منتدى نشر الفـــــــوائد
7.58K subscribers
4.3K photos
256 videos
279 files
5.61K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 TENTANG BURUK SANGKA (SU'U ZHAN)

Asy-Syaikh ‘Abdullah Alu Bassam rahimahullah berkata,

ويحرم سوء الظن بمسلم ظاهره العدالة بخلاف من ظاهره الفسق فلا حرج بسوء الظن به.

"Diharamkan berburuk sangka kepada seorang muslim yang secara lahiriahnya adalah seorang yang adil.

Berbeda halnya dengan orang yang secara lahiriahnya fasik, maka tidak mengapa berburuk sangka terhadapnya."

📖 Sumber:
Taudhih al-Ahkam, hlm. 614. | Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له @alfudhail


PERKATAAN YANG JIKA BENAR TIDAK BERPAHALA, JIKA SALAH BERDOSA

كان بكر بن عبد الله المزني رحمه الله يقول: « إياك من الكلام ما إن أصبت فيه لم تؤجر وإن اخطأت فيه أثمت وهو سوء الظن بأخيك » تهذيب التهذيب لابن حجر(1/425).

Dahulu Bakr bin Abdillah Al-Muzani rahimahullah mengatakan :

"Jauhi olehmu perkataan, yg jika engkau benar padanya, engkau tidak mendapatkan pahala padanya.
Dan jika engkau salah padanya engkau akan berdosa, yaitu berburuk sangka dengan saudaramu."

📝 Tahdzib At-Tahdzib Karya Ibnu Hajar rahimahullah 1/425 @ahlussunnahposo
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BEBAN BERAT YANG KITA TIDAK AKAN SANGGUP MEMIKULNYA


Pernahkah Anda memikul beras satu karung besar di punggung Anda? Tentunya sangat berat dan melelahkan.

Akan tetapi tahukah Anda, ada yang lebih berat dari itu yang kelak akan Anda panggul di punggung Anda, apakah itu?

Seorang Tabi'in yang bernama Maimun bin Mihran rahimahullah berkata,

يَا ابْنَ آدَمَ خَفِّفْ عَنْ ظَهْرِكَ ، فَإِنَّ ظَهْرَكَ لَا يُطِيقُ كُلَّ الَّذِي تَحْمِلُ عَلَيْهِ مِنْ ظُلْمِ هَذَا ، وَأَكْلِ مَالِ هَذَا ، وَشَتْمِ هَذَا ، وَكُلُّ هَذَا تَحْمِلُهُ عَلَى ظَهْرِكَ فَخَفِّفْ عَنْ ظَهْرِكَ

"Wahai bani adam, ringankanlah beban di punggungmu, karena punggungmu tidak akan mampu untuk memikul setiap beban yang diberikan dari berupa kezhaliman, memakan harta orang dan mencela. Lantas, apakah semua itu akankah engkau pikul di atas punggungmu? Oleh karenanya ringankanlah beban di punggungmu".

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ

"Sesungguhnya amal-amal kalian itu sedikit. Maka ikhlashlah (semata karena Allah) apa yang sedikit tersebut."

(Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim al Ashbahani 7/30-31).

Jika Anda tidak mampu memanggul kezhaliman berupa memakan harta orang tanpa hak, maka mengapa Anda masih tidak jujur dalam berniaga?

Mengapa Anda masih khianat terhadap harta atasan Anda?

Jika Anda tidak mampu memanggul kezhaliman berupa dosa mencela, maka mengapa Anda masih suka bersuuzhan (berburuk sangka) terhadap saudara Anda seiman?

Mengapa Anda mudah memvonis jelek terhadap saudara Anda semuslim?

Astaghfirullahal 'azhim.. betapa berat beban punggung ini kelak di hari kiamat jika kita tidak segera bertaubat.

@SedikitFaidahSaja (SFS)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HUKUM ISBAL BAGI LELAKI


Lelaki tidak diperbolehkan melakukan isbal dalam berpakaian.

Isbal adalah menjulurkan atau memanjangkan kain, baju, sarung, celana, jubah, atau semisalnya di bawah mata kaki.

◻️Pendapat yang rajih (kuat) adalah semata-mata isbal hukumnya haram, diancam dengan neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Sarung yang di bawah kedua mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari no. 5785)

◻️ Apabila dia isbal disertai dengan kesombongan, ancamannya lebih keras lagi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

لاََ يَنْظُرُ ا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

“Pada hari kiamat nanti, Allah subhanahu wata’ala tidak akan melihat seseorang yang menjulurkan sarungnya karena sombong.” (HR. al-Bukhari no. 5785 dan Muslim no. 2087)

◻️ Isbal itu sendiri sudah menunjukkan kesombongan. Dalam hadits Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

ارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ ا لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ

“Angkat sarungmu hingga pertengahan betis. Apabila engkau enggan, sampai (atas) mata kaki. Waspadalah engkau dari isbal sarung, karena hal itu adalah kesombongan, dan Allah subhanahu wata’ala tidak menyukai kesombongan.” (Shahih lighairihi, HR. Abu Dawud no. 4084 dan Ahmad 5/63)

Yang menjelaskan masalah ini adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِزْرَةُ الْمُسْلِم إِِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ أَوْ لاَ جُنَاحَ- فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ

“Sarung seorang muslim sampai pertengahan betis dan tak mengapa antara itu dan kedua mata kaki. Adapun yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka. Barang siapa yang menjulurkan (isbal) sarungnya karena sombong maka Allah subhanahu wata’ala tidak akan melihat dia.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 4093)


Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berfatwa,

“Tidak boleh bagi laki-laki menjulurkan (isbal) pakaiannya di bawah kedua mata kaki. Sebab, Nabi ﷺ melarangnya dan mengancam dengan neraka, isbal termasuk dosa besar.

Jika isbal dilakukan karena sombong dan angkuh, dosanya lebih keras lagi. Adapun jika tidak ada unsur sombong dan angkuh, hukumnya juga haram karena keumuman larangan (dalam hadits).” (al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan 3/436)


Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/larangan-isbal-menjulurkan-pakaian-di-bawah-mata-kaki/

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 MALAIKAT PENIUP SANGKAKALA SELALU BERSIAP SEDIA MENUNGGU PERINTAH ALLAH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ طَرْفَ صَاحِبِ الصُّورِ مُذْ وُكِّلَ بِهِ مُسْتَعِدٌّ يَنْظُرُ نَحْوَ الْعَرْشِ مَخَافَةَ أَنْ يُؤْمَرَ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْهِ طَرْفُهُ، كَأَنَّ عَيْنَيْهِ كَوْكَبَانِ دُرِّيَّانِ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya pandangan Malaikat peniup sangkakala sejak ditugaskan, selalu mengarah pada Arsy, dalam kondisi bersiap sedia, khawatir (sewaktu-waktu) ia diperintahkan. (Ia ingin segera melaksanakan perintah itu pada waktunya) sebelum mata berkedip. Kedua matanya bagaikan bintang yg berkilauan." (H.R al-Hakim, adz-Dzahabiy menilai hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, disepakati juga keshahihannya oleh Syaikh al-Albaniy dalam Mukhtashar al-‘Uluww)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺَ كَيْفَ أَنْعَمُ وَقَدْ الْتَقَمَ صَاحِبُ الْقَرْنِ الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ وَأَصْغَى سَمْعَهُ يَنْتَظِرُ أَنْ يُؤْمَرَ أَنْ يَنْفُخَ فَيَنْفُخَ قَالَ الْمُسْلِمُونَ فَكَيْفَ نَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ تَوَكَّلْنَا عَلَى اللَّهِ رَبِّنَا

Dari Abu Said al-Khudriy ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bagaimana aku sempat bersenang-senang, ketika (Malaikat) peniup sangkakala telah meletakkan ujung sangkakala di mulutnya, ia memiringkan dahinya, memasang pendengaran dengan seksama, menunggu untuk diperintah meniupnya, kemudian ia segera meniupnya". Kaum muslimin berkata: "Apa yg sebaiknya kami ucapkan wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah HASBUNALLAAHU WA NI’MAL WAKIIL TAWAKKALNAA ‘ALALLAAHI ROBBINAA (Cukuplah bagi kami Allah, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Kami bertawakkal kepada Allah Rabb kami)." (H.R atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Penjelasan:

Kedua hadits shahih tersebut memberikan beberapa pelajaran berharga pada kita, diantaranya:

1). KETINGGIAN ALLAH DI ATAS ‘ARSY-NYA.

Dalam hadits Abu Hurairah di atas disebutkan bahwa Malaikat peniup sangkakala senantiasa memandang ke arah Arsy menunggu perintah (Allah).

Sisi pendalilan ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Itsbaatu Shifatil ‘Uluww dan adz-Dzahabiy dalam al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghoffaar fii Iedhoohi Shohiihil Akhbaar wa Saqiimihaa.

2). MALAIKAT ADALAH MAKHLUK YANG SANGAT TAAT DAN BEGITU BERSEMANGAT UNTUK SEGERA MENJALANKAN PERINTAH ALLAH.

Malaikat peniup sangkakala disebutkan dalam dua hadits tersebut benar-benar bersiap siaga. Tidak mengalihkan pandangan. Berusaha selalu memasang pendengaran dengan seksama kalau-kalau sewaktu-waktu ada perintah itu.

Hal itu terus dilakukannya sejak ia mendapat amanah utk menjalankan tugas itu hingga nanti saat datangnya perintah tersebut.

Malaikat Allah tidak ingin ketinggalan sedikitpun untuk segera melaksanakan perintah Allah. Sebaliknya, para Malaikat Allah tidak pernah bertindak tanpa perintah Allah. Mereka tidak pernah mendahului ucapan maupun perintah Allah.

لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

"Mereka (para Malaikat makhluk mulia itu) tidaklah mendahului-Nya dalam ucapan, dan mereka melaksanakan perintah-Nya" (Q.S al-Anbiyaa’ ayat 27)

3). KAPAN TERJADINYA HARI KIAMAT DENGAN DITIUPKANNYA SANGKAKALA HANYA ALLAH TA’ALA SAJA YANG TAHU

Bahkan Malaikat peniup sangkakala pun tidak tahu kapan pastinya. Ia hanya bersiap siaga setiap waktu menunggu datangnya perintah itu. Hal itu juga menunjukkan bahwasanya hari kiamat itu akan terjadi secara tiba-tiba.

... لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً...

"...tidaklah menimpa kalian kecuali secara tiba-tiba..." (Q.S al-A’raaf ayat 187)

Ketidakjelasan kapan terjadinya hari kiamat itu membuat orang beriman merasa tidak tenang untuk bermudah-mudahan berbuat dosa. Semestinya ia selalu siap sedia berbekal dengan amal shalih dan tobat kepada Allah Ta’ala menyongsong datangnya hari tersebut.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk bersemangat dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.
(Abu Utsman Kharisman hafizhahullah)
::
📬 SABAR! SEMUA ADA HIKMAHNYA

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Hikmah. Oleh karena itu, Dia menamai diri-Nya sebagai al-Hakim, maknanya Maha Luas Hikmah-Nya. Keadilan-Nya mencakup segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Baik itu bersangkutan dengan ciptaan, pengaturan, atau fenomena alam yang terjadi di dunia ini.

Semua tak luput dari hikmah dan pengetahuan-Nya. Bisa jadi seorang menganggap suatu perkara itu baik di matanya. Namun, ternyata ia gagal untuk menggapainya. Maka disaat itulah, sang hamba dituntut untuk sadar bahwa di balik itu semua ada hikmahnya.

Selaku orang yang mengaku beriman dan berislam, sudah semestinya kita harus menjadi yang terdepan, terkhusus di masa pandemi. Sudah setahun lebih kami semua–santri dan juga pengajar–belum pulang, harapan untuk bertemu handai taulan dan sanak saudara tetap membayangi langkah kami.

Sebelum pendemi, rencanapun sudah dirancang. Namun tak disangka dan tak diduga wabahpun datang. Keadaan menjadi berubah. Dan semuanya sudah Allah tentukan. Maa sya-a Allahu Kaana wa maa lam yasya’ lam yakun (Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, dan apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi).

Akhi fillah, sadarilah! Semuanya ada hikmahnya, tanamkanlah selalu sikap kesabaran agar ujian ini berbuah pahala dan keberuntungan. Jangan sampai ujian ini membuat iman dan semangat kita kian layu. Seharusanya kita lebih semangat berdoa dan beribadah agar musibah ini lekas berlalu.

Melalui tulisan ini, semoga Allah Ta’ala memberikan keistiqamahan kepada kami dan menyelamatkan dari berbagai fitnah. Mari kita pupuk kesabaran dan semangat di masa pandemi.

Dalam surah al-Baqarah Allah Ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)

“Dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik buat kalian. Bisa pula kalian mencintai sesuatu, padalah itu jelek bagi kalian. Allah Maha Mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Sabar wahai saudara, semua ada hikmahnya.

📨 http://mahad-assalafy.com/sabar-semua-ada-hikmahnya/ 
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KRITIS - SELEKTIF DALAM MENERIMA DAN MENYAMPAIKAN BERITA

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ubaid Al-Jabiry hafizhahullah berkata,

"Wajib bagi setiap Ahlussunnah untuk menjadi orang yang kritis dan memiliki pandangan yang tajam terhadap berita yang ia dengar dan ia nukilkan.

Janganlah mudah terpedaya dengan ucapan setiap orang yang berbicara. Berapa banyak orang yang berbicara jatuh pada berbagai kesalahan, yang membahayakan apabila kesalahan itu diterima.

Tidak sedikit pula orang yang berbicara menampakkan ucapannya seolah-olah bagus dan indah, namun ternyata berbeda dengan yang ia sembunyikan dalam hatinya, berupa prinsip dan sikap-sikap yang menyimpang."

Sumber: In'amul Bariy, hal. 376

قال الشيخ العلامة عبيد الجابري حفظه الله تعالى :

... ويجب على كل صاحب سنَّة أن يكون حاذقًا ذَا بصيرة فيما يسمعه وينقله ، ولا يغتر بحديث كل محدِّث ،

فكم من محدِّث يقع في أخطاء يضر قبولها ،

وكم من محدِّث يُظهر في حديثه من الحسن وجمال القول خلاف ما يبطنه من المسلك المنحرف ...

🌷[ إنعام الباري: ٣٧٦]

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 DUNIA YANG DIRAIH SEORANG MUKMIN MENGURANGI KESEMPURNAAN DERAJATNYA DI AKHIRAT

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata,

لا يصيب أحدٌ من الدنيا إلا نقص من درجاته عند الله وإن كان عليه كريمًا.

"Tidaklah seorang pun meraih sesuatu dari dunia, kecuali akan mengurangi derajatnya di sisi Allah walaupun dia tetap mulia di sisi Allah."

📚 Shahih, dikeluarkan oleh Hannad bin as-Sarry dalam kitab az-Zuhd, no. 557 @ForumSalafy


________________
Pertanyaan:

Imxxxx: Bismillah
Afwan abu/ust, ini maksud dari atsarnya bagaimana ya?


Jawaban Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah

Sebatas yang ana pahami sebagai berikut:

Sikap zuhud dan wara' adalah dianjurkan dalam syariat. Semakin seseorang zuhud dan wara' sesuai tuntunan syariat, semakin tinggi derajatnya di sisi Allah.

Sebaliknya, seseorang yang bermewah-mewahan di dunia, akan mengurangi kedudukannya di sisi Allah.

Sebagai contoh, ketika seseorang membeli kendaraan, katakanlah mobil. Bisa jadi karena keperluannya ia membeli mobil itu dan ia mampu. Mestinya, disesuaikanlah dgn kebutuhan dia.

Anggap mobil baru sekitar 120 juta. Masih wajar. Harapannya tidak mudah rusak dan tidak banyak perawatan, tapi sudah memenuhi keperluan.

Tapi, kadang sebagian pihak bermewah-mewahan. Ia membeli yang lebih dari keperluan. Misalkan membeli seharga 300 juta. Ini bisa mengurangi kedudukannya.

Apabila ia membeli yg lebih dari itu misalkan 700 juta untuk berbangga dan menyombongkan diri, ini termasuk yang dilarang. Berdosa.

Wallaahu A'lam.
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Berikan Saudaramu Udzur..
::
📬 MUSYAWARAH ADALAH PINTU MENUJU PETUNJUK TERBAIK

Al-Hasan al-Bashri –salah seorang Tabiin- rahimahullah menyatakan:

والله مَا اسْتَشَار قَومٌ قَطُّ إِلَّا هُدُوا لِأَفْضَلِ مَا بِحَضْرَتِهم

"Demi Allah, tidaklah suatu kaum bermusyawarah, melainkan akan diberi petunjuk menuju hal yang paling utama yang ada di dekat mereka."

Kemudian beliau membaca ayat:

وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ

"...Dan mereka bermusyawarah di antara mereka..."(Q.S asy-Syuro ayat 38)

(riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy) | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BUAH DARI SIFAT HASAD

Setiap orang yang lurus dan bijak akan mencela hasad dan berlindung diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala darinya.

Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah menjauhkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dari sikap jelek ini.

Allah subhanahu wa ta’ala juga mencela ahli kitab yang hasad terhadap manusia dalam hal keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala juga mencerca kaum munafik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka,

إِن تُصِبۡكَ حَسَنَةٌ تَسُؤۡهُمۡۖ وَإِن تُصِبۡكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُواْ قَدۡ أَخَذۡنَآ أَمۡرَنَا مِن قَبۡلُ وَيَتَوَلَّواْ وَّهُمۡ فَرِحُونَ

“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya. Dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan-urusan kami (tidak pergi berperang),’ dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (at-Taubah: 50)

Tidaklah setan dimurkai dan dikutuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala melainkan karena hasad dan sikap sombongnya terhadap Adam 'alaihissalam.

Hasad adalah awal kemaksiatan yang Allah subhanahu wa ta’ala dimaksiati dengannya di langit—oleh Iblis—dan di bumi—oleh salah seorang anak Adam, ketika kurbannya tidak diterima. Ia lalu membunuh saudaranya yang diterima kurbannya.

Orang yang hasad selalu dirundung kegalauan melihat nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang lain.

Seolah-olah azab menimpa dirinya, Rabb-nya murka kepadanya, manusia pun menjauh darinya. Tidaklah Anda melihatnya kecuali selalu bersedih hati menentang keputusan Allah subhanahu wa ta’ala dan takdir-Nya.

Seandainya ia mampu melakukan kebaikan, niscaya ia tidak akan banyak beramal dan berpikir untuk menyusul orang yang dihasadi.

Seandainya ia mampu melakukan kejelekan, pasti ia akan merampas nikmat saudaranya lalu menjadikan saudaranya itu fakir yang sebelumnya kaya, bodoh yang sebelumnya pintar, dan hina yang sebelumnya mulia. (Lihat Ishlahul Mujtama’, hlm. 103—104)

📨 https://asysyariah.com/hasad-penyakit-umat-terdahulu-yang-menjangkiti-kaum-muslimin-akhlak/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 MAHALNYA NILAI UKHUWAH

Sesungguhnya Allah mengutus Rasul-Nya dengan risalah yang lurus lagi mudah. Allah mengutus beliau sebagai pemberi petunjuk, pembimbing, pengajar, penebar kedamaian, pemersatu, dan bukan sebagai pemecah belah.

Sekian tahun beliau mengemban misi ini sehingga terwujudlah kerukunan dan persaudaraan di antara umatnya pada waktu itu, setelah sebelumnya mereka bercerai-berai di atas agama nenek moyang mereka (kesyirikan).

Maka ketika Rasulullah datang, umat ini bersatu di atas agama yang satu, yakni agama Islam yang diridhai-Nya. Itu semua merupakan nikmat Allah sebagaimana yang Allah abadikan dalam ayat-Nya:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا

“Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hatimu, dan dengan nikmat Allah-lah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Betapa mahalnya ukhuwah ini, dia tidak bisa ditukar dengan dunia dan seisinya sekalipun. Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati-hati mereka (kaum mukminin), seandainya kamu membelanjakan dunia dan seisinya, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah lah yang mempersatukan hati-hati mereka.” (Al Anfal: 63)

📨 https://buletin-alilmu.net/2006/09/19/ukhuwah-islamiyyah-merajut-tali-persaudaraan-sesama-muslim/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HUKUM SHOLAT BERJAMA'AH & JUMAT BAGI MUSAFIR


Saudaraku وفقني الله وإيكم لكل خير..

Bila sedang menempuh perjalanan, demikian pula tatkala telah sampai di lokasi tujuan safar, terkadang sebagian kita masih bingung, Apakah masih berlaku kewajiban berjamaah dalam sholat 5 waktu bersama kaum muslimin maupun sholat jum'at?


Sesuai fatwa para ulama secara umum hukumnya dipilah pada 2 keadaan safar yang dijalani. Pembagiannya ditinjau apakah :

(1) Tengah dalam perjalanan (عَلَى ظَهْرِ السَّيْر) di satu sisi, dan

(2) Sudah berada di tempat tujuan, menginap, atau singgah beberapa waktu (ًنَازِلا) pada sisi lainnya.

Berikut ini sekilas cuplikan naskah fatwa terkait dari dua tokoh 'alim robbani yang tidak asing lagi:


1⃣. Musafir yang sedang dalam perjalanan melintasi suatu daerah, tidak harus ikut sholat Jum'at.

Disebutkan dalam salah satu cuplikan Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah melalui situs Lajnah adDaimah li alBuhuts al'Ilmiyyah wa alIfta' Kerajaan Saudi Arabia:

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﺟﻤﻌﺔ ﻭﻻ ﺗﺼﺢ ﻣﻨﻪ، ﺑﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳُﺼﻠﻲ ﻇﻬﺮًﺍ؛ ﻟﻜﻦ ﺇﺫﺍ ﻣﺮّ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﻳﺔ ﻭﺻﻠﻰ ﻣﻌﻬﻢ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺃﺟﺰﺃﺗﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻈﻬﺮ

"... Adapun sholat jum'at, tidaklah ada (kewajiban) bagi seorang musafir untuk sholat jum'at, dan tidak sah melakukannya (sendiri atau sesama musafir). Bahkan yang wajib baginya menegakkan sholat dhuhur. Namun bila dia melewati suatu daerah kemudian ikut sholat jum'at bersama penduduk setempat, sudah cukup ternilai menunaikan sholat dhuhur...."

http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=4&View=Page&PageNo=4&PageID=5971


2⃣. Musafir yang sudah berhenti singgah/tinggal sementara di suatu daerah, hukumnya sama seperti penduduk yang mukim di sana, mereka bersama melaksanakan sholat jum'at.

Syaikh Muhammad ibnu Shalih al'Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam Fatwa Nurun 'aladDarb:

ﻭﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﻨﺎﺳﺒﺔ ﺃﻗﻮﻝ ﺇﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺎﻓﺮ ﻭﺃﻗﻴﻤﺖ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻒ ﻋﻦ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﺤﺠﺔ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﺎﻓﺮ ﻭﺫﻟﻚ ﻟﻌﻤﻮﻡ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻱَ ﻟِﻠﺼَّﻼﺓِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺎﺳَﻌَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫَﺭُﻭﺍ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ‏) ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﺩﺍﺧﻞ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻓﻘﺪ ﺃُﻣِﺮَ ﺃﻥ ﻳﺴﻌﻰ ﺇﻟﻰ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﻧﻮﺩﻱ ﻟﻠﺠﻤﻌﺔ ﻭﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﺇﺫﺍ ﻧﺰﻝ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻭﺃﺫﻥ ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻭﻗﺪ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻨﺪﺍﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺠﻴﺐ ﺍﻟﻨﺪﺍﺀ ﻭﻳﺼﻠﻲ ﻣﻊ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻷﻥ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﷺ ‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛُﻨْﺖَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﻓَﺄَﻗَﻤْﺖَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻓَﻠْﺘَﻘُﻢْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻌَﻚَ ‏) ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﺄﻣﺮ ﺑﺼﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻓﻔﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻷﻣﻦ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺃﻭﻟﻰ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﷺ ﻣﻦ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻨﺪﺍﺀ ﻭﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﻓﻼ ﺻﻼﺓ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﻋﺬﺭ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﻭﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ

"Sehingga pada kondisi seperti ini (musafir tapi telah singgah/tidak dalam perjalanannya), saya katakan: "Sesungguhnya barang siapa yang berada pada suatu daerah sementara dia adalah musafir, sedangkan sholat jum'at akan ditegakkan, wajib baginya menegakkan sholat jum'at bersama masyarakat, dan dia tidak diperbolehkan meninggalkan sholat jum'at berdalih karena dia seorang musafir.

Yang demikian berdasarkan keumuman Firman Allah Ta'ala:

‏( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻱَ ﻟِﻠﺼَّﻼﺓِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺎﺳَﻌَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫَﺭُﻭﺍ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ‏)


"Wahai orang-orang yang beriman, jika diserukan (adzan) untuk sholat pada hari Jum'at, bersegeralah menuju dzikir (turut sholat Jum'at) kepada Allah, dan tinggalkanlah perniagaan."


sedangkan musafir juga masuk sebagai objek dalam seruan ini, karena dia termasuk ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ (orang-orang yang beriman).

Jika dia termasuk bagian "orang-orang yang beriman" sungguh dia telah diperintah untuk bersegera menuju dzikir (dalam sholat jum'at) untuk mengingat Allah bila diseru menuju sholat jum'at.
Dan seperti itu juga sholat berjama'ah, bahwasanya musafir jika telah sampai (tinggal sementara) di suatu daerah, dan dikumandangkan adzan sholat sedangkan dia mendengar seruannya, wajib baginya memenuhi seruan itu dan melaksanakan sholat bersama jama'ah masyarakat.

Karena (kewajiban) berjama'ah tidaklah gugur bagi musafir, berdasarkan Firman Allah ta'ala kepada Rasul-Nya ﷺ :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛُﻨْﺖَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﻓَﺄَﻗَﻤْﺖَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻓَﻠْﺘَﻘُﻢْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻌَﻚَ ...

"Dan apabila engkau berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) dan engkau hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu..." sampai akhir ayat, hingga diperintahkan untuk melaksanakan sholat jama'ah (walau) dalam situasi mencekam, apalagi terjadinya di waktu safar.

Sehingga pada kondisi aman tentu lebih utama. Demikian pula Nabi ﷺ telah bersabda:

ﻣَﻦْ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻨِّﺪَﺍﺀَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺐْ(هُ) ﻓَﻼَ ﺻَﻼَﺓَ ﻟَﻪُ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﻋُﺬْﺭٍ 1)

"Siapa saja yang mendengar seruan (adzan), lalu dia tidak memenuhi(nya) (dengan ikut dalam jama'ah sholat-pent.) maka tidak ada (balasan kebaikan) sholatnya kecuali selama ada udzur."

Dan hal ini berlaku umum, bagi musafir maupun selain musafir."

https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=135885 :

__________
1) kata ganti dalam kurung adalah tambahan penyesuaian dari penerjemah sesuai naskah pada hadits dari ibnu Abbas sebagaimana riwayat adDaruquthni, yang dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbaniy rahimahumullah dalam alMiskah no. 1077 | @hikmahfatwaislam

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 ORANG BERILMU YANG MEMILIKI SIFAT SEPERTI YAHUDI

Al-Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

"Di sini ada satu poin penting yang harus diperhatikan, yaitu:

Barangsiapa yang menyimpang dari kebenaran, dengki kepada orang yang berpegang dengannya, dan meninggalkan kebenaran itu padahal ia tahu, maka sungguh ia telah menyerupai kaum Yahudi dengan keserupaan yang jelas. Na'udzubillah.

Betapa banyak yang menyerupai kaum Yahudi dari kalangan orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu, serupa dalam menentang kebenaran dan mengingkarinya, dengki, serta menyelisihi kebenaran padahal ia tahu.

Ini adalah akhlak dan perangai yang nyata terjadi, sedikit sekali orang yang selamat darinya. Laa haula walaa quwwata illaa billah (Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya dari Allah semata)."

Sumber:
Al-Fawaid Al-'Ilmiyyah min Ad-Durus Al-Baziyah, (4/244)

قال الإمام ابن باز رحمه الله تعالىٰ - :

وهنا شيء ينبغي التنبيه عليه، وهو أن من انحرف عن الحق وحسد أهل الحق ، وترك الحق، مع العلم، فقد شابه اليهود تشابهاً ظاهراً - نعوذ بالله- وما أكثر أشباههم من المنتسبين الى العلم في جحد الحق وإنكاره ، وفي الحسد ومخالفة الحق وهو يعلم، فهذه أخلاق موجودة قل من يسلم منها ،ولا حول ولا قوة إلا بالله.

📚 الفوائد العلمية من الدروس البازية (٤ / ٢٤٤)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 JANGAN MEMAKAI JIMAT


Tidak sedikit orang yang masih memakai jimat dengan segala macamnya.

◻️Ada yang berupa kulit binatang yang yang di simpan di dalam dompetnya.
◻️Ada yang berupa tulisan-tulisan dengan simbol-simbol tertentu yang dia tempel di dinding tokonya.
◻️Ada yang berupa cincin yang di pakai di jari tangannya.
◻️Ada yang berbentuk kalung yang di pakai dilehernya.
◻️Ada yang berbentuk rajah didalam sabuk yang dipakai dipinggangnya.
◻️Ada yang berupa tanduk hewan yang di pasang di depan rumahnya atau yang lainnya.

Tujuannya sama dalam rangka menolak bala', mudharat atau kejelekkan.

Padahal memakai jimat merupakan bentuk dari kesyirikkan (menyekutukkan Allah).

Rasulullah ﷺ bersabda,

منْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka ia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad, al Hakim, di shahihkan syaikh Al Albani).

Rasulullallah ﷺ bersabda,

يَا رُوَيْفِعُ ، لَعَلَّ الْحَيَاةَ سَتَطُولُ بِكَ بَعْدِي فَأَخْبِرْ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا بَرِيءٌ مِنْهُ

"Wahai Ruwaifi semoga kamu berumur panjang setelahku, kabarkanlah kepada manusia bahwasannya orang-orang yang mengikat jenggotnya, atau menggantungkan tali busur (untuk tolak bala) atau beristinja' dengan kotoran hewan atau tulang; maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya." (HR. An Nasa'i, Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan syaikh al Albani)

Dari dua hadits diatas diketahui termasuk perbuatan haram adalah menggantungkan sesuatu/jimat untuk tolak bala'. Bahkan perbuatan dosa kesyirikkan.

Perlu diketahui, orang yang memakai atau menggantungkan jimat memiliki dua keadaan:

(1). Dia menyakini jimat tersebutlah yang menjaganya, menyelamatkannya dengan sendirinya. Jimat yang memberikan pengaruh dengan sendirinya sehingga dia terjaga dan selamat.

Yang seperti ini bentuk kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

(2). Dia meyakini yang menjaga, menyelamatkan dia dari bala', kejelekkan adalah Allah semata, namun jimat ini hanya sebagai sebab saja.

Maka yang seperti ini dia terjatuh kepada perbuatan syirik kecil dosa yang sangat besar tapi tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

Allah Ta'aala berfirman,

إِنََّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِه وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَالِكَ لِمَن يَشَآءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (An Nisa’:48)

Dalam ayat yang lain,

إِنَّه مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya jannah, dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (Al Maidah : 72)

Itulah penjelasan singkat tentang hukum memakai jimat. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Wallahu a'lam bish shawwab

🖋Admin yukbelajarislam.com (YBI-AJ/03/20)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HUKUM SHALAT ORANG YANG MEMAKAI JIMAT

Pertanyaan:

Seseorang bertanya: Apakah hukum salat atau melaksanakan ibadah apapun bagi orang yang di tangannya terdapat jimat?


Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:

Jimat adalah haram, tidak diperbolehkan. Termasuk kesyirikan kecil. Bisa juga mengarah pada kesyirikan besar.

Shalatnya sah, jika hatinya tidak bergantung (penuh) pada jimat itu dan tidak meyakini bahwasanya jimat itu memberikan mudharat atau manfaat. Artinya, selama ia tidak terjatuh pada kesyirikan besar.

Kesyirikan kecil tidaklah membatalkan amalan. Riya’ saja yang membatalkan amalan, jika mengiringi amalan itu.

Adapun jimat dengan berbagai macamnya, jika dikalungkan di leher, atau diikatkan di tangan, jimat yang disebut sebagian manusia sebagai al-Hirz, atau disebut juga al-Hijaab, atau al-Jaami’ah, yang dibuat dari untaian manik-manik, atau dari tulang, atau mantera berisi potongan-potongan huruf, atau dari ayat-ayat Quran, atau dari doa-doa Nabi, atau selainnya.

Ada juga yang dikalungkan pada anak kecil untuk mencegah ain atau mencegah serangan jin. Ada juga yang dikalungkan pada orang tua, atau orang yang sakit. Semua ini salah, tidak diperbolehkan.

Namun, hal itu tidak mencegah sahnya shalatnya. Ia tetap muslim dan shalatnya sah.

Pemakaian jimat itu adalah kesalahan darinya karena itu termasuk kesyirikan kecil. Termasuk yang dilarang. Namun tidaklah merupakan kesyirikan besar atau naik menjadi syirik besar, kecuali jika hatinya tergantung pada jimat itu dan meyakini bahwasanya jimat itu bisa berbuat dan memberikan manfaat secara tersendiri (tanpa pertolongan) Allah.

Ia tidak meyakininya sebagai sebab. Tapi ia meyakini bahwasanya jimat itu bisa menyembuhkan dengan sendirinya. Ini adalah keyakinan yang berbahaya dan termasuk syirik besar.

Namun, kebanyakannya seorang muslim tidak berkeyakinan demikian. Ia hanya meyakini bahwa jimat itu hanyalah penyebab.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

"Barangsiapa yang menggantungkan tamiimah (semacam manik-manik), maka Allah tidak akan menyempurnakan tujuannya. Dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (semacam kerang) Allah tidak akan memberikan ketenangan padanya." (H.R Ahmad)

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

"Dan barangsiapa yang menggantungkan jimat, ia telah berbuat kesyirikan." (H.R Ahmad)

Rasul ﷺ telah menjelaskan keharaman jimat-jimat itu dan haramnya menggantungkan jimat. Wajib bagi seorang yang beriman untuk bertaubat kepada Allah dari perbuatan itu.

Demikianlah seharusnya bagi orang yang beriman untuk bertaubat dari perbuatan tersebut. Hendaknya ia memutus jimat-jimat itu. Menjauhinya secara mutlak. Meskipun berupa ayat-ayat Quran, wajib diputuskan.

Karena Rasul ﷺ melarang dan memperingatkan dari seluruh jimat. Beliau tidak mengecualikannya. Menggantungkan jimat yang berupa ayat alQuran bisa menjadi sarana yang mengarahkan pada sikap menggantungkan jimat-jimat yang lain.

Wajib untuk menutup pintu kesyirikan dan hal-hal yang mengarah padanya. Ini adalah nasihatku bagi setiap muslim. Wajib baginya untuk menjauhi jimat-jimat, jangan menggantungkan (memakainya). Jangan dipakai di bahu, leher, atau selainnya. Jangan menggantungkan pada anaknya, istrinya, atau selainnya.

Mestinya mereka berlindung kepada Allah. Berlindung dengan Kalimat-Kalimat Allah yang sempurna dari (keburukan) makhluk dan membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan.

Wirid-wirid dan doa-doa yang syar’i adalah baik dan mencukupi. Tidak perlu dengan jimat-jimat. Inilah yang wajib dilakukan setiap muslim.

(Fataawa Nurun alad Darb lisy Syaikh Bin Baz (1/58-59))

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Kedepankan Prasangka Baik pada Saudaramu Ahlussunnah..
::
📬 HUKUM MENGATAKAN 'INI PERTANDA BAIK' DAN 'INI PERTANDA BURUK'

[ (من حسن الطالع)، و (من سوء الطالع)]

Lajnah Daimah berfatwa:

"Haram menggunakan dua ungkapan, (ini pertanda baik) dan (ini pertanda buruk), karena pada keduanya mengandung penyandaran pengaruh kejadian alam semesta, baik atau buruknya, kepada bintang-bintang.

Padahal bintang-bintang tidak memiliki kemampuan untuk itu sedikit pun dan bukan penyebab keberuntungan dan ketidakberuntungan. Allah Ta'ala berfirman: 

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (QS.Al A'raf:54)

Jika pengucapnya meyakini bahwa bintang-bintang ini bisa melakukan (memberi keberuntungan dan kesialan) dengan sendirinya selain Allah Ta'ala, maka itu tergolong syirik akbar (syirik besar).

Namun, jika ia meyakini bahwa semua perkara di tangan Allah semata, tetapi ia sekedar mengucapkannya saja, maka itu termasuk dalam syirik lafal (ucapan) yang meniadakan kesempurnaan tauhid yang seharusnya."

📜 Fatwa no.21699 | http://t.me/ukhwh

 يحرم استعمال عبارتي (من حسن الطالع)، و (من سوء الطالع) ؛ لأن فيهما نسبة التأثير في الحوادث الكونية حسنًا أو سوءًا إلى المطالع، وهي لا تملك من ذلك شيئًا، وليسـت سببًا في سعود أو نحوس، قال الله تعالى:  أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ  ، فـإن كان القائل يعتقد أن هذه المطالع فاعلة بنفسها من دون الله تعـالى فهو شرك أكـبر، وإن كـان يعتقد أن الأمور كلها بيد الله وحـده ولكن تلفظ بذلك فقط فهو من شرك الألفاظ الذي ينافي كمال التوحيد الواجب
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Mencintai Kalamullah..