::
🚇 BELAJAR AGAMA TIDAK PUNYA IJAZAH TAKUT MASA DEPAN SURAM
Soal:
Bagaimana masa depan anak saya apabila dia hanya sibuk belajar agama, belajar Al Quran dan Hadits, belajar fikih, tafsir di masjid. Urusan ma’isyah (pekerjaan) dunianya bagaimana ustadz Sementara anak tidak punya ijazah?
Dijawab Oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc. hafizhahulloh:
◾️Pertama, bersyukurlah anda kepada Alloh saat melihat putra putri anda diberi taufiq untuk menempuh jalan-jalan mendapatkan ilmu Al Quran dan As Sunnah.
Wajib bagi anda bersyukur manakala anda dapatkan sang buah hati menekuni jalan salaf dalam mengumpulkan warisan nabi yaitu ilmu. Warisan mereka bukan dinar (emas) bukan pula dirham (perak), yang mereka wariskan adalah ilmu, Al Kitab dan As Sunnah.
◾️Kedua, wajib bagi anda meyakini bahwa Alloh tidak akan mengingkari janji-Nya. Diantara janji Alloh bagi para penuntut ilmu adalah hadits Muawiyah bin Abi Sufyan dalam riwayat Al Bukhori dan Muslim. Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan jadikan dia faqih (memahami) agama” (Muttafaqun’alaihi)
Kebaikan dalam hadits ini umum, mencakup kebaikan dunia dan akherat.
Jika anak anda faqih terhadap agama, akan baik dunia dan akheratnya, akan baik jasad dan ruhnya, akan baik ucapannya, perbuatannya dan keyakinannya, akan baik keluarga, anak-anaknya dan hartanya.
Maka tidak selayaknya bagi seorang yang beriman mengkhawatirkan dunia seorang yang sibuk membela agama Alloh dengan mempelajari Al Kitab dan as Sunnah.
◾️Ketiga, masalah rejeki Alloh telah menjamin. hewan yang tidak berakal saja tidak pernah luput dari rejeki Alloh. Bayi yang lahir tanpa ijazah diberi rejeki oleh Alloh.
Semut-semut yang lemah juga diberi rejeki Alloh, bahkan rejekinya lebih besar dari badannya, lihatlah semut -semut yang membawa potongan roti yang lebih besar dan lebih berat dari tubuhnya.
Berprasangka baiklah kepada Alloh dan yakinlah bahwà anak anda akan dimuliakan dengan ilmu Al Kitab dan assunnah. Allohu a’lam.
••••
https://problematikaumat.com/belajar-agama-tidak-punya-ijazah-takut-masa-depan-suram/
🚇 BELAJAR AGAMA TIDAK PUNYA IJAZAH TAKUT MASA DEPAN SURAM
Soal:
Bagaimana masa depan anak saya apabila dia hanya sibuk belajar agama, belajar Al Quran dan Hadits, belajar fikih, tafsir di masjid. Urusan ma’isyah (pekerjaan) dunianya bagaimana ustadz Sementara anak tidak punya ijazah?
Dijawab Oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc. hafizhahulloh:
◾️Pertama, bersyukurlah anda kepada Alloh saat melihat putra putri anda diberi taufiq untuk menempuh jalan-jalan mendapatkan ilmu Al Quran dan As Sunnah.
Wajib bagi anda bersyukur manakala anda dapatkan sang buah hati menekuni jalan salaf dalam mengumpulkan warisan nabi yaitu ilmu. Warisan mereka bukan dinar (emas) bukan pula dirham (perak), yang mereka wariskan adalah ilmu, Al Kitab dan As Sunnah.
◾️Kedua, wajib bagi anda meyakini bahwa Alloh tidak akan mengingkari janji-Nya. Diantara janji Alloh bagi para penuntut ilmu adalah hadits Muawiyah bin Abi Sufyan dalam riwayat Al Bukhori dan Muslim. Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan jadikan dia faqih (memahami) agama” (Muttafaqun’alaihi)
Kebaikan dalam hadits ini umum, mencakup kebaikan dunia dan akherat.
Jika anak anda faqih terhadap agama, akan baik dunia dan akheratnya, akan baik jasad dan ruhnya, akan baik ucapannya, perbuatannya dan keyakinannya, akan baik keluarga, anak-anaknya dan hartanya.
Maka tidak selayaknya bagi seorang yang beriman mengkhawatirkan dunia seorang yang sibuk membela agama Alloh dengan mempelajari Al Kitab dan as Sunnah.
◾️Ketiga, masalah rejeki Alloh telah menjamin. hewan yang tidak berakal saja tidak pernah luput dari rejeki Alloh. Bayi yang lahir tanpa ijazah diberi rejeki oleh Alloh.
Semut-semut yang lemah juga diberi rejeki Alloh, bahkan rejekinya lebih besar dari badannya, lihatlah semut -semut yang membawa potongan roti yang lebih besar dan lebih berat dari tubuhnya.
Berprasangka baiklah kepada Alloh dan yakinlah bahwà anak anda akan dimuliakan dengan ilmu Al Kitab dan assunnah. Allohu a’lam.
••••
https://problematikaumat.com/belajar-agama-tidak-punya-ijazah-takut-masa-depan-suram/
Problematika Umat
Belajar Agama Tidak Punya Ijazah Takut Masa depan Suram - Problematika Umat
Soal: Bagaimana masa depan anak saya apabila dia hanya sibuk belajar agama, belajar Al Quran dan Hadits, belajar fikih, tafsir di masjid. Urusan ma’isyah (pekerjaan) dunianya bagaimana ustadz Sementara anak tidak punya ijazah? Jawab: Pertama, bersyukurlah…
::
🚇 KEWAJIBAN AMANAH DALAM BEKERJA
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang telah menyerahkan amanah (kepercayaan) kepadamu dan jangan engkau khianati orang yang telah mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud no. 3068 dan at-Tirmidzi no. 1185 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
Seorang pegawai atau pekerja yang bekerja dengan amanah dan penuh keikhlasan maka akan mendapatkan ganjaran di dunia dan di akhirat.
Apabila seorang pegawai atau pekerja telah bekerja dengan amanah dan diiringi dengan niat mengharap pahala dari Allah Subhanahu wata’ala berarti dia telah menunaikan kewajibannya sehingga berhak mendapatkan gaji dari hasil pekerjaannya tersebut di dunia dan akan mendapatkan pahala di akhirat kelak.
Adapun gambaran perwujudan amanah dalam bekerja antara lain:
Menjaga Kedisiplinan Jam Kerja
Kedisiplinan jam kerja disini tidak hanya tepat waktu pada saat kehadiran di tempat kerja dan selesai kerja, namun benar-benar mengalokasikan jam kerja sesuai dengan job (pekerjaan) yang menjadi bidang tugasnya, dan waktunya pun tidak digunakan untuk kegiatan lain yang bukan bidang tugasnya.
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah (mantan rektor Universitas Islam Madinah) berkata,
“Wajib bagi setiap pegawai atau pekerja untuk menyibukkan diri di saat jam kerja dengan pekerjaan yang memang merupakan tugasnya. Tidak boleh menyibukkan diri dengan tugas lain yang bukan pekerjaan yang wajib dia tunaikan.
Kemudian beliau melanjutkan, “Janganlah dia menyibukkan jam kerjanya atau sebagian jam kerjanya untuk suatu kepentingan tertentu dan tidak pula kepentingan yang lainnya apabila kepentingan tersebut tidak ada hubungannya dengan pekerjaan atau tugasnya. Karena sesungguhnya jam kerja hakikatnya bukan milik pegawai atau pekerja akan tetapi jam kerja adalah semata-mata untuk pekerjaan yang memang menjadi bidang tugasnya yang dia diberi gaji sebagai bentuk imbalan atas pekerjaan tersebut.” (Kaifa Yuaddi al-Muwazhzhaf al-Amanah, hlm. 11)
⁉️Lalu bagaimana dengan sebagian mereka yang sampai keluyuran (keluar dari tempat kerja) menuju hotel, tempat-tempat hiburan, dan pusat perbelanjaan pada saat jam kerja?!
Sebagaimana seorang pegawai atau pekerja ingin mendapatkan gaji yang penuh dan tidak mau dipotong atau dikurangi sedikitpun dari gaji tersebut maka hendaknya diapun tidak memotong atau mengurangi jam kerjanya dengan melakukan pekerjaan lain selain bidang tugasnya.
Selengkapnya baca di: http://mahad-assalafy.com/kewajiban-amanah-dalam-bekerja/
🚇 KEWAJIBAN AMANAH DALAM BEKERJA
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang telah menyerahkan amanah (kepercayaan) kepadamu dan jangan engkau khianati orang yang telah mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud no. 3068 dan at-Tirmidzi no. 1185 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
Seorang pegawai atau pekerja yang bekerja dengan amanah dan penuh keikhlasan maka akan mendapatkan ganjaran di dunia dan di akhirat.
Apabila seorang pegawai atau pekerja telah bekerja dengan amanah dan diiringi dengan niat mengharap pahala dari Allah Subhanahu wata’ala berarti dia telah menunaikan kewajibannya sehingga berhak mendapatkan gaji dari hasil pekerjaannya tersebut di dunia dan akan mendapatkan pahala di akhirat kelak.
Adapun gambaran perwujudan amanah dalam bekerja antara lain:
Menjaga Kedisiplinan Jam Kerja
Kedisiplinan jam kerja disini tidak hanya tepat waktu pada saat kehadiran di tempat kerja dan selesai kerja, namun benar-benar mengalokasikan jam kerja sesuai dengan job (pekerjaan) yang menjadi bidang tugasnya, dan waktunya pun tidak digunakan untuk kegiatan lain yang bukan bidang tugasnya.
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah (mantan rektor Universitas Islam Madinah) berkata,
“Wajib bagi setiap pegawai atau pekerja untuk menyibukkan diri di saat jam kerja dengan pekerjaan yang memang merupakan tugasnya. Tidak boleh menyibukkan diri dengan tugas lain yang bukan pekerjaan yang wajib dia tunaikan.
Kemudian beliau melanjutkan, “Janganlah dia menyibukkan jam kerjanya atau sebagian jam kerjanya untuk suatu kepentingan tertentu dan tidak pula kepentingan yang lainnya apabila kepentingan tersebut tidak ada hubungannya dengan pekerjaan atau tugasnya. Karena sesungguhnya jam kerja hakikatnya bukan milik pegawai atau pekerja akan tetapi jam kerja adalah semata-mata untuk pekerjaan yang memang menjadi bidang tugasnya yang dia diberi gaji sebagai bentuk imbalan atas pekerjaan tersebut.” (Kaifa Yuaddi al-Muwazhzhaf al-Amanah, hlm. 11)
⁉️Lalu bagaimana dengan sebagian mereka yang sampai keluyuran (keluar dari tempat kerja) menuju hotel, tempat-tempat hiburan, dan pusat perbelanjaan pada saat jam kerja?!
Sebagaimana seorang pegawai atau pekerja ingin mendapatkan gaji yang penuh dan tidak mau dipotong atau dikurangi sedikitpun dari gaji tersebut maka hendaknya diapun tidak memotong atau mengurangi jam kerjanya dengan melakukan pekerjaan lain selain bidang tugasnya.
Selengkapnya baca di: http://mahad-assalafy.com/kewajiban-amanah-dalam-bekerja/
::
🚇KADAR UPAH UNTUK MAKELAR
🎙Al-Lajnah Ad-Daaimah lil Buhuts wal Iftaa
PERTANYAAN:
“Banyak terjadi perdebatan seputar kadar fee(bayaran upah) yang diambil oleh dallaal(makelar). Suatu waktu disebut 2,5% dan dalam kesempatan lain dikatakan 5%, sehungga mana (jumlah) bayaran yang syar’i? Atau itu sesuai kesepakatan antara penjual dengan makelar tersebut?”
JAWABAN:
“Apabila sepakat antara makelar dengan penjual dan pembeli untuk ia mengambil dari pembeli atau dari penjual atau dari keduanya berupa upah (jasa makelar) dengan nilai yang diketahui maka hal itu boleh.
✍🏻 Dan tidak ada batasan berapa upah itu dalam persentase tertentu.
❗Namun apa yang didapatkan berupa kesepakatan dan saling ridha dari orang yang membayar upah itu, maka boleh.
👉🏻Akan tetapi, merupakan hal yang sepantasnya untuk dijadikan (nilai upah makelar itu) dalam batasan-batasan yang sejalan dengan kebiasaan manusia; yang dihasilkan dengannya :
◾️Manfaat untuk si makelar sebagai timbal-balik dari upayanya memperantarai dan usaha untuk menyempurnakan proses jual-beli antara penjual dan pembeli,
◾️dan tidak terjadi dharar(kerugian) atas pembeli dan penjual dengan tambahan yang di atas batas normal.
Allah semata pemberi taufik. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan Shahabatnya."
📖 Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 13/ 129 – 130.
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇KADAR UPAH UNTUK MAKELAR
🎙Al-Lajnah Ad-Daaimah lil Buhuts wal Iftaa
PERTANYAAN:
“Banyak terjadi perdebatan seputar kadar fee(bayaran upah) yang diambil oleh dallaal(makelar). Suatu waktu disebut 2,5% dan dalam kesempatan lain dikatakan 5%, sehungga mana (jumlah) bayaran yang syar’i? Atau itu sesuai kesepakatan antara penjual dengan makelar tersebut?”
JAWABAN:
“Apabila sepakat antara makelar dengan penjual dan pembeli untuk ia mengambil dari pembeli atau dari penjual atau dari keduanya berupa upah (jasa makelar) dengan nilai yang diketahui maka hal itu boleh.
✍🏻 Dan tidak ada batasan berapa upah itu dalam persentase tertentu.
❗Namun apa yang didapatkan berupa kesepakatan dan saling ridha dari orang yang membayar upah itu, maka boleh.
👉🏻Akan tetapi, merupakan hal yang sepantasnya untuk dijadikan (nilai upah makelar itu) dalam batasan-batasan yang sejalan dengan kebiasaan manusia; yang dihasilkan dengannya :
◾️Manfaat untuk si makelar sebagai timbal-balik dari upayanya memperantarai dan usaha untuk menyempurnakan proses jual-beli antara penjual dan pembeli,
◾️dan tidak terjadi dharar(kerugian) atas pembeli dan penjual dengan tambahan yang di atas batas normal.
Allah semata pemberi taufik. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan Shahabatnya."
📖 Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 13/ 129 – 130.
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 UCAPAN TENTANG TIDAK BOLEHNYA MENGAFIRKAN YAHUDI DAN NASRANI
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, (bagaimana pendapat beliau) tentang perkataan seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa bahwa (kita) tidak boleh mengafirkan Yahudi dan Nasrani.
Beliau menjawab,
Ucapan yang keluar dari orang ini adalah ucapan sesat. Bahkan bisa jadi kekafiran, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah mengafirkan orang Yahudi dan Nasrani dalam kitab-Nya,
وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَى ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ذَٰلِكَ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ يُضَٰهُِٔونَ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٣٠ ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putra Allah,’ dan orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 30—31)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik (menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala) dan Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan dalam banyak ayat lain yang dengan tegas mengafirkan mereka:
◾️لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam’.” (al-Maidah: 17, 72)
◾️لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٧٣
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Rabb Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al-Maidah: 73)
◾️لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam.” (al-Maidah: 78)
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)
Ayat-ayat lain dalam masalah ini jumlahnya cukup banyak, demikian pula hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang mengingkari kafirnya Yahudi dan Nasrani yang tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya malah mendustakannya, berarti ia mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekafiran. Barang siapa yang ragu terhadap kekafiran Yahudi dan Nasrani maka tidak ada keraguan tentang kafirnya dia.
Subhanallah, bagaimana orang ini merasa ridha untuk mengatakan bahwa kita tidak boleh mengatakan kafir kepada Yahudi dan Nasrani, padahal mereka mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah tuhan ketiga dari tuhan yang (jumlahnya) tiga?! Padahal Pencipta mereka telah mengafirkan Yahudi dan Nasrani.
Selengkapnya baca : https://www.google.com/amp/asysyariah.com/yahudi-dan-nasrani-adalah-orang-orang-kafir/amp/
🚇 UCAPAN TENTANG TIDAK BOLEHNYA MENGAFIRKAN YAHUDI DAN NASRANI
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, (bagaimana pendapat beliau) tentang perkataan seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa bahwa (kita) tidak boleh mengafirkan Yahudi dan Nasrani.
Beliau menjawab,
Ucapan yang keluar dari orang ini adalah ucapan sesat. Bahkan bisa jadi kekafiran, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah mengafirkan orang Yahudi dan Nasrani dalam kitab-Nya,
وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَى ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ذَٰلِكَ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ يُضَٰهُِٔونَ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٣٠ ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putra Allah,’ dan orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 30—31)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik (menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala) dan Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan dalam banyak ayat lain yang dengan tegas mengafirkan mereka:
◾️لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam’.” (al-Maidah: 17, 72)
◾️لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٧٣
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Rabb Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al-Maidah: 73)
◾️لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam.” (al-Maidah: 78)
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)
Ayat-ayat lain dalam masalah ini jumlahnya cukup banyak, demikian pula hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang mengingkari kafirnya Yahudi dan Nasrani yang tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya malah mendustakannya, berarti ia mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekafiran. Barang siapa yang ragu terhadap kekafiran Yahudi dan Nasrani maka tidak ada keraguan tentang kafirnya dia.
Subhanallah, bagaimana orang ini merasa ridha untuk mengatakan bahwa kita tidak boleh mengatakan kafir kepada Yahudi dan Nasrani, padahal mereka mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah tuhan ketiga dari tuhan yang (jumlahnya) tiga?! Padahal Pencipta mereka telah mengafirkan Yahudi dan Nasrani.
Selengkapnya baca : https://www.google.com/amp/asysyariah.com/yahudi-dan-nasrani-adalah-orang-orang-kafir/amp/