::
📬 MENYIASATI MASA FUTUR (LETIH/BOSAN) UNTUK MENGISI SEMANGAT BARU
Pertanyaan:
Apakah bisa terjadi adanya masa-masa futur (letih; bosan; penurunan semangat)? Dan bagaimana mengobatinya?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya-:
Ini adalah perkara yang pasti (dialami). Seseorang tidak mungkin berada dalam satu keadaan, selalu bersemangat (penuh) dalam ibadah maupun menuntut ilmu.
Pasti akan ada masa seperti yang disebutkan dalam hadits Handzholah: "ada waktunya...ada waktunya..."
Namun, seseorang semestinya memiliki keteguhan hati untuk menjadikan masa futurnya itu sebagai penguat (semangat) di masa mendatang. Jangan jadikan futur itu sebagai jalan menuju futur yang lain.
Seorang manusia tidak mungkin akan selalu berada dalam suatu keadaan (penuh semangat). Justru ia perlu mengistirahatkan badan, akal, dan pikirannya.
(al-Liqaa’ asy-Syahriy (4/446))
🇸🇦 Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
[السؤال: ] هل تمر على الإنسان ساعات يشعر فيها بالفتور؟ وما علاجه؟
الشيخ: هذا أمر لا بد منه، فالإنسان لا يمكن أن يكون على حالٍ واحدة دائماً في النشاط والعبادة وطلب العلم، لا بد كما جاء في حديث حنظلة : (ساعة وساعة) ولكن على الإنسان أن يكون حازماً، وأن يجعل فتوره تقوية لمستقبله، ولا يجعل الفتور سبيلاً إلى الفتور الآخر، وإلا فلا يمكن أن يكون الإنسان دائماً جاداً بل لا بد من راحة للجسم وراحة للعقل وراحة للفكر.
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENYIASATI MASA FUTUR (LETIH/BOSAN) UNTUK MENGISI SEMANGAT BARU
Pertanyaan:
Apakah bisa terjadi adanya masa-masa futur (letih; bosan; penurunan semangat)? Dan bagaimana mengobatinya?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya-:
Ini adalah perkara yang pasti (dialami). Seseorang tidak mungkin berada dalam satu keadaan, selalu bersemangat (penuh) dalam ibadah maupun menuntut ilmu.
Pasti akan ada masa seperti yang disebutkan dalam hadits Handzholah: "ada waktunya...ada waktunya..."
Namun, seseorang semestinya memiliki keteguhan hati untuk menjadikan masa futurnya itu sebagai penguat (semangat) di masa mendatang. Jangan jadikan futur itu sebagai jalan menuju futur yang lain.
Seorang manusia tidak mungkin akan selalu berada dalam suatu keadaan (penuh semangat). Justru ia perlu mengistirahatkan badan, akal, dan pikirannya.
(al-Liqaa’ asy-Syahriy (4/446))
🇸🇦 Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
[السؤال: ] هل تمر على الإنسان ساعات يشعر فيها بالفتور؟ وما علاجه؟
الشيخ: هذا أمر لا بد منه، فالإنسان لا يمكن أن يكون على حالٍ واحدة دائماً في النشاط والعبادة وطلب العلم، لا بد كما جاء في حديث حنظلة : (ساعة وساعة) ولكن على الإنسان أن يكون حازماً، وأن يجعل فتوره تقوية لمستقبله، ولا يجعل الفتور سبيلاً إلى الفتور الآخر، وإلا فلا يمكن أن يكون الإنسان دائماً جاداً بل لا بد من راحة للجسم وراحة للعقل وراحة للفكر.
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 PENYEBAB FUTUR (MELEMAHNYA SEMANGAT) DALAM MENUNTUT ILMU
Pertanyaan:
Apakah penyebab futur (melemahnya semangat) dalam menuntut ilmu?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:
Penyebab futur dalam menuntut ilmu atau dalam mengerjakan ketaatan-ketaatan lainnya adalah:
PERTAMA: LEMAHNYA TEKAD
Semestinya, semakin bertambah ilmu yang didapatkan, semakin bertambah semangatnya. Karena ia telah mendapat tambahan dalam pengetahuannya.
Sehingga ia gembira sebagaimana gembiranya seorang pedagang yang mendapat keuntungan sehingga ia tambah bersemangat.
Kalau (seorang pedagang) mendapat keuntungan dari suatu barang dagangannya dengan keuntungan yang besar, ia akan bersemangat untuk mendapatkan kuantitas yang besar dari jenis ini.
Demikian juga penuntut ilmu. Selama ia memang tulus dalam tekadnya, setiap kali ia mendapat (tambahan faidah) dalam suatu permasalahan, semakin bertambah semangatnya terhadap ilmu.
Adapun seseorang yang tidak menuntut ilmu kecuali sekedar untuk mengisi waktunya saja, ini akan (sering) mengalami futur dan kemalasan.
KEDUA: SESUNGGUHNYA SETAN BERUSAHA MEMBUAT PENUNTUT ILMU BERPUTUS ASA
Ia berkata: “Masanya masih sangat lama. Tidak mungkin engkau bisa mencapai kedudukan Ulama”. Kemudian timbullah kemalasan dan meninggalkan menuntut ilmu. Ini adalah kesalahan.
Salah satu penulis sejarah menyebutkan kisah Imam dalam ilmu Nahwu. Aku mengira beliau adalah al-Kisa-iy. Bahwasanya beliau ingin (tekun) dalam menuntut ilmu. Beliau kemudian dikenal sebagai Imam dalam ilmu Nahwu.
Namun beliau pernah mengalami kesulitan. Aku mengira bahwasanya Nahwu memang sulit bagi kebanyakan dari kalian. Beliau sempat ingin meninggalkan proses mencari ilmu. Kemudian beliau melihat ada seekor semut yang membawa beban makanan hendak naik dinding. Setiap kali naik, ia terjatuh. Setiap kali naik, terjatuh. Hal itu berlangsung sampai 10 kali atau lebih.
Akhirnya, setelah capek dan letih, ia berhasil naik. Maka berkatalah al-Kisa-iy: "Semut ini berjuang berkali-kali hingga mencapai hasilnya. Kalau begitu, aku akan juga berjuang". Beliau pun bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu hingga mencapai tingkatan Imam di dalamnya.
KETIGA: BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG YANG SENGSARA (BURUK)
Pertemanan (persahabatan) memberikan pengaruh bagi seseorang. Karena itu Nabi ﷺ memberikan dorongan semangat untuk berteman dengan orang-orang yang terbaik.
Beliau mengkhabarkan bahwasanya teman duduk yang baik seperti pembawa minyak wangi. Bisa jadi ia menghadiahkan minyak wangi padamu, menjualnya, atau engkau bisa mendapat bagian dari harumnya minyak wangi itu.
Sedangkan teman yang buruk adalah bagaikan peniup bara api (pada penempaan besi). Bisa jadi (api itu) akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap.
Masalah ini memberikan pengaruh yang besar. Bahkan pengaruhnya tidak hanya dalam meninggalkan menuntut ilmu saja, tetapi juga pada ibadah. Sebagian orang yang (bersemangat untuk istiqomah) Allah kuasakan padanya seorang laki-laki yang buruk yang menemaninya. Hingga kemudian menyeretnya menuju neraka. Kita memohon perlindungan kepada Allah.
KEEMPAT: TENGGELAM DALAM KELALAIAN, (BANYAK) MENYIA-NYIAKAN WAKTU
Kadangkala keluar berjalan-jalan. Ada pula sebagian orang yang terkena fitnah dengan menyaksikan pertandingan sepak bola dan semisalnya.
📬 PENYEBAB FUTUR (MELEMAHNYA SEMANGAT) DALAM MENUNTUT ILMU
Pertanyaan:
Apakah penyebab futur (melemahnya semangat) dalam menuntut ilmu?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:
Penyebab futur dalam menuntut ilmu atau dalam mengerjakan ketaatan-ketaatan lainnya adalah:
PERTAMA: LEMAHNYA TEKAD
Semestinya, semakin bertambah ilmu yang didapatkan, semakin bertambah semangatnya. Karena ia telah mendapat tambahan dalam pengetahuannya.
Sehingga ia gembira sebagaimana gembiranya seorang pedagang yang mendapat keuntungan sehingga ia tambah bersemangat.
Kalau (seorang pedagang) mendapat keuntungan dari suatu barang dagangannya dengan keuntungan yang besar, ia akan bersemangat untuk mendapatkan kuantitas yang besar dari jenis ini.
Demikian juga penuntut ilmu. Selama ia memang tulus dalam tekadnya, setiap kali ia mendapat (tambahan faidah) dalam suatu permasalahan, semakin bertambah semangatnya terhadap ilmu.
Adapun seseorang yang tidak menuntut ilmu kecuali sekedar untuk mengisi waktunya saja, ini akan (sering) mengalami futur dan kemalasan.
KEDUA: SESUNGGUHNYA SETAN BERUSAHA MEMBUAT PENUNTUT ILMU BERPUTUS ASA
Ia berkata: “Masanya masih sangat lama. Tidak mungkin engkau bisa mencapai kedudukan Ulama”. Kemudian timbullah kemalasan dan meninggalkan menuntut ilmu. Ini adalah kesalahan.
Salah satu penulis sejarah menyebutkan kisah Imam dalam ilmu Nahwu. Aku mengira beliau adalah al-Kisa-iy. Bahwasanya beliau ingin (tekun) dalam menuntut ilmu. Beliau kemudian dikenal sebagai Imam dalam ilmu Nahwu.
Namun beliau pernah mengalami kesulitan. Aku mengira bahwasanya Nahwu memang sulit bagi kebanyakan dari kalian. Beliau sempat ingin meninggalkan proses mencari ilmu. Kemudian beliau melihat ada seekor semut yang membawa beban makanan hendak naik dinding. Setiap kali naik, ia terjatuh. Setiap kali naik, terjatuh. Hal itu berlangsung sampai 10 kali atau lebih.
Akhirnya, setelah capek dan letih, ia berhasil naik. Maka berkatalah al-Kisa-iy: "Semut ini berjuang berkali-kali hingga mencapai hasilnya. Kalau begitu, aku akan juga berjuang". Beliau pun bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu hingga mencapai tingkatan Imam di dalamnya.
KETIGA: BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG YANG SENGSARA (BURUK)
Pertemanan (persahabatan) memberikan pengaruh bagi seseorang. Karena itu Nabi ﷺ memberikan dorongan semangat untuk berteman dengan orang-orang yang terbaik.
Beliau mengkhabarkan bahwasanya teman duduk yang baik seperti pembawa minyak wangi. Bisa jadi ia menghadiahkan minyak wangi padamu, menjualnya, atau engkau bisa mendapat bagian dari harumnya minyak wangi itu.
Sedangkan teman yang buruk adalah bagaikan peniup bara api (pada penempaan besi). Bisa jadi (api itu) akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap.
Masalah ini memberikan pengaruh yang besar. Bahkan pengaruhnya tidak hanya dalam meninggalkan menuntut ilmu saja, tetapi juga pada ibadah. Sebagian orang yang (bersemangat untuk istiqomah) Allah kuasakan padanya seorang laki-laki yang buruk yang menemaninya. Hingga kemudian menyeretnya menuju neraka. Kita memohon perlindungan kepada Allah.
KEEMPAT: TENGGELAM DALAM KELALAIAN, (BANYAK) MENYIA-NYIAKAN WAKTU
Kadangkala keluar berjalan-jalan. Ada pula sebagian orang yang terkena fitnah dengan menyaksikan pertandingan sepak bola dan semisalnya.
KELIMA: SESEORANG TIDAK MERASA DALAM DIRINYA BAHWASANYA KETIKA IA MENUNTUT ILMU, IA BAGAIKAN ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH. BAHKAN LEBIH DARI ITU..
Menuntut ilmu lebih utama dari berjihad di jalan Allah. Hal ini tidaklah diragukan lagi. Karena menuntut ilmu itu menjaga syariat dan mengajarkannya kepada manusia.
Seorang yang berjihad, bisa jadi menghalangi satu orang kafir untuk memberikan pengaruh terhadap agama Islam. Sedangkan penuntut ilmu, bisa saja memberikan manfaat bagi umat seluruhnya.
Memang benar bahwasanya kadang kita mengatakan kepada orang tertentu, jihad adalah lebih utama bagimu karena itu lebih layak engkau lakukan (karena kekuatan fisik, pent). Sedangkan kepada orang lain kita menyatakan: "menuntut ilmu lebih utama bagimu".
Namun, maksud saya, (secara dzatnya) menuntut ilmu lebih utama dibandingkan berjihad di jalan Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون
"Tidak selayaknya bagi orang-orang beriman untuk keluar (berjihad) seluruhnya. Mengapa tidak ada sebagian orang dari tiap kelompok untuk belajar memahami agama agar mereka memberikan peringatan kepada kaumnya ketika mereka kembali sehingga mereka menjauhi (adzab Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya)."(Q.S atTaubah ayat 122)
(Semestinya tidak semua berangkat berjihad), namun ada sebagian yang duduk untuk mempelajari agama sehingga memberikan peringatan kepada kaumnya saat kembali sehingga mereka menjauhi (adzab Allah).
Ini yang saya ingat saat ini dalam hal penyebab-penyebab futur (penurunan semangat) dalam menuntut ilmu. Hendaknya engkau wahai penuntut ilmu memiliki tekad yang tinggi dan memiliki visi yang kuat di masa mendatang. Dengan keikhlasan niat dalam hatimu untuk Allah, bisa jadi engkau akan menjadi Imam dalam Islam.
(Liqaa’ al-Baab al-Maftuuh (206/16))
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Menuntut ilmu lebih utama dari berjihad di jalan Allah. Hal ini tidaklah diragukan lagi. Karena menuntut ilmu itu menjaga syariat dan mengajarkannya kepada manusia.
Seorang yang berjihad, bisa jadi menghalangi satu orang kafir untuk memberikan pengaruh terhadap agama Islam. Sedangkan penuntut ilmu, bisa saja memberikan manfaat bagi umat seluruhnya.
Memang benar bahwasanya kadang kita mengatakan kepada orang tertentu, jihad adalah lebih utama bagimu karena itu lebih layak engkau lakukan (karena kekuatan fisik, pent). Sedangkan kepada orang lain kita menyatakan: "menuntut ilmu lebih utama bagimu".
Namun, maksud saya, (secara dzatnya) menuntut ilmu lebih utama dibandingkan berjihad di jalan Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون
"Tidak selayaknya bagi orang-orang beriman untuk keluar (berjihad) seluruhnya. Mengapa tidak ada sebagian orang dari tiap kelompok untuk belajar memahami agama agar mereka memberikan peringatan kepada kaumnya ketika mereka kembali sehingga mereka menjauhi (adzab Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya)."(Q.S atTaubah ayat 122)
(Semestinya tidak semua berangkat berjihad), namun ada sebagian yang duduk untuk mempelajari agama sehingga memberikan peringatan kepada kaumnya saat kembali sehingga mereka menjauhi (adzab Allah).
Ini yang saya ingat saat ini dalam hal penyebab-penyebab futur (penurunan semangat) dalam menuntut ilmu. Hendaknya engkau wahai penuntut ilmu memiliki tekad yang tinggi dan memiliki visi yang kuat di masa mendatang. Dengan keikhlasan niat dalam hatimu untuk Allah, bisa jadi engkau akan menjadi Imam dalam Islam.
(Liqaa’ al-Baab al-Maftuuh (206/16))
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 CARA MENGOBATI PENYAKIT WAS-WAS KETIKA BERSUCI, BERWUDHU DAN SHOLAT
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah
P e r t a n y a a n :
Apa pendapat yang rajih tentang masalah air kami mengharapkan faedah penjelasan dan Apa obat penyakit was-was dalam bersuci, yang mana saya memiliki teman yang senantiasa was-was sampai kadang-kadang dia membiarkan sebagian pakaiannya basah meneteskan air di kamar mandi ketika berwudhu, sampai akhirnya dia meninggalkan shalat dan aku sudah menasehatinya sampai dia mengulangi shalat lagi dari awal. Hanya saja dia meminta kepadaku agar aku mau menunjuki dirinya untuk mengobati penyakit was-was ini.
J a w a b a n :
Segala puji bagi Allah semoga shalawat dan salam terlimpah kepada rasulNya, keluarganya dan sahabatnya, amma ba'du :
1⃣ Yang pertama, hukum asal dalam air itu adalah suci, apabila air berubah warnanya atau rasanya atau baunya karena benda najis, maka air tersebut dihukumi najis, sama saja, apakah airnya sedikit atau banyak.
Apabila dia tidak berubah oleh benda najis, maka dia tetap suci akan tetapi apabila airnya jumlahnya sedikit sekali, maka sebaiknya tidak dipakai bersuci, dalam rangka untuk berhati-hati dan untuk keluar dari perselisihan ulama, dan juga mengamalkan hadits Abu Hurairah yang marfu' :
إذا ولَغَ الكَلبُ في إناءِ أحَدِكم، فلْيُرِقْه
"Apabila ada anjing menjilat di salah satu wadah kalian, maka hendaknya dia membuang airnya."
2⃣ Yang kedua, mengobati was-was itu dengan memperbanyak dzikir mengingat Allah dan berdoa kepadaNya, memohon diselamatkan dari hal itu. Dan hendaknya dia tidak pasrah mengikuti rasa was-wasnya.
Dan dia wajib menolak hal tersebut, apabila dia telah bersuci dengan berwudhu atau mandi junub, kemudian muncul rasa was-was bahwasannya dia belum membasuh kepalanya misalnya, maka janganlah dia mempedulikan hal itu. Bahkan hendaknya dia yakin kalau dirinya sudah membasuhnya.
Demikian juga di seluruh amalannya, hendaknya dia tidak mengikuti rasa was-was tersebut, karena itu berasal dari setan dan hendaknya dia memperbanyak isti'adzah (minta perlindungan) kepada Allah dari godaan setan.
Karena was-was itu datangnya dari setan yang senantiasa memberikan bisikan-bisikan dan senantiasa bersembunyi.
Allah semata tempat meminta taufiq. Semoga Shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya
📑 Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 5/225-226 @ahlussunnahposo
#fiqih #bersuci #waswas #dzikir
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 CARA MENGOBATI PENYAKIT WAS-WAS KETIKA BERSUCI, BERWUDHU DAN SHOLAT
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah
P e r t a n y a a n :
Apa pendapat yang rajih tentang masalah air kami mengharapkan faedah penjelasan dan Apa obat penyakit was-was dalam bersuci, yang mana saya memiliki teman yang senantiasa was-was sampai kadang-kadang dia membiarkan sebagian pakaiannya basah meneteskan air di kamar mandi ketika berwudhu, sampai akhirnya dia meninggalkan shalat dan aku sudah menasehatinya sampai dia mengulangi shalat lagi dari awal. Hanya saja dia meminta kepadaku agar aku mau menunjuki dirinya untuk mengobati penyakit was-was ini.
J a w a b a n :
Segala puji bagi Allah semoga shalawat dan salam terlimpah kepada rasulNya, keluarganya dan sahabatnya, amma ba'du :
1⃣ Yang pertama, hukum asal dalam air itu adalah suci, apabila air berubah warnanya atau rasanya atau baunya karena benda najis, maka air tersebut dihukumi najis, sama saja, apakah airnya sedikit atau banyak.
Apabila dia tidak berubah oleh benda najis, maka dia tetap suci akan tetapi apabila airnya jumlahnya sedikit sekali, maka sebaiknya tidak dipakai bersuci, dalam rangka untuk berhati-hati dan untuk keluar dari perselisihan ulama, dan juga mengamalkan hadits Abu Hurairah yang marfu' :
إذا ولَغَ الكَلبُ في إناءِ أحَدِكم، فلْيُرِقْه
"Apabila ada anjing menjilat di salah satu wadah kalian, maka hendaknya dia membuang airnya."
2⃣ Yang kedua, mengobati was-was itu dengan memperbanyak dzikir mengingat Allah dan berdoa kepadaNya, memohon diselamatkan dari hal itu. Dan hendaknya dia tidak pasrah mengikuti rasa was-wasnya.
Dan dia wajib menolak hal tersebut, apabila dia telah bersuci dengan berwudhu atau mandi junub, kemudian muncul rasa was-was bahwasannya dia belum membasuh kepalanya misalnya, maka janganlah dia mempedulikan hal itu. Bahkan hendaknya dia yakin kalau dirinya sudah membasuhnya.
Demikian juga di seluruh amalannya, hendaknya dia tidak mengikuti rasa was-was tersebut, karena itu berasal dari setan dan hendaknya dia memperbanyak isti'adzah (minta perlindungan) kepada Allah dari godaan setan.
Karena was-was itu datangnya dari setan yang senantiasa memberikan bisikan-bisikan dan senantiasa bersembunyi.
Allah semata tempat meminta taufiq. Semoga Shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya
📑 Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 5/225-226 @ahlussunnahposo
#fiqih #bersuci #waswas #dzikir
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 CARA WUDHU' DAN SHALAT BAGI YANG SERING DAN TIDAK BISA MENAHAN BUANG ANGIN
🎙Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah
P e r t a n y a a n :
"Saya tertimpa musibah sering mengeluarkan angin, apakah hukum bagi saya seperti hukum seorang yang terkena sulusul baul (kencing terus-menerus/menetes) atau tidak? Dan mohon doakan kesembuhan bagi saya."
J a w a b a n :
"Kita memohon kepada Allah agar memberi kesembuhan untukmu.
Saya katakan : "Gas ini, yang kamu tertimpa dengannya, jika tidak mampu untuk menahannya maka ia sama semisal dengan sulusul baul.
◻️ Dan atas kondisi ini, maka kamu jangan berwudhu' untuk shalat KECUALI setelah masuk waktu.
◻️ Apabila kamu telah wudhu' dan keluar sesuatu (angin) darimu maka itu tidak membatalkan wudhu'mu sampai datang waktu shalat berikutnya.
◻️Lalu jika telah masuk waktu shalat berikutnya maka berwudhu'lah setelah masuk waktunya.
Dan saya sarankan untuk menyampaikan perihal dirimu kepada dokter spesialis, semoga Allah memberi kesembuhan melaluinya."
Sumber:
🌏 binothaimeen.net/content/166
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany rahimahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 CARA WUDHU' DAN SHALAT BAGI YANG SERING DAN TIDAK BISA MENAHAN BUANG ANGIN
🎙Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah
P e r t a n y a a n :
"Saya tertimpa musibah sering mengeluarkan angin, apakah hukum bagi saya seperti hukum seorang yang terkena sulusul baul (kencing terus-menerus/menetes) atau tidak? Dan mohon doakan kesembuhan bagi saya."
J a w a b a n :
"Kita memohon kepada Allah agar memberi kesembuhan untukmu.
Saya katakan : "Gas ini, yang kamu tertimpa dengannya, jika tidak mampu untuk menahannya maka ia sama semisal dengan sulusul baul.
◻️ Dan atas kondisi ini, maka kamu jangan berwudhu' untuk shalat KECUALI setelah masuk waktu.
◻️ Apabila kamu telah wudhu' dan keluar sesuatu (angin) darimu maka itu tidak membatalkan wudhu'mu sampai datang waktu shalat berikutnya.
◻️Lalu jika telah masuk waktu shalat berikutnya maka berwudhu'lah setelah masuk waktunya.
Dan saya sarankan untuk menyampaikan perihal dirimu kepada dokter spesialis, semoga Allah memberi kesembuhan melaluinya."
Sumber:
🌏 binothaimeen.net/content/166
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany rahimahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BIMBINGAN DALAM BERSIKAP KETIKA MENERIMA BERITA TENTANG SESEORANG MUSLIM
Al-‘Allaamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
Wajib bagi seseorang jika mendengar (berita) tentang orang tertentu untuk memastikan kebenaran nukilan (berita) itu. Bisa jadi nukilan itu salah. Ini banyak terjadi.
Banyak yang kami dengar dinisbatkan kepada masyayikh atau pemimpin atau orang lainnya, kemudian ketika kami klarifikasi dari dia, kami dapati bahwasanya itu dusta, tidak ada asalnya. Bisa jadi memiliki asal, namun ditambahi. Ini adalah ujian yang besar.
Pertama, wajib untuk memastikan kebenaran nukilan. Jika nukilan itu benar bahwasanya fulan berkata demikian baik itu berasal dari seorang pemimpin, seorang yang ‘alim, menteri, atau seorang laki-laki biasa, kita harus mencermati sebelum berbincang dengannya.
Kita harus mencermati apakah pada ucapannya ada sisi pandang (yang dibenarkan, pent). Apakah itu adalah ijtihad yang bisa benar ataupun salah. Bisa jadi kita yang salah dan dia yang benar.
Kita harus mencermatinya (secara seksama) sebelum berbincang dengannya untuk mengingkari apa yang dinisbatkan kepada dia, dan semisalnya.
Kebanyakan nukilan tentang sesuatu itu benar, dan kita mengetahui bahwasanya seorang ini berkata atau berbuat sesuatu, kemudian ketika kita cermati, kita baru mendapati bahwasanya ia memiliki hal yang bisa dibenarkan dan dibolehkan.
Apabila ia memiliki hal yang bisa dibenarkan atau dibolehkan – meskipun tidak diketahui oleh kebanyakan orang – maka dia tidak layak untuk dicela atau diingkari. Karena ia berkata demikian berdasarkan ijtihadnya.
Tidak ada seorang pun dari kita yang turun kepadanya wahyu sehingga ucapannya pasti benar atau perbuatannya pasti benar. Karena wahyu telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.
Jika kita mencermati nukilan yang benar tentang dia, kita baru mendapati bahwa ucapan dan perbuatannya memiliki hal yang bisa dibolehkan dan dibenarkan, maka kita diam dan tidak berbicara dengannya (dalam hal itu, pent).
Jika nampak jelas bagi kita bahwa tidak ada hal yang bisa dibenarkan atau diperbolehkan dari ucapan maupun perbuatannya, maka di saat itulah kita berbicara. Namun berbicara dalam bentuk yang bagaimana?
Apakah kita sebarkan kepada manusia dan berkata: "bahwa fulan memiliki begini dan begini?" Tidak.
Wajib untuk menyampaikan nasihat secara hikmah. Kita datang kepada dia dan berkata: "Anda telah berbuat dan berkata demikian. Ini tidak benar. Karena ini menyelisihi firman Allah Azza Wa Jalla demikian dan demikian.. Atau sabda Rasul shollallahu alaihi wasallam demikian dan demikian.." Atau ijma’ Ulama demikian dan demikian. Bagaimana anda bisa berkata demikian atau berbuat demikian?"
(Liqaa’ al-Baab al-Maftuuh (38/3))
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BIMBINGAN DALAM BERSIKAP KETIKA MENERIMA BERITA TENTANG SESEORANG MUSLIM
Al-‘Allaamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
Wajib bagi seseorang jika mendengar (berita) tentang orang tertentu untuk memastikan kebenaran nukilan (berita) itu. Bisa jadi nukilan itu salah. Ini banyak terjadi.
Banyak yang kami dengar dinisbatkan kepada masyayikh atau pemimpin atau orang lainnya, kemudian ketika kami klarifikasi dari dia, kami dapati bahwasanya itu dusta, tidak ada asalnya. Bisa jadi memiliki asal, namun ditambahi. Ini adalah ujian yang besar.
Pertama, wajib untuk memastikan kebenaran nukilan. Jika nukilan itu benar bahwasanya fulan berkata demikian baik itu berasal dari seorang pemimpin, seorang yang ‘alim, menteri, atau seorang laki-laki biasa, kita harus mencermati sebelum berbincang dengannya.
Kita harus mencermati apakah pada ucapannya ada sisi pandang (yang dibenarkan, pent). Apakah itu adalah ijtihad yang bisa benar ataupun salah. Bisa jadi kita yang salah dan dia yang benar.
Kita harus mencermatinya (secara seksama) sebelum berbincang dengannya untuk mengingkari apa yang dinisbatkan kepada dia, dan semisalnya.
Kebanyakan nukilan tentang sesuatu itu benar, dan kita mengetahui bahwasanya seorang ini berkata atau berbuat sesuatu, kemudian ketika kita cermati, kita baru mendapati bahwasanya ia memiliki hal yang bisa dibenarkan dan dibolehkan.
Apabila ia memiliki hal yang bisa dibenarkan atau dibolehkan – meskipun tidak diketahui oleh kebanyakan orang – maka dia tidak layak untuk dicela atau diingkari. Karena ia berkata demikian berdasarkan ijtihadnya.
Tidak ada seorang pun dari kita yang turun kepadanya wahyu sehingga ucapannya pasti benar atau perbuatannya pasti benar. Karena wahyu telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.
Jika kita mencermati nukilan yang benar tentang dia, kita baru mendapati bahwa ucapan dan perbuatannya memiliki hal yang bisa dibolehkan dan dibenarkan, maka kita diam dan tidak berbicara dengannya (dalam hal itu, pent).
Jika nampak jelas bagi kita bahwa tidak ada hal yang bisa dibenarkan atau diperbolehkan dari ucapan maupun perbuatannya, maka di saat itulah kita berbicara. Namun berbicara dalam bentuk yang bagaimana?
Apakah kita sebarkan kepada manusia dan berkata: "bahwa fulan memiliki begini dan begini?" Tidak.
Wajib untuk menyampaikan nasihat secara hikmah. Kita datang kepada dia dan berkata: "Anda telah berbuat dan berkata demikian. Ini tidak benar. Karena ini menyelisihi firman Allah Azza Wa Jalla demikian dan demikian.. Atau sabda Rasul shollallahu alaihi wasallam demikian dan demikian.." Atau ijma’ Ulama demikian dan demikian. Bagaimana anda bisa berkata demikian atau berbuat demikian?"
(Liqaa’ al-Baab al-Maftuuh (38/3))
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KEMANA ULFAHNYA?
Ulfah adalah kecondongan hati secara alami karena kesamaan aqidah, manhaj, dakwah, profesi dan lainnya yang memunculkan kenyamanan untuk bersahabat, bermajlas, berjalan bersama dan saling membantu.
Dalam Shohih Al Bukhory dan lainnya dari Abu Hurairoh dan Aisyah رضي الله عنهم Rosulullah ﷺ bersabda:
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
"Ruh-ruh bagaikan tentara yang terhimpun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling mengingkari maka akan berpisah."
Secara alami seorang mukmin bersama dengan mukminin, seorang kafir bersama kafirin, seorang munafiq bersama munafiqin, seorang sunny salafy bersama salafiyyin dan seorang hizby bersama dengan hizbiyyin yang semisal.
Ketika ada seorang sunny bisa berbasa-basi dengan hizby atau maftun maka itu karena kemunafikan, sebagaimana yang di tegaskan oleh Fudhoil Bin Iyadh.
Ketika terjadi sesuatu atau ada sesuatu yang baru dan membuat kehebohan, fitnah dan kegaduhan lalu banyak pihak yang sulit menilai dan memutuskan maka konsep ulfah dipakai salaf untuk membongkar kedok semua pihak dengan alami tanpa bisa ditutupi dan direkayasa.
Ahlul Haq akan bersama dengan Ahlul Haq dan Ahlul Bathil akan bersama Ahlul Bathil.
Kita bisa melihat secara alami:
- Siapa yang gembira dengan fitnah tersebut?
- Siapa yang bergabung dengan fitnah tersebut?
- Kepada siapa dia bermajlas?
- Siapa yang mendatangi dia?.
Banyak dari ulama yang mengatakan, seperti Imam Ahmad, Al Auza'iy dll:
مَنْ سَتَرَ عَنَّا بِدْعَتَهُ لَمْ تَخْفَ عَلَيْنَا أُلْفَتَهُ
"Siapasaja yang tersamarkan atas kita kebid'ahannya, tidak tersamarkan atas kita ulfah nya."
Jangan bangga dengan banyak pihak yang menyahut dan menyambut kalau ternyata mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai Ashabul Masyakil Wal Fitan.
Seharusnya sadar dan segera taubat manakala Salafiyyin Ahlul Khoir justru sedih dan menjauh darinya sebab itu semua pertanda bahwa apa yang dibawa adalah penyimpangan dan kejelekan.
Jangan merasa dapat angin ketika memperoleh penjelasan sebagian ulama yang sedikit mendukung kalau buah dan hasilnya adalah fitnah, semua itu adalah fatamorgana, apalagi banyak ulama kibar lain tidak menyepakati.
📨 Ditulis Ust.Muhammad Afifuddin hafizhohulloh
Sumber: "Sesungguhnya Diatas Al-Haq Ada Cahaya" | WA Thullab Albayyinah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KEMANA ULFAHNYA?
Ulfah adalah kecondongan hati secara alami karena kesamaan aqidah, manhaj, dakwah, profesi dan lainnya yang memunculkan kenyamanan untuk bersahabat, bermajlas, berjalan bersama dan saling membantu.
Dalam Shohih Al Bukhory dan lainnya dari Abu Hurairoh dan Aisyah رضي الله عنهم Rosulullah ﷺ bersabda:
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
"Ruh-ruh bagaikan tentara yang terhimpun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling mengingkari maka akan berpisah."
Secara alami seorang mukmin bersama dengan mukminin, seorang kafir bersama kafirin, seorang munafiq bersama munafiqin, seorang sunny salafy bersama salafiyyin dan seorang hizby bersama dengan hizbiyyin yang semisal.
Ketika ada seorang sunny bisa berbasa-basi dengan hizby atau maftun maka itu karena kemunafikan, sebagaimana yang di tegaskan oleh Fudhoil Bin Iyadh.
Ketika terjadi sesuatu atau ada sesuatu yang baru dan membuat kehebohan, fitnah dan kegaduhan lalu banyak pihak yang sulit menilai dan memutuskan maka konsep ulfah dipakai salaf untuk membongkar kedok semua pihak dengan alami tanpa bisa ditutupi dan direkayasa.
Ahlul Haq akan bersama dengan Ahlul Haq dan Ahlul Bathil akan bersama Ahlul Bathil.
Kita bisa melihat secara alami:
- Siapa yang gembira dengan fitnah tersebut?
- Siapa yang bergabung dengan fitnah tersebut?
- Kepada siapa dia bermajlas?
- Siapa yang mendatangi dia?.
Banyak dari ulama yang mengatakan, seperti Imam Ahmad, Al Auza'iy dll:
مَنْ سَتَرَ عَنَّا بِدْعَتَهُ لَمْ تَخْفَ عَلَيْنَا أُلْفَتَهُ
"Siapasaja yang tersamarkan atas kita kebid'ahannya, tidak tersamarkan atas kita ulfah nya."
Jangan bangga dengan banyak pihak yang menyahut dan menyambut kalau ternyata mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai Ashabul Masyakil Wal Fitan.
Seharusnya sadar dan segera taubat manakala Salafiyyin Ahlul Khoir justru sedih dan menjauh darinya sebab itu semua pertanda bahwa apa yang dibawa adalah penyimpangan dan kejelekan.
Jangan merasa dapat angin ketika memperoleh penjelasan sebagian ulama yang sedikit mendukung kalau buah dan hasilnya adalah fitnah, semua itu adalah fatamorgana, apalagi banyak ulama kibar lain tidak menyepakati.
📨 Ditulis Ust.Muhammad Afifuddin hafizhohulloh
Sumber: "Sesungguhnya Diatas Al-Haq Ada Cahaya" | WA Thullab Albayyinah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 DALAM KONDISI TERTENTU, MENGKLARIFIKASI NUKILAN BERITA DARI ORANG YANG TERPERCAYA TETAP DIPERLUKAN
Pertanyaan:
Sebagian dai menuduh dai lainnya. Jika ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab: telah menyampaikan berita kepadaku seorang laki-laki yang telah dikenal dengan keilmuan dan keadilannya. Jika dikatakan kepada dia: Hendaknya engkau mengklarifikasi berita terlebih dahulu. Ia berkata: Klarifikasi (tatsabbut) itu jika yang menukil adalah orang yang fasik.
Bagaimana pendapat anda dalam hal ini?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:
Ini benar. Ucapannya benar secara dzhahir. Bahwasanya jika seorang yang terpercaya mengkhabarkan kepadamu, tidak perlu klarifikasi lagi. Karena Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik menyampaikan berita, pastikanlah terlebih dahulu kebenarannya" (Q.S al-Hujurat ayat 6)
Namun, kadangkala seseorang terpercaya, tapi ia memiliki hawa nafsu. Sehingga sisi keterpercayaan yang ada pada dia menjadi lemah dengan sebab ini.
(Liqo’ al-Baab al-Maftuh (182/28))
🇸🇦Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
حكم التثبت في رواية الثقة
السؤال
بعض الدعاة يتهم داعية آخر، فإذا قيل له في ذلك قال: حدثني رجل معروف بعلمه وعدله.
فإذا قلت: تثبت.
قال: التثبت فيما إذا كان الناقل فاسقاً.
فما رأيكم في هذا؟
الجواب
هذا صحيح، كلامه صحيح من حيث الظاهر؛ أنه إذا أخبرك رجل ثقة فلا حاجة للتثبت؛ لأن الله قال: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا } [الحجرات:6] لكن قد يكون الإنسان ثقة ولكن له هوى فتضعف الثقة من هذه الناحية.
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 DALAM KONDISI TERTENTU, MENGKLARIFIKASI NUKILAN BERITA DARI ORANG YANG TERPERCAYA TETAP DIPERLUKAN
Pertanyaan:
Sebagian dai menuduh dai lainnya. Jika ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab: telah menyampaikan berita kepadaku seorang laki-laki yang telah dikenal dengan keilmuan dan keadilannya. Jika dikatakan kepada dia: Hendaknya engkau mengklarifikasi berita terlebih dahulu. Ia berkata: Klarifikasi (tatsabbut) itu jika yang menukil adalah orang yang fasik.
Bagaimana pendapat anda dalam hal ini?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:
Ini benar. Ucapannya benar secara dzhahir. Bahwasanya jika seorang yang terpercaya mengkhabarkan kepadamu, tidak perlu klarifikasi lagi. Karena Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik menyampaikan berita, pastikanlah terlebih dahulu kebenarannya" (Q.S al-Hujurat ayat 6)
Namun, kadangkala seseorang terpercaya, tapi ia memiliki hawa nafsu. Sehingga sisi keterpercayaan yang ada pada dia menjadi lemah dengan sebab ini.
(Liqo’ al-Baab al-Maftuh (182/28))
🇸🇦Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
حكم التثبت في رواية الثقة
السؤال
بعض الدعاة يتهم داعية آخر، فإذا قيل له في ذلك قال: حدثني رجل معروف بعلمه وعدله.
فإذا قلت: تثبت.
قال: التثبت فيما إذا كان الناقل فاسقاً.
فما رأيكم في هذا؟
الجواب
هذا صحيح، كلامه صحيح من حيث الظاهر؛ أنه إذا أخبرك رجل ثقة فلا حاجة للتثبت؛ لأن الله قال: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا } [الحجرات:6] لكن قد يكون الإنسان ثقة ولكن له هوى فتضعف الثقة من هذه الناحية.
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KISAH ZAID BIN ARQOM DAN UCAPAN BURUK KAUM MUNAFIK
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ عَمِّي فَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ ابْنَ سَلُولَ يَقُولُ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَقَالَ أَيْضًا لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمِّي فَذَكَرَ عَمِّي لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺَ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ وَأَصْحَابِهِ فَحَلَفُوا مَا قَالُوا فَصَدَّقَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَكَذَّبَنِي فَأَصَابَنِي هَمٌّ لَمْ يُصِبْنِي مِثْلُهُ قَطُّ فَجَلَسْتُ فِي بَيْتِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ إِلَى قَوْلِهِ هُمْ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ } فَأَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺَ فَقَرَأَهَا عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ صَدَّقَكَ
"Dari Zaid bin Arqom –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Aku pernah berjalan bersama pamanku. Kemudian aku mendengar Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: “Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah hingga mereka pergi (meninggalkan beliau)”.
Ia juga berkata: “Kalau kita kembali ke Madinah, orang-orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang hina”.
Aku pun menyampaikan hal itu kepada pamanku. Kemudian pamanku menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ pun mengutus seseorang kepada Abdullah bin Ubay dan rekan-rekannya. Mereka bersumpah tidak berkata demikian.
Kemudian Rasulullah ﷺ membenarkan mereka dan mendustakan aku. Aku pun merasa sangat sedih dengan kesedihan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun duduk di rumahku. Kemudian Allah Azza Wa Jalla menurunkan firman-Nya (dari permulaan surah al-Munafiqun hingga):
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ...
"Mereka berkata: Jika kami kembali ke Madinah orang-orang yang mulia akan mengeluarkan orang-orang yang hina…"(Q.S al-Munafiqun ayat 8)
Kemudian Rasulullah ﷺ mengirim utusan kepadaku (agar aku menemui beliau, pent) kemudian beliau membacakan ayat-ayat itu kepadaku. Beliau pun bersabda: Sesungguhnya Allah telah membenarkan engkau.
(H.R al-Bukhari)
🗒️ Pelajaran Berharga yang Bisa Dipetik dari Hadits ini:
1). alQuran bukanlah buatan Nabi Muhammad ﷺ, namun merupakan wahyu dari Allah Ta’ala yang Maha mengetahui dan mendengar semua percakapan manusia.
2). Nabi Muhammad ﷺ tidaklah mengetahui hal yang ghaib. Beliau hanya mengetahui hal-hal yang diberitahu oleh Allah Azza Wa Jalla. Kemudian setelah mendapatkan wahyu, Nabi ﷺ adalah manusia yang amanah dalam menyampaikannya. Meskipun dalam hal-hal yang merupakan koreksi bagi beliau.
3). Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling memahami ayat-ayat alQuran. Karena mereka mengetahui benar peristiwa yang melatarbelakangi sebab turunnya ayat. Di antara para Sahabat Nabi itu ada yang terlibat langsung dalam peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat alQuran tersebut. Di antaranya adalah Sahabat Nabi Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu. Karena itu, pemahaman para Sahabat Nabi terhadap makna suatu ayat adalah rujukan bagi kaum muslimin.
4). Kejujuran akan berakibat baik. Meskipun pada awalnya terasa pahit. Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu sempat merasakan kesedihan yang sangat atas peristiwa itu. Namun kemudian Allah Ta’ala memberikan jalan keluar yang diabadikan dalam alQuran.
5). Adakalanya masih tetap diperlukan klarifikasi meski nukilan berita dari orang yang terpercaya. Sebagaimana saat Nabi mendengar nukilan ucapan dari paman Zaid bin Arqam, beliau masih memastikan klarifikasi kebenaran ucapan itu dari Zaid bin Arqam. Meskipun pamannya adalah seorang Sahabat Nabi yang tidak diragukan keadilannya.
📬 KISAH ZAID BIN ARQOM DAN UCAPAN BURUK KAUM MUNAFIK
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ عَمِّي فَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ ابْنَ سَلُولَ يَقُولُ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَقَالَ أَيْضًا لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمِّي فَذَكَرَ عَمِّي لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺَ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ وَأَصْحَابِهِ فَحَلَفُوا مَا قَالُوا فَصَدَّقَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَكَذَّبَنِي فَأَصَابَنِي هَمٌّ لَمْ يُصِبْنِي مِثْلُهُ قَطُّ فَجَلَسْتُ فِي بَيْتِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ إِلَى قَوْلِهِ هُمْ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ } فَأَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺَ فَقَرَأَهَا عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ صَدَّقَكَ
"Dari Zaid bin Arqom –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Aku pernah berjalan bersama pamanku. Kemudian aku mendengar Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: “Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah hingga mereka pergi (meninggalkan beliau)”.
Ia juga berkata: “Kalau kita kembali ke Madinah, orang-orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang hina”.
Aku pun menyampaikan hal itu kepada pamanku. Kemudian pamanku menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ pun mengutus seseorang kepada Abdullah bin Ubay dan rekan-rekannya. Mereka bersumpah tidak berkata demikian.
Kemudian Rasulullah ﷺ membenarkan mereka dan mendustakan aku. Aku pun merasa sangat sedih dengan kesedihan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun duduk di rumahku. Kemudian Allah Azza Wa Jalla menurunkan firman-Nya (dari permulaan surah al-Munafiqun hingga):
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ...
"Mereka berkata: Jika kami kembali ke Madinah orang-orang yang mulia akan mengeluarkan orang-orang yang hina…"(Q.S al-Munafiqun ayat 8)
Kemudian Rasulullah ﷺ mengirim utusan kepadaku (agar aku menemui beliau, pent) kemudian beliau membacakan ayat-ayat itu kepadaku. Beliau pun bersabda: Sesungguhnya Allah telah membenarkan engkau.
(H.R al-Bukhari)
🗒️ Pelajaran Berharga yang Bisa Dipetik dari Hadits ini:
1). alQuran bukanlah buatan Nabi Muhammad ﷺ, namun merupakan wahyu dari Allah Ta’ala yang Maha mengetahui dan mendengar semua percakapan manusia.
2). Nabi Muhammad ﷺ tidaklah mengetahui hal yang ghaib. Beliau hanya mengetahui hal-hal yang diberitahu oleh Allah Azza Wa Jalla. Kemudian setelah mendapatkan wahyu, Nabi ﷺ adalah manusia yang amanah dalam menyampaikannya. Meskipun dalam hal-hal yang merupakan koreksi bagi beliau.
3). Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling memahami ayat-ayat alQuran. Karena mereka mengetahui benar peristiwa yang melatarbelakangi sebab turunnya ayat. Di antara para Sahabat Nabi itu ada yang terlibat langsung dalam peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat alQuran tersebut. Di antaranya adalah Sahabat Nabi Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu. Karena itu, pemahaman para Sahabat Nabi terhadap makna suatu ayat adalah rujukan bagi kaum muslimin.
4). Kejujuran akan berakibat baik. Meskipun pada awalnya terasa pahit. Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu sempat merasakan kesedihan yang sangat atas peristiwa itu. Namun kemudian Allah Ta’ala memberikan jalan keluar yang diabadikan dalam alQuran.
5). Adakalanya masih tetap diperlukan klarifikasi meski nukilan berita dari orang yang terpercaya. Sebagaimana saat Nabi mendengar nukilan ucapan dari paman Zaid bin Arqam, beliau masih memastikan klarifikasi kebenaran ucapan itu dari Zaid bin Arqam. Meskipun pamannya adalah seorang Sahabat Nabi yang tidak diragukan keadilannya.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
وهذا الحديث ينبغي أن يتخذ أصلا للتثبت فيما ينقل وإلا فمن المعلوم أن عم زيد بن أرقم من الصحابة, وهم عدول , لكن أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتثبت من الأمر حتى يأتي الأمر على بصيرة, وهكذا ينبغي للإنسان فيما ينقل إليه أن يتثبت منه
Hadits ini semestinya dijadikan landasan untuk bersikap tatsabbut (mengklarifikasi berita) yang dinukil. Padahal sudah dimaklumi bahwasanya paman Zaid bin Arqam termasuk Sahabat Nabi. Mereka adalah orang-orang yang adil. Namun, Nabi ﷺ menginginkan untuk melakukan tatsabbut terhadap permasalahan itu hingga perkaranya terang (jelas diketahui kepastiannya, pent). Demikianlah semestinya bagi seseorang untuk bersikap tatsabbut terhadap berita yang dinukil kepadanya (Syarh Ushul fit Tafsir karya Syaikh Ibn Utsaimin halaman 94)
◻️Dalam kondisi tertentu, khabar dari orang yang terpercaya sudah cukup. Tanpa perlu klarifikasi.
◻️Dalam kondisi yang lain, kadang masih diperlukan sikap tatsabbut terhadap berita itu. Terlebih di masa fitnah, sebagaimana penjelasan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali ketika membantah Ali al-Halabiy.
Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
وهذا الحديث ينبغي أن يتخذ أصلا للتثبت فيما ينقل وإلا فمن المعلوم أن عم زيد بن أرقم من الصحابة, وهم عدول , لكن أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتثبت من الأمر حتى يأتي الأمر على بصيرة, وهكذا ينبغي للإنسان فيما ينقل إليه أن يتثبت منه
Hadits ini semestinya dijadikan landasan untuk bersikap tatsabbut (mengklarifikasi berita) yang dinukil. Padahal sudah dimaklumi bahwasanya paman Zaid bin Arqam termasuk Sahabat Nabi. Mereka adalah orang-orang yang adil. Namun, Nabi ﷺ menginginkan untuk melakukan tatsabbut terhadap permasalahan itu hingga perkaranya terang (jelas diketahui kepastiannya, pent). Demikianlah semestinya bagi seseorang untuk bersikap tatsabbut terhadap berita yang dinukil kepadanya (Syarh Ushul fit Tafsir karya Syaikh Ibn Utsaimin halaman 94)
◻️Dalam kondisi tertentu, khabar dari orang yang terpercaya sudah cukup. Tanpa perlu klarifikasi.
◻️Dalam kondisi yang lain, kadang masih diperlukan sikap tatsabbut terhadap berita itu. Terlebih di masa fitnah, sebagaimana penjelasan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali ketika membantah Ali al-Halabiy.
Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
PERINGATAN KERAS DARI BAHAYA KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN
(Penjelasan Hai'ah Kibaril Ulama (Dewan Ulama Senior) Kerajaan Arab Saudi)
📨 http://manhajul-anbiya.net/peringatan-keras-dari-bahaya-kelompok-ikhwanul-muslimin/
(Penjelasan Hai'ah Kibaril Ulama (Dewan Ulama Senior) Kerajaan Arab Saudi)
📨 http://manhajul-anbiya.net/peringatan-keras-dari-bahaya-kelompok-ikhwanul-muslimin/
::
📬 PERINGATAN KERAS DARI BAHAYA KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN
(Penjelasan Hai’ah Kibaril Ulama (Dewan Ulama Senior) Kerajaan Arab Saudi)
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على عبده ورسوله وأمينه على وحيه، وصفوته من خلقه، نبينا وإمامنا وسيدنا محمد بن عبد الله وعلى آله وأصحابه، ومن سلك سبيله، واهتدى بهداه إلى يوم الدين، أما بعد
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada hamba dan rasul-Nya, kepercayaan-Nya atas wahyu-Nya, sosok pilihan-Nya dari para makhluk-Nya, dialah sang nabi, pemimpin, dan pemuka kita, Muhammad bin Abdillah, serta seluruh keluarga, para shahabat, dan setiap yang menempuh jalannya serta mengambil petunjuknya hingga hari pembalasan. Amma Ba’d:
Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bersatu di atas kebenaran serta melarang kita dari perpecahan dan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’am:159)
Allah juga memerintahkan para hamba untuk mengikuti jalan yang lurus (ash-Shirath al-Mustaqim) dan melarang mereka dari mengikuti jalan-jalan yang akan memalingkan dari kebenaran. Karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun berfirman,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertaqwa.” (al-An’am:153).
Mengikuti jalan yang lurus hanyalah bisa terwujud dengan berpegang teguh terhadap Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Hadits-hadits yang shahih telah menunjukkan bahwa di antara jalan-jalan yang dilarang oleh Allah Ta’ala untuk mengikutinya adalah metode-metode berpikir dan prinsip-prinsip yang menyimpang dari kebenaran. Terdapat hadits yang sah, diriwayatkan dari shahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasannya dia berkata:
Rasulullah ﷺ pernah membuat satu garis dengan tangannya, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliau membuat garis lagi di sebelah kanan dan kirinya, lantas bersabda, “Ini adalah jalan-jalan (yang menyimpang). Tidak ada sebuah jalan pun dari jalan-jalan tersebut melainkan ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya…” (HR. Ahmad).
Shahabat yang mulia Abdullah bin Abbas tentang firman Allah:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain. Dan juga firman Allah:
أنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
dan ayat-ayat alquran yang semakna, Abdullah bin Abbas mengatakan,
أمر الله المؤمنين بالجماعة ونهاهم عن الاختلاف والفرقة، وأخبرهم أنه إنما هلك من كان قبلهم بالراء والخصومات في دين الله
“Allah memerintahkan kaum mukminin untuk bersatu dan melarang mereka dari perselisihan dan berpecah belah, dan Allah mengabarkan bahwa telah binasa orang-orang sebelum mereka disebabkan perdebatan dan permusuhan dalam perkara agama Allah.”
📬 PERINGATAN KERAS DARI BAHAYA KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN
(Penjelasan Hai’ah Kibaril Ulama (Dewan Ulama Senior) Kerajaan Arab Saudi)
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على عبده ورسوله وأمينه على وحيه، وصفوته من خلقه، نبينا وإمامنا وسيدنا محمد بن عبد الله وعلى آله وأصحابه، ومن سلك سبيله، واهتدى بهداه إلى يوم الدين، أما بعد
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada hamba dan rasul-Nya, kepercayaan-Nya atas wahyu-Nya, sosok pilihan-Nya dari para makhluk-Nya, dialah sang nabi, pemimpin, dan pemuka kita, Muhammad bin Abdillah, serta seluruh keluarga, para shahabat, dan setiap yang menempuh jalannya serta mengambil petunjuknya hingga hari pembalasan. Amma Ba’d:
Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bersatu di atas kebenaran serta melarang kita dari perpecahan dan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’am:159)
Allah juga memerintahkan para hamba untuk mengikuti jalan yang lurus (ash-Shirath al-Mustaqim) dan melarang mereka dari mengikuti jalan-jalan yang akan memalingkan dari kebenaran. Karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun berfirman,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertaqwa.” (al-An’am:153).
Mengikuti jalan yang lurus hanyalah bisa terwujud dengan berpegang teguh terhadap Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Hadits-hadits yang shahih telah menunjukkan bahwa di antara jalan-jalan yang dilarang oleh Allah Ta’ala untuk mengikutinya adalah metode-metode berpikir dan prinsip-prinsip yang menyimpang dari kebenaran. Terdapat hadits yang sah, diriwayatkan dari shahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasannya dia berkata:
Rasulullah ﷺ pernah membuat satu garis dengan tangannya, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliau membuat garis lagi di sebelah kanan dan kirinya, lantas bersabda, “Ini adalah jalan-jalan (yang menyimpang). Tidak ada sebuah jalan pun dari jalan-jalan tersebut melainkan ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya…” (HR. Ahmad).
Shahabat yang mulia Abdullah bin Abbas tentang firman Allah:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain. Dan juga firman Allah:
أنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
dan ayat-ayat alquran yang semakna, Abdullah bin Abbas mengatakan,
أمر الله المؤمنين بالجماعة ونهاهم عن الاختلاف والفرقة، وأخبرهم أنه إنما هلك من كان قبلهم بالراء والخصومات في دين الله
“Allah memerintahkan kaum mukminin untuk bersatu dan melarang mereka dari perselisihan dan berpecah belah, dan Allah mengabarkan bahwa telah binasa orang-orang sebelum mereka disebabkan perdebatan dan permusuhan dalam perkara agama Allah.”
Berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ adalah jalan untuk mendapatkan keridhaan Allah, asas persatuan dan rapatnya barisan serta benteng dari segala kejelekan dan berbagai fitnah.
Allah Ta’ala berfiman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Maka dengan penjelasan di atas diketahui, bahwa segala hal yang dapat merongrong kesatuan barisan umat yang bersatu di sekeliling pemerintah kaum muslimin; baik itu berupa propaganda, gagasan, atau dalam bentuk pendirian kelompok yang memiliki sumpah setia (baiat) dan pengorganisasian khusus, ataupun yang selain daripada itu; maka seluruhnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur`an dan Sunnah.
Kelompok teratas yang kami peringatkan umat untuk berhati-hati dari bahayanya adalah kelompok Ikhwanul Muslimin (IM).
Sebab kelompok ini merupakan kelompok menyimpang yang berdiri di atas asas pemberontakan terhadap pemerintah dan pemimpin yang sah serta bermanuver untuk menyebarkan fitnah di berbagai tempat dan menyebabkan kekacauan tatanan hidup di sebuah negeri, sampai pada taraf menyifati umat Islam dengan jahiliyyah.
Sejak terbentuknya kelompok ini, tidak terlihat darinya adanya perhatian terhadap akidah islam yang benar, tidakpula terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuan utama mereka hanyalah untuk mencapai kursi pemerintahan.
Lebih dari itu, sejarah kelompok ini banyak diwarnai oleh berbagai keburukan dan fitnah. Dari rahim kelompok ini lahir kelompok-kelompok teroris ekstrimis yang menebarkan kerusakan di tengah-tengah negeri dan rakyat muslim; sesuatu yang telah diketahui dan disaksikan bersama berupa tindakan terorisme dan kejahatan yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia.
Dari fakta di atas, jelaslah bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin adalah kelompok teroris, bukan kelompok yang memanifestasikan manhaj Islam.
Kelompok ini berambisi mencapai tujuan-tujuannya yang bernuansa hizbiyyah (fanatisme kelompok) yang bertentangan dengan petunjuk agama kita yang lurus.
Kelompok ini berbaju Islam, namun melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan Islam, antara lain perpecahan, menebar fitnah, sikap esktrim, dan terorisme.
Maka semua pihak, wajib waspada dari kelompok Ikhwanul Muslimin, tidak menjalin hubungan dengannya, serta tidak bekerja sama dengannya.
Kita memohon kepada Allah menjaga semua pihak dari segala kejelekan dan fitnah.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Pimpinan Hai’ah Kibaril Ulama
‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu asy-Syaikh
Riyadh, 24 Rabi’ul Awwal 1442 H / 10 November 2020 M |www.spa.gov.sa/2155560
Sumber:
http://manhajul-anbiya.net/peringatan-keras-dari-bahaya-kelompok-ikhwanul-muslimin/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Allah Ta’ala berfiman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Maka dengan penjelasan di atas diketahui, bahwa segala hal yang dapat merongrong kesatuan barisan umat yang bersatu di sekeliling pemerintah kaum muslimin; baik itu berupa propaganda, gagasan, atau dalam bentuk pendirian kelompok yang memiliki sumpah setia (baiat) dan pengorganisasian khusus, ataupun yang selain daripada itu; maka seluruhnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur`an dan Sunnah.
Kelompok teratas yang kami peringatkan umat untuk berhati-hati dari bahayanya adalah kelompok Ikhwanul Muslimin (IM).
Sebab kelompok ini merupakan kelompok menyimpang yang berdiri di atas asas pemberontakan terhadap pemerintah dan pemimpin yang sah serta bermanuver untuk menyebarkan fitnah di berbagai tempat dan menyebabkan kekacauan tatanan hidup di sebuah negeri, sampai pada taraf menyifati umat Islam dengan jahiliyyah.
Sejak terbentuknya kelompok ini, tidak terlihat darinya adanya perhatian terhadap akidah islam yang benar, tidakpula terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuan utama mereka hanyalah untuk mencapai kursi pemerintahan.
Lebih dari itu, sejarah kelompok ini banyak diwarnai oleh berbagai keburukan dan fitnah. Dari rahim kelompok ini lahir kelompok-kelompok teroris ekstrimis yang menebarkan kerusakan di tengah-tengah negeri dan rakyat muslim; sesuatu yang telah diketahui dan disaksikan bersama berupa tindakan terorisme dan kejahatan yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia.
Dari fakta di atas, jelaslah bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin adalah kelompok teroris, bukan kelompok yang memanifestasikan manhaj Islam.
Kelompok ini berambisi mencapai tujuan-tujuannya yang bernuansa hizbiyyah (fanatisme kelompok) yang bertentangan dengan petunjuk agama kita yang lurus.
Kelompok ini berbaju Islam, namun melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan Islam, antara lain perpecahan, menebar fitnah, sikap esktrim, dan terorisme.
Maka semua pihak, wajib waspada dari kelompok Ikhwanul Muslimin, tidak menjalin hubungan dengannya, serta tidak bekerja sama dengannya.
Kita memohon kepada Allah menjaga semua pihak dari segala kejelekan dan fitnah.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Pimpinan Hai’ah Kibaril Ulama
‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu asy-Syaikh
Riyadh, 24 Rabi’ul Awwal 1442 H / 10 November 2020 M |www.spa.gov.sa/2155560
Sumber:
http://manhajul-anbiya.net/peringatan-keras-dari-bahaya-kelompok-ikhwanul-muslimin/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
www.spa.gov.sa
عام / هيئة كبار العلماء: جماعة الإخوان المسلمين جماعة إرهابية لا تمثل منهج الإسلام وإنما تتبع أهدافها الحزبية المخالفة لهدي ديننا…
الرياض 24 ربيع الأول 1442هـ الموافق 10 نوفمبر 2020 م واس
أكدت هيئة كبار العلماء، أن جماعة الإخوان المسلمين جماعة إرهابية لا تمثل منهج الإسلام، وإنما تتبع أهدافها الحزبية المخالفة لهدي ديننا الحنيف، وتتستر بالدين وتمارس ما يخالفه من الفرقة وإثارة الفتنة…
أكدت هيئة كبار العلماء، أن جماعة الإخوان المسلمين جماعة إرهابية لا تمثل منهج الإسلام، وإنما تتبع أهدافها الحزبية المخالفة لهدي ديننا الحنيف، وتتستر بالدين وتمارس ما يخالفه من الفرقة وإثارة الفتنة…
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
::
📬 NASIHAT SEPUTAR STATUS WA (WHATSAPP)
Berangkat dari rasa prihatin, saya menulis sebuah nasihat kepada semua pihak, tanpa bermaksud kepada pihak tertentu, terkait dengan penggunaan status WA (WhatsApp).
Keluhan, pengaduan, atau sekadar berita telah tersampaikan dari berbagai daerah, tentang berbagai kasus atau masalah yang sering terjadi disebabkan status-status WA.
Perangkat pasif yang mestinya diaktifkan untuk menambah kebaikan dan ketaatan, saat itu menjadi alat untuk meluapkan keinginan jiwa terhadap pihak lain. Akibatnya, terjadilah berbagai masalah yang semestinya tidak terjadi.
Tidakkah sudah datang saatnya, kita menyadari akibat buruk status WA tersebut bagi diri pribadi kita, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat luas, bahkan bagi ketaatan kita kepada Allah serta dakwah agama kita?
Tidakkah kita bertakwa kepada Allah dalam hal tulisan kita?
Tidakkah kita memperkirakan sejauh mana jangkauan tulisan kita?
Selanjutnya, di setiap tempat yang dijangkaunya, tulisan tersebut akan menanam benih.
◽️ Bisa jadi, akan tumbuh darinya suatu problem, entah sedikit atau banyak.
◽️ Bisa jadi juga, tidak tumbuh problem apa pun.
Namun, terlepas dari apa pun akibatnya, benih itu telah kita semai dan kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita semai.
Kenyataannya, redaksi status WA sering dibuat ambigu (bermakna lebih dari satu). Sasarannya pun dibuat anonim (tanpa nama, tidak beridentitas). Akibatnya, status itu membuat banyak pihak bertanya-tanya,
“Apa yang dimaksud?”
“Siapa yang dimaksud?”
Berikutnya, banyak pihak menjadi resah, muncul pula berbagai sangkaan terhadap sekian banyak pihak, dan suasana menjadi panas.
Status WA tersebut ibarat sebuah bola api yang meletus, percikannya menyambar ke mana-mana, tak tentu arah.
Saudaraku, sadarilah, kata-kata ambigu adalah penyebab berbagai kerusakan yang terjadi di dunia ini. Ingatlah nasihat Ibnul Qayyim dalam kitab Nuniyah nya,
فعليك بالتفصيل والتمييز فالإ ... طلاق والإجمال دون بيان
قد أفسدا هذا الوجود وخبطا الـ ... ـأذهان والآراء كل زمان
“Mestinya engkau memperinci dan memilah.. Sebab, kata yang umum dan global tanpa penjelasan..
Telah merusak alam, pikiran, dan merusak ide-ide pada setiap masa.”
📬 NASIHAT SEPUTAR STATUS WA (WHATSAPP)
Berangkat dari rasa prihatin, saya menulis sebuah nasihat kepada semua pihak, tanpa bermaksud kepada pihak tertentu, terkait dengan penggunaan status WA (WhatsApp).
Keluhan, pengaduan, atau sekadar berita telah tersampaikan dari berbagai daerah, tentang berbagai kasus atau masalah yang sering terjadi disebabkan status-status WA.
Perangkat pasif yang mestinya diaktifkan untuk menambah kebaikan dan ketaatan, saat itu menjadi alat untuk meluapkan keinginan jiwa terhadap pihak lain. Akibatnya, terjadilah berbagai masalah yang semestinya tidak terjadi.
Tidakkah sudah datang saatnya, kita menyadari akibat buruk status WA tersebut bagi diri pribadi kita, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat luas, bahkan bagi ketaatan kita kepada Allah serta dakwah agama kita?
Tidakkah kita bertakwa kepada Allah dalam hal tulisan kita?
Tidakkah kita memperkirakan sejauh mana jangkauan tulisan kita?
Selanjutnya, di setiap tempat yang dijangkaunya, tulisan tersebut akan menanam benih.
◽️ Bisa jadi, akan tumbuh darinya suatu problem, entah sedikit atau banyak.
◽️ Bisa jadi juga, tidak tumbuh problem apa pun.
Namun, terlepas dari apa pun akibatnya, benih itu telah kita semai dan kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita semai.
Kenyataannya, redaksi status WA sering dibuat ambigu (bermakna lebih dari satu). Sasarannya pun dibuat anonim (tanpa nama, tidak beridentitas). Akibatnya, status itu membuat banyak pihak bertanya-tanya,
“Apa yang dimaksud?”
“Siapa yang dimaksud?”
Berikutnya, banyak pihak menjadi resah, muncul pula berbagai sangkaan terhadap sekian banyak pihak, dan suasana menjadi panas.
Status WA tersebut ibarat sebuah bola api yang meletus, percikannya menyambar ke mana-mana, tak tentu arah.
Saudaraku, sadarilah, kata-kata ambigu adalah penyebab berbagai kerusakan yang terjadi di dunia ini. Ingatlah nasihat Ibnul Qayyim dalam kitab Nuniyah nya,
فعليك بالتفصيل والتمييز فالإ ... طلاق والإجمال دون بيان
قد أفسدا هذا الوجود وخبطا الـ ... ـأذهان والآراء كل زمان
“Mestinya engkau memperinci dan memilah.. Sebab, kata yang umum dan global tanpa penjelasan..
Telah merusak alam, pikiran, dan merusak ide-ide pada setiap masa.”
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
AKIBAT BURUK STATUS WA
Di antara akibat buruk status WA yang tidak baik tersebut adalah:
1. Menimbulkan dugaan-dugaan.
Padahal Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita dari dugaan-dugaan.
2. Menimbulkan rasa resah dan sedih.
Padahal Nabi menganjurkan kita agar memasukkan rasa bahagia dalam kalbu seorang muslim.
3. Menyebarkan fahisyah, dalam arti ucapan yang tidak baik.
Padahal orang yang merasa senang tersebarnya fahisyah mendapat ancaman azab yang pedih.
4. Menimbulkan permusuhan.
Padahal kita diperintahkan mendamaikan yang berselisih atau bermusuhan.
5. Menebar teror.
Padahal kita tidak dihalalkan menakut-nakuti seorang muslim.
6. Melemahkan dan merusak ukhuwah islamiah.
Padahal kita diperintahkan untuk bersaudara dan mempererat ukhuwah islamiah.
7. Membuka rahasia diri dan keluarga.
Padahal kita dianjurkan untuk menutupi sesuatu yang bersifat rahasia.
8. Menjadikannya sebagai ajang berkeluh kesah di hadapan manusia.
Padahal semestinya kita mengadukan kegalauan kita kepada Allah.
9. Mengungkap sesuatu yang tak pantas diungkap di muka umum.
Padahal perbuatan tersebut adalah tabu dan bertentangan dengan akhlak yang mulia.
10. Memamerkan sesuatu yang tidak dibenarkan untuk dipamerkan.
Padahal kita dilarang membanggakan diri dengan sesuatu yang kita miliki. Di sisi lain, pamer menimbulkan kedengkian pihak lain.
11. Terkadang menimbulkan kemungkaran yang lebih besar daripada kemungkaran yang hendak diingkari.
Padahal mengingkari kemungkaran tidak boleh mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar.
Saudaraku, saat kita tidak mampu menulis kalimat yang baik, diam tentu lebih baik, apabila kita benar-benar beriman kepada Allah Yang Maha Melihat segala yang kita tulis dan beriman kepada hari akhir, hari saat kita akan mempertanggungjawabkan segala yang kita tulis dan akan mendapatkan balasan atas tulisan kita.
Sibuk dengan memperbaiki diri dan ibadah akan lebih bermanfaat.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan menyayangi kita semua.
✍🏻 Ditulis oleh Qomar ZA
📆 Temanggung, 21/01/2020 M
@forumsalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Di antara akibat buruk status WA yang tidak baik tersebut adalah:
1. Menimbulkan dugaan-dugaan.
Padahal Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita dari dugaan-dugaan.
2. Menimbulkan rasa resah dan sedih.
Padahal Nabi menganjurkan kita agar memasukkan rasa bahagia dalam kalbu seorang muslim.
3. Menyebarkan fahisyah, dalam arti ucapan yang tidak baik.
Padahal orang yang merasa senang tersebarnya fahisyah mendapat ancaman azab yang pedih.
4. Menimbulkan permusuhan.
Padahal kita diperintahkan mendamaikan yang berselisih atau bermusuhan.
5. Menebar teror.
Padahal kita tidak dihalalkan menakut-nakuti seorang muslim.
6. Melemahkan dan merusak ukhuwah islamiah.
Padahal kita diperintahkan untuk bersaudara dan mempererat ukhuwah islamiah.
7. Membuka rahasia diri dan keluarga.
Padahal kita dianjurkan untuk menutupi sesuatu yang bersifat rahasia.
8. Menjadikannya sebagai ajang berkeluh kesah di hadapan manusia.
Padahal semestinya kita mengadukan kegalauan kita kepada Allah.
9. Mengungkap sesuatu yang tak pantas diungkap di muka umum.
Padahal perbuatan tersebut adalah tabu dan bertentangan dengan akhlak yang mulia.
10. Memamerkan sesuatu yang tidak dibenarkan untuk dipamerkan.
Padahal kita dilarang membanggakan diri dengan sesuatu yang kita miliki. Di sisi lain, pamer menimbulkan kedengkian pihak lain.
11. Terkadang menimbulkan kemungkaran yang lebih besar daripada kemungkaran yang hendak diingkari.
Padahal mengingkari kemungkaran tidak boleh mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar.
Saudaraku, saat kita tidak mampu menulis kalimat yang baik, diam tentu lebih baik, apabila kita benar-benar beriman kepada Allah Yang Maha Melihat segala yang kita tulis dan beriman kepada hari akhir, hari saat kita akan mempertanggungjawabkan segala yang kita tulis dan akan mendapatkan balasan atas tulisan kita.
Sibuk dengan memperbaiki diri dan ibadah akan lebih bermanfaat.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan menyayangi kita semua.
✍🏻 Ditulis oleh Qomar ZA
📆 Temanggung, 21/01/2020 M
@forumsalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 WAHAI AHLUSSUNNAH, BERKASIH SAYANGLAH KALIAN DAN JANGAN BERSELISIH, KARENA KALIAN ITU SEDIKIT!
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس.
"Wahai Ahlussunnah -semoga Allah merahmati kalian- bersikap lembutlah dengan sesama kalian, karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit".
📚 Al-Lalika-i (1/57/19)
Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata :
إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي
"Sungguh aku diberitahu tentang kematian seseorang dari Ahlussunnah. Seakan-akan diriku telah kehilangan sebagian anggota tubuhku."
📚 Hilyatul Auliya (3/9)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :
استوصوا بأهل السنة خيرا فإنهم غرباء.
"Saling berwasiatlah kalian kepada Ahlussunnah dengan kebaikan!Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang asing."
📚 Al-Lalika-i (1/64/49)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :
إذا بلغك عن رجل بالمشرق صاحب سنة وآخر بالمغرب فابعث إليهما بالسلام وادع لهما ما أقل أهل السنة والجماعة.
"Apabila sampai berita kepadamu adanya seorang Ahlussunnah dari timur dan yang lain dari barat, maka sampaikanlah salam dan doakanlah kebaikan untuk keduanya! Alangkah sedikitnya Ahlussunnah wal Jama'ah itu!"
📚 Al-Lalika-i (1/64/50)
@salafy_cirebon
MENGGAPAI DERAJAT AL-GHUROBA
Berkata Al-Imam Al-Ajurry رحمه الله:
من أحب أن يبلغ مراتب الغرباء فليصبر على جفاء أبويه وزوجته وإخوته وقرابته .“
"Barangsiapa yang suka untuk bisa mencapai derajat Al-Ghuroba, maka hendaknya ia bersabar atas sikap antipati dari kedua orang tuanya, istrinya, para saudaranya, serta sanak keluarganya."
📖 Al-Ghuroba Hal. 38
______________
📝 Catatan:
Al-Ghuroba(orang-orang asing) merupakan derajat yang Rasulullah ﷺ persaksikan akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan karena keistiqomahannya dalam melakukan perbaikan di saat kebanyakan manusia melakukan kerusakan.
✏️ Thuwailib Tamaam Al-Minnah
Muroja'ah : Al-Ustadz Abu Muhammad Musa حفظه اللّٰه @buletinalfaidah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 WAHAI AHLUSSUNNAH, BERKASIH SAYANGLAH KALIAN DAN JANGAN BERSELISIH, KARENA KALIAN ITU SEDIKIT!
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس.
"Wahai Ahlussunnah -semoga Allah merahmati kalian- bersikap lembutlah dengan sesama kalian, karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit".
📚 Al-Lalika-i (1/57/19)
Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata :
إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي
"Sungguh aku diberitahu tentang kematian seseorang dari Ahlussunnah. Seakan-akan diriku telah kehilangan sebagian anggota tubuhku."
📚 Hilyatul Auliya (3/9)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :
استوصوا بأهل السنة خيرا فإنهم غرباء.
"Saling berwasiatlah kalian kepada Ahlussunnah dengan kebaikan!Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang asing."
📚 Al-Lalika-i (1/64/49)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :
إذا بلغك عن رجل بالمشرق صاحب سنة وآخر بالمغرب فابعث إليهما بالسلام وادع لهما ما أقل أهل السنة والجماعة.
"Apabila sampai berita kepadamu adanya seorang Ahlussunnah dari timur dan yang lain dari barat, maka sampaikanlah salam dan doakanlah kebaikan untuk keduanya! Alangkah sedikitnya Ahlussunnah wal Jama'ah itu!"
📚 Al-Lalika-i (1/64/50)
@salafy_cirebon
MENGGAPAI DERAJAT AL-GHUROBA
Berkata Al-Imam Al-Ajurry رحمه الله:
من أحب أن يبلغ مراتب الغرباء فليصبر على جفاء أبويه وزوجته وإخوته وقرابته .“
"Barangsiapa yang suka untuk bisa mencapai derajat Al-Ghuroba, maka hendaknya ia bersabar atas sikap antipati dari kedua orang tuanya, istrinya, para saudaranya, serta sanak keluarganya."
📖 Al-Ghuroba Hal. 38
______________
📝 Catatan:
Al-Ghuroba(orang-orang asing) merupakan derajat yang Rasulullah ﷺ persaksikan akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan karena keistiqomahannya dalam melakukan perbaikan di saat kebanyakan manusia melakukan kerusakan.
✏️ Thuwailib Tamaam Al-Minnah
Muroja'ah : Al-Ustadz Abu Muhammad Musa حفظه اللّٰه @buletinalfaidah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com