::
🚇 BERITA WALISONGO DALAM TIMBANGAN AHLUL HADITS
Soal:
Banyak kisah-kisah aneh dan tidak masuk akal tentang walisongo. Apa memang demikian senyatanya ? Bagaimana seharusnya kita dalam menyikapi ?
Jawab:
Cerita Walisanga demikian terkenal di tanah Jawa. Namun ada sebuah perkara penting untuk kita telaah, ternyata kisah-kisah walisanga tidak memiliki kejelasan dan bukti ilmiyah yang bisa diterima.
Tidak ada sanad berita yang bisa dipertanggung-jawabkan kecuali hanya “konon”,”katanya” dan “ceritanya”.
Tulisan ini tidak lain kecuali untuk mengajak kita merenung dan berbagi faedah dengan keikhlasan, ketenangan dan mengharapkan pahala Allah. Sungguh seorang muslim mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana dia suka kebaikan itu untuk dirinya.
Dalam kisah sunan Kalijogo misalnya, konon R.M. Said (nama asli sunan kalijogo) diperintah gurunya (sunan Bonang) untuk bertapa di pinggir kali menunggu tongkat sang guru, dengan pesan jangan sekali kali meninggalkannya. Ternyata waktu penantian sangat lama hingga tubuhnya berlumut, terkenallah kemudian dengan julukan Sunan Kalijogo.
Kisah ini sangat mengherankan. Bukankah Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menyusahkan diri ?. Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan shalat berjamaah lima waktu, atau meninggalkan shalat jumat. Jika sang guru berpegang dengan syariat islam kenapa tidak berwasiat untuk memenuhi panggilan adzan dan menunaikan shalat lima waktu.
Kisah ini diantara kisah walisongo yang ternyata tidak ada satu sandaran berita pun yang bisa dipegangi kebenarannya.
Saudaraku yang aku cintai fillah, Allah subhanahu wata’la memerintahkan agar kita memiliki sikap tatsabbut “teliti” dalam menerima berita, terlebih berita yang kemudian dijadikan sandaran untuk berkeyakinan. Dalam surat Al-Hujurat Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Al-Hujurat: 6]
Berdasarkan ayat ini, para ulama Islam dari kalangan shahabat, tabi’in, at-baut tabi’in termasuk ulama sesudahnya para ulama ahli hadits semisal Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Al Bukhari, Imam Muslim dan seterusnya, mereka sangat konsisten untuk meneliti berita-berita yang sampai kepada mereka terlebih beeita yang disandarkan kepada Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam.
Dengan cara meneliti orang-orang yang menukilkan berita itulah kemudian diketahui benar tidaknya sebuah berita dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, atau berita lainnya.
Dengan meneliti para pembawa berita, tersaringlah antara hadits yang shahih dengan hadits yang lemah atau palsu.
Para ulama ketika mendengar nukilan berita dari Rasulullah, atau shahabat atau tabi’in segera mereka meneliti sumber penukilan berita. Apabila dalam sanad (rangkaian perawi) ada yang terputus, atau ada seorang yang lemah hafalannya, atau seorang yang tertuduh pendusta atau seorang pendusta, maka berita tersebut ditolak dan dinyatakan sebagaibberita Dhaif (lemah) atau maudhu’ (palsu).
Allahuakbar !! Allah jaga agama ini, dengan dinukilkannya berita melalui orang-orang yang adil lagi terpercaya. Demikianlah seharusnya seorang bersikap terhadap berita.
🚇 BERITA WALISONGO DALAM TIMBANGAN AHLUL HADITS
Soal:
Banyak kisah-kisah aneh dan tidak masuk akal tentang walisongo. Apa memang demikian senyatanya ? Bagaimana seharusnya kita dalam menyikapi ?
Jawab:
Cerita Walisanga demikian terkenal di tanah Jawa. Namun ada sebuah perkara penting untuk kita telaah, ternyata kisah-kisah walisanga tidak memiliki kejelasan dan bukti ilmiyah yang bisa diterima.
Tidak ada sanad berita yang bisa dipertanggung-jawabkan kecuali hanya “konon”,”katanya” dan “ceritanya”.
Tulisan ini tidak lain kecuali untuk mengajak kita merenung dan berbagi faedah dengan keikhlasan, ketenangan dan mengharapkan pahala Allah. Sungguh seorang muslim mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana dia suka kebaikan itu untuk dirinya.
Dalam kisah sunan Kalijogo misalnya, konon R.M. Said (nama asli sunan kalijogo) diperintah gurunya (sunan Bonang) untuk bertapa di pinggir kali menunggu tongkat sang guru, dengan pesan jangan sekali kali meninggalkannya. Ternyata waktu penantian sangat lama hingga tubuhnya berlumut, terkenallah kemudian dengan julukan Sunan Kalijogo.
Kisah ini sangat mengherankan. Bukankah Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menyusahkan diri ?. Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan shalat berjamaah lima waktu, atau meninggalkan shalat jumat. Jika sang guru berpegang dengan syariat islam kenapa tidak berwasiat untuk memenuhi panggilan adzan dan menunaikan shalat lima waktu.
Kisah ini diantara kisah walisongo yang ternyata tidak ada satu sandaran berita pun yang bisa dipegangi kebenarannya.
Saudaraku yang aku cintai fillah, Allah subhanahu wata’la memerintahkan agar kita memiliki sikap tatsabbut “teliti” dalam menerima berita, terlebih berita yang kemudian dijadikan sandaran untuk berkeyakinan. Dalam surat Al-Hujurat Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Al-Hujurat: 6]
Berdasarkan ayat ini, para ulama Islam dari kalangan shahabat, tabi’in, at-baut tabi’in termasuk ulama sesudahnya para ulama ahli hadits semisal Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Al Bukhari, Imam Muslim dan seterusnya, mereka sangat konsisten untuk meneliti berita-berita yang sampai kepada mereka terlebih beeita yang disandarkan kepada Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam.
Dengan cara meneliti orang-orang yang menukilkan berita itulah kemudian diketahui benar tidaknya sebuah berita dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, atau berita lainnya.
Dengan meneliti para pembawa berita, tersaringlah antara hadits yang shahih dengan hadits yang lemah atau palsu.
Para ulama ketika mendengar nukilan berita dari Rasulullah, atau shahabat atau tabi’in segera mereka meneliti sumber penukilan berita. Apabila dalam sanad (rangkaian perawi) ada yang terputus, atau ada seorang yang lemah hafalannya, atau seorang yang tertuduh pendusta atau seorang pendusta, maka berita tersebut ditolak dan dinyatakan sebagaibberita Dhaif (lemah) atau maudhu’ (palsu).
Allahuakbar !! Allah jaga agama ini, dengan dinukilkannya berita melalui orang-orang yang adil lagi terpercaya. Demikianlah seharusnya seorang bersikap terhadap berita.
Kembali kepada kisah-kisah walisongo, ada beberapa hal yang perlu dicermati sebagai bukti tidak benarnya banyak kisah kisah wali songo:
❶- Cerita-cerita wali sarat dengan perkara-perkara mistik, tidak masuk akal serta menyelisihi syareat Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam.
❷- Berita berita walisongo sama sekali tidak bersanad. Adakah diantara mereka yang menghikayatkan kisah walisanga mampu menyebutkan sanad (sumber berita) yang terpercaya untuk kita cek kebenaran beritanya ???
Ternyata berita-berita itu tidak memiliki sumber berita yang jelas. Kalau demikian lalu apa bedanya berita walisongo dengan hadits hadits yang dihukumi palsu oleh Imam Syafii, Imam Ahmad dan lainnya?
Sangat menyedihkan seandainya kisah-kisah wali dibaca dan diyakini ?
Diantata kisah yang aneh tentang sunan kalijogo, dikisahkan bahwa sunan kalijogo menghidupkan anak yang sudah mati.
Sekali lagi mohon untuk dijawab, adakah sandaran berita bagi dongeng Sunan Kalijaga menghidupkan anak kecil ?
❸- Disamping tidak memiliki sandaran berita, ada sisi lain yang menunjukkan ketidak ilmiyahan berita walisanga. Kisah walisanga ternyata memiliki beberapa versi dan penafsiran. Berita yang disebarluaskan tidak jelas seperti ini adalah salah satu ciri-ciri berita dha’if (lemah), atau palsu (dusta).
Sebagai penutup, sekali lagi: Adakah diantara pembaca atau penulis artikel wali Sanga mendatangkan bukti-bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah dihadapan manusia sebelum nanti dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh ?
Atau kisah-kisah yang penuh misteri dan mistik itu dibiarkan tersebar dan menjadi keyakinan dan tuntunan? siapkah kita menanggung dosa atas penyimpangan keyakinan dengan sebab meyakini dan menyebarkan kisah-kisah tersebut ?? Allohulmusta’an.
••••
https://problematikaumat.com/berita-walisongo-dalam-timbangan-alhul-hadits/
❶- Cerita-cerita wali sarat dengan perkara-perkara mistik, tidak masuk akal serta menyelisihi syareat Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam.
❷- Berita berita walisongo sama sekali tidak bersanad. Adakah diantara mereka yang menghikayatkan kisah walisanga mampu menyebutkan sanad (sumber berita) yang terpercaya untuk kita cek kebenaran beritanya ???
Ternyata berita-berita itu tidak memiliki sumber berita yang jelas. Kalau demikian lalu apa bedanya berita walisongo dengan hadits hadits yang dihukumi palsu oleh Imam Syafii, Imam Ahmad dan lainnya?
Sangat menyedihkan seandainya kisah-kisah wali dibaca dan diyakini ?
Diantata kisah yang aneh tentang sunan kalijogo, dikisahkan bahwa sunan kalijogo menghidupkan anak yang sudah mati.
Sekali lagi mohon untuk dijawab, adakah sandaran berita bagi dongeng Sunan Kalijaga menghidupkan anak kecil ?
❸- Disamping tidak memiliki sandaran berita, ada sisi lain yang menunjukkan ketidak ilmiyahan berita walisanga. Kisah walisanga ternyata memiliki beberapa versi dan penafsiran. Berita yang disebarluaskan tidak jelas seperti ini adalah salah satu ciri-ciri berita dha’if (lemah), atau palsu (dusta).
Sebagai penutup, sekali lagi: Adakah diantara pembaca atau penulis artikel wali Sanga mendatangkan bukti-bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah dihadapan manusia sebelum nanti dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh ?
Atau kisah-kisah yang penuh misteri dan mistik itu dibiarkan tersebar dan menjadi keyakinan dan tuntunan? siapkah kita menanggung dosa atas penyimpangan keyakinan dengan sebab meyakini dan menyebarkan kisah-kisah tersebut ?? Allohulmusta’an.
••••
https://problematikaumat.com/berita-walisongo-dalam-timbangan-alhul-hadits/
Problematika Umat
Berita Walisongo Dalam Timbangan Ahlul Hadits - Problematika Umat
Soal: Banyak kisah-kisah aneh dan tidak masuk akal tentang Walisongo. Apa memang demikian senyatanya ? Bagaimana seharusnya kita dalam menyikapi ? Jawab: Cerita Walisanga demikian terkenal di tanah Jawa. Namun ada sebuah perkara penting untuk kita telaah…
.:
Ⓜ BAGAIMANA MENGHADAPI ANAK YANG TERLANJUR DURHAKA DISEBABKAN DULU KETIKA KECIL TERLALU DIMANJAKAN ORANGTUANYA?
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-
🗓 Dauroh "MENGENAL PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH" | Ma'had Ibnul Mubarok, Samarinda | Sabtu-Ahad, 20 - 21 Jumadal Ula 1440 H ~ 26 - 27 Januari 2019 M
➰ (1,1 MB) - Durasi [00:03:46]
#tarbiyatul_aulad
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Ⓜ BAGAIMANA MENGHADAPI ANAK YANG TERLANJUR DURHAKA DISEBABKAN DULU KETIKA KECIL TERLALU DIMANJAKAN ORANGTUANYA?
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-
🗓 Dauroh "MENGENAL PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH" | Ma'had Ibnul Mubarok, Samarinda | Sabtu-Ahad, 20 - 21 Jumadal Ula 1440 H ~ 26 - 27 Januari 2019 M
➰ (1,1 MB) - Durasi [00:03:46]
#tarbiyatul_aulad
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 PINTALAH HATI YANG BERBOLAK-BALIK DI ATAS KETAATAN
🎙 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin – semoga Allah merahmatinya – berkata:
“Hati itu berada di tangan Allah. Seluruh hati bani Adam di antara dua jari dari jari-jemari Ar-Rahman, yang Dia bolak-balikkan kepada apa yang ia inginkan dan sebagaimana kehendak-Nya.
Oleh sebab ini, seseorang seharusnya selalu memohon kepada Allah untuk mengokohkan dan memalingkan hatinya di atas ketaatan kepada-Nya.
Dan tidak lain permohonan untuk kokohnya hati itu dikhususkan, karena jika hati baik pasti jasad seluruhnya akan baik. Dan jika ia rusak niscaya seluruh jasad juga akan rusak.
Sebagaimana telah shahih riwayat dari Nabi – Shalallahu ‘alaihi wasallam – ketika beliau bersabda:
أَلَاإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Ketahuilah! bahwa di dalam jasad ada segumpal daging (yaitu hati) yang apabila ia baik, pasti baik seluruh jasad. Dan jika ia rusak, pasti rusak seluruh jasad.”
(Hadits Ibnu Abbas, riwayat at-Tirmidzy)
Dan sabdanya: “palingkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu”, mungkin yang terlintas di benak bahwa yang lebih utama untuk dikatakan “ menuju ketaatan kepada-Mu”.
Namun, “ di atas ketaatan kepada-Mu” lebih tinggi maknanya, yaitu: membalikkan hati di atas ketaatan, sehingga tidak berbalik di atas kemaksiatan kepada Allah.
Sebab, seandainya hati itu berbolak-balik di atas ketaatan, maka ia akan berpindah dari satu ketaatan menuju ketaatan yang lain, dari shalat, menuju dzikir, kemudian sedekah, puasa, ilmu, dan lain-lainnya dari jenis ketaatan kepada Allah.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya untuk kita memohon kepada Allah dengan doa ini:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبنَا عَلَى طَاعَتِكَ
"Wahai Dzat Yang memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu..!"
(Hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, riwayat Muslim)
📖 Syarhu Riyaadhish Shalihiin, Syaikh Al-‘Utsaimin, jil. 4 hal. 10.
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 PINTALAH HATI YANG BERBOLAK-BALIK DI ATAS KETAATAN
🎙 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin – semoga Allah merahmatinya – berkata:
“Hati itu berada di tangan Allah. Seluruh hati bani Adam di antara dua jari dari jari-jemari Ar-Rahman, yang Dia bolak-balikkan kepada apa yang ia inginkan dan sebagaimana kehendak-Nya.
Oleh sebab ini, seseorang seharusnya selalu memohon kepada Allah untuk mengokohkan dan memalingkan hatinya di atas ketaatan kepada-Nya.
Dan tidak lain permohonan untuk kokohnya hati itu dikhususkan, karena jika hati baik pasti jasad seluruhnya akan baik. Dan jika ia rusak niscaya seluruh jasad juga akan rusak.
Sebagaimana telah shahih riwayat dari Nabi – Shalallahu ‘alaihi wasallam – ketika beliau bersabda:
أَلَاإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Ketahuilah! bahwa di dalam jasad ada segumpal daging (yaitu hati) yang apabila ia baik, pasti baik seluruh jasad. Dan jika ia rusak, pasti rusak seluruh jasad.”
(Hadits Ibnu Abbas, riwayat at-Tirmidzy)
Dan sabdanya: “palingkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu”, mungkin yang terlintas di benak bahwa yang lebih utama untuk dikatakan “ menuju ketaatan kepada-Mu”.
Namun, “ di atas ketaatan kepada-Mu” lebih tinggi maknanya, yaitu: membalikkan hati di atas ketaatan, sehingga tidak berbalik di atas kemaksiatan kepada Allah.
Sebab, seandainya hati itu berbolak-balik di atas ketaatan, maka ia akan berpindah dari satu ketaatan menuju ketaatan yang lain, dari shalat, menuju dzikir, kemudian sedekah, puasa, ilmu, dan lain-lainnya dari jenis ketaatan kepada Allah.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya untuk kita memohon kepada Allah dengan doa ini:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبنَا عَلَى طَاعَتِكَ
"Wahai Dzat Yang memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu..!"
(Hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, riwayat Muslim)
📖 Syarhu Riyaadhish Shalihiin, Syaikh Al-‘Utsaimin, jil. 4 hal. 10.
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
.:
Ⓜ RIZKI ITU ALLAH ﷻ YANG JAMIN: BARANGSIAPA MENINGGALKAN SESUATU KARENA ALLAH, AKAN ALLAH GANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK BAGINYA
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-
🗓 Dauroh "MENGENAL PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH" | Ma'had Ibnul Mubarok, Samarinda | Sabtu-Ahad, 20 - 21 Jumadal Ula 1440 H ~ 26 - 27 Januari 2019 M
➰ (1,7MB) - Durasi [00:06:38]
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
”Kalau saja kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, akan Allah beri kalian kecukupan/rizki seperti burung, pergi (keluar dari sarangnya) pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan penuh/kenyang.” [Riwayat Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah]
(*) Juga menyikapi perusahaan yang mewajibkan Asuransi BPJS
#tawakkal #berburuk_sangka_kepada_Allah #pekerjaan_haram #nafkah_anak_istri
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Ⓜ RIZKI ITU ALLAH ﷻ YANG JAMIN: BARANGSIAPA MENINGGALKAN SESUATU KARENA ALLAH, AKAN ALLAH GANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK BAGINYA
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-
🗓 Dauroh "MENGENAL PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH" | Ma'had Ibnul Mubarok, Samarinda | Sabtu-Ahad, 20 - 21 Jumadal Ula 1440 H ~ 26 - 27 Januari 2019 M
➰ (1,7MB) - Durasi [00:06:38]
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
”Kalau saja kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, akan Allah beri kalian kecukupan/rizki seperti burung, pergi (keluar dari sarangnya) pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan penuh/kenyang.” [Riwayat Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah]
(*) Juga menyikapi perusahaan yang mewajibkan Asuransi BPJS
#tawakkal #berburuk_sangka_kepada_Allah #pekerjaan_haram #nafkah_anak_istri
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 PANGGILAN HORMAT BUAT SUAMIKU
Disebutkan di dalam kitab Ad-Daarul Mukhtar dari madzhab Hanafiyah penulis mengatakan:
"Makruh seorang istri memanggil suaminya dengan namanya"
Imam Ibnu 'Abidin رحمه الله mengatakan di dalam Hasyiyahnya:
"Dalam memanggil suami harus menggunakan lafadz yang mengandung penghormatan, seperti "Tuanku" atau yang semisalnya.
Dan dari Utsman bin 'Atho dari ayahnya mengatakan: Istri Imam Sa'id bin Musayyab berkata: "Kami tidak pernah berbicara kepada suami-suami kami kecuali seperti kalian berbicara kepada para penguasa kalian: Ashlahakalloh (semoga Alloh menjadikan kebaikan untuk anda), 'Aafaakalloh (semoga Alloh memberi keselamatan kepada anda)".
Dan Ummu Darda' apabila meriwayatkan hadits dari suaminya, Abi Darda', رضي الله عنه mengatakan: "Telah menceritakan kepadaku Tuanku ...."
Disebutkan di dalam Shohih Muslim dari jalur Tholhah bin 'Ubaidillah bin Kariz berkata: "Telah menceritakan kepadaku Ummu Darda', ia berkata: "Telah menceritakan kepadaku Tuanku bahwa beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda (yang artinya):
"Siapa mendoakan kebaikan untuk saudaranya sementara saudaranya tidak ada di situ, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya mengucapkan "Amin, dan buatmu kebaikan yang sama".
Imam Nawawi mengatakan dalam Syarah Shohih Muslim:
Perkataan Imam Muslim (Telah menceritakan kepadaku Ummu Darda', ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Tuanku ...) yang ia maksudkan "Tuanku" adalah suaminya, yaitu Abu Darda'.
Maka dalam hadits ini terdapat keterangan bolehnya seorang istri menyebut suaminya dengan "Tuanku" dan menghormatinya"... (Sekian dari Imam Nawawi).
Semoga Alloh merahmati para wanita awal umat ini, mereka telah meninggalkan teladan kebaikan (bagi umat belakang).
📚Faedah dari tulisan Syaikh Fawaz Al Madkholy hafizhahulloh
📕 Copas dari Majmu'ah
مرحبا يا طالب العلم
الفقير الى عفو ربه ابو يحيى
🔎 FIK | @Forum_ilmiyahKarangAnyar
🚇 PANGGILAN HORMAT BUAT SUAMIKU
Disebutkan di dalam kitab Ad-Daarul Mukhtar dari madzhab Hanafiyah penulis mengatakan:
"Makruh seorang istri memanggil suaminya dengan namanya"
Imam Ibnu 'Abidin رحمه الله mengatakan di dalam Hasyiyahnya:
"Dalam memanggil suami harus menggunakan lafadz yang mengandung penghormatan, seperti "Tuanku" atau yang semisalnya.
Dan dari Utsman bin 'Atho dari ayahnya mengatakan: Istri Imam Sa'id bin Musayyab berkata: "Kami tidak pernah berbicara kepada suami-suami kami kecuali seperti kalian berbicara kepada para penguasa kalian: Ashlahakalloh (semoga Alloh menjadikan kebaikan untuk anda), 'Aafaakalloh (semoga Alloh memberi keselamatan kepada anda)".
Dan Ummu Darda' apabila meriwayatkan hadits dari suaminya, Abi Darda', رضي الله عنه mengatakan: "Telah menceritakan kepadaku Tuanku ...."
Disebutkan di dalam Shohih Muslim dari jalur Tholhah bin 'Ubaidillah bin Kariz berkata: "Telah menceritakan kepadaku Ummu Darda', ia berkata: "Telah menceritakan kepadaku Tuanku bahwa beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda (yang artinya):
"Siapa mendoakan kebaikan untuk saudaranya sementara saudaranya tidak ada di situ, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya mengucapkan "Amin, dan buatmu kebaikan yang sama".
Imam Nawawi mengatakan dalam Syarah Shohih Muslim:
Perkataan Imam Muslim (Telah menceritakan kepadaku Ummu Darda', ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Tuanku ...) yang ia maksudkan "Tuanku" adalah suaminya, yaitu Abu Darda'.
Maka dalam hadits ini terdapat keterangan bolehnya seorang istri menyebut suaminya dengan "Tuanku" dan menghormatinya"... (Sekian dari Imam Nawawi).
Semoga Alloh merahmati para wanita awal umat ini, mereka telah meninggalkan teladan kebaikan (bagi umat belakang).
📚Faedah dari tulisan Syaikh Fawaz Al Madkholy hafizhahulloh
📕 Copas dari Majmu'ah
مرحبا يا طالب العلم
الفقير الى عفو ربه ابو يحيى
🔎 FIK | @Forum_ilmiyahKarangAnyar