منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Renungkanlah!

Seandainya Syaikh al-Bakri rahimahullah sejak awal menyertakan sampul Kitab Tauhid secara lengkap dengan nama penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sangat mungkin alim India itu akan enggan membacanya.

Ia akan antipati terhadapnya dan tetap dalam pendiriannya memvonis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai kafir dan melaknatnya sebagaimana yang ia lakukan setiap selesai menyampaikan pelajaran.

Benar, alim India itu melakukannya karena terbawa isu-isu negatif dan pembunuhan karakter yang ditebarkan musuh-musuh dakwah tauhid.

Walhamdulillah, dengan hidayah dari Allah semata kemudian kecerdikan Syaikh al-Bakri, seorang yang semula membenci menjadi seorang yang dengan mudah mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad rahimahullah.

Dari kisah di atas, dengan izin Allah kemudian dengan cara ini, dakwah tauhid dan sunnah akhirnya diterima, walhamdulillah.

Sumber:
https://mahad-assalafy.com/kisah-syaikh-al-bakri-di-negeri-india/ 

#anonim #manhaj_gharib #anonimisasi #majhul
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 DISYARIATKANNYA MENGGANTI IMAM SAAT BATAL DI TENGAH SHOLAT


Jika Imam tidak bisa melanjutkan sholat karena sebab tertentu seperti batal wudhu’nya, lupa belum berwudhu’, atau sebab lainnya, maka ia bisa memilih makmum untuk menggantikan dirinya dan meneruskan sholat.

Sebagaimana Umar bin al-Khotthob ketika ditikam pada sholat Subuh, beliau memegang tangan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan beliau sebagai Imam (H.R al-Bukhari).

Demikian juga Ali bin Abi Tholib pernah terkena mimisan di hidungnya, kemudian beliau memilih salah satu makmum untuk menjadi Imam menggantikannya (riwayat Said bin Manshur).

Yang dipilih untuk menggantikan Imam sebaiknya adalah seseorang yang ikut sholat berjamaah sejak awal.

Namun, jika yang dipilih menggantikan Imam adalah masbuq, maka masbuq melanjutkan Imam.

Saat semestinya salam, masbuq yang menjadi Imam itu memberikan isyarat dan makmum boleh memilih, apakah memisahkan diri (salam duluan), atau duduk menunggu Imam masbuq ini menyelesaikan sholatnya (al-Minhaj karya anNawawy (1/64)).

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa Imam masbuq yang hendak sampai pada bagian salam untuk makmum, bisa memilih salah satu makmum menggantikan dirinya sebagai Imam, agar Imam dan makmum salam bersama-sama, sedangkan dirinya melanjutkan sholat sendirian.

Jika Imam tidak memilih seseorang untuk menggantikan, maka makmum bisa saja melakukan salah satu hal:

(1). Memilih (dengan memberi isyarat) agar salah satu makmum menjadi Imam, atau

(2). Melanjutkan sholat sebagai sholat sendiri-sendiri

(disarikan dari penjelasan Ibnu Qudamah dalam asy-Syarhul Kabiir (1/498)).

(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Abu Utsman Kharisman, penerbit Cahaya Sunnah Bandung)
WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 JIKA IMAM SHOLAT ISYA 5 ROKA'AT DAN TIDAK ADA MAKMUM YANG MENGINGATKAN


Bismillah
Afwan ijin bertanya, Bagaimana sikap kita yang benar jika kita sholat isya dimana imam salah rokaatnya_ dan sholat 5 rekaat, dan dibelakang imam tidak ada yang mengingatkan kalau imam salah. Karena tidak ada yang mengingatkan imam tidak merasa salah, dan sebagian jamaah ada yang mengulang dan ada juga yang sujud sahwi. Bagaimana sikap kita yang benar apakah mengulang sholatnya atau bagaimana?


Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah

Berikut ini potongan fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah, semoga bermanfaat:

وإذا قام إلى خامسة ولم يرجع بالتنبيه فإن المأمومين لا يقومون معه.. يجلسون، فإذا سلم سلموا معه؛ لأنهم غير معذورين، أما هو قد يكون معذوراً، قد يعتقد أنه مصيب فلهذا لم يرجع، وهو إذا اعتقد أنه مصيب لا يرجع.. يستمر ويكمل، لكن المأموم إن كان يعتقد أنه مصيب جلس وانتظر حتى يسلم مع إمامه، وإن كان ليس عنده علم فإنه يقوم مع الإمام ويتابع الإمام، هذا هو الأصل.
ومن قام مع الإمام وتابعه من أجل سهوه، أو لجهله بالحكم الشرعي.. ما يعلم الحكم الشرعي؛ فصلاته صحيحة ولو زاد؛ لأنه إما جاهل وإما ساهي فلا شيء عليه، وأما العالم بالحكم الشرعي والعالم بالسهو فإنه لا يتابع الإمام، بل يجلس وينتظر حتى يسلم مع إمامه، هذا هو الحكم الشرعي في هذه المسألة.
بعض الناس ما يعرف الأحكام يقوم ولو درى أنه ساهي يحسب أنه يلزمه، فيقوم يتابع الإمام، فهذا مادام قام جهلاً منه فإن صلاته صحيحة وليس عليه شيء، ولكن في المرة الأخرى إذا وقع هذا لا يقوم، متى عرف الحكم الشرعي لا يقوم بل يجلس وينتظر، يقرأ التحيات ويكملها ويدعو ربه، يشتغل بالدعاء حتى يسلم إمامه فيسلم معه.

"Jika (Imam) bangkit ke rakaat ke-5 dan tidak kembali meski diingatkan, makmum (semestinya) tidak bangkit bersama dia. Makmum hendaknya duduk. Jika imam nanti salam, makmum salam bersamanya. Karena mereka (para makmum) tidaklah memiliki udzur.

Adapun imam ia memiliki udzur. Kadangkala ia meyakini bahwa ia benar. Karena itu ia tidak kembali (turun).

Kalau ia meyakini bahwasanya ia benar, ia tidak kembali (turun). Ia akan terus dan menyempurnakannya.

Namun, makmum jika berkeyakinan bahwa dirinya benar, ia duduk menunggu, hingga salam bersama imam. Kalau makmum itu tidak berilmu, ia berdiri dan mengikuti imam. Ini adalah secara asal.

Barangsiapa yang berdiri bersama imam dan mengikutinya karena lupa atau ketidaktahuan terhadap hukum syar’i, shalatnya sah, meskipun ia menambah (rakaat). Karena ia bisa jadi tidak tahu atau lupa. Tidak ada tanggungan apapun baginya.

Adapun orang yang mengetahui hukum syar’i dan mengetahui bahwa imam lupa, ia tidak mengikuti imam. Justru ia semestinya duduk menunggu hingga salam bersama imam. Ini adalah hukum syar’i dalam masalah ini.

Sebagian orang tidak mengetahui hukum sehingga berdiri. Kalau ia mengetahui bahwasanya imam lupa ia merasa ia harus ikut berdiri mengikuti imam (juga). Makmum ini selama berdirinya karena ketidaktahuan, shalatnya sah. Tidak ada tanggungan apapun baginya.

Namun, lain kali jika terjadi hal semacam itu, ia mestinya tidak ikut berdiri. Jika ia telah mengetahui hukum syar’i, ia tidak berdiri (mengikuti imam yang lupa, pent), namun justru duduk dan menunggu. Ia membaca tahiyyat dan menyempurnakannya, kemudian berdoa kepada Rabbnya. Ia sibukkan dengan doa hingga saat imam salam, ia pun salam.

Sumber selengkapnya:
http://bit.ly/2IXjZQw

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::

📬 MENGAMBIL FAIDAH DARI KITAB AL-HAIDAH


Tahukah Anda Kitab al-Haidah?


Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Hanya saja nama penulisnya belum bisa dipastikan.

Perlu diketahui bahwa dalam tiga kurun pertama Islam, akidah sunnah sangatlah berjaya dan kuat. Para ulama sangat banyak dan keras dalam mengingkari ahli bid’ah. Kekuatan ada di tangan Ahlus-Sunnah. Sehingga para ulama terang-terangan dalam mendakwahkan tauhid, akidah sunnah dan membantah kebid’ahan.

Hingga saat ulama satu per satu wafat, lalu pada kondisi khalifah berpihak kepada kaum Jahmiyyah dan melakukan intimidasi kepada para ulama di masa itu untuk meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk (akidah kufur yang  merobohkan pondasi agama Islam dari dasarnya), muncullah kitab al-Haidah.

Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.

Kitab ini, wallahu a’lam, siapa sesungguhnya yang menulisnya. Dalam sebuah pendapat, dikatakan bahwa penulisnya bernama Abdul Aziz al-Kinani. Namun Syaikh Rabi’ menyatakan tidak mengetahui siapa sebenarnya penulis kitab ini. Nash pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut,

السؤال       :

هل كتاب الحيدة لعبد العزيز الكناني ثابت عنه أم لا ؟

الجواب       :

بعضهم قال أنه لم يثبت عنه! لكن الأمّة تلقت هذا الكتاب بالقبول لما تضمنه من الحجج والبراهين التي تدحض أباطيل أهل القول بخلق القرآن؛ أباطيل المعتزلة ومن جرى مجراهم من الجهمية الذين يقولون (القرآن مخلوق)؛ فيها حجج دامغة, فيها نصرة لسنة الرسول عليه الصلاة والسلام والذبّ عن دينه فجزى الله المؤلف خيرا . ولعل المؤلف من كبار علماء السنة, ولا شك أنه عالم بارع ولا نستبعد أنه من تلاميذ الشافعي ولا نستبعد أنه هذا الكناني) عبد العزيز .(لكن سواء أثبتناه لهذا الإمام أولم نثبته؛ فإنّ كاتبه عالم ضليع ومتعمّق في اللغة ومتعمّق في معرفة أسرار القرآن وطرق الاحتجاج به فهذا مما يُنصَر به, فمن يطعن في هذا الكتاب أخشى أن فيه نزعة بدعية يريد أن يوهن حجج أهل السنة والجماعة .فنحن نقول هذا ألفه عالم قد يكون ما استطاع أن يظهر اسمه لأنّ السلطة كانت بأيدي الجهمية فخاف أن يُنال بالأذى, بالقتل وغيره كما أوذي أهل السنة وامتحنوا بالقول بخلق القرآن فخشي على نفسه فألف هذا الكتاب .فإما أن يكون هو الكناني وإما أن يكون غيره ,ولا شك أنه من علماء السنة ومن أئمتها النوابغ ,رحمه الله وجزاه عن الإسلام والمسلمين خيرا .فتاوى في العقيدة والمنهج الحلقة الأولى .

Pertanyaan:

Apakah kitab al-Haidah karya Abdul Aziz al-Kinany memang benar terbukti dari beliau ataukah tidak?

Jawab:

Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab tersebut tidak benar jika dinisbatkan kepada beliau. Hanya saja, umat Islam menerima kitab tersebut dengan sambutan yang baik, mengingat kandungan hujah dan bukti di dalamnya yang membantah berbagai kebatilan para pengusung akidah bahwa al-Qur’an adalah makhluk, kebatilan kelompok Mu’tazilah, dan setiap orang yang berjalan dengan paham mereka, yaitu Jahmiyah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

Di dalam kitab tersebut terkandung hujah-hujah yang melenyapkan kebatilan, berisi pembelaan terhadap sunnah Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam dan agamanya. Semoga Allah membalas penulisnya dengan balasan kebaikan.

Bisa jadi sang penulis termasuk ulama sunnah yang senior, dan tentu tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang alim yang mahir. Kita pun tidak mengingkari bahwa dia termasuk murid Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kita juga tidak memandang jauh bahwa dia adalah al-Kinany (Abdul Aziz).
Yang jelas, kita tetapkan kitab tersebut sebagai karya imam Abdul Aziz al-Kinany rahimahullah maupun tidak, sungguh penulisnya adalah seorang alim yang sangat ahli, orang yang mendalami ilmu bahasa (lughah), mendalami ilmu dalam hal mengenali rahasia-rahasia al-Qur’an serta metode berdalil dengannya.

Sehingga, karya ini termasuk karya yang harus dibela. Siapa yang mencela kitab tersebut sangat dikhawatirkan di dalam dirinya ada kecondongan kepada kebid’ahan, dia ingin melemahkan hujjah-hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sehingga, kami katakan kitab ini disusun oleh seorang alim yang beliau tidak bisa memperlihatkan namanya karena pemerintahan berada dalam genggaman paham Jahmiyah. Lalu beliau khawatir mendapat gangguan, baik dibunuh atau gangguan lain sebagaimana menimpa Ahlus Sunnah, disakiti dan diuji karena adanya fitnah al-Qur’an adalah makhluk.

Maka beliau pun mengkhawatirkan gangguan yang akan menimpa dirinya, lalu beliau menyusun kitab ini.

Bisa jadi beliau adalah al-Kinany yang dimaksud atau bisa jadi yang lainnya. Tak diragukan bahwa beliau termasuk ulama dan imam sunnah yang jenius. Semoga Allah merahmatinya dan mebalasnya dengan kebaikan atas jasanya terhadap islam dan kaum muslimin. (Fatawa Fil ‘Aqidah Wal Manhaj al-Halqatul-Ula) –selesai penukilan–

Jadi, kitab al-Haidah adalah kitab yang dikenal, bermanfaat dan sampai kepada kita di masa sekarang. Semoga Allah merahmati penulisnya.

Kitab tersebut tidak diingkari oleh para ulama. Pembahasan di dalamnya sangat bermanfaat, meskipun karya manusia tidak lepas dari kekurangan.

Sumber:  https://mahad-assalafy.com/faidah-dari-kitab-al-haidah/

#anonim #jendi #jendela_info #sirriyah #rahasia

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِجْمَاعَ وَالْحُجَّةَ وَالسَّوَادَ الْأَعْظَمَ هُوَ الْعَالِمُ صَاحِبُ الْحَقِّ، وَإِنْ كَانَ وَحْدَهُ، وَإِنْ خَالَفَهُ أَهْلُ الْأَرْضِ

إعلام الموقعين ٣/٣٩٨

"Ketahuilah, bahwa IJMA' dan HUJJAH serta SAWADUL A'ZHOM adalah seorang alim shohibul haq walaupun bersendirian dan seluruh penduduk bumi menyelisihinya."

Kitab lbnul Qoyyim. l'laamul Muwaqqi'iin jilid 3 hal 398.
::
📬 WAJIB MEMBELA YANG TERZALIMI

Al-Allamah Rabi' bin Hadi al Madkhali - hafizhahullah - berkata,

فإذا كان هناك طائفتان تتقاتلان؛ فلنبادر إلى حقن الدماء وصون الأعراض، ونبذل ما نستطيع و نصلح بينهم؛ فإن بغت إحداهما على الأخرى وقفنا مع المظلومة؛ لأن نصرة المظلوم واجبة، نقف مع الطائفة المظلومة حتى نقضي على شر تلك الظالمة وتعود إلى جادة الحق.

"Apabila ada dua kelompok saling berperang, hendaknya kita segera mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga kehormatan, serta mengoptimalkan kemampuan kita untuk mendamaikan mereka.

Jika salah satu kelompok berbuat zalim kepada yang lain, maka kita membela kelompok yang terzalimi, karena membela orang yang terzalimi adalah wajib.

Hendaknya kita tetap berada di barisan kelompok yang terzalimi, sampai kita mampu menghilangkan kejelekan kelompok yang berbuat zalim dan mereka kembali ke jalan yang benar."

📚 [Adz Dzari'ah 1/186] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Perbanyaklah Istighfar..
::
📬 BAGAIMANAKAH JIKA MAYORITAS BERADA DI ATAS KEBENARAN?

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,

“Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik.

Namun sunnatullah menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.

وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣

“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116) 

[Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 62]

Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 DIANTARA KARAKTER JAHILIYYAH : MENILAI SUATU KEBENARAN DENGAN JUMLAH MAYORITAS, DAN MENILAI SUATU KESALAHAN DENGAN JUMLAH MINORITAS


Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,

“Di antara karakter jahiliah, mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas.

Sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah.

Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah.

Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ١١٦

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah subhanahu wa ta’la).” (al-An’am: 116)

Allah subhanahu wa ta’la juga berfirman:

وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨٧

“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)

وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ ١٠٢

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (al-A’raf: 102)

Dan lain sebagainya.”

(Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 60).

Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK (MAYORITAS)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh berkata,

“Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun.

Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (yaitu mengikuti mayoritas manusia, pen.) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’la dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq [catatan kaki] Fathul Majid, hlm. 83, no. 1)

Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH TENTANG WAHABI

Pertanyaan ke-2 dari fatwa nomor 9450: Apakah al-Wahhabiyyah (paham Wahabi, pent) itu?


Jawaban al-Lajnah ad-Daaimah:

Al-Wahhabiyyah adalah suatu penamaan dari musuh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –semoga Allah merahmati beliau – terhadap dakwah beliau yang mengajak pada pemurnian tauhid, (pembersihan tauhid) dari kesyirikan-kesyirikan.

Beliau meninggalkan seluruh thoriqoh (jalan dalam beragama, pent) selain thoriqoh (Nabi) Muhammad bin Abdillah ﷺ.

Maksud mereka (dengan penamaan Wahabi) adalah untuk membuat manusia lari dari dakwah beliau dan menghalangi mereka untuk mengikuti dakwah beliau. Namun hal itu tidaklah memudaratkan. Justru semakin menambah (dakwah itu) tersebar di berbagai penjuru.

Semakin banyak orang yang rindu kepada dakwah tersebut karena diberi taufiq oleh Allah untuk mempelajari isi dakwah tersebut, tuduhan terhadapnya, dan dalil alQuran dan sunnah yang shahih yang melandasinya. Mereka semakin berpegang teguh dan komitmen terhadapnya serta mengajak manusia kepadanya. Segala puji hanya untuk Allah.

Taufiq hanyalah dengan pertolongan Allah. Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para Sahabat beliau.

Al-Lajnah ad-Daaimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ (Komite Tetap Pembahasan Ilmu dan Fatwa)

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

🇸🇦Naskah Asli dalam Bahasa Arab:

ما هي الوهابية؟
السؤال الثاني من الفتوى رقم ( 9450 ) :

س2: ما هي الوهابية؟
ج2: الوهابية: لفظة يطلقها خصوم الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله على دعوته إلى تجريد التوحيد من الشركيات ونبذ جميع الطرق إلا طريق محمد بن عبد الله صلى الله عليه وسلم، ومرادهم من ذلك: تنفير الناس من دعوته وصدهم عما دعا إليه، ولكن لم يضرها ذلك، بل زادها انتشارا في الآفاق وشوقا إليها ممن وفقهم الله إلى زيادة البحث عن ماهية الدعوة وما ترمي إليه وما تستند عليه من أدلة الكتاب والسنة الصحيحة فاشتد تمسكهم بها وعضو ا عليها وأخذوا يدعون الناس إليها ولله الحمد.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... نائب رئيس اللجنة ... الرئيس
عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Manfaat Sifat Memaafkan..
::
📬 JANGAN KATAKAN: "SESUNGGUHNYA KEUMUMAN ORANG-ORANG BERSIKAP DEMIKIAN, MENGAPA AKU BERSIKAP EKSKLUSIF TIDAK SAMA DENGAN MEREKA?"


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,

“Tidak boleh tertipu dengan jumlah mayoritas, karena jumlah mayoritas terkadang di atas kesesatan. Allah subhanahu wa ta’la berfirman:

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ١١٦

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah subhanahu wa ta’la).” (al-An’am: 116)

Jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi berada dalam kesesatan, maka janganlah tertipu dengan mereka. Jangan pula engkau katakan, ‘Sesungguhnya orang-orang melakukan demikian, mengapa aku bersikap eksklusif tidak sama dengan mereka?’.”

(al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 1/106)

Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HAKIKAT HASAD (IRI DENGKI)

Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi rahimahullah berkata,

“Hakikat hasad adalah apabila ada orang lain yang menerangkan kebenaran, dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa apabila dia menerima kebenaran tersebut, berarti dia telah mengakui ilmu, keutamaan, dan kebenaran yang ada pada diri orang tersebut.

Hal itu tentu akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat, dan bisa jadi orang yang mengikutinya akan semakin banyak.

Sungguh, engkau akan menjumpai sebagian orang yang begitu berambisi menyalahkan orang lain, adalah dari kalangan ulama meskipun mereka melakukannya DENGAN CARA YANG BATIL.

Semua ini karena kedengkiannya dan upayanya untuk menjatuhkan kedudukan orang yang ia dengki di mata umat. Perasaan iri dan dengki sering muncul di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas.” (at-Tankil, 2/190)

Sumber:

https://asysyariah.com/kebenaran-tercampakkan-karena-kedengkian-dan-kesombongan/%3famp

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BENARKAH TIDAK PERLU TATSABBUT PADA KHOBAR TSIQOH?


Dalam masalah ini ada faidah dari Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya,

بعض الدعاة يتهم داعية آخر، فإذا قيل له في ذلك قال: حدثني رجل معروف بعلمه وعدله. فإذا قلت: تثبت. قال: التثبت فيما إذا كان الناقل فاسقاً. فما رأيكم في هذا؟ هذا صحيح، كلامه صحيح من حيث الظاهر؛ أنه إذا أخبرك رجل ثقة فلا حاجة للتثبت؛ لأن الله قال: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات:6] لكن قد يكون الإنسان ثقة ولكن له هوى فتضعف الثقة من هذه الناحية.

Sebagian dai menuduh dai lainnya. Jika ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab:

"Telah menyampaikan berita kepadaku seorang laki-laki yang telah dikenal dengan keilmuan dan keadilannya (tsiqah)".

Jika dikatakan kepada dia: "Hendaknya engkau mengonfirmasi berita terlebih dahulu!".

Ia berkata: "Konfirmasi (tatsabbut) itu jika yang menukil adalah orang yang fasik". Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?


Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

"Ini benar. Ucapannya benar secara zhahir. Bahwasanya jika seorang yang terpercaya mengabarkan kepadamu, tidak perlu klarifikasi lagi. Karena Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasik menyampaikan berita, pastikanlah terlebih dahulu kebenarannya.” (QS. al-Hujurat: 6)

Namun, KADANGKALA SEORANG ITU TSIQAH, AKAN TETAPI IA MEMILIKI HAWA NAFSU. Sehingga dengan sebab ini, sisi keterpercayaan yang ada pada dia menjadi lemah". (Liqa’ al-Baab al-Maftuh 182/28)

Sumber: https://mahad-assalafy.com/benarkah-tidak-perlu-tatsabbut-pada-khabar-tsiqah/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BENARKAH UCAPAN SELAMAT NATAL TIDAK MEMPENGARUHI AKIDAH?


Ucapan seseorang harus selalu dijaga. Terkadang seorang mengucapkan sesuatu yang dia anggap sepele, ternyata dapat melemparkannya ke dalam neraka jahanam.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

"Sungguh, seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah, yang tidak ia pikirkan akibatnya; membuat ia terjerumus ke dalam neraka jahanam akibat ucapannya tersebut." (HR. al-Bukhari no. 6478)

Ada sebuah kisah yang menunjukkan bahwa ucapan seseorang bisa berpengaruh fatal terhadap keimanannya.

Dalam perjalanan perang Tabuk, ada salah seorang yang berkata, “Kita belum pernah melihat qurra’ (ahli baca al-Qur’an) seperti mereka ini, paling gendut perutnya, paling dusta ucapannya, paling takut ketika bertemu musuh.”

Maksudnya, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya adalah sosok yang terlalu banyak makan sehingga perutnya gendut (tidak ada pekerjaan lain kecuali makan), selalu berbicara dusta, sangat takut betemu musuh, dan pasti melarikan diri.

Pasukan lain yang mendengar ucapan tersebut pun tersentak. Dengan sigap, dia segera mengadukan ucapan tersebut kepada Rasulullah ﷺ.

Ketika sang pembicara mengetahui ucapannya diadukan kepada Rasulullah ﷺ, dia bersegera memacu kudanya mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan alasan, “Wahai Rasul, kami mengucapkannya hanya bersenda gurau dan bermain-main,” kelitnya.

Namun, ternyata Rasulullah ﷺ menjawab dengan membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ٦٥

“Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At-Taubah: 65)

Dengan tegas pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah dan Rasul-Nya adalah kekafiran.

لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُم

“Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” (At-Taubah: 66)

Disebutkan pada beberapa riwayat, sang pembicara tadi terus-menerus membujuk Rasulullah ﷺ agar diampuni. Namun, Rasulullah ﷺ tetap bergeming. (Lihat Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul hlm. 123)

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, kami mengajak sekali lagi supaya kita merenungi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh tadabur dan penghayatan, disertai keimanan dan rasa takut kepada Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu,

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka ucapkan itu), niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak perlu kamu meminta maaf karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.” (At-Taubah: 65—66)

(Bersambung)
Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa ucapan yang keluar dari lisan kita, bisa berakibat fatal terhadap keimanan kita.

Jika ingin selamat, hendaknya kita benar-benar bersungguh-sungguh menjaga semua ucapan dan amalan kita.

Apabila kita hendak berucap atau berbuat, selalu timbang setiap ucapan dan perbuatan kita dengan timbangan ilmu dan syariat. Sebab, ternyata ucapan pun bisa membuat akidah kita ternoda. Bahkan, pada tahap tertentu bisa menghantarkan kepada kekufuran.

Kesimpulannya, ucapan lisan sangat berpengaruh terhadap keimanan dan agama seseorang. Hal ini menunjukkan kekeliruan pernyataan sebagian pihak yang telah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin.

“Tidak apa-apa kita mengucapkan selamat hari raya agama lain, yang penting akidah kita tetap terjaga. Sekadar ucapan selamat tidak akan mempengaruhi akidah.”

“Cemen sekali keimanan seseorang kalau mengucapkan selamat hari raya agama lain kemudian mempengaruhi akidahnya.”

Menanggapi pernyataan-pernyataan di atas, kita katakan, “Sungguh, kami Ahlussunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa iman meliputi keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Iman bisa bertambah (dengan ketaatan) dan berkurang (dengan melakukan pelanggaran syariat).”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah menyatakan, “Aku mendengar Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Iman mencakup ucapan dan perbuatan, (bisa) bertambah dan berkurang.’”

(Siyar al-A’lam an-Nubala 10/32)

Demikian halnya dengan ucapan selamat Natal. Mengucapkan selamat Natal akan berpengaruh terhadap keimanan seorang muslim.

Sebab, ucapan selamat Natal adalah bentuk keridhaan dan persetujuan seseorang terhadap perayaan Natal yang merupakan syiar dan simbol kekufuran.

Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 NASIHAT DAN PENJELASAN IBNUL QAYYIM TENTANG HUKUM MEMBERI UCAPAN ATAS HARI RAYA AGAMA LAIN

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه.

(أحکام أهل الذمة 441/1)

“Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat Natal, -pent.) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijmak (kesepakatan) ulama.

Contohnya adalah memberi ucapan selamat atas hari raya dan puasa mereka, seperti mengatakan, ‘Ied mubarak atasmu,’ atau dengan ucapan, ‘Selamat hari raya,’ dan semacamnya. Seandainya orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, minimalnya dia terjatuh pada perkara yang haram.

Ucapan selamat hari raya kepada mereka seperti ini sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan kepada salib.

Bahkan, ucapan selamat hari raya tersebut lebih besar dosanya dan lebih dibenci oleh Allah daripada seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang menghargai agama Islam terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat.

Oleh karena itu, barang siapa memberi ucapan selamat atas perbuatan maksiat, bid’ah, atau kekufuran; dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah.”
(Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/441)

Beberapa kesimpulan dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah:

1. Hukum mengucapkan selamat hari raya agama lain adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama.

2. Ucapan selamat hari raya kepada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib.

3. Bagaimana pendapat Anda apabila ada seorang yang mengatakan kepada para peminum khamar (minuman keras), “Selamat minum khamar....” atau kepada para pembunuh, “Selamat membunuh....” atau mengatakan kepada para pezina, ”Selamat berzina....”?

Apakah orang yang berakal akan menilai bahwa ucapan tersebut adalah ucapan yang “sah-sah” saja? Atau pengucapnya pasti akan dicela?

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dosa ucapan selamat hari raya agama lain lebih besar dan lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada ucapan selamat kepada orang yang minum khamar (minuman keras), membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN NATAL

Kita sepakat bahwa memberi ucapan selamat atas perbuatan mungkar, hukumnya haram.

Haram mengucapkan selamat berzina, selamat minum khamar, selamat membunuh, dan semisalnya.

Demikian pula perayaan Natal, haram mengucapkan selamat atasnya karena perayaan natal penuh dengan kemungkaran yang lebih besar dari minum khamar, membunuh, dan berzina.

Di antara kemungkaran yang ada dalam misa Natal:

1. Ikrar bahwa Isa adalah putra Tuhan.

2. Mempersembahkan doa kepada Isa.

3. Lagu-lagu rohani yang mengandung puji-pujian dan ikrar bahwa Isa adalah putra Tuhan.

Mengucapkan selamat Natal berarti mengucapkan selamat atas kemungkaran-kemungkaran tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗا ٨٨ لَّقَدۡ جِئۡتُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِدّٗا ٨٩ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا ٩١ وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ٩٢

Mereka berkata, "(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. (Maryam: 88—92)

Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh; akibat keyakinan mereka.

Masihkah pantas diberi ucapan selamat?
Apa Tujuan Seseorang Mengucapkan Selamat Natal?

Sebagian mungkin akan menjawab, “Toleransi.” Pertanyaan berikutnya, “Apa itu toleransi?”

“Bagaimana toleransi yang benar menurut pandangan Islam?”

“Apa sikap kita jika toleransi harus mengorbankan prinsip dan ajaran Islam?”

“Bagaimana toleransi Islam dalam aspek keberagamaan?”

“Siapakah yang intoleran?”

Penjelasan tentang hal ini secara lengkap bisa dibaca pada Majalah Asy Syariah edisi 123 “Islam Agama Toleran”.

Berikut sebagian cuplikannya, silakan klik :

1. https://t.me/asysyariah/25
2. https://t.me/asysyariah/28
3. https://t.me/asysyariah/31
4. https://t.me/asysyariah/32
5. https://t.me/asysyariah/33
6. https://t.me/asysyariah/34

Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️