kaum muslimin untuk merenungi dan senantiasa mengingat kembali firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta kita, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk yang tersembunyi dalam dada-dada manusia,
وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah .” (Al-Baqarah: 120)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita untuk menjaga akidah dan keimanan sampai akhir hayat.
Disusun oleh: Tim Redaksi Forumsalafy
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 TUJUAN YANG SEMU
Jika kita bertanya dengan jujur kepada pihak yang mengucapkan selamat Natal, “Apa yang terbetik di hati Anda ketika mengucapkan selamat Natal?
Apakah Anda mengucapkannya dengan perasaan penuh kebencian?
Atau di hati Anda tidak ada perasaan apa-apa alias biasa-biasa saja?
Atau di hati Anda ada (walau sedikit) rasa ridha?
Bagaimana raut muka dan mimik wajah Anda ketika mengucapkannya?
Apakah Anda ucapkan dengan wajah masam dan cemberut?
Atau wajah senyum dan berseri?”
Apapun jawabannya, kami sarankan untuk menyimak kembali keterangan di atas, terkhusus penjelasan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
Di sisi lain kita katakan, minimalnya tujuan ucapan selamat Natal adalah supaya kaum Nasrani yang mereka ucapi selamat tersebut ridha atau senang. Bukankah begitu?
Rasulullah ﷺ bersabda,
ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ
“Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan jalan yang Allah murkai, Allah akan murka kepadanya dan Allah akan membuat manusia (yang dicari keridhaannya tersebut) murka kepadanya pula.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2414, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2250)
Oleh karena itu, tidak akan mungkin tujuan dari ucapan selamat Natal tersebut tercapai sedikit pun. Kalaupun beralasan toleransi, itu adalah toleransi yang semu.
Jika yang diharapkan adalah persatuan dan kerukunan, itu adalah persatuan dan kerukunan yang maya. Selama tujuan tersebut diraih dengan jalan yang Allah murkai, hakikat tujuan tersebut tidak akan pernah tercapai.
Persatuan dan kerukunan yang sebenarnya adalah dengan menjalin toleransi dan kerukunan di atas sikap berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman para sahabat.
Terakhir, kami mengingatkan kepada segenap kaum muslimin untuk merenungi dan senantiasa mengingat kembali firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta kita, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk yang tersembunyi dalam dada-dada manusia,
وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah .” (Al-Baqarah: 120)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita untuk menjaga akidah dan keimanan sampai akhir hayat.
Disusun oleh: Tim Redaksi Forumsalafy
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KENAPA ALERGI DENGAN KLARIFIKASI?
Hal yang perlu dipahami bersama adalah:
Jangan alergi dengan klarifikasi. Klarifikasi yang disampaikan dengan baik dan hikmah, itu sesuai sunnah.
Bukankah Nabi shollallahu alaihi wasallam melakukan klarifikasi dalam beberapa keadaan? Penjelasan bagaimana sebenarnya, untuk menepis tuduhan atau mengantisipasi anggapan yang tidak benar. Ditegakkan di atas bukti dan kejujuran.
Insyaallah kita masih ingat bagaimana pelajaran hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam ketika beliau pulang mengantarkan Shofiyyah dari masjid ketika beliau beri’tikaf? Ketika melihat Nabi bersama seorang wanita, ada Sahabat Nabi yang berjalan cepat.
Nabi pun mengklarifikasi bahwa itu adalah Shofiyyah, istri beliau. Nabi mengkhawatirkan syaithan melemparkan keburukan berupa dugaan-dugaan yang tidak benar ke dalam hati kedua Sahabat itu. Berikut ini ana kutipkan haditsnya:
عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِىَ لِيَقْلِبَنِى. وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ». فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا شَرًّا ». أَوْ قَالَ « شَيْئًا »
Dari Shofiyyah bintu Huyay ia berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah beri’tikaf, kemudian aku datang menemui beliau di waktu malam. Aku berbincang dengan beliau kemudian aku bangkit untuk kembali. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku.Tempat tinggal Shofiyyah bintu Huyay berada di rumah (yang nanti ditempati) Usamah bin Zaid. Nabi berpapasan dengan 2 orang laki-laki dari Anshar. Ketika keduanya melihat Nabi shollallahu alaihi wasallam, keduanya mempercepat berjalannya dan Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: "Tetaplah kalian berdua tenang dalam berjalan. Sesungguhnya ini adalah Shofiyyah bintu Huyay!" Keduanya berkata: "Subhanallah, wahai Rasulullah!". Nabi bersabda: "Sesungguhnya setan berjalan di peredaran darah manusia. Aku khawatir ia melemparkan keburukan ke dalam hati kalian berdua!" (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim)
Apabila ada saudara kita melakukan klarifikasi dengan penyampaian yang baik dan benar, disertai bukti-bukti seharusnya kita dukung. Apalagi jika berasal dari asatidzah Ahlus Sunnah, siapapun dia.
Sebagaimana jika seseorang dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang dusta, ia berhak untuk mengklarifikasi. Urusan setelah klarifikasi itu ada diskusi, itu adalah langkah berikutnya. Bukan dengan menyebar aib di media-media umum.
Adapun mencemooh dan mengejek sikap klarifikasi dari saudaranya yang sudah tepat, itu semestinya kita hindari.
Baarakallaahu fiikum
(Nasihat Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah di grup Muamalah KHAS)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KENAPA ALERGI DENGAN KLARIFIKASI?
Hal yang perlu dipahami bersama adalah:
Jangan alergi dengan klarifikasi. Klarifikasi yang disampaikan dengan baik dan hikmah, itu sesuai sunnah.
Bukankah Nabi shollallahu alaihi wasallam melakukan klarifikasi dalam beberapa keadaan? Penjelasan bagaimana sebenarnya, untuk menepis tuduhan atau mengantisipasi anggapan yang tidak benar. Ditegakkan di atas bukti dan kejujuran.
Insyaallah kita masih ingat bagaimana pelajaran hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam ketika beliau pulang mengantarkan Shofiyyah dari masjid ketika beliau beri’tikaf? Ketika melihat Nabi bersama seorang wanita, ada Sahabat Nabi yang berjalan cepat.
Nabi pun mengklarifikasi bahwa itu adalah Shofiyyah, istri beliau. Nabi mengkhawatirkan syaithan melemparkan keburukan berupa dugaan-dugaan yang tidak benar ke dalam hati kedua Sahabat itu. Berikut ini ana kutipkan haditsnya:
عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِىَ لِيَقْلِبَنِى. وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ». فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا شَرًّا ». أَوْ قَالَ « شَيْئًا »
Dari Shofiyyah bintu Huyay ia berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah beri’tikaf, kemudian aku datang menemui beliau di waktu malam. Aku berbincang dengan beliau kemudian aku bangkit untuk kembali. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku.Tempat tinggal Shofiyyah bintu Huyay berada di rumah (yang nanti ditempati) Usamah bin Zaid. Nabi berpapasan dengan 2 orang laki-laki dari Anshar. Ketika keduanya melihat Nabi shollallahu alaihi wasallam, keduanya mempercepat berjalannya dan Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: "Tetaplah kalian berdua tenang dalam berjalan. Sesungguhnya ini adalah Shofiyyah bintu Huyay!" Keduanya berkata: "Subhanallah, wahai Rasulullah!". Nabi bersabda: "Sesungguhnya setan berjalan di peredaran darah manusia. Aku khawatir ia melemparkan keburukan ke dalam hati kalian berdua!" (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim)
Apabila ada saudara kita melakukan klarifikasi dengan penyampaian yang baik dan benar, disertai bukti-bukti seharusnya kita dukung. Apalagi jika berasal dari asatidzah Ahlus Sunnah, siapapun dia.
Sebagaimana jika seseorang dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang dusta, ia berhak untuk mengklarifikasi. Urusan setelah klarifikasi itu ada diskusi, itu adalah langkah berikutnya. Bukan dengan menyebar aib di media-media umum.
Adapun mencemooh dan mengejek sikap klarifikasi dari saudaranya yang sudah tepat, itu semestinya kita hindari.
Baarakallaahu fiikum
(Nasihat Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah di grup Muamalah KHAS)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KEDUDUKAN NABI ISA DI DALAM ISLAM
Sungguh Nabi yang mulia ini, nabi Isa bin Maryam, memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Namun sangat disayangkan, kaum Yahudi dan Nasrani pura-pura tidak tahu (kalau tidak dikatakan memang tidak tahu) mengenai hal ini.
Itu tampak pada kehidupan nyata mereka, keyakinan yang mereka anut, dan tulisan-tulisan yang mereka buat.
Berbeda dengan Islam, agama ini menetapkan kedudukan Nabi ‘Isa dengan sangat istimewa, sangat sempurna, dan sangat obyektif. Banyak ayat mulia di dalam al-Quran dengan gamblang menjelaskan perkara ini.
Akal yang sehat lagi jujur pun pasti tidak akan menerima selain keyakinan yang telah ditetapkan oleh Islam, serta akan menolak keyakinan yang dianut kaum Yahudi berupa tuduhan keji terhadap beliau dan ibunda beliau, juga akan menolak keyakinan kaum Nasrani yang melampaui batas pada hak beliau.
Terkadang mereka menganggap beliau sebagai Tuhan, terkadang sebagai anak Allah, terkadang sebagai Allah itu sendiri, terkadang sebagai salah satu dari trinitas[1], dan terkadang malah merendahkan dan menghinakan beliau, yang semua ini menunjukkan kesesatan serta penyimpangan agama dan akal mereka.
Allah telah mengisahkan kepada kita kisah terbaik dan terindah tentang Nabi ‘Isa beserta ibunda beliau dengan sebaik-baik penjelasan serta penuh pemuliaan dari sejak awal kehidupan mereka, termasuk lika-liku yang mereka hadapi di dalam hidup.
Kaum mukminin pasti mengimaninya sebagai bentuk kesempurnaan pengikutan mereka kepada Nabi Muhammad, memposisikan Nabi ‘Isa dan ibunda beliau dengan semestinya, serta sangat menghormati keduanya. Sebagaimana mereka juga menghormati serta beriman kepada seluruh nabi dan rasul.
Bahkan agama Islam menetapkan perkara ini termasuk rukun yang mulia di antara rukun-rukun iman. Siapa yang meremehkan salah seorang dari mereka sedikit saja, dia telah kafir dan keluar dari agama Islam, lalu bagaimana dengan orang mendustakan mereka atau salah seorang mereka.
Allah memuji dan menyanjung Nabi ‘Isa dan ibunda beliau Maryam pada banyak tempat di dalam al-Quran, kami akan menyebutkan sebagiannya. Di antaranya firman Allah dalam surat Ali ‘Imran:
إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٣٣ ذُرِّيَّةَۢ بَعۡضُهَا مِنۢ بَعۡضٖۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٣٤ إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٥ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ قَالَ يَٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ٣٧ هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ﵞ
📬 KEDUDUKAN NABI ISA DI DALAM ISLAM
Sungguh Nabi yang mulia ini, nabi Isa bin Maryam, memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Namun sangat disayangkan, kaum Yahudi dan Nasrani pura-pura tidak tahu (kalau tidak dikatakan memang tidak tahu) mengenai hal ini.
Itu tampak pada kehidupan nyata mereka, keyakinan yang mereka anut, dan tulisan-tulisan yang mereka buat.
Berbeda dengan Islam, agama ini menetapkan kedudukan Nabi ‘Isa dengan sangat istimewa, sangat sempurna, dan sangat obyektif. Banyak ayat mulia di dalam al-Quran dengan gamblang menjelaskan perkara ini.
Akal yang sehat lagi jujur pun pasti tidak akan menerima selain keyakinan yang telah ditetapkan oleh Islam, serta akan menolak keyakinan yang dianut kaum Yahudi berupa tuduhan keji terhadap beliau dan ibunda beliau, juga akan menolak keyakinan kaum Nasrani yang melampaui batas pada hak beliau.
Terkadang mereka menganggap beliau sebagai Tuhan, terkadang sebagai anak Allah, terkadang sebagai Allah itu sendiri, terkadang sebagai salah satu dari trinitas[1], dan terkadang malah merendahkan dan menghinakan beliau, yang semua ini menunjukkan kesesatan serta penyimpangan agama dan akal mereka.
Allah telah mengisahkan kepada kita kisah terbaik dan terindah tentang Nabi ‘Isa beserta ibunda beliau dengan sebaik-baik penjelasan serta penuh pemuliaan dari sejak awal kehidupan mereka, termasuk lika-liku yang mereka hadapi di dalam hidup.
Kaum mukminin pasti mengimaninya sebagai bentuk kesempurnaan pengikutan mereka kepada Nabi Muhammad, memposisikan Nabi ‘Isa dan ibunda beliau dengan semestinya, serta sangat menghormati keduanya. Sebagaimana mereka juga menghormati serta beriman kepada seluruh nabi dan rasul.
Bahkan agama Islam menetapkan perkara ini termasuk rukun yang mulia di antara rukun-rukun iman. Siapa yang meremehkan salah seorang dari mereka sedikit saja, dia telah kafir dan keluar dari agama Islam, lalu bagaimana dengan orang mendustakan mereka atau salah seorang mereka.
Allah memuji dan menyanjung Nabi ‘Isa dan ibunda beliau Maryam pada banyak tempat di dalam al-Quran, kami akan menyebutkan sebagiannya. Di antaranya firman Allah dalam surat Ali ‘Imran:
إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٣٣ ذُرِّيَّةَۢ بَعۡضُهَا مِنۢ بَعۡضٖۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٣٤ إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٥ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ قَالَ يَٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ٣٧ هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ﵞ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), sebagiannya merupakan keturunan dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada di kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’.
Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesunguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta anak-anak keturunannya dari setan yang terkutuk.’
Maka Rabb nya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’, Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hitungan.
Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabb-nya, seraya berkata: ‘Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 33-38)
Allah memulai kisah Maryam dengan menyebutkan kisah orang-orang mulia yang Allah pilih dari sekian banyak manusia di alam ini.
Diantara mereka adalah keluarga ‘Imran, ayah dari Maryam. Demi menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang mulia, dan keturunan para nabi yang terpilih.
Ibundanya adalah seorang wanita shalihah, dimana dia menazarkan anak dalam kandungannya untuk menjadi anak yang berkhidmat kepada Allah. Dia berharap anak yang lahir adalah laki-laki, ternyata yang lahir adalah anak perempuan.
Dia pun mengembalikan urusannya kepada Allah seraya meminta uzur dan memohon perlindungan untuk putri serta keturunannya dari gangguan dan godaan setan yang terkutuk. Allah mengabulkan doanya, dan menerima nazarnya dengan baik.
Kemudian Allah tugaskan Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam. Ini semua dalam rangka menjaga serta memuliakan ibunda Nabi ‘Isa. Dan berkat keutamaan dan kemuliaan-Nya, Allah tambah itu semua. Dimana setelahnya Allah mengabarkan:
وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٢ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّـٰكِعِينَ ٤٣ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يَخۡتَصِمُونَ ٤٤ﵞ
“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Rabb-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.’
Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak bersama mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali ‘Imran: 42-44)
(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada di kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’.
Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesunguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta anak-anak keturunannya dari setan yang terkutuk.’
Maka Rabb nya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’, Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hitungan.
Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabb-nya, seraya berkata: ‘Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 33-38)
Allah memulai kisah Maryam dengan menyebutkan kisah orang-orang mulia yang Allah pilih dari sekian banyak manusia di alam ini.
Diantara mereka adalah keluarga ‘Imran, ayah dari Maryam. Demi menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang mulia, dan keturunan para nabi yang terpilih.
Ibundanya adalah seorang wanita shalihah, dimana dia menazarkan anak dalam kandungannya untuk menjadi anak yang berkhidmat kepada Allah. Dia berharap anak yang lahir adalah laki-laki, ternyata yang lahir adalah anak perempuan.
Dia pun mengembalikan urusannya kepada Allah seraya meminta uzur dan memohon perlindungan untuk putri serta keturunannya dari gangguan dan godaan setan yang terkutuk. Allah mengabulkan doanya, dan menerima nazarnya dengan baik.
Kemudian Allah tugaskan Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam. Ini semua dalam rangka menjaga serta memuliakan ibunda Nabi ‘Isa. Dan berkat keutamaan dan kemuliaan-Nya, Allah tambah itu semua. Dimana setelahnya Allah mengabarkan:
وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٢ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّـٰكِعِينَ ٤٣ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يَخۡتَصِمُونَ ٤٤ﵞ
“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Rabb-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.’
Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak bersama mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali ‘Imran: 42-44)
Seorang Nabi yang tidak bisa baca tulis, Nabi Muhammad beserta para sahabatnya sebelumnya tidak mengetahui kisah-kisah besar nan jujur lagi nyata tentang para rasul yang semisal ini.
Tidak pula kisah tentang Maryam, ibundanya, Nabi Zakariyya, dan orang-orang yang bersengketa dengannya memperebutkan pemeliharaan Maryam, demikian pula kisah tentang terpilihnya Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam setelah melakukan undian dengan pena.
Demikian pula tentang keramahan beliau terhadap Maryam, dan tentang rezeki (makanan) yang diperoleh Maryam dari sisi Allah, dalam rangka memuliakannya.
Yang kejadian tersebut membuat Nabi Zakariyya termotivasi untuk meminta keturunan yang baik dari sisi Allah, padahal beliau sudah tua renta dan istrinya adalah wanita yang mandul.
Sedikitpun Nabi Muhammad demikian pula para sahabatnya tidak tahu akan ini semua. Dan anda tidak mungkin mendapatkan di kitab Injil atau selainnya, yang menyerupai perkataan dengan tingkat kefasihan, susunan kosakata, dan penyampaian yang setinggi, semulia, sebaik, dan seindah ini.
Yang menjadi bukti jujurnya Nabi Muhammad, dan bahwasannya beliau benar-benar seorang utusan Allah, beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, dan tidak lah yang terlontar dari ucapan beliau melainkan sebuah wahyu yang disampaikan oleh Tuhan semesta alam. [1] Ketuhanan dari tiga bentuk; bapak, putra, dan Roh Kudus dalam agama Kristen Katolik.
=====
Diambil dari Karya Syaikh Rabi’ hafizhahullah dari Kitab Mauqiful Islam min ‘Isa bin Maryam diterjemahkan oleh Abdul Halim Perawang 4A Takhasus
Sumber: https://www.minhajulatsar.com/kedudukan-nabi-isa-di-dalam-islam-bag-2/ | MINHAJULATSAR.COM
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Tidak pula kisah tentang Maryam, ibundanya, Nabi Zakariyya, dan orang-orang yang bersengketa dengannya memperebutkan pemeliharaan Maryam, demikian pula kisah tentang terpilihnya Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam setelah melakukan undian dengan pena.
Demikian pula tentang keramahan beliau terhadap Maryam, dan tentang rezeki (makanan) yang diperoleh Maryam dari sisi Allah, dalam rangka memuliakannya.
Yang kejadian tersebut membuat Nabi Zakariyya termotivasi untuk meminta keturunan yang baik dari sisi Allah, padahal beliau sudah tua renta dan istrinya adalah wanita yang mandul.
Sedikitpun Nabi Muhammad demikian pula para sahabatnya tidak tahu akan ini semua. Dan anda tidak mungkin mendapatkan di kitab Injil atau selainnya, yang menyerupai perkataan dengan tingkat kefasihan, susunan kosakata, dan penyampaian yang setinggi, semulia, sebaik, dan seindah ini.
Yang menjadi bukti jujurnya Nabi Muhammad, dan bahwasannya beliau benar-benar seorang utusan Allah, beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, dan tidak lah yang terlontar dari ucapan beliau melainkan sebuah wahyu yang disampaikan oleh Tuhan semesta alam. [1] Ketuhanan dari tiga bentuk; bapak, putra, dan Roh Kudus dalam agama Kristen Katolik.
=====
Diambil dari Karya Syaikh Rabi’ hafizhahullah dari Kitab Mauqiful Islam min ‘Isa bin Maryam diterjemahkan oleh Abdul Halim Perawang 4A Takhasus
Sumber: https://www.minhajulatsar.com/kedudukan-nabi-isa-di-dalam-islam-bag-2/ | MINHAJULATSAR.COM
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
MinhajulAtsar.com
Kedudukan Nabi Isa di Dalam Islam (Bag. 2)
Sungguh Nabi yang mulia ini, nabi Isa bin Maryam, memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Namun sangat disayangkan, kaum Yahudi dan Nasrani pura-pura tidak tahu (kalau tidak dikatakan memang tidak tahu) mengenai hal ini. Itu tampak pada kehidupan nyata…
::
📬 HUKUM MASUK KE TOILET DENGAN MEMBAWA MUSHAF ATAU BUKU YANG TERDAPAT AYAT-AYAT AL QUR'AN
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,
Soal:
Aku masuk toilet, dan bersamaku ada kertas-kertas berisi zikir-zikir dan ayat-ayat Al Quran, apakah ada dosa bagiku karena hal tersebut?
Jawab:
Dimakruhkan masuk ke toilet dengan membawa sesuatu yang padanya ada zikir-zikir. Berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bila hendak masuk toilet beliau meletakkan cincinnya(diluar toilet), karena cincin tersebut bertuliskan: Muhammad Rasulullah.
Akan tetapi jika tidak mudah mendapatkan tempat yang aman untuk meletakkan kertas-kertas tersebut hingga ia keluar dari toilet tersebut, maka tidak mengapa baginya untuk masuk dengan membawanya, karena ia terpaksa melakukan hal itu, dan sungguh Allah telah berfirman dalam kitab-NYA yang mulia,
{ وَقَدۡ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَیۡكُمۡ إِلَّا مَا ٱضۡطُرِرۡتُمۡ إِلَیۡهِۗ }
"Padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa". (Al An'am:119).
Bila Allah membolehkan perkara haram di saat darurat, maka perkara makruh lebih-lebih lagi diperbolehkan, dan Allah adalah Dzat Pemberi taufiq.
Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/3590/%D8%AD%D9
➖➖➖➖➖➖➖➖
س: سائل يقول: أدخل بيت الخلاء ومعي بعض الأوراق المشتملة على ذكر الله تعالى وآيات قرآنية، فهل علي إثم في ذلك؟
ج: يكره دخول الخلاء بشيء فيه ذكر الله؛ لما ثبت عن النبي ﷺ أنه كان إذا أراد دخول الخلاء وضع خاتمه؛ لكونه مكتوبًا فيه: محمد رسول الله.
لكن إذا لم يتيسر محل آمن لوضع الأوراق فيه، حتى يخرج من الخلاء فلا حرج عليه في الدخول بها؛ لكونه مضطرًا إلى ذلك، وقد قال الله سبحانه في كتابه الكريم: وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ الآية [الأنعام: 119].
فإذا أباح الله المحرم عند الضرورة فالمكروه من باب أولى، والله ولي التوفيق[1].
@nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 HUKUM MASUK KE TOILET DENGAN MEMBAWA MUSHAF ATAU BUKU YANG TERDAPAT AYAT-AYAT AL QUR'AN
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,
Soal:
Aku masuk toilet, dan bersamaku ada kertas-kertas berisi zikir-zikir dan ayat-ayat Al Quran, apakah ada dosa bagiku karena hal tersebut?
Jawab:
Dimakruhkan masuk ke toilet dengan membawa sesuatu yang padanya ada zikir-zikir. Berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bila hendak masuk toilet beliau meletakkan cincinnya(diluar toilet), karena cincin tersebut bertuliskan: Muhammad Rasulullah.
Akan tetapi jika tidak mudah mendapatkan tempat yang aman untuk meletakkan kertas-kertas tersebut hingga ia keluar dari toilet tersebut, maka tidak mengapa baginya untuk masuk dengan membawanya, karena ia terpaksa melakukan hal itu, dan sungguh Allah telah berfirman dalam kitab-NYA yang mulia,
{ وَقَدۡ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَیۡكُمۡ إِلَّا مَا ٱضۡطُرِرۡتُمۡ إِلَیۡهِۗ }
"Padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa". (Al An'am:119).
Bila Allah membolehkan perkara haram di saat darurat, maka perkara makruh lebih-lebih lagi diperbolehkan, dan Allah adalah Dzat Pemberi taufiq.
Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/3590/%D8%AD%D9
➖➖➖➖➖➖➖➖
س: سائل يقول: أدخل بيت الخلاء ومعي بعض الأوراق المشتملة على ذكر الله تعالى وآيات قرآنية، فهل علي إثم في ذلك؟
ج: يكره دخول الخلاء بشيء فيه ذكر الله؛ لما ثبت عن النبي ﷺ أنه كان إذا أراد دخول الخلاء وضع خاتمه؛ لكونه مكتوبًا فيه: محمد رسول الله.
لكن إذا لم يتيسر محل آمن لوضع الأوراق فيه، حتى يخرج من الخلاء فلا حرج عليه في الدخول بها؛ لكونه مضطرًا إلى ذلك، وقد قال الله سبحانه في كتابه الكريم: وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ الآية [الأنعام: 119].
فإذا أباح الله المحرم عند الضرورة فالمكروه من باب أولى، والله ولي التوفيق[1].
@nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم دخول الخلاء بشيء فيه ذكر الله وآيات قرآنية
ج: يكره دخول الخلاء بشيء فيه ذكر الله؛ لما ثبت عن النبي ﷺ أنه كان إذا أراد دخول الخلاء وضع
::
🚇 HUKUM MENYEBARKAN SMS AJAKAN UNTUK BERISTIGHFAR DAN BERTAUBAT PADA AKHIR TAHUN SERTA MENGUCAPKAN "SELAMAT TAHUN BARU"
Dijawab Oleh Asy-Syaikh al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah
P e r t a n y a a n:
Hari-hari ini banyak disebarkan melalui media-media ajakan untuk beristighfar dan bertaubat pada Akhir Tahun Hijriyah, serta mengucapkan selamat dengan datangnya Tahun Baru?
J a w a b a n:
كل هذا بدعة، ما فيه عام جديد، هذا اصطلاحي ما هو بعام جديد، كل يوم يمكن تكمل عام من عمر كل يوم، كل شهر ، كل أسبوع حسب مولدك، ما يتقيد بشهر المحرم
"Semua itu BID'AH. Sebenarnya tidak ada Tahun Baru, itu sekedar istilah. Tidak ada tahun baru. Setiap hari mungkin saja engkau menyempurnakan tahun dari umurmu, setiap hari, setiap bulan, dan setiap pekan, sesuai dengan waktu kelahiranmu, tidak terikat dengan bulan Muharram.
Namun itu (penyebutan tahun baru) hanyalah istilah. Dulu Khalifah 'Umar - radhiyallahu 'anhu - bermusyawarah dengan para shahabat, karena berdatangan kepada beliau surat-surat dinas dari para gubernur dan pegawai beliau tanpa ada tanggalnya, sehingga tidak diketahui kapan surat tersebut ditulis. Maka beliaupun bermusyawarah dengan para shahabat.
Padahal ketika itu kalender miladi/masehi sudah ada. Namun beliau dan para shahabat TIDAK mau ikut-ikutan Yahudi dan Nashara.
Maka pendapat mereka sepakat untuk membuat penanggalan berdasarkan hijrah Rasulullah -ﷺ - karena hijrah merupakan peristiwa terbesar dalam Islam. Maka dijadikanlah peristiwa tersebut sebagai awal kalender hijriyyah, karena suatu mashlahah dan kebutuhan.
فلا يخص العام الهجري بتهنئة ولا يخص بدعاء لأن هذا ما ورد. فهو بدعة
Sehingga tidak ada pengkhususan tahun hijriyah dengan ucapan selamat, tidak pula dikhususkan dengan do'a tertentu. Karena itu tidak ada dasarnya. Jadi itu BID'AH.
Sumber:
https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/16396 | @ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
🚇 HUKUM MENYEBARKAN SMS AJAKAN UNTUK BERISTIGHFAR DAN BERTAUBAT PADA AKHIR TAHUN SERTA MENGUCAPKAN "SELAMAT TAHUN BARU"
Dijawab Oleh Asy-Syaikh al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah
P e r t a n y a a n:
Hari-hari ini banyak disebarkan melalui media-media ajakan untuk beristighfar dan bertaubat pada Akhir Tahun Hijriyah, serta mengucapkan selamat dengan datangnya Tahun Baru?
J a w a b a n:
كل هذا بدعة، ما فيه عام جديد، هذا اصطلاحي ما هو بعام جديد، كل يوم يمكن تكمل عام من عمر كل يوم، كل شهر ، كل أسبوع حسب مولدك، ما يتقيد بشهر المحرم
"Semua itu BID'AH. Sebenarnya tidak ada Tahun Baru, itu sekedar istilah. Tidak ada tahun baru. Setiap hari mungkin saja engkau menyempurnakan tahun dari umurmu, setiap hari, setiap bulan, dan setiap pekan, sesuai dengan waktu kelahiranmu, tidak terikat dengan bulan Muharram.
Namun itu (penyebutan tahun baru) hanyalah istilah. Dulu Khalifah 'Umar - radhiyallahu 'anhu - bermusyawarah dengan para shahabat, karena berdatangan kepada beliau surat-surat dinas dari para gubernur dan pegawai beliau tanpa ada tanggalnya, sehingga tidak diketahui kapan surat tersebut ditulis. Maka beliaupun bermusyawarah dengan para shahabat.
Padahal ketika itu kalender miladi/masehi sudah ada. Namun beliau dan para shahabat TIDAK mau ikut-ikutan Yahudi dan Nashara.
Maka pendapat mereka sepakat untuk membuat penanggalan berdasarkan hijrah Rasulullah -ﷺ - karena hijrah merupakan peristiwa terbesar dalam Islam. Maka dijadikanlah peristiwa tersebut sebagai awal kalender hijriyyah, karena suatu mashlahah dan kebutuhan.
فلا يخص العام الهجري بتهنئة ولا يخص بدعاء لأن هذا ما ورد. فهو بدعة
Sehingga tidak ada pengkhususan tahun hijriyah dengan ucapan selamat, tidak pula dikhususkan dengan do'a tertentu. Karena itu tidak ada dasarnya. Jadi itu BID'AH.
Sumber:
https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/16396 | @ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
www.alfawzan.af.org.sa
حكم التهنئة بالعام الهجري الجديد | الموقع الخاص للشيخ الدكتور صالح الفوزان
الجواب:ـ كل هذا بدعة، ما فيه عام جديد، هذا اصطلاحي ما هو بعام جديد، كل يوم يمكن تكمل عام من عمر كل يوم، كل شهر ، كل أسبوع حسب مولدك، ما يتقيد بشهر المحرم، إنما هذا: أمر اصطلاحي ، عمر ـ رضي الله عنه ـ استشار الصحابة لأنه يأتيه مكاتيب من عماله ما وأرخت ولا…
::
📬 SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR (NATAL, TAHUN BARU, DLL)
Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir dalam meredam dan menggugurkan prinsip Al-Bara’, melalui hari raya mereka, maka sangatlah mendesak untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:
1⃣ TIDAK MENGHADIRI HARI RAYA MEREKA
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
“Berbaurnya kaum muslimin dengan non-muslim (kafir, pen) dalam acara hari raya mereka adalah HARAM. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah berfirman:
...وَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ... (المائدة : 2)
“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong didalam dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah:2)
…..Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka karena hal itu menunjukan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.” (Disarikan dari majalah Asy Syariah no.10 hal.8-9)
Berkaitan dengan poin yang pertama ini, tidak sedikit dari para ulama ketika membawakan firman Allah yang menceritakan tentang sifat-sifat Ibadurrahman (artinya):
وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ
“(Yaitu) orang-orang yang tidak menghadiri kedustaan.” (Al Furqan:72)
mereka menafsirkan “kedustaan” tersebut dengan hari-hari raya kaum musyrikin (lihat Tafsir Ibnu Jarir)
Lebih parah lagi apabila seorang muslim bersedia menghadiri acara tersebut di gereja atau tempat-tempat ibadah mereka. 'Umar bin al-Khaththab mengecam perbuatan ini dengan mengatakan :
وَلاَ تَدْخُلُوْا عَلىَ الْمُشْرِكيْنَ فِيْ كَناَئِسِهِمْ وَمَعاَبِدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْـزِلُ عَلَيْهِمْ
“Dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.” (HR Al-Baihaqi 18861, dengan sanad shahih)
2⃣ TIDAK MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT HARI RAYA
Di dalam salah satu fatwanya, beliau (Asy Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya Natal kepada kaum Nashrani dan selainnya dari hari-hari raya orang kafir adalah HARAM.
Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri.
Beliau pun membawakan ayat yaitu:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ
“Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian.” (Az Zumar:7).
Juga firman-Nya:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan agama ini kepada kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah:3)
Beliau juga menambahkan bahwa bila mereka sendiri yang mengucapkan selamat hari raya tersebut kepada kita maka kita tidak boleh membalasnya karena memang bukan hari raya kita.
Demikian pula, hal tersebut disebabkan hari raya mereka ini bukanlah hari raya yang diridhai Allah karena memang sebuah bentuk bid’ah dalam agama asli mereka. Atau kalau memang disyariatkan, maka hal itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam.” (Majmu’uts Tsamin juz 3 dan Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan 1/255)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. Keadaan dia ini seperti halnya mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)
Bersambung..
📬 SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR (NATAL, TAHUN BARU, DLL)
Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir dalam meredam dan menggugurkan prinsip Al-Bara’, melalui hari raya mereka, maka sangatlah mendesak untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:
1⃣ TIDAK MENGHADIRI HARI RAYA MEREKA
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
“Berbaurnya kaum muslimin dengan non-muslim (kafir, pen) dalam acara hari raya mereka adalah HARAM. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah berfirman:
...وَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ... (المائدة : 2)
“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong didalam dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah:2)
…..Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka karena hal itu menunjukan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.” (Disarikan dari majalah Asy Syariah no.10 hal.8-9)
Berkaitan dengan poin yang pertama ini, tidak sedikit dari para ulama ketika membawakan firman Allah yang menceritakan tentang sifat-sifat Ibadurrahman (artinya):
وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ
“(Yaitu) orang-orang yang tidak menghadiri kedustaan.” (Al Furqan:72)
mereka menafsirkan “kedustaan” tersebut dengan hari-hari raya kaum musyrikin (lihat Tafsir Ibnu Jarir)
Lebih parah lagi apabila seorang muslim bersedia menghadiri acara tersebut di gereja atau tempat-tempat ibadah mereka. 'Umar bin al-Khaththab mengecam perbuatan ini dengan mengatakan :
وَلاَ تَدْخُلُوْا عَلىَ الْمُشْرِكيْنَ فِيْ كَناَئِسِهِمْ وَمَعاَبِدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْـزِلُ عَلَيْهِمْ
“Dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.” (HR Al-Baihaqi 18861, dengan sanad shahih)
2⃣ TIDAK MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT HARI RAYA
Di dalam salah satu fatwanya, beliau (Asy Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya Natal kepada kaum Nashrani dan selainnya dari hari-hari raya orang kafir adalah HARAM.
Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri.
Beliau pun membawakan ayat yaitu:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ
“Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian.” (Az Zumar:7).
Juga firman-Nya:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan agama ini kepada kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah:3)
Beliau juga menambahkan bahwa bila mereka sendiri yang mengucapkan selamat hari raya tersebut kepada kita maka kita tidak boleh membalasnya karena memang bukan hari raya kita.
Demikian pula, hal tersebut disebabkan hari raya mereka ini bukanlah hari raya yang diridhai Allah karena memang sebuah bentuk bid’ah dalam agama asli mereka. Atau kalau memang disyariatkan, maka hal itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam.” (Majmu’uts Tsamin juz 3 dan Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan 1/255)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. Keadaan dia ini seperti halnya mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)
Bersambung..
3⃣ TIDAK TUKAR MENUKAR HADIAH PADA HARI RAYA MEREKA
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“Telah sampai kepada kami (berita) tentang sebagian orang yang tidak mengerti dan lemah agamanya, bahwa mereka saling menukar hadiah pada hari raya Nashrani.
Ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan. Sebab, dalam (perbuatan) tersebut mengandung unsur keridhaan kepada kekufuran dan agama mereka. Kita mengadukan (hal ini) kepada Allah.” (At-Ta’liq ‘Ala Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 277)
4⃣ TIDAK MENJUAL SESUATU UNTUK KEPERLUAN HARI RAYA MEREKA
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut.
(Perbuatan) ini dilarang atas dasar suatu kaidah yaitu: Tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.325)
5⃣ TIDAK MELAKUKAN AKTIVITAS-AKTIVITAS TERTENTU YANG MENYERUPAI ORANG-ORANG KAFIR PADA HARI RAYA MEREKA
Dalam fatwanya, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Dan demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin untuk meniru orang-orang kafir pada hari raya tersebut dengan mengadakan perayaan-perayaan khusus, tukar menukar hadiah, pembagian permen (secara gratis), membuat makanan khusus, libur kerja dan semacamnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi :
مَنْ تَشَبّهَ بِقَوْم فَهُوَ مِنْهُم
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (H.R Abu Daud dengan sanad hasan). (Majmu’uts Tsamin juz 3)
@ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“Telah sampai kepada kami (berita) tentang sebagian orang yang tidak mengerti dan lemah agamanya, bahwa mereka saling menukar hadiah pada hari raya Nashrani.
Ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan. Sebab, dalam (perbuatan) tersebut mengandung unsur keridhaan kepada kekufuran dan agama mereka. Kita mengadukan (hal ini) kepada Allah.” (At-Ta’liq ‘Ala Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 277)
4⃣ TIDAK MENJUAL SESUATU UNTUK KEPERLUAN HARI RAYA MEREKA
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut.
(Perbuatan) ini dilarang atas dasar suatu kaidah yaitu: Tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.325)
5⃣ TIDAK MELAKUKAN AKTIVITAS-AKTIVITAS TERTENTU YANG MENYERUPAI ORANG-ORANG KAFIR PADA HARI RAYA MEREKA
Dalam fatwanya, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Dan demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin untuk meniru orang-orang kafir pada hari raya tersebut dengan mengadakan perayaan-perayaan khusus, tukar menukar hadiah, pembagian permen (secara gratis), membuat makanan khusus, libur kerja dan semacamnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi :
مَنْ تَشَبّهَ بِقَوْم فَهُوَ مِنْهُم
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (H.R Abu Daud dengan sanad hasan). (Majmu’uts Tsamin juz 3)
@ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 ADAKAH TUNTUNAN DOA AKHIR TAHUN?
Saat ini banyak beredar doa akhir tahun. Apakah pada waktu tersebut memang ada doa khusus?
Tidak ada zikir maupun amalan khusus yang dianjurkan oleh agama Islam pada akhir maupun awal tahun. Sehingga, tidak diperkenankan untuk mengkhususkannya dengan suatu amal, zikir, ataukah doa tertentu.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullaah berkata,
آخر السنة ليس له خصوصية بالعبادات أو شيء من الأذكار كما يروج الآن في الجوالات, اعملوا في آخر السنة كذا, وقولوا كذا هذا من البدع والدعوة إلى البدع فليس لآخر السنة خصوصية عن أولها أو عن وسطها أو عن أي شهر أو يوم. المسلم مطلوب منه العمل في كل السنة لا في آخرها فقط
"Akhir tahun tidaklah memiliki keutamaan khusus untuk menjalankan ibadah ataukah untuk membaca zikir-zikir tertentu, seperti yang dilariskan pada (pesan-pesan) telepon genggam yang marak beredar. "Amalkan ini, baca zikir ini!", ini semua merupakan amalan baru dan seruan pada kegiatan amal yang tak pernah diamalkan oleh Nabi sebelumnya (bid'ah).
Sehingga penghujung tahun tidak mempunyai kelebihan di atas awal maupun pertengahan tahun, atau di atas bulan-bulan atau hari lainnya. Dan seorang penganut Islam, dituntut untuk beribadah sepanjang tahun, bukan pada akhirnya saja."
[Jawaban salah satu pertanyaan di kajian "Pondasi dan Ketentuan Dalam Mengambil Ilmu" oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullaah pada hari Kamis, 11 al-Muharram 1427.]
Sumber Transkrip: Syabakah Sahab as-Salafiyyah
📝 Selesai Dialihbahasakan: Gerimis ba'da zhuhr, 29 Dzulhijjah 1437 / 01 Oktober 2016
Di : Jl. Stadion @ Kota Raja
_________________________________________
▶️ Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala. @nasehatetam
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 ADAKAH TUNTUNAN DOA AKHIR TAHUN?
Saat ini banyak beredar doa akhir tahun. Apakah pada waktu tersebut memang ada doa khusus?
Tidak ada zikir maupun amalan khusus yang dianjurkan oleh agama Islam pada akhir maupun awal tahun. Sehingga, tidak diperkenankan untuk mengkhususkannya dengan suatu amal, zikir, ataukah doa tertentu.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullaah berkata,
آخر السنة ليس له خصوصية بالعبادات أو شيء من الأذكار كما يروج الآن في الجوالات, اعملوا في آخر السنة كذا, وقولوا كذا هذا من البدع والدعوة إلى البدع فليس لآخر السنة خصوصية عن أولها أو عن وسطها أو عن أي شهر أو يوم. المسلم مطلوب منه العمل في كل السنة لا في آخرها فقط
"Akhir tahun tidaklah memiliki keutamaan khusus untuk menjalankan ibadah ataukah untuk membaca zikir-zikir tertentu, seperti yang dilariskan pada (pesan-pesan) telepon genggam yang marak beredar. "Amalkan ini, baca zikir ini!", ini semua merupakan amalan baru dan seruan pada kegiatan amal yang tak pernah diamalkan oleh Nabi sebelumnya (bid'ah).
Sehingga penghujung tahun tidak mempunyai kelebihan di atas awal maupun pertengahan tahun, atau di atas bulan-bulan atau hari lainnya. Dan seorang penganut Islam, dituntut untuk beribadah sepanjang tahun, bukan pada akhirnya saja."
[Jawaban salah satu pertanyaan di kajian "Pondasi dan Ketentuan Dalam Mengambil Ilmu" oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullaah pada hari Kamis, 11 al-Muharram 1427.]
Sumber Transkrip: Syabakah Sahab as-Salafiyyah
📝 Selesai Dialihbahasakan: Gerimis ba'da zhuhr, 29 Dzulhijjah 1437 / 01 Oktober 2016
Di : Jl. Stadion @ Kota Raja
_________________________________________
▶️ Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala. @nasehatetam
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SEBAGAI UJIAN ATAUKAH SIKSAAN?
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,
Soal:
Bila seseorang ditimpa sakit atau bencana buruk pada dirinya atau hartanya, bagaimana seseorang bisa mengetahui bahwa musibah tersebut adalah ujian ataukah kemurkaan Allah?
Jawab:
Allah menguji hamba-NYA dengan kesenangan dan kesulitan, kesempitan dan kelapangan.
Terkadang Allah menguji mereka dengan ujian-ujian tersebut untuk mengangkat derajat mereka dan meninggikan penyebutan mereka serta melipat gandakan kebaikan mereka sebagaimana yang Allah perbuat terhadap para Nabi dan Rasul 'alaihimush shalatu was salam serta orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah.
Sebagaimana sabda Rasululullah ﷺ,
أشَدُّ الناسِ بَلاءً الأنبياءُ، ثم الأَمثَلُ فالأَمْثَل
"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka".
Dan terkadang Allah melakukan itu (menimpakan bencana) karena sebab maksiat dan dosa, sehingga ia menjadi hukuman yang disegerakan, sebagaimana yang Allah firmankan,
وَمَاۤ أَصَـٰبَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرࣲ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)"(Asy-Syura: 30).
Mayoritas yang terjadi pada manusia adalah kelalaian dan tidak menunaikan kewajiban.
Maka apa yang menimpanya maka itu di sebabkan dosa dan kelalaiannya terhadap perintah Allah. Bila diberi ujian salah seorang dari hamba-hamba Allah yang shalih berupa penyakit atau yang semisalnya, maka ini termasuk jenis ujian yang menimpa para Nabi dan Rasul dalam rangka meninggikan derajat mereka dan membesarkan pahala mereka, dan agar menjadi teladan bagi selainnya dalam kesabaran dan teladan dalam mengharapkan pahala dari Allah.
Kesimpulannya, bahwa terkadang ujian itu untuk mengangkat derajat dan membesarkan pahala, sebagaimana yang Allah perbuat terhadap para Nabi dan sebagian orang-orang baik, dan terkadang dalam rangka menggugurkan dosa-dosa, sebagaimana dalam firman Allah,
مَن یَعۡمَلۡ سُوۤءࣰا یُجۡزَ بِهِۦ
"Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu".(An-Nisa' 123).
Dan sabda Nabi ﷺ,
مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ هَمٍّ وَلاَ غمٍّ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى إِلاَّ كفَّر اللَّه بِهِ مِنْ خطَايَاه حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها
"Tidaklah menimpa seorang muslim berupa kesusahan, duka cita, kelelahan, rasa sakit, kesedihan, dan gangguan, kecuali Allah gugurkan dengannya dosa-dosanya bahkanpun duri yang menusuknya".
Dan juga sabda Rasulullah ﷺ,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ
"Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, maka Allah timpakan ujian kepadanya".
Dan terkadang bencana tersebut sebagai hukuman yang di segerakan karena sebab perbuatan maksiat dan tidak segera bertaubat, sebagaimana hadits Nabi bahwa beliau berdabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بعبْدِهِ الْخَيْر عجَّلَ لَهُ الْعُقُوبةَ في الدُّنْيَا، وإِذَا أَرَادَ اللَّه بِعبدِهِ الشَّرَّ أمسَكَ عنْهُ بذَنْبِهِ حتَّى يُوافِيَ بهِ يَومَ الْقِيامةِ. (خرجه الترمذي وحسنه)
"Bila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-NYA maka Dia menyegerakan untuknya hukuman di dunia, dan bila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba-NYA maka Dia menahan hukuman darinya karena dosanya, hingga Allah cukupkan balasan untuknya di hari kiamat". (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan beliau menghasankannya).
🌐 Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/915/%D9%85%D8 | @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SEBAGAI UJIAN ATAUKAH SIKSAAN?
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,
Soal:
Bila seseorang ditimpa sakit atau bencana buruk pada dirinya atau hartanya, bagaimana seseorang bisa mengetahui bahwa musibah tersebut adalah ujian ataukah kemurkaan Allah?
Jawab:
Allah menguji hamba-NYA dengan kesenangan dan kesulitan, kesempitan dan kelapangan.
Terkadang Allah menguji mereka dengan ujian-ujian tersebut untuk mengangkat derajat mereka dan meninggikan penyebutan mereka serta melipat gandakan kebaikan mereka sebagaimana yang Allah perbuat terhadap para Nabi dan Rasul 'alaihimush shalatu was salam serta orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah.
Sebagaimana sabda Rasululullah ﷺ,
أشَدُّ الناسِ بَلاءً الأنبياءُ، ثم الأَمثَلُ فالأَمْثَل
"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka".
Dan terkadang Allah melakukan itu (menimpakan bencana) karena sebab maksiat dan dosa, sehingga ia menjadi hukuman yang disegerakan, sebagaimana yang Allah firmankan,
وَمَاۤ أَصَـٰبَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرࣲ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)"(Asy-Syura: 30).
Mayoritas yang terjadi pada manusia adalah kelalaian dan tidak menunaikan kewajiban.
Maka apa yang menimpanya maka itu di sebabkan dosa dan kelalaiannya terhadap perintah Allah. Bila diberi ujian salah seorang dari hamba-hamba Allah yang shalih berupa penyakit atau yang semisalnya, maka ini termasuk jenis ujian yang menimpa para Nabi dan Rasul dalam rangka meninggikan derajat mereka dan membesarkan pahala mereka, dan agar menjadi teladan bagi selainnya dalam kesabaran dan teladan dalam mengharapkan pahala dari Allah.
Kesimpulannya, bahwa terkadang ujian itu untuk mengangkat derajat dan membesarkan pahala, sebagaimana yang Allah perbuat terhadap para Nabi dan sebagian orang-orang baik, dan terkadang dalam rangka menggugurkan dosa-dosa, sebagaimana dalam firman Allah,
مَن یَعۡمَلۡ سُوۤءࣰا یُجۡزَ بِهِۦ
"Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu".(An-Nisa' 123).
Dan sabda Nabi ﷺ,
مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ هَمٍّ وَلاَ غمٍّ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى إِلاَّ كفَّر اللَّه بِهِ مِنْ خطَايَاه حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها
"Tidaklah menimpa seorang muslim berupa kesusahan, duka cita, kelelahan, rasa sakit, kesedihan, dan gangguan, kecuali Allah gugurkan dengannya dosa-dosanya bahkanpun duri yang menusuknya".
Dan juga sabda Rasulullah ﷺ,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ
"Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, maka Allah timpakan ujian kepadanya".
Dan terkadang bencana tersebut sebagai hukuman yang di segerakan karena sebab perbuatan maksiat dan tidak segera bertaubat, sebagaimana hadits Nabi bahwa beliau berdabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بعبْدِهِ الْخَيْر عجَّلَ لَهُ الْعُقُوبةَ في الدُّنْيَا، وإِذَا أَرَادَ اللَّه بِعبدِهِ الشَّرَّ أمسَكَ عنْهُ بذَنْبِهِ حتَّى يُوافِيَ بهِ يَومَ الْقِيامةِ. (خرجه الترمذي وحسنه)
"Bila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-NYA maka Dia menyegerakan untuknya hukuman di dunia, dan bila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba-NYA maka Dia menahan hukuman darinya karena dosanya, hingga Allah cukupkan balasan untuknya di hari kiamat". (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan beliau menghasankannya).
🌐 Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/915/%D9%85%D8 | @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
متى يعرف العبد أن هذا الابتلاء امتحان أو عذاب؟
ج: الله يبتلي عباده بالسراء والضراء وبالشدة والرخاء، وقد يبتليهم بها لرفع درجاتهم وإعلاء
::
📬 MERASA BENAR TANPA MAU MEMBAHAS DAN BERDISKUSI : PUAS DENGAN DIRI SENDIRI ADALAH MUSIBAH
Al Imam Ibnul Jauzy rahimahullah berkata,
المصيبة العظمى رضا الإنسان عن نفسه، واقتناعه بعلمه! وهذه محنة قد عمت أكثر الخلق:
فترى اليهودي أو النصراني يرى أنه على الصواب ولا يبحث ولا ينظر في دليل نبوة نبينا ﷺ وإذا سمع ما يلين قلبه، مثل القرآن المعجز؛ هرب؛ لئلا يسمع!
وكذلك كل ذي هوى يثبت عليه: إما لأنه مذهب أبيه وأهله أو لأنه نظر نظرا أول فرآه صوابًا، ولم ينظر فيما يناقضه، ولم يباحث العلماء ليبينوا له خطأه!
"Musibah besar tatkala seseorang ridha dengan dirinya sendiri dan merasa puas dengan ilmunya. Fitnah ini telah menimpa sebagian besar orang.
Engkau bisa melihat seorang Yahudi atau seorang Nasrani berkeyakinan bahwa dia diatas kebenaran.
Dia TIDAK MAU MEMBAHAS dan melihat pada tanda kenabian nabi kita ﷺ.
Jika dia mendengar sesuatu yang melembutkan hatinya, seperti Al- Qur`an, dia SEGERA LARI AGAR TIDAK MENDENGARNYA.
Demikian pula setiap pemilik hawa nafsu, maka dia tetap pada keyakinannya.
Hal tersebut bisa jadi karena apa yang diyakini merupakan mazhab ayahnya atau keluarganya atau bisa jadi karena saat awal kali melihat sesuatu langsung membenarkannya tanpa mau melihat yang mengkritiknya dan juga TANPA MAU MENDISKUSIKANNYA dengan para ulama agar mereka menerangkan kesalahan dia."
📒 [Shaidul Khathir 470] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MERASA BENAR TANPA MAU MEMBAHAS DAN BERDISKUSI : PUAS DENGAN DIRI SENDIRI ADALAH MUSIBAH
Al Imam Ibnul Jauzy rahimahullah berkata,
المصيبة العظمى رضا الإنسان عن نفسه، واقتناعه بعلمه! وهذه محنة قد عمت أكثر الخلق:
فترى اليهودي أو النصراني يرى أنه على الصواب ولا يبحث ولا ينظر في دليل نبوة نبينا ﷺ وإذا سمع ما يلين قلبه، مثل القرآن المعجز؛ هرب؛ لئلا يسمع!
وكذلك كل ذي هوى يثبت عليه: إما لأنه مذهب أبيه وأهله أو لأنه نظر نظرا أول فرآه صوابًا، ولم ينظر فيما يناقضه، ولم يباحث العلماء ليبينوا له خطأه!
"Musibah besar tatkala seseorang ridha dengan dirinya sendiri dan merasa puas dengan ilmunya. Fitnah ini telah menimpa sebagian besar orang.
Engkau bisa melihat seorang Yahudi atau seorang Nasrani berkeyakinan bahwa dia diatas kebenaran.
Dia TIDAK MAU MEMBAHAS dan melihat pada tanda kenabian nabi kita ﷺ.
Jika dia mendengar sesuatu yang melembutkan hatinya, seperti Al- Qur`an, dia SEGERA LARI AGAR TIDAK MENDENGARNYA.
Demikian pula setiap pemilik hawa nafsu, maka dia tetap pada keyakinannya.
Hal tersebut bisa jadi karena apa yang diyakini merupakan mazhab ayahnya atau keluarganya atau bisa jadi karena saat awal kali melihat sesuatu langsung membenarkannya tanpa mau melihat yang mengkritiknya dan juga TANPA MAU MENDISKUSIKANNYA dengan para ulama agar mereka menerangkan kesalahan dia."
📒 [Shaidul Khathir 470] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 PETASAN DALAM TINJAUAN SYARIAT
📄 Buletin Al-Faidah Edisi 32 Vol. 3 | Tahun-6 | 1441 H
SEJARAH PETASAN
Sejarah petasan bermula dari Tiongkok sekitar abad ke-9 Masehi. Seorang juru masak mencampur tiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter (kalium nitrat), belerang dan arang dari kayu. Ternyata bahan-bahan ini mudah terbakar.
Kemudian, bahan-bahan ini dimasukkan ke dalam bambu, inilah petasan pertama.
Petasan ini dipercaya bisa mengusir roh jahat dalam perayaan–perayaan. Dalam perkembangannya, petasan menjadi peramai acara-acara di Tiongkok.
Pada zaman dinasti Song, pabrik petasan didirikan. Kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijaran api di angkasa. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.
TINJAUAN SYARIAT
Dalam syariat islam yang mulia ini, hukum asal dari segala sesuatu selain ibadah adalah diperbolehkan hingga ada dalil yang melarangnya atau nampak jelas mudharatnya. Tidak terkecuali dengan masalah petasan ini.
Jadi, untuk menentukan boleh tidaknya suatu perkara, kita tinjau terlebih dahulu ada tidaknya dalil yang mengharamkan.
Memang benar, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa petasan dan kembang api haram karena memang tidak ada di zaman Nabi ﷺ. Tapi, ternyata petasan dan kembang api sekarang ini banyak memiliki sisi negatif yang menjadikannya haram. Di antaranya adalah:
1. Menghambur-hamburkan Harta (Mubadzir)
Orang yang mubadzir disebutkan oleh Allah سبحانه و تعالى sebagai saudara setan. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Belum lagi waktu yang berlalu terbuang sia-sia. Sungguh celaka orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى. Betapa kita sering mendengar satu surat yang Allah سبحانه و تعالى bersumpah dengan waktu yaitu surat Al-'Ashr, ini karena pentingnya memanfaatkan waktu.
2. Menakuti Orang
Tidak boleh seorang muslim menakuti muslim yang lain baik bercanda, apalagi serius. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيْهِ لَعِبًا وَلَا جِدًّا وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيْهِ فَلْيَرُدَّهَا
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang saudaranya dengan bercanda atau serius. Dan barangsiapa mengambil tongkat saudaranya, hendaknya dia kembalikan.” [HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله]
Mengambil tongkat untuk bercanda pun tidak boleh, terlebih melempar petasan yang dapat mencelakai orang. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain:
مَنْ أَشَارَ إِلَي أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّي يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ
“Barangsiapa menunjuk saudaranya dengan pisau besi, sesungguhnya malaikat melaknatnya hingga dia meninggalkannya, meskipun dia adalah saudara seayah dan seibu.” [HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه]
Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh membuat teror kepada muslim lainnya. Baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
⏳ Bersambung insyaAllah..
📬 PETASAN DALAM TINJAUAN SYARIAT
📄 Buletin Al-Faidah Edisi 32 Vol. 3 | Tahun-6 | 1441 H
SEJARAH PETASAN
Sejarah petasan bermula dari Tiongkok sekitar abad ke-9 Masehi. Seorang juru masak mencampur tiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter (kalium nitrat), belerang dan arang dari kayu. Ternyata bahan-bahan ini mudah terbakar.
Kemudian, bahan-bahan ini dimasukkan ke dalam bambu, inilah petasan pertama.
Petasan ini dipercaya bisa mengusir roh jahat dalam perayaan–perayaan. Dalam perkembangannya, petasan menjadi peramai acara-acara di Tiongkok.
Pada zaman dinasti Song, pabrik petasan didirikan. Kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijaran api di angkasa. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.
TINJAUAN SYARIAT
Dalam syariat islam yang mulia ini, hukum asal dari segala sesuatu selain ibadah adalah diperbolehkan hingga ada dalil yang melarangnya atau nampak jelas mudharatnya. Tidak terkecuali dengan masalah petasan ini.
Jadi, untuk menentukan boleh tidaknya suatu perkara, kita tinjau terlebih dahulu ada tidaknya dalil yang mengharamkan.
Memang benar, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa petasan dan kembang api haram karena memang tidak ada di zaman Nabi ﷺ. Tapi, ternyata petasan dan kembang api sekarang ini banyak memiliki sisi negatif yang menjadikannya haram. Di antaranya adalah:
1. Menghambur-hamburkan Harta (Mubadzir)
Orang yang mubadzir disebutkan oleh Allah سبحانه و تعالى sebagai saudara setan. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Belum lagi waktu yang berlalu terbuang sia-sia. Sungguh celaka orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى. Betapa kita sering mendengar satu surat yang Allah سبحانه و تعالى bersumpah dengan waktu yaitu surat Al-'Ashr, ini karena pentingnya memanfaatkan waktu.
2. Menakuti Orang
Tidak boleh seorang muslim menakuti muslim yang lain baik bercanda, apalagi serius. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيْهِ لَعِبًا وَلَا جِدًّا وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيْهِ فَلْيَرُدَّهَا
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang saudaranya dengan bercanda atau serius. Dan barangsiapa mengambil tongkat saudaranya, hendaknya dia kembalikan.” [HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله]
Mengambil tongkat untuk bercanda pun tidak boleh, terlebih melempar petasan yang dapat mencelakai orang. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain:
مَنْ أَشَارَ إِلَي أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّي يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ
“Barangsiapa menunjuk saudaranya dengan pisau besi, sesungguhnya malaikat melaknatnya hingga dia meninggalkannya, meskipun dia adalah saudara seayah dan seibu.” [HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه]
Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh membuat teror kepada muslim lainnya. Baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
⏳ Bersambung insyaAllah..
Maka kita tekankan, bahwa satu saja dari sekian kejelekan yang di antaranya kita singgung ini, cukup bagi kita untuk menghindari dari bermain petasan dan kembang api bahkan menjadi penjual petasan dan kembang api. Wal'iyyadzubillah.
Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita berusaha untuk tidak bermuamalah atau menjual barang-barang yang masuk dalam kategori menyia-nyiakan harta dan dapat mengganggu ketenangan kaum muslimin yang lain. Hendaklah kita mengisi setiap saat yang kita lalui untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah سبحانه و تعالى. Karena hanya untuk inilah kita diciptakan. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kita kutipkan perkataan salaf agar bisa menjadi penyemangat kita untuk meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah سبحانه و تعالى. Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata:
“Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari dunia kecuali Allah gantikan untukku di dalam hatiku dengan yang lebih baik darinya.” [Ibnu Abi Ad-Dunia, Al-Wara 1/55]
Mudah-mudahan apa yang sedikit ini dapat bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian untuk selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
@buletinalfaidah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita berusaha untuk tidak bermuamalah atau menjual barang-barang yang masuk dalam kategori menyia-nyiakan harta dan dapat mengganggu ketenangan kaum muslimin yang lain. Hendaklah kita mengisi setiap saat yang kita lalui untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah سبحانه و تعالى. Karena hanya untuk inilah kita diciptakan. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kita kutipkan perkataan salaf agar bisa menjadi penyemangat kita untuk meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah سبحانه و تعالى. Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata:
“Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari dunia kecuali Allah gantikan untukku di dalam hatiku dengan yang lebih baik darinya.” [Ibnu Abi Ad-Dunia, Al-Wara 1/55]
Mudah-mudahan apa yang sedikit ini dapat bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian untuk selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
@buletinalfaidah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 PERINGATAN DARI ACARA TAHUN BARU DAN HURA-HURA PERAYAAN MALAM PERGANTIAN TAHUN
🎙Oleh:
Al Ustadz Muhammad As Sewed Hafizhahullah
📅 Tausiyah Pendidikan Anak Saat Bagi Raport Santri | Ahad,15 Rabi'ul Awwal 1437 H - 27 Desember 2015 M l Ma'had Dhiyaus Sunnah Cirebon
[durasi 03:43- 1,1 MB]
(TRANSKRIP)
"..Kemudian, selain itu.. berkenaan dengan liburan kita ini berdekatan dengan Tahun Baru, maka sekali lagi saya ingatkan tolong kita kerjasama.. di pondok kita jaga mereka, di rumah tentunya orangtua yang menjaganya....
INI MASA-MASA HURA - HURA...
Orang-orang yang tidak dekat dengan agama, maka mereka memiliki segala macam acara-acara maksiat: Apakah panggung gembira, atau acara ini... acara bergadang segala macam..
SEHINGGA ANAK - ANAK TIDAK USAH KELUAR RUMAH DI MALAM TAHUN BARU DAN JUGA PARA ORANG TUA MENJAGA MEREKA AGAR TIDAK KEMANA - MANA.. Ramainya jalan GAK MASUK AKAL. MEREKA SEAKAN - AKAN MEMILIKI KELAINAN JIWA....
Karena hari ini dengan hari kemarin gak beda ! Waktunya sama 24 jam, setiap jamnya sama 60 menit. Dibilang malam panjang, dibilang malam...Sama saja!! NGGAK ADA PERBEDAAN ANTARA TANGGAL SATU DENGAN TANGGAL DUA SEMBILAN.. NGGAK ADA PERBEDAAN ANTARA TAHUN LALU DENGAN TAHUN YANG AKAN DATANG DALAM BENTUK HARINYA GAK ADA PERBEDAAN..... !
Bahkan yang berbeda adalah umurmu telah bertambah satu tahun. Dan itu na'udzubillah, mendekatkan dirimu kepada KEMATIAN... BUKAN SENANG HARUSNYA. Berarti umur saya sudah berkurang lagi, kemarin baru sekian... sekarang sekian..
Ikhwani fiddiin a'azzakumullah...
Apakah itu patut dirayakan...???
SAMA SEKALI TIDAK ADA SUNNAHNYA, NGGAK ADA ATURANNYA... LAA FIIL KITAB, WA LAA FIIS SUNNAH, WA LAA FII FI'LISH SHAHABAH, WA LAA TABI'IN, WA LAA TABI'IT TABI'IN, WA LA AIMMAH....
Itupun kalau tahunnya tahun baru Islam... APALAGI TAHUN BARU MASEHI, YANG KAITANNYA DENGAN MASIHI, DENGAN AGAMA NASRANI...KAITANNYA DENGAN AGAMA MEREKA.
Tahun Hijryiyah saja tidak dianjurkan untuk dirayakan. NGGAK ADA SUNNAHNYA, Apalagi tahun baru masehi... Namanya masehi...
Ikhwani fiddin a'azzakumullah,
Kaum muslimin yang saya hormati, ikhwan at-thalabah, wa ahan, ikhwanil aba al 'izzah.. INI PERKARA YANG BETUL - BETUL HARUS KITA PERHATIKAN, KAITANNYA DENGAN APA YANG SUDAH KITA BAHAS TADI,YAITU UCAPAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.." [QS. at-Tahrîm/66:6]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 PERINGATAN DARI ACARA TAHUN BARU DAN HURA-HURA PERAYAAN MALAM PERGANTIAN TAHUN
🎙Oleh:
Al Ustadz Muhammad As Sewed Hafizhahullah
📅 Tausiyah Pendidikan Anak Saat Bagi Raport Santri | Ahad,15 Rabi'ul Awwal 1437 H - 27 Desember 2015 M l Ma'had Dhiyaus Sunnah Cirebon
[durasi 03:43- 1,1 MB]
(TRANSKRIP)
"..Kemudian, selain itu.. berkenaan dengan liburan kita ini berdekatan dengan Tahun Baru, maka sekali lagi saya ingatkan tolong kita kerjasama.. di pondok kita jaga mereka, di rumah tentunya orangtua yang menjaganya....
INI MASA-MASA HURA - HURA...
Orang-orang yang tidak dekat dengan agama, maka mereka memiliki segala macam acara-acara maksiat: Apakah panggung gembira, atau acara ini... acara bergadang segala macam..
SEHINGGA ANAK - ANAK TIDAK USAH KELUAR RUMAH DI MALAM TAHUN BARU DAN JUGA PARA ORANG TUA MENJAGA MEREKA AGAR TIDAK KEMANA - MANA.. Ramainya jalan GAK MASUK AKAL. MEREKA SEAKAN - AKAN MEMILIKI KELAINAN JIWA....
Karena hari ini dengan hari kemarin gak beda ! Waktunya sama 24 jam, setiap jamnya sama 60 menit. Dibilang malam panjang, dibilang malam...Sama saja!! NGGAK ADA PERBEDAAN ANTARA TANGGAL SATU DENGAN TANGGAL DUA SEMBILAN.. NGGAK ADA PERBEDAAN ANTARA TAHUN LALU DENGAN TAHUN YANG AKAN DATANG DALAM BENTUK HARINYA GAK ADA PERBEDAAN..... !
Bahkan yang berbeda adalah umurmu telah bertambah satu tahun. Dan itu na'udzubillah, mendekatkan dirimu kepada KEMATIAN... BUKAN SENANG HARUSNYA. Berarti umur saya sudah berkurang lagi, kemarin baru sekian... sekarang sekian..
Ikhwani fiddiin a'azzakumullah...
Apakah itu patut dirayakan...???
SAMA SEKALI TIDAK ADA SUNNAHNYA, NGGAK ADA ATURANNYA... LAA FIIL KITAB, WA LAA FIIS SUNNAH, WA LAA FII FI'LISH SHAHABAH, WA LAA TABI'IN, WA LAA TABI'IT TABI'IN, WA LA AIMMAH....
Itupun kalau tahunnya tahun baru Islam... APALAGI TAHUN BARU MASEHI, YANG KAITANNYA DENGAN MASIHI, DENGAN AGAMA NASRANI...KAITANNYA DENGAN AGAMA MEREKA.
Tahun Hijryiyah saja tidak dianjurkan untuk dirayakan. NGGAK ADA SUNNAHNYA, Apalagi tahun baru masehi... Namanya masehi...
Ikhwani fiddin a'azzakumullah,
Kaum muslimin yang saya hormati, ikhwan at-thalabah, wa ahan, ikhwanil aba al 'izzah.. INI PERKARA YANG BETUL - BETUL HARUS KITA PERHATIKAN, KAITANNYA DENGAN APA YANG SUDAH KITA BAHAS TADI,YAITU UCAPAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.." [QS. at-Tahrîm/66:6]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SEBUAH RENUNGAN, PERAYAAN TAHUN BARU
Ditulis Oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc. hafizhahullah
Anda ikut merayakan tahun baru, mengikuti siapa?
Perayaan tahun baru ternyata bukan sesuatu yang baru, bahkan ternyata itu adalah budaya yang sangat kuno, beberapa umat melakukan.
Perayaan itu, diantaranya adalah hari raya Nairuz, dalam kitab al Qomus. Nairuz adalah hari pertama dalam setahun, dan itu adalah awal tahun matahari. Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ.
Bila diteliti ternyata ternyata itu adalah hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi para penyembah api, dikatakan dalam sebagian referensi bahwa pencetus pertamanya adalah salah satu raja-raja mereka yaitu yang bernama Jamsyad.
Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. [Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]
Para pensyarah hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan [Mir’atul mafatih].
Di samping majusi, ternyata orang-orang Yahudi juga punya kebiasaan merayakan awal tahun, sebagian sumber menyebutkan bahwa perayaan awal tahun termasuk hari raya Yahudi, mereka menyebutnya dengan Ra’su Haisya yang berarti hari raya di penghujung bulan, kedudukan hari raya ini dalam pandangan mereka semacam kedudukan hari raya Idul Adha bagi muslimin.
Lalu Nashrani mengikuti jejak Yahudi sehingga mereka juga merayakan tahun baru. Dan mereka juga memiliki kayakinan-keyakinan tertentu terkait dengan awal tahun ini. [Bida’ Hauliiyyah]
Tidak menutup kemungkinan masih ada umat-umat lain yang juga merayakan awal tahun atau tahun baru, sebagaimana disebutkan beberapa sumber. Yang jelas, siapa mereka?
Tentu bukan muslimin, bahkan Majusi penyembah api nasrani penyemabah Yesus dan Yahudi penyembah Uzair.
JADI SIAPA YANG ANDA IKUTI DALAM PERAYAAN TAHUN BARU INI?
Lebih dari itu, ternyata perayaan tahun baru ini telah dihapus oleh Rasulullah ﷺ, bukankah anda ingat hadits di atas?
Nabi menghapus perayaan Nairuz dan Muhrojan dan mengganti dengan idul Fitri dan Adha. Lalu, kenapa muslimin menghidup-hidupkan sesuatu yang telah dimatikan Rasulullah ﷺ.
Kata Ibnu Taimiyyah, Allah Subhanahuwata’ala mengganti (Abdala) konsekwensi dari kata Abdala (menggati) adalah benar-benarnya terhapus hari raya yang dulu dan digantikan dengan penggatinya, karena tidak bisa berkumpul antara yang mengganti dan yang digantikan. Tapi, kenyataannya justru tetap saja umat ini merayakan tahun baru, melanggar sabda Rasulullah ﷺ, sungguh benar berita kenabian Rasulullah ﷺ,
« لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ » .قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »
“Benar-benar kalian akan mengikuti jalan-jalan orang yang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga bila mereka masuk ke lubang binatang dhob (semacam biawak), maka kalian juga akan memasukinya. Kami berkata: Wahai Rasulullah Yahudi dan nashrani? Beliau berkata: Siapa lagi?.” [shahih, HR al Bukhori Muslim dan yang lain]
⌛️Bersambung InsyaAllah..
📬 SEBUAH RENUNGAN, PERAYAAN TAHUN BARU
Ditulis Oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc. hafizhahullah
Anda ikut merayakan tahun baru, mengikuti siapa?
Perayaan tahun baru ternyata bukan sesuatu yang baru, bahkan ternyata itu adalah budaya yang sangat kuno, beberapa umat melakukan.
Perayaan itu, diantaranya adalah hari raya Nairuz, dalam kitab al Qomus. Nairuz adalah hari pertama dalam setahun, dan itu adalah awal tahun matahari. Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ.
Bila diteliti ternyata ternyata itu adalah hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi para penyembah api, dikatakan dalam sebagian referensi bahwa pencetus pertamanya adalah salah satu raja-raja mereka yaitu yang bernama Jamsyad.
Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. [Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]
Para pensyarah hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan [Mir’atul mafatih].
Di samping majusi, ternyata orang-orang Yahudi juga punya kebiasaan merayakan awal tahun, sebagian sumber menyebutkan bahwa perayaan awal tahun termasuk hari raya Yahudi, mereka menyebutnya dengan Ra’su Haisya yang berarti hari raya di penghujung bulan, kedudukan hari raya ini dalam pandangan mereka semacam kedudukan hari raya Idul Adha bagi muslimin.
Lalu Nashrani mengikuti jejak Yahudi sehingga mereka juga merayakan tahun baru. Dan mereka juga memiliki kayakinan-keyakinan tertentu terkait dengan awal tahun ini. [Bida’ Hauliiyyah]
Tidak menutup kemungkinan masih ada umat-umat lain yang juga merayakan awal tahun atau tahun baru, sebagaimana disebutkan beberapa sumber. Yang jelas, siapa mereka?
Tentu bukan muslimin, bahkan Majusi penyembah api nasrani penyemabah Yesus dan Yahudi penyembah Uzair.
JADI SIAPA YANG ANDA IKUTI DALAM PERAYAAN TAHUN BARU INI?
Lebih dari itu, ternyata perayaan tahun baru ini telah dihapus oleh Rasulullah ﷺ, bukankah anda ingat hadits di atas?
Nabi menghapus perayaan Nairuz dan Muhrojan dan mengganti dengan idul Fitri dan Adha. Lalu, kenapa muslimin menghidup-hidupkan sesuatu yang telah dimatikan Rasulullah ﷺ.
Kata Ibnu Taimiyyah, Allah Subhanahuwata’ala mengganti (Abdala) konsekwensi dari kata Abdala (menggati) adalah benar-benarnya terhapus hari raya yang dulu dan digantikan dengan penggatinya, karena tidak bisa berkumpul antara yang mengganti dan yang digantikan. Tapi, kenyataannya justru tetap saja umat ini merayakan tahun baru, melanggar sabda Rasulullah ﷺ, sungguh benar berita kenabian Rasulullah ﷺ,
« لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ » .قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »
“Benar-benar kalian akan mengikuti jalan-jalan orang yang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga bila mereka masuk ke lubang binatang dhob (semacam biawak), maka kalian juga akan memasukinya. Kami berkata: Wahai Rasulullah Yahudi dan nashrani? Beliau berkata: Siapa lagi?.” [shahih, HR al Bukhori Muslim dan yang lain]
⌛️Bersambung InsyaAllah..
Kaum muslimin…
Belum lagi, apa yang mereka lakukan dalam perayaan tahu baru? Bukankan berbagai kemungkaran yang sangat bertolak belakan dengan ajaran agama.
Kalau anda dari jenis orang yang pobhi dengan ajaran agama, saya katakan, bukankah dalam acara itu banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan, abad, sopan santun, kehormatan jiwa dan berbagai kemuliaan-kemualiaan yang lain.
Hampir semua atau semua yang terjadi adalah kerendahan dan kehinaan martabat manusia apalagi martabat muslim.
Tentu kita semua, saya dan anda dan mereka, sebenarnya menyadari akan hal itu, lalu kapan kita akan meninggalkannya, mengapa masih saja memeriahkan acara tersebut, tidakkah kita kembali saja kepada kehormatan kita dan kemulian kita serta tentunya ajaran agama kita.
Bersihkan dari bercak-bercak perayaan tahun baru, joget, pentas musik yang identik dengan kerendahan moral, minuman-minuman keras dan obat-obat terlarang, pembauran antara lawan jenis yang merusak moral, sampai pada pesta hura-hura dengan pakaian minim, pamer aurat, pacaran dan perzinaan, apakah kita menginkari terjadinya hal itu?
Berbagai sumber berita menyebutkan bahwa penjualan alat kontrasepsi baik kondom atau yang lain meningkat tajam dari tahun ke tahun menjelang perayaan malam tahun baru.
Miris, kenyataan yang memperihatinkan, inikah moral bangsa kita, dimana susila dan dimana ajaran agama?
Bila anda seorang muslim atau muslimah tidakkan takut dengan ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala. Nabi ﷺ bersabda,
مَا ظهرَ في قَومٍ الزِّنا وَالرِّبا ؛ إلَّا أحلُّوا بِأنفُسِهِم عَذَابَ اللهِ
”Tidaklah nampak pada sebuah daerah zina dan riba melainkan mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka” [Hasan, HR Abu Ya’la, al Hakim dan dihasankan oleh Asy Syaikh al Albani]
Juga,
...لم تظهَرِ الفَاحِشةُ في قَوْمٍ قطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها، إلَّا فشا فِيهِم الأوجَاعُ الَّتي لَم تكُنْ في أسْلاَفِهِم
“Tidaklah tampak pada suatu kaumpun perbuatan keji (zina, homoseks) sehingga mereka menampakkannya melainkan akan menyebar ditengah-tengah mereka penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada umat sebelumnya” [Shahih, HR al Baihaqi, disahihkan oleh Asy Syaikh al Albani]
Saudaraku muslim…
Saudariku muslimah…
Masihkan anda akan menodai diri anda….
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya (Yahudi dan Nashrani), kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik". [QS :al Hadid:16]
Ingat, liang lahat menunggu kita semua…
Wassalamu 'alaikum…
Sumber Artikel: Salafy.or.id
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Belum lagi, apa yang mereka lakukan dalam perayaan tahu baru? Bukankan berbagai kemungkaran yang sangat bertolak belakan dengan ajaran agama.
Kalau anda dari jenis orang yang pobhi dengan ajaran agama, saya katakan, bukankah dalam acara itu banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan, abad, sopan santun, kehormatan jiwa dan berbagai kemuliaan-kemualiaan yang lain.
Hampir semua atau semua yang terjadi adalah kerendahan dan kehinaan martabat manusia apalagi martabat muslim.
Tentu kita semua, saya dan anda dan mereka, sebenarnya menyadari akan hal itu, lalu kapan kita akan meninggalkannya, mengapa masih saja memeriahkan acara tersebut, tidakkah kita kembali saja kepada kehormatan kita dan kemulian kita serta tentunya ajaran agama kita.
Bersihkan dari bercak-bercak perayaan tahun baru, joget, pentas musik yang identik dengan kerendahan moral, minuman-minuman keras dan obat-obat terlarang, pembauran antara lawan jenis yang merusak moral, sampai pada pesta hura-hura dengan pakaian minim, pamer aurat, pacaran dan perzinaan, apakah kita menginkari terjadinya hal itu?
Berbagai sumber berita menyebutkan bahwa penjualan alat kontrasepsi baik kondom atau yang lain meningkat tajam dari tahun ke tahun menjelang perayaan malam tahun baru.
Miris, kenyataan yang memperihatinkan, inikah moral bangsa kita, dimana susila dan dimana ajaran agama?
Bila anda seorang muslim atau muslimah tidakkan takut dengan ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala. Nabi ﷺ bersabda,
مَا ظهرَ في قَومٍ الزِّنا وَالرِّبا ؛ إلَّا أحلُّوا بِأنفُسِهِم عَذَابَ اللهِ
”Tidaklah nampak pada sebuah daerah zina dan riba melainkan mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka” [Hasan, HR Abu Ya’la, al Hakim dan dihasankan oleh Asy Syaikh al Albani]
Juga,
...لم تظهَرِ الفَاحِشةُ في قَوْمٍ قطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها، إلَّا فشا فِيهِم الأوجَاعُ الَّتي لَم تكُنْ في أسْلاَفِهِم
“Tidaklah tampak pada suatu kaumpun perbuatan keji (zina, homoseks) sehingga mereka menampakkannya melainkan akan menyebar ditengah-tengah mereka penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada umat sebelumnya” [Shahih, HR al Baihaqi, disahihkan oleh Asy Syaikh al Albani]
Saudaraku muslim…
Saudariku muslimah…
Masihkan anda akan menodai diri anda….
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya (Yahudi dan Nashrani), kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik". [QS :al Hadid:16]
Ingat, liang lahat menunggu kita semua…
Wassalamu 'alaikum…
Sumber Artikel: Salafy.or.id
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com