منتدى نشر الفـــــــوائد
7.57K subscribers
4.3K photos
257 videos
279 files
5.61K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
🚇 MANA YANG LEBIH UTAMA, MENGINGAT DOSA YANG TELAH LALU ATAU MELUPAKANNYA?


[Pertanyaan]

Mana yang lebih utama bagi seorang yang telah bertaubat, apakah ia mengingat-ingat dosa-dosanya yang telah lalu sehingga ia bisa bersungguh-sungguh dan beramal dengan amal-amal yang shalih ataukah ia melupakannya sehingga hidupnya tidak terus-menerus bersedih?


[ Jawaban ]

Orang yang bertaubat adalah orang yang kembali kepada Allah 'azza wajalla dengan ikhlas dalam taubatnya hanya karena Allah, ia bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya lagi.

Adapun mengingat-ingat dosa yang telah lalu, maka perlu dilihat terlebih dahulu maslahatnya.

◻️Apabila ia melihat ada maslahat dalam hal itu, yakni ketika ia mendapati pada dirinya ada kelalaian atau ia mendapati pada dirinya ada keinginan untuk kembali berbuat maksiat, maka ia mengingatkan dirinya dengan dosa-dosa yang telah lalu agar ia tidak mengulanginya kembali. Maka yang seperti ini adalah baik.

◻️Kalau tidak demikian, yakni ketika ia mengingat-ingat kemaksiatan yang telah lalu akan membahayakannya dan khawatir ia akan putus asa dari rahmat Allah karena dosanya yang sangat banyak, maka yang seperti ini dia jangan mengingat-ingatnya.

وقد ثبت في الصحيح أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال حينما راجع الرسول ﷺ في غزوة الحديبية قال: [فعملت لذلك أعمالاً] يعني: أعمالاً صالحة تكفر ما مضى.

Telah tertulis dalam kitab shahih bahwasanya Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata ketika beliau meminta Rasulullah ﷺ meninjau ulang keputusan beliau ﷺ di perang Hudaibiyah, Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku mengerjakan amal-amal untuk hal itu." Yakni mengerjakan amal-amal shalih yang bisa menghapus kesalahannya yang telah lalu.

Maka seorang manusia hendaklah mempertimbangkan maslahat dan mudharat dalam hal mengingat-ingat dosa-dosanya yang telah lalu atau melupakannya.

📚 Silsilah Al Liqaa Al Baabul Maftuh; Liqaa Al Baabul Maftuh: 9. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. @salafy_cirebon

••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
::
🚇 JANGAN MEREMEHKAN DOSA KEMAKSIATAN WALAU SEKECIL APAPUN

Berkata Bilal bin Sa'ad rahimahullah :

لَا تَنْظُرْ إِلىَ صِغَرِ الْمَعْصِيَّة وَانْظُرْ إِلىَ عَظَمَةِ مَنْ عَصَيْتَ

"Janganlah kamu melihat kepada kecilnya sebuah maksiat akan tetapi lihatlah agungnya Yang kamu maksiati"

لا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً ، إِنَّ الجِبَالَ مِنَ الحَصَى

"Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sebuah dosa kecil, sesungguhnya gunung-gunung itu berasal dari kerikil kecil."

📝 Dikutip dari Al Imam Ahmad rahimahullah dalam kitab Az Zuhd | Alih Bahasa : Al-Ustadz Abu Amina hafizhahullah | @Riyadhus_Salafiyyin

◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️

🚇 JANGAN PUTUS ASA DARI AMPUNAN ALLAH, NAMUN JUGA JANGAN MEREMEHKAN DOSA!

✍🏼 Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ghalib hafizhahullah berkata:

‏نعم لا تنظر إلى صغر المعصية، ولكن انظر من عصيت، وكذلك أيضا لا تقنط من رحمة الرحيم، فربّ ذنب أدخل صاحبه الجنة لِما أحدث في قلبه من التوبة والإنابة.

"Memang jangan melihat kecilnya kemaksiatan, tetapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai (Allah), dan demikian juga jangan putus asa dari rahmat Allah yang Maha Penyayang, karena bisa jadi sebuah dosa justru menyebabkan pelakunya masuk ke dalam surga karena memunculkan di dalam hatinya taubat dan kembali kepada Allah." | @ForumSalafy

◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️

🚇 KEMAKSIATAN SETELAH MENDAPAT KENIKMATAN LEBIH BERAT DOSANYA

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

المعصية بعد النعمة أشد من المعصية قبل النعمة ؛ لقوله تعالى :وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ

"Perbuatan maksiat setelah mendapat kenikmatan lebih berat dibandingkan dengan kemaksiatan sebelum mendapat kenikmatan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wata'ala,

وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ

"Dan kalian bermaksiat setelah Aku perlihatkan kepada kalian sesuatu yang kalian sukai.." [QS. Ali Imron:152]

📚 Tafsir surat Ali Imran 2/313 | @salafyatam

••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
::
🚇 BERPIKIR SEBELUM BERBICARA

Abu Hatim rahimahullah berkata,

"Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dahulu. Jika terdapat (maslahat) baginya, dia akan berbicara. Bila tidak ada (maslahat), dia tidak (berbicara).

Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya membuat dia akan (cepat) berbicara.

Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya."

📨 Raudhatul 'Uqala wa Nuzhatul Fudhala hlm. 37-42 | @asysyariah

••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
::
🚇 LIDAH TAK BERTULANG : BAHAYA LISAN YANG TAK TERJAGA


Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan memang karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang demikian besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Imam al-Bukhari hadits no. 6089 dan al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Lisan (lidah) memang tak bertulang. Sekali kita gerakkan, sulit untuk kembali pada posisi semula.

Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

◻️Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.

◻️Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan.

◻️Suami-istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan.

◻️Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6092)


📨 Dikutip dari web Majalah Asy-Syari'ah edisi 003 | Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi hafizhahullah

••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️