منتدى نشر الفـــــــوائد
7.58K subscribers
4.3K photos
256 videos
279 files
5.61K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 INDAHNYA PERSAUDARAAN YANG DIBANGUN DIATAS MANHAJ SALAF (UKHUWAH ISLAMIYYAH)

Baca sampai selesai...

Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Rabi'ah Al Aslami Radhiyallahu anhuma...

Rabi'ah Al Aslami Radhiyallahu anhu mengisahkan :
"Dahulu aku melayani Rasulullah ﷺ, Beliau memberikan kepadaku sebidang tanah dan memberikan (pula) kepada Abu Bakr sebidang tanah, dan datanglah Dunia(kepada kami).

Kami berselisih dalam permasalahan cabang pohon kurma, Abu Bakr mengatakan ia di batasan tanahku, dan aku mengatakan: ia di batasan milikku. Terjadilah pembicaraan antara aku dan beliau,

Maka Abu Bakr mengucapkan suatu kalimat yang tidak aku sukai (menyinggung perasaanku), dan beliau menyesal (setelah itu). Maka beliau berkata kepadaku: "Wahai Rabi'ah balaslah kepadaku ucapan yang semisalnya sehingga menjadi kisas (balasan).

Aku menjawab:"tidak akan aku lakukan!" Maka beliau mengatakan: "hendaklah engkau katakan, atau akan aku laporkan engkau kepada Rasulullah ﷺ."

Aku menjawab: "tidak akan aku lakukan..." Maka Abu Bakr pergi menemui Rasulullah ﷺ, Aku pun mengikuti beliau.

Maka datanglah kabilah Aslam (kabilahnya Rabi'ah) mereka mengatakan: "Semoga Allah merahmati Abu Bakr pada perkara apa Beliau melaporkan engkau kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan dia telah mengucapkan suatu perkataan kepadamu (yang membuat engkau tersinggung).

Maka aku berkata: "Apakah kalian tahu siapa Beliau ini? ini adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq, dia adalah salah seorang dari dua orang yang berada dalam gua, dia adalah orang yang memiliki kematangan(di dalam agama ini) dari kaum muslimin, hati-hati kalian (jaga ucapan kalian) jangan sampai beliau menoleh kemudian melihat kalian menolongku, (Jangan sampai disebabkan ini) dia marah padaku dan mengadukannya kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah marah disebabkan kemarahan Abu Bakar.

Karena Allah akan murka disebabkan kemarahan Rasulullah dan kemarahan Abu Bakar, maka celakalah Rabi'ah.

Maka mereka berkata: "Apa yang engkau perintahkan kepada kami?Rabi'ah menjawab: "Pergilah kalian (kembali). Sampailah Abu Bakar di hadapan Rasulullah dan menceritakan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Rabi’ah.

Tak lama kemudian Rabi’ah pun datang di tempat itu. (Rabi'ah mengatakan) aku mengikuti beliau sendiri, Rasulullah ﷺ pun mengangkat kepalanya kepadaku lantas bersabada , “Wahai Rabi’ah apa yang terjadi antara kamu dan Ash-Shiddiq?”

Aku katakan: "Wahai Rasulullah terjadilah demikian dan  demikian maka beliau mengatakan kepadaku kalimat yang tidak aku sukai (membuat aku tersinggung) maka beliau mengatakan kepadaku : "katakanlah sebagaimana yang telah aku katakan kepadamu sehingga menjadi kisas, maka aku enggan, maka Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya, jangan engkau balas, namun katakanlah : "semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakr, kemudian Abu Bakr berpaling dan menangis.

[Sanad dari kisah ini dihasankan oleh Assyaikh Al-albaniy rahimahullah] Sumber: As-Silsilah Ashahihah no 3145.

PETIKAN FAIDAH DAN HIKMAH DARI KISAH INI

1. Tidak berlarut-larut ketika berselisih.

2. Jadilah seorang yang mudah memaafkan dan membalas kejelekan dengan kebaikan.

3. Indahnya akhlak mengakui kesalahan dan kembali pada kebenaran.

4. Menghormati dan memuliakan orang yang lebih tua dan lebih dahulu dalam dakwah.

5. Tidak boleh memanfaatkan kesalahan saudaranya untuk menjatuhkan kehormatannya dan menghinakannya.

6. Menjadikan pembawa Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf (seperti para ulama dan asatidzah) sebagai rujukan ketika berselisih, sebagaimana mereka ketika berselisih kembali kepada Rasulullahﷺ dimasa hidup beliau.

7. Tidak memanfaatkan kedudukan orang yang dekat untuk membela diri ketika salah, sebagaimana Abu Bakr beliau adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ, beliau mertua Rasulullah ﷺ, namun beliau tunduk dengan bimbingan nubuwwah.

8. Menjadikan akhirat adalah tujuan utama, sebagaimana Abu Bakr takut akan dibalas di akhirat dan beliau meminta untuk dibalas di dunia.

9. Hendaklah bersikap adil dalam memutuskan.

10. Tidak boleh membela kesalahan

Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu 'umar غفر الرحمن له @salafycurup
Pentingnya Menjaga Amanah
::
📬 BERAT SAMA DIPIKUL, RINGAN SAMA DIJINJING

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد:

Perjalanan hidup anak manusia tak dapat dipisahkan dari suka dan duka. Terkadang datang masa suka dan terkadang datang masa duka. Keduanya datang silih berganti, sambung menyambung menjadi satu.

Itulah kehidupan dunia.
◽️Liku-likunya berkelok tajam.
◽️Lintasannya penuh aral dan rintangan.
◽️Godaan syubhat dan rayuan syahwatnya amat dahsyat.

Tak ada seorang anak manusia pun yang kuat menghadapi pahit getir dan pernak-perniknya sendirian.

Duhai betapa beratnya!? Kalaulah bukan karena pertolongan Allah, kemudian kebaikan dan bantuan dari saudara seiman, sulit rasanya untuk bisa bertahan di atas norma-norma yang luhur. Bertutur kata yang mulia, bersikap dengan bijak, dan berprilaku santun.

Tak heran, bila Allah Subhanahu Wata'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Saling menopang dan menguatkan. Agar kehidupan yang berat itu terasa lebih ringan.

Lebih dari itu, terbimbing di atas kebajikan dan ketakwaan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, kehidupan yang berat itu akan terasa semakin berat dan hampa dari barakah, manakala diwarnai oleh sikap tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ َتَعَاوَنُوا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Saling tolong-menolonglah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian saling tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan." (Al-Maidah: 2)

Bersyukurlah orang-orang yang hidup di lingkungan yang baik. Saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Problem kehidupan yang berat insyaAllah dapat teratasi dengan kebersamaan yang terpuji.

Betapa nikmatnya bila masing-masing dapat menjaga diri dari dosa dan permusuhan. Karena dosa dan permusuhan dapat merusak persaudaraan dan kebersamaan. Dengan dosa dan permusuhan akan terkikis bahkan sirna berbagai kenikmatan yang telah lama dirasakan.

Terkhusus di masa pandemi Covid-19 yang sedang melanda ini. Saat-saat yang dibutuhkan padanya sikap empati dan peduli. Kondisi darurat untuk kita saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan, jauh dari sikap tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing..

Semua itu akan dimudahkan dan mendapatkan taufik dari Allah, manakala qalbu dan amalan kita bercahayakan ilmu. Cinta kepada ilmu, majelis ilmu, lingkungan ilmu, dan orang-orang yang berilmu.

Dengan ilmu, seseorang akan terbimbing menuju hidayah dan istiqamah. Kehadirannya di majelis ilmu menjadi tabungan kebaikan yang sangat berharga. Kehidupannya di tengah-tengah lingkungan ilmu akan menjadi benteng bagi keistiqamahan diri dan keluarganya. Kedekatan dan ihtiramnya kepada orang-orang yang berilmu menjadi pangkal kebaikan hidupnya.

Betapa indahnya ungkapan hikmah yang pernah disampaikan oleh Aun bin Abdillah rahimahullah di hadapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah,

إِنِ اسْتَطَعْتَ فَكُنْ عَالِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَكُنْ مُتَعَلِّمًا، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَأَحِبَّهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلَا تَبْغَضْهُمْ

"Jika engkau mampu, maka jadilah orang berilmu. Jika engkau tidak mampu (menjadi orang berilmu), maka jadilah penuntut ilmu. Jika engkau tidak mampu (menjadi penuntut ilmu), maka cintailah mereka. Jika engkau tidak mampu (mencintai mereka), maka janganlah membenci mereka." (Jami' Bayanil Ilmi Wafadhlihi, karya al-Imam Ibnu Abdil Bar no. 143)

Semoga Allah yang Maha Rahman senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini, mencurahkan segala berkah dan meneguhkan jiwa kita di atas keistiqamahan, selama hayat masih dikandung badan. Amiin, Yaa Mujiibas sailiin..

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

4 Dzul Qa'dah 1441H | Muhibbukum Fillah: Al-Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi hafizhahullah @tanggapcovid19

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
Sumber Lenyapnya Kenikmatan..
::
📬 PERTEMANAN YANG BAIK ADALAH WAJIB DIANTARA AHLUS SUNNAH: LAPANG DADA, SABAR DAN BERSIKAP LEMBUT

◽️◽️◽️◽️

Asy-Syaikh 'Ubaid Al-Jabiriy hafizhahullah berkata:

"Maka, pertemanan yang baik adalah wajib diantara Ahlussunnah, (yaitu) yang berupa :
lapang dada,
dan sabar,
serta bersikap lembut.

Dan kadangkala saya membantah seorang sunniy dan diapun membantah saya. Dan saya pun bersikap keras kepadanya dalam perkara yang saya dan dia berselisih, dan (demikian pula) diapun bersikap keras kepada saya.

Akan tetapi bukan dalam rangka membeberkan keburukan. Tidaklah saya membeberkan keburukannya.
Dan tidak pula saya menjadikannya sebagai bahan pembicaraan, baik di majelis khusus maupun umum
.

Maka jika saya ditanya tentang pendapat si fulan dalam (masalah) tertentu, saya jawab:

《 Dia telah salah, yang benar adalah (pendapat yang) berseberangan dengan itu. Sementara si Fulan (tersebut), saya mengenalnya bahwa dia adalah orang yang mengikuti Sunnah. Akan tetapi dia tidaklah diberi taufiq (untuk mengetahui pendapat yang benar) dalam masalah ini. 》

Maka, cermatilah oleh kalian semoga Allah memberkahi kalian tentang keadaan dan pembicaraan serta apa saja yang menjadi akibat dari sebuah pembicaraan.

Karena sesungguhnya, seperti yang dikatakan oleh orang-orang:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

"pada setiap tempat (keadaan) itu ada pembicaraannya tersendiri."

📚 (Majmu'ur Rosail Al-Jabiriyah, hal: 189 - 190)


( حسن الصحبة واجبة بين أهل السنة )

قال الشيخ عبيد الجابري-حفظه الله-: فحسن الصحبة واجبة بين أهل السنة من -سعة الصدر. -والصبر. -والملاطفة.
وقد أرد على سني، ويرد علي، وأشتد عليه فيما بيني وبينه، ويشتد علي، لكن لا على سبيل التشهير، لا أشهر به، ولا أجعله عرضة لحديثي في المجالس الخاصة والعامة، فلو سئلت عن قول فلان في كذا، أقول: أخطأ؛ الصواب خلاف ذلك، وفلان أعرف عنه أنه صاحب سنة، لكنه ماوفق في هذا.
فتفطنوا -بارك الله فيكم- إلى الحال والمقال وما يوجب المقال؛ فإن كما يقولون : لكل مقام مقال}.
(مجموع الرسائل الجابرية ص: 190/189)


🎯 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Kriteria Orang yang Cerdas..
::
📬 DUA MANFAAT SIKAP LEMBUT

Al-'Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan :

"إذا كنت رفيقًا نلت بذلك فائدتين عظيمتين:
أولاً : محبة الله عز وجل ، فإن الله يحب الرفق وأهل الرفق
ثانيًا : أنك تنال برفقك ما لاتنال بعنفك فلاتتعجل ولاتتسرع ،

"Jika engkau lembut, maka engkau dapat meraih dua manfaat yang besar:

◻️Yang pertama adalah cinta ALLAH ta'ala karena sesungguhnya ALLAH mencintai kelembutan dan orang-orang yang lembut.

◻️Yang kedua adalah engkau akan mendapatkan dengan kelembutanmu apa yang tidak engkau peroleh dengan sikap kerasmu, maka janganlah engkau terburu-buru dan tergesa-gesa."

✍️ Syarah al-Kafiyah asy-Syafiyah 3/159 @KajianIslamTemanggung

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 DEMONSTRASI HANYA MENAMBAH PETAKA


Siapa pun dengan pasti akan memprediksi,

”Pasti akan berakhir rusuh!”.

Hati semakin bersedih dan jiwa bertambah sesak melihat kenyataan pada beberapa tempat di negeri ini. Korban luka berjatuhan bahkan ada yang berakhir dengan meregang nyawa.

Batu-batu beterbangan diselingi dengan asap dan api bom molotov. Benda-benda tumpul entah kayu, besi atau lainnya. Terlihat jelas berada di tangan-tangan sekelompok anak muda yang menamakan diri mereka sebagai Barisan Mahasiswa.

Pihak aparat keamanan yang berusaha mengikuti prosedur dan protap pengamanan, sesungguhnya telah cukup bersabar. Cacian dan celaan ditujukan kepada mereka. Aparat dilempari dan diludahi bahkan dipukuli, dan mereka pun manusia biasa. Sehingga terjadilah aksi baku balas antara demonstran dan aparat keamanan. Laa haula wa laa quwwata illa billah, Apa hasilnya?

Kerugian dan kerugian lalu kerugian. Harta, nyawa, waktu, tenaga dan segala-segalanya. Tidak ada lagi rasa nyaman karena berganti ketakutan. Ketentraman masyarakat pun berangsur hilang setelah sebelumnya berkurang. Yang lebih menyedihkan lagi, pelaku-pelakunya justru berasal dari lapisan masyarakat yang disebut “kaum terpelajar”.

Ilustrasi di atas hanyalah sepenggal kisah dari catatan hitam dari aksi-aksi yang bernama demosntrasi, unjuk rasa, atau apapun nama lainnya. Dengan berbagai alasan yang dibumbui kata-kata menyentuh hati atau demi membela keadilan, aksi-aksi itupun dijalankan.

”Melawan Tirani Lalim”,

”Membela Hak-Hak Rakyat”,

”Jihad Melawan Penguasa”,

”Kami Menuntut Keadilan”,

”Pemerintah Selalu Menyengsarakan Rakyat”

dan masih seabreg slogan dan yel-yel lain kaum demonstran.

Sebenarnya bagaimanakah pandangan islam tentang hal ini? Berikut ini kami akan menukilkan fatwa dari beberapa ulama’ besar masa kini tentang hukum aksi demonstrasi atau unjuk rasa.


FATWA SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ RAHIMAHULLAH

Beliau pernah ditanya,

Apakah demonstrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita dalam rangka menentang penguasa dan pemerintah termasuk salah satu sarana dakwah?
Apakah orang yang meninggal dunia saat aksi demonstrasi dapat disebut sebagai mati syahid di jalan Allah?

Beliau menjawab :

“Saya berpendapat ; Demontrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita bukanlah sebuah solusi. Akan tetapi, demonstrasi hanya akan menjadi sebab munculnya fitnah, keburukan, kedzoliman dan pelanggaran bagi sebagian orang tanpa hak.

Namun, ada cara-cara yang sesuai syari’at Islam yaitu dengan mengirim surat, menasehati dan ajakan kepada kebaikan dengan menempuh langkah-langkah yang baik.

Demikianlah yang ditempuh oleh para ulama’ dan juga yang dilakukan para sahabat Nabi dan para pengikut mereka dengan baik. Dengan cara mengirimkan surat atau berdialog secara langsung berhadapan dengan pihak pemimpin atau penguasa, tanpa menyebarluaskan di atas mimbar-mimbar atau tempat lain bahwa, ”Pemerintah telah berbuat ini! Sehingga menjadi seperti itu!”. Wallahul musta’aan” selesai  


FATWA SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDIN AL ALBANI RAHIMAHULLAH    

Di dalam Silsilah Hadits Dhaifah pada hadits tentang kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab dan keluarnya mereka bersama Nabi dalam dua barisan untuk melawan kaum musyrikin,

Syaikh Al Albani menjelaskan, “Hadits di atas munkar”.

Kemudian beliau menjelaskan ; ”Barangkali itu adalah sebabnya atau menjadi sebab sebagian saudara-saudara kita, para dai, berdalil tentang disyari’atkannya demonstrasi yang dikenal pada masa ini bahwa: “demonstrasi termasuk cara berdakwah Nabi”. Dan beberapa kelompok Islam masih berdalih dengannya. Mereka lupa bahwa demonstrasi termasuk kebiasaan dan metode orang-orang kafir". selesai  
FATWA SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN RAHIMAHULLAH

Beliau pernah ditanya,        

“Mengenai pemerintah yang berhukum dengan hukum yang tidak diturunkan Allah. Kemudian pemerintah mengizinkan sebagian masyarakat untuk melakukan aksi demonstrasi, yang dinamakan ‘ishoomiyyah (memperoleh kedudukan dengan hasil usaha sendiri)! Disertai undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Lalu,orang-orang tersebut melakukannya. Apabila aksi mereka diingkari,mereka menjawab,” Kami tidak menentang pemerintah dan kami melakukannya dengan ketetapan pemerintah”. Apakah hal ini diperbolehkan secara syari’at? Padahal ada pertentangan dengan dalil?

Beliau menjawab,

“Wajib bagimu untuk mengikuti Salaf! Apabila hal ini dilakukan oleh Salaf, maka pasti baik. Apabila tidak,pasti jelek. Tidak ada keraguan lagi jika demsontrasi itu jelek. Sebab, demonstrasi akan menghantarkan kepada kekacauan. Yang dilakukan oleh para demonstran maupun pihak lain. Bahkan sering terjadi pelanggaran. Bisa saja pelanggaran terhadap kehormatan, harta maupun fisik orang. Karena dalam keadaan kacau/rusuh, orang seperti mabuk yang tidak mengetahui apa yang dia ucapkan dan apa yang dia lakukan!” selesai

Pembaca yang terhormat,

Demonstrasi seluruhnya buruk, Apakah diizinkan oleh pihak pemerintah maupun tidak? Jika ada sebagian pemerintah mengizinkan terselenggaranya aksi demosntrasi, maka hal itu hanyalah propaganda. Misalnya dipulangkan ke hati, sungguh pemerintah manapun tidak akan menyukai bahkan sangat membenci. Namun, ia hanya berpura-pura saja.

Sebagaimana dia mengatakan,”Ini kan demokrasi!” Padahal demokrasi hanya akan membuka pintu kebebasan (tanpa aturan agama) bagi umat manusia. Hal ini bukanlah jalan Salaf!  


FATWA SYAIKH MUQBIL BIN HADI RAHIMAHULLAH

Beliau mengatakan,

“Segala puji bagi Allah. Sungguh saya sering mengingatkan tentang (dampak negatif) demonstrasi di dalam khutbah hari raya maupun khutbah-khutbah jum’at” selesai  


FATWA SYAIKH SHALIH BIN FAUZAN AL FAUZAN HAFIZHAHULLAH

Beliau menjelaskan,

“Agama kita bukan agama yang kacau tanpa aturan, akan tetapi agama kita adalah agama yang mapan, teratur rap, dan mengajarkan ketenangan.

Demonstrasi bukan termasuk amalan umat Islam. Kaum muslimin tidak mengenal demonstrasi! Islam adalah agama yang mengajarkan ketenangan, kasih saying, dan kestabilan.

Di dalam Islam tidak ada ajaran kekacauan, kerusuhan maupun menimbulkan fitnah. Inilah agama Islam. Hak-hak masyarakat dapat diperoleh dengan permohonan dan cara-cara syar’i. Adapun demonstrasi hanya akan menyebabkan kerusakan harta. Maka, perkara yang demikian tidak boleh” _selesai  


FATWA SYAIKH ABDUL MUHSIN AL ABBAD HAFIZHAHULLAH

Beliau pernah ditanya,  

”Apakah juga termasuk dalam pengertian hadits tersebut ; seseorang yang melakukan demosntrasi untuk menentang kenaikan harga dan urusan dunia semisalnya? Apabila terjadi kedzoliman di sana?”

Beliau menjawab,

“Demonstrasi termasuk tindakan bodoh! Hal ini tidak dikenal (pada masa lalu oleh umat Islam). Demonstrasi adalah perkara yang baru saja muncul yang diadopsi kaum muslimin dari orang-orang kafir”__selesai

Disusun oleh Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i hafizhahullah | Referensi : Fatawa Al Ulama’ Fii Tahriimi Al Mudhoharaat (sebuah lembaran buletin) Diterbitkan oleh Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi

Sumber: Salafy.or.id

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 SOLUSI KETIKA FITNAH MELANDA : KEDEPANKAN SIKAP AT-TA`ANNI DAN TIDAK TERBURU-BURU


Dalam menghadapi fitnah, ujian dan cobaan, baik berupa Syahwat maupun Syubhat adalah dengan bertaqwa kepada Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Nya, dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Taqwa (kepada) Allah benar-benar menjadi Wiqayah, benteng, tameng, perisai bagi yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)

”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath Thalaq : 2, 3)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq : 4)

Berbekal dengan taqwa adalah prinsip utama bagi kita semua. Ini adalah prinsip para Nabi dan para Rasul, dari Rasul pertama sampai dengan Rasul terakhir Muhammad ﷺ.

Diantara bagian dari taqwa di dalam menghadapi berbagai fitnah, adalah berbekal diri dengan:

(التَّأَنِّي)

(1) Sikap At-Ta'ani , tidak gegabah, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa, di dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi.

(وعدم العجلة)

(2) Tidak terburu-buru dalam menilai dan menghukumi segala sesuatu yang terjadi.

Rasulullah ﷺ bersabda :

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

At-Ta'ani (التَّأَنِّي) sikap kehati-hatian, sikap tidak gegabah, tidak terburu-buru adalah dari Allah yaitu Allah ridha dengan sikap tersebut dan Allah akan memberi pahala yang besar bagi orang-orang yang mengamalkannya.

وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Sedangkan sikap terburu-buru, tergesa-gesa dari syaitan. Yaitu Dia yang menggerakkan seseorang untuk melakukan tindakan dan sikap terburu-buru tersebut dengan bisikan-bisikannya, yang dengan itu seseorang akan sulit untuk bertatsabbut, dan tidak lagi menghitung akibat-akibat kedepan dari apa yang dia lakukan.

•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 SIKAP AT-TA`ANNI (TENANG) AKAN MENGANTARKAN PADA PERBUATAN YANG TERBIMBING ADAPUN SIKAP AL-'AJALAH (TERBURU-BURU) AKAN BERUJUNG PADA PENYESALAN


Keberadaan dua sikap, yang satu terpuji, yaitu at-Ta'ani (التَّأَنِّي) dan yang lainnya tercela yaitu al-'Ajalah (العجلة), harus senantiasa menjadi bahan pemikiran kita khususnya di masa-masa fitnah.

Sikap at-Ta'ani, haruslah senantiasa harus kita miliki, sikap sabar untuk memahami sebuah permasalahan dan untuk memahami sebuah fitnah. Apa sesungguhnya yang terjadi..?, (Wajib untuk) memahami dalil-dalilnya, hujjah-hujjahnya, landasan-landasannya, dan dasar-dasarnya.

Memahami masalah satu demi satu dengan penuh cermat dan berhati-hati pula dalam memberikan vonis ataupun hukum baik membenarkan ataupun menyalahkan.

Sikap at-Ta'ani apabila dimiliki seseorang maka akan mengantarkannya kepada perbuatan yang terbimbing dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah akan menyelamatkannya dalam setiap fitnah yang sedang menerpanya. Karena dia benar-benar telah menempuh sebuah jalan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun sebaliknya, sikap al-'Ajalah, terburu-buru, gegabah, tidak mau memahami permasalahan secara utuh, mudah mengambil sebuah kesimpulan, tidak mau mempelajari dasar-dasarnya, dalil-dalilnya, dan hujjah-hujjahnya..

Terburu-buru di dalam memberikan vonis; salah, menyimpang (telah) menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Semua itu merupakan sikap yang tercela.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, menjelaskan bahwa sikap at-Ta'ani, akan mengantarkan kepada kebaikan yang banyak. Sebaliknya sikap al-'Ajalah (terburu-buru) akan mengakibatkan munculnya kejelekan-kejelekan yang banyak pula. Beliau rahimahullah pun menegaskan bahwa sikap al-'Ajalah qorinun nadamah..

(العجلة قرين الندامة)

Al-'Ajalah akan berujung pada penyesalan. Sebagaimana al-Kasal, sikap malas adalah sikap yang berujung pada kegagalan.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, menegaskan bahwa sikap terburu-buru adalah sikap yang berbahaya, baik terburu-buru dalam berbicara tentang masalah syari'at atau terburu-buru dalam permasalahan memvonis dan memberi hukum pada seseorang.

Berapa banyak seseorang mencela sebuah perkataan, dan menvonisnya: ini adalah salah..!, namun sebabnya adalah pemahaman dia yang salah, yang rusak, yang tidak benar, sehingga menilai permasalahan tanpa didasari dengan ilmu dan berujung memvonis seseorang secara zhalim.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada kita semua sikap at-Ta'ani, dan menjauhkan kita dari sikap al- 'Ajalah, terkhusus di masa-masa fitnah. Amiin Yaa Rabbal Alamiin...

•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 MENGAMBIL IBROH DARI LEMBARAN SEJARAH KISAH AL-IMAM AL- BUKHARY DENGAN MUHAMMAD BIN YAHYA ADZ-DZUHLY RAHIMAHUMALLAH (BAG.1)

Dalam lembaran sejarah tercatat sekian banyak kasus yang di akibatkan oleh sikap al-'Ajalah yang berujung pada penyesalan. Dan sebaliknya, sikap at-Ta'ani, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan keselamatan.

Al-Imam adz- Dzahaby dalam Kitab Siyar A'lamin Nubala' dan juga al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah dalam Muqaddimah Fathul Bariy serta ulama lainnya mengisahkan tentang sebuah peristiwa besar dalam lembaran sejarah dari perjalanan hidup Al-Imam al-Bukhary rahimahullah.

Al-Imam al-Bukhary adalah seorang Imamul Muhadditsin, Amirul Mukminin fil Hadits, ulama besar, bahkan pakar besar dalam ilmu hadits. Namanya terkenal dan beliau disanjung oleh para ulama terlebih umat manusia di masanya.

Hingga suatu hari beliau rahimahullah berkenan untuk datang ke negeri Naisabur. Mendengar berita kedatangan beliau tersebut, para ulama, para umara' serta para Muhadditsin, bahkan kaum Muslimin masyarakat negeri Naisabur bergembira menyambut kedatangan beliau rahimahullah. Termasuk juga ulama terkenal di Naisabur di masa itu, yaitu Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah.

Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah, memerintahkan murid-muridnya serta kaum muslimin untuk menyambut kedatangan Al-Imam al-Bukhary rahimahullah. Sehingga kaum muslimin pun bersiap menyambut Al-Imam Al-Bukhary di pintu gerbang Naisabur, dalam kondisi (masih) sekian kilometer sebelum beliau datang memasuki kota Naisabur.

Hingga akhirnya setelah Al-Imam Al-Bukhary berada di kota Naisabur, majlis-majlis beliau dihadiri oleh kaum muslimin dan para Muhadditsin (orang-orang yang menggeluti ilmu hadits). Berlimpah ruah para Muhadditsin yang duduk hadir di majelis beliau.

Sedikit demi sedikit semakin berkurang para thalabah (penuntut ilmu), para Muhadditsin yang duduk di majelis Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly. (Sementara) Al-Imam Al-Bukhary semakin terkenal dan tenar namanya.

Dari sinilah syaitan, memberikan wasawis (bisikan-bisikan), walaupun terhadap seorang alim Muhaddits Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah. Tersisipkan sifat hasad pada diri Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly, sebagaimana penjelasan para ulama dan para Muhadditsin.

Karena sorotan mata para Muhadditsin penuh sanjungan (tertuju) kepada Al-Imam al-Bukhary rahimahullah, maka terjadilah apa yang terjadi.
Tepatnya, ketika Al-Imam al-Bukhary ditanya tentang mauqifnya (sikapnya) tentang Al-Qur’anul Karim. Beliau mengatakan :

القُرْآن كَلاَمُ اللّهِ غيرُ مَخْلُوقٍ وَأَفْعَالُ الْعِبَادِ مَخْلُوقَةٌ.

"Al-Qur’an adalah ucapan Allah, perkataan Allah, bukan makhluk, sedangkan amalan hamba adalah makhluk."

Dari sini kemudian Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah, memberikan kesimpulan yang salah dan disalahkan oleh para ulama (setelahnya) terkait (penilaiannya) terhadap Al-Imam al-Bukhary.

Muhammad bin Yahya mengklaim bahwa Al-Imam al-Bukhary, meyakini sebagaimana اللفظية (orang-orang yang meyakini bahwa lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk), yakni memaukan bahwa kandungan yang diucapkan yakni Al-Qur’anul Karim adalah makhluk. Sedangkan yang dimaukan oleh Al-Imam al-Bukhari adalah,
التلفظ بالقرآن

"Perbuatan membacanya yang dilakukan oleh seorang hamba adalah makhluk".

Jadi, perkataan Al-Imam al-Bukhary tersebut disimpulkan dengan kesimpulan yang salah. Beliau menghukumi bahwa Al-Imam al-Bukhary adalah seorang jahmy, seorang yang berakidah jahmiyyah akibat kesimpulannya yang salah itu. (Kemudian) kesimpulan salah ini disebarkan kepada para ulama yang ada di kota Naisabur dan sekitarnya. (Bersambung)

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]

◽️◽️◽️◽️◽️◽️